Anak Tukang Bangungan Sukses Berbisnis Jamur

Biografi Pengusaha Taufik Hidayat


pengusaha muda jamur

Taufik Hidayat selalu bekerja keras dan pantang menyerah. Anak tukang bangunan sukses berbisnis jamur. Sadar terlahir dari keluarga kekurangan, Taufik bersemangat mengejar pendidikan, hingga dia diterima bekerja di perusahaan swasta di Jakarta.

Orang tuanya bekerja sebagai tukang bangunan sampai keluar Jawa. Sementara kedua kakaknya jadi tukang ojek di jalan. Berkat kerja keras ayah tersebut membuat Taufik bisa kuliah. Lulusan Politeknik Negeri Bandung ini sadar, bahwa jenjang karir di perusahaan mulai tidak berkembang.

"Sampai kapan melihat bapak saya jadi tukang bangunan, bahkan rela keluar Jawa ketika saya kuliah untuk membiayai saya," Taufik menjelaskan.

Inilah cikal bakal dia nekat resign untuk membuka usaha sendiri. Satu bulan dia tidak bekerja sampai teringat satu pristiwa. Ia mengenang pernah diajak seorang senior ke kebun jamur. Usaha milik senior di kampus itu begitu menarik perhatian Taufik.

Memulai Budidaya Jamur


Tidak puas akan karirnya hingga memilih membuka usaha. Anak tukang bangunan sukses berbisnis jamur. Ide berbisnis jamur muncul ketika dia mengenang seorang senior kampus. Dia ingin memulai usaha tersebut, hingga dia teringat seorang teman di sekolah menengah.

Pria bernama Aep tinggal di Cinangsi, Pengalengan. Teman SMA yang sekarang budidaya tomat di samping rumah. Taufik menganggap Aep mungkin tahu soal perkebunan. Dia bertemu Aep sampai terlibat pembicaraan serius.

Aep berkata bahwa tetangganya membudidaya jamur di rumah. Dia pun mengajak Taufik datang ke tempat sang tetangga. Sembari mengobrol ditemukan fakta, bahwa media tanam didapat dari Ciwidey dan berupa bantuan pemerintah, untuk meningkatkan ekonomi masyarakat lewat budidaya jamur.

Si tetangga bercerita mengenai kemudahan menanam jamur. Perawatan tidak cepak dan panen bisa setiap hari jadi dapat uang setiap hari. Hanya karena jumlah jamur sedikit, si tetangga cuma menjual ke tetangga lain dan pedagang sayur. Dia mengatakan paling susah mendapatkan media tanam di sini.

Ide berbisnis jamur semakin optimis dilaksanakan. Apalagi Taufik tertempat tinggal di Pengalengan jadi cocok secara suhu. Tingkat kelembapan cocok tinggal menyiapkan tempat. Dia pulang kerumah dan memilih menyewa rumah milik tetangga.

Rumah tersebut disulap sampai menampung 20 ribu media tanam. Sembari mengerjakan ia mulai mengenang susahanya keluarga. Sang ayah bekerja sebagai tukang bangunan sampai keluar Jawa. Sementara kakak- kakaknya, hanya bekerja menjadi tukang ojek berkeliling mencari penumpang.

Bisnis Budidaya Jamur


Dia ingin merubah nasib keluarga lebih baik. Taufik ingin mengajak kakak- kakaknya berusaha bersama. Tidak lagi panas- panasan mencari penumpang di jalanan. Dia juga tak tega melihat desa tempatnya lahir kebanyakan bekerja menjadi buruh tani.

"...tetapi mereka (penduduk desanya) tidak mendapatka apa- apa," ia menjelaskan.

Optimis dibangunlah tempat tanam yang sesuai tingkat kelembapan. Total modal awal dia keluarkan 100 juta rupiah. Modal itu dipinjam dari teman kuliah dan teman kantornya dulu. Jujur ekspetasi seorang Taufik begitu besar akan bisnis jamur ini.

Singkat cerita dia berhasil panen pertama sekali budidaya. Walau nampak berjalan mulus, dia kesulitan untuk menawarkan hasil panen ke pedagang pasar. Baru sekali panen itu malah disambut hujan besar dan banjir.

Sore itu dia dan kakak barus saja memanem jamur. Diluar sudah hujan besar sampai air menggenang. Tampak air hujan mulai memasuki gubuk bambu tersebut. Hujan begitu besar sampai dinding bambu miri dan rak- rak mulai bergoyang.

Ini pertanda hingga keduanya melompat keluar dan rubuhlah rumah jamur tersebut. "Alhamdulillah, selamat hampir tertimpa bangunan di dalam, yang tidak selamat bangunan dan 20.000 media tanam di dalam," kenangnya.

Total kerugian mencapai Rp.80 juta sampai mengelus dada. Baru kali ini dia merasakan kehilangan uang sebesar itu. Apalagi dia sadar uang tersebut merupakan hasil pinjaman teman- teman. Dia tidak patah semangat. Taufik mencoba meminjam kembali ke teman- temannya tersebut.

Kali ini Taufik akan mencoba membuat media tanam sendiri. Berulang kali dia meminjam, tetapi itu berkali- kali gagal juga, sampai memiliki hutang menggunung Rp.500 juta. Taufik tidak patah arah untuk terus mencoba membuat kembali.

"Saya sadar saya terlalu egois dan terlalu idealis, merasa paling bisa dan tidak butuh masukan orang lain," ia menerima nasib.

Pengusaha muda ini mengevaluasi kehidupan dengan kepala jernih. Dia mulai mempelajari dari awal semua. Begitu dipelajari ternyata tidak terlalu sulit membuat media tanam. Bagian terpenting ialah proses sterilisasi. Penggunaan drum secara menual tidak akan dapat dihitung panas api.

Suhu dan tekanan terkadang berbeda tergantung api kayu. Nyala api tidak selalu sama, sehingga bisa berhasil atau tidak. Dia lalu berdiskusi mengajak Pak Yunus (Dosen) untuk membuat alat. Mereka membuat mesin mengontorol suhu dan tekanan panas.

Mereka lalu membuat media tanam dan kegagalan ditekan. Begitu mahir membuat media tanam, dia melihat bisnis semakin membaik dan mencoba ikut perlombaan. Taufik mengikuti ajang wirausaha dari Bank Mandiri, hasilnya mengejutkan dia menang dan mendapatkan modal Rp.40 juta.

Dana tersebut dipakai mengembangkan bisnis jamur. Nama usahanya Villa Mushroom Agrifarm, dan terus berkembang untuk mengajak masyarakat ikut bergabung. Dia membuka usaha kebun jamur bagi masyarakat desa. Mereka akan mendapatkan penghasilan tambahan dan berkebun di rumah sendiri.

Rejeki Pengusaha Jamur


Taufik dibantu 15 petani sampai panen 6 ton atau senilai Rp.75 juta. Dia juga memproduksi media tanam sendiri 1.5000 pilobag. Petani seban bulan mendapatkan 30.000 atau senilai Rp.90 juta. Dia menyebut total penjualan Rp.165 juta dari panen jamur dan menjual baglog.

Laba bersih usaha mencapai 30%- 40% dari penjualan semua usaha. Taufik memiliki aset sampai senilai Rp.600 juta dari tanah, bangunan, dan mesin.

Pemuda kelahiran Bandung, 1 Juni 1992, yang bekerja keras dan belajar otodidak. Dia meminjam uang dari teman banyak. Juga mendapatkan sokongan investor sampai ratusan juta rupiah. Taufik pakai uang itu untuk membiayai operasional, sewa lahan, membuat rumah jamur dari bambu, dll.

Uang pribadi hanya Rp.10 juta dari tabungan bekerja di PT. Toyota Manufacturing. Dia juga pernah bekerja di PT. Samsung Indonesia. Berlatar belakang pegawai kantoran, Taufik meriset sendiri cara bercocok tanam jamur, dan langsung mengaplikasikan.

"Saya tergolong nekat," ujarnya.

Dia mengajak dua kakaknya untuk mengolah baglog. Mereka menanam bibit jamur di dalam rumah kumbung. Ditunggu selama dua minggu sampai bibit jamur tumbuh. Awal panen dia menghasilkan 5 kg hingga 10 kg. Sekarang dia memproduksi 2 ton per- pekan, yang dijual di pasar Pengalengan.

Ia rutin menjual jamur ke pedagang sayuran. Taufik memiliki empat pelanggan. Namun dia harus berhadapan dengan senior pasar. Sosoknya ini menjadi penentu siapa saja yang boleh berdagang di sana. Tata niaga jamur dikontrol sosok tersebut, maka dia segera mendekati sosok tersebut langsung.

Tidak mendekati melalui pasar tetapi dia datangi rumahnya langsung. Dia membangun komunikasi dengan pedagang jamur di sana. Termasuk ketika dia masuk ke pasar daerah Bandung, maka harus mendekati suplier jamur yang terlebih dahulu ada.

Jamur yang dipasok Taufik adalah tiram putih dan jamur cokelat. Sementara orang yang didekatinya menjual jamur kancing. Omzetnya melambung dua kali lipat berkat selalu bekerja sama. Konsumen yang membeli bisa menjadi penjual. Permintaan jamur miliknya meningkat sampai dua kali lipat.

Target produksi perhari 1 ton sehingga menjadi 30 ton perbulan. Dia membidik pasar di Jawa Barat sebagai awalan. Serta ia mulai masuk ke pasar swalayan dan hotel. Agar bisa memenuhi target itu, dia mendirikan CV. sebagai entitas, dan telah memiliki 10 orang karyawan yang dulunya 1- 2.

Biografi Robert Hartono Bisnis Rokok Djarum Triliunan

Biografi Pengusaha Robert Budi Hartono


robert hartono djarum

Biografi Robert Budi Hartono ternyata kelahiran Kudus, Semarang, 18 April 1941, yang memiliki nama asli Oei Hwie Tjhong. Dia anak kedua dari pendiri Djarum Oie Wie Gwan, yang sebelumnya bernama Djarum Gramophon, hanya sebuah usaha kecil dibeli oleh ayahnya di 1951.

Selain bisnis Djarum, bersama kakaknya, Michael Bambang Hartono, tercatat memiliki saham lima puluh persen di Bank BCA. Mereka juga memiliki 65.000 hektar perkebunan sawit di Kalimantan. Ia dan kakaknya, Michael Hartono telah memulai semuanya di bisnis keluarga.

Robert di usia 20 tahun menerima warisan sang ayah. Kedua bersaudara bahu membahu membangun kerajaan bisnis hingga sekarang. Mereka ikhlas mendapat warisan walau tidak sempurna berjalanan, perusahaan tetap mereka jaga hingga akhir.

Cobaan Bisnis Djarum


Bisnis mengalami cobaan di awal, keduanya menerima bisnis tersebut ketika pabriknya mengalami kebakaran. Ayahnya menginggal di tahun 1960- an, tak lama setelah kebakaran di pabrik Djarum. Kala itu, Robert harus menghadapai prasangka masyarakat atas orang keterunan Tionghoa.

Mereka tak ragu melepaskan pendidikan di Universitas Diponegoro. Hartono bersaudara memutuskan menghadapi prasangka soal pendidikan, cuma bermodal bisnis keluarga. Berbekal semangat pantang menyerah, kedua bersaudara memilih fokus mengembangkan bisnis rokoknya.

Jadi Hartono bersaudara merupakan sosok dropout pertama kita. Agar bisnsi Djarum naik setelah tenggelam karena kebarakan. Mereka mendatangkan teknisi asing demi memberi pelatihan pekerja di Djarum. Keduanya berhasil menyelamatkan bisnis keluarga tersebut.

Mereka menjadikan Djarum fokus tidak hanya membuat tapi meriset pasar. Djarum mulai melirik pangsa pasar dunia terutama di kawasan Amerika. Tercatat Djarum mampu menghasilkan 48 milyar per- tahun atau 20% rokok di pasaran.

Pertumbuhan ini membuat perusahaan mudah melakukan ekspansi bisnis. Pabriknya mulai ikut mengadaptasi mesin rokok putih memproduksi rokok kretek. Djarum juga mengadopsi pembukuan modern, lalu memperbaiki manajeman.

Sejak 1972, mereka mengembangkan merek khusus dijual ke luar negeri. Hasilnya mereka mulai memasarkan andalan merek Djarum Super di tahun 1984. Enam tahun dilalui, Djarum menguasai 31% pasar rokok nasional atau menjadi perusahaan rokok kretek nomor 1 di Indonesia.

Keberhasilan tersebut tampaknya tidak membuat kemitraan mereka terpecah. Keduanya semakin solit dalam berbisnis dan berinvestasi. Tercatat jika ada nama Robert Budi Hartono maka disana akan ada biogafi sang kakak, Michael Bambang Hartono.

Ekspansi Bisnis


Dalam biografi Robert Hartono bisnis roko Djarum tak berhenti. Nama Grup Djarum muncul menguasai bisnis di bidang lain, seperti bisnis perbankan bahkan media. Melalui metode kepemilikan saham mayoritas suatu usaha yang terdesak; Grup Djarum menguasai BCA.

Tepatnya di tahun 2008, Grup Djarum telah menguasai 51 persen yang berarti saham mayoritas, dimana PT. Bank Central Asia menurut Bank Indonesia memiliki aset 1,3 triliyun.. Dia dan sang adik melalui Farindo Holding Ltd. yang dibeli melalui Alaerkan, membeli saham BCA senilai 51% itu.

Kontan kedua pengusaha kakak beradik ini membeli saham  Keduanya pula memiliki saham atas Farindo 92, 18 %, selain perusahaan asing Amerika, Farallon dengan saham 7, 82 %. Sebelumnya, Alaerkan hanya pemilik 9, 36% sedangkan Farallon pemilik saham mayoritas 90, 64%.

Berubahnya komposisi saham, ini membuat sacara langsung Alaerka lah pemilik saham mayortias Farindo manjadi penguasa BCA. Melalui penguasaan tidak langsung entah strategi macam apa itu. Tetapi PT. Bank Central Asia, perusahaan asing tersebut telah dikuasai mayoritas lokal.

Farindo sendiri merupakan perusahaan investasi berpusat di Mauritius. Selain BCA, Grup Djarum juga aktif melakukan bisnis lain tapi serupa. Perusahaan memiliki dua buah bank yakni Bank Haga dan Hagakita.

Di 13 Juli 2006, kedua Bank dijual ke pihak Rabbobank Group, yang berpusat di Belanda. Bank Haga dan Hagakita memiliki total aset 3, 97 triliun per- 31 Desember 2005. Keduanya memiliki 78 kantor cabang terbagi di Jawa Tengah, Bali Sumatra, dan total karyawan 1.537.

Grup Djarum memilih fokus di BCA melalui modal kapitalis Rp.61,665 triliun. Mereka masuk ke bisnis properti melalui Grand Indonesia, sedangkan elektronik melalui Polytron. Grand Indonesia sendiri adalah kawasan bisnis mewah tepat di jantung ibu kota, kawasan Hotel Indonesia, Djakarta.

Djarum lantas menggabungkan fungsi pusat belanja, perkantoran, apartment, dan hotel sekaligus. Untuk kawasan belanja dikutip website Grand Indonesia, mereka menawarkan pusat belanja 250 ribu per segi delapan lantai.

Sedangkan Hotel, Djarum memilih mendesain ulang Hotel Indonesia yang sudah ada sejak 1960. Hotel yang dulunya bernama Hotel Indonesia Kempinski oleh Kempinski Group, memiliki 280 kamar yang berstandar Internasional.

Hotel itu dikenal setara  The Raffles Singapura dan The Oriental Bangkok. Yang tak kalah penting, menara BCA yang sejajar pusat belanja Grand Indonesia. Salah satu menara tertinggi di Jakarta dengan total lantai 11 ditambah ruang fitnes.

Sektor lainnya, Group Djarum memilih dunia Internet melalui Kaskus. Malalui Global Digital Prima Venture, Rebert dan kakakanya mencoba menjajaki kerja sama. Ada sedikit kontroverersi, apakah Kaskus dibeli Djarum, tetapi Ken Dean Lawadinata salaku CEO menolak sebutan akuisisi.

Di pihak lain, founder Kaskus, Andrew Darwis mengaku hanya berbagi pertnership bukan dijual. Itu dilengkapi dengan share knowledge dan funding untuk keuntungan. 

Robert Budi Hartono sangat menyukai olah raga terutama bulu tangkis. Ia mendirikan perkumpulan bulutangkis (PB) Djarum terbentuk 1969. Di lapangan melinting kretek, Robert menemukan talenta dLiem Swie King.

Dia benar- benar mampu melihat sesuatu dari anak tersebut, sehingga anak itu tumbuh menjadi legenda, yang dikenal sebagai "King Smash".

Menggagas Desa Wisata Pengusaha Yeni Dwi Fitriani

Profil Pengusaha Yeni Dwi Fitriani


pengusaha desa wisata
 
Menjadi pengusaha Yeni Dwi Fitriani tak sekedar mencari untung. Dia menggagas desa wisata lewat konsep eco- wisata organik. Tujuannya mengangkat taraf hidup masyarakat lewat pariwisata. Taukah kamu bahwa pariwisata menjadi penompang ekonomi nomor dua, setelah sektor migas.

Sektor non- migas ini masih belum dikelola dengan baik. Hingga bermunculan konsep desa wisata yang digagah pemerintah daerah maupun swasta. Yeni hanya satu diantaranya yang melihat prospek suatu daerah. Apapun bisa dijadikan obyek wisata selama memiliki keunikan identitas.

Inilah yang dia coba kerjakan ketika menggarap Desa Temas. Daerah yang berada di kawasan Kota Batu, Jawa Timur. Desa wisata sendiri bukan cuma mengenai keindahan alam. Dari hasil karya warga lokalnya pun dapat dijadikan komoditas, sebut saja aneka kerajinan, sumber daya ikan, dan lain- lain.

Nah, spesial Desa Temas ini soal pertanian, bukan cuma menyodorkan keindahan semata. Yuni lewat Desa Wisata Dewi Temas, mengelola integrated farming dan eco- tourism area. Basis pertanian yang meliputi semua produk pertanian yang berbasis organik.

Usaha Berbasi Sosial Masyarakat


Suatu daerah yang menspesifikan pertaniannya menjadi organik. Kamu tidak hanya menikmati hijau kebun- kebun sayur. Ada pula program yang dirancang untuk mengakomodir wisatawan. Mulai dari wisata belajar bertanam dan kegiatan outbond yang menyegarkan.

Ia mengatakan total lahan seluas 7000 m2 akan menanti kita. Desa Temas sendiri dikenal orang yang ramah- ramah. Kehidupan mereka secara sosial dan budaya pun telah tertata. Lingkungan wisata itu sangat menarik bagi penduduk perkotaan.

Aneka kearifan lokal digali Yeni agar tidak sekedar berkebun. Lingkungan pedesaan mereka masih asri termasuk sungai. Kota Batu sendiri telah diserbu wahana modern yang kurang akomodir. Ini menjadi dilema para petani, kenapa uang hanya berputar di kawasan perkotaan dengan wisatanya.

Petani tidak hanya menanam sayuran. Tidak adanya wisata berbasis lingkungan menjadi prospek bisnis. Apalagi Yeni melihat para petani terus mengeluh, karena hasil pertanian memburuk. Bahkan mungkin mereka akan meninggalkan pertanian organik tersebut.

"Hasil pertanian mereka tidak maksimal. Pada akhirnya banyak petani yang beralih profesi atau menjual lahan," jelasnya kepada Youngster.id

Inilah yang dia coba hentikan agar desa tidak tergerus. Pengusaha muda kelahiran 11 Maret 1994, yang memulai langkah konkrit. Semua berkat pembicaraan dia bersama kawan sekampusnya. Dia bersama teman- teman dari Universitas Negeri Malang, yang melihat dilema permasalahan sosial.

Bekal pengalaman berogranisasi kemudian dia curahkan. Yeni mengajak pemuda asal Desa Temas pada 11 Oktober 2014. Beruntung pemuda Desa Temas memiliki pandangan sama. Mereka juga merasakan kegetiran, lantaran mulai banyak lahan beralih menjadi perumahaan untuk orang kota.

Konsep Desa Wisata yang tengah naik daun ditanggapi positif. Diskusi berlanjut sampai melahirkan kelompok usaha Desa Wisata Dewi Temas. Ingin menjadi desa tersebut pusat pendidikan, ekonomi, dan wisata di bidang eco- tourism.

Berbekal satu petak lahan dekat sungai yang mengalir di desa. Mereka mulai membersihkan sampah dari aliran sungai. Setelah itu mereka mengajak anak- anak bermain di kawasan tersebut. Kebersihan lingkungan dijaga betul, sampai para orang tua dan pihak sekolah ikut meramaikan.

Lahan yang dikelola Desa Wisata Dewi Temas makin luas. Bermacam- macam program dikonsep untuk menggaet lebih banyak pengunjung. Target dioptimalkan yakni bagi mereka rentang usia 27- 40 tahun. Mereka yang datang dari luar desa kebanyakan lembaga pendidikan dan para siswanya.

Wisatawan datang berminat belajar tentang pertanian organik. Yeni mengakui semua berawal dari konsep sederhana. Desa Temas tumbuh berkat kerja sama dengan para penduduknya. Bila tidak, ia mungkin tidak akan mengembangkan ini, karena mereka lah yang mengerti kelebihan desan sendiri.

Ia berhasil menggaet instansi pemerintah, sekolah- sekolah, dan masyarakat umum. Bisnis berbasnis sosial ini menurutnya punya banyak kendala. Ada kendala intern dan ekstern yang terjadi dalam pengelolaan. Maka Yeni rajin membicarakan masalah kepada para pemuda pengelola usaha ini.

Kendala apa yang dia dan mereka hadapi harus dibahas bersama. Dia juga menggandeng Pemerintah Daerah. Ini bukan sekedar wisata yang dikelola oleh pihak swasta. Menggagas desa wisata juga butuh bantuan pemerintahn. Pengusaha sosial ini juga menggagas visi- misi untuk kemajuan desa tersebut.

Pemilik Ngocok Yuk Pengusaha Kafe Menginspirasi

Profil Pengusaha Winda Varesa


pemilik ngocok yuk
 
Siapa sih nama pemilik Ngocok Yuk! atau brand Ngopi Coklat. Namanya Winda Varesa (30 tahun), pengusaha kafe asal Bandar Buat, Padang. Bukan pertama tetapi bisnis ini menjadi fenomenal. Sudah sering kita jumpai memenuhi galeri Instagram orang- orang.

Brand Ngocok Yuk! diperkenalkan November 2018 dan langsung booming. Para wirausahawan di bidang franchise menerima baik. Mereka langsung menghubungi bertanya apa mau diwaralabakan. Dia setuju hingga lahirlah 75 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia.

Pengusaha Franchise


Sang pemilik Ngocok Yuk! mengaku memiliki cabang di Bogor, Bekasi, Bandung, Depok, Lampung, Palembang, Jambi, Bengkulu dan Bali. Walau dia mengatakan belum sampai ke Jakarta, di Jawa dan Sumatra sudah banyak berdiri.

Winda mengekui nama brand ini sangat nyeleneh. Pengusaha kafe ini menjelaskan nama itu sekedar iseng. Terdengar lucu saja, memang nyeleneh, dan menarik perhatian orang- orang banget. Padahal dia jelaskan nama itu kepanjangan dari Ngopi Coklat.

"Agak nyeleneh, funny, lucu, padahal singkatan dari Ngopi Coklat, dan ngajak orang minum sambil ngocok minumannya," tutur Winda.

Bukan pertama Winda sendiri juga memiliki beberapa lini usaha lain. Dia dikenal pemilik kafe yang bertema board game. Tempat nongkrong anak muda dan keluarga yang ramah. Usaha bernama Smart Cafe Board Game Lounge ini, menyuguhkan permainan interaktif untuk melupakan gadget kita.

Ada ratusan permainan yang dimiliki oleh kafe besutannya tersebut. Adapula permainan komunitas yang dimainkan ramai- ramai. "Kami itu memanusiakan manusia, mengembalikan mereka ke nilai sosialnya," jelasnya. Pengunjung tidak lagi disibukan gadget masing- masing tanpa berbicara.

Winda meyakinkan pengunjung akan fokus bermain board game. Semua pengunjung akan disibukan permainan bukan gadget. Apalagi tempatnya tidak menyediakan saluran wifi gratis. Winda sudah lama merasa miris melihat pengunjung sibuk masing- masing.

Dia yang memang basik pengusaha kafe miris melihat. "Biasanya orang berpacaran di kafe malah sibuk masing- masing, satu main laptop satu minum sendiri," Winda menjelaskan. Kafe ini juga punya menu murah, harga yang dipatok antara Rp.10 ribu- 30 ribuan saja.

Walau untung tipis tetapi selama ini kafenya padat dikunjungi. Baik mereka yang anak sekolahan, para mahasiswa, satu keluarga, atau pegawai kantoran. Mereka malah mungkin akan lebih sibuk main daripada makan. Harga murah akan memberikan dorongan untuk mereka lebih betah main.

Untung tipis ini dilipatkan dengan jumlah pengunjung yang padat. Mereka yang datang pun tidak cuma sekali. Pengunjung bisa berkali- kali karena sensi yang dirasakan unik. Makanan yang disajikan murah tetapi enak, juga sehat karena tidak memakai msg untuk bumbu masak.

Jadi Pengusaha Kafe


Ia bercerita ingin membuka gerai kopi. Banyak yang telah menyuguhkan kopi kenapa tidak membuka gerai coklat. Winda berpikir coffee shop kan banyak, mengapa tidak membuka gerai coklat juga, kan orang kebanyakan suka kopi dan coklat.

Kepikiran lah membuat kedua minuman tersebut menjadi satu. Minuman coklat dan kopi menjadi satu. Maka munculah ide Kopi Coklat atau disingkat Ngocok Yuk!. Singkatan inilah yang kemudian menjadi viral tersendiri.

Pembuatan minuman memakai shaker, dan pembeli dianjurkan mengocok lagi ketika mau minum. Mahasiswa Biologi FMIPA Unpad, yang terkenal suka berwirausaha. Konsep Ngocok Yuk! juga berdasarkan pemikiran membuat minuman kafe harga emperan.

Prinsipnya anak muda kan punya uang sedikit tetapi pengen jajan ala kafe. Ngocok Yuk! memberi kesempatan bermitra lewat waralaba. Mereka memberikan minuman dalam bentuk bubuk. Harga jadi terjangkau bagi distributor. Ini usaha dengan modal terbatas tetapi balik modal cepat dan untung.

Minuman Ngocok Yuk! memiliki 31 rasa terbanyak dibanding lain. Waralaba seharga Rp.10.000 dan gratis bubble dengan aneka toping.

Board Game Lounge katakan tidak bagi gadget dan wifi. Semua mainan disuguhkan gratis buat kamu mainkan. Permainan bersifat edukatif dan mengandalkan kerja sama kita. Ada permainan hitung yang cocok buat anak sekolahan. Kafe ini juga menyediakan hukuman buat mereka yang kalah bermain.

Bagia mereka yang kalah bermain akan dibedaki, disuruh memakai bando, atau jepitan lucu. Para pengunjung juga tidak dibatasi waktu untuk bermain. Kurangnya tempat wisata di Pekanbaru, tempat kafe ini berdiri, seolah menjadi peluang dimana masyarakat memilih kafenya menjadi tempat wisata.

Dari sekedar mencari makan kini berubah menjadi tempat bermain. Kebanyakan wisata di Pekanbaru tidak ramah keluarga. Adapun banyak tempat karaoke, pub, diskotik, dan klub malam. Permainan di sini juga bermanfaat mengurangi ghibah, menjadi ajang silaturahmi sehat lewat komunitas bermain.

Aplikasi Bulp Pemenang Wirausaha Muda Mandiri

Profil Pengusaha Aplikasi Bulp


pembuat aplikasi bulp
 
Bukan sekali aplikasi ini menyabet penghargaan dari ajang bergengsi. Dari aplikasi Bulp pemenang Wirausaha Muda Mandiri, dua nama pendirinya yakni Amrul Chairwathon Asofa dan Waliamien Syeichyanuar, memegang piala atas dua kategori berbeda.

Bulp bukanlah sembarangan tetapi paling inovatif. Mengembangkan sistem manual kedalam inovasi digital. Bulp adalah aplikasi costumer relation managemen indonesia. Sang CEO Blup, Arie Nasution yang mendapatkan penghargaan langsung dari Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Apasih BLUP sendiri kalau dijelaskan tempat menyalurkan aspirasi. Tidak kurang 6000 aspirasi yang diupload di halaman. Penggunannya sendiri telah mencapai 60.000 pengguna. Mereka adalah para pengguna produk atau layanan perusahaan tertentu.

Menurut riset Avaya Indonesia, tahun 2015, lima dari enam orang pengguna merasa tidak puas. Riset Gudpoin lebih mengejutkan. Ada 96% pengguna yang berlangganan merasa tidak puas akan aspek dari perusahaan. Persentase ini juga menunjukan mereka yang tidak puas dan enggan menyampaikan.

Aplikasi Bulp pemenang Wirausaha Muda Mandiri ini tampil. Arie menyebut aplikasi ini membuat kolaborasi aktif dan penyampaian aspirasi komprehensif. "Perusahaan tidak dapat mendengar aspirasi masyarakat. Padahal hal ini akan sangat berguna bagi pengembangan pelayanan," jelasnya.

Bulp memberikan peluang aktif menanggapi keluhan. Ada status approved, delivered, rejected, atau pending. Aspirasi akan diarahkan kepada pihak perusahaan terkait. Aplikasi Bulp diharapkan akan mendukung perusahaan. Diharapkan ada respon baik berupa feedback hingga perbaikan mutu.

Fitur share pada tombol akan mendukung fungsi sosial. Mereka bisa membagikan pengalaman itu ke orang lain. Lalu ada fitur me too!, yang berfungsi memberikan pernyataan ada orang lain, bahwa mereka merasakan hala sama. Ini akan memperjelas kelemahan produk atau layanan perusahaan itu.

Bulp sendiri tak mengecilkan perusahaan terkait. Tidak pula menjelek- jelekan, justru perusahaan yang baik yang bertransformasi. Gerakan #yourvoicematter oleh Bulp memberikan dorongan agar kita bersuara. Masyarakat harus didorong menyampaikan pendapat dengan baik dan terarah.

Ini lebih baik dibanding mereka yang meledak di sosial media. Bulp diharapkan menjadi satu kontrol sosial yang mengedukasi. Bukan sekedar menyampaikan keluhan, tetapi perusahaan terkait nanti akan mendapatkan feedback baik.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba