Biografi Singkat Pengusaha Hijab Yoya

Profil Pengusaha Yoki Ferdian dan Yuni Putri 



Memang bisnis hijab tengan naik daun. Diantara sesaknya brand lokal di luaran sana. Nama Yoya Hijab ini mungkin tidak kamu tau. Tetapi mereka, pasangan suami- istri, yang tidak menyerah hingga omzet usaha mereka telah mencapai miliaran. Siapa sangka dibalik sukses mereka terselip makan bekerja keras dalam.

Nama Yoya merupakan nama perpaduan Yoki  dan Yani. Dimana 20% pangsa pasarnya merupakan wanita asal negeri seberang. Wanita asal Malaysia, Singapura, Thailand, Australia, Brunei Darusalam, dan juga beberapa negara kawasan Asia Tenggara, menjadi pelanggan mereka.

Berawal dari cuma memproduksi hijab. Kini, mereka kompak mengikuti arah mode muslim, dimana tidak lagi cuma menjual hijabnya tetapi pakaiannya juga.

Bisnis perjuangan


Tidak jarang pelanggan meminta 40% stok lebih. Corak hijab  milik Yoya memang unik. Mereka telah memilik nilai kompetitif melalui 40.000 macam hijab. Dan 30.000 lebih jenis pakaian wanita muslim telah mereka produksi.

Mereka bercerita ada cinta dibalik bisnis ini. Keduanya ternyata sama- sama pegawai toko di Tanah Abang. "Dari situ kami bertemu dan jatuh cinta," tutur Yani. Jika Yani merupakan seorang penjaga toko. Maka si Yongkin adalah penjual kain atau sales kain, bahasa sananya tukang kantau.

Sehari- hari Yani sibuk melayani pembeli, mulai mengamati corak dan memeriksa kualitas kain hijab yang dipesan. Namun selepas menikah total Yani menjadi pengangguran. Disela menganggur timbul rasa bosan. Sampai puncaknya Yani memiliki hasrat membuka usaha hijab sendiri.

Yoki berkisah berawal dari pengalaman jualan kain. Ditambah pengalaman sang istri, Yani, dibidang kain- kain buat hijab. Keduanya bekerja sama membangun bisnis Yoya. Pada 2003 sampai tahun 2012, Yoki disibukan bekerja menjadi freelance jualan bahan ke lapak- lapak.

Bersama istri mulai menjual kain. Waktu itu keduanya belum berpikir berjualan kain hijab. Dimulai cuma berjualan keliling lantas memiliki toko. Untuk bisnis hijab Yoki relakan satu motor kesayangan. Digadai hasilkan Rp.20 juta untuk sewa toko. Uang tersebut ternyata masih kurang karena harga sewa Rp.30 juta.

Sisa uang didapatnya lewat pinjaman bank selama enam bulan. "Modalnya nekat buat modal jualan," ujar Yoki. Ternyata apa dipikirkan Yani tepat adanya tentang bisnis hijab.

Dari awal keduanya memakai nama Yoya. Sejak awal keduanya sepakat membuat desain mereka sendiri. Ia jual dengan cara grosir sampai eceran. Harga eceran memang lebih mahal dibanding grosir. Keunggulan Yoya adalah fokus berbisnis grosir.

Di awal bisnis hijab keduanya bekerja sendiri, sekarang ada belasan karyawan. Jatuhnya harga juga cukup kentara yakni grosiran 480 kodi pasminan Rp.24 ribu, dan eceran Rp.35 ribuan, kalau jilbab segi empat harganya Rp.40 ribu.

"Jilbabnya 580 kodi jatuhnya Rp.29 ribu," paparnya.

Mereka bekerja sama mulai bongkar karung, mengantarkan pesanan, packing, sampai masukin ke gudang. Kemudian sang istri menjadi penjaga toko. Sedangkan Yoki aktif memasarkan lewat sosial media. Yang mana kini dibantu 3 orang, bertugas menyebarkan informasi. "Konveksi ada 14 orang dan jahit 6 orang."

Bisnis tidak disangka


Pria kelahiran Bukit Tinggi, 25 April 1984 ini, berawal dari menjual hijab biasa. Lantas berkembang jadi jualan gamis, blus, rok, hingga baju anak- anak muslimah. Penjualan utama ya lewat toko online mereka yakni www.yoyahijab.com. Juga bisa memesan lewat Instagram, Facebook, BBM, dan sebagainya.

Ia bertutur merantau ke Jakarta tanpa saudara. Sama sekali dia tidak punya pegangan. Langkah kaki Yoki langsung ke Tanah Abang. Patokan Yoki adalah banyak teman bekerja disana. Kerja pertama ya serabutan apapun dikerjakan. Mulai menjaga toko sampai naik kelas menjadi penjual kain keliling.

Dia belajar lewat teman sesama anak rantau. Otodidak dia mulai belajar mengenai segala jenis kain. Lalu sendiri berkeliling ke gudang menjualkan bahan. Dia belajar sendiri bagaimana, kemana, dia akan menjual barang tersebut. "Saya pun ngutang di warteg, tidak mampu mencukupi kebutuhan sehari- hari," jelasnya.

Yah terpaksa dia menginap di rumah teman. Ketika bertemu Yanti keduanya sepakat menikah di 2012. Dia juga mantap banting stir. Karena merasa bahwa kini sudah memiliki tanggungan. Dia mau membuka usaha tetapi tidak tau usaha apa. Dimulai bermodal kain pinjaman 5 kodi dirubah menjadi hijab.

Ia mencari dimana tukang jahit terbaik. Dia ingat ketika itu malam hari. Mencari tukang jahit yang lantas membuat hijab bermotif polkadot. Cukup satu jam sudah beberapa hijab dijahit. Bahan digunakan Yoki kala itu terbilang unik karena belum dipakai dimana- mana, yakni kain sutra salju.

"Sempat dicemooh teman- teman tapi saya cuek saja," kenangnya.

Karena kurang variatif maka barang tidak laku. Ujung- ujungnya bahan andalan Yoki akhirnya dicontoh. Ia tetap tidak patah semangat. Bertahap dia memperkenalkan kepada masyarakat. Bertahap sampai 5 kodi hijab polkadot tersebut terjual.

Istri Yoki senang sekali memberikan kabar tersebut. Dia yang sibuk promosi di luar, memutuskan buat memproduksi lebih banyak dan menambah corak. Ancang- ancang ambil untung Yoki ditekan sampai cuma untung Rp.4- 5 ribu dulu. Awal sekali keduanya berjualan di depan toko orang lain, belum punya toko.

Kalau toko tersebut buka maka lapak kecil pindah. Sang istri harus ikut pindah membawa jualan mereka. Ia mengenang tiga kali pindah lapak. Cuma bermodal jualan di emperan untungnya mencapai Rp.30 juta per- bulannya.

Tahun 2013, menyewa toko sendiri, dia menyewa di lantai 5 yang dikenal sepi. Namun lambat laun berkat marketing gencar tokonya jadi ramai. Bahkan menjadi paling ramai dibanding toko lainnya. Setahun sudah berlalu dan Yoki membeli toko dengan harga Rp.270 juta.

Semakin bersemangat dia mamproduksi sampai 5000 potong/bulan. Dia juga sudah tidak lagi menumpang menjahit. Awal tahun 2015, keduanya makin mantab karena berbisnis satu paket, tidak cuma hijab tetapi sudah satu dengan pakaian muslimnya. Pertama kali ia mengenang membuat model blouse muslimah.

Dia "mencontek" model di Tanah Abang. Kemudian meminta penjahit dijahitkan. Awal mencoba pasarnya dengan memproduksi sedikit. Ternyata malah ludes diborong penggemar brand mereka. Maka mereka lalu merambah rok sampai gamis.

Omzet bisnis memang tidak diragukan. Dibelakang Yoya Hijab sudah ada 600 reseller. Bahkan ada orang meminta dijadikan franchise macam Rabbani. Sekarang sih dia ingin membuka toko sebenarnya. Inspirasi Yoki adalah brand pesaing yang memiliki nama dan toko dimana- mana.

Dia berkisah usahanya membantu banyak orang. Berkat mereka pula usaha Yoki dapat sampai sekarang. Ia menyebut mereka juga memberikan andil soal desain. Mereka reseller ambil contoh seorang pegawai bank sudah bisa resign dan menghasilkan untung lebih dari gajinya.

Puluhan ribu corak bunga sudah siap. Agar menyenangkan reseller, ia memberikan aneka hadiah berbekal poin reseller. Hadiahnya mulai dari handphone dan lainnya. Sampai juga laptop dapat didapatkan berbekal poin penjualan.

Biografi Rudy Hadisuwarno Sejak Kapan Buka Salon

Perjalanan Karir Penata Rambut Rudy Hadisuwarno 



Dia bukanlah terlahir sebagai orang hebat. Alkisah lahirlah seorang anak bernama Rudy Hadisuwarno. Dia adalah putra dari pasangan (alm) Iskandar Hadisuwarno dan juga Tresna Lestari Sutedjo. Lahir ke dunia tepatnya 21 Oktober 1949. Tepatnya ketika agresi militer Belanda kedua datang ke Tanah Nusantara kita.

Ia hidup bahagia. Sebagai anak kecil, Rudy tumbuh normal selayaknya anak- anak seumuran. Dalam sebuah wawancara dia meyakinkan hal tersebut. Bisa dilihat dari senyum terkembang Rudy senang. Meski hidup dengan sederhana toh dia tidak minder.

Ia terlahir di Kota Pekalonga. Di masa kecil tidak ada ingatan istimewa. Yah selayaknya anak kecil biasa, Rudy kecil menikmati bermain, sementara itu sang ibu mengerjakan salon di rumah. Sebuah salon kecil yang diakui oleh masyarakat kota. Ibu Rudy diakui menjadi salah satu penata rambut mahir di Kota Batik.

Bisnis salon


Banyak pelanggan datang ke salon kecil ibu Rudy. Hampir setiap hari Rudy kecil mampir ke salon. Tidak cuma mampir atau meminta uang jajan. Rudy malah asik mengamati ibu bekerja. Dari sanalah, mungkin ia mulai merasakan ketertarikan akan dunia salon atau tata rambut.

Rudy langsung mengatakan terus terang. Akhirnya ibu Rudy mengajarinya banyak tentang tata rambut. Dia belajar bagaimana menata rambut, memotong rambut, dengan baik dan benar. Kalau ibu Rudy merupakan seorang pengusaha salon. Maka ayahnya juga bukanlah orang biasa karena dia juga seorang pengusaha.

Kalau dikenang, sebenarnya ayah mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Tapi yah, memang ibu Rudy, itu orangnya tidak mau berdiam diri di rumah. Disulapnya sebagian rumah menjadi salon kecil- kecilan. Ayah Rudy merupakan pengusaha pembuat pewarna batik.

Usaha salon ibunya hanyalah sebagai pengisi rutinitas. Dari salon lah Rudy mendapatkan keahlian menata rambut. Sementara sisanya merupakan bakat wirausaha kedua orang tua. Ayah dan ibu Rudy sangat peduli akan pendidikan anak- anaknya. Dia, si sulung, dan ketiga adiknya tidak pula kehilangan perhatian mereka.

"Ayah saya orangnya tegas dan disiplin," ungkapnya. Dimana sang ibu lebih ke memberikan kelembutan ke anak- anak mereka.

Rudy kecil menghabiskan masa kecil di Pekalongan. Dia merupakan alumni SD Santo Pius yang sukses. Ia kemudian masuk sekolah negeri bergengsi, SMP 2, tetapi terpaksa pindah karena ayah Rudy karena jika tetap di Pekalongan dirasa tidak baik. Di Pekalongan ternyata tidak ada sekolah SMA buat anak- anaknya.

Tahun 1963, mereka sekeluarga berangkat ke Jakarta, dan Rudy bersekolah di SMPK II Pembangunan buat melanjutkan SMP. Kemudian ia masuk ke SMA Kristen 1, Jakarta. Masuk 30 September gerakan komunis mulai meraja- lela. Keadaan politik di Ibu Kota memang tengan terguncang menjadi perhatian kalayak.

Rudy merasakan kegetiran dalam masa tersebut. Mangkanya ketika sudah lulus SMA, Rudy tidak langsung melanjutkan ke kuliah. Rudy merasa dia masih haus akan pengetahuan. Oleh karena itulah dia memilih buat mengisi waktu luang dengan kursus. Apalagi kalau bukan dia memilih kursus potong rambut.

Dia digerakan oleh hobi. Berjalan lah kursus pertama di salon bernama Salon Robby. Dia belajar dengan sang pimilik langsung yakni Vivian Rubianty. Waktu itu dia juga belajar cara Vivian mengelola salon. Saat itulah ia meyakini tata rambut merupakan pilihan karir. Berlanjut Ruddy kemudian membuka usaha salon sendiri.

Marketing cerdik


Ia tidak langsung sukses. Pertama kali membuka Rudy tidak memiliki pelangga. Hanya seorang teman satu kampus yang mau potong rambut di tempatnya. Beranjak waktu dengan ketekunan Rudy pun meraih hati masyarakat. Satu pelanggan puas membuat Rudy makin percaya diri mendalami.

Dia mulai yakin akan karir penata rambut. Kualitas layanan ditingkatkan, sedikit- demi sedikit masyarakat mulai mengenal salon Rudy. Marketing mulut mampu menemui sasaran utama. Tetapi tidak mau sekedar orang tau bahwa dirinya jago. Ia rela banting harga agar nilai jualnya semakin tinggi.

Istilahnya kalau lebih baik tapi murah, kenapa milih yang mahal. "Bila salon lain tarifnya Rp.3000, maka di salon saya separuhnya," Rudy menjelaskan. Pelanggan baru yang dulunya cuma kenal nama. Mereka yang ingin membuktikan kualitas Rudy jadi lebih mudah.

Pelanggan baru datang membawa pelanggan lain. Dari cuma menerima pelanggan yang datang ke salon -tepatnya di rumah yang dijadikan salon-, Rudy mulai menawarkan jasa layanan panggilan. Ia dengan cara menerima potong rambut di rumah berhasil. Jadilah semakin bertambah jumlah pelanggan ditangani oleh Rudy.

Karena pelanggan terkadang rumahnya jauh. Rudy sedikit kerepotan kalau harus dipanggil. Memang nama Rudy sudah cukup terkenal lah. Untuk ini ayah Rudy membantu mengantarkan. Semakin lama salon kecil tersebut dikenal banyak orang di Kota. Hasilnya Rudy membuka salon sendiri dengan ukuran 8x9 meter.

Salon tersebut sudah tidak menjadi satu dengan rumah. Dalam salon sudah ada kaca rias besar berbahan dari kaca bekas lemari pakaian ibu Rudy. Peralatan salon juga semakin lengkap dibeli bertahap. Untuk meja cukup pakai meja bekas meja makan rumah. Bak pencuci rambut cukup pakai baskom kaleng bekas.

Pengering rambu tinggal pakai punya orang kebanyakan. Pokoknya pertama kali serius membuka salon itu cuma seadanya. Karena masih berkuliah alhasil salon Rudy cuma buka sore hari.

Bisnis passion


Setahun dia menjalankan rutinitas ngampus dan nyalon. Selepas kuliah mantap Rudy ingin fokus. Setahun sudah dia mengelola salon sederhana. Hasrat menjadi penata salon kenamaan makin kuat. Ia ingin menjadi lebih profesional. Meski, tahun 1970 -an, pengusaha salon identik dijalankan oleh ibu- ibu rumah tangga.

Tahun tersebut salon masih dirasa sambilan. Tetapi di mata Rudy merupakan potensi karir. Di kedua mata seorang Rudy melihat prospek cerah usaha salon. Hingga dia mulai berpikir untuk menekuni karir sampai ke luar negeri.

Berbekal nekad, Rudy menerima ajakan Robby sekolah penata rambut ke Hongkong selama dua minggu. Ia begitu pulang dari Hongkong makin bersemangat. Rudy ingin sekali menuntut ilmu lebih soal menata rambut. "Saya menabung dengan susah payah," tambahnya.

Uang tersebut kemudian digunakan berangkat ke London. Mulai tahun 1971 selama enam bulan dia belajar tentang tata rambut. Sudah banyak pengetahuan serta pelajaran didapat Rudy. Keahlian miliknya semakin terasah saja.

Kemudian dia mendaftar menjadi penata rambut modeling di Jakarta. Karir penatan rambu profesional dia jalani semakin menanjak. Padahal Rudy awalnya ingin sekali menjadi seorang arsitek. Namun lambat laun rasa cinta membawa ke dunia penata rambut. Ketika kuliah arsitek Universitas Trisakti tidak bersemangat.

Juga karena dia kesulitan membagi waktu antara karir dan kuliah. Hingga tahun 1972, diambil keputusan bahwa, Rudy memilih berhenti mengejar cita menjadi arsitek. Dia malah ingin berkuliah sampai ke Paris, berkuliah tata rias di kota fasion.

Dari menjadi penata rambut profesional orang. Dia membuka kembali salon sendiri. Lambat laun bidang usaha Rudy mencakup kursus tata rambut pemula. Masuk tahun 1974 kemudian ia mengembangkan bisnis salonya. Dia membuka cabang bersama Grace Soebekti, salah satu muridnya.

Nama Rudy Hadisuwarno makin berkibar saja. Sebagai pribadi mampu melampaui batasan negera. Nama Rudy sudah masuk Intercoiffure, yakni organisasi penata rambut asal Paris, Prancis. Pengakuan datang dari rekan sesama penata rambut dari luar negeri. Dia menjadi anggota organisasi penata rambut dunia.

Ia pernah mendapat penghargaan Satya Lencana oleh Presiden Soeharto. Sejak 1998, namanya tercantum dalam buku bertajuk Who's Who in The World. Dimana dirinya didapuk sebagai orang profesiona dan juga terkenal di bidangnya. Walau banyak penghargaan Rudy masih merasakan belum sukses.

"Sukses itu relatif ya". Mendapatkan berbagai penghargaan, didapuk menjadi juri di berbagai kontes tata rambut, baik dalam dan luar negeri. Dia didapuk menjadi vice- chairman Persatuan Ahli Tata Kecantikan Kulit dan Rambut Indonesia- Tiar Kusuma.

Bisnis Rudy mencangkup Rudy Hadisuwarno Organization (RHO) yang memiliki 147 cabang salon. Juga termasuk sekolah tata rambut. Rudy mengajak kedua adiknya, Haryadi (55) dan Gunawan (51), menjadi pengelola manajemen perusahaan. Sementara adik perempuan, Yani (54), yang memilih bekerja menjadi arsitektur.

Harapan bisnis Rudy adalah mencapai pasar luar negeri. Dia ingin membuka salon di luar negeri. Kalau ia bicara tentang pendamping. Yah Rudy menyerahkan kepada waktu menjawab.

Menghadapi masalah bisnis


Rudy sadar bahwa menata saja tidak cukup. Seorang ahli rambut harus mampu menciptakan. Dan sebagai seorang pengusaha sudah banyak inovasi diluncurkan. Aneka gaya rambut diciptkan Rudy khusus buat para pelanggan. Rudy pun memanfaatkan seorang "pelanggan setia" menjadi kelinci percobaan inovasi rambut.

Dia tidak lain adalah sang adik perempuan. Adik Rudy selalu mau ketika ditawari gaya rambut baru. Tidak sedikit sang adik komplain. Mulai dari merasa gaya rambut tersebut terlalu kependekan. "Kenapa kok jadi begini," ia menirukan Yani. Tidak jarang sang adik merasa kecewa atas hasil karya tangan Rudy kala itu.

Untuk menjawab rasa kecewa tersebut. Rudy siap berkaca akan gaya dihasilkannya. Perbedaan akan selera setiap orang diakui Rudy ada. Rudy menjadi sosok berhati- hati soal berinovasi. Meski begitu sebagai sosok pengusaha dirinya tidak akan pernah kapok membuat trobosan bisnis.

Apapun orientasi pelanggan akan coba diwujudkan Rudy. Disisi lain banyak halang rintangan lain datang dari pesaing. Suatu ketika muncul isu miring tentang salon Rudy. Katanya ada pelanggan mati karena kena steamer ketika creambath. Isu dihebuskan bahwa wanita tersebut juga merupakan istri seorang jendral.

Isu lain menyusul bahwa Rudy masuk penajara karena lalai. Kabar- kabar miring tersebut sudah menyebar membuat geger semua masyarakat sampai ke polosok. Namanya memang sudah disejajarkan dengan para tokoh publik. Alhasil salon yang biasanya melayani 70 pelanggan tiap hari, menyusut sampai sisa 3 orang.

Dia mencoba berpikir jernih menyelesaikan masalah. Langsung Rudy mengundang pewarta. Memberikan pengumuman besar- besaran mengklarifikasi. Cara menaikan pamor lagi ala Rudy, ialah menciptakan logo perusahaan berbentuk huruf R. Maksudnya agar memperkuat brand sampai ke tingkat paling pelosok.

Tidak berhenti disana, masalah besar lain ada yaitu dengan rekan kerja Rudy. Waktu itu My Salon dan Rudi menghadapi perselisihan. Katanya karena ada beda persepsi tentang bisnis. Sisi lain My Salon memiliki hak mencantumkan nama Rudy dibawah nama salonnya.

My Salon mengaku sudah ada kesepakatan. Disisi lain, Rudy tidak mengakui hak mereka, lantara pihak My Salon sudah melewati waktu perjanjian. Masalah tersebut digugat dan memenangkan pihak Rudy sebagai pemilik brand Rudy Hadisuwarno.

Merubah Nasib Lewat Wirausaha Eceng Gondok

Profil Pengusaha Sambina Alfrina 



Keinginan merubah nasib membawanya. Ini kisah Sambina Alfrina. Ia hidup sebatang kara di Tangerang. Dia ditinggalkan sang suami. Tidak memiliki pekerjaan. Dia adalah perantauan asal Purbalingga. Semua ia lakukan untuk mencukupi kebutuhan, tidak ada keinginan muluk ketika memulai usaha eceng gondok.

Bahkan dibenaknya apakah mungkin berhasil. Keraguan tersebut dibayar melalui aneka pelatihan. Untung karena PT. HM. Sampoerna tengan mensponsori acara. Sebuah acara pelatihan wirausaha oleh Dewan Kerajinan Nasional atau Dakernasda.

Dimulai tahun 2013 dengan bermodal seadanya. Dia mendapatkan pelatihan: Bahwa eceng gondok punya kemampuan diolah menjadi kreasi tanpa batas. Yang dibutuhkan Sambina Alfrina hanya imajinasi dan kreatifitas. Bermodal uang Rp.1 juta dan peralatan dari Sampoerna dimulai lah.

Bisnis sederhana


Dia bersama beberapa ibu bekerja sama. Mereka memanfaatkan limbah enceng gondok. Memang daerah mereka banyak ditumbuhi tanaman gulma ini. Dari membuat kerajinan tas tangan, pot bunga dan sepatu. Ia mampu menghasilkan untung Rp.2 juta per- bulan. Ini sudah mencukupi tanpa mengandalkan pendapatan suami.

Tidak gampang tertulis diatas. Ia merasakan masalah datang. Kebutuhan biaya produksi menjadi kendala utama. Kembang kempis dia mencoba bertahan pertengahan 2013 silam. Untungnya dia tidak berhenti di tengah jalan. Meski berhenti sesaat, dia langsung bangkit dan memulai kembali usaha.

Tidak cukup uang buat menyetok eceng gondok. Apalagi ketika musim penghujan tiba. Dia terpaksa buat berhenti. Alhasil dia tidak menjual dan menggaji pegawai susah. Awalnya dia membuat produk tempat tisu dan tas. Sambina tidak patah arang terus belajar membuat lebih komplek.

Disisi lain, dia juga memberikan pelatihan kepada masyarakat, mereka bersama terus meningkatkan daya jual mereka. Tahun 2014 dirinya dikirim menjadi instruktur di Madagaskar. Uang memberi pelatihan ia gunakan kembali menjadi modal usaha.

Ia kemudian menyetok bahan baku. Mengkombinasikan dengan bahan baku lain. Sambrina telah mampu menciptakan produk diversif tidak monoton. Bahan lain syaratnya harus ramah lingkungan. Mulai bahan kain batik daur ulang, tali tegel, ataupun pralon bekas. Pegangan tas, contohnya dibuat dari pralon bekas loh.

Proses pembakaran dilakukan agar pralon lunak. Ataupun cukup diamplas saja. Dia membuat produknya jadi sebagus mungkin. Kualitas produk sudah dipahami wanita ini. Semua produk bagus, tentu juga relatif, tergantung persepsi pembeli tentang produknya.

Bisnis untung


Usaha dibawah bendera Putri Eceng. Sedikit banyak membantu membersihkan rawa dan saluran irigasi. Ia juga menciptakan karpet eceng godok darisana. Produk karpet lumayan diminati masyarakat. Bahannya jadi empuk serta tidak panas ketika cuaca panas. Benar- benar cocok buat kamu yang mau jalan- jalan.

Meski sederhana semua dijamin. Ina, begitu panggilan akrabnya, mampu mengkonsep produk semenarik mungkin. Bukti sukses Ina ya salah satu anggota DPR RI, Indah Kurnia, menggunakan produk Ina. Ketika ia melihat produknya langsung diborong loh.

Dua tas langsung dibeli dia loh. "Salah satunya adalah tas eceng gondok dengan pegangan dari pipa pralon yang dibakar," imbuhnya senang.

Harga jual produknya terbilang tidak mahal. Ya satu tempat tisu dijual seharga Rp.20.000. Untuk tas harga jual Rp.150.000 dan karpet sampai Rp.350.000. Bersyukur Sambina kini dibantu delapan orang pegawai. Kalau ramai mengajak tetangga lewat lima kelompok pengrajin membantu.

Meski sudah sukses dirinya tetap mengajar sesama. Ia mengajak semua orang menjadi pengusaha bidang sosial sepertinya. Wanita kelahiran 1974 ini banyak mengajak warga sekitar rumah. Dia langsung tidak ragu membagikan pengetahuan. Baginya membagi ilmu menjadi salah satu media beramal mudah.

Total satu kuintal eceng gondok dipakai. Mereka diangkat dari rawa, dikeringkan sampai kadar air hilang, diperas sampai benar kering. Kemudian Ina bersama pekerja akan menganyam. Produk dibutuhkan waktu 1- 2 hari kalau mudah. Paling sulit ialah membuat karpet dari bahan eceng gondok karena ukurannya.

Dalam sebulan usahanya menghasilkan 15 item- 20 item. Ia mengaku untuk sekarang omzetnya mencapai Rp.10 juta. Ini berkat penjualan sampai ke Jakarta, Bandung, Cianjur, Tasikmalaya, Surabaya, bahkan ke Makassar. Ia juga membuka showroom di gedung SME Tower Jakarta.

Konsumen asing benar- benar tertarik dengan karpet. Salah satunya pembeli asal Jepang menjadi langgana karpet.

Menakar Untung Bisnis Zaza Salon Muslimah

Profil Pengusaha Sukses Laili S



Menjadi pengusaha salon memang gampang- gampang susah. Munculnya salon khusus muslimah seolah menjawab keraguan. Benar- benar salon, memberikan pelayanan prima buat kecantikan wanita. Pengusaha asal Kudus ini berawal dari salon kecil menjelma menjadi besar.

Pelayanan ujung rambut sampai ujung kaki. Wanita bernama Laili S, mencoba menjabarkan tentang usaha dijalankan sekarang. Usaha yang memiliki pelayanan setara salon biasa. Baik pelayanan creambath, hair spa, hairmask, coloring, dll, sudah ada. Kemudian dikombain spa miss V dan totok aura membuatnya beda.

Laili meyakini pelayanan diberikan beda. Sangat berbeda dengan salon pada umumnya. Apalagi sebagai seorang muslim berjilbab Zaza Salon memang buat kaum hawa nyaman.

Bisnis muslim


Meski mengkonsep bisnis salon muslimah. Laili meyakinkan pelayanan mereka tidak kaku. Wanita dari kalangan manapun dapat merapat. Ia meyakinkan kaum Adam cuma menunggu. Area perawatan dibuat oleh Zaza sangat steril. Hairstylist dan Kapster memakai pakaian muslimah yang membuat nyaman.

Karena pakaian tertutup bukan berarti mereka tidak terampil. Ia meyakinkan bahwa mereka telah lulus tes. Pengusaha mantan pegawai BUMN, sebuah Bank, ini telah mendapatkan testimoni memuaskan dari para wanita muslimah.

Sukses membuat Zaza makin berjaya di Kudus. Bahkan nih ada salon mengaku- ngaku cabangnya. Padahal Laili belum membuka cabang kala itu di Kudus. Melihat potenis dia mengisaratkan melalukan ekspansi membuka cabang. Sejak 2010, Laili resmi membuka cabang lewat usaha berbasis waralaba salon.

Cabangnya sampai ke Cirebon, Malang, Probolinggo, Cilegon, Pangkal Pinang, Medan, dan Yogyakarta. Ia mengisaratkan akan terus mengembangkan sayap bisnisnya.

Berawal dari merasa kesulitan menemukan salon muslimah. Dia merasakan susah mencari salon yang pegawainya muslimah satu muhrim. Bermodal Rp.100 juta dirinya mantap membuak salon di Kudus. Ia menambahkan kelebihan usahanya pria tidak boleh jadi pegawai dan pria tidak boleh masuk area.

Omzet per- outlet Rp.45- 50 juta per- bulan. Dimana kontrak waralaba selama tiga tahun. Selama itu para mitra akan mendapatkan penghasilan 100% masuk kantung. Semua kebutuhan sudah disediakan pihaknya dan siap jalan.

Donat Thailand Diwaralabakan Daddy Dough

Profil Pengusaha Peter Thaveepolcharoen 




"Saya suka bisnis donat ini jadi saya tidak pernah gentar untuk tidak menyerah," tulisnya. Sebuah kisah dari pengusaha muda asal Thailand, Peter Thaveepolcharoen, seorang direktur perusahaan waralaba bernama Daddy Dough.

Ia menceritakan bahwa bisnis bukan hal lama. Ini merupakan bisnis keluarga. Namun, hanya dari sentuhan tangan dingin Peter, usahanya berkembang menjadi tiga gerai utama. Selanjutnya usaha pemuda 27 tahun tersebut adalah membuka waralaba atau franchise global.

Alkisah dia hanyalah pegawai IT. Pekerjaan dengan gaji 100.000 bath. Nyaman bekerja saja ternyata tidak cukup. Dalam ketidak mungkinan, apapun bisa terjadi Peter malah memilih keluar dan membuka bisnis. Ia bermodal resep keluarga. Kesulitan justru dianggapnya menjadi karena dia masih lah sangat muda.

Kini pria 33 tahun ini sudah memiliki perusahaan besar. Nama Daddy Dough, berbekal resep sang ayah, sudah sangat dikenal di telinga masyarakat Thailand. Kepada IndoTrading, kisahnya bermula ketika umur masih 23 tahun, dan ia sempat bekerja selama dua tahun menjadi pegawai IT.

Bisnis tekat


Ia suka IT tetapi bukan passion. Berwirausaha merupakan panggilan hati. Inilah dirasakan Peter ketika ia mengeluhkan alur kerjanya. Bercerita ke ayah malah membuahkan ide berwirausaha. Sang ayah justru jadi orang pertama yang mendorong anaknya menentukan nasib.

Dorongan tersebut dibuktikan lewat pengunduran diri. Reaksi ayah ya tetap meyakini bahwa Peter akan jadi sukses. Lebih sukses lagi dibandingkan bekerja menjadi pegawai IT. Terbukti bisnisnya telah sukses mengantungi untung 15 sampai 30 kali lipat gaji ketika menjadi pegawai dulu.

Bayangkan dia mampu mengantungi omzet 80 juta baht global. Latar belakangan pendidikan pun tidak jadi masalah. Seorang lulusan sarjana komputer dan kemudian pindah ke jurusan manajemen. Tidak nyambung lagi dengan bisnis donat, Peter merupakan lulusan travel industry management.

Selepas sekolah menengah sebenarnya dia sudah disuruh. Ayah Peter mengajaknya membesarkan bisnis donat milik keluarga. Justru ketika dia tertekan dengan rutinitas pegawai. Perasaan bahwa bekerja bukan jadi passion -nya muncul -tetapi berwirausaha sendiri.

Meski ditangan Peter baru berjalan setahun setengah. Optimisme tinggi ditambah passion akan wirausaha tidak tertandingi. Kebetulan fakta bahwa bisnis donat belum begitu populer di Thailand. Sentuhan tangan anak muda membuat Daddy Dough memiliki cita rasa sehat mengikuti perkembangan jaman tidak jadul.

Ketika masuk ke bisnis keluarga bukan mudah. Ketika itu bisnis ayah sudah berbentuk restoran. Dan dia tidak mau tuh menjalankan restoran. Dianggapnya sistem yang sudah ada sudah terlalu mapan. Inilah pula alasan kenapa dia tidak mau melanjutkan usaha keluarga.

Dimarahi jadi pegawai


Tidak mau melanjutkan usaha keluarga. Ia malah bekerja menjadi akun eksekutif di perusahaan software. Ayahnya sempat marah tetapi pasrah. Ketika kebosanan rutinitas kerja datang ke Peter. Dia sendiri malah yang datang kepada ayahnya.

Inspirasi terbesar Peter adalah Roti Boy. Sebuah bisnis berkonsep seperti Krispy Kreme -nya Amerika. Sebuah fenomena waktu itu katika dia ke Bangkok. "Saya ingin membuat kembali fenomena," ia tambah. Demi menghormati ayah maka dia menggunakan resep ayah.

Bisnis dia imajinasikan ternyata lumayan. Uniknya dia membuka satu toko donat kecil diantara restoran sang ayah pada Agustus 2006. Penjualan ternyata bagus loh tetapi masalah ketika membuka cabang ke Siam Paragon di Desember 2007. Butuh waktu sepuluh bulan, akhirnya dia bisa membuka hingga brandnya dikenal.

Ia berkisah banyak orang gagal. Mereka gagal ketika membuka bahkan tempat kecil di mall. Inilah kenapa Peter mendapatkan tentangan dari ayah. Yah tetapi keduanya akhirnya sepakat bekerja sama untuk melaju ke depan. "Kamu tidak benar bisa memisahkan kehidupan pribadi dan bisnis," terang Peter.

Paling tidak dia dan ayah bisa saling jujur. Tidak diam ketika berbisnis hingga saling menyalahkan diakhir. Membuka usaha sendiri justru Peter tidak punya hari libur. Dia bahkan tidak memiliki malam minggu. Jika kamu pekerja kamu bisa lupakan pekerjaan ketika weekend.

"...tetapi saya tidak bisa," jelasnya. Bahkan ketika dia tengah mendorong keranjang belanjaan. Pikiran Peter akan ke perusahaan yang tengah dia rintis. Tetapi dia menganggap itu kenikmatan tersendiri.

Dia cuma keluar seadanya. Istilahnya kita mencari angin ke pantai ketika malam sabtu. "Saya sangat senang akan pekerjaan saya." Keinginan membuat donat kualitas internasional selalu terngiang. Dia bahkan sudah ingat dan fokus siapa pesaing utama mereka, Mr. Doughtnut.

Ia ingin membuat kita kenal produknya. Kunci sukses bisnis Daddy Dough sampai sekarang diantaranya ada di kualitas bahan baku. Peter menggunakan coklat Belgia yang lembut.

Bisnis waralaba


Dia menggunakan toping coklat Belgia. Ini merupakan pertama bagi negara Thailand. Donat miliknya juga tidak memakai lemak trans, yang mana merupakan andalan kebanyakan perusahaan makanan. Total ada 40 varian donat aneka rasa toping. Kualitas coklat merupakan andalan Daddy Dough tidak sekedar rasa.

Dengan resep rahasia, Peter yakin usaha dijalankannya akan semakin besar ke depan. Bahkan dia jaminkan bahwa tidak ada satupun tau resep miliknya. "Ibu dan ayah saya mengarahkan saya untuk menjadi pengusaha sejak kecil," imbuhnya.

Dia sama sekali tidak tau soal waralaba atau franchise. Dia cuma liat keluarganya sukses waralaba. Untuk mencapai tujuan ekspansi maka waralaba menjadi pilihan. Masalah lain, selain kesulitan ekspansi, ialah ia sulit mendapatkan pekerja berkualitas.

Menurut Peter semua orang bisa membuka toko. Tetapi mendapatkan tenaga berkualitas susah. Ini adalah tantangan lain ketika dia sudah menemukan waralaba. Dia bercerita bahwa beruntung sampai awal, mereka sudah mampu membuka lima cabang utama. Tetapi untuk mendapatkan pekerja berkualitas tidak secepat itu.

Butuh waktu bersama membangun bisnis. Tidak memiliki pengalaman menjadi masalah pengusaha muda. Termasuk pengalaman mencari dan menyeleksi pegawai.

Inovasi dari 15 menjadi 40 merupakan cara. Bagaimana Daddy Dough mencoba tetap berekspansi. Jika ia pertama kali menjual donat 15 baht sekarang 28 baht. Jumlah toko naik sampai 30 cabang tersebar. Dia ingat sepuluh tahun lalu: Mereka menjual 300 donat sekarang mencapai 1500 donat setiap harinya.

Berawal dari seorang pengusaha, ayahnya, yang bernama Somchai Thavepholcharoen membuka toko donat di Amerika kemudian di Thailand. Dimana di Thailand, Somchai malah beralih membuka sebuah restoran, daripada membuka toko donat. Dan ketika ayah Peter melihat bisnis donat lokal berkembang menggila.

Ia mengajak Peter melanjutkan bisnis keluarga. Resep donat andalannya kemudian diwariskan kepada sang anak, Peter. Tidak apa- apa kalau bangkrut Peker berpikir. Pengusaha muda tersebut bermodal 5 juta baht lantas memulai usaha donat.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba