Sukses Pedagang Bakso Ayu Kerja Keras dari Nol

Profil Pengusaha Erwin Nalfa



Suskes pedagang bakso ayu ternyat membutuahkan waktu lama. Kerja keras dari nol terkadang menguji keberanian dan kesabaran. Butuh tidak hanya keberanian dan kesabaran namun kemampun agar selalu belajar terus.

Ini kisah Erwin Nalfa, 34 tahun, sukses didapat dari bisnis Bakso Ayu. Berawal dari pekerjaannya di Balai Benih Ikan (BBI) di kampung Simpang Kelaping, kecamatan Pegasing, Aceh Tengah. Berawal dari pekerjaan yang tak memberinya pendapatan cukup.

Dia harus berpikir keras lagi memenuhi kebutuhan sehari- hari. Hingga sangat terpaksa atau kepepet untuk memenuhi kebutuhan sahari- hari. Erwin terpaksa bekerja lagi; memulai usaha sampingannya yakni berjualan bakso. Ia berjualan bakso keliling meski sangatlah menguras tenaga.

Dengan kurangnya keahlian, ini menjadi satu- satunya usaha lain. Dia dibantu oleh istrinya, Nurmala, keduanya saling bahu membahu berbisnis bakso. Meski keduanya tak tau kemana arah menuntunya.

Hidup Susah


Sang istri menjadi tempat kembali dan bercerita tentang getirnya hidup sehari- hari. Kesabaran serta rasa cinta sang istri memapu menggerakan hati Erwin lebih giat lagi bekerja. Dia bertekat kelak nanti bisa membahagiakan istrinya dan anak- anaknya.

Cuma berbekal bakso, tumbuhlah kepercayaan usaha itu akan sukses kelak, menghasilkan lebih banyak pendapatan. Bekerja keras, sosok Erwin yang  bertubuh kurus harus berkeliling mendorong gerobak yang lebih besar dari badannya.

Sang pedagang bakso Ayu harus menyusuri tiap gang- gang dari satu kampung ke kampung. Erwin berkisah bahwa dia terus mendorong gerobak itu selama tiga tahun. Dari 2003 sampai 2006, banyak hal telah didapati dalam mengarungi hidup.

Tiap hari ia harus mengetuk- ngetuk mangkuk bakso lalu berteriak nyaring "bakso, bakso, bakso!" Dia terus berjalan hingga orang memanggilnya membeli bakso.

Di sisi lain, setiap hari terus mengasah kemampuan dan ketrampilannya. Erwin harus semakin cakap mengolah panganan berbentuk bulat itu.

"Kegembiraan yang sangat tak disaat saya dipanggil oleh pembeli," kisah Erwin.

Dia selalu melayani pembeli bermodal senyuman, walau tubuh terasa lelah. Jarak tempuh jualannya tidaklah dekat tapi sampai berkilo- kilo meter.

Rute perjalanan jualan kelilingnya dimulai dari tempat tinggalnya di BBI Simpang Kelaping menuju ke Kampung Pedekok, kemudian kembali lagi ke Simpang Kelaping, kemudian beristrirahat sejenak. Dia akan malanjukannya kembali ke Kampung Kayukul, sampai akhirnya pulang ke rumahnya.

Waktu bekerjanya sangatlah berat kerena mengerjakan dua pekerjaan sekaligus. Tidak, lebih dari itu, ia juga harus membuat bakso sendiri, menjualnya, dan bekerja di BBI. Di pagi hari tepatnya, Erwin berlari untuk bekerja sebagai pegawai di BBI dan siangnya berjualan bakso.

Itupun tak langsung laku terjual semua dagangan yang dibawanya melalui gerobak. Dia bisa bekerja sampai sore, rasa kelelalahan dan kejenuhan itu menghantui. Ia tak mau terbenam dalam persaan itu.

Dia bertahan untuk menghidupi ke-3 anaknya, Ayu Listianalfa, Najwa Alfina Nalfa dan Chairil Nalfa. "Ke-tiga anak sayalah yang menjadi sumber tenaga sehingga tidak merasa kelelahan setiap harinya," kata Erwin dengan mata berbinar.

Dia berbagi cara suksesnya yaitu tidak mematok harga terntu untuk anak- anak. Ia menganggap mereka seperti anaknya sendiri, merasa kasihan. Namun, cara semacam itu ternyata berhasil membuat anak- anak itu pelanggan tetap. Mereka selalu menunggu kedatangan Erwin.

Tiga tahun lamanya bisnis miliknya dijalankan dari satu kampung ke kampung lain. Dia cukuplah bermodal gerobak sebagai tempat dagangan. Pada akhir 2007, dengan keyakinan, Erwin memutuskan untuk menyewa sebuah rumah sebagai tempat berjualan bakso.

Perlahan tapi pasti usahanya telah membuahkan hasil. Erwin bahkan mampu membeli sebidang tanah untuk dijadikan ruko. Di sanalah, ia membuka bisnis bakso kembali dan lebih laris daripada sebelumnya.

Kini Erwin telah menjelma menjadi sosok pengusaha bakso, bukan penjual bakso. Dia tak lagi mendorong gerobak dan mengetuk mangkuk bakso hingga malam. Kebahagiaan itu telah tiba ketika ia, kini, mampu untuk menghasilkan tiga juta rupiah per- harinya.

Dia tak merasa sombong atapun berhenti bergaul dengan warga sekitar. Dia yang warga pendatang asal Kayukul sangat akrab dengan tetangga dan warga lain. Erwin pun tak lupa aktif memberikan zakat apabila telah mencapai hisabnya.

Bakso yang diberninya nama Bakso Ayu terlihat sangat ramai, terutama ketika sore. Bahkan jalan disekitar tempatnya berjualan terlihat macet kala sore menjelang. Dia menjual Bakso Ayu- nya seharga Rp.6.000 per- mangkuk.

Rasanya cukup enak, ditambah dijajakan di kampung Kayukul, kacamatan Pegasing, kabupaten Aceh Tengah. Kesuksesan "Bakso Ayu" bersumber dari keyakinan dan ketekunan berbisnis dari nol hingga sukses menjelma.

Tukang Asongan Sukses Menjadi Pengusaha Kerajinan

Profil Pengusaha Iwan Herawan


pengusaha miniatur

Iwan Herawan, 41 tahun, hidup susah semenjak kecil. Ini kisah hidup tukang asongan sukses menjadi pengusaha. Dia sedari kecil berjualan di kawasan obyek wisata Tangkubanperahu. Iwan terus belajar berjualan sampai mampu menemukan pasar. 

Kejelian mengamati pasar yang membuatnya sesukses sekarang. Iwan mulai membuat miniatur binatang serta anaka kerajinan lain. Sejak SMP, Iwan sudah memberanikan diri berjualan asongan.

Bertahan Hidup


Pria kelahiran Bandung, 4 Desember 1969, sudah tidak terpisahkan dengan keberadaan obyek wisata ini. Dia menaruhkan harapan kepada obyek wisata Tangkubanperau di Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang. Iwan sudah berjualan semenjak kecil walau masih kecil- kecilan.

Biar tidak menggangu sekolah, Iwan berjualan ketika liburan sekolah, atau ketika berangkat siang maka paginya jualan. Bila berangkat pagi, maka siangnya istirahat disusul berjualan ketika sore. Dia alhasil kehilangan masa kecil buat bermain.

Padahal dia masih kecil jadi lumrah senang bermain. Namun dia memaklumi lantaran melihat fakta ekonomi keluarga pas- pasan. Iwan kecil membuat hati senang melakukan pekerjaan. Jualan asongan ini menempa Iwan pandai berdagang.

Siapa sangka, berbekal berdagang asongan, kini Iwan menjadi pengusaha kerajinan sukses. Padahal dia tidak memiliki latar belakang pendidikan kampus. Dia kini memiliki 20 orang pegawai dengan omzet puluhan sampai ratusan juta.

Iwan mulai memiliki cita- cita menjadi pengusaha sukses. Dia pun sempat berkuliah beberapa bulan di Universitas Padjajaran. Tetapi Iwan memilih berhenti lantaran tidak memiliki biaya. 

"Saya percaya, ketika niatnya baik, dijalankan dengan baik, maka hasilnya pun pasti baik," ucapnya.

Ia yang sudah tidak berkuliah memilih berdagang kembali. Kali ini, dia bertemu sang paman yang sudah memiliki usaha kecil- kecilan. Paman mempunyai usaha pembuatan kerajinan kayu. Pamannya ini mengolah kayu bekas menjadi aneka furnitur.

Iwan mempunya ide membuat miniatur binatang. Dia sukses karena memiliki imajinasi tinggi. Niat membuat miniatur binatang berjalan lancar. Padahal dia sama sekali tidak memiliki pengetahuan seni ukir. Semua bermodal uang seadanya, perkakas rumahan meliputi solder, amplas, dan kayu bekas.

Ditunjang darah seni, imajinasi, dan niat membuat Iwan belajar. Tidak perlu malu mempelajari semua sedari awal. Ayah dari dua orang putra, Tedy Heriyadi (18), dan Chandra Kuswendi (11), kemudian belajar otodidak membuat sampai sempurna.

Dia berjualan sedikit- sedikit sampai makin banyak. Bertahap Iwan memiliki dua orang karyawan yang adalah tetangganya. Usaha tersebut dirintis semenjak 1990, bertempat di Kampung Pondok, RT 2/3, Pasar Ahad Cikole, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB). 

Usaha tersebut diberi nama Handycraft Karya Cipta. Bertahap Iwan telah memiliki sampai 50 jenis miniatur binatang. Miniatur Iwan mampu dijual sampai ratusan buah di pasaran lokal. Usahanya lantas merambah pasar ekspor ke Korea, Jepang, China, Sinagpura, Iran dan Yunani.

Handycraft Karya Cipta memiliki 20 orang karyawan bahkan lebih. Bila pesanannya banyak maka ia akan merekrut pekerja lepas tetangga. Dia bangga karena mampu mengurangi pengangguran. Kini dia meraup kesuksesan berkat bekerja keras.

Tukang asongan sukses berjalan bukan tanpa halangan. Pengusaha kerajinan yang sudah berjalan 20 tahun. Dia sadar bahwa roda akan selalu berputar. Kadang dia dibawah hingga pesanan datang sedikit dibanding sebelumnya. Dia menyadari ada musim paceklik pesanan buat pengerajin.

"Menjadi pengusaha artinya bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup para karyawan, dan hal itu yang selalu saya jaga agar bagaimana usaha bisa maju sehingga dampaknya bisa menyejahterakan seluruh karyawan," Iwan berucap.

Kendala utama suami dari Neneng Hermawati ini, adalah promosi dan pemasaran dimana memang susah. Pemerintah harusnya menjadi motor penggerak usaha kecil menengah. Aneka pameran harus lebih banyak menggaet pengusaha kerajinan kita.

Pemerintah harus mengadakan agenda pameran, memberi pelatihan, dan bantuan materi. Harus punya agenda jelas diberitahukan kepada pengrajin. Iwan memiliki filsafat hidup: Kegigihan dan kerja keras. Ia ingin menolong orang lebih banyak melalui wirausaha.

Walau dia terkadang ditinggal pegawai membuka usaha sendiri. Iwan tidak masalah. Justru merasa bangga mantan karyawannya mandiri. Tidak takut menjadi persaingan sesama usaha miniatur. Iwan pun rajin membagikan pengetahuan soal bisnis ini.

Bisnis Perlengkapan Pesta dan Kuliner Memo

Profil Pengusaha Megat Molina


usaha pernikahan sukses
 
Wanita satu ini memang dikenal sibuk benar. Dari menjalankan bisnis perlengkapan pesta hingga bisnis kuliner. Pengusaha itu bernama Megat Molina, M. Pd, lulusan Universitas Negeri Medan (UNIMED), yang lebih nyaman berwirausaha.

Ibu dari Dea Melina dan Arif Hendrawan. Mereka tinggal di kawasan Jalan Menteng Raya, Komplek Residence, Medan Denai. Dia selalu punya kesibukan menerima pesanan. Terutama usaha kuliner yang dia kembangkan belakangan ini.

"Karena kampus saya hanya mempersiapkan saya jadi guru, maka saya mempersiapkan diri agar bisa jadi pengusaha," jelasnya. Dia telah merintis usaha sejak berkuliah di UNIMED.

Molina memiliki kemauan dan keberanian. Wanita kuat yang sempat menjadi agen penjualan. Dia dulu menjadi agen penawaran perlengkapan dan peralatan pesta. Usaha tersebut dijalankan disekitar lingkungan Molina. Susah namun tetap dijalankan karena memang sudah tugasnya.

Dia kuat karena menjadi agen penjualan. Disini dibutuhkan kesabaran serta keberanian. Molina harus punya kemampuan penawaran bagus. Hasilnya dia mampu berkembang kemudian disusul membuka usaha sendiri. Dia mulai menjalankan bisnis perlengkapan pesta sendiri.

Modalnya sekedar karena berasal penghasilan penjualan. Dia mulai menyewakan walau terbatas apa dipunya. Bertahap Molina melengkapi perlengakapan dan peralatan. Dulu dia cuma memiliki atap sewa atau traktak dan payung. Molina belum memiliki peralatan makan dan kecil- kecil.

Molina merupakan lulusan tata boga. Pernah dia menjabat Ketua DPD Ika Boga. Maka tidak salah bila dia merambah kuliner. Seiring berjalannya waktu, Molina pun memberikan jasa katering pesta sekaligus penyewaan perlengkapan.

Dia dikung teman- teman yang mendukung. Mereka menyewa juga mempromosikan ke mana- mana. Molina sudah menyediakan paket lengkap termasuk katering. Orderan sekaligus datang buat mereka yang malas mencari- cari.

Kesimplan tersebut membuat bisnis kuliner Molina membesar. Molina pun membuka usaha lanjutan aneka macam. Usaha bernama Memo, meliputi Memo Pesta, Memo Seafood, Memo Cookies, dan Memo Bakery. Molina kemudian menurunkan usahanya kepada sang putri.

Ia memiliki pandangan luas termasuk bisnis. Dari bisnis utama lantas merambat ke usaha lain sejalan. Dia kemudian mendirikan tempat pebisnis bertemu. Tepatnya Molina mendirikan kafe bersama ruang pertemuan, dan tempat karaoke sekaligus.

Kawasan Medan Denai belum ramai masih mempunyai peluang. Sementara tempat lain bisnis kuliner sangat ramai. Molina mencoba peruntungkan di kawasan kurang ramai ini. Belum lama dibuka, baru tiga bulan, ruangan itu sudah ramai dipakai berbagai acara masyarakat.

Molina sudah mulai mengurangi kegiatan usaha. Dia masih ikut mengawasi sembari mengajar tata boga. Anak- anaknya telah melanjutkan aneka usaha dirintis tersebut. Kalau ngomongin kuliner, dia sudah mencetak banyak resep terkenal dan mempunyai hak cipta.

Meskipun begitu dia mengajarkan resep tersebut buat dimasak orang. Tujuannya tentu agar orang lain mencicipi kelezatan resep Molina. Dia bersama DPD Tata Boga bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, tengah melakukan pelatihan kepada remaja dan usia produktif.

Dari pelatihan tersebut membuka banyak peluang usaha. "Saya bersyukur dengan kemampuan saya miliki, ada orang lain yang bisa mengikuti jejak saya," tuturnya. Kunci suksesnya membangun usaha adalah kesungguhan dan kemauan menangkap peluang pasar.

Resep Bisnis Kue Pukis Pak Kuat

Sukses Bisnis Kecil- Kecilan



Apa resep bisnis kue pukis Pak Kuat. Kue mungil yang semula berasal dari Gombong, Kebumen, Jawa Tengah. Menurut beberapa sumber sebagian besar pengusaha kue berjualan di Jawa Tengah, kebanyakan berasal dari daerah sini.

Salah satu pengusaha sukses bisa kamu temui ialah Pak Kuat. Pria asli kelahiran Gombong, 28 tahun silam, memang sudah lama berbisnis kue pukis. Dia telah berbisnis kurang lebih 10 tahunan. Diawali tahun 1996, tepat selepas bangku SMP, dia langsung berhijrah ke Jakarta.

Kuat ikut saudaranya berjualan kue pukis di ramainya ibu kota. Kue tradisional tersebut sudah ada dimana- mana; banyak dijumpai di pasar- pasar tradisional. Tak hanya itu, kini, mereka bahkan sudah berani masuk pasar swalayan besar.

Pak Kuat Pengusaha Sederhana


Kue ini punya rasa gurih khas. Sangat mudah dari segi pembuatan ditunjang rasa manis berselera. Kue pukis mampu berubah- ubah bentuk rasa mengikuti selera pasarnya. Kita bisa melihat kue pukis diselipi selai nanas atau rasa lainnya sesuai selera.

Kue ini biasanya memiliki dua warna dasar yaitu coklat dan putih. Mari kembali ke kisah Pak Kuat kembali. Berjualan di Jakarta ternyata bukanlah pilihan.

Setelah beberapa tahun berpindah- pindah dari satu kota ke kota lain. Pak Kuat juga singgah di kota- kota besar seperti Banjarmasin dan Surabaya. Dan, akhirnya, Kuat memilih menetap di satu kota dan membuka bisnisnya sendiri.

Ia memutuskan membuak bisnis kue pukis di Yogya saja, dimulai sejak tahun 2006 silam. Bisnis kue pukis ini terbilang cukup menguntungkan, buktinya kini Pak Kuat dapat menghidupi anak dan istrinya serta 4 karyawan tetapnya.

Bahan baku pembuatan kue pukis cukup sederhana, yaitu cuma tepung terigu, kelapa, telur ayam, gula pasir, essence, fermipan, dan soda kue. Alat- alat digunakan dalam usaha pun relatif sederhana yaitu cukuplah satu kompor, ember, teko, gayung, dan cetakan.

Cara membuatnya, pertama- tama sekali, kelapa itu diambil santannya kemudian dicampur dengan tepung terigu. Ambil gula dan telur dikocok sampai gula larut. Masukkan campuran santan ditambah terigu ke dalam kocokan telur dan gula, tambahkan fermipan dan soda kue.

Kemudian adonan ditaruh di ember dan ditutup kain basah.  Adonan dibiarkan 6 jam sampai mengembang. Adonan ini sudah jadi siap untuk dipanggang dalam cetakan.

Pak Kuat kemudian menjelaskan kendala sering ditemuinya adalah mengenai adonannya. Adonan bisa saja tidak mengembang sempurna. Ia lentas memberikan tips yaitu memberikan tetesan air nanas.

Berikan tetesan air nanas ke adonan sekitar 10 tetes satu kali pembuatan bahan. Komposisi paling bagus buat adonan adalah kelapa 1 kg, gula 1 kg, telur 3 butir, tepung 2 kg. Sehari Pak Kuat menyebut mampu menghabiskan 24 kg tepung terigu.

Dari setiap 2 kg tepung terigu, ia mampu menghasilkan sekitar 150 buah kue, yang biasanya dijual 10 buah kue tiap bungkusnya. Kue tersebut dijual 4- 5 ribu rupiah per bungkusnya. Omset diperolehnya setiap harinya berkisar antara 500 ribu-600 ribu.

"Bahkan ada salah seorang pengusaha kue pukis yang biasa jualan di depan toko progo mempunyai omset 1,2-1,5 juta" pungkasnya.

Pak Kuat membuka bisnisnya dibantu istri dan empat tenaga pemasaran. Pemasarannya itu telah meliputi kawasan 4 pasar yang berada di Yogya utara. Sistem digunakan oleh Kuat memang berbeda, ia tak menjual secara tradisional menetap.

Ia akan menjual perpaket biasanya akan disi 150 buah kue, dan setiap paketnya tenaga pemasaran menyetor 46 ribu. Para pelanggan adalah ibu- ibu rumah tangga yang sering berbelanja di pasar tradisional tersebut. Inilah resep bisnis kue pukisnya sampai terkenal laris manis.

Kendala sering dihadapi lainnya adalah ketika musim penghujan penjualan akan turun dikarenakan tidak banyaknya orang berbelanja di pasar. Ketika ditanya kenapa tak berekspansi ke pasar- pasar dalam kota juga.

Ia mengaku hampir semua pengusaha kue pukis saling mengenal, termasuk mengenalnya. Mereka itu masih satu daerah asal, jadi timbul perasaan tidak enak. Pak Kuat merasa tak enak jika masuk ke pasar dari saudaranya sendiri.

Ketika ada usulan supaya tidak bertabrakan di lahan sama (pasar), bagaimana jika ia melakukan pemasaran secara langsung ke konsumen melalui instansi, warung burjo atau kost-kostan dengan sistem titip jual, seperti halnya kue donat.

Kuat pun antusias menjawab akan mencoba cara ini sebagai salah satu usaha memperluas jaringan pemasarannya. Inilah kisah Pak Kuat sebuah realita usaha kampung ke kota. Jika ditempat kamu ada bisnis coba dibawa ke kota.

Sejarah Internet Indonesia Mimpi Miliarder Muda

Profil Pengusaha Adam Sudaryanto


sejarah internet indonesia
 
Siapa tidak mau menjadi pengusaha miliarder muda. Inilah cikal satu sejarah internet Indonesia yang bernama Satu Juta Link. Beralamat di satujutalink.com, adalah proyek besutan anak muda bernama Adam Sudaryanto. Dia masih remaja kala itu. 

Adam berniat mengumpulkan semua link website Indonesia. Proyek tersebut sekarang lebih dikenal sebagai social bookmarking. Adam menjadi penggagas. Dia menawarkan link mempermudah orang menemukan website. Pemuda 15 tahun bersebut kemudian menjual link 10.000- 500.000 perlink.

Situs tersebut merupakan cara gila dirinya menjadi orang kaya. Pesimis mungkin anggapan orang kala mendengar proyek ini. Cara gila tersebut dikerjakan serius oleh Adam. Sampai dia mendirikan perusahaan bernama DAMSCorp atau M. Adam Sudaryanto Corporation.

Adam yang memiliki moto "Dream and Action" itu, berhasil menjadi CEO diusia muda. Ide menjual satu juta link kepada siapapun asli Indonesia. Adam memilih ini karena ide tersebut masih baru pada masanya. Itu sekitar rentang tahun 2011- 2013 -an dan terbukti bekerja.

Apalagi Google belum semasif sekarang alias orang masih bingung. Masyarakat masih kebingungan mencari alamat website bagus. Bisnis tersebut tidak menyita perhatian Adam sebagai pelajar. Dia sudah menyiapkan form pemesanan dulu.

Orang tinggal mengisi form kemudian kirim. Pemesanan dilakukan dalam satu klikan link pemesanan ke Adam. Dalam dua pekan semenjak peluncuran sudah hasilkan uang. Omzetnya Rp.200 ribu sehari semenjak diluncurkan. "Alhamdulillah, dapat menambah uang jajan saya sehari- hari," tuturnya.

Ide bisnis ini memeliki kelebihan selain murah: Bahwa link dipasang akan selamanya tidak dihapus Adam. Satu Juta Link menggaet situs berbekal pembayaran sekali bayar. Banyak keuntungan ketika memasang link, antara lain meningkatkan penjualan produk, puluhan ribu visitor, dan rating website.

Namun intinya Adam tengah membuat buku sejarah situs asli Indonesia. Program tersebut mulai berkembang melalui pemasaran konvensional. Adam menggaet reseller guna menjual link tersebut ke masyarakat.

Tujuannya membantu pertumbuhan jual- beli melalui sistem online. Satujutalink.com merupakan satu website berumur 5 tahun. Dimana akan diperpanjang terus sampai mungkin kiamat tiba. Satu Juta Link juga ikut menyediakan link berartikel, mengingat bahwa pesaing sejenis terus bermunculan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba