Pengusaha Sabut Kelapa Kaya Asal Kebumen Hasim

Profil Pengusaha Mahasim 



Memulai usaha sabut kelapa memang menggiurkan hasilnya. Seperti kisah Mahasim, pengusaha sabut kelapa asal Kebumen, Jawa Tengah, menghasilkan puluhan juta dari sabut kelapa. Alasan harga sabut kelapa yang murah ditambah ide seketika. Ia membayangkan menciptakan seni kriya dari sana. Inilah kisah pria bermodal Rp.100 ribu jaya, yang awalnya pembuat karpet aneka ukuran.

Harga satu butir kelapa Rp.180/butir saat itu, dan ketika musim hujan harganya cuma Rp.100/butir. Butiran kelapa lantas dimasukan Mahasim dalam mesin serat atau fiber sabut. Modal sepuluh butir bisa menghasilkan 1kg serat sabut. Nah, kalau sudah menjadi serat sabut, harganya naik menjadi Rp.2.600/kg. Cukup menjual serat saja sudah terlihat untung cukup besar.

Aneka produk


Apalagi kalau serat itu dijadikan aneka kerajinan kriya. Tentu pundi- pundi rupiah dihasilkan melonjak tajam. Mahasim membaca hal tersebut sejak 1997. Produk awal dihasilkan serabut adalah keset berbagai ukuran. Ia seiring waktu mulai membuat aneka produk, seperti tas, topi, sandal, pot, coconet, sampai bantal, guling, dan kasur serabut kelapa.

Agar lebih menjual, dikombinasi batok kelapa, kayu kelapa atau gelugnya, ia menghasilkan menghasilkan tas dan kursi. Kerangkan dibuat modal kayu kelapa sementara jok kursi dibuat dari sabut kelapa. Lalu, dia juga membuat aneka pot biasa atau gantung dari sabut kelapa. Ini namanya cocopot bisa menahan air menghemat proses penyiraman.

Selain itu, kalau menggunakan cocopot ada keunggulan lain, yaitu memindahkan bibit ke lahan tinggal kamu tanam tanpa lepas cocopot. Kalau dibandingkan polybag atau plastik, tentu cocopot lebih ramah lingkungan. Ia juga mengerkana cocopeat. Apa itu? Merupakan hasil olahan berupa serat fiber dan selanjutnya Mahasim olah menjadi pupuk organik. Untuk jumlahnya, Mahasim selama sehari menggiling 3.000 sampai 4.000 butir.

Jumlah sepuluh butir sabut menghasilkan 1 cocopeat. Kalau sudah diolah menjadi pupu organik, maka ia bisa menjual seharga Rp.450/kg di luar ongkos kiri.

"Pupuk organik itu dijual ke Kalimatan Timur, 10- 20 ton sebulan. Waktu mau lebaran mereka pesan 60 ton per bulan," tutur Mahasim.

Memang banyak tetapi Mahasim masih menyanggupi. Ia pernah diminta sampai 400 ton per- bulan loh. "...kami enggak sanggup," kenangnya. Warga Rantewringin, Kecamatan Buluspesantren, Kebumen, Jateng, ini termasuk memproduksi sabutret atau sabut berkaret.

Sabutret adalah sabut berkaret yang biasa digunakan menjadi isi bantal, kasur, guling, maupun jok kursi. Dia menyebut pengolahannya berbeda dengan kaset atau coconet, yang merupakan anyaman dari sabut fiber. Ini merupakan serabut fiber diolah lebih lanjut. Sabut digiling dan dianyam menjadi tali. Lantas tali- tali tersebut diolah melalui oven.

Tali lantas diurai agar tidak keriting, lalu ditata di cetakan. Nah, Coconet ini lantas dijadikan isi bantal, guling, kasur, atau jok. Kasur setebal 5cm dijualnya menjadi Rp.600.000. Kasur akan dijualnya jadi Rp.1,5 juta setebal 15cm. Dan, untuk bantal dan guling dijual seharga Rp.50.000 per- buah. Ia bercerita pernah melayani permintaan kasur berisi sabutret dari Amerika. Tidak tanggung, Amerika memintanya mengirim 1 kontainer.

Tetapi, sayangnya, Hasim memilih mundur karena usaha miliknya masih kecil. Padahal kalau dilihat waktu itu, bisa dibilang usaha Hasim sudah cukup besar dimata awam.

Omzet ratusan juta


Usaha Hasim mempekerjakan 15 orang karyawan tetap. Ia juga mempunyai beberapa mitra tersebar di lima kecamatan di Kebumen. Mereka biasa membuat barang setengah jadi ataupun jadi yang dijual ke AKAS (Aneka Kerajinan Anyaman Sabut). Padahal, ketika memulai ia cuma memiliki dua karyawan saja. Lantas Hasim membangun Kelompok Usaha Bersama (KUB) bernama AKAS ini.

Setiap bulan Hasim mengirim ke Timika, Balikpapan, dan Medan. Coconet tali kecil akan dijual Rp.8000/m, sementara coconet besar dijual Rp.13.000/m. Untuk masing- masing daerah dikirim satu trongton atau berisi 200 rol. "Satu rol panjangnya 50m," papar Hasim. Omzet coconet ini total Rp.240 juta (Rp.8000 x 200 rol x 3kontainer). Itu pun masih dihitung pemasukan satu produk.

Pemasukan aneka produk kecil seperti keset kecil 5000 lembar, keset besar 2000 lembar. Masing harganya Rp.5.000 dan Rp.35.000. Melayani pengiriman ke Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Pontianak, dan Medan. Ia juga menyebut pengiriman pot gantung ke Australia sebanyak 200- 300 buah, seharga Rp.30.000/pot. Untuk Jepang permintaan tali sabut sebanyak 2500 ikat. Ikat panjang 10m dan setiap meter dijual Rp.5000.

Mahasim mengaku mengandalkan bahan baku asal Kebumen saja. Dia mempunyai 4 pemasok tetap setiap minggu mengirim 1-2 truk. Setiap truk berisi berisi 4.000 butir sabut kelapa. Hasim juga aktif memanfaatkan jaringan pedaganga kelapa mengirimi ratusan butir sabut tiap hari.

Satu kendala terbesar dirinya adalah tenaga kerja. Karena sebagian besar warga desa merupakan petani. Jadi kalau pas waktu bertani tiba, mereka akan fokus mengurusi sawah. Mahasim jadi cuma mengandalkan sedikit pekerja. Kendala lain ya musim hujan karena pengeringan. Ia menyebut coconet butuh lapangan luas. Kalau hujan ya pekerjaan akan berhenti sejenak.

Dia akhirnya meminta kelonggaran waktu. "Yang tadinya 10 hari, saya minta kelonggaran jadi 20 hari," tutur Mahasim.

Relasi kuat membuat usahanya berjalan sampai sekarang. Hubungan dengan pemasok, pelanggan, kendala akan bisnis tidak berpengaruh besar. Karena apa, karena pohon kelapa banyak ditemui di negara kepulauan Indonesia. Ini bisa diterapkan siapapun oleh orang Indonesia. Banyak lembaga pemerintah mulai memberi pelatihan membuat aneka kerajinan sabut kelapa.

Pengusaha satu ini pernah mendapatkan aneka penghargaan. Dia juga menjadi pembicara diberbagai waktu kesempatan. Ia pernah meraih Juara III Green Productivity tahun 2010. Ia sering diminta intansi pemerintah seperti dari Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara.

Solusi Teknologi Pendidikan Ditangan Disleksia

Profil Pengusaha Kopf Bersaudara


 
Anak disleksia bukan beban tetapi berkah buat kamu. Beberapa pengusaha dunia tercatat memiliki disleksia. Ambil contoh pendiri Virgin, kemudian Apple, Ikea, Tommy Hilfiger, dan juga HP, adalah sosok anak- anak disleksi sukses. Mereka benar terseok- seok menghadapi hidup. Tetapi mereka bisa selama sosok orang tua selalu mendukung.

Mereka terlahir untuk berjuang, maka kamu wajib mendukung mereka. Mental mereka lebih kuat dibanding kita orang normal. Kisah lain yaitu kisah Brett Kopf,  mungkin namanya belum sebesar mereka, tetapi ia jadi salah pengusaha muda perubah dunia. Bahkan Forbes secara khusus membahas dirinya dan juga saudarnya, David Kopf.

"Ketika saya memulai sebuah perusahaan, saya berkata pada diri saya sendiri, jika saya tidak bisa membuat Ms. Whitefields sedunia lebih efisien dan membantu mereka sebagai guru, itu seharusnya akan menghasilkan ledakan besar dalam dunia pendidikan," papar Brett.

Pemuda 27 tahun yang sampai sekarang merasa "minder". Tetapi perasaan tersebut dirubahnya menjadi satu semangat perubahan. Dia pendiri Remind101. Brett adalah anak penderita disleksi ketika sekolah. Bahkan ia menderita ADD dan itu semakin sulit buat fokus. Bayangkan, dia sangat aktif tetapi ketika mengerjakan soal butuh waktu berjam- jam.

Dia duduk sendiri dalam kelas tertinggal. Ia harus mencari tombol fokus ketika mengerjakan. Mungkin satu mesin bisa menolong dia membaca sampai akhir buku. Coba bayangkan dia cuma membaca secara jelas di bagian awal kalimat. Ini termasuk kesulit dalam mengumpulkan tugas sekolah.

Hingga ia bertemu guru bernama Ms. Whitefields di sekolah. Berkat perhatian serta dukungannya membuat Brett menjadi percaya diri. Dia akan duduk berjam- jam bersama Brett selepas sekolah. Ms. Whitefields itu dengan sabarnya mengoreksi pekerjaan Brett. Memiliki hubungan dengan guru yang pengertian dan perhatian membuat nilai Brett naik drastis.

Tetapi semua berubah ketika masuk kuliah. Dan, Brett sudah memiliki visi sendiri tentang masa depan, yakni sebuah aplikasi komunikasi kelas. Ia mencoba menciptakan itu. Sedikit- demi sedikit lewat kerja yang ekstra keras bersama mengerjakan kuli silabus. Kesibukan, tekanan sekolah membuatnya makin jelas, dia butuh satu sosok perhatian seperti gurunya itu.
 
Ia lantas bercerita kepada David Kopf. Nah, si saudaranya inilah, yang lantas membuatkan sistem sederhana modal Excel- Base (basa pemrograman) berbentuk SMS notifikasi. Sistem itu mengirimkan pesan SMS kepada Brett ketika akan ujian atau tugas kuliah. Melalui program itu dua bersaudara ini mampu mengajak kurang lebih 2.000 anak kuliahan di tahun 2010.

Mereka berterima kasih atas layanan mereka. Tetapi selepas dua tahun, pertumbuhan berhenti dan mereka Kopf bersaudara meras itu tidak akan mencapai apapun. Mereka memutuskan menghentikan proyek. Tapi mereka masih percaya akan kebutuhan aplikasi komunikasi kelas. Jadi mereka mengikuti incubator untuk proyek startup edukasi Imagine K12.

Mereka menemukan beberapa kesimpulan: Bangun lah produk sederhana, bicara lah dengan pengguna, dan selesaikan masalah mereka.

Untuk menciptakan produk lebih baik serta layanan sempurna. David mulai lewat belajar coding, mengurung diri di kamar selama 16 jam setiap hari. Sementara itu Brett bertugas mengunjungi guru- guru dan mulai ikut mendengar apa kebutuhan mereka. Ia bahkan mencari ratusan orang lewat Facebook dan Twitter. Brett memang bukan guru jadilah kesempatan membangun komunikasi di kelas.

Aplikasi sempurna


Brett menemukan fakta bahwa guru masih menggunakan cara kuno. Contohnya, beberapa guru, menempel stiker pengingat di bahu anak "pekerjaan rumah besok". Dari situ muncul ide pengingat pekerjaan rumah bagi siswa. Awalnya, David tidak begitu masuk kepada konsep Brett ini. Hingga ia didengarkan langsung Brett melakukan panggilan Skype dan mulai berbicara dengan beberapa guru tentang konsep aplikasi baru milik mereka.

"Brett memegang kertas dengan tiga kotak, menjelaskan jika anda menekan ini, ini akan begini. Dan para guru mulai berteriak! Mereka mengatakan, 'Oh Tuhan, jika hanya anda bisa melakukan itu...," tutur David.

Jadi di awal 2013, Kopf bersaudara merilis aplikasi mobile mereka bernama Remind. Ini ditujukan buat para guru dimana mereka bisa berkomunikasi langsung -mengirim pesan kepada murid. Jangkauan juga mencapai tidak hanya mengingatkan pekerjaan rumah, tetapi ujian juga, dan bahkan konfrensi wali murid. Atau, guru juga bisa mengirim pesan teks atau suara 15 detik motivasi.

Guru juga bisa melakukan survei kecil- kecilan. Murid bisa memberikan respon guru seperti saran kemana kita harus jalan- jalan. Ini menciptakan tempat komunikasi langsung antara guru, murid, bahkan orang tua, jadi semua orang bisa ambil bagian saling membantu.

Jadi semua orang bisa saling membantu efektif. Semenjak diluncurkan aplikasi ini benar- benar meledak. Di September 2013 saja, Remind sudah punya enam juta pengguna aktif serta kurang lebih 65 juta komunikasi tercipta. Sekarang, Remind mengaku punya 18 juta pengguna di seluruh negara, yang mana 25% -nya guru di penjuru Amerika.

Bulan Agustus 2014, menurut Business Insider sudah bertambah 365.000 pengguna baru per- hari, langsung membuat aplikasi Remind menjadi top 3 paling banyak didownload di iOS AppStore. Ada 50.000 orang yang mendaftar per- harinya dan miliar pesan -tanpa marketing khusus apapun. Karena hal inilah, banyak VC tertarik mendanai aplikasi Remind, dimana total dana terkumpul mencapai $59 juta.

Secara garis besar, sepintas, memang Remind terlihat sederhana dan sudah banyak aplikasi menggarap sisi mereka. Semua orang bisa meniru sistem mereka. Tetapi bukan uang tujuan utama, selain itu Remind telah didukung data ilmiah dibaliknya. Ini kesuksesan industri teknologi bukan berbasis uang semata. Mereka telah punya banyak data feedback dari guru, orang tua dan murid.

Faktanya, Remind sudah mempekerjakan banyak teknisis asal Facebook sebelum sukses sosial media, yang tangguh jika berbicara tentang aneka data sosial media. Kopf bersaudara menekankan buak soal uang. Ini diyakinkan lewat jarangnya eksploitasi akan fitur premium. Mereka lebih fokus kepada dasar fiturnya yakni tentang koneksi semua murid, guru, dan orang tua untuk dunia pendidikan lebih baik.

"Kita hidup di hari di mana anda dapat mengklik tombol dan memanggil Uber, atau mendapatkan pizza disampaikan dalam dua menit. Tetapi jika anak anda gagal di sekolah, anda tidak mungkin menemukan selama tiga bulan," jelas Brett Kopf. "Dan kami ingin mengatasi masalah tersebut."

Profil Feny Mustafa Pemilik Toko Shafira Zoya

Pencetus Baju Muslimah Indonesia


 
Tertarik akan fashion hijab adalah mutlak. Bagi Feny Mustafa, sejak muda adalah satu kesenangan berjualan aneka pakaian muslimah. Sosok Feny menjelma menjadi desainer fashion muslimah. Kepekaan akan fakta bahwa wanita muslimah Indonesia masih dibatasi tumbuh. Langkah wanita 25 tahun (saat itu) jadi semakin mantap mengerjakan bisnis ini.

Visi -nya mulai jauh kedepan yakni mensyiarkan Islam dan mensuport wanita Indonesia berhijab. Ide awal itu ketika mengikuti kerohisan ITB. Dia prihatin akan wanita muslimah kesulita berhijab. Waktu itu tentu belum banyak pilihan bagaimana mengenakan hijab yang baik. "Pada saat itu, jilbab tidak se- booming sekarang," kenang Feny.

Feny memang pandai bergaul. Tak ayal mampu menggaet perhatian banyak teman. Ketika ia membutuhkan modal awal maka disanalah teman. Mereka rela meminjamkan uang meski sendiri masih diberi orang tua. Ia lantas menekankan bahwa bisnis Shafira bukan atas dasar materi. Ini merupakan bentuk syiar dirinya lewat media fashion muslimah.

Momentum Shafira dinilai tepat merespon keresahan masyarakat. Alhasil, bisnis Feny bisa melejit, akhirnya bisa membesar dan membuka lapangan kerja baru.

Karyawan mepet


Modal mepet begitu pula karyawan cuma 1- 2 karyawan. Feny mulai "meminjam" uang teman dan keluarga dari yang Rp.200 ribuan, sampai Rp.1 jutaan, hingga terkumpul Rp.12 juta. Uang tersebut Feny gunakan untuk membuka toko. Ia masih ingat betul bagaimana ibu maupun teman- teman patungan berbisnis. Hasilnya jadi berkah karena permintaan akan busana muslim terus meningkat.

Hingga, ia memutuskan menyewa jasa profesional dibidang fashion. Mereka membantu Feny mewujudkan konsep Shafira lebih matang.

"Dengan bekal Bismillah, saya masih bisa menikmati hingga saat ini," sambungnya.

Ketekunan 25 tahun membawa keberkahan. Buah kesabaran itu terbayar lewat 24 gerai miliknya. Perjalanan terus berlanjut hingga lahir brand Zoya yang punya 140 toko di seluruh Indonesia. Seperempat abad sudah dirinya fokus mengerjakan bisnis ini. Banyak hal tidak menyenangkan ketika menjalankan bisnis. Ia mengakui hal tersebut dan membutuhkan orang- orang terdekat.

Ia memberikan saran bagi pengusaha muda pakain muslim: Jangan berpikir manisnya saja ketika kamu akan memulai bisnis. Usahakan berpikir bagaimana terus menjalani usaha. Masalah terbesar dihadapi mungkin, ia menyebutkan tentang plagiator dan tren bisnis ikut- ikutan. Inilah mengapa brand miliknya selalu melakukan rangkain inovasi.

"Kita juga harus kreatif, jangan sampai loyo di tengah jalan. Karena, kalau kita sudah mentok nanti, koleksi kita akan ketinggalan zaman dan kurang diminati pasar," saran Feny Mustafa kepada pengusaha muda.

Bisnis busana muslim memang menjanjikan. Pasalnya hanya satu model bisnis saja, pengusaha bisa produksi banyak varian produk, seperti hijab, busana, atasan- bawahan, dan aksesori pendukung lain. Saran lain adalah kepekaan akan tren dan minta pasar.

Moto bisnis Feny tersirat adalah kepercayaan. Antara dirinya sebagai pengusaha serta pegawai dibawah satu manajemen. Karyawan dipastikan tau berapa untuk perusahaan dan berapa bagian mereka. Semua jelas ia jabarkan hingga karyawan tidak masalah. Pengelolaan Shafira dan Zoya kini telah dipegang oleh tangan- tangan muda para eksekutif muda.

Meski begitu, Fany tidak lepas tangan, bahkan memberikan pelajaran akan pengalaman. Ia juga masih aktif berkeliling Eropa, khususnya Paris, Amerika Serikat, tujuannya melihat tren busana dunia. Dia masih melihat menjadikan mereka barometer perkembangan bisnis Shafira dan Zoya. Ibu dua anak ini juga membidik pasar dunia maya lewat toko online www.zoya.co.id.

Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Tepat menggambarkan perjalanan wanita ini tentang keluarganya kini. Ia menjelaskan anak keduanya mulai memperlihatkan bakat bisnis. Si anak bungsu tertarik mengerjakan bisnis seperti bundanya. Padahal Feny tidak secara khusus meminta  mengikuti jejaknya. Ia lantas bercerita suatu ketika ia pernah bertanya, "mau jadi apa?"

"Mereka bilang, saya mau jadi pengusaha dan punya bisnis seperti ibunya. Padahal, saya enggak nyuruh mereka atau kasih arahan jadi pebisnis, mereka sendiri yang ingin," tuturnya. Semangat anak membawa dia semakin bersemangat berbisnis.

Dia berpikir tentang masa depan bisnis untuk anak- anaknya kelak. Tetapi Feny tidak mau memaksa mereka belajar tentang bisnis khusus. Kalau mereka mau, yah, ia siap mengajarkan pengalaman serta ilmunya. "Nanti kalau dia sudah matang dan dewasa, baru saya beri masukan dan arahan, kalau sekarang masih pada kecil," tutup Feny.

Aplikasi Pembantu Rumah Anda Alfred

Profil Pengusaha Marcela Sapone dan Jessica Beck 


 
Mereka berdua baru saja lulus kuliah Harvard University. Arti kelulusan berarti membawa mereka ke dunia finansial sebenarnya. Tetapi Marcela Sapone dan Jessica Beck memilih melanjutkan pekerjaan mereka. Yah mereka sudah memulai itu semenjak bangku kuliah. Bukan tentang keungan tetapi tentang teknologi. Mereka merupakan pendiri startup Hello Alfred.

"Saya bekerja berjam- jam lamanya dan datang kembali ke apartemen yang itu sangat berantakan," Sapone bercerita kepada Business Insider.

Beck dan Sapone sadar tentang berantakannya bekerja keras. Dan, apakah mereka mempunya solusi untuk itu semua. "Jess seorang super, orang yang super berantakan, dan tidak akan pernah mengundang saya ke apartemennya," jelas Sapone. Hingga akhirnya dia bisa berkunjung ke rumah kawan karibnya tersebut.

Dalam delapan bulan sejak berkunjung, ia menemukan tumpukan cucian kotor dan itu seluas meja di dapur apartemen. Dia merasa ini sangat gila. Ini akan sulit hidup dengan cara begini tanpa bantuan orang. Akhirnya mereka menyewa jasa melalui iklan Craigslist. Orang itu akan datang ke rumah mengerjakan cucian dan juga membeli belanjaan mingguan.

Wanita yang disewa mereka, Jenny, datang ke apartemen melakukan permintaan mereka. Inilah awal kisah sukses startup Alfred.

Ini sebuah insiden yang membawa berkah. Mereka menciptakan layanan untuk mereka sendiri. Lantas mulai banyak orang menanyakan hal tersebut. "Hey, apa saya bisa mendapatkannya?" tutur Sapone.

Bisnis online


Alfred resmi diluncurkan di Boston Mei 2013. Di September 2014, mereka meninggalkan kuliah Harvard dan Boston untuk mengikuti ajang TechCrunch Disrupt's Startup. Awal usaha kecil yang dimulai dari langkah menciptakan banyak brosur menawarkan berbagai harga berbeda, dan layanan berbeda. Mereka menaruh mereka dibawah pintu mereka tetangga mereka di Boston.

"Kami sebenarnya berpikir bahwa ini adalah bisnis kecil- kecilan," ucapnya. Mereka mendapatkan pelanggan pertama mereka 10 orang. Melalui langkah tersebut Alfred sekarang bukan lah sekedar layanan normal. Mereka memiliki aplikasi sendiri seperti Uber atau Airbnb.

Mereka pun mulai mempekerjakan banyak orang. Mereka adalah Alfred Client Manager atau cukup Alfreds -menjalankan perintah untuk membeli belanjaan, memilah surat, mengantarkan paket, atau mungkin mencuci pakaian. Alfred memilik perbedaan dibanding layanan lain: rute! Melalui sistem tersebut maka setiap hal itu direncanakan.

Seperti halnya tukang susu yang mengantarkan layanan. Mereka selalu menjalankan rute khusus masing- masing tidak berubah. Seperti halnya mereka mengetuk pintu, mengambil botol kosong, kemudian tinggal taruh susunya. Sapone dan Beck masih kuliah bisnis ketika Alfred jalan; itu tidak mudah. Mereka sempat berpikir berhenti di bisnis ini loh.

Dan, ketika mereka menyatakan hal tersebut ke pelanggan, mereka ketakutan dan "memaksa" keduanya agar bekerja kembali ke layanan mereka. "Seluruh dunia akan menggapai mu ketika kamu menang," inilah dasar berbisnis sebenarnya. Ketika kamu memenangka hati pelanggan dengan layanan terbaik.

Orang membayar $99 per- bulan untuk layanan, dan tambahan untuk uang belanja. Tetapi ketika mendengar mereka akan bubar dan fokus di sekolah; mereka rela membayar $25- 90 per- minggu. Bahkan orang mau membayar $400 untuk layanan awal di Boston. Di November 2014, mereka mendapat uang $2 juta dari perusahaan CrunchFund, SV Angel, Spark Capital, selepas Alfred di New York.

Mereka sebenarnya akan meluncurkan di San Fransisco. Hingga mereka menemukan Kota New York lebih banyak pelanggan. "New York memiliki kepadatan penduduk tinggi dan ketersediaan tinggi dan aksesibilitas dari jenis vendor yang kita ingin gunakan," kata Sapone menambahkan.

Semenjak tuntutan akan "pegawai teta" digulirkan layanan seperti Uber, Lyft, dan Postamate mengalami satu perubahan -bisa dibilang tidak menguntungkan. Modal bisnis tidak terikat akan pegawainya ini memang mulai dipertanyakan oleh lembaga hukum. Tetapi beda dengan Alfred yang menyambut positif hal tersebut. Karena mereka menerapkan konsep berbasis pelanggan dan menyediakan layanan sebenarnya.

Alfred percaya akan pelanggan -gantinya adalah pelatihan, identitas jelas, instruksi, kepada setiap pegawai di Alfred. Total ada 86 Alfred yang mana mereka adalah anak rumahan. Menurut Sapone 70% tinggal bersama ibu dan mereka bukan orang biasa. Beberapa dari mereka adalah artis, penulis, aktor, atau mereka yang juga bekerja di kantor.

Sukses Alfred mampu membawa mereka bahkan diatas pesaing. Mereka bahkan akhirnya mengakuisisi si pesaing di New York, WunWun. Mereka memiliki konsep layanan berdasarkan permintaan pertama. Itu juga termasuk data base pelanggan mereka. WunWun juga memiliki teknologi menarik, pada dasarnya sistem yang hampir sama dengan Alfred.

"Sementara mereka menjalankan permintaan, mereka mengelompokan permintaan dulu dan mengoptimalkan rute, yang mana juga dilakukan kami. Kami hanya tidak melakukan hal- hal pada permintaan saja -kita membuat standar rute," papar Sapone. WunWun sendiri mampu mengatasi permintaan komplek dan panjang dari pelanggan.

Hari ini, Alfred memiliki 19 pegawai pusat dan terus tumbuh, dan mereka juga punya visi membuka di San Fransisco, Los Angles, dan berikutnya Washington DC. Sementara Alfred akan fokus di New York dan mulai menggaet pelanggan lebih. Untuk pendapatan it mencapai, di tahun 2014, kasarannya $350 per- member atau $4.500 per- tahun, dan terus tumbuh.

Fakta Pepatah Belajar Sampai ke Negeri China

Profil Pengusaha James Tan


 
Salah satu paling mudah memulai bisnis adalah mengamati budaya lokal. Itulah kiranya yang telah dilakukan oleh seorang James Tan. Pengusaha asal Singapura ini melawati harinya sebagai mahasiswa di Negeri Tirai Bambu. Hingga, ia sukses mendirikan perusahaan sendiri, pendiri dari 55tuan.com ini mencoba menceritakan sedikit kisahnya.

Ia menjelaskan dalam dua atau tiga tahun mulailah menyesuaikan diri. Temukan mereka teman- teman baru di tempat yang kamu tuju. Kemudian kamu akan menemukan orang- orang yang bisa dipercaya. Mereka lah yang mungkin menjadi mitra bisnis kamu kelak. Inilah seklumit penjelasan kenapa Tan getol belajar sampai ke negeri China.

Tan mengaku ingin menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi China. Meski dirinya sudah bekerja mapan di Industri Teknologi Singapura selama sembilan tahun; tidak membuat puas. Dia malah pergi ke China buat berkuliah lagi di China lewat beasiswa IE Singapore. Untuk satu ini beasiswa diberikan bagi mereka yang sudah berpengalaman kerja.

Kemudian, ia pun mengikuti program Master Administrasi selama dua tahun sejak 2008.

Kloningan Groupon


Perkuliahan S-2 berjalan ketika Tan bertemu pendiri lain situs 55tuan.com. Waktu itu Groupon masi segar didirikan di tahun 2008. Mereka memulai situs 55tuan.com ketika tahun 2010 tiba. Tidak terlambat karena ia menyasar pasar China yang tengah tumbuh. Dia sama sekali tidak memperhatikan kritisnya situs daily deal. Ia melihat tidak ada Groupon di China (belum ada.red).

Pertumbuhan perusahaan sejalan perkembangan ekonomi China. Dimana mereka mampu menghasilkan uang delapan digit dollar. Situs tersebut tidak terbatas di makanan, tetapi juga produk kecantikan, traveling, dan pakaian. Tumbuh perusahaan ini bisa mempekerjakan 3.9000 orang pekerja dan meluas sampai ke 150 kota di China.

Masalahnya ketika mereka berkembang 5.000 situs sama muncul. Tetapi Tan masih optimis usaha miliknya tetap bertahan. Ia bertahan karena kecintaanya akan dot com. Itu terlahir ketika dirinya memulai kuliah di Universitas Nasional Singapura. Ketika terjadi ledakan dot com langkah pertamanya adalah bekerja paruh waktu di Asia Images sebuah stok foto Asia.

Kala itu, tahun 1999, menjadi jalan Tan memahami seluk beluk internet keseluruhan. Pekerjaan barunya itu sangat menyita waktunya hingga tidak lulus. Dia lantas melompat bekerja di Singapore Computer Systems dan Nets, sebelum ia memutuskan pindah ke China. Dalam program MBA -nya Tan mendapat kesempatan berkunjung ke Silicon Valley.

"Saya bertemu dengan rekan- rekan saya yang sedang belajar ilmu komputer dan merupakan karyawan Google, Apple, dan Facebook," kenang Tan.

Dirinya semakin bersemangat menjalani hidupnya. Di China sendiri belum banyak BUMN yang bergerak dibidang internet. Kue yang dibagi masih milik pencari kesempatan seperti dia. Kebanyakn bisnis internet di China sendiri "meniru" di Amerika. Tetapi tidak semua ide bisa dikembangkan di China seperti halnya kisah Twitter (made in China). Ia berkisah butuh pemahaman dan relefansi akan kebutuhan pasar.

Dia cuma butuh dua minggu agar lisensi web hosting 55tuan.com disetujui. Sisanya adalah kebranian dirinya untuk bisa bernegosiasi dengan hukum, tentu itu dalam tataran legal ya. Ia cuma punya rencana bisnis terus menjalankannya sebaik mungkin.

Menjalankan 55tuan.com bukan perakara mudah. Situs ini sekarang salah satu situs jual- beli terbesar di China. Banyak kloning Groupon bermunculan tetapi tidak mampu bertahan. Mereka tidak bisa bertahan dari pesatnya pertumbuhan Internet di China. Tan pun sudah mengambil ancang- ancang mendirikan perusahaan baru berupa VC atau Venture Capital.

Dia bersama kawan lantas mendirikan QuestVC, sebuah perusahaan pendanaan asal China. 55tuan miliknya menarik banyak pendiri startup. Mereka pemilik eCommerce tentu tidak akan melewatkan satu sesi mentoring. Tan lantas menjelaskan fokus QuestVC adalah investasi angel. Bukti kerja kerasnya ada 6 perusahaan yang berumur 1,5 tahun dan dua perusahaan teknologi asal Singapura, Carousell dan Burpple.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba