Boneka Horta Bisnis Pengusaha Gigin Mardiansyah

Profil Pengusaha Gigin Mardiansyah


 
bonekahorta.png
 
Kisah pembuat boneka horta menjadi bisnis menjanjikan. Pengusaha bernama Gigin Mardiansyah berpikir diluar kotak. Banyak pandangan sinis melihat produk bikinan Gigin. Si Horta, nama boneka karyanya tak terlihat memberikan nilai jual, tetapi lambat laun orang mulai mengerti nilai produknya. 
 
Ya, mereka mengerti bahwa Si Horta buatan Gigin bukan hanya masalah mainan tetapi edukasi. Itu termasuk pendidikan dan tidak hanya tentang bersenang- senang. Si Horta atau boneka Horta merupakan singkatan dari boneka hortikultura.

Media Belajar

 
Pekerjaan apapun tidak bisa mematahkan kreatifitas pria yang satu ini. Ia kini menjadi juragan bisnisnya sendiri ketika usianya masih 26 tahun. Melalui Cv. D'Create, pengusaha muda ini berhasil meraup omzet Rp. 50- Rp 100 juta per- bulan. 
 
Ini bukan tentang bisnis sepenuhnya ketika kami mencari tau mengenai Si Horta. Gigin memilih Si Horta sebagai usaha kerakyatan, bukan tentang uang Rp50 juta semata.

Ia ingin bisnisnya memberikan dampak sosial; baik pendidikan dan ekonomi. Dimulai dari konsep Si Horta, merupakan mainan edukasi bagi anak- anak. Boneka yang mengajarkan konsep dunia pertanian sekaligus ketekunannya. 
 
Gigin membuat Si Horta melalui media limbah penggergajian kayu, merubahnya menjadi boneka aneka bentuk. Bahan kayu tersebut dibuat sedemekian rupa menggunakan stoking, merubahnya menjadi boneka.

Dari serbuk- serbuk kayu, ada biji biji rumput yang kemudian tumbuh setelah beberapa lama. Jika anak- anak rajin merawat menyirami makan akan tumbuh rumput- rumput hijau lebat. 
 
"Jika sudah panjang, anak-anak dapat memotong rumput yang tumbuh dengan bermacam gaya layaknya menata rambut di kepala," ujar Gigin

Karyawan Cv.D'Create sebagian besar merupakan masyarakat sekitar di kampung Telahoni, Desa Ciomas Rahayu, Kecamatan Ciomas, Bogor, Jawa Barat. Ia membantu mereka mendapatkan pekerjaan atau sekedar usaha sampingan. 
 
Sejak 2007, Gigin sibuk mengajarkan pemuda dan ibu- ibu sekitar yang tidak punya pekerjaan. Mereka bergotong royong membuat boneka Si Horta secara bekelompok. Sebenarnya, kabanyakan mereka telah memiliki perkejaan di siang hingga sore. 
 
Masyarakat disitu hanya akan mengerjakan pekerjaan Si Horta dikala selesai bekerja. Mereka mengerjakan pembuatan dari sore hingga malamnya. Selain pelatihan, Gigin mulai fokus di bahan menyediakan semuanya secara detail. Soal bentuk diserahkan kepada mereka ujarnya. 
 
Produknya bisa berbentuk kura- kura, panda, babi atau bentuk lain. Setelah jadi Gigin menampung semua hasilnya kemudian membeli Rp.1000- Rp.1500 per- boneka. 
 
"Harga tergantung kerumitan boneka," jelasnya. Berkat memberdayakan pengangguran di kampung Telahoni, Gigin saat ini bisa memproduksi sebanyak 5.000 hingga 10.000 boneka Horta setiap bulan.

Ia kemudian menjual produksinya melalui berbagai cara, termasuk melalui online. Harga boneka dibandrol olehnya sekitar Rp.10.000 sampai Rp.25.000 per boneka. Itu juga tergantung ukuran, model, dan tingkat kerumitan pengerjaan. 
 
Gigin mengklaim tingkat penggangguran di desa Telahoni menurun drastis. Mereka bekerja sebagai sampingan, sedangkan yang belum bekerja mendapatkan pekerjaan tetap. Boneka Horta memberika efek bagi masyarakat untuk mencintai alam, begitu pula anak- anak sebagai target pasar. 
 
Gigin berharap memberikan edukasi sekaligus menghibur anak- anak itu. Bukan perkara mudah, diawal, dia dan temannya harus bekerja keras memamerkan produknya di acara kampus. Mereka nanti disana hanya melihat serta terheran- heran tanpa membeli. 
 
Sejalan waktu, teman- teman Gigin memilih bekerja kantoran menjadi pegawai. Sedangkan ia terus berusaha mendirikan perusahaannya sendiri. Ia bertekat kuat mempopulerkan usahanya ini, boneka Si Horta. 
 
Beberapa tahun belakangan bisnisnya maju pesat bahkan mendapat orderan dari luar negeri; seperti Brunai Darusallam serta Malaysia. 
 
"Tapi karena SDM nya masih terbatas, permintaan itu belum bisa dipenuhi. Sebab, kami hanya memanfaatkan jasa ibu-ibu rumah tangga dan remaja putus sekolah di kawasan Ciomas Bogor," jelasnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba