Lampu Skateboard Warna Warni Pengusaha Amerika

Profil Pengusaha Greg Rudolph



Terkadang pengusaha muda hanya iseng. Hanya saja, isengnya tuh menghasilkan sesuatu dibanding berdiam diri. Waktu itu tahun 2011, Greg Rudolph sekilas melihat sesama mahasiswa tengah bermain skateboard. Uniknya dia menempelkan lampu warna- warni dengan lakban. Skateboard itu menjadi warna- warni seperi lampu disko.

Iseng menghampiri mahasiswa Universitas Arizona tersebut. Rudoph adalah mahasiswa baru jurusan bisnis. Meski tidak bisa main skateboar, dia meyakini ide bisnis ini berlian dan akan berhasil. Hanya iseng dia mulai mengamati bagaimana cara kerjanya.

Dia tau bahwa skateboarders sangat memperhatikan penampilan. Kemampuan mereka mengkustom roda ataupun papan. Hanya saja tidak memperhatikan keselamatan terutama di malam hari.

"Kebanyakan kecelakaan bermain skateboard terjadi ketika bermain di jalanan, bukan di taman skater," dia berucap.

Rudolph membobol tabungan senilai $1.000. Dia bekerja sambil memikirkan di garasi. Ia mengamati setiap produk lampu buatan China. Mulai memasan online dikirimkan ke garasi kerja. Butuh waktu memang agar menemukan sesuatu. Empat bulan berlalu, beberapa ribu dollar dibayar dan tidak terhitung email dikirim ke dia.

"Saya beruntung karena satu set lampu pertama saya pesan sangat tepat apa yang saya pikirkan," tuturnya.

Uang digunakan untuk administrasi, pengembangan produk, dan marketing produk. Fokus strategi ialah dia mengeksekusi beberapa tingkat pencapaian. Fokus agar mencapai satu langkah Rudolph mengembangkan produk.

Sukses besar


Langkah pertama bisnis Rudolph menemukan ide bisnis tepat. Kedua merupakan meneliti pasar, mencari tau apakah ada produk sejenis.

"Seperti yang saya temukan, lambu bercahaya dibawah skateboard adalah sesuatu yang belum ditemukan belum. Saya terkejut, karena saya tidak berpikir ada sesuatu yang belum ditemukan belum," aku Rudolph.

Maka langkah ketiga ialah bagaimana dia mendesain produk. Dia tidak punya latar belakang teknisi. Maka dia cukup mengembangkan ide sederhana: Memesan produk dari orang lain. Maka, dia memesan lampu itu dari situs jual beli Alibaba.

Dia mencari banyak lampu LED asal Negeri China. Rudolph pun membagi tips membeli di Alibaba lewat situs Youngtrepmag.com:

1. Untuk memudahkan komunikasi gunakan bahasa Inggris sesederhana mungkin dan mudah dipahami
2. Dari pengalamannya, percayakan hal tentang seperti apa kemauan kamu diakhir dan soal pengiriman itu cukup serahkan ke mereka.

"Saya menjelaskan ke mereka tentang tipe lampu, gaya, dan beberapa perubahan, dan membiarkan mereka menyimpulkan."

3. Ketika pesanan kamu dibungkus dari China, maka cukupkan diri lebih banyak waktu luang (kapan saja produk bisa datang)

Berbaterai anti air, produk Board Blazers ditempel dibahan adesif, menyinari bagian bawah. Tersedia dalam delapan warna dan dijual perpaket $24,99, setiap lampu memiliki diameter seper- empat dan kurang dari satu inci ketebalan.

Uniknya dia membuat lampu tanpa tombol. Bayangkan kamu melompat, berputar, berjungkil balik, dan trik lainnya agar lampu mati atau hidup.

Sukses Board Blazers naik peringkat berkat penjualan laris manis. Dia telah mampu membawa produknya di acara SXSW 2013. Hari ini Rudolph, CEO perusahaan, sekaligus "sekertaris skate", sukses membawa lima kontraktor independen dari Tempe, Ariz, dimana dia mendapatkan kemenangan di acara startup.

Selain dijual www.boarblazers.com, ia menjual di Amazon dan dipajang berbagai toko California, Florida, dan Arkansas. Dia berkata menjual sepuluh ribu buah lampu untuk 15 negara. Kebanyakan pembeli berusia 14- 22 tahun. Agar mencapai pasaran digunakan Facebook dan demo langsung dalam acara Vans U.S. Open of Surving.

Uniknya dia juga mengkampanyekan keselamatan lewat blog perusahaan.

Kini, usia 23 tahun, dia telah lulus ASU. Meskipun menginginkan gelar MBA, dia tidak mau harus berhenti di Board Blazers saja. Selain mengembangkan aksesoris lain untuk skateboard, dia juga mendorong produknya masuk retailer Amerika. Dia mengembangkan partnership, mengundung pemain skate menjadi endors.

Salah satu skateboard terkenal, Ricky Rodriguez, mulai mengendors Board Blazers. Sebagai sosok yang ia sukses bersekolah serta entrepreneurship. Maka dia sering menjadi pembicara baik sekolah ataupun kuliah. Ia memang menemukan susah mengimbangkan kerja dan pendidikan.

"Saya tidak bisa mengaplikasikan pelajaran di kelas kedalam bisnis, dan begitu sebaliknya," ingat Rudolph, "itu merupakan hal terbaik soal kecakapan."

Tukang Sol Sepatu Naik Pangkat Pengusaha

Profil Pengusaha Rodolfo Getes 



Karena penuh dedikasi, Rodolfo Getes mendapatkan kemujuran. Bagaimana tidak dari tukang bikin dan memperbaiki sepatu. Kini, sejak 2012, dia menjadi franchisor perusahaan milik bosnya Mr. Quickie. Secara langsung sang pemilik, Emiliano Caruncho III, memberikan kesempatan super langka tersebut.

Mr. Quickie sendiri merupakan usaha perbaikan sepatu dan tas waralaba. "Disaat tahun itu saat pesta Natal, saya menjadi salah satu dari dua pegawai berprestasi," tuturnya. Nah, si Getes ini sendiri bekerja untuk Emiliano di cabang Mr. Quickie, cabang SM North Edsa sejak 1985.

Sang atasan lantas menawarkan mengambil cabang Isetann. Dua puluh lima tahun kemudian, setelah dia bisa berprestasi dalam bekerja, akhirnya tukang sepatu tersebut mendapatkan cabangnya. Pegawai berprestasi yang sangat loyal selama 10 tahun, dianggap cocok menjadi kepala franchise. Pada dasarnya ini sebuah promosi.

Tetapi lebih dari itu. Dimaksudkan bagi mereka pegawai yang bermaksud mau pensiun dini. Para pegawai dimanapun jabatannya bahkan pegawai yang notabennya rendahan sekalipun bisa. Cukup mendaftarkan diri ke bagian pengembangan perusahaan.

Tambahan lain Mr. Quickie juga memberikan pinjaman rumah buat usaha, ataupun membawa pinjaman dari Bank Pulau Filipina, Ka- Negosyo, juga memberikan pinjaman biaya franchise. Hanya saja, di kasus Getes tidak perlu membayar apapun, tinggal terima limpahan gerai franchise sudah laku. Dia dipilih karena loyalitas serta kerja keras.

"Ketika saya mengambil alih gerai, saya tidak perlu membayar apapun. Dan saya sudah diberi perlengkapan dan bahan saya butuhkan untuk menjalankan," jelasnya senang. Hanya saja butuh waktu 10 tahun sampai hal itu terjadi didepan mata.

Loyalitas pegawai


Akhirnya itu menjadi gerai miliknya, dibawah namanya, di tahun 2012. Pegawai itu menjadi pengusaha tidak perlu mengeluarkan biaya. Getes tidak memiliki apapun tetapi sanjungan. Atasannya sangat tulus memberikan dia semuanya.

Kita cukup kita menjadi loyal, bekerja keras, sampai akhirnya kebaikan kita terbalas.Jujur sekarang hidup Getes berbeda. Lebih stabil secara finansial karena bisnis sendiri. Jika tidak, dia menilai mungkin suatu ketika dirinya akan melompat ke pekerjaan lain.

Beruntung karena Getes memilih bertahan dan hal tersebut dinilah oleh sang atasan.

Selain Getes menjalankan gerai tersebut juga mendapatkan bantuan. Ini menjadi masalah keluarga -menjadi bisnis keluarga dimana istri dan anak ikut bergabung. Mereka tanpa sungkan membantu memperbaiki sepatu ataupun tas. Keahlian mereka tersebut didapatkan oleh pelatihan Getes sendiri.

Jika bukan karena dari keluarga, maka Getes tidak akan bertahan. Ini karena kecintaanya akan memperbaiki sepatu tetapi dia butuh semangat. Tidak mudah menjadi loyal sekaligus bekerja keras bersamaan. Jadilah kita sosok industrialis. Jadilah kita sosok mencintai pekerjaan, dan cintalah apa yang kamu kerjakan.

Meski dia kini seorang pengusaha tetapi tetap memperbaiki sepatu. "Tetapi saya mencintai pekerjaan saya, dan saya mencinta apa yang saya kerjakan," jelasnya. "Saya tidak mampu mengeluarkan hal tersebut dari dalam sistem."

Penjual Keripik Malang Organik Legendaris

Profil Pengusaha H. Ir. Basuki Sunarto 



Menjalani hidup sehat memang jadi gampang- gampang sulit. Apalagi dijaman sekarang dari jajanan sampai ke makanan utama semuanya berminyak. Tidak sehat bagi kesahatan orang dewasa apalagi anak- anak.  Kesadaran akan hal itulah yang mendorong Ir. Sunarto. Warga Malang berdedikasi menghandirkan jajanan organik.

H. Basuki Sunarto merupakan pemilik usaha CV. Cita Mandiri. Mendedikasikan hidup mengangkat aneka jajanan khas Malang.Yah apalagi kalau bukan aneka keripik lezat. Bedanya H. Basuki konsern menghasilkan keripik dari bahan organik.

Tidak cuma begitu saja. Berkat kerja keras maka terangkatlah warga sekitar. Tidak sedikit CV. Cita Mandiri telah membuka lapangan pekerjaan. Usaha kecil menengah yang terletak di Jl. Trunojoyo 19 Desa Junrejo serta Istana Keripik Desa Rejoso berada di kawasan Junrejo Batu.

Berapa jumlah keripik tersebar dipasaran tidak pasti. Tetapi mengambil ceruk organik menjadi pilihan utama. Terutama mereka generasi orang tua jaman sekarang. Cukuplah kamu menemukan gaya kamu sendiri. Begitu perjalanan H. Basuki memulai bisnis dari nol. Bahan talas, singkong, atau kentang bebas kimia atau pestisida.

Dia juga menambahkan keripik organik tanpa MSG atapun pengawet buatan. Keripik digoreng sampai jadi sangat kering hingga awet. Satu tahun berbisnis sudah menghasilkan Rp.30 juta per- bulan loh. Karena kita tau pemain jarang maka tidak salah hitungan segitu. Untuk Jawa Timur masih tiga produsen aktif berproduksi organik.

Margin biasa


Meski terdengar organik, untung tidak terlampau jauh di antara kisaran 30% dibanding keripik biasa. Harga jualnya variatif mulai dari Rp.90.000- Rp.250.000. Berdiri sejak 1997 merupakan salah satu pelopor usaha organik di Malang. Tidak cuma mengolah keripik termasuk jualan sayur segar, buah, kentang, aneka bibit.dll.

Basuki menjadi suplier tetap beberapa hotel serta supermarket. "Saat ini yang paling laku keripik kentang organik," jelasnya.

Terdengar lebih mahal tetapi bukan berarti lebih untung. Pasalnya tidak banyak petani mau menjadi petani organik, lantaran bercocok tanam tanpa kimia berarti umur sayur bisa pendek. Metode pengolah tanah juga tergolong sulit yakin harus dinetralkan dulu. Kita tau tanah sekarang terutama bekas pertania mengandung kimia.

Penggunaan bahan kimia 80% dibanding 30% pupuk organik tidak terelakan. Bertahap maka rubahlah komposisi akan dirubah menjadi lebih organik. Komposisi harus mencapai 30% kimia dan 80% nya organik. Terus sampai organik dominan sehingga tanah menjadi netral.

"Bahan baku belum rutin tersedia," ungkapnya. Bahan baku terbatas maka dia memanfaatkan sistem simpan di stok. Hanya saja tidak cukup, maka agar menekan biaya produksi, Basuk memanfaatkan keahlian dalam mengolah kerpiki -istilahnya tanam, panen, olah dan langsung jual lebih mahal.

Sistem pembelian bahan baku beli- putus. Berarti dia tidak meminta disuplai khusus tetapi cukup membeli dari petani langsung. Keuntungan ialah harga ditekan lebih murah yakni Rp.750.000, dimana keseluruhan buat belanja bahan baku. Investasi mesin sendiri tinggal menggunakan mesin yang sudah ada. 

Uang minim, Basuki mengaku balik modal setelah tiga bulan memasarkan. Bisa terbilang menjanjikan karena terlihat pasti laku. Varian keripik meliputi stik kentang, keripik apel, stik talas, yang mana bahan bakunya itu butuh waktu lebih lama, yakni 90 hari sampai 120 hari masa tanam.

Jaringan pemasaran keripik Cita Mandiri terhitung luas. Yakni pemasaran online maupun offline dipadukan apik oleh Ir. Sunarto. Soal penjualan di internet cukup mengklik www.citamandiri.com. Daya tahan keripik mencapai 6 bulan, dimana prosesnya butuh 4 hari itupun kalau tidak musim hujan. 

"Jika menggunakan bahan kimia bisa tahan lebih lama lagi," imbuhnya.

Proses pembuatan meliputi memotong, merendam, mengeringkan. Dilanjut tahap ke dua, prosesnya meliputi digorang dan ditiriskan. Penjualan secara reseller dijadikan tumpuan keripik kentang Cita Mandiri. Cara jadi reseller yakn membeli minimal 2,5 juta maka dapat potongan 30%. Uniknya tidak ada minimal pembelian bagi kamu.

Rempeyek Kepiting Sedap Berkat Bangkrut Dua Kali

Profil Pengusaha Filsa Budi Ambia 



Menjadi pengusaha harus rela gonta- ganti profesi. Mulai berjualan martabak sampai asik berbisnis kepiting. Filsa memang memiliki hidup unik. Sosok berusia 29 tahun ini menarik banyak perhatian orang. Termasuk dari Bank Mandiri, hingga Filsa Budi Ambia memenangkan Juara 1 Wirausahawan Muda Mandiri 2015.

Gagal menjadi kata kunci Filsa menghadapi hidup. Kecerdasan otak diuji berbagai bentuk masalah disaat ia memulai bahkan menjalankan. Mimpi menjadi pengusaha sudah sejak masa SMA hingga lulus tahun 2005. Sosok alumni SMK Bina Teknologi Purwokerto ini memulai usaha fotokopi sederhana terlebih dahulu.

"Tetapi gagal," kata tersebut terlontar, bukan karena Filsa kecewa tatapi merasa disana bukan rejekinya lagi.

Ia sempat kehilangan uang sampai Rp.15 juta menjadi pengangguran selepas lulus sekolah. Tidak memiliki lagi dana usaha maka mimpi pengusaha muda terhenti. Dia merasa butuh jeda waktu memulai kembali. Maka ketika seorang saudara mengajaknya hijrah, Filsa senang hati mengiyakan karena tidak punya pekerjaan.

Ia pun berhijrah ke Balikpapan, Kalimantan Timur, tepat di tahun 2007. Meski sudah jauh ke tanah orang, tetap saja, nasib masih belum merubah hidup Filsa. Ia menyebut sempat menganggur selama tujuh bulan. Niat awal mendapatkan pekerjaan agar keadaan ekonomi membaik tersendat.

Filsa kemudian bekerja menjadi supir perusahaan pertambangan selama dua tahun. Dalam perjalanan hasrat menjadi pengusaha masih tersisa. Setiap gaji disisihkan agar terkumpul menjadi dana usaha kembali. Dan, ketika uang terkumpul, Filsa memberanikan diri keluar dari perusahaan pada tahun 2010.

Usaha kembali


Ia memang bukan kelahiran Balikpapan. Dia keturunan Jawa yang besar di Banyumas sampai tama sekolah menengah. Kenapa tidak merantau ke Jakarta, Filsa mempunya alasannya sendiri, bahwa Jakarta sudah dia anggap terlalu penuh.

Cuma mengadu nasib tanpa kepastian. Sang paman cuma mengajak tanpa menjanjikan masuk perusahaan. Ia menyebutkan hidup diperantauan memanglah susah. Beruntung lamaran ke sebuah perusahaan tambang itu diterima. Selain ingin menjadi pengusaha lagi, alasan Filsa keluar karena gaji sangat kecil dan tekanan kerja.

Ia mencontohkan rekan kerjanya. Dia padahal sudah bekerja 15 tahun tetapi belum punya apa- apa. "Masa saya mau kayak dia juga?" ucapnya retoris. Selepas tidak lagi bekerja, Filsa memilih membuka usaha rumah makan disana. Uang Rp.10 juta digunakan menyewa ruko, berjualan ayam bakar, ayam goreng, dll.

Akan tetapi cuma mentok bertahan empat bulan. Menurut Filsa masalah kursial bisnisnya ialah tidak laku. Itu bahkan berjalan sampai habis masa sewa. Alhasil pemilik ruko menjadi tidak sabar, hingga menyebabkan konflik berkepanjangan. Uang habis tetapi tidak menghasilkan apapun, maka ia memilih berhenti usaha.

Total kerugian mencapai Rp.20 juta. Sosok Filsa memang semakin dewasa dan matang berbisnis. Ia tidak mau berputus asa dalam kebangkrutan. Gagal menurut dia sugestikan merupakan bagian pelajaran menuju ke sukses. Dukungan orang tua ditambah dukungan istri menguatkan semangat dia.

"...tidak ada pengusaha sukses tanpa melewat masa berdarah- darah," terang dia, paling penting adalah dia tidak berputus asa.

Nampaknya Filsa mengikuti anjuran orang bijak dulu. Menikah akan membawa rejeki bagi keluarga. Maka sejak menikah dengan Lupi Mulyani, di tahun yang sama, ia mulai mengambangkan usaha kembali. Waktu itu cuma bermodal ide bisnis yang dimodali orang lain.

Dia mengambil hikmah soal kegagalan. Menjadi pengusaha jangan setengah hati. "Nanti hasilnya setengah- setengah juga," ujar Filsa. Pengusaha harus telaten, fokus, dan total menjalankan. Gagal tidak membuat dia kapok berusaha. Ia bahkan tertantang menjalankan usaha lebih prospektif.

Usaha kepiting


Usaha martabak menjadi pilihan terbaik. Kudapan yang dianggapnya cocok di lidah masyarakat Indonesia. Ia meyakini martabak yang berkelas butuh sentuhan. Menciptakan martabak enak yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat kelas menengah dan bawah. Namun, sayangnya, ditengah perjalanan rekan bisnis lamanya mundur.

Rekan lamanya merasa sudah tidak sepaham soal berbisnis. Kerja sama mereka cuma bertahan sampai lima bulan saja. Meski begitu, Filsa masih optmisi usaha martabaknya akan berjalan maju. Bermodal cincin kawin yang dijual jadi Rp.1,5 juta, maka ia memulai kembali bisnis martabak dari nol.

Ia menjalankan usaha martabak Mr. Bawor. Martabak mini anaka rasa seharga Rp.10 ribu per porsi isi 4 buah. Sejak pertama meluncurkan usaha barunya langsung laris. Sampai omzetnya mencapai Rp.25 juta per- bulan dan berhasil membuka 11 gerai tersebar sekitar Balikpapan dan Tenggarong.

Filsa lalu memberanikan diri membua waralaba,"tidak kurang Rp.400 ribu omzet dikantongi satu hari oleh pewaralaba." Tidak kurang 35 orang mitra bergabung tersebar di Jawa dan Kalimantan. Tambahan lagi jika kamu membuka gerai dari jam 5 sampai jam 10 malam, maka akan menghasilkan Rp.12 juta per- bulan.

Untungnya Rp.4,5 juta per- bulan yang sudah dipotong sewa tempat.

"Saya coba berbisnis martabak mini franchise yang sudah memiliki 35 cabang bangkrut juga di tahun 2012," ia berujar kepada pewarta Detik.com

Menjalani bisnis mapan belum tentu menenangkan. Ia terjerak bujuk rayu investor bodong. Uang sebesar Rp.120 juta ludes dibawa kabur. Sementara itu dia masih memiliki hutang serta tanggungan anak. Padahal itu uang hasil meminjam investor juga rentenir.

Aneka olahan laut


Dia menggadaikan kembali cincin kawin yang pernah digadaikan. Uang hasil senilai Rp.1,8 juta hanya cukup digunakan biaya makan. Sementara itu, tetangga Filsa, seorang pengusaha rempeyek kacang juga menutup usahanya. Terbersit ide dalam benak Filsa akan kejadian tersebut kenapa tidak berbisnis rempeyek.

Filsa langsung minta diajari membuat rempeyek. Dia belajar kepada sang tetangga tersebut. Waktu itu sudah bisa membuat tetapi jualannya susah. Ia menyadari kenapa tetangganya itu malah bangkrut. Tetapi dia masih optimis akan prospek rempek kacang.

Cuma tersisa uang Rp.100 menjadi pertaruhan hidup seorang Filsa. Ia mulai memutar otak caranya berbisnis cerdas rempeyek. Filsa melihat potensi asli Balikpapan yakni budidaya kepiting. Disitulah ide bisnis tentang rempeyek kepiting muncul seketika. Pemilihan bahan kepiting karena banyak tersedia di Kota Balikpapan itu.

Sajak 2013, usahanya membuat rempeyek kepiting. Awal usaha Filsa cuma membuat 20 bungkus peyek. Ternyata respon pasar sangat bagus karena belum pernah ada. Produk tersebut lantas dinamai Kampoeng Timoer berdasarkan  tempat produksi. Jualan pertama kali, bulan pertama, dia meraup omzet Rp.300.000.

Tidak seperti usaha sebelumnya, usaha dijalankan Filsa berjalan sangat lancar. Pasalnya dia menjadi pelopor bisnis rempeyek kepiting. Total sekarang lebih dari 1.000 bungkus rempeyek kepiting diproduksi setiap hari. Harga jualnya Rp.12.000 sampai Rp.24.000 per- bungkus. Setiap hari sepuluh kilogram mampu dijadikan rempeyek.

Harga bahan baku cuma Rp.75.000 per- kilogram. Dimana satu kilogram mampu menghasilkan 20 sampai 30 bungkus. Ayah seorang putri cantik tersebut mengaku tidak khawatir akan gizi. Dia meyakini meski sudah dijadikan rempeyek gizinya tidak akan hilang. Selain berjualan di Balikpapan, kini sudah tersedia juga melalui online.

Dia bekerja sama dengan 15 distributor khusus. Termasuk bekerja sama konyasi swalayan buat rempeyek kepiting. Dua kali kegagalan menghampiri tidak membuat patah semangat. Sempat memiliki hutang ratusan juta tetap membuatnya sadar diri. Meski tidak pernah kuliah, ia tidak merasa minder malah sangat bertekat wirausaha.

"Suka duka dalam bisnis merupakan bagian dari sejarah hidup saya," tutur Filsa. Ingat wirausaha tidak selalu tentang sekolah. Ia meyakini pengalaman merupakan pelajar paling berharga.

Dia mengikuti aneka seminar yang diadakan oleh pemerintah ataupun pihak swasta. Termasuk mendapatkan dukungan Bank Mandiri. Usaha Kampoeng Timoer menjadi juara pertama kategori Boga di ajang Wirausahawan Muda Mandiri 2015. Di samping itu, ia berencana membuat produk variasi lain, yang masih dirahasiakan.

"...pokoknya berhubungan dengan seafood snack," tutup dia kepada Kontan.

Wak Doyok Dicaci Maki Makin Banyak Rejeki

Profil Pengusaha Mohd. Azwan Md. Nor


 
Mungkin nama Mohd. Azwan Md Nor itu terdengar asing. Pria 34 tahun ini memang lebih dikenal bernama Wak Doyok. Menurut berbagai sumber, kisah awal hidup Azwan memang penuh kesukaran. Di tahun 2010 katanya dia pernah menjadi kuli bangunan. Dan, satu foto membuktikan kegetiran hidupnya itu, benar- benar susah.

Kini dia dikenal sebagai usahawan Malaysia. Juga selebriti Instagram yang bergaya menggegerkan dunia. Itu semua berkat jambang unik serta gaya trendi. Dia dikenal memiliki berbagai usaha seperti krim jambang, kopi, krim pomade, sampai clothing line sendiri bergaya Inggris.

Dia dikenal akan gayanya di Instagram. Tampil trendi berpakaian ala gentleman, atau budaya mob lebih tepat kita mengartikan. Sukses menjadi ikon trend setter, usaha tempat cukurnya juga telah menyebar ke seantero Malaysia. Namun siapa sangka sosoknya pernah mendapatkan penolakan dari masyarakatnya sendiri.

Ketika penulis mengusut ternyata ada perasaan tidak cocok. Gayanya sempat dianggap tidak cocok akan budaya Malaysia. Padahal banyak anak muda berminat tetapi menafikan hal tersebut. Hanyalah Wak Doyok tidak mau sekedar bicara. Ia justru menunjukan itu ke halayak ramai dan siap menjadi bahan cemooh orang.

"Saya malas berpikir apa yang orang pikirkan mengenai saya. Apa yang paling penting saya tidak menganggu hidup orang lain," tandasnya.

Dia tetap menjalankan gayanya. Mengupload aneka foto bergaya bak selebriti berjaya. Padahal waktu itu, dia masih bukanlah siapa- siapa. Pokoknya Wak Doyok tidak mau hidup memuaskan hasrat orang banyak. Ia fokus membahagiakan diri sendiri dulu. "...itu lebih baik dan mendatangkan banyak faedah," ujarnya lagi.

Nama hoki



Siapa sangka adanya nama Doyok membawa keberuntungan. Semenjak bekerja menjadi kuli tahun 2000 -an, dia sudah dipanggil Doyok oleh kalangan teman. Lantaran tubuh kerempeng serta wajah culunnya mirip dengan artis asal Indonesia. 

"Kebetulan saya sendiri keturunan jawa," imbuhnya. Ya, pikiran kita memang benar, nama Azwan sekarang memang terinpirasi dari film Doyok dan Kadir. Waktu itu film Doyok dan Kadir tengah jaya- jayanya di Malaysia era 1980- 1990 -an. "nama itu tidak mendatangkan masalah bagi saya."

Bekerja sebagai kuli Azwan mengaku pernah tidak tidur selama tiga hari. Padahal dia digaji sangat kecil dan tidak sebanding akan kerja kerasnya. Dia bekerja di kawasan dermaga Port Klang. Setiap hari dia kenyang memandangai muatan diturunkan dari kapal.  

Sampai di tahun 2008, Azwan diberhentikan oleh tempatnya bekerja, pria kurus ini lantas mulai dijauhi oleh kawan- kawannya.

Hidupnya sukar dibuang teman karena pengangguran tanpa uang. Uang tidak cukup buat makan sehar- hari hilang. Padahal gajinya saja cuma 5 ringgit Malaysia per- jam. Diantara masa itulah dia mulai menumbuhkan rambut jambang. Berita gembira ketika dia bisa mendapatkan pekerjaan sambilan di Butik Ben Sherman.

Ia mendengar butik asal Inggris tersebut akan hadir di Malaysia. Azman segera bertolak ke sana, tetapi apa daya dia baru saja kehilangan kendaraan. Lantaran Azman gagal bayar cicilan maka jadilah dia berjalan kaki ke sana. "...kendaraan saya ditarik karena sudah lebih dari empat bulan tidak bayar," kenang Wak Doyok.

Dia berjalan lima kilo meter sampai ke tempat butik di Bangsar, Malaysia. Sesampainya disana malah ditolak karena penampilan tidak cocok. Maka Azman cuma pulang bertangan hampa kembali jadi kuli. Dia pernah bekerja menarik lori. Bahkan dia pernah bekerja menjadi montir serabutan demi kebutuhan hidup.

Tidak mau berputus asa, Azwan kembali ke butik tersebut kedua kalinya. Beruntung karena dia sudah mulai merubah penampilan. Semua berkat uang tabungan segala usahanya agar bergaya. Hasilnya, Azwan akhirnya mendapat keinginannya bekerja, dan mendapatkan gaji besar yakni 1200 ringgit Malaysia.

Masuk ke Ben Sherman ternyata sudah direncanakan sejak awal. Dia memang ngebet ingin memasuki dunia fashion. Memang butik ini dikenal akan gaya vintage mod -seperti dikenakan Wak Doyok sekarang. Mereka bekerja sejak 1963, menghasilkan produk seperti sepatu, pakaian, jas, dan aksesori lawas khas 50- 60 an.

Bekerja keras


Penampilan memang sangat mempengaruhi hidup Azwan. Pertama kali mendaftar Ben Sherman, dia ditolak seketetika karena penampilan. Dia langsung mencari tau segala sesuatu tentang fashion disana. Mengambil rujukan pria berjambang khas model perusahaan tersebut.

Dia mengambil rujukan jambang David Beckham. Azwan meski berjembang tetap saja tidak percaya diri. Alasannya karena merasa wajah tidak pantas berjambang. Ketika diterima malah dia mendapatkan banyak pujian. Sejak itulah, Wak Doyok percaya diri akan jambangnya dan mulai belajar merapikan jambangnya.

Cara merapikan jambang menurut Wak Doyok: Rapikan jampang dua hari sekali agar rapat. Rapikan agar tumbuh menyesuaikan struktur wajah. Ia juga mengikuti berbagai petuah orang tua. Termasuk mengelapnya dengan tangan kanan selepas makan. Menurut Wak Doyok inilah salah satu alasan jambang tumbuh subur.

Azwan merapikan jambang dua hari sekali. Terutama mencukur bulu dibawah dagu. Kumis lentik dipotong agar rapih tidak terlalu panjang. Perlu ketelitian begitulah penjelasan Wak Doyok. Maka dia lebih senang merawat sendiri di rumah dibanding ke salon. Semua agar jambang bersih tidak nampak kotor dan jorok.

Wak Doyok menjelaskan kotor akan terlihat utama selepas makan. Pertama kali menumbuhkan jambang itu dia mengalami sedikit kesulitan. Agar tidak gampang kotor, makan pun ditangani lewat sumpit atau garpu. Ia juga membuat produk perawatan sendiri. "Beberapa produk saya beli dari seorang teman di Singapura."

Salah satunya menurut dia adalah wax khusus pelentik kumis. Untuk jambangnya, dia membeli di salon milik penyanyi Joe Flizzow, Joe's Barbershop. Ia menjelaskan produk seperti ini sulit ditemui kecuali dari daratan Eropa. Bagi warga Malaysia gaya semacam itu masih baru, meski begitu banyak anak muda mau mencoba.

Sebagai anak muda tentu Wak Doyok sadar sosial media. Termasuk Instagram, makalah dia asik berselfi ria mengenakan pakaian disukainya. Banyak respon positif tetapi banyak juga negatif, bahkan mulai memaki Wak Doyok beraneka macam, seperti hal perusak generasi lewat seleberan di penjuru Bukit Bintang dan Malaysia.

Adapula bermunculan hastag #wakdogol atau #seranggaperosak. Tetapi justru inilah efek viral sehingga dia mendapatkan lebih banyak perhatian. Sebuah viral marketing tidak sengaja memantapkan kesadaran. Wak Doyok mulai menyadari akan potensi dibalik gaya unik berjambang.

"Sedikit banyaknya, insiden itulah yang memperkenalkan saya ke seluruh Malaysia meskipun berbaur dengan tanggapan negatif," kenang Azwan.

Dicaci maki malah semakin sukses. Itulah kira nasib Wak Doyok dituduh macam- macam. Selain dia sukses merambah dunia hiburan Malaysia. Dia merambah bisnis restoran Thailand bernama Dulang Mas Cafe, yang diresmikan Oktober 2015, bekerja sama dengan rekan bernama Fizul Nawi di Seksyen 7, Shah Alam.

Hal lain, bisnis Wak Doyok juga termasuk aneka produk, antara lain Kopi Lu- Wak Doyok, Pomade Wak Doyok, Krim Jambang Wak Doyok.dll. Yang mana itu menjadi bagian WD Holding (M) Sdn. Bhd. Dan, yang paling terkenal di Indonesia apalagi kalau bukan krim jambangnya.

Tumbuh termasuk ikut merambah bisnis salon VVIP Barbershop di Subang Jaya. Wak Doyok terbukti jadi contoh bagi wirausahawan asal Malaysia.

Keunikan jambang Wak Doyok memikat sutradara Syafiq Yusof. Ia lalu diajak main film Abang Long Fadil 2. Hanya saja dia tidak begitu fokus mengerjakan akting. Bukanlah fokus utama Wak Doyok, hanya mau mengisi waktu luang. "Khalayak ramai mengenal dia sebagai orang fashion, bukannya pelakon," tutur dia.

Paling penting ialah dia mendapatkan tokoh utama. Ataupun peran lain yang menantang dimainkan. Seperti di film Abang Long Fadil 2, dimana dia menjadi antagonis, tetapi masih ranah komedi. Dia berakting menjadi diri sendiri, anak Taji Semprit. Merupakan anak penjahat yang ingin menguasai kursi kepala gangster.

Menurut Wak Doyok yang paling sulit ialah skrip cerita. Dia harus menggunakan bahasa Melayu, Indonesia, juga Jawa. Dia juga harus belajar silat. Wak Doyok harus beradu akting dengan A. Galak yang berperan jadi ayahnya. "...mencoba merebut kursi sebagai ketua gangster dan menghianati bapak sendiri," tegas Wak.

Terdapat aksi pertarungan yang tidak sedikit membuat dia terluka. Wak Doyok nampak menikmati hidupnya sebagai aktor tetapi tidak berlebihan. Kisah menjadi pengusaha muda lebih menarik bagi hidup Wak Doyok, kini ingin menginspirasi banyak anak muda.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba