Bisnis Jewelry Danielle dan Jodie Snyder Kekuatan Kreativitas

Profil Pengusaha Daneilla dan Jodie Snyder


bisnis jewelry
 
Denielle dan Jodie Snyder mewujudkaan kekuatan kreativitas. Bisnis jewelry Dannijo bermula dari kesenangan mereka. Keduanya senang mengekspresikan diri melalui perhiasan. Aksesoris ini dijual pertama kali ketika masih kecil di daerah Jacksonville, FL.

Mereka kemudian tumbuh masuk sekolah menengah. Bisnis ini masih berjalan hingga keduanya ada di Universitas. Tentu pertama kali mereka membuat desain lebih sederhana. Beberapa waktu mereka tinggal di New York, keduanya mendirikan organisasi non- profit buat amal.

Mereka kembali mendesain aksesoris perhiasan ke orang. Dibuat guna menggaet banyak pendonasi ikut bergabung. Hasilnya cukup baik bagi organisasi mereka dirikan. Sayangnya, pada 2008, Danielle dikeluarkan dari pekerjaan hingga ia menganggur.

Kebetulan Denielle bekerja untuk brand perhiasan ternama, sementara adiknya, Jodi Snyder memilih menjadi pengusaha muda. Ia memiliki bisnis footware sendiri. Kemudian, keduanya mendesain lagi perhiasan baru, hingga produknya bisa masuk mall mewah Bergdorf Goodman.

Dari bisnis biasa berkembang menjadi perusahaan jewelry serius. Ini berkat pengalaman mereka di dunia desainer fashion. Bahkan Beyonce membeli salah satu kalung mereka di sana. Kemudian ia memakainya berkeliling dunia buat konser. Ini pencapaian terbesar pengusaha kakak beradik Snyder.

Takdir Pengusaha


Denielle mengatakan membangun bisnis barang keluarga penuh tantangan. Kakak beradik ini selalu bersama bahkan sebelum membangun perusahaan. Alhasil dia mengatakan bisnis ini tidak mungkin dipisahkan dari personal.

Dalam sembilan tahun keduanya telah mampu mengatasi. Mereka bisa saling berbagi pandangan dan tidak lagi berdebat. Keduanya saling berbagi ide mengenai produk Dannijo, saling berbagi sukses dan saling mendorong lebih baik.

Menjadi saudari berarti harus mampu saling transparan. Ini bisa menjadi fondasi bagi perusahaan atau mungkin penghalang. Mereka memiliki skill berbeda saling melengkapi. Danielle mengerjakan bagian kreativitas dan produk, semantara Jodie mengerjakan aspek bisnis mereka.

Unik karena mereka tidak memiliki mimpi menjadi pengusaha. Danielle memilih cita- cita menjadi jurnalis. Jodie lebih memilih cita- cita menjadi komentator olah raga.  Mereka selalu berpikir diluar kotak hingga banyak konsep.

Ide perhiasan datang dari film, arsitektur, atau pola benda. Agar kreativitas tetap membara mereak memiliki rutinitas. Banyak masalah mendatangi ketika membangun bisnis. Banyak olah raga, udara segar, memasak, relaksasi, dan waktu sendirian. Jodie lebih memilih berakhir pekan dengan keluarga.

"Kami tau kami mau melakukan sesuatu yang kreatif," ujar Danielle.

Mereka membuka toko pertama Dannijo pada 2003, dan 2008, mereka membuka toko kembali keluar dari kamar apartemen mereka. Menjadi pengusaha serius memiliki dua toko sendiri. Ketenarannya bahkan mengundang majalah Inc, menulis kisah mereka dalam "|Coolest Young Entrepreneurs.

Hasrat bisnis mereka ditambah passion dimiliknya; penjualan naik. Dua Dannijo berdiri di kawasan market place terbaik, memiliki 12 pegawai, dan dijual ke lebih dari 130 toko retailer. Jewelry mereka memiliki keunikan swaroski, metal oxside, batu warna- warni, pola geometri, dan elemen vintage.

Era dimana seleberiti dunia memiliki lini jewelry sendiri. Dannijo optimis tumbuh dintara ketatnya persaingan. Mereka memiliki ciri khas serta niche sendiri. "Itu menceritakan cerita dan menyalakan percakapan," Daniella menjelaskan, setiap musimnya memiliki cerita berbeda dibanding sebelumnya.

Produk mereka handmade memiliki keunikan dibuat di New York. Dimana bila jewelry lainnya lebih memilih pindah. Bahkan banyak perusahaan keluar negeri demi penghematan. Jodie mangatakan ini berbeda, mereka bertahan di New York menciptakan keunikan walau biaya produksi tinggi.

Kekuatan Kreativitas


Jodie berkata seniman perhiasan sangat langka. Buat meningkatkan brand, Dannijo memanfaatkan sosial media dan aspek digital lain. Mereka juga menciptakan perhiasan berdasarkan tematik. Ambil contoh ketika keduanya bekerja sama dengan American Ballet Theater.

Mereka membuat perhiasan bagi para penari balet dan tinju. Lewat hastag #boxerina menaikan brand melalui Twitter. Dannijo juga menggabungkan gelang dengan ketiak. Melalui hastag #armparty mulai mengajak para selebriti menciptakan sensasi viral.

Mereka memanfaatkan kepopuleran Twitter dan Instagram. Dannijo menarget wanita yang memiliki kepercayaan diri. Mereka yang paham akan kualitas perhiasan individu untuk penampilan. "Kami beruntung kedua orang tua kami (Gary dan Lauren Snyder) sangat suportif," Daniella mengatakan.

Bisnis jawelry mampu membawa mereka berkeliling dunia. Mereka senang bertraveling ke tempat- tempat berbeda. Menyukai mendokumentasi tempat- tempat traveling tersebut. Mereka tidak jarang membagikan itu semua di sosial media.

Keduanya memiliki pengikuti aktif mengamati traveling mereka. Follower menyukai dari musik, tempat indah, dan film dibagi. Dari sanalah didapatkan ide mengenai perhiasan terbaru. Pelanggan mereka meliputi Taylor Swift, Natalie Portman, Beyonce, Kendal Janner, dan Rihanna.

Kakak beradik tersebut memiliki gaya tersendiri. Daneilla memiliki gaya bohemian dan rock'n roll. Jodie memilih lebih ke perhiasan klasik. Danielle bekerja sebagai Chier Marketing Officer sekaligus President.

Namanya telah dikenal sebagai pengusaha ternama oleh Forbes dan Glamour. Daniella juga dikenal sebagai aktivis sosial media oleh New York Times 2013. Dia juga mendapatkan penghargaan sebagai Young Philantrophist Award pada 2014 Love Heals Gala.

Jodie merupakan Chief Executive Officer, memegang divisi luar negeri, untuk penjualan dan juga pengembangan produk. Dia berhasil mengerjakan kerja sama dengan perusahaan Fortune 100. Mulai dari produksi produk hingga publikasi perusahaan.

Bagian terbaik perusahaan ini adalah bagian dari kegiatan amal. Mereka mendorong wanita di daerah pinggiran berwirausaha. Mereka percaya wanita harus saling membantu, memberikan kesempatan wanita lain dan menolong mereka mencapai mimpi.

Peternakan Babi Menjadi Bisnis Tak Terduga

Profil Pengusaha Lucu Huang Hongguang


pengusaha babi china

Bisnis tak terduga pria bernama Huang ini. Dia yang dikenal karena sikapnya pemalu. Tetapi siapa sangka- sangka, Huang Hongguang, bisa sukses menjadi satu miliarder di tempat asalnya, China. Pria desa yang tidak kerasan bekerja buruh, memilih keluar dari perusahaan.

Ia lahir dan tumbuh di sebuah desa bernama Wangjiachagou, di Provinsi Shaanxi, China, bekerja di sebuah perusahaan. Akan tetapi pekerjaan itu membuatnya tidak mersa nyaman, Huang memilih keluar. Dia kemudian membeli dua ekor babi untuk diternakan.

Huang memilih memelihara babi di rumahnya. Tidak seperti pemuda lain di desanya, ia tidak pernah berpikir untuk keluar mencari pekerjaan, bukan juga karena malas bekerja. Cuma Huang telah bosan hidup jadi pegawai perusahaan.

Pengusaha Pemalu


Mengelola pertenakan babi Huang mempunyai cara unik.  Dia sering mengajak bicara kedua babinya khusus peliharaanya, bahkan  tak segan- segan tidur bersama kedua babinya mengusir kesendirian. Meski di desa umum  adanya tempat pemotongan hewan; ia selalu merasa tidak nyaman melihatnya.

Bermodal 5.000 yuan ($730) sebagai modal, dia memilih membuka peternakan babi dan dalam lima tahun mengahasilkan 6 juta yuan. Berbeda pemuda desa kebanyakan, dirinya tidak suka bisnis rumah pemotongan hewan.

Memilih menjadi peternak babi saja dibanding membuka ruma pemotongan.  Seperti dilansir oleh China Daily, Wang Jing, sesama warga desa, masih tidak habis pikir kenapa Huang bisa menjadi kaya begitu cepat.

"Kesuksesan masih menjadi misteri bagiku, tetapi kerja kerasnya dalam pekerjaannya dan bisnis lebih dari beberapa tahun mungkin memiliki andil," ucap Wang Qiang, warga lain di desa Wangjiachagou.

Desa ini tak begitu dikenal tetapi kini mendapatkan sorotan kerena dirinya. Huang yang hidup dari keluarga paling miskin bisa berubah menjadi kaya raya. Huang tinggal bersama kedua orang tuanya, mereka memiliki kekurangan fisik, hingga tak mampu bekerja.

Mereka hidup sangat miskin dibanding tetangga lain. Mereka juga tidak bisa beternak seperti warga lainnya. Akibat keadaan rumah dan keluarganya itu pula, Huang mengaku tidak punya teman dan menjadi penyendiri.

"Saya sering kabur ke gunung untuk menghidari warga desa dan berpikir keras bagaimana cara mencari uang, " dia lantas mendapatkan babi pertamanya tahun 1993. Kala itu, selepas sekolah menengah atas rasa cintanya mulai tumbuh kepada babi- babinya.

Kaya mendadak


"Saya menyukai binatang. Saya menemukan mereka cerdas dan baik kepada ku. Mereka juga tidak pernah pernah memandang saya remeh," ucapnya.

Selama tinggal dengan kedua babinya, sendiri, dia mempelajari segala tingkah laku dan bagaimana mengobati penyakit mereka. Setelah tinggal dengan keduanya, Huang mulai kehabisan uang, karena tidak lagi bisa bekerja kembali ke sawahnya.

Jadi dia berniat bekerja di sebuah peternakan hewan besar di Yangling, Shaanxi. Bekerja sebagai buruh tak membuatnya betah. Tapi, dari sanalah ilmu beternak babi didapatkan melalui bekerja jadi buruh.

Total ia bekerja di sana selama lima tahun. Selama bekerja di sana, Huang mulai mendapatkan uang dari peternakan di Yangling dan mulai paham bagaimana pasaran babi. Peternak di China biasanya menyimpan 70 persen babi yang dijual di rumah.

Praktek ini menciptakan sebuah fenomena dimana peternak menyimpan banya babi ketika harga melonjak tinggi. Kemudian, ketika pasar mulai jenuh, harganya akan mulai turun. Akibatnya peternak tidak lagi menyimpan babi di rumahnya.

Kebiasaan ini menyebabkan fluktuasi periodik di pasaran. "Saya menemukan pola dalam harga babi dimana akan selalu naik dan turun dalam tiga tahun," jelasnya.

Dia kemudian menceritakan bagaimana caranya kembali. Di 2001, dia membawa pulang uang ke rumahnya dari bekerja di Yangling. Dan, dia mulai berbisnis menjual anak babi di Gansu, provinsi tetangga.

Dia terus berbisnis menjual sampai tahun 2003 -an, dan ketika harga indukan dan anak babi sedang jatuh- jatuhnya. Mengingat pola pernah dipelajarinya, Huang telah melihat arah bisnisnya, dia mengingat bagaimana lima tahun bekerja di Yangling sambil mengamati pasar.

Ia kemudian menginvestasikan 5000 yuang membeli 20 indukan dan 200 anak babi ketika berharga sangat murah.

"Kami mengira dia telah menjadi gila, membeli banyak babi ketika harga babi turun. Tidak ada satupun yang akan mau menyimpan babi disaat itu," ucap Wang Qiang.

Huang Jien, kakak perempuan, bahkan menyarankan adik iparnya untuk membawa Huang ke dokter jiwa saja. "Saya kira dia sakit jiwa," ucap kakak perempuan Huang.  Akan tetapi ta tidak peduli akan kritik dan keluhan dari keluarganya tersebut. Dia tetap menjalankan bisnisnya.

Dua bulan kemudian, ketika pasar mulai terdepresi dan harga pasaran mulai naik. Masa dua tahun itu mulai terlihat dimana ia telah bersiap.

"Anak babi yang saya beli 5 yuan setiap ekor kini dijual seharga 100 yuan tiap ekor. Anak babi yang lahir dari indukan yang hamil juga dijual kembali seharga 200.000 yuan. Saya berinvestasi 5000 yuan dan kembali lebih dari 50.000 yuan," jelasnya.

Ia memulai kembali berbisnis di 2004 dengan modal baru, mendapatkan 200.000 yuan di akhir 2005. Meski harga babi akan turun di 2006, ia telah memprediksikan harga akan naik di 2007. Huan telah menyiapkan peternakannya lebih besar.

Fan Enru, direktur biro peternakan Fengxian, mengatakan "Saya belajar dari Huang bahwa harga naik pada tahun 2007. Dia ingin uang untuk memperluas peternakannya, tapi dia tidak bisa mendapatkan pinjaman dari bank karena dia tidak memiliki penjamin. Saya memutuskan menjadi penjaminnya."

Dengan bantuan Enru dan bironya, ia mendapatkan 180.000 yuan, agar bisa berhutang modal dari bank lokal. Dan, dari sanalah, Huang berhasil mendapatkan 6 juta yuan di akhir 2008.

Peternakan miliknya kini memiliki lebih dari 3.500 babi, dan lebih dari 1.000 indukan. Mencontoh hidupnya, 20 orang warga di desanya juga ikut beternak babi. Mereka mengambil cara Huang, lalu menjadikan bisnis ini pilar ekonomi.

Mereka mencoba membantu para petani miskin. Sekarang mereka memiliki 79.300 babi di peternakan dan 34.000 telah dijual. Banyak petani labih banyak mendapat untung dari beternak babi. Ini menjadi bisnis tidak terduka maka cobalah.

Umur 16 Tahun Pengusaha Sukses Daur Ulang

Profil Pengusaha Maddie Bradshaw


bisnis daur ulang tutup botol

Maddie Bradshaw menunjukan bisnis daur ulang menjadi berbeda. Umurnya masih 16 tahun sukses menjadi pengusaha sukses. Ia menghasilkan $1,6 miliar melalui berjualan lewat Amazon dan lain- lain. Menjual lebih dari 600.000 kalung ke lebih dari 6000 retailer di Amerika Serikat.

Bermula dari gadis ini yang masih berusia 10 tahun penuh kreatifitas. Dia ingin menghias lokernya tetapi bosan. Maddie tidak menemukan cara kreatif beru mendekorasi. Ingin menemukan sesuatu yang original. Hingga dia bertemu pamannya yang mempunyai mesin minuman ringan.

Dia memberikan 50 tutup botol minuman kepada Maddie. "Teman ku melihat tutup botol ini, mereka mau membuat sesuatu dari itu," tuturnya.

Passion Pengusaha


Rasa antusias ketika melihat tutup botol tersebut. Ia lalu membuat pendan berbahan tutup botol. Dia mendekorasi menjadi perhiasan cantik. Namanya Snap Caps bertujuan menangkap dan merayakan keunikan tiap gadis.

Bukan sekedar mendekorasi, tetapi dia membuat tema dari bintang musik dan cerita anak. Dia cukup menjual 50 buah pertama kali. Begitu masuk toko langsung produknya laku keras. Barulah dia sadar bahwa ini akan menjadi sesuatu ke depan.

Dalam perjalanan ia menyadari uang bukanlah tujuan. Maddie hanya mencoba bersenang- senang. Tidak ada pikiran akan sesukses sekarang. Inilah yang membawanya senang membuat, dan tidak ada rasa takut kegagalan.

Bermodal $300 uang dari ibunya, membeli beberapa bahan, dan menghasilkan miliaran pertama dari sana. Ia mengajak saudara perempuannya Margot bergabung. Keduanya mendirikan perusahaan yang membuat perhiasan.

Margot menjadi vice- president bekerja dari desain, membuat, dan mengikuti pameran. Keduanya mulai mengikuti serangkaian peremuan bisnis. "Hal terbaik ialah perusahaan tumbuh bersama kami, ketika selera berubah maka desain pun berkembang," catatnya.

Maddie mendapatkan banyak sorotan dari berbegai media masa. Alhasil banyak anak- anak lain yang mencoba menghubungi. Para remaja ini bertanya bagaimana menjadi pengusaha sepertinya. Maddie pun meluncurkan buku berjudul "You Can Start Business, Too".

Bahkan dia meluncurkan beasiswa bagi para calon pengusaha. Ia senang mampu mengajak dan lalu menolong siapapun. "Tidak semua punya orang memiliki modal memulai seperti aku," jelasnya. Dia memang menarik perhatian media lokal dan nasional.

Dari ABC's, The View, dan Shark Tank meliput kesuksesn Maddie. Begitu pula penghargaan Teen Choice Awards. Dia merasa nerves ketika diwawancarai pembawa acara terkenal, Barbara Walters. Maddie bersemangat untuk membahas kemajuan hingga rencana masa depan perusahaan.

Pada Februari 2012, acara Shark Tank, Maddie menawarkan investasi $300.000 kepada kelima Shark investor. Ia menawarkan juga mentorship dengan perjanjian saham 13% dari perusahaan. Tiga orang setuju dengan penawaran yakni Mark Cuban, Robert Herjevic, dan Lorie Greiner.

Total investasi sampai miliaran dollar dari kelimanya. Semua direncanakan agar perusahaanya bisa go internasional. Bagi kalian remaja yang mau berwirausaha, ia mengatakan, "Ikuti passion kamu. Jika kamu memiliki ide dan mencintainya, maka orang lain akan suka, juga."

5 Pengusaha Sukses Berbisnis Limbah Sampah

Daftar Pengusaha: Sukses Berbisnis Limbah



Ia tidak menyangka hidupnya akan berbalik 180 derajat, justru karena limbah sampah.

Baedowy cuma bekas pegawai merasakan betul bekerja hingga tengah malam. Hidupnya berbalik itu ketika nekat memutuskan keluar dari kantornya. Dia saat itu 25 tahun, nekat hengkang dan memulai berbagai bisnis guna bertahan hidup. Dia kemudian berbisnis botol plastik bekas.

Modal awalnya hanya 50 juta, sebagian milik mitra bisnisnya. Baedowy kemudian mendirikan pabrik pengolahan sampah plastik, namun mulai ditinggalkan mitranya. Keduanya belum berpengalaman berbisnis.

Dilain hari mesin penghancur plastiknya sering sekali rusak. Jadilah Badowy berniat menjual bisnis ini. Tak kunjung laku, pengusasha ini memutuskan mengutak- atik mesinnya sendiri. Hasilnya dia malah menjadi ahli.

Ajaib ini berhasil membuat berbagai mesin pengolah sampah. Bisnisnya maju pasat bahkan mampu membeli tanah senilai satu miliar.

Singkat cerita, ia mendirikan perusahaan CV. Majestic Group, sebuah perusahaan pengolahan sampah yang bermitra sekaligus menjual mesin daur ulang. Dia tiap bulannya terhitung harus mengirimkan dua mesin ke China, sedangkan untuk olahan plastik sekitar dua kontainer tiap bulan. 

2. John Peter

John Peter baru saja naik kelas 2 SMP, ketika terpaksa keluar dari rumah berbekal seadanya. Dia hidup di tengah kota Cirebon, saat itu berumur 18 tahun. Dia selalu membawa sebuah koper berisi pakaian kamanapun langkahnya berjalan.

Sebuah keluarga TiongHoa kemudian mengangkatnya, memberikan rumah dan makan hingga lepas sekolah menangah. Di keluarga tersebut, ia belajar berbisnis secara otodidak melalui pengalaman.

Selepas sekolah, ia berniat melanjutkan ke ITB, dan diterima di jurusan ilmu kimia. Untuk itulah, John muda bekerja memastikan pendidikannya tetap berjalan lancar. Ditengah perjalanan, ia juga aktif kegiatan pelayanan di geraja menemukan sesuatu. Dia sadar bahwa pemulung berpenghasilan menjanjikan.

Berbekal tekat, meski buta akan menejeman bisnis, dirinya memulai bisnis sampah menjualnya ke pengepul. Waktu berlalu, ia telah memiliki beberapa pemulung dibawah naungannya; meraka bekerja sama.

Paling menarik ketika John rela tinggal satu atap, bersama- sama mencari uang dari ditumpukan sampah. Hingga bisnis tersebut mulai tumbuh dimana sebuah mesin pengolah telah terbeli. Dia lalu membeli mesin karena tertarik melihat harga biji plastik lebih mahal.

Dimana harga biji plastik bisa senilai Rp. 8.500 per- kg sedangkan berbentuk mentah hanya Rp.400 saja. Dia juga tak lagi menjual sampahnya ke bandar lain. Dari 18 juta per- bulan, bisnis itu tumbuh senilai Rp.800 juta- Rp.1 miliar per- bulan.

3. Indra "Novint" Noviansyah

Lajang 24 tahun ini dikenal akan keuletannya berbisnis sampah. Pembuktianya yaitu mampu mendirikan bisnis mandiri, yaitu bisnis sampah plastik, sendiri. Putra asli Pontianak merantau hingga ke kota Jakarta. Di sana selain berkuliah dirinya juga bermitra membangun bisnis sampah plastik.

Berbekal semangat ia tertarik memboyong bisnis ini hingga ke Pontianak. Melalui jalan kapal laut, dibawalah mesin berat seharga ratusan juta itu dari Jakarta ke Pontianak.

Guna meningkatkan kesadaran akan nilai sampah plastik, dia bekerja sama membangun bank sampah, selain itu juga bisa dapat bahan baku lebih murah. Dia menaruh tong- tong sampah khusus tanpa perantara pengepul, juga aktif berkeliling memberi penyluhan.

Pengusaha muda ini membeli sampah mereka langsung. Novint tidak hanya bekerja sama dengan masyarakat umum, tetapi hingga level pelajar, meski berlomba dengan para pengumpul sampah berat dirasanya.

4.Achmad Iskandar

Ide awalnya ketika dirinya mengikuti pameran dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Nasional di Balikpapan, Kalimantan Timur. Tepatnya Juli 2008, ia tengah berkeliling menikmati produk- produk daur ulang sampah plastik.

Dia terpikir kenapa semua hasil produknya selalu berbentuk konvensional seperti taplak, tas plastik, hingga produk lain yang sudah sering dilihat. Iskandar yang pernah menggeluti bisnis tanaman hias terbersit dipikirannya untuk membuat sesuatu yang berbeda.

Idenya adalah menciptakan vas bunga dengan plastik hasil daur ulang. Dia mencoba berbagai cara. Yang terakhir, Iskandar menggunakan wajan guna memasak sampah- sampah plastik tersebut. Setelah matang, ia akan menuangkannya ke sebuah cetakan. Dari sinilah sebuah vas unik berbahan plastik tercipta.

Ia menjual produknya masih di kawasan Kalimantan Timur. Tiap vasnya diberi harga bekisar Rp.25.000 per- buah, dan sudah bermotif.

Dia menemukan Marmo, batu tiruan yang bisa digunakan di lantai atau dinding. Marmo kemudian dia jual seharga 140.000 per- meter persegi. Dia mengaku membeli bahan baku sekitar Rp.500 per- kilogram, sedangkan satu vas beratnya 1 kg.

Artinya, ia mampu mengantongi laba bersih Rp.24.500 per- kg plastik. Dia juga sudah mempatenkan teknik pembuatan vas plastik daur ulangnya.

5. FX Harso Susanto

Bisnisnya berbicara tentang kerajinan tangan. Dia tidak hanya mengolah sampah, tetapi merubahnya menjadi aneka furnitur dan aksesoris. Namanya FX Harso Susanto, seorang seniman asal Yogyakarta yang merubah cara pandang tentang bisnis daur ulang.

Cara pembuatan produknya mudah, ia cukup mengumpulkan koran bekas kemudian mencampurnya dengan lem kanji. Dia memulai dengan memilin- milin kertas itu kemudian mulai membentuk betuknya.

Furnitur itu dibuat 100% berbahan kertas koran. Kendati berbahan kertas, furnitur itu bisa menahan beban hingga 200 kilogram. Bicara harga produk tersebut dibandrol Rp.8.000- Rp.300.000. Pemasarannya melalui berbagai cara, terutama media online di berbagai situs jejaring sosial.

Untuk sekarang ia mengaku mampu membuat 50 jenis. "Pernah saat mengikuti pameran di Jakarta, bapak President SBY mencoba menduduki kursi buatannya," imbuh pria gondrong ini

Berbisnis Hijab Mandiri Jenahara Omzet Ratusan Juta

Profil Pengusaha Jenahara Nasution


busana muslim jenahara
 
Naninda Jenahara Nasution merupakan putri orang terkenal. Tetapi berbisnis hijab mandiri tanpa dia mendompleng nama ibunya, Ida Royani. Putri dari seorang artis pastilah memiliki jalan. Namun dia memulai dari nol, bahkan harus pontang- panting mengurusi desain dan jahitan.

Ia mengenang bermodal penjahit lepas. Jenahara berharap hijabnya menjadi kenyataan. Bukan cuma berakhir menjadi konsep apalagi gambar kertas. Pengusaha hijab ini kemudian memiliki 20 penjahit lepas, dengan 10 tim produksi dan pemasaran.

Dia kini mampu meraup omzet Rp.300 juta perbulan. Jehan memang putri artis era 80 -an tetapi  dia tidak tersorot kamera. Bahkan tiba- tiba namanya bersejajar dengan desainer hijab lainnya. Ia bahkan telah mengikuti beberapa kegiatan peragaan busana.

Meniti Karir dari Nol


Menjadi putri seorang artis dan desainer mungkin akan menurun. Jehan lebih tertarik kepada dunia fashio dibanding kerartisan. Itu sudah terbentuk semenjak masih kecil. Alhasil Jehan tidak mendapat sorotan publik. Dia memutuskan menjadi desainer dengan mengambil pendidikan disana.

Tidak mudah ia membangun nama brand "Jenahara" sendirian. "Aku memang bangun Jenahara dari nol banget, kalau orang tidak tua; dia bilangnya dibantu mama," tuturnya. Dia memakai uang sendiri tanpa sepengetahuan mamanya.

Tiba- tiba dia sudah saja memiliki brand fashion sukses. Bahkan ketika pertama kali meluncurkan ibunya tidak tahu. Bikin brand fashion diam- diam membuatnya nyaman. Ibunya baru tau dari teman- temannya. Jehan meluncurkan pada 2011 dengan konsep sangat lama semenjak 2006.

Namanya sudah ada tetapi dia tidak kunjung meluncurkan. Tahun 2006, perlu kamu ketahui, bisnis hijab belum booming karena orang belum banyak pakai. Dia menundanya hingga konsep dapat nanti diaplikasikan. Orang dulu melihat hijab milik orang tua sekarang sudah semakin bergaya.

Bahkan dia hampir pingsan karena hamil masih bekerja. Bayangkan Jehan harus keliling mengurusi bahan kain. Usia kandungannya masih tujuh bulan benar- benar kecapean. Dia tetap bertahan karena ini passionnya. "Jadi aku enggak pernah berat hati menjalaninya," ia mengenang.

Pengalaman mendebarkan tidak terlupakan ketika meniti karir. Dia hampir pingsan ketika hamil 7 bulan. Kini, brand Jenahara telah dipamerkan keluar negeri, mulai dari Hong Kong, Thailand, dan juga Milan. Ia terus berinovasi agar produknya selalu diminati masyarakat.

Berbisnis dengan Passion


Dia bukan sekedar mendesain pakaian tetapi mebutuhkan proses. Jehan sempat bersekolah desain di Sekolah Susan Budiharjo pada 2013. Ada anggapan menjadi desainer merupakan bakat. Seperti dia yang merupakan putri desainer pakaian sekaligus artis.

Dari kecil dirinya memang familiar dengan bisnis fashion. Mulai pagelaran busana sampai mampir ke toko bahan. Ditelisik lebih jauh ternyata sang nenek pemilik bakat ini. Katanya ketika jaman Belanda neneknya adalah penjahit. Meskipun dia berbakat tetap dibutuhkan kerja keras hingga sekarang.

|Membayangkan menjadi penggerak modest wear Indonesia. Namanya dikenal karena telah melewati masa belajar lama.

"Mungkin gift mungkin iya, ada sesuatu yang mengalir dari di saya.  Tetapi saya percaya kepada dedikasi dan konsistensi, orang harus bekerja keras, dan tawakal kepada Tuhan percaya bahwa semua ini dapat dikerjakan," Jehan percaya.

Pada periode 2006- 2011, konsep Jenahara Black Label telah dikembangkan, dia hanya butuh waktu yang tepat. Begitu waktunya Jehan juga menginisiasi Hijabers Community Indonesia. Jehan sempat vakum karena menikah dan punya anak. Ia tak takut  bila karirnya berhenti ketika memilih berhentti.

Tetapi siapa sangka selepas vakum bisnisnya malah moncer. Dia masuk Jakarta Fashion Week 2018, dan diajak masuk Australia Awards. Dia menjadi juru bicara bagi Indonesia. Semua karena tema dari pakaiannya bahwa perempuan kuat di medan perang.

Ia percaya akan perkembangan modest wear diseluruh dunia. Perubahan positif dia sendiri rasakan ke depannya. Potensi dalam negeri sendiri masih besar dikembangkan di Indonesia. Apapun dikerjakan bertujuan mengharumkan nama Indonesia.

Bicara ciri khas semua mengalir mengikuti kreativitas. Karyanya harus orisinil dan penuh kreativitas. Dulu modest wear dianggap kuno, sekarang menjadi gerakan, dimana mulai diikuti desainer dari manca negera. Desainer berlomba menemukan keotentikan dan identitas setiap karyanya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba