Ikut Kompetisi Shark Tank Pengusaha Salon Cowok

Profil Pengusaha Michael Elliot 


bisnis salon cowok
 
Namanya Michael Elliot, merasakan betul bahwa laki- laki juga butuh manja. Seorang teman menganalisa dia benar butuh pedicure. Dia, perempuan, kemudian mengajak Michael pergi pedicure. Jujur si temannya ini mau bilang tetapi memilih diam. Takut kalau Michael tersinggung karena dia laki- laki.

Alhasil dia dibawa secara rahasia ke tempat perawatan kuku. Dan semuanya perempuan, tidak ada tempat bagi Michael merasa nyaman. Kemudian pengalaman itu diadaptasi olehnya. Menjadi bisnis hingga sang penulis skenario itu berubah menjadi pengusaha sukses.

Penulis Brown Sugar dan Just Wright, yang melihat peluang dibutuhkannya tempat perawatan khusus buat pria. Kita juga butuh kebersihan mendetail. Higenitas sudah bukan lagi barang bawaan wanita. Maka jadilah sebuah tempat dengan tempat tidur kulit, televisi flat- screen, furnitur kayu klasik, dan tentu minuman wiski.

Semua dapat ditemukan jiga perawatan ke Hammer & Nails, the Nail Shop for Guys. Dibuka tahun 2013 membutuhkan dana tidak tanggung $250.000. Harga perawatan antara $23 sampai $120, dari perawatan kuku dengan susu dan madu. Hasilnya dalam lima bulan menghasilkan $150.000 keuntungan.

Malu ke salon perempuan


Jujur dia suka perawatan kaki, tetapi dia merasa tidak nyaman jika harus perawatan bersama banyak wanita. Ia lebih memilih hengkang dari tempat tersebut. Kecuali ketika ada pria lain datang masuk dan mulai melakukan perawatan juga.

"Kami mulai ngobrol dan saya mengatakan ke dia bahwa saya merasa seperti ikan di lain air," kenangnya. Ia merasakan seperti dituduh menginvasi ruang wanita. Dan pria tersebut juga merasakan hal sama, maka ia berpikir apakah itu juga dirasakan semua pria.

Ia lantas melakukan aneka penelitian. Seperti bayanganya, tidak ada satupun salon buat perawatan khusus pria apalagi perawatan kuku. Dia ingin berdedikasi di area tersebut. Meski pandangan bahwa area tersebut tidak penting bagi pria. Tetapi bagi kesehatan ternyata itu sangat penting dipertimbangkan oleh kita loh.

November 2013, -delapan bulan setelah pengalaman pertama ke salon- , dia membuka usahanya sendiri tersebut. Tidak mudah bagi Michael Elliot menggapai mimpi. Butuh modal tentu untuk membuka usaha ini. Alhasil dia mengikuti berbagai kompetisi wirausaha, salah satunya di stasiun televisi ABC.

Acara Shark Tank tentu kamu sudah tau kan. Dia hadir di Season 6, pada 26 September 2014, dimana jadi penayangan terbanyak penontonnya dalam sejarah Shark Tank. Dia mencari investasi $200.000 yang mana sebagai gantinya dapat saham 20% untuk mengembangkan brand franchisenya.

Ya, untuk mengembangkan bisnis tersebut cepat. Michael memilih mengkonsep bisnis waralaba. Juga satu kebetulan dia terinspirasi kisah sukses waralaba. Dia menjelaskan kepada para Shark bahwa salonnya dirancang menarik hati para cowok maco.

Sayangnya, seperti beberapa pengusaha sukses lain di Shark Tank, dia tidak mendapatkan apapun. Bahkan menurut Kevin O'Leary, "itu tidak akan pernah bekerja". Beruntung salah satu penonto episodenya adalah satu investor perempuan Africa- America, yang lantas memberinya kesempatan dengan investasi setelah itu.

Bisnis resiko


"Sejak awal, saya telah berpikir besar dan saya punya potensi untuk menjadi brand nasional," paparnya. Dia menyebutkan apa kita pikirkan akan berpengaruh ke masa depan kita. Dengan berpikir besar pengusaha akan menjadi sosok pemikir setiap langkah ke depan meskipun sekecil apapun -pasti akan berdampak juga.

Dia tidak ingin jadi salon murahan. Maksudnya cuma jualan di mall, tetapi harus memiliki tempat sendiri premium. Seperti memasang bisnis di tiga tempat ikonik yakni Rodeo Drive, Sunset Boulevard, atau di Melrose. "Saya selalu tau saya mau mengintregasi barber menjadi satu model bisnis jadi waralaba besar."

Dengan konsep waralaba, berapa Michael Elliot dapatkan, yakni investasi $234.700 sampai $531.000 dan menjual lebih dari 183 lisensi franchise Hammer & Nails.

Jika menelisik lebih dalam adakah prospek bisnis ini. Ditelisik ternyata perawatan kuku bagi pria itu beda. Jika wanita melakukan itu demi estetik; dimana mereka berganti warna setiap kali bosan. Maka bagi pria adalah murni soal kesehatan dan kebugaran.

Untuk mendukung bisnisnya Michael juga melakukan riset. Ia memberika delapa alasan kenapa pria harus pedicure. Salah satunya sebagai langkah pendeteksi awal retakan, infeksi jamur, dan kuku yang tumbuh tidak teratur. Kamu harus tau kuku tidak sehat membuat infeksi, bau busuk, kulit- kulit jelek mengeletek.

Maka setiap ada orang biasa datang berkunjung. Mereka yang baru ingin coba- coba. Tidak tau bahwa ada bahaya dibalik jamur kuku. Mungkin mereka tidak pernah membahas kaki dengan istri atau teman. Tapi mereka perlu tau pemain basket NBA menurut Wall Street Journal melakukan pedicure pada kaki mereka.

Jika pelanggan datang bukan soal kuku bersinar, maka setidaknya berpikirlah tentang aspek kesehatan. Ambil lah contoh Lebron James, sosok pemain basket terkenal sedunia ini paling vokal soal aktivitasnya pedicure kuku kaki. Lalu ada Dwyane Wade sebagai pebasket kaki adalah aset, maka dia merawat kakinya.

Persepsi tentang pedicure lambat laun berubah. Meskipun begitu dukungan wanita juga penting. Alhasil ada klien 3 sampai 5 persen adalah wanita. Mereka yang mengajak pasangannya yang kakinya bau. Meski begitu Michael tetap fokus terutama menarget mereka para pria berjas yang sudah memiliki pendidikan tinggi.

Wanita ini memberikan kontribusi 30% penghasilan perusahaan. Mereka mendorong para prianya agar tau bahwa kaki mereka butuh perawatan. Bisnis Michael adalah perawatan kuku dan tangan termasuk pedicure tetapi juga lainnya. Untuk menarik para pria ada perawatan pijat dengan scrub yang dicampur wiskiy juga.

Bisnis Restoran Meksiko El Pastor Menu Andalanya Taco

Profil Pengusaha James Hart 


bisnis jualan taco
 
Menjadi pegawai bergaji puluhan juta memang enak. Tetapi kalu memiliki usaha sendiri lebih memuaskan hasrat kita. Apalagi kalau bisnisnya sukses menghasilkan lebih. Kebebasan finansial ditambah kebebasan kita berpassion. Inilah kisah dua saudara berbisnis taco Meksiko di Inggris, siapakah mereka.

James Hart, 32 tahun, memilih jalan berbeda dibanding dua saudara laki- lakinya. Mereka berdua yang dikenal sebagai pengusaha pemilik restoran juga. Dia memilih jalan menjadi broker. Bergaji enam digit angka dollar Amerika. Tetapi baru saja dia menyadari bahwa passion -nya adalah membuat makanan enak.

Sudah mendarah daging maka lahirlah bisnis El Pastor, bersama kedua saudaranya dan seorang temannya. Ia mendapatkan review bagus dan antrian pembeli. Sepuluh tahun bekerja menjadi pegawai di kota London. "Ketika saya resign Desember 2015 saya tidak terpikirkan untuk berbisnis di bidang jasa."

Ketika dia tengah berjuang berbisnis, sang kakak yakni Eddie (41), dan Sam (43), sudah membuka cabang ke empat restorannya -yang bernama Barrafina.

Bisnis Taco


Ide El Pastor ialah tentang Kota Meksiko, dimana Sam menjalankan tempat klubing El Colmillo antara tahun 90- 00an. Orang cinta dengan kultur dan masakannya. Orang akan berdebat panjang tentang makanan taco ketika menikmati minuman dan musik.

Makanan Meksiko di Inggris ya gitu aja. Ada keju manis, ada nachos, krim, dan cabai jalepanos bila kita beruntung. Hingga restoran taco benar buka memberikan suguhan lebih menonjok. Ia mencoba mengikuti jalur tersebut bukan dengan restoran cepat saji tetapi restoran klasik.

Banyak orang memiliki mimpi bisnis taco. James hanya mengamati, menganalisa, bagaimana agar bisa ditranslatekan kepada tradisi lokal. Hingga dia menemuka titiknya semuanya adalah perjalanan sejarah. Ia meluncurkan El Pastor pada Desember 2016, tiga restoran telah dibuka hanya kurun 10 tahun saja.

Kisah suksesnya adalah pada rasa menonjok. Ia telah menemukan keilmuan tentang memasak taco yang sempurna. Dengan pergi kembali ke Meksiko, dia belajar sendiri dari ahlinya tentang taco, sejarah tentang masakan ini menambah cita rasanya. Semakin dipelajari ternyata makanan Meksiko sudah eksis 60 tahun lebih.

"Kami belajar dengan sendiri, jadi tentu saja banyak masalah menghadapi kami," ujar James.

Namanya diambil dari nama bisnis Taco Al Pastor, yang dikembangkan oleh imigran Lebanon di Meksiko. Inilah menu utama restoran ini. Bagaimana memberi bumbu menjadi kunci. Setiap detail kecil dalam hal pengolahan daging menjadi hal utama.

Trademark kualitas menjadi nomor satu. James menciptakan Al Pastor menjadi kasual. Bagaimana orang bisa menikmati makanan sesantai mungkin. Rasanya harus sangat brilian, dimana anda tidak perlu butuh akan adanya meja dan tetek bengek di atasnya.

"Layaknya makanan jalanan, itu merupakan jalan terbaik buat makan."

"Kami suka berbagi, ini merupakan satu cara kami menimati makan," ujar James. Meskipun sukses tidak mudah baginya menggaet para Londoner. Merupakan sentral makanan membuatnya pasti bertemu banyak pesaing. "Kami berjuang keras, sangat keras untuk lokasi kami (berbisnis)," tambahnya.

Margin untung bertambah akan sangat sulit. Dimana jika anda tidak memiliki ruang untuk bernafas buat menyempurnakan sagala hal. Biaya sewa tinggi membuatnya nerves untuk memandang ke depan. Akan semakin sulit menggaet orang baru berkenalan dengan produknya.

Hal tersulit menjadi pengusaha selain hal di atas. Adalah rutinitas dimana James harus bangun jam 6 pagi, bagaimana agar tetap sehat dan fit setiap hari. Dimana bisnisnya buka jam 7.30 sampai 4.30, yang mana sudah termasuk tetek bengeknya, tidak ada waktu buatnya pergi ke gym.

Meskipun sulit dibanding ketika dia bekerja menjadi pegawai. Ia sempatkan diri untuk fitnes disela- sela kesibukan bisnisnya. "Orang menjadi sangat bersemangat ketika berbicara tentang gaji namun demikian mereka lupa bahwa kunci semua hal adalah kebahagiaan," ucapnya, siap bertaruh jangka panjang wirausaha.

Petani Pengusaha Singkong Gajah Kalimantan

Profil Pengusaha Ariyanto Zeydan


tanaman singkong gajah

Namanya singkong gajah, merupakan varian baru singkong yang sudah pasti lebih di ukurannya. Namanya juga gajah, jika dirawat benar, ukurannya bisa mencapai berat 80kg satu batangnya. Rasanya tuh gurih seperti mentega, teksturnya lunak, umbinya tidak cepat membusuk selepas dicabut dari tanah.

Hasil panan bisa mencapai 150- 200 ton jika dikelola baik, kalaupun tidak intesif mencapai 100 ton per- ha. Singkong ini cocok dijadikan bisnis tepung mocaf -tepung singkong fermentasi- karena warnya yang putih bersih.

Kulit umbi bagian dalam berwarna merah, batang mudah berwarna ungu, batang tua berwarna coklat, dan daun muda berwarna coklat. Salah satu pengusaha yang menarget keunggulan singkong gajah: Adalah Ariyanto Zeydan, seorang pengusaha budidaya singkong gajah asal Kalimantan Timur.

Pria yang juga berprofesi sebagai Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur ini, cuma memanfaatkan waktu luangnya menjadi petani singkong. Dia sangat suka berkebun. Bertahap dia mencari informasi budidaya apa yang asik tetapi menguntungkan sesuai kondisi lahan yang luas di sana.

Kemudian dia bertemu artikel dari pakar singkong Prof Dr. Ristono MS dari Universitas Mulawarman. Ini jadi titik tolak menaman bibit di lahan 1 ha. Sejak tiga tahun lalu dia sudah menggelontorkan uang Rp.25 juta. Kemudian tumbuh menjadi 2 ha di Samarinda dan membuka lahan 50 ha di Balikpapan Timur.

Lahan sendiri maupun lahan petani lain dengan bagi hasil. Harga jualnya tejangkau yakni Rp.1.000- 2000/kg tapi kuantitasnya besar. Jika dijual ke pedagang lain atau ke konsumen langsung harganya jadi Rp.1500- 2500/kg. Dia juga berjualan bibit singkong ukuran diameter 2- 3 cm dan panjang 20cm seharga Rp.500/batang.

Ia sangat optimis dengan bisnis singkong. Terbukti permintaan singkong terus berjalan. Bahkan sempat juga merasa kwalahan. Menurut Anto, singkong miliknya jadi rebutan tengkulak, karena mereka tau rasa singkong ini maknyus. "Saya sampai kwalahan memenuhi permintaan," paparnya.

Bahkan dia sudah membangun pabrik pengolahan sekala kecil. Dengan bantuan investor dari China dan lain- lainnya, dia tengah membangun lahan di Kutai Kartanegara seluas 7000 ha, Malinau 20.000ha, Berau 5000 ha, dimana dia berencana juga membuka lahan seluas 1000ha di Samarinda, tutup pria kelahiran 14 Januari 1977 ini.

Jual Kerajinan Bunga Sabun Pengusaha ini Untung

Profil Pengusaha Sukses Camelia


 
Selain harum di tubuh wangingnya sabun juga menguntungkan. Berapa banyak rupiah bisa diteguk. Ternyata bisa diluar dugaan dengan kreatifitas tingkat tinggi. Ini cerita seorang pengusaha wanita bernama Camelia. Siapa sangka wanginya sabun batangan bisa diubah menjadi emas sungguhan.

Singkat cerita dimulai dari ketertarikan Camelia akan karya seni. Bermula 2013 silam, lewat saudarinya dari Kendari, yang memperlihatkan kerajinan berbahan dasar sabun mandi. Produk sehari- hari tersebut ia lihat bisa dirubah menjadi sebuah bentuk kesenian ukir.

Melihat bentuk unik, indah, dan harum, Cameli mendapatkan ide cemerlang untuk membuat kerajinan dari bahan sabun batangan. Wanita asal Makassar ini menghasilkan keuntungan sampai jutaan. Untuk bisa dia sekarang, belajar mengukir sabun membutuhkan waktu lama.

Tidak mudah apalagi dia bukan orang menganggur. Sebagai ibu rumah tangga, kegiatan menata rumah bisa menyita waktu. Disela- sela membersihkan rumah, dia mengukir alat pembersih tersebut menjadi bentuk bunga. Satu pot diproduksi dalam tempo tiga pekan. Bau sabun berbentuk bunga menjadi kelebihan hiasan ini.

Semangat wirausaha menggebu ketika Camelia dikunjung orang. Melihat hiasan tersebut dan wanginya yang memenuhi ruangan. Mereka tertarik memberikan lontaran pertanyaan. Dari ketertarikan mereka bisa disimpulkan sendiri bahwa Camelia punya peluang bisnis menjelang Idul Fitri. Berjualan di Pantai Losari, hasilnya jualan Camelia laku keras diborong pembeli.

"Responnya sangat bagus, orang penasaran dengan kerajinan ini," jelasnya.

Bisnis serius


Dia merasa bisnisnya bisa dipasarkan lebih luas. Selepas Idul Fitri jualanya menyebar dari mulut ke mulut. Dibantu anak ketiganya, Adel, bisnis kerajinan sabun semakin dikenal masyarakat. Adel membantu pula promosi lewat sosial media. Pesanan semakin banyak lewat promosi semacam tersebut.

Dia juga ikut berbagai ajang promosi usaha kecil dan menengah. Juga ikut berbagai pelatihan wirausaha, seperti tentang bagaimana berpromosi, cara mencari modal, hingga produk mereka semakin luas dalam hal jangkauan penjualan.

Bunga buatan mereka pun ikut dipamerkan di acara pameran Menteri Koperasi dan UKM. Yang mana tiap pot ukuran besar dihargai Rp.150 ribu. Terhitung murah karena waktu pengerjaan mencapai 2 mingguan. Dan yang kecil dijualnya Rp.50 ribuan, usaha ini menghasilkan untung Rp.500 ribu per- bulannya.

Meskipun kecil, dia tidak menyerah, masih ada pasar yang tengah digalinya lagi. Untuk membuat satu pot atau 25 tangkai, dibutuhkan tiga sampai empat batang sabun. Sabun tersebut diparut kecil- kecil, hingga jadi serbuk, diberi air dijadikan adonan yang gampang dibentuk.

Setiap rangkaian dibentuk dengan lem. Kemudian diberi batang besi panjang sebagai dahan. Nah, kalau hal daunnya dibuat dari daun plastik. Ditempel ke bunganya hingga membentuk indah. Bunga akan mengeras dalam waktu. Soal wanginya bisa bertahan sampai empat bulanan.

Gunakan plastik yang dilubangi, dibungkuskan ke bunga, tujuannya agar wangi jadi lebih awet tahan lama. Produk ini juga ditawarkan ke pihak hotel, atau perusahaan- perusahaan. Optimis bisnis ini berkembang bahwa ketika mereka sadar akan produknya. Pastilah pesanan akan membanjiri dia ketika sudah berhasil.

Kisah Mualaf Pengusaha Berwirausaha Khanz Hijab Bogor

Profil Pengusaha Juwita Karo Karo




Ada hikmah dibalik pristiwa. Sejalan dengan pencariannya akan Tuhan, siapa sangka nasib membawa Juwita Karo Karo, bisa menjadi salah satu pengusaha hijab ternama. Dari kecil dia mengaku sudah merasakan ketentraman ketika Adzan berkumandang. Juwita adalah CEO sekaligus pemilik Khanz Hijab Bogor.

Memeluk Islam sejak 2008 silam, perjalanan hidupnya sangat getir dan berbeda 180 derajat jika nanti kita bandingkan dengan bisnisnya. Penampilan Juwita tidak seperti sekarang. Lahir dari keluarga Kristen yang taat. Juwita terasingkan dari keluarganya karena masuk Islam.

Hanya berbekal pakaian di badan, sepasang sepatu, Juwita hijrah ke Bogor mencoba mengadu nasibnya. Ia dimana- mana tidak diterima keluarga. Tidak punya apa- apa. Juwita seolah putus asa, mulai melangkahkan kakinya mencari tempat tinggal sementara.

Badannya yang lusuh karena memang sudah lama tanpa tujuan -sudah seperti pengemi-, mereka yang ia tanyai memilih menghindar. "Saya benar- benar hampir putus asa," kenang dia.

Kisah susahnya menjadi mualaf


Memang tahun pertama menjadi mualaf sangat keras. Selain penolakan dari keluarga, hal lainnya adalah ia harus segera memperdalam ilmunya. Kenyataan bahwa dia sekarang sendiri berbahaya. Jika tidak karena iman kuat mungkin Juwita tidak akan bertahan kala itu.

Kehidup ekonomi juga terbolak- balik. Jika dulu dia berkecukupan sekarang susah. Untuk makan saja dia tidak mampu. Waktu itu masih SMA kemudian mau meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. Sampai di Bogor, dia menuju Universitas Ibun Khaldun, dimana ada pendaftaran mahasiswa baru.

Tidak punya apapun Juwita nekat menghadap Rektor. Waktu itu Rektornya, Prof. Ramly Hutabarat, dia memohon kepadanya langsung. Karena iba Rektor memberinya kesempatan, dan bahkan memberikannya beasiswa. Prinsip keluarga masih tertanam mengakar bahwa "tangan  di atas lebih baik dibanding di bawah."

Konsekuensinya dia bekerja keras agar membuktikan. Mengganti biaya masuk Rp.6,5 juta. Dia harus bisa hingga siap bekerja sambilan. Dia menjadi reseller gorengan di kampus. Karena saking rajinnya Juwita mau mengganti uang tersebut. Dia dikenal bukan sebagai mahasiswa tetapi penjual gorengan.

"Sampai seluruh dosen dan mahasiswa UIKA kenal dengan saya, bahkan saya ini dianggap tukang jualan gorengan, bukan mahasiswa UIKA," tujuh tahun silam ketika dia memulai hidupnya dari nol kembali.

Berangkat jam 07.00, tidak pernah malu berjualan gorengan keliling kampus. Padahal kuliah mulai pukul 09.00. Ketika kuliah jalan dia tetap menjajakan dagangan ke teman- temannya.

Hidayah datang ketika dia mempertanyakan tentang adzan. Kenapa di agama Kristen tidak ada adzan yang berkumandang. Sebuah perasaan ingin tau luar biasa. Yang mana dianggap salah oleh kedua orang tuanya. Bukannya mendapatkan jawaban malah Juwita dilarang menanyakan hal semacam itu.

"Ma, kenapa sih di gereja tidak ada adzan?" tuturnya.

Dia memang terlahir dari keluarga Kristen misionari yang taat. Pengambilan keputusan soal agama tidak boleh gegabah. Meskipun belum bersyahadat, Juwita sudah mulai memakai mukena dan belajar sholat. Ya namanya tupai melompat, sepandai- pandainya pasti jatuh juga.

Sang ibu memergoki dia sedang belajar bacaan sholat. Dia sempat diusir orang tua. Namun tidak berapa lama, dia diajak kembali pulang. Dia diberikan pilihan mau tetap atau menjadi muslimah. Juwita dengan tegas memilih Islam dibanding keluarganya.

Sebagai mahasiswa dan mualaf, Juwita adalah berprestasi dimana banyak organisasi kampus diikuti. Dia salah satu anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), anggota dakwah kampus, dan kegiatan lainnya. Dia sosok mahasiswa berprestasi dengan IPK 4.00 ditengah kesibukan wirausaha dan kuliahnya.

Tahun 2011, dia lulus dengan nilai cumlaud, sang Rektor yang menerimanya dulu lantas memberikan satu pesan khusus. "Perjuangan belum selesai, Juwita," ucapnya. Tawaran bekerja di Bank Syariah sudah bisa dia masuki langsung. Namun dia tolak karena memilih fokus melanjutkan wirausaha di fashion hijab.

Bisnis mualaf


Usaha pertama ialah reseller gorengan. Tanpa rasa malu rutinitas jualan gorengan keliling kampus. Jualan gorengan milik orang demi bertahan hidup buat makan. Tatapan mata Juwita memandang berita tentang kita akan menghadapai MEA. Kita harus mencintai produk buatan Indonesia, harus menciptakan produk baru.

"Saya tidak mau menyerah, apapung yang terjadi, saya terus berusaha," ujarnya.

Mengumpulkan uang kemudian dia berbisnis lain. Dia mencoba beternak lele. Gagal, dia memang merasa ternak lele bukan jalannya. Tidak ada passion bisnis ketika disana. Rugi Rp.30 juta tidak membuat ia merasa putus asa  justru semakin bekerja keras menjemput rejeki.

Kemudian dia melirik bisnis fashion hijab. Berawal dari menjadi reseller, dia mulai menjajakan via online aneka hijab kepada masyarakat. Mulai dari reseller kemudian iseng mencoba mendesain hijab sendiri. Ia mengajak satu penjahit, dia kemudian dibagian pemasaran dibantu empat orang buat pemotongan kain.

Dia mampu menjual 500 potong per- hari. Nama bisnis Khanz Hijab Bogor mampu menarik banyak orang menjadi reseller. Dia mampu menjual sampai ke Malaysia dan Hongkong. Juwita belajar dari siapapun, termasuk belajar dari resellernya, yang menjual ratusan ribu sampai puluhan juta rupiah.

Pengusaha harus punya semangat pantang menyerah. Juga kedisplinan dan kesungguhan. Tidak cuma itu ia menambahkan bahwa belajar kapanpun dimanapun. Belajar tidak lama- lama, cukup 20 menit belajar yaitu terutama sebelum sholat Subuh. "...otak masih fresh," tutupnya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba