Mantan TKW Pemilik Usaha Peyek Wong Jowo

Profil Pengusaha Rida Wati 



Bekerja di luar negeri memang menjadi harapan beberapa orang. Namun sampai kapan kamu nanti mampu bertahan hidup jauh dari keluarga. Banyak loh pengusaha malah pengen pulang. Hanya saja kebutuhan hidup juga tidak dapat dielakan.

Salah satunya Rida Wati rela melepaskan pekerjaan jadi TKI. Sayaratnya dia harus memiliki usaha sendiri di kampung. Untuk itulah dia mengumpulkan uang buat masa depan. Tetapi justru bukan dari uang tersebutlah dia mendapatkan banyak untung.

Yah usaha ternyata tidak butuh modal banyak. 

Jangan biarkan diri mu terjebak dan menghentikan berusaha. Jika kamu TKI maka cobalah yang dilakukan oleh Rida. Gunakan uang modal seminim mungkin jadikan itu bisnis sampingan, siapa tau justru bisa jadi modal pulang.

Rida menyebut usahanya berawal dari bisnis sampingan. Berawal uang Rp.500 ribu yang disulapnya menjadi peyek. Bukan peyek tradisional seperti biasanya, dalam benak kreatif Rida mau dijadikan layaknya potato chip dalam kemasan.

TKW Hong Kong ini melanjutkan potongannya dibikin setipis mungkin. Kan biasanya peyek tradisional itu tebal serta terkadang alot. Kalau peyek Rida berasa lebih gurih karena tipis. Berkat usaha sampingan inilah dia bisa pulang kampung ke Cicalacap.

Keluar modal sedikit tetapi untungnya selangit. Ia menjelaskan kembali rempeyek kacang ini diberinya nama peyek Wong Jowo. "Saya terinspirasi potato chip, jadi sekali lahap langsung habis," jelasnya. Agar menarik masyarakat sekarang kemasannya dibikin semenarik mungkin.

Bermodal Rp.500 ribu dijadikan adonan satu kilogram. Kemasan mulai berbentuk kaleng -seperti halnya satu merek keripik- seharga Rp.35 ribu per- buah, adapula berbentuk plastik zipper seharga Rp.25 ribu, lalu ada kemasan kecil seharga Rp.5 ribu.

Dimulai baru dua bulan sejak akhir 2015, Rida mampu mendulang omzet mencapai Rp.10 juta per- bulan pada bulan- bulan pertama.

Usaha sederhana


Meski sederhana menampilkan dua rasa: Kualitas peyek Wong Jowo sangat menggugah selera. Penggunaan tiga wadah mampu menyasar dua segmen. Tiga kemasan berbeda memberikan penanganan berbeda. Jadi untuk kemasan zipper dapat disimpen lama dan mudah disimpan lagi.

Wanita berumur 33 tahun ini tidak menggunakan strategi marketing khusus. Dia dibantu sang suami yang dulu pernah bekerja menjadi marketing di perusahaan.

Beruntung karena komunitas pengusaha Banyumas ikut mendukung Rida. Berawal dari menjual ke toko- toko kecil, lalu masuk ke toko besar khas oleh- oleh, hingga Rida memasarkan ke restoran di sepanjang wilayah Banyumas.

Untuk pemesanan Jakarta baru datang lewat mulut. Masuk ke dalam komunitas pengusaha terbukti mampu menaikan kesuksesan suatu usaha. Diakui oleh Rida juga bantuan dari pihak Bank, seperti Bank Mandiri, lewat pelatihan bertajuk Mandiri Sahabatku mendorong dirinya berusaha lebih.

Pelatihan tiga bulan selama tujuh kali seminggu itu sangat berguna. Rida percaya diri memboyong bisnisnya ke Indonesia. Dalam pelatihan tersebut termasuk pemberian bapak asuh membimbing bisnis. Mereka para pengusaha sukses Indonesia.

Rida berharap makin banyak pengusaha yang berawal TKI. Justru ketika lapangan pekerjaan di Indonesia tidak cukup, justru terdapat kesempatan bagi kita.

Rempeyek Wong Jowo semakin terkenal di dalam negeri. Berkat mengikuti program kewirausahaan nilai dari brand milik Rida berjaya. Meski baru berjalan dua bulan mampu menembus Belanda dan Malaysia. Ia bahkan sudah menyiapkan program ekspor sejak Apri dan Oktober 2016 ini.

Mantan TKW ini masuk program Mandiri Sahabatku. Rida sendiri mendapatkan satu bapak asuh seorang pengusaha Batik besar. Berkat ia lah koneksi ke luar negeri didapatkan. Selain itu dukungan Bupati Cilacap terbukti ampuh mendorong bisnisnya maju.

"Belum ada yang serius menggarap rempeyek ini, padahal peluangnya cukup besar," terangnya.

Lewat kemasan kaleng memberikan unsur lebih. Rempeyek miliknya sudah seperti brand luar yang masuk ke Indonesia itu. Jumlah pesanan kemungkinan bisa saja besar. Untuk sementara distributor di luar tengah lagi mencoba mengetes pasaran Rempeyek Wong Jowo.

Sayangnya, berbanding terbalik dengan kesuksesan di luar. Rempeyek Wong Jowo masih dijual sebatas di toko oleh- oleh dan restoran sepanjang Jawa Tengah. Jakarta sendiri masih sebatas permintaan personal bukan buat distributor atau keagenan. Omzet perbulan dari usahanya sudah mencapai Rp.10 juta per- bulan.

"...rencananya mau varian rasa balado dan black papper," ujar Rida. Wanita berhijab ini sangat optimis akan jalannya untuk berekpansi.

Membuka Gym Sendiri Pengusaha Filipina

Profil Pengusaha Ricardo Marinduque 



Filipina tengah gencarnya memberikan bantuan modal. Terutama bagi Filipino yang bekerja di luar negeri jadi pengusaha di negeri sendiri. Berharap agar memberikan pilihan ekonomi terbaru bagi pekerja luar negeri. Nah salah satunya pengusaha sukses mendapatkan adalah Ricardo Marinduque, pekerja luar negeri.

Selama 15 tahun, dia bekerja menjadi buruh asing, Ricardo mantap memilih berbisnis gym sejak tahun 2005. Dia meminjam $4.500 dari Overseas Workers Welfare Administration.

Menjadi pengusaha tidak mudah. Ricardo membutuhkan waktu lama sampai mantap menjadi pengusaha. Ia juga membutuhkan dorong tidak cuma keluarga, tetapi pemerintah. Lulus sekolah menengah atas, ia langsung terjun ke dunia korporasi, dia langsung mencari pekerjaan tidak kuliah.

"Hidup itu susah," paparnya.

Bisnis untuk hidup


Dia mulai dengan menjadi pramusaji sebuah restoran. Pertama kali dia bekerja di daerah Malate, kemudian ke Manila, dan dan kemudian Makati. Tahun 1989, menurut wawancara bersama Enterepreneur.com.ph, ia melanjutkan bahwa dia lantas bekerja keluar negeri.

Menjadi buruh migram (TKI.red) menjadikannya pelayan buat rumah sakit militer, Saudi Arabia. Lantas dia masuk menjadi crew kapal mewah, bekerja menjadi bartender, penyaji wine, serta pelayan. Beruntung dia dapat menikmati perjalanan sampai ke tempat eksotis.

"Tujuan pertama adalah Tahiti," pungkasnya. Kemudian sampai ke Eropa, Amerika Serikat, bahakan sampai ke lautan Karabia.

Ketika umurnya sudah 40 tahun dunia terasa letih. Ia memilih kembali ke Filipina dan tingga menetap. "Itu sangat sukar bekerja jauh keluar. Anda harus jauh dari keluarga dan jam terasa sangat lama," kenangnya yang kini hidup tenang menjalankan usaha gym sendiri.

Bekerja di luar negeri membuatnya punya cukup uang. Banyak bisnis kecil- kecilan dilakukan mantan buruh migran ini; mulai dari apartemen sewa, tempat karaoke, minimarket. Tetapi mereka tidak mampu bertahan lama. "Saya tidak ada passion dengan mereka," Ricardo berdalih.

Tetapi hasratnya lebih ke arah olahraga. "Saya sangat suka ke arah olah raga, seni bela diri, ataupun angkat beban," jelasnya.

Tahun 2003 seorang kawan menawarinya mengambil alih bisnis. Membeli sebuah gym lama. Butuh waktu ia berpikir lama tapi melihat peluang. Benaknya waktu itu ialah akan susah jika membangun gym dari nol. Itu juga akan sangat mahal membeli peralatan baru. "Jadi saya mengambil kesempatan ini," ujar Ricardo.

Meski perlengakapan standar sudah ada. Dia merasakan butuh lebih dari peralatan tersebut. Jadilah keluar uang kembali senilai P200.000 untuk membeli peralatan memenuhi 200 meter persegi ruangan. Karena dia mempunyai passion, dia sudah menebak kebutuhan mendasar latihan harus dia miliki dan tambahkan.

Tentu saja, passion saja tidak cukup merubah bisnis tersebut sukses. Walau dia sudah menyediakan ruang bagi bela diri, karate, juga tekwondo sebagai latihan tambahan.

Tahun 2005, dia sempat patah arah, memutuskan untuk kembali gulung tikar berhenti berbisnis kembali. Itu semua karena penjualan melambat. Itu tidak berjalan baik. Dia sangat tergantung pengunjung mampir. Sama sekali tidak menarik perhatian klien tetap.

Untuk itulah dia mengikuti berbagai seminar tentang bisnisnya. Juga termasuk seminar manajemen termasuk yang diberikan oleh Overseas Workers Welfare Administration (OWWA). Dia serius belajar dari seminar yang diselenggarakan oleh University of the Philippines Collage of Human Kinetics.

Ricardo juga mempelajari tenteng nutrisi, anatomi, berbagai latihan dasar, penanganan kecelakaan, dan juga pelatihan lain spesifik. Dia juga belajar program kepemimpinan.

Lalu dia masuk menjadi anggota asosiasi pengusaha gym atau Association of Fitness Professionals of the Fililppines (AFPP). Melalui organisasi itulah ia menemukan channel bagaimana mengatasi masalah. Termasuk bagaimana menjalankan industri olah raga ini.

Pengusaha terus belajar


Dia hobi membaca banyak buku bisnis. Semua agar bisnisnya dapat naik terus, tidak malah gagal kembali. Kini kebanyakan kliennya merupakan pekerja kantoran. Bisnisnya mengalami kepadatan ya di pagi dan siang hari. Untuk meningkatkan kualitas dia menyewa pelatih berlisensi dan memberika pelatihan terprogram.

"Sebelum klien melakukan program pelatihan, kami mengadakan penilaian fitnes dan meneliti kesehatan," ia menyebut.

Jika perlu bahkan meminta catatan kesehatan dianjurkan. Ini agar Ricardo bisa menentukan sertifikasi tingkat kesehatan serta level pelatihan. Bisnis gym bernama Stamina Fitness Center ini semaki berkibar. "Itu sangat lah sukar. Akan ada waktu dimana saya selalu merasa akan gagal karena tidak tau lebih tentang bisnis saya jalankan."

"Karena ini hobi saya, saya mendatangi seminar untuk belajar lebih banyak," tambah Ricardo. Ia meyakinkan bahwa bisnis kecil dapat berkembang dan menjanjikan.

Berbicara tentang perjalanan bisnis, Ricardo berkata tentang kisah suksesnya, "ketekunan, kesabaran, dan pemahaman tentang bagaimana memadai."

"Bisnis adalah resiko anda ambil, satu hal yang kamu luangkan waktu dan kamu perjuangkan. Saya tidak bisa kuliah, tetapi saya belajar segalanya lewat pengalaman," tuturnya bijak.

Enam tahun kemudian Ricardo kembali meminjam uang. Tetapi, untuk kali ini, Ricardo sedang tidak akan menutup usahanya dan memulai kembali. Justru dia tengah berencana membuka cabang baru Stamina Fitness Center. Usahanya berjalan sangat baik, mungkin butuh waktu hingga bisa membuka cabang.

"Tidak ada bisnis akan gagal jika kamu memberikan perhatian," terangnya. Ricardo merupakan sedikit dari masyarakat Filipina yang mendapatkan kesempatan baru. Mendapatkan pinjaman lunak untuk memberikan lapangan pekerjaan baru.

Biografi Kadek Eka Citrawati Pemilik Bali Alus

Pemilik Brand Bali Alus Kisahnya 



Wanita peramu aneka produk kecantikan ini berasal dari Bali. Meski memiliki ijasah Arsitek, faktanya justru dari satu hobi meramu itulah dia menghasilkan uang. Namanya Ni Kadek Eka Citrawati. Menjadi pengusaha menembus pasar ekspor tidak pernah terpikir dalam benak Ni Kadek.

Eksotisme Bali terpancar dalam racikan ramuan Ni Kadek. Wanita kelahiran 18 Agustus 1977. Merupakan putri seorang petani. Seorang petani rempah hasil kebun sendiri. Ia melihat setiap hari sang ayah mengirim produk rempah- rempah ke luar negeri, dari India bahkan Thailand. 

Kata ayah sih rempah itu akan dijadikan kosmetik. Nah, terbersitlah pemikiran Ni Kadek, apasih yang mereka lakukan dengan rempah milik sang ayah. Mulai dari cengkeh, temulawak, jahe, semuanya masihlah mentah dikirim, jadi kita tidak tau.

"Kok, kenapa bahan asli Indonesia dipakai untuk produk merek luar yang berarti akan ditempeli brand asing pula?" pikirnya.

Pemikiran tersebut baru muncul setelah sekian lama. Kadek kecil cumalah gadis kecil biasa kala itu. Namun dia sudah terbiasa mengolah aneka jamu dari rempah.

Berkenalan dengan bisnis


Kadek kecil dikirim ke berbagai sanggar kesenian. Namun jiwanya malah ada di rempah asli Indonesia. Ia memang pandai menari tetapi tidak membuat jamu. Ia berkisah dia sering mogok menari, ya ia kan sudah pandai menari seperti dua kakaknya. Hari- hari lalu diisinya dengan kegiatan meramu jamu meniru nenek.

Sejak usia empat tahun dia memang kagum akan sosok nenek peramu jamu. Neneknya yang membawa dia hobi membuat aneka sampo, sabun, lulur, dan lainnya. Dia takjub melihat sang nenek masih berjalan sampai ke sungai untuk memetik dedaunan.

Kadek lantas mencatat resep apa ramuan membuat aneka produk tersebut. "Semua produk yang saya buat, gagal," kenangnya. Kadek kecil penasaran lantas bertanya kembali ke nenek. Ya dia catat lagi, tulis lagi, dan dia lakukan lagi. "Namun, tetap saja saya gagal. Terus begitu."

Hingga dia sadar agar tidak bergantung resep tertulis. Sang nenek bekerja lewat naluri serta passionnya akan ramuan kecantikan. Inilah tidak dimiliki Kadek kecil kala itu. Ia lalu mulai menulis tetapi melalui pengamatan bukan dari ingatan nenek utarakan.

Ketika nenek mengambil ramuan, Kadek mencatat, dan begitu seterusnya tanpa bertanya. Jika diharuskan ia bila resepnya apa, maka sang nenek justru gagal kosentrasi dan malah tidak menyebutkan sempurna. Itulah ia tetap menulis tanpa berkata sepatah apapun.

Akhirnya Kadek menemukan takaran sempurna. Melalui cara itulah dia berhasil membuat produk kecantikan sendiri. Meski baru satu produk yakni boreh, yah, Kadek kecil sudah sangat senang sekali. Apalagi banyak orang tertarik memakai borehnya, mulai keluarga, teman- teman, katanya sih kekentalan dan hangatnya pas.

Tentu berbeda produk kecantikan miliknya sekarang. Keahlian keluarga apalagi nenek dalam hal ramuan perjamuandikenal sekampung. Lulur, boreh, cem- ceman, merupaka produk tradisional yang ahlinya nenek buat. Nenek Kadek sangat mendetail soal meramu ramuan tetapi sering terganggu oleh ulah cucunya ini.

Produk miliknya yang bernama Bali Alus mampu menyasar pasar modern. Bukanlah perkara mudah apalagi sepanjang perjalanan orang tua mengarahkan Kadek jadi orang kantoran.

Memulai usaha


Bukan perkara mudah sekali lagi menjadi pengusaha. Setelah dewasa, tidak berdaya, negeri tercinta kita ini tidak memiliki pendidikan dibidang bahan- bahan alami. Sepanjang ingatan hidupnya berkutat dengan aneka rempah.

Waktu itu dia tidak berpikir akan menyaingi kakaknya di bidang pendidikan.Tetapi bukan itulah masalahnya. Kakak Kadek berhasil kuliah keluar negeri dan mendapatkan suami orang luar Bali. Ibu Kadek tidak mau Kadek kuliah keluar negeri dan berakhir sama. Alhasil dia tidak bisa lanjut berkuliah dibidang botani.

Malah Kadek nyasar masuk Arsitek, Faktultas Teknik Universitas Udayana.

"Ya ampun, ada yang mau sama saya saja udah bagus," kenangnya sambil tertawa. Baginya kakak- kakak itu berbeda, mereka tinggi, langsing, seperti model, sementara dia kecil begini.

Justru melalui kakak perempuannya lah produk kecantikan Kadek dikenal. Melalui mereka dipasarkan ke teman- teman mereka. Waktu itu dia membuat produk tanpa merek. Dari teman kuliah dan teman- teman sang kakak menerima perawatan tubuh racikan Sarjana Arsitek ini.

Kadek bahkan rela tidak dibayar ketika merawat mereka sebelum menikah. Ini sekedar hobi bagi Kadek jadi tidak terpikir untuk berbisnis.

Ia malah bekerja di sebuah perusahaan swasta. Akhirnya dia menikah, mempunyai anak, dan semakin sibuk tidak terpikir hal lain. Sampai keinginan menambah uang lewat bisnis sampingan. Ide usaha apa yang tidak akan menyita waktu. Untuk itulah Kadek keluar dari perusahaan mencari pekerjaan yang lebih tidak menyita waktu.

Tahun 2001 usaha bidang perawatan tubuh mulai bergeliat di Bali. Kadek menangkap sinyal kesempatan di dalam dirinya. Usaha spa dan kecantikan dilirik oleh istri dari I Putu Katra memulai usahanya. Tetapi belum dia mulai malah khawatir tidak sanggup membayar gaji karyawan.

Dia memang sudah belajar berbisnis sejak kuliah. Namun menjalankan usaha langsung berbeda dari apa yang dia pelajari. Uang tabungan Rp.10 juta dijadikan modal. Berbekal uang tabungan ketika masih bekerja sebagai pegawai perusahaan swasta dan untuk bahan baku cukup dari orang tua.

Berbicara tentang produk pertama ia kembangkan. Yaitu lulur scrub, kemudian merambah minyak esensial, sabun dan produk modern lainnya. Sambil berkuliah sebenarnya Bali Alus sudah berjalan meski tanpa ada modal. Sambil berkuliah, dia mengerjakan aneka produk, disela- sela waktu ia belajar.

Namanya mencoba sesuatu baru tentu banyak kegagalan. Butuh waktu riset sendiri baginya hingga mampu menghasilkan produk sekarang. Mulai mencari bahan, meramu, mencoba kembali, bahkan uji coba dia yang lakukan sandiri. Kadek berkeras hati bahan utama 100% alami tanpa kimiawi.

Untuk sabun misalnya, ia memakai minyak kelapa asli tanpa campuran kimia. Kadek menyebut lama waktu ia habiskan hingga lulus kuliah. "Saya enggak eksperimen membuat scrub saja, tetapi produk lainnya," tutur Kadek.

Karena cuma lulusan arsitek maka semua otodidak. Kadek mendapatkan banyak pengetahuan melalui ia mencari informasi sendiri. Berbekal rasa penasaran, rasa suka, tidak berpikir tentang komersialisme waktu itu. Sama sekali tidak, bahkan Kadek pada akhirnya malah menjadi arsitek beneran, bekerja di perusahaan swasta.

Hingga sang suami mendorong dia berbisnis sendiri. Pertengahan tahun 1999 menjadi tonggal awal berdiri resmi usahanya. Waktu itu dia belum memberi nama apapun usahanya. Ia cumalah membuka usaha lulur dan spa sendiri. Titik.

Usaha tertahap


Butuh waktu untuk pengusaha otodidak ini mantap. Dia terus mencari tau bagaimana mengaplikasikan aneka rempah menjadi produk kecantikan. Entah mengapa Kadek malah menjadi pegawai swasta. Tidak mau apa yang telah dimulainya hilang. Kadek bersepakat membuka usaha sendiri bermodal uang Rp.10 juta.

Dia bermodal diskusi dengan keluarga. Kadek mendiskusikan dengan kakak- kakaknya. Mereka empat orang kakaknya hidup di luar negeri. Anak bungsu dari lima bersaudara ini melanjutkan. Tidak cuma mereka, dia juga belajar melalui media internet membuka banyak pengetahuan.

"Basicnya saya sering memperhatikan orang tua dan nenek saya membuat ramuan lulur tradisional Bali yang berbentuk boreh," Kadek lanjutkan.

Ini menginspirasi olahan Kadek. Cuku memodifikasi itu dijadikan scrub, dimodifikasi berbahan bengkuang, dan dia menjadikan itu scrub ala Bali Alus. Kalau dulu nenek mamakai bahan utama beras, jahe, lengkuas, diulek menjadi pasta dan kini, Kadek menambahkan bengkuang untuk memutihkan.

"...saya murni otodidak," sebutnya. Baru selepas dari kuliah dan mengerjakan bisnis Bali Alus, Kadek mulai mencari pengetahuan lewat ahlinya. Ia bahkan mengontak guru sendiri asal Belanda. Lewat internet mereka lalu bertemu di Bali sekedar mencari informasi.

Dia memang pandai meramu tetapi urusan marketing lain cerita. Secara serius dia mempelajari khusus soal bagaimana mengemas produk. Untuk mendapatkan bahan baku, Kadek mendapat sokongan orang tua tapi sejauh dia berjalan maka dibutuhkan dukungan petani lain.

Melalui sistem pembinaan maka kebutuhan bahan baku terpenuhi. Kadek merasakan betul kebutuhan akan produk kecantikan meningkat. Ditambah kesadaran akan bahan baku alami menambah jumlah penjualan. Ia sadar untuk meyakinkan produk lokal butuh pendekatan berbeda.

Tidak mudah


Berbisnis kecantikan membutuhkan riset. Selain itu meyakinkan kualitas produk lokal setara internasional itu tidak mudah. Agar mendapat lebih banyak dukungan, terutama masuk ke pasar moden, Kadek sedar akan kebutuhan penelitian riset dari badan terpercaya -melalu Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Konsumen akan percaya akan kualitas produknya nanti. Nilai kualitas produk- produk Bali Alus tercantum di dalam kemasan. Nah jika konsumen sadar dan puas maka akan lebih banyak konsumen. Selain itu Kadek juga menciptakan proses bagaimana agar produknya awet tanpa kimiawi.

Awal berusaha dia "meminjam" bahan mentah dari keluarga tanpa uang jaminan. "Saya meminjam apa saja, seperti sekarung beras atau sekeranjang lidah buaya kepada mereka," tuturnya. Akhirnya Kadek memasang nama Bali Alus.

Produknya mulai dari produk perawatan wajah, perawatan tubuh, perawatan rambut, dan aromaterapi. Dia memasarkan produk mulai ke konsumen langsung ataupun tempat usaha. Ia lantas memberikan sampel ke pelanggan. Walau terlihat sukses kendala selalu hadir dalam bisnis Bali Halus, Kadek tetap berusaha.

Contoh kendala ialah tentang pegawai. Kadek menyadari wanita Bali memiliki banyak tugas. Termasuk harus menyediakan canang setiap sore untuk keperluan upacara. Makalah Kadek lebih banyak mengambil orang dari luar Bali sebagai pegawai.

Untuk karyawan kebanyakan Bali. Mereka biasanya membuat produk cepat laju penjualannya, seperti dupa. Total 30 karyawan sebagian merupakan warga kampung sekitar rumah produksi. Bahan baku pun diambil dari kampung sekitar sana.

Sukses memopulerkan produk inilah dia mendapatka penghargaan. Ambisi seorang Kadek juga tidak cuma berhenti soal bisnis. Omzet perusahaan PT. Bali Alus sudah mencapai Rp.100 juta per- bulan. Tetapi dia punya ambisi lain yakni menuliskan resep warisan nenek dan dirinya menjadi warisan budaya Bali.

"Pokoknya, ingat spa ingat bali," Kadek menambahkan.

Arsitek jadi pengusaha


Kadek sempat bekerja sebagai pegawai sambil kuliah di tahun 1998. Setelah menikah memutuskan untuk banting stir jadi pengusaha. Modal awal Rp.10 juta, kemudian Rp.30 juta, sampai Rp.40 juta tetapi semua dilakukan tanpa perhitungan. Alhasil banyak kendala justru dihadapi Kadek soal keuangan dan marketing.

Sempat gulung tikar karena ia sakit. Karena belum mempunyai usaha kuat, ditambah keuangan belum juga mapan maka perusahaannya sempat kolap. Bali Alus waktu itu sudah berhasil menembus pasaran lokal di Bali. Untunglah suntikan modal Rp.30 juta mengalir dari sebuah Bank. Harapan baru mengangkat nama Bali Alus.

Agar tidak jatuh lagi, Kadek menerima bantuang pelatihan kewirausahaan dari pihak Bank, mulai pelatihan manajemen, membuat website, maka Bali Alus makin berkembang.

Kini, dia sudah menghasilkan 15 jenis produk, dimana omzetnya sampai- sampai Rp.375 juta per- bulan. Ia memang pandai menyasar konsumen termasuk kebutuhan spa, hotel, salon dan pribadi seluruh penjuru Bali. Ada 80% bahan alami merupakan hasil alam Indonesia asli. "Produk kita suka dikrubutin semut," candanya.

Bali Halus sendiri didukung teknologi modern. Memiliki bahan alami tanpa efek samping. Dia dibantu oleh tenaga ahli beauty clinic. Kadek menekankan wanita butuh bahan alami. Pemasaran melalui situs balialus.com mendorong penjualan sampai ke luar Bali.

Bicara tentang marketing awal sekali tidak jual langsung. Mau dijual di jalan siapa mau beli? Kadek haruslah fokus dalam produksi, pengemasan, lalu mengembangkan nama brand. Hal pertama dilakukan ialah masuk ke hotel, salon, serta spa di penjuru Bali. Ia kasih gratis. Tentu sebagai bentuk promosi meski dia harus rugi.

Tetapi melalui itupula dia mendapatkan informasi tanggapan konsumen. Semacam survei tetapi tepat sasaran ke konsumen langsung. Hampir semua hotel dan spa mengaku puas akan produk Bali Alus. Sekali lagi dia butuh waktu bahkan meyakinkan hotel dan spa memakai produknya meski gratis itu sangat sulit.

"Harus saya rayu dulu. Ini wajar, kulit manusia kan sensitif. Salah-salah, produk baru bisa membuat iritasi atau alergi," tuturnya.

Menjual ke hotel bukan hal mudah. Bali Halus harus rela menjual tanpa merek. Karena pihak hotel yang akan menempelkan brand mereka. Walau begitu hubungan bisnis ini masih berlanjut meski lewat suplier atau tidak lagi langsung ke Kadek.

Memang semenjak nama Bali Alus makin bersinar banyak orang datang. Mereka menawarkan diri menjadi pengecer. Meski awalnya dia tidak membidik pasar tersebut. Kadek mengaku bukan orang yang kaku. Dia dengan senang hati membuka peluang orang menjualkan produknya. Berbagi rejeki itulah maksudnya ketika itu.

Suplier akan mengambil dari Bali Alus. Kemudian mereka akan menjual ke konsumen miliknya. Untuk satu ini dia tidak mengikat dengan harga khusus. Alhasil berapa harga jual suplier tidak diketahuinya persis. Dia yakni brand -nya tidak terusak karena harga. Suplier dengan harga termurah ya akan lebih laku.

Kadek juga menjual secara eceran. Pikirnya pembeli datang tidak cuma dari Bali lagi. Bahkan dia memberi kesempatan mereka menjadi agen. Hasilnya brand Bali Alus semakin terkenal, melompat, menyebar tidak cuma ke penjuru Bali tetapi penjuru Indonesia.

Untuk beriklan Bali Halus memilih belum. Dia lebih fokus dengan kualitas produksi. Memulai berbisnsi, dia tidak berjalan sendiri. Total modal dikeluarkan sampai Rp.100 juta dimana dia dibantu koperasi. Selain itu bersyukur karena dia mendapatkan perhatian dari dinas terkait.

Beryukur karena sejak 2005, Bali Alus telah mendapatkan regulasi dan ijin dari BPOM. Waktu itu padahal dia cuma mengantungi ijin prinsip sejak 2000. Beruntung ini tidak berpengaruh dalam lajunya bisnis yang ia jalankan.

Tidak sia- sia eksperimen selama 4 tahun tersebut. Di tahun 2001, dia sendirilah karyawannya, lalu menjadi dua orang bersama dia. Dimana satu orang mengaduk adonan, kemudian satunya lagi yang mengurusi hal kemasan. Sekarang, Bali Halus sudah memiliki 30 orang karyawan, dimana 3 orang melayani tamu atau agen di workshop.

Sang suami sangatlah mendukung bisnis Kadek. Kedua putrinya, Putu Kay Kiandra (3,5 tahun) dan Kadek Kasahwa Keano (1,5 tahun), sering dibawanya ke workshop dan mereka senang. Mereka senang dengan segala rempah serta melihat mamahnya bekerja.

Bisnis masa depan


Satu dekade sudah perusahaan PT. Bali Alus menjalankan usaha. Kadek mampu membawa ramuan asli kita menjadi naik kelas. Jika pada sebelumnya orang lebih percaya akan produk luar, kini, berkat usaha yang telah dirintisnya produk kecantikan asli Indonesia dapat diterima. Apalagi produk natural seperti milik Kadek ini.

Boleh dibilang Bali Alus merupakan pelopor. Pada tahun 2007, mereka sampet kwalahan karena ijin dari Balai POM belum siap. Pasalnya baik Dinas Kesehatan dan BPOM belum memiliki aturan jelas tentang apa itu obat atau kosmetik buatan industri rumahan.

Beruntung karena Bali Alus sudah menggandeng BPOM sebelumnya. Melalui beberapa rangkaian penilitian bersama LIPI dan BPOM. Perusahaan sudah mengantungi sertifikasi layak pakai. Meski begitu nasib dari usahanya kurang jelas tanpa surat ijin usaha. Tahun 2007 akhir barulah peraturan resmi diperkuat diterbitkan.

Ketika dinas tengah menggodok peraturan tentang fenomena baru ini. Bali Halus telah bersiap- sedia dulu dalam melengkapi usahanya. Termasuk serangkaian standar opersional khusus, termasuk juga menggandeng apoteker ataupun ahli farmasi.

Sejak SMP, Kadek sebenarnya sudah menjual ramuan karyanya. Waktu itu masih dikalangan sendiri yakni ke teman- teman dekat. Mereka percaya akan kemampuan Kadek mengolah ramuan. Pesanan seperti untuk paket pernikahan pernah dibuat oleh Kadek. Pokoknya dia sudah dikenal dulu dikalangan orang dekat.

Masuk SMA sampai kuliah cakupan produknya meluas. Termasuk cakupan konsumen ditanganinya. Hanya kalau bicara menjual ke khalayak ramai nanti, Kadek tidak berani tanpa sertifikat kualitas dulu dari BPOM. Jadi belum dia jual ke orang asing sebelum mendapat sertifikat layak konsumsi -aman dari kimia berbahaya.

Soal bahan baku didapatkan dari petani Bongkasa, Petang, Plaga dan Bedugul. Tidak hanya rempah saja ia butuhkan tetapi termasuk aneka buah- buahan. Adapula bahan inpor seperti lavender atau minyak olive yang ia tidak dapat di Indonesia.

Produk dijualnya mulai harga Rp.10 ribu sampai Rp.300 ribu. Kreasinya benar diolah dengan bahan alami. Ia memberi jaminan 99% bahan organik bukan kimiawi. Kenapa tidak seratus persen? Dengan bijak Kadek menyebut tidak mungkin kita terhindar kimiawi meski itu cuma kecelakaan atau unsur ketidak sengajaan.

Permintaan ekspor diakuinya mencapai 80 persen ekspor dan sisanya dijual di dalam negeri. Namun, kian percayanya masyarakat atas kualitas produk lokal, membawa angin segar bagi Bali Alus hingga mencapai nilai 70 persen lokal dan sisanya impor.

Hasrat lain Kadek, selain bisnis, mencatatkan ramuannya sebagai warisan budaya, ialah ikut membangun sekolah spa. "Sekolah ini gratis, karena saya sudha mendapatkan sesuatu yang baik, sehingga saya juga ingin memberikan sesuatu yang baik pula kepada orang lain," ujarnya, yang telah terealisasikan di sepetak tanah.

Aplikasi Berbagi Makanan Pengusaha Uber

Profil Pengusaha Komal Ahmad 




"Saya tidak berpikir saya akan mampu berpikir bahwa sebuah makan siang mampu merubah hidup saya selamanya, tetapi itulah yang terjadi," ungkap Komal Ahmad, 25 tahun, ucapnya kepada majalan People.

Tahun 2012, dia sekembali dari pelatihan musim panas untuk Angkatan Laut tahun seniornya di Universitas of California, Berkeley. Lalu dia berjalan melewati trotoar utama kampus, sampai melihat pria tampak pucat. Pria itu meminta sedikit uang buat makan sandwich.

Daripada memberikan beberapa dollar Ahmad malah mengajak makan. Bukannya memberikan beberapa dollar dan dia terus akan mengemis. Orang itu mau diajak Ahmad makan di sebuah restoran. Dia lalu mulai bercerita kepada Ahmad tentang kisahnya.

Ternyata dia adalah veteran perang Irak. Ketika dia berharap akan mendapatkan tunjangan. Faktanya dia malah dapat tidak ada. Maka dia tidak mempunyai uang dan dia tidak mempunyai makanan.

Jadi Ahmad sedang berbicara dengan seorang veteran. Sosok pengabdi negara hebat, yang seharusnya dia mendapatkan penghargaan. Padahal dia telah berkorban diri sebagaik mungkin. Komal Ahmad sendiri juga berminat menjadi seorang angkatan laut -jadi dia tau tugas seorang tentaran penuh tanggung jawab.

"Dan orang ini sekarang malah diam- diam di jalanan meminta makanan," Ahmad terkejut. Dalam waktu itu sekaligus dia terbuka matanya bahwa dunia itu bodoh.

Bodohnya kita mengalami masalah makanan. Lalu, ketika itu, wanita 21 tahun tersebut tergugah untuk aktif membuat perubahaan. Dia ingin menghilangkan kelaparan. Ahmad memulai dengan mendirikan program buat donasi makanan dari kampus ke jalanan.

Aplikasi sosial


Menemukan program hebat di kampus malah membuat "masalah". Pada suatu ketika dia menumak titik yang merubah hidupnya. Manajer makan- kampus mengundang dia datang berkenjung. Ternyata dia harus siap diri menyambut 500 makanan sisa -tidak dimakan, masih utuh- butuh disalurkan ke orang membutuhkan.

Dia lalu menyewa Zipcar -perusahaan rental online- berkendara dari ruang makan kampus sendiri. Sekitar 30 menit mengangkut makanan sisa berbentuk sandwich itu. Lalu dia mencari organisasi penyalur makanan itu ke orang tidak mampu.

Ada tiga yaitu Shelters, Boys and Girls Clubs, dan juga Salvation Army, pada akhirnya mereka tidak bisa menjawab. Dua pertama berkata mereka sudah punya cukup makanan. Yang terakhir cuma mau menerima 15 buah sandwich saja.

Ahmad pada akhirnya termenung di pinggir jalan mengangkut 485 makanan sisa. Akhirnya mereka rusak dan terbuang sia- sia. Satu dari enam orang mengalami kelaparan. Satu dari empat anak di Amerika Serikat itu kelaparan. Sayangnya Ahmed tidak mampu menemukan mereka dalam waktu sekejap.

"Jadi saya di dalam mobil di pinggir jalan sambi menangis," kenang Ahmed. "Saya sangat frustasi karena saya mencoba melakukan suatu kebaikan. Itu seharusnya tidak sesusah ini kan melakukan kebaikan. Itu sangatlah membuat frustasi dan sangat sulit mencari orang membutuhkan makan."

Akhirnya dia sadar akan satu hal: Bahwa banyaknya makanan sampai 356 juta (menurut penelitian) makanan sisa Amerika tidak tersalurkan bukan karena pelit. Bukan pula karena orang tidak pedulia membuang- buang makanan atau membuat orang kelaparan. Cuma saja, mungkin mereka kesusahan menyalurkan seperti dia.

Tiga tahun kemudian dia menjadi pendiri dan CEO Feeding Forward. Yaitu perusahaan sosial yang memiliki aplikasi menyalurkan makanan. Mereka mengkoneksikan para pemilik usaha dengan makanan sisa mereka dengan banyak organisasi sosial pemberi makan orang kelaparan.

Bisnis sosial


Berbicara tentang berbisnis sosial bukan soal untung. Bukanlah soal menghamburkan uang untuk brand milik kamu. Setidaknya hal itulah yang dipikirkan Ahmed. Feeding Forward telah mampu membantu pengusaha mendonasikan hasil usahanya berupakan makanan kepada orang membutuhkan.

Ahmed berhasil menyalurkan 722.000 pound makanan segar, kualitas tinggi restoran yang mungkin saja akan terbuang sia- sia.

"Saya tidak berpikir tentang branding atau menunjukan apa yang kami lakukan, saya berpikir pendekatan kami ialah melalui membuat segalanya jadi mudah," jelas lagi Maen Mahfoud, manajer opersional perusahaan Feeding Forward.

Pendekatan termudah adalah merubah lingkupan mereka. Bagaimana kita memudahkan mereka agar dapat solusi tepat bersosial.

Mereka menawarkan solusi berbasis internet. Semua proses donasi cuma butuh dua menit. Kamu tinggalah masuk ke halaman. Membuat akun, tulis nama kamu, berapa banyak sandwich kamu punya akan dijadikan sumbangan. Lalu kamu bisa menaruh dimana Feeding Forward bisa ambil cukup taruh kontak info disana.

Algoritma khusus merancang bagaimana menentukan jenis makanan, kuantitas, serta dimana tempat paling dekat untuk menerima makanan kamu. Lalu ada pengemudi yang akan mengambil makanan serta menaruh itu kepada orang yang tepat. Agar terpercaya Feeding Forward menaruh foto dan juga testimoni langsung.

Salah satu organisasi yang bekerja sama dengan Feeding Forward. Menyatakan bahwa perusahaan sosial ini memberikan makanan sisa berkualitas. "Mereka memberikan kami makanan yang sangat bagus kualitasnya," ujar Eric Venable, Direktur City Team, organisasi menaungi orang- orang kelaparan dan tidak punya rumah.

Kepada majalan PEOPLE menerangkan bahwa perusahaan semacam ini berbeda. Sebuah bisnis startup berbasis makanan sisa -dan disalurkan kepada orang membutuhkan. Uniknya karena diambil dari restoran ataupun hotel maka layanan Feeding Forward menyuguhkan makanan bergizi tinggi.

Ketika orang seperti ini mendapatkan uang sedikit. Dimana lagi mereka bisa makan kalau tidak di tempat- tempat makan junk food. Semacam burger atau hotdog tentu tidak sebanding dengan harga makanan milik Feeding Forward meski sisa bisnis.

Perusahaan ini benar membantu orang buat makan setiap hari, bahkan sampai dua kali dalam sehari. Dalam hal perkembangan perusahaan masih dalam fase boothstrap. Perusahaan berharap akan banyak orang yang mau meniru gerakan mereka.

"Seperti halnya Uber yang dipuja, anda seharusnya dapat mendonasikan makanan secara beberapa menit," Ahmad menambahkan. Mimpi Ahmad ialah menyebarkan Feeding Forward tidak cuma ke seluruh Amerika. Bahkan seluruh kontingen harus merasakan hidup tanpa kelaparan.

Sejarah Pemilik Rumah Makan Padang Sederhana

Biografi Pengusaha H. Bustaman 



Lahir dari keluarga kekurangan H.Bustaman tertimpa musibah lagi. Pria kelahiran Lubuk Jantan, Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar, ditinggalkan kedua orang tua meninggal. Jadilah hidupnya lebih luntang- tantung lagi dari sebelumnya. Bustaman cuma bertahan lulusan kelas dua sekolah rakyat atau sekelas SD.

Dia bekerja apa saja. Mengadu nasib bukan lagi gengsi. Baginya tanpa menjadi keturunan Minang pun, dia sudah dipaksa bekerja sampai keluar kota. Mulai bekerja di perkebunan karet, berjualan koran, mencucikan piring di rumah makan, sampai berdagang asongan.

Bustaman juga pernah bekerja sebagai tukang bantu rumah sakit. Waktu dia bekerja di ruma makan, suatu hari, dia berpikir bahwa tempat itu begitu ramai pembeli. Terbersit pikiran dan do'a dalam hatinya, "ya Allah kapan saya bisa hidup sukses,".

Niatan merantau tidak terbendung. Langkah kakinya ingin melebar sampai ke Kota Jakarta. Padahal tahun itu, pada 1970, dia berulah menikah dua tahun dengan Fatimah. Mereka pun dikarunia seorang anak. Tapi itu mungkin alasan lain mengapa Bustaman ngotot ke Jakarta. Ia lantas ikut kakak ipar di Matraman, Jakarta Utara.

Pilihan usaha pertama sesampai dia Jakarta ialah jualan rokok. Pakai gerobak, berjalan Bustaman menjaja keliling kota.

Sukses kerja keras


Sukses rumah makan Padang miliknya memang melegenda. Dia lah pemilik usaha bernama RM. Sederhana. Pria penyandang gelar haji ini memang sekarang kaya raya. Sosoknya menjadi salah satu pengusaha dikenal disandingkan dengan M. Jusuf Kalla.

Memakai konsep waralaba menjadi pionir dalam bisnis tersebut. Bustaman menjadi salah satu pionir dalam hal bisnis waralaba. Dapat disandingkan dengan sosok pengusaha pemilik Es Teler 77.

Terlahir dari keluarga miskin. Ditinggal kedua orang tua, Bustaman kecil hidup bersama pamannya. Sejak 60 tahun yang lalu sudah pekerja keras. Tidak mau menyusahkan paman katanya. Hijrah ke Jakarta pada tahun 1970 memboyong keluarga kecilnya kemudian.

Dia tinggal bersama saudara yang bersuamikan sopir taksi. Usaha pertama ialah berjualan rokok bermodal uang Rp.27.000. Tidak mau menyusahkan orang lain. Bustaman bersama istri lantas pindah dari Matraman. Mereka tinggal ke wilayah Pejompongan. Tetap berjualan asongan, dia cuma mengantungi Rp.2000 lebih sedikit.

"Padahal waktu di Matraman penghasilan saya bisa Rp.8000," jelasnya, waktu itu padahal dia berjualan 24 jam.

Susah berjualan asongan, dia memilih menjadi penjual nasi dibantu istri. Dia menyadari berjualan makanan itu lebih awet. Bustaman berinisiatif menyewa lapak satu kali satu meter di pinggir jalan senilai Rp.3000. Lalu dia berjualan diatasnya bermodal gerobak.

Dia dibantu istri memasak. Akunya dia tidak bisa memasak, tetapi sedikit pengalaman bekerja di rumah makan membuatnya nekat. Asal coba- coba maka Bustaman mulai mahir memasak sendiri. Dua bulan sudah berlalu tetapi dia tetap tidak menjual sepiring pun.

Bustaman menghasilkan omzet Rp.425 dari modal uang Rp.13.000. Menyedihkan sekali kalau melihat dia berjuang.

Walaupun begitu, Bustaman tetap melanjutkan usaha jualan nasinya di Bendungan Hilir. Hingga dia bertemu seorang penjual nasi pinggri jalan lainnya. Dia adalah pendatang asli Solok. Dan ketika Bustaman mencicipi masakan miliknya. "Ternyata masakannya sedap," tandasnya.

"Saya lalu memberanikan diri berkenalan dengan pemasaknya dan meminta resep masakan," kenangnya.

Titik balik


Layaknya pedagang kaki lima lainnya, ada masa dimana Bustaman harus berlarian karena dikerja satpol pp. Ia mengenang dulu pernah kelimpungan sampai gerobaknya rusak. Dua bulan berlalu usahanya berpindah- pindah sebekum nyasar ke Bendungan Hilir.

Sesampai di Bendungan Hilir pun belumlah senang. Dia harus mendekatai pemuda setepat atau preman yang  diwajibkan membayar uang agar bisa berjualan. Ia menerima hal tersebut dengan lapang dada. Hasilnya dia diperbolehkan berjualan diemperan dengan uang setoran Rp.3 ribu.

Selain mentap di Bendungan Hilir, Bustaman juga menarget ajang tertentu, seperti ketika ada acara SEA GAMES, Indonesia Vs Myanmar, gerobaknya langsung nangkring di Senayan agar bisa menjamu masyarakat pecinta bola. Uniknya, ketika warung lain harganya naik, ia justru menjual seharga sama seperti biasanya.

Alhasil jualannya laku keras sampai ludes habis tidak bersisa. Empat bulan kemudian malah musibah datang kembali. Ia berkisah gerobaknya ditertibkan. Cuma diperbolehkan berjualan seluas satu meter, dan sialnya ia harus ikut undian agar bisa dapat ruang kosong. Bustaman menyiasati dengan mengadakan pendekatan ke aparat.

Hasilnya dia mendapatkan ruang seharga kontrakan Rp.5000. Nasib untung berkat kepandaian berstrategi membuat Bustaman bertahan.

Sebenarnya pemerintah Jakarta menetapkan harga per- lapak Rp.750. Tetapi melihat keadaan lapak yang tidak mencukupi. Ia mencoba menyiasati "membeli" sewa lapak sebelahnya. Bustaman bermaksud membeli dua lapak menjadi satu. Untuk itulah ia meminjam uang kepada sang paman.

Berkat tempat strategis maka usahanya maju. Usaha Bustaman nampaknya sudah berkembang tetapi justru musibah malah datang lagi. Pernah suatu ketika jarinya tersayat pisau karena memotong tunjang, menangis begitulah nasib Bustaman masih saja dicoba.

"...menangis karena susahnya hidup," kenangnya sambil berkaca- kaca.

Usahanya sudah berkembang jika dulu menanak 30 liter sehari, lalu Bustaman mampu menanak nasi sampai 60 liter. Hingga dia mengajak kerjasama istri dari pamannya. Dia mengajaknya menambah modalnya lagi.

Masalah lain datang ketika tante Bustaman terlibat piutang. Waktu itu ia meminjam uang Rp.15.000,"tetapi sudah saya bayar," imbuhnya. Akhirnya sang tante malah naksir lahan ditempati Bustaman selama beberapa tahun itu. Bahkan urusan ini sempat membawa polisi di malam pada akhirnya.

Menangislah Bustaman menerima perlakuan tersebut. Padahal dia bersusah payah membangun usaha dari nol besar. Sukses mendatangkan pelanggan tetapi pada akhirnya dia mendapat musibah kembali menyusul lagi.

Dia mendapatkan warungnya kena gusur kembali. "Gerobak dagang saya diangkut," imbuh Bustaman. Lalu ia mendapati tempat tinggalnya di Pejompongan kebakaran. Dia cuma mampu menyelamatkan diri, bersama istri, anak, dan gerobak.

Mereka lalu tinggal di rumah salah satu pemasok bahan masakan warungnya dan berusaha kembali di Bendungan Hilir.

Hidup mambawanya membuka cabang di Roxy. Sebelum ke Roxy, untung Bustaman sempatkan makan dulu di warung makan sebelahnya. Ia menyadari loh ternyata masakan itu lebih enak. Pantaslah kalau orang Solok itu mempunyai pelanggan dan lebih ramai dikunjungi daripada warung barunya.

"Dan suatu sore, saya dekati tukang masaknya, saya ajak kenalan saja. Dan ternyata orangnya sangat baik, ia mau menuliskan resep masakannya buat saya," kenang Bustaman lagi.

Warung sederhana


Berkat resep orang itulah ketika membuka cabang di Roxy tahun 1976. Dia mendapatkan lebih banyak lagi pelanggan. Resep gulai itu enak meresap ke hati pengunjung. Berbekal resep itulah, semangatnya berusaha bangkit, dia mau belajar terus mencoba olahan lain bermodal resep itu.

Pada awalnya dia berbisnis cuma untuk bertahan hidup. Tidak ada pemikiran tentang akan memiliki banyak cabang di seluruh Indonesia. Bermodal resep olahan yang sudah disesuaikan. Rasanya sudah dapat dinikmati oleh siapapun bukan cuma orang Padang. "Jadi, saya tidak buat terlalu pedas," imbuhnya.

Ayah enam anak dan kakek dari enam orang cucu ini gembira. Pasalnya resep karyanya "ayam pop" menjadi kesukaan utama di warung sederhana. Ayam goreng tanpa kulit berwarana putih seperti aslinya. Maka dia membuka warung permanen di Pasar Inpres, Bendungan Hilir, di tahun 1974, bermodal kredit dari sebuah bank.

Ruma Makan Sederhana lantas berkembang biak. Menjamur jadi 30 buah, dan seterusnya dimana dia aktif mempekerjakan saudara agar mengelola. Cuma suatu ketika terjadi pertikaian antar saudara karena usaha ini jadi makmur. Dia bersengketa dengan Djamilus Djamil atas nama Sederhana yang diusung oleh Bustaman.

Caritanya pada tahun 2004, Djamil membuka usaha rumah makan padang sendiri (tidak ikut Bustaman.red), yang lantas diberinya nama Sederhana. Sayangnya, pada tahun 1997, Bustaman terlebih dulu memakai nama RM. Sederhana, dan sudah mematenkan brand "Sederhana" menjadi miliknya.

Usut- punya usut ternyata keduanya sempat kerja sama tapi pecah kongsi. Karena sudah masuk HAKI, lalu Bustaman menuntut Djamil atas nama Sederhana dan menang di Mahkamah Agung. Pada tahun 2009 itu maka jalan damainya adalah Djamil diwajibkan menambahkan nama Bintaro -menjadi Sederhana Bintaro.

Sampai tahun 2000 -an, akhirnya HJ. Bustaman resmi mendirikan badan hukum, tujuannya agar menjaga merek Sederhana dan mengembangkan sayap bisnisnya. Jadilah PT. Sederhana Citra Mandiri yang juga menjadi pemegang hal waralaba atas RM. Sederhana di seluruh penjuru Indonesia.

Berkat resep dari orang itu, ia mampu membuka usaha sampai ke Pasar Inpres Bendungan Hilir. Merambah sampai 30 rumah makan. Bahkan sudah sampai ke Malaysia berkat sistem waralaba. Jika waralaba maka ia cuma mendapatkan fee ketika dia menyediakan semua karyawan. "Satunya lagi punya keponakan saya," tuturnya.

Untuk menjaga loyalita terutama 15 cabang asli RM. Sederhana; Bustaman memiliki trik tersendiri. Yakni ia akan menerapkan sistem bagi hasil terbuka. Dia mengungkapkan seluruh omzet kepada 300 orang karyawan dibawah PT. SCM. Kalau bicara omzet harian dia mengaku hasilkan dua sampai tiga juta per- hari.

Tetap berjaya


Meski menjamurnya waralaba fast- food tidak membuat gentar. Dalam perjalanan Bustaman ini malah jadi tantangan. RM. Sederhana menyebar dan menggeliat. Cuma saja beberapa RM. Sederhana itu merupakan hasil karya mantan karyawan Bustaman.

Ia tidak masalahkan nama dipakai. Tetapi rasa tidak karuan dapat menganggu usaha sebenarnya. Itulah ia jadi ngotot menaruh nama Sederhana menjadi brand. Dia khawatir kalau nanti pelanggan menyalahkan atas rasa tidak karuan.

"Hampir tidak ada rumah makan Padang bertahan dalam dua generasi," terusnya.

Bahkan anak Bustaman juga tidak tertarik melanjutkan usaha rumah makan. Inilah lahir PT. SCM sebagai akomodasi berbentuk badan hukum. Yang kelak menertibkan kesemrawutan RM. Sederhana. Tujuan lain agar tentu menjaga karyawan loyal.

Dengan berbentuk badan hukum maka karyawan bisa nyaman. Mereka mampu bekerja baik dan tidak akan takut karena mereka dapat ambil bagian dalam perusahaan.

Mengenang sang pemilik resep, Bustaman mengaku pernah mencarinya kemana- mana. Tetapi orang yang tidak disebutkan namanya itu tidak ketemu. Ia akan mengangkat orang itu naik haji kalau ketemu. Dia juga akan mengajaknya menjadi penasihat di perusahaan.

Memang dia tidak memiliki ambisi khusus buat RM. Sederhana. Dia cuma mau perusahaanya tumbuh. Dan kelak akan diwariskan, mungkin bukan ke anak, tetapi orang yang tertarik memegang amanah dari lisensi miliknya. Seperti lisensi atas nama RM. Sederhana, serta logo, warna, lengkung khas rumah makan Padang.

Soal "rumah makan sederhana" ternyata nama itu nama usaha dulu dia bekerja. Sebuah rumah makan yang menginspirasi Bustaman. Sang istri lah yang menyarankan memakai nama usaha tersebut. Ia menganggap itu akan mudah dikenang dan diingat.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba