Boneka Horta Bisnis Pengusaha Gigin Mardiansyah

Profil Pengusaha Gigin Mardiansyah


 
bonekahorta.png
 
Kisah pembuat boneka horta menjadi bisnis menjanjikan. Pengusaha bernama Gigin Mardiansyah berpikir diluar kotak. Banyak pandangan sinis melihat produk bikinan Gigin. Si Horta, nama boneka karyanya tak terlihat memberikan nilai jual, tetapi lambat laun orang mulai mengerti nilai produknya. 
 
Ya, mereka mengerti bahwa Si Horta buatan Gigin bukan hanya masalah mainan tetapi edukasi. Itu termasuk pendidikan dan tidak hanya tentang bersenang- senang. Si Horta atau boneka Horta merupakan singkatan dari boneka hortikultura.

Media Belajar

 
Pekerjaan apapun tidak bisa mematahkan kreatifitas pria yang satu ini. Ia kini menjadi juragan bisnisnya sendiri ketika usianya masih 26 tahun. Melalui Cv. D'Create, pengusaha muda ini berhasil meraup omzet Rp. 50- Rp 100 juta per- bulan. 
 
Ini bukan tentang bisnis sepenuhnya ketika kami mencari tau mengenai Si Horta. Gigin memilih Si Horta sebagai usaha kerakyatan, bukan tentang uang Rp50 juta semata.

Ia ingin bisnisnya memberikan dampak sosial; baik pendidikan dan ekonomi. Dimulai dari konsep Si Horta, merupakan mainan edukasi bagi anak- anak. Boneka yang mengajarkan konsep dunia pertanian sekaligus ketekunannya. 
 
Gigin membuat Si Horta melalui media limbah penggergajian kayu, merubahnya menjadi boneka aneka bentuk. Bahan kayu tersebut dibuat sedemekian rupa menggunakan stoking, merubahnya menjadi boneka.

Dari serbuk- serbuk kayu, ada biji biji rumput yang kemudian tumbuh setelah beberapa lama. Jika anak- anak rajin merawat menyirami makan akan tumbuh rumput- rumput hijau lebat. 
 
"Jika sudah panjang, anak-anak dapat memotong rumput yang tumbuh dengan bermacam gaya layaknya menata rambut di kepala," ujar Gigin

Karyawan Cv.D'Create sebagian besar merupakan masyarakat sekitar di kampung Telahoni, Desa Ciomas Rahayu, Kecamatan Ciomas, Bogor, Jawa Barat. Ia membantu mereka mendapatkan pekerjaan atau sekedar usaha sampingan. 
 
Sejak 2007, Gigin sibuk mengajarkan pemuda dan ibu- ibu sekitar yang tidak punya pekerjaan. Mereka bergotong royong membuat boneka Si Horta secara bekelompok. Sebenarnya, kabanyakan mereka telah memiliki perkejaan di siang hingga sore. 
 
Masyarakat disitu hanya akan mengerjakan pekerjaan Si Horta dikala selesai bekerja. Mereka mengerjakan pembuatan dari sore hingga malamnya. Selain pelatihan, Gigin mulai fokus di bahan menyediakan semuanya secara detail. Soal bentuk diserahkan kepada mereka ujarnya. 
 
Produknya bisa berbentuk kura- kura, panda, babi atau bentuk lain. Setelah jadi Gigin menampung semua hasilnya kemudian membeli Rp.1000- Rp.1500 per- boneka. 
 
"Harga tergantung kerumitan boneka," jelasnya. Berkat memberdayakan pengangguran di kampung Telahoni, Gigin saat ini bisa memproduksi sebanyak 5.000 hingga 10.000 boneka Horta setiap bulan.

Ia kemudian menjual produksinya melalui berbagai cara, termasuk melalui online. Harga boneka dibandrol olehnya sekitar Rp.10.000 sampai Rp.25.000 per boneka. Itu juga tergantung ukuran, model, dan tingkat kerumitan pengerjaan. 
 
Gigin mengklaim tingkat penggangguran di desa Telahoni menurun drastis. Mereka bekerja sebagai sampingan, sedangkan yang belum bekerja mendapatkan pekerjaan tetap. Boneka Horta memberika efek bagi masyarakat untuk mencintai alam, begitu pula anak- anak sebagai target pasar. 
 
Gigin berharap memberikan edukasi sekaligus menghibur anak- anak itu. Bukan perkara mudah, diawal, dia dan temannya harus bekerja keras memamerkan produknya di acara kampus. Mereka nanti disana hanya melihat serta terheran- heran tanpa membeli. 
 
Sejalan waktu, teman- teman Gigin memilih bekerja kantoran menjadi pegawai. Sedangkan ia terus berusaha mendirikan perusahaannya sendiri. Ia bertekat kuat mempopulerkan usahanya ini, boneka Si Horta. 
 
Beberapa tahun belakangan bisnisnya maju pesat bahkan mendapat orderan dari luar negeri; seperti Brunai Darusallam serta Malaysia. 
 
"Tapi karena SDM nya masih terbatas, permintaan itu belum bisa dipenuhi. Sebab, kami hanya memanfaatkan jasa ibu-ibu rumah tangga dan remaja putus sekolah di kawasan Ciomas Bogor," jelasnya. 

Bisnis Viral Pramugari Qorry Natawijaya Pengusaha

Profil Pengusaha Qorry Natawijaya

 

bisnisviral.png
 

Bisnis viral pramugari Qorry Natawijaya menjelaskan. Bermula efek pandemi Covid 19 membuat dua sahabat kehilangan pekerjaan. Qorry merupakan mantan pramugari. Kemudian dia viral berkat video dari Tik Tok yang diunggah akun @hendry.jonathan.


Video singkat pengusaha cantik tengah meracik lontong sayur. Gerainya nampak modern bukan layaknya usaha lontong sayur biasa. Usaha tersebut barulah dirintis 14 Februari 2021. Qorry sebenarnya sudah senang berbisnis walau menjadi pramugari.

 

Jadi Pengusaha

 

Bisnis pertama Qorry adalah Nasi Balap Puyung RM. Mataram. Ini merupakan kuliner khas Lombok, tempatnya berada di belakang Jl. Marsekal Surya Darma, Belakang Bandara Soekarno Hatta, dan sudah punya empat cabang loh.

 

Dia memang tertarik bisnis kuliner. "Jadi sebelumnya emang udah bikin bisnis kuliner duluan nih pas masih terbang. Awalnya itu saya suka kuliner khas Lombok. Terus kayak tertarik aja bikin bisnis kuliner. Itupun udah buka empat cabang," jelas Qorry.


Karena kontrak kerja menjadi pramugari tak diperpanjang dia berbisnis. Qorry memutuskan membuat sesuatu yang baru. Ini karena perusahaan maskapai tengah mengurangi jumlah pegawai. Ia memilih menambah bisnis baru alih- alih melanjutkan.


Perusahaan memang mengurangi pegawai semenjak November. Tidak diperpanjang. Katanya sih akan diperpanjang selepas pandemi tetapi tidak tau kapan. Qorry nampak tersenyum menikmati pekerjaan barunya. Dia bekerja sama dengan salah satu temannya pramugari, Meitry Nurfrazina.


Bisnis tersebut dinamakan Lontong Sayurku. Letaknya di Jalan Raya Kutabumi, Pertokoan Berkah, dan tepatnya di Cityplaza, Tangerang. Diceritakan bahwa lontong sayurnya merupakan resep turun- temurun Meitry.


"Resepnya sendiri itu sebenernya dari neneknya Mietry, cuma kita modifikasi lagi. Bikin yang seunik mungkin yang belum ada. Mangkanya kita bikin dua varian kuah," jelas pengusaha ini.


Harga perporsinya Rp.13 ribu sampai Rp.30 ribu sesuai variasi lauk. Lauknya ada yang ikan asin, telur balado, ceker, tahu, ayam dan masih banyak. Buat menarik perhatian penampilan gerobaknya sangat modern, berwarna cerah dan berbentuk nyentrik menggaet pembeli.


Qorry mengatakan mereka buka dua kali, pertama buka pukul 06.00- 11.00, dan kedua mereka buka pukul 16.00- 21.00. Bisnis viral pramugari ini menggaet banyak pelanggan sampai antri!

Kertas Berbahan Batang Pisang Pengusaha M. Shafiq

Profil Pengusaha M. Shafiq

 
kertaspisang.png
 
Terbersit pikiran membuat kertas berbahan batang pisang. Dia ingin membuat Al Quran sendiri. Inilah kreatifitas M. Shafiq kini sibuk menggeluti bisnis alternatif kertas tersebut. Kertas bukan sembarang kertas, tapi kertas- kertas yang dibuat dari batang pisang. 
 
Tidak hanya memberdayakan masyarakat tapi juga menjaga lingkungan. Pasalnya di daerah asalnya bagian batang pohon pisang ini jadi sampah. Bentuk tidak menarik, berair, dan tidak punya nilai ekonomi. Berbanding terbalik jika berbicara daun atau buahnya.

Batang pohon pisang ditempatnya, biasanya, akan langsung dibuang setelah habis buahnya. Dibanding dengan daun dan buahnya yang bisa dijual, memang batang pisang cenderung diabaikan. 
 

Pengusaha Pisang

 
Pria asli Boyolali, Jawa Timur, itu lantas menjelaskan dulu ia pernah bekerja di Yayasan Istiqlal. Sebuah tuga membuat Al- Quran raksasa, bersama temannya, mereka menemukan fungsi lain batang pisang. Dari batangnya itu bisa diolah menjadi kertas warna- warni.

Tidak cuma digunakan membuat Al- Quran. Kamu juga bisa membuat kertas kardo dari batangnya. Selepas keluar dari Yayasan Istiqlal Shaiq meneruskan penemuannya itu. Pengusaha alumnus IAIN Wali Songo, Semarang, bersama beberapa temannya mendirikan usaha kertas daur ulang. 
 
Perusahaan unik fokus pada membuat aneka kertas dari batang pisang. Perusahaan berbendera Banana Paper ini membuat aneka kertas termasuk kertas kado yang elegan atau kartu undangan nan cantik.

"Awalnya pengin bikin Alquran yang ditulis sendiri, kemudian dari situ bikin usaha kertas daur ulang dari kertas koran bersama teman, tapi saya akhirnya resign dan mengkhususkan pada bahan baku pisang," ungkap Syafiq, saat ditemui di Pameran Inacraft 2013 Jakarta, ketika tengah memamerkan produk- produknya.

Banyak alasan mendorong dirinya mengerjakan bisnis ini. Selain fakta bahwa ini penemuan baru, tapi fakta bahwa di daerahnya, ia menemukan banyak batang pohon pisang terbengkalai. Alasan lain kenyataan bahwa masyarakat di sekitar rumahnya berpendidikan rendah. 
 
"Kampung saya banyak pohon pisang," selorohnya.

Kalaupun dipergunakan, orang menggunakan batang pisang secukupnya untuk bungkus rokok tembakau. Lalu Shafiq pun membeli sisanya untuk diolah kembali. Apa kelebihan kertas dari batang- batang pisang dibanding kertas biasa. 
 
Pohon pisang mengandung zat anti- air yang kuat sehingga tidak akan membutuhkan banyak bahan pengawet. Dia sendiri mendapatkan pengetahuan itu dari seorang teman.

Kertas Berbahan Pisang


Syafiq mengaku tidak pernah belajar khusus. Dia cuma belajar inti pembuatan kertasnya bukan prosesnya. Dijelaskannya ia telah mengantongi ilmu bagaimana kertas itu disaring. Tapi untuk saringan apa, bagaimana ia memprosesnya, bubur kertanya diapakan, semua itu dari otodidak. 
 
Dia mengaku semua belajar dari trial- error saja. Untuk membuat kertas ia akan mendatangi petani sendiri. Dibelinya seharga Rp.1.750 per- kg itu langsung ke para petaninya.

Dalam sebulan diakuinya membutuhkan 600kg batang pisang. Pewarnanya ada dua macam: pewarna alami dan sintetis. Guna menarik perhatian masyarakat kertanya biasa dihiasi. Syafiq menghiasi dengan daun- daun aneka bentuk. 
 
Bisa pula membuat hiasan sendiri berbentuk binatang, bunga, ataupun motif daun. Hiasan itu bisa pula diambil dari alam. Kertas Banana Paper terlihat unik karena coraknya aneka ragam.

Adapula yang dihiasai daun pohon kelengkeng, daun cemara, bougenvile, kupu- kupu, dan belang.

Dibutuhkan waktu bagi dirinya untuk sampai pada masa sekarang. Butuh lah waktu bagi pria kelahiran 7 November 1967 ini untuk memulai usaha. Dimulai dengan menitipkan produk lewat toko, mengikuti berbagai bazar, ataupun melalui jaringan pertemanan. 
 
Setelah jatuh bangun sebagai pengusaha pemula. Akhirnya usaha Bananan Paper di JL. Sadang Serang No.8 Bandung ini meraih pasarnya. Dibutuhkan waktu 3 tahun jelasnya. Omzetnya bahkan melonjak sampai Rp.300 juta per- bulan. Termasuk jika memasuki bulan Ramadhan. 
 
Produknya sampai ke Bali, Jakarta, ataupun Bandung tetapi juga Malaysia. Guna memenuhi kebutuhan dibutuhkan 10 orang dipekerjakannya. Dalam sebulannya ia bisa menghasilkan angka Rp.6.000- 55.000 per- lembar. Produknya juga termasuk bok- bok hias ataupun cover buku lucu.

Bisnis Keripik Paru Sapi Untung Ratusan Juta

Profil Pengusaha Purboningsih Sri Yuniati

 

bisniskeripikparu.png
 

Mau jadi pengusaha untung ratusan juta. Coba tiru bisnis keripik paru sapi buatan Bu Pur. Berasal dari wilayah Salatiga sentra pembuatan karipik khas ini. Pembeli dari luar tidak cuma sekitar, tetapi keripik paru sapi menjalar sampai Jakarta.

 

Paru sapi memang idaman diolah berbagai macam. Salah satunya dibikin keripik dan khas Salatiga. Selain enting- enting gepuk nama makanan paru sapi diminati. Ini menjadi incaran wisatawan ketika berkunjung ke wilayah lereng gunung Merbabu.

 

Nama pengusaha tersebut Purboningsih atau Bu Pur. Bercerita bahwa Keripik Paru Sapi Cap Bu Pur dari wilayah Yogyakarta, Tangerang, Bandung, dan Jakarta. Di Salatiga asalnya sudah tersedia di grosir oleh- oleh langganannya.

 

Bisnis Keripik Paru Sapi

 

Masing- masing pelanggan perhari memesan dua sampai tiga kali sebulan. Buat memenuhi pesanan dia memproduksi rata- rata dua kuintal paru, atau setara 200 bungkus keripik. Usaha sejenis juga dilakoni wanita bernama Sri Yuniati.


Sri menamai usahanya Cap Lombok. Sri merupakan pengusaha wanita asal Mrican, Salatiga. Dia telah memproduksi sejak 20 tahun silam. Produksinya menyasar wilayah Semarang, Bogor, Tangerang, dan Jakarta. Ia cuma memproduksi 24% buat pasar Salatiga, sisanya nanti dijual keluar kota.


Harga keripik kedua pengusahanya dikisaran Rp.80 ribu perkg. Ukuran kecil dijual Rp.25 ribu perkg, dan ada kemasan kaleng berbobot 1,35 kg, dijual seharga Rp.145 ribuan. Untuk memproduksi kedua merek ini mendapatkan pasokan rumah pemotongan sapi Salatiga.


Mereka kompak mencari bahan baku dalam kota. Dan mereka menghindari pembelian dari daerah lain seperti Boyolali. Semua disebabkan kekhawatiran pengusaha akan kualitas sapi. Kan jauh takutnya berasal dari sumber sapi gelonggongan.


Sapi gelonggongan merupakan sapi diminumi air banyak biar berat. Baik Pur maupun Sri membeli paru sapi segar seharga Rp.40 ribuan. Rata- rata Sri membutuhkan paru bermutu baik, dapat dilihat dari warna dan kekeringan paru.


"Paru yang bagus berwarna jambon (merah muda) cerah, dan tidak mengandung air," terang Bu Sri.


Bahan 50 kg begitu hanya terpakai separuhnya. Bukan karena tidak dipakai melainkan susut. Sebelum dimask, paru harus direbus dahulu sampai terjadi penyusut, baru dibumbui dan digoreng. Keripik paru setelah direbus diiris tipis dahulu. 


"Ketebalan paru harus diperhatikan agar renyah," lanjutnya. Sri pun sudah hafal ukuran tipisnya keripi ketika mengiris. Tidak perlu memakai alat mengukur tertentu. Sri mengatakan ukurannya tipis. Bila tidak hati- hati saat mengiris, maka bisa- bisa tangan dan jari menjadi korban.


Taukah bahwa permasalahan utama bisnis keripik paru sapi dimana. Terletak di bahan bakar memasak baik gas maupun minyak butuh banyak. Mahal sampai akan mempengaruhi harga produk. Maka dua pengusaha baik Bu Pur maupun Bu Sri memakai bahan bakar kayu.


Penggunaan kayu bakar ternyata memberikan efek ganda. Bahwa keripiknya akan berbau harum bila memakai bahan kayu, selain lebih murah. "Wanginya bisa beda dan lebih khas," lanjut Sri. Dia bisa mengantongi untung ratusan juta, dan Bu Pur Rp.30 juta, dan berlipat ganda bila Ramadhan tiba.

Pengusaha Cantik Batik Trusmi Sally Giovanny

Biografi Pengusaha Sally Giovanny


pengusahacantik.png
  
Perkenalkan pengusaha cantik pemiki Batik Trusmi, Sally Giovanny. Hidup memang memilik pilihan. Bagi pengusaha muda pilihan adalah resiko terbesar. Wanita cantik bernama Sally Giovanny berikut menjadi contoh nyata. 
 
Bayangkan sejak umur 18 tahun, Sally sudah dihadapkan pilihan mau usaha sendiri atau berhenti sekolah. Lulus SMA karena biaya Sally sempat galau mau melakukan apa nantinya.

Sally terlahir dari keluarga broken home. Kedua orang tuanya cerai ketika umurnya 6 tahun. Dia tinggal sama ibunya, yang setiap pagi buta pergi ke pasar. Ibu Sally membeli aneka sembako buat dijual kembali. Hidup dia memang penuh keprihatinan.
 

Rahasia Bisnis


Apakah dia mau kuliah atau membuka usaha. Ternyata tidak memilih kuliah sambi bekerja. Sally memilih fokus berusaha buat membantu keluarga. Alasan membiayai adik di bangku sekolah dasar memang kuat. Disisi lain gadis 18 tahun itu sudah memiliki cita- cita menjadi pengusaha mandiri.

Keputusan terbesar ialah ketika dia memilih menikah muda. Tentu kalau satu ini, keluarga sempat protes ya, namun keinginan tersebut dipastikan bukan keinginan sesaat. Dia menikah dengan Ibnu Riyanto, pemuda yang seumuran dia, dan justru karena menikahlah usahanya sukses sampai sekarang.

Ibnu bukan orang kaya. Bukan pula keturunan orang kaya berwarisan banyak. Banyak orang mencibir tapi mereka tetap menikah. Dari uang amplop bisnis mereka dimulai. Berkah setelah menikah justru dirasa Sally membawa angin segar. Ibnu sendiri sosok bertanggung jawab. 
 
Dia juga tidak takut memberi makan Sally. Awal berbisnis beneran, Sally butuh waktu beradaptasi hingga benar- benar berbisnis batik. Yah Sally adalah pengusaha batik Trusmi yang terkenal itu loh. Diawal dia mengaku bisnis batik bermodal Rp.35 jutaan. 
 
Yang mana merupakan hasil sumbangan pernikahannya dulu. Ia merasa beruntung karena menikahi lelaki hebat. Sosok Ibnu meski 18 tahun, memiliki visi juga dibidang kewirausahaan. Keduanya kemudian berbisnis jualan kain mori. 
 
Inilah cikal- bakal bisnis batik Sally dimulai dari menjualkan kain mori kepada pembatik. Langsung dibawanya dari pabrikan kain ke sentra- sentra batik.

Sally menjadi suplier buat pengrajin batik Cirebon. Kain putih tersebut memang dijadikan kain batik. Namun dia menyadari menjadi suplier mori cuma gitu- gitu aja. Dia melihat banyak kain mori tersisa tidak terjual. Ia dan Ibnu lantas mendekati pengrajin batik tersebut.

Keduanya memintakan seorang pengrajin membatikan. Tolong dibuatkan desain di sisa mori jualan mereka. Ia sendiri kemudian menjajakan batik Cirebon tersebut. Melihat peluang di kota Jakarta lebih besar. Sally memutuskan memasarkan batik Cirebon ke Pasar Tanah Abang.
 
Pengusaha cantik Sally pergi bersama suami ke Jakarta bermodal nekat. Bayangkan agar menghemat akomodasi, keduanya itu sepakat berangkat jam 12 pagi, sampai di Jakarta istirahat di pom bensi ataupun masjid. 
 
Ketika pasar buka, bukannya menyewa porter, Sally meminta sang suami mengangkut berkarung batik Cirebon sampai ke atas. Dia meminta Ibnu sendiri memanggul berkarung batik. Masuk ke Tanah Abang, mereka harus menelan satu kekecewaan; batiknya tidak laku! 
 
Alasan penjual disana karena sudah memiliki suplier besar. Bukan seperti mereka yang baru saja berbisnis sendiri. Untuk membalik keadaan mereka membuat desain lebih unik.

Mereka membuat desain berbeda dari umumnya. Bersyukur batik karya Sally akhirnya dibeli meskipun tidak banyak. Ia lantas mengenang perlakuan salah satu penjual di sana, "saya coba dulu ya dan bayarnya pake giro, alias dibayar 3 bulan kemudian." 
 
Katanya sih begitulah cara pembayaran diterapkan di Tanah Abang. Sally pun menego agar dibayar tunai. Namun sebagai catatan harga jual diturunkan Rp.1000 per- kainnya. Ia tidak putus asa malah semakin semangat. 
 
Bermodal untung sedikit diputarkan menjadi modal kembali. Dia lantas mengajak suami membuka toko sendiri. Uang Rp.15 juta dibayarkan buat membuat toko sendiri. Ada dua pilihan membuka toko: Memilih buat toko besar namun masuk ke perkampungan. 
 
Atau membuka toko kecil di tempat strategis. Keputusan ini diambil dan kedua dipilih jadilah satu toko kecil di pusatnya keramaian. Mereka membuka di kawasan sentra jualan batik. Mereka menyulap sebuah rumah di Jalan Trusmi Kulon no. 129 menjadi pusatnya.
 

Sukses Batik Trusmi

 
Sebuah rumah disulap menjadi galeri batik bernama Batik IBR. Wanita kelahiran 25 September 1988 ini, hanya memiliki dua karyawan awalnya, beruntung ketika batik lantas jadi booming besar!
 
Berawal membeli kain mori di pabrik, Sally menjualkan ke pengrajin batik Cirebon. Dia membeli kainnya per- meter. Mana lagi kain mori dibeli Sally itu tipis. Alhasil untung dihasilkan Sally sangat sedikit dan punya resiko besar tidak laku. 
 
Membuat batik sendiri menjadi siasat ia mendapatkan untung lebih. Salain itu, dia dan sang suami merekasakan ketertarikan akan pola batik. Keduanya setuju buat berguru ke seorang pengrajin batik. Mereka menjalin kerja sama mau dibuatkan batik Cirebon. 
 
"Saya banyak belajar. Kemudian bermitraan dengan pembuat batik," pungkasnya.

Perbandingan berjualan batik dan kain kafan keliatan. Bayangkan jika dia menjual 36 meter kain polos hanya untung Rp.10.000. Jika pengrajin sudah mengolah maka 2 meter untung Rp.5000. Dia mulai membuat desain batik sendiri. 
 
Pertama kali membatik dia membuat batik cap kemudian batik tulis khas Cirebon. Profesionalitas Sally diuji bukan sekedar untung. Wanita mualaf berjilbab ini tidak mau setengah. Mendalami batik dia memproduksi cap dan batik. 
 
Melewati jalan panas, berdebu, keringat bercucuran, Sally mampu masuk ke pasar Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Toko batik dibuka dia dan Ibnu berukuran kecil. Dan "sialnya" mereka membuka didepan toko batik besar. Mereka terbiasa melihat banyak pengunjung datang ke depan. 
 
Tidak cuma orang tetapi mobil berjejer di depan toko tersebut. Mereka kalah dari luas toko bahkan jumlah koleksi batiknya. Bukannya minder Sally malah penasaran, apasih kelebihan mereka?

Kelebihan batik miliknya adalah juga menyasar pasar anak muda. Dan ketika batik booming tidak salah jika usahanya makin diminati. Menurutnya semua karena Cirebon mulai menjadi kota wisata. Nama batik asli dari Cirebon menggema ke seantero Indonesia.

Sukses Sally selain melakukan diferentsiasi, adalah keputusan menggunakan nama Trusmi. Nama daerahnya ini diubah menjadi brand -nya sendiri. Nama Trusmi sendiri juga merupakan kepanjangan "Terus Bersemi". 
 
Yang meniru gaya Batik Malioboro, yang mana mengambil nama dimana tempatnya bertempat tinggal dulu. Mulai batik formal sampai buat santai. Nama Trusmi menjelma menjadi ikon Kota Cirebon. Sayangnya tidak semulus dibayangan ketika mulai naik daun. 
 
Dia pernah ditipu justru ketika tengah tenar. 
 
"Semua pengusaha punya jatah gagal," optimisnya. Baginya setiap orang punya hak berusaha.

"Kita tinggal meningkatkan kualitas," imbuhnya. Pengusaha cantik yang lebih memilih dikomplain soal harga. Dibanding kalau dia dikomplain soal bahan.

Menjadi mualaf memberikan kesan berbeda. Menurutnya semenjak memakai hijab usahanya makin maju. Ia menyebut mendekatkan diri ke Tuhan merupakan cara. Salah satu cara ketika menghadapi kesulitan. 
 
Dia dulu pernah sempat depresi karena ditipu. Hingga dia mendekatkan diri ke Tuhan semua mulai membaik lagi. Untung diraih, malang tidak dapat dihindari kata pepatah. Guna mengembangkan usaha. Dari sekedar punya satu toko menjelma menjadi tiga. 
 
Batik Trusmi belum berpuas berbenah. Hingga Sally memutuskan membeli satu pabrik bekas. Tujuannya ya buat memproduksi lebih banyak batik dibanding dulu. Kebutuhan batik memang meningkat tajam. Masa tahun 2011 merupakan puncak kesadaran. Tidak cuma ia menawarkan ke pengoleksi batik kelas menengah atas. 
 
Tetapi mulai memasarkan ke orang menengah bawah yang lebih ke kebutuhan sandang. Mau membeli pabrik bekas, Sally malah ditolah si empunya berkali- kali. Ia tidak patah semangat. Akhirnya dia membeli pabrik besarta mesin- mesinnya. 
 
Modal membeli pabrik itu pun tidak lepas dari pengorbanan besar. Ia menggadaikan rumah orang tua, kendaran pribadi, sampai ke rumah pribadi. Pabrik itu memiliki mitos, sudah banyak usaha gagal disana, mulai ban, kain, sampai mabel.

Sally dan Ibnu tidak peduli. Tekatnya kuat merubah pabrik bekas milik pengusaha Chinese asal Singapura itu. Dia sudah terbiasa menghadapi mitos, candanya. 
 
"Usaha itu harus berani melawan mitos. Mitos tahayul, mitos kalau anak broken home dan orang miskin enggak bisa sukses," kata Sally menggebu.

Pernah ditipu membuat usahanya hampir bangkrut. Ia pernah menyalahkan Tuhan. Menurutnya dulu Tuhan itu tidak menghargai usahanya. Pada saat itu, Sally menemukan jawaban, bahwa mereka ternyata kurang dari cukup memberi ke orang banyak. 
 
Bekerja sambil beramal moto keduanya kini 70% ibadah dan 30% nya bekerja. Ibu dua anak tersebut kemudian membuka Yayasan Rizky Berlimpah Berkah. Yayasan tersebut sebagai satu penyaluran baginya atas nikmat Tuhan. 
 
Disisi lain pengusaha cantik ini juga membuka lebih banyak lapangan pekerjaan. Juga mau membagi ilmunya cuma- cuma, lewat banyak seminar, pengajian, pelatihan, dan pameran usaha. Usahanya memberikan 850 orang pekerjaan sebagai karyawan. 
 
Lebih dari 500 pengrajin batik Cirebon ikut menjadi mitra binaan. Batik Trusmi makin laris dipasaran omzetnya mencapai 100 jutaan. Umurnya masih 26 tahun tetapi visinya masih luas buat membuka usaha. Kini kiosnya mencapai 1,5 hektar menjadi yang terluas di Indonesia.

Puluhan wisata datang mampi membeli batik. Meski cuma lulus SMA, dia memiliki gaji diatas mereka yang berijasah S-1 dan S-2. Ibu dari Faisal Annur dan Nayla Almahira ini tidak berprofit oriented. Maksudnya ia lebih memilih harga dinaikan biar kualitas terjaga. 
 
Tidak laku sudah menjadi hal biasa dalam perjalanan Sally. Namun, siap sih, yang gak kenal nama Batik Trusmi. Nama brand yang sudah merambah ke pasar online juga lewat www.eBatikTrusmi.com

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba