3 Pelajaran Hidup (Bisnis) Kamu Tidak Akan Pernah Pelajari di Sekolah

Bagaimana Belajar Hal Baru Apapun Dengan Cepat



Pernah kah kamu merasakan bertahun belajar sesuatu di sekolah hanya untuk menemukan bahwa semuanya itu tidak berguna, ataupun lebih parah dari itu, semuanya salah?

Tidak ada hal mengecewakan kecuali menyadari bahwa apa yang kamu pelajari di sekolah atau di pelatihan tidak berguna di dunia nyata.
.
Selepas hidup dan bekerja di 6 negara berbeda, dan membiayai startup dari nol menjadi bisnis jutaan dollar hanya dalam 2 tahun.

"Saya menyadari bahwa ada strategi khusus kamu belajar 10x lebih cepat sambil meyakinkan kamu tidak akan membuat waktu belajar sesuatu yang sia- sia," tambahnya.

Kamu dapat belajar tiga hal berikut bagaimana kamu dapat dengan cepat belajar apapun dari nol:

1. Pelajaran #1: Hanya belajar apa yang paling kamu butuhkan

Menurut Heather R. Morgan, Pendiri Salesfolk, ia tidak pernah belajar khusus mengenai sejarah soal Mesir. Karena dia belajar tentang Arab ketika berkuliah. Dia ingin belajar tentang Mesir. Sejarah Mesir, terutama tentang ekonomi negara Spinx ini.

Bagaimana belajar mengenai pertumbuhan ekonomi di Mesir. Menurut Heather belajar tentang Arab bukan berarti akan membantu kamu belajar tentang Mesir loh.

Kamu tidak akan mampu masuk ke daerah pinggiran Mesir tanpa bahasa Arab- Mesir (Amiya). Belajar pun kalau cuma bahasa Arab biasa tidak akan membantu. Daripada belajar bahasa Amiya lewat buku, maka ia memilih belajar langsung ke supir taksi ataupun penjual di pinggiran Mesir.

Jika dia tidak paham akan sesuatu. Ia akan menulisnya di buku. "Saya akan menulis itu jadi saya akan dapat melihat kata itu di kamus atau bertanya kepada seorang teman asal Mesir," Heather bertutur.

2. Pelajaran #2: Bangaun fondasi awal sedini mungkin

Hal pertama yang dia belajar alphabet Arab secara online. Belajar mengenai alphabet mampu membawa dia dapat melihat petunjuk jalan. Mencari tempat maka nyaman di tempat dia berkunjung. Dan yang terpenting adalah dia dapat membuka kamus lebih mudah.

Setelah belajar mengenai alphabet, maka dia dengan mudah mampu menulis puluhan kata, dan frase dia butuhkan untuk hidup, seperti memesan makanan, ngobrol dengan pemilik toko, dan bepergian kemanapun.

Dia juga berlanjut belajar tentang menyapa, sanjungan, dan frase buat menanyakan arah, sekaligus bertanya apa yang dia suka dan tidak. Maka frase inilah menjadi landasan baginya belajar gramer dan menggunakan itu langsung.

Intinya menurut penulis adalah kamu belajar dari hal kecil menurut kebutuhan, maka kamu secara konstan akan belajar keseluruhan.

3. Pelajaran #3: Membuat banyak keselahan menjadi lebih baik daripada menjadi perfeksionis yang tidak pernah mencoba

Ada banyak temannya yang belajar tentang bahasa Arab. Namun, ketika mereka tiba di Mesir, mereka tidak merasa nyaman berbicara Arab dengan orang lokal. Pasalnya dialek Mesir kental membuat mereka yang sudah belajar Arab kurang nyaman. Mereka terpaku kepada buku teks Arab mereka pelajari di sekolah.

Alhasil mereka tidak belajar apapun untuk beradaptasi. Bukannya mencoba sebaik mungkin, mereka malah memilih bertahan dengan kepintaran mereka dan duduk di comfort zone mereka. Mereka memang pintar tetapi tidak berkembang.

Lain hal Heather yang tidak peduli membuat keselahan. Semangat entrepreneurship membuatnya lebih berani dalam mengambil resiko. Tentu, dia berharap tidak akan membuat kesalahan sama sekali, tetapi ia lebih mau memilih berusaha meski mempermalukan diri sendiri daripada tidak sama sekali.

Tentu, beberapa orang lokal akan mentertawakan dia, justru menurutnya itulah ice breaker atau penghancur kekakuan terbaik agar menyatu dengan penduduk sekitar. Berbeda dengan temannya yang sudah belajar bahasa Arab lima tahun, Heather sudah bisa memesan makanan, menelepon taksi, bahkan bernegosiasi.

Dia bisa bernego dengan para pemilik tempat sewa ataupun toko penjual. Strategi inilah yang membantunya masuk ke dalam budaya lokal, tidak cuma di Mesir, tetapi termasuk ke Korea Selatan, Turki, dan negara manapun dia kunjungi.

Dalam 2 tahun dia menyadari pertumbuhan bisnis miliknya tidak dipelajari di sekolah. Menjadi penjual hebat justru datang ketika dia mampu belajar beradaptasi. Dia juga mengandaikan bagaimana developer belajar tentang kode sendiri dan mengaplikasikannya.

Kisah Pelukis Sangkar Burung Ratusan Juta

Profil Pengusaha Sukses Suliyanto 



Cuma lulusan SD bukan berarti berhenti berusaha. Rejeki Allah mengatur itulah prinspi dipegangnya. Ia berbekal kreatifitas menembus batas. Hanya warga Dusun Kedungmas, Kec. Kalitidu, Bojonegoro bukanlah siapa- siapa. Kini pengusaha sukses berbekal airbrush mengecat sangkar burung perkutut.

Namanya Suliyanto pria 36 tahun bermula dari sekedar menekuni hobi. Bapak dua anak ini dengan penuh hati menjelaskan kisah suksesnya. Dikutip dari blokBojonegoro.com, dirinya mengatakan cuma berbekal keberanian saja.

Latar belakang pendidikan membuatnya cukup minder. Berawal dari dia bekerja di perusahaan pembuatan sangkar burung di Sepanjang, Sidoarjo dan daerah Pasar Turi, Surabaya. Ia mulai berpikir berbisnis sendiri mulai 2001 -an. Cukup lama dia bekerja yaitu tiga tahunan. Selepas cukup menimba ilmu maka dia memulai sendiri.

Untuk modal berbisnis dijual lah sapi peliharaan. Ditambah uang tabungan, hasil penjualan sapi tersebut mulai membeli sangkar setengah jadi di Desa Jaddih, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, Madura. Dari mulai membeli kemudian dilukis, Suliyanto belajar membuat sangkar sendiri.

Dengan bermodal cat dilukislah sangkar menjadi indah. Usahanya semakin berkembang karena memang dia minim persaingan. Pasaran meluas sampai Lamongan, Tuban, Gresik, Surabaya, Monjokerto, Cepu, Blora, Grobogan dan sekitar Purwodadi tentunya.

Pesanan naik maka omzetnya juga naik tinggi. Menurut penjelasannya dia telah mampu menghasilkan omzet mencapai Rp.100 juta seminggu. Menjadi pengusaha sukses membuatnya bisa membeli rumah sendiri, mobil pickup, dan dua motor. Apakah pernah ada masalah? Ternyata dia pernah hampir bangkrut karena dihutang banyak orang.

Ia sempat patah arang. Akan tetapi dia tidak mau patah justru semakin berkreasi melalui aneka teknik. Dia melukisa bak artis melukis di atas kanvas. Sempat diutang pemesan sampai hampir tidak balik modal. Ia lalu mengembangkan aneka pola baru.

Pria kelahiran 30 Desember 1979, menjual sangka karyanya relatif tinggi, ya karena memang memiliki nilai seni ya banyak pembeli berminat. Harga antara Rp.110.000 sampai Rp.210.000 per- sangkar. Ada 10 pola paling diminati pelanggan. "...tapi kalau pesan model berbeda akan tetap dilayani," ujar pengusaha sukses ini.

Pola andalan Suliyanto meliputi hewan, seperti ikan, burung, naga, adapula pola pewayangan. Cara membuat dia menjelaskan: Sebelum dilukis diberi palmir atau cat dasar putih. Dia lantas menjemur sangkar di bawah matahari sampai kering.

Untuk lukisan burung dia butuh waktu satu hingga satu setengah jam. Ia menyebut tergantung pada tingkat kesulitan. Terutama bentuk burung merak menjadi tersulit dikerjakannya karena detail. Keahlian melukis di sangkar didapatkan melalui seorang teman asal Kabupaten Sidorjo, Jawa Timur.

Kini dia mengerjakan dibantu oleh 15 orang karyawan. Dia menutup dengan mengajak kalian lulusan sekolah dasar ataupun yang minder akan pendidikan jadilah pengusaha. Bekerja keraslah seperti sosok Pak Sulis dengan bisnis lukis sangkar burungnya.

Semoga artikel ini menjadi pelajaran bagia siapapun dengan latar pendidikan berapapun.

Donat Mungil Malang Diantara Inspirasi Bisnis dan Agama

Profil Pengusaha Putri Priyanti 



Tidak pernah disangka akan sesukses kini. Putri Priyanti hanya seorang ibu rumah tangga. Hingga dia sadar bahwa ada potensi bisnis ditangannya. Melalui makanan donat mampu mengantongi omzet mencapai Rp.25 juta per- bulan. Padahal bisnis ini awalnya sekedar sampingan tidak sangka akan sebesar sekarang.

Ulet, kerja keras, dan pantang menyerah menarik perhatian masyarakat. Lihat saja produk disuguhkan oleh bisnis "kecilan" Donat Mungil. Yang lambat laun untung bisnisnya tidak semungil namanya.

"Saya pembeli online, donatnya enak. Adonan tidak terlalu manis ditoping," jelas salah satu pelanggan Putri ketika diwawancara.

Usaha rumahan bertempat di rumah sendiri, Oma View daerah Pinggiran Timur, Kota Malang. Modal awal cuma Rp.50 ribu kini menjadi buruan masyarakat di Kota Malang. Ibu muda ini mempekerjakan lima orang wanita menjadi bagian produksi dan kurir antar donat.

Dimulai sejak setahun terakhir dan mengambil banyak perhatian masyarakat. Unik karena ia memadukan marketing sosial media serta marketing tradisional. Bisnis Donat Mungil dikemas sedemikian rupa sehingga tidak kalah kemasan dengan produk donat asing.

Aneka toping dibentuk sedemikian rupa jadi imut. Menarik tidak cuma kemasan tetapi topingnya. Coklat berasa enak tidak enek karena kecil mungil.

Harga perkemasan yakni Rp.15 ribu sampai Rp.63 ribu. Donat Mungil Putri Priyanti telah mampu menarik perhatian masyarakat Malang. Cuma suatu kejadian sempat membuat gaduh ramai di sosial media. Meski begitu ia tetap yakin tidak akan mempengaruhi omzet penjualan.

Alkisah sang pemilik mendapatkan orderan donat bertema Natal. Namun karena tidak sesuai dengan apa yang diyakini pemilik sebagai muslim; permintaan itu ditolak halus. Sayangnya, sosial media memang bermata tua, tajam dan tumpul malah membawa masalah tersebut merembet ke arah kebencian.

Secara tegas Putri menjelaskan ini masalah kepercayaan dirinya. Pengguna sosial media menyebut dirinya diluar nalar karena menulis ucapan Selamat Natal bukan hal besar. Bahkan harusnya dilakukan karena telah menjadi satu bentuk toleransi. 

"Sebagai Muslim kita tidak dibolehkan ya untuk seperti itu (mengucapkan selamat Natal)," tegasnya.

Akibat itulah dia mendapatkan cacian pula. Namun tidak sedikit orang mendukung sikap tegas Putri akan kepercayaanya. Apalagi menurutnya kebebasan agama sudah diatur oleh Undang- Undang. Pihak si Donat Mungil sendiri memang tidak menyebarkan SARA, tetapi menolak untuk menuliskan ucapan Selamat Natal.

Pelopor Wirausahawan Muda IT Ridwan eBdesk

Profil Pengusaha Ridwan Prasetyarto



Dia dikenal sebagai pengusaha era 2000 -an. Namanya sempat disebut sebagai pengusaha muda dibawah 35 tahun. Kala itu entrepreneurship masih dalam ketidak pastian. Menjadi pengusaha bukan pilihan utama, internet tidak melaju pesat seperti sekarang, maka inilah kisah Ridwan Prasetyo.

Tidak banyak kisah dapat ditemukan ketika dicari. File artikel diantara tahun 2000- 2009 ditelusuri. Yang pasti dia dikenal sebagai CEO eBdesk. Sebuah perusahaan software perintis bagi masyarakat Indonesia.

"Saya tidak bergaya seperti bos," tuturnya. Hanya orang biasa yang mengambil kesempatan. Berani kah kamu mengambil resiko. Juga bagaimana memasukan gaya berbisnis kamu. Dijamannya sudah menggunakan metode bisnis ala startup yang tidak terikat susunan hirarki.

Yang terpenting pekerjaan harus selesai tegas Ridwan. Sebaik mungkin bagaimana mereka mendeliver setiap produk mereka ke pasaran.

Bisnis software


Mendirikan perusahaan ketika umur 35 tahun. Dia bersama tiga kawannya sejak 1999. Barulah pada tahun 2001 mereka baru masuk ke ranah komersil. Bayangkan mereka memiliki banyak pelanggan besar, antara lain PT. Astra International, Telkom, PT. Rekayasa Industri, Satelindo, PT. Rajawali Nusantra Indonesia juga Pertamina.

Kebanyakan pelanggan dari Indonesia, juga Amerika Serikat, Arab Saudi, dan Malaysia. Didirikan oleh anak- anak alumni Institut Teknologi Bandung (ITB). Kantornya sejuk karena berpusat di Bandung, dimana berhawa dingin sejuk, sebuah rumah dan perkantoran jadi satu memiliki pekarangan luas.

Dari Amerika Serikat, pelanggan bonafitnya adalah Interim Healthcare, jasa outsourcing kesehatan. Kinerja mereka baik dan mampu mengantungi pendapatan Rp.4,5 miliar. Pada tahun 2002 membukukan laba bersih sampai 30%.

Perusahaan software yang melaju mengikuti perkembangan jaman. Dimulai dari perusahaan bernama Optima Infocitra Universal (OIU). Perusahaan perangkat lunak berbasis Microsoft dan Oracle. Dimana mereka ini mengembangkan software costumized. Fokus menangani bisnis khusus, maka eBdesk melepas diri dari OIU.

Sejak pertengahan 1997, Ridwan bersama kawan fokus membangun eBdesk, dimana merupakan jawaban atas ketidak puasan akan perusahaan software kala itu. Perusahaan dimasanya berorientasi proyek dan jasa konsultasi saja.

"Ini menjadikan kita pemakai software bikinan pemain besar dari luar," ujar M. Iqbal Noor, Chief Strategic Alliance eBdesk.

Dorongan memisahkan diri tersebut membuat mereka fokus. Mengerjakan software masal komersil pertama mereka. Namun tidak mudah mendesain perangkat lunak menjadi produk siap pakai. eBdesk butuh waktu sampai satu tahun sebelum akhirnya memasarkan produknya ke halayak.

Mereka bekerja melalui trial and error. Ridwan selaku CEO, mengaku pernah mengalami "salah" desain, yang terjadi karena tidak mampu mengikuti perubahan pasar. Ketika arah pasar berubah maka Ridwan juga harus mengarahkan perusahaan harus berubah. Padahal perusahaanya itu tengah giat mengerjakan software pertama.

"Kami pun terpaksa mengubah lagi desain yang telah kami buat sehingga investasi yang telah dilakukan kami stop," Ridwan menambahkan.

Analisa pasar tajam dilakukan oleh perusahaan. Belajar lewat keselahan mengakat hasil software mereka ke ranah internasional. Akhirnya produk pertama mereka jadi pada tahun 2001 dan telah terjual sampai 500 lisensi lebih. Sebuah software hasil rekayasa seharga $1.000 buat 25 pengguna, atau $40 per- pengguna.

Banyak pelanggan mengakui software mereka memang cost effective. Lebih rendah biaya dibandingkan hasil perusahaan lain. Produk bernama Corporate Portal Software versi 3. Dimana kamu bisa menggabungkan semua aplikasi perusahaan dalam satu interface atau layar. Sifatnya costumized dan gampang digunakan oleh siapapun.

Inilah kelebihan software karangan anak negeri ini. Berbasis internet membuatnya terkoneksi melalui sistem komunikasi per- komputer. Ridwan menyatakan faktor harga juga menjadi penentu penterasi produknya ke pasaran.

Sukses tanpa sorotan


Tentu tidak banyak orang Indonesia sadar akan keberadaan eBdesk. Lewat konsep matang serta harga yang bersaing, padahal, perusahaan ini telah sampai ke pasaran luar negeri. Nama Ridwan Prasetyo sempat ikut naik menjadi berita di media masa online.

Generasi pengusaha muda Indonesia pertama ini menjelaskan. "Produk kami memang tidak bisa menutupi semua kebutuhan suatu perusahaan, tapi produk kami buat ini mencukupi kebutuhan mereka, simple tapi efektif," jelas Ridwan.

Harga yang baik didukung kualitas baik. Ingat bukan menjual murah tetapi menjadikan terjangkau. Software bikinan eBdesk berbasis Linux membuatnya tidak terikat lisensi. Perusahaan mampu menciptakan perbedaan merebut pasaran. Cakupan pasar pun diperbatasi agar tetap unggul. Mereka menyasar perusahaan ukuran menengah.

Rata- rata pengguna adalah 25- 500 orang. Segmen tersebut memang sudah sejak awal. Jika dalam negeri sudah diserbu produk asing, maka eBdesk memilih pasaran luar negeri. Kecondongan ini memang sengaja mungkin menurut kami karena tradisi kita (mencintai produk asing.red).

Menembus pasar luar negeri memang tidak memudah. Tetapi mereka lebih menghargai value sebuah produk dibuat. Bukan soal branded nya tetapi kualitasnya. Meski begitu kualitas produk Indonesia khusus dibidang teknologi masih sederhana. Oleh karena itu dia meyakinkan kekuatan pelayanan agar dipercaya konsumen.

Untuk itu mereka membentuk jaringan di luar negeri. Sebuah kerja sama dalam hal teknologi, pemasaran, dan konsultasi.

Visi Ridwan serta pendiri eBdesk lain memang besar. Menjadikan perusahaan Software Corporate Portal yang memimpin pasaran di luar. Bukan sekala lokal tetapi sekala dunia. Mereka bahkan berani menargetkan negera- negara seperti Eropa, Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Mereka memasarkan melalui distributor independen. Produk mereka didistribusikan melalui para vendor hardware, konsultan software, dan pihak ISP. Melalui mereka lah produk milik eBdesk mencoba memasuki pasar dengan lebih dipercaya.

Uniknya mereka mendanai sendiri, dengan jumlah keryawan 27 orang, yang 23 diantaranya adalah ahli IT. Ridwan mengatakan investasi awal senilai $500.000- 1 juta. Dialokasikan untuk riset dan pengembangan produk. Jika untung maka akan langsung diinvestasikan kembali ke pengembangan produk.

Ridwan lantas bercerita kembali tentang perusahaanya. Pernah mereka memasarkan produk, eh ternyata, di luar sana ada perusahaan yang lebih dulu memasarkan produk sama. Sebuah "kecolongan" ujarnya kepada pewarta. Inilah pengusaha, masalah akan selalu menghadang tetapi harus dilewati karena kita belajar.

Target keuntungan tahun 2001 adalah $1 juta, dimana target penjualan 25.000 lisensi. Walau ia dan kawan- kawan telah sukses ekspansi masih dibidang sama. Mereka berprinsip berbisnis di ruang lingkup teknologi industri. eBdesk fokus mengembangkan perangkat lunak. Kunci sukses menurutnya adalah fokus di satu bidang.

Butik Sampah Yogya Modal Bungkus Mie Instan

Profil Pengusaha Hijrah Purnama Putra 


  
Dia memang peduli akan lingkungan. Dari pendidikan saja, putra asli Aceh ini, lebih memilih jurusan Teknik Lingkungan. Kepeduliannya pun tidak terbatas akan ras ataupun lingkungan. Hijrah Purnama Putra memilih untuk merealisasikan kepedulian justru di Yogyakarta.

Berkuliah di Universitas Islam Indonesia, Putra sudah peduli lingkungan bermula dari hal kecil. Hingga Putra begitu sapaan akrabnya menemukan konsep bank sampah. Lantas berlanjut membentuk apa namanya butik sampah sebagai media promosi.

Butik sampah layaknya seperti butik pakaian. Bedanya apa dipajang di etalase merupakan hasil daur ulang. Ia membuat aneka produk seperti tas bungkus makanan. Jangkauan produk butik sampah milik Putra sudah merata ke suluruh Indonesia. "...yang belum kita sampai Papua dan Maluku," ujarnya.

Ada keinginan kuat tidak cuma berhenti di Yogyakarta. Maka Putra berjuang keras agar mampu membawa konsep sampah modern ini menjadi nyata.

Sampah jadi jualan


Bermula aksi sederhana seperti mengumpulkan sampah di sekitar. Dia mulai dari warung bubur kacang ijo atau burjo dan angkringan. Aksi sederhana sejak tahun 2008 sampai menemukan butik sampah. Agar tidak cuma peduli lingkungan tetapi memberikan manfaat, maka Putra mulai membeli sampah dari masyarakat.

Ia mulai membeli sampah. Bersama seorang rekan sampai tahun 2009, sudah menggunung lah itu sampah. Ia mulai kebingungan mau diapakan sampah tersebut. Kemudian muncul ide tentang daur ulang sampah. Putra mulai memilah sampah serta memikirkan mau dijadikan apa.

Produk mereka pertama adalah seminar kit dimana dijual Rp.25.000. Perlengakapan itu menjadi booming dalam waktu seketika. Putra melihat peluang lebih besar maka terbangunlah bank sampah. Orderan seminar kit berbahan daur ulang melonjak sampai produksi 250 buah.

Bank sampah ini sudah dipilahkan jenis sampah bukan sembarangan. Fokus utama ialah sampah- sampah bungkus sachet makanan atau minuman.

Sosialisasi terus dilakukan agar bank sampahnya mendapat perhatian masyarakat. Terus terjual laris produk karya Putra, sampai terkumpul 205 kelompok petugas sampah sendiri. Masing- masing kelompok terdiri dari enam sampai delapan orang.

Dalam pengumpulan sampah terbilang mudah. Kelompok tersebut akan bersama mengumpulkan sampah. Dan nantinya ada tim yang melakukan penjemputan kelompok tersebut. Jika diibaratkan mereka adalah cabang bank sampah milik Putra. Harga satuan per- sampah mulai Rp.10- 70 dimana tergantung besar atau kecilnya.

Sebulan saja sudah dapat mengumpulkan 4.000 bungkus sampah. Putra pun mendapatkan penghargaan atas jerih payahnya sebagai wirausaha muda sosial juara pertama.

Bukan bisnis biasa


Tahun 2011, dibuka butik daur ulang, yang mana menurut Putra fokusnya memasarkan produk- produk dari hasil daur ulang. Utama produk karya Putra dan kawan- kawan. Produk karya Putra antara lain seminar kit, tas sekolah, goodie bag, dompet, tas laptop, bros dan lainnya.

Putra menyebut sudah ada 90 jenis produk berbeda. Butik daur ulang didirikan di Jalan Sukoharjo No 132 daerah Condongcatur, Sleman, Yogyakarta.

Tidak berhenti di produk lama, Putra terus berkreasi termasuk salah satunya produk tas lipat. Masyarakat sendiri meminati produk macam dompet, tas, dan map. Untuk harga jualnya relatif murah mulai Rp.6.000- Rp.275.000. Proses pembuatan terbilang cukup memakan waktu, tetapi mudah dipraktikan.

Pertama kali, Putra mengumpulkan sampah bungkus makanan atau minuman. Lantas dia berhitung berapa jumlah sampah terkumpul. Kemudian masuk tahap pencucian, dikeringkan, dan disortir kembali. Proses itu selesai sampah plastik akan masuk gudang dulu.

Kemudian sampah plastik tersebut dijahit, dibentuk, dan masuk ke tahap pengontorolan kualitas. Semua itu menjadi tahapan wajib sebelum barang siap dibentuk.

Sayangnya, masih banyak orang ragu untuk memakai produk karya Putra. Selain karena faktor kebersihan juga faktor malu menjadi kendala. Mereka malu kalau harus menjinjing tas hasil daur ulang sampah. Padahal Putra meyakinkan tahap desain sudah dibentuk sedemikian rupa.

Keawetan juga terjaga karena sistem quality control diterapkan. Putra sendiri masih memiliki banyak mimpi yang belum dicapai dari bisnisnya. Yakni bagaimana agar masyarakat yang menabung di bank sampah juga memakai produknya. Harus tidak ada keraguan memakai produk daur ulang sampah.

Untuk bank sampahnya, dia sedang menyiapkan sistem cek saldo lewat SMS. Bank sampah besutanya juga diharapkan mampu mengurangi sampah di Yogyakarta pada umumnya. "Kami dapat mengurangi jumlah sampah per hari di Yogyakarta mencapai 16,90%," tuturnya.

Selain dijual melalui butik, Putra juga menjual melalui berbagai pameran kewirausahaan Expo Wirausaha Muda Mandiri contohnya. Sambutan pengunjung expo juga baik tertarik akan kreasi Putra. Memang Putra tidak sekedar mendaur ulang tetapi terus berkreasi. Banyak tidak menyangka kalau produk tersebut dari limbah.

Sekilah memang tidak terlihat seperti sampah. Konsep selalu kreatif serta mengikuti mode membuat butik sampah berasa benar- benar butik. Kreasinya unik dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan daur ulang serampangan.

Bersama kawan Dosen UII ini hobi mengumpulkan bungkus mie instan. Terutama ketika mereka nongkrong di warung burjo. Sejak 2005 bersama kawan teknik UII menyambangi warung- warung mie instan yang buka 24 jam. Sebagai anak kos hobi mereka memang nongkrong dan menikmati malam di Yogyakarta.

Sejak 2009 mereka merubah bungkus plastik menjadi tas seminar. Pertama terjual 25 seminar kit dipesan oleh mahasiswa UGM. Tumbuh semakin banyak, Putra bersama kawan mulai rajin menyambangi warung ke warung. Di tahun 2012 barulah ide tentang toko khusus didirikan bersama penjualan yang terus meningkat.

Perbulan 300 bungkus sampah plastik bekas makanan dan minuman terkumpul. Berkat bank sampah yang dia gagas maka TPA Piyungan kehilangan sekitar satu ton sampah. Usahanya diharapkan semakin maju dan siap ekspansi membangun cabang di berbagai daerah.

Meski berstatus dosen sekarang, Putra mengaku bisnis sosialnya tidak mengganggu, karena dia dibantu oleh banyak orang. Banyak orang termasuk mahasiswanya mendukung Putra. "...tidak hanya memberikan teori tetapi mampu menujukan praktik," tutup Putra.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba