Pembatik Tulis Purbalingga Belajar Secara Otodidak

Profil Pengusaha Yoga Prabowo 


 
Nama Yoga Prabowo harum menjadi pembatik tulis termuda. Ternyata dirunut, perjalanan hidupnya panjang loh, mulai dari menjadi pegawai pabrik kayu di Desa Toyareka, Kecamatan Kemangkon, Purbalingga, pada 2006. Dia lantas tak melanjutkan bekerja karena perusahaan krisis dan memilih keluar.

Menurut cerita bahwa pabrik labil. Alhasil pegawai diliburkan tanpa keterangan. Pegawai termasuk Yoga juga lebih sering tidak digaji. Yoga keluar dari pabrik kayu di tahun 2007. Pemuda kelahiran 17 Mei 1984 ini lantas bekerja sampai ke Bali.

Usut- punya usut disana dia bekerja sebagai penajag outlet. Dan ketika terjadi kejadian bom bali, makalah hilang sudah pekerjaan Yoga kembali. Dia lantas pulang tetapi mampir di Yogyakarta. Sambil bekerja pada sebuah perusahaan pembuatan batik; Yoga sempat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi seni di Kota Yogya.

Disanalah, di Yogyakarta, pemuda asli Purbalingga meniatkan belajar batik. Motif ditekuninya adalah motif khas Purbalingga. Meski berhasil belajar "mbatik" motif Purbalingga secara otodidak, Yoga nyatanya malah jadi kebingungan bagaimana menjual.

Terkoneksi jaringan


"Saat itu saya bingung bagaimana mempromosikannya, maka saya hubungi teman saya di Semarang untuk titip batik Purbalingga," tuturnya. Nah, disanalah hanya dalam seminggu saja, Batik Purbalinggan karya Yoga mendapatkan pesanan dari Disperindag Semarang.

Lalu munculah Batik Tirtamas, dimana pesanan pertama datang dari kalangan dinas, khususnya Yoga lantas menjelaskan dari Desperindag Provinsi Jawa Tengah. Mereka pemasannya adalah Indra Hanafi dan Mukti Sarjono (Desperindag Tekstil) dan dari Staff Kementrian Perindustrian & Perdagangan, Tobing berminat.

Bahkan Tobing menyebut usaha dilakukan Yoga sangat hebat. Kalau saja ini dijual ke luar negeri maka akan laku keras. Akan tetapi Yoga sadar betul usaha batik tulisnya masih dalam proses berkembang; dia belum sanggup persyaratan berkas kwitansi dan lain- lain.

Perjalanan batik Purbalingga buatan Yoga unik. Ketika Pemprov Jawa Tengah membeli batik di Semarang, lalu mengadakan pertemuan dengan Pemkab Purbalingga, nama Yoga Prabowo terkenal seketika.

"...saat kunjungan kerja Pemprov menggunakan batik buatan saya yang dibelinya di Semarang lalu beliau meminta oleh- oleh batik yang coraknya seperti Batik yang dipakainya saat itu," jelas Yoga.

Nah, ketika itu, Yoga memberikan satu kodi Batik Tirtamas, yang lantas tersisa cuma empat sisanya malah dibeli oleh Bupati Prubalingga Bpk. Triyono. Lantas serta merta dia bertanya kepada Pemkab kenapa ada pengusaha seperti dia tidak ada yang sadar. Justru pemerintah Provinsi lebih tau ketimbang Pemkab sendiri.

Semenjak kejadian tersebut semua kepala dinas dikumpulkan. Mereka kemudian diminta membantu Yoga agar bisa mengembangkan batik Purbalingga.

Koneksi internet


Kelebihan Yoga ialah dia pembatik tulis. Dia bekerja lewat rasa serta estetika lebih kuat. Menjadi jutawan muda berkat batik Purbalingga. Warna alami memberikan efek terbaik serta terlihat elegan, eksotis, dan juga mewah. Batiknya diminati oleh kolektor batik tulis berbagai kota di Indonesia.

Ia menyebut ada kulit kayu, daging kayu, bunga serta dedaunan. Oleh karena itulah dia memilih Yogyakarta menjadi basis usaha. Menurutnya batik Yogya banyak memanfaatkan alam jadi cocok. Untuk penjualan juga melalui sosial media, website atau blog, jadilah batik kian laris manis.

Dia menjual antara Rp.300 ribu sampai Rp.3 juta. Awal mengenal internet sendiri berawal dari akun pribadi yang kemudian berkembang. Dari sekedar mengisi waktu luang, sembari itulah dia berjualan batik buatan dia sendiri. Pelanggan tetap batik Tirtamas sendiri datang dari luar Jawa. Melalui sosmed saja menyumbang 40% penjualan.

"...lumayan besar," ujar Alumni Angkatan 96', Jurusan Pariwisata dan Perhotelan di Akademi Pariwisata Yogyakarta.

Yoga juga bersyukur berkat adanya jasa paket terintegrasi teknologi. Penggunaan jasa pengiriman sudah jadi kebutuhan bagi bisnisnya. Para pelanggan pun menuntut pengiriman cepat khusus ke luar Jawa. Tidak sedikit permintaan datang dari tempat pedalaman seperti di Kalimantan; ia menggunakan jasa kargo yaitu JNE.

Menurutnya infrastruktur di daerah sekarang ini sudah lebih baik. Pengiriman dapat diandalkan, sementara ia dengan santainya memajang hasil karyanya di internet. Meskipun sukses berkat sosial media, ternyata ada juga sisi negatifnya, yakni perlindungan akan desain miliknya.

Ini dirasakan betul olehnya. Ekslusipan motif batiknya menjadi kritis. Siapa saja, bahkan bukan pembeli, bisa saja mengakses hasil karyanya. Tidak bisa dipungkiri karyanya dijiplak dan diproduksi masal. Pernah sih ia berpikir mematenkan motif, hanya mematenkan berarti mengeluarkan biaya tidak sedikit.

"Karena mematenkan satu biayanya sampai Rp.2 jutaan," jelas Yoga, yang kini sudah berkeluarga dan sudah punya anak dua.

Hingga Yoga sekarang lebih selektif hal menerima pesanan. Ia melihat sendiri mereka yang mengunjungi akun media sosial miliknya. Dia memberikan kontak BB atau nomor telepon buat mereka yang beritikad baik. Ia menyebutkan kalau pembeli serius akan langsung mengontak. "Dari situ baru saya tampilkan batik- batik saya."

Survei Online Untung Berkat Bekerja Bersama

Profil Pengusaha Ryan Smith



Bisnis survei online itu mudah. Kamu tinggal mencari orang, lakukan survei, lalu menjual informasi tersebut ke para pemilik usaha besar. "Itu semuanya apa survei itu sendiri -itu merupakan wujud komponen analisis," jelasnya, Ryan Smith, CEO perusahaan paling menjanjikan di Amerika, Qualtrics.

Ia merupakan salah satu nama besar di bisnis survei online. Ryan sebenarnya mendirikan perusahaan sejak 2002, bersama sang ayah tapi tidak menemukan investor manapun selama dekade. Hingga Qualtrics lahir memanfaatkan booming era digital. Dimana perusahaan menghasilkan pendapatan sendiri senilai $50 juta.

Menurut cerita Ryan lewat Techcrunch. Dia mengatakan perjalanan panjang memodali sendiri lumayan asik. Ryan menceritakan bagaimana mereka datang ke pameran. Termasuk mencari tau bagaimana agar tidak ikut membayar masuk.

"Itu tertanam di DNA bahwa mereka sebenarnya menjalankan bisnis kuat," ujar Bryan Schreir dari Sequoia Capital. Dari sana melalui tekanan kuat, keterpaksaan (kepepet.red), mereka menjadi lebih kreatif dalam hal melihat kesempatan.

Termasuk memfokuskan diri dulu dibidang pendidikan. Selama tiga tahun, Qualtrics bertahan membangun diri bersama prospek bidang pendidikan. Bayangkan seorang Sarjana S3 mendatangi kamu, menjadi satu dari ribuan pelanggan selanjutnya, memintaan bantuan bagaimana mengadakan penelitian lewat survei.

Tidak mudah karena anak sekolahan selalui meminta upah. Mereka susah diajak kerja sama. Dimana ketika kamu mengadakan survei tradisional: Mereka akan fokus di tempat lain ketika pertanyaan pertama datang. Qualtrics memberikan aspek pemikiran tersebut, berpindah dari pendidikan menjual survei kepada pebisnis.

Survei sekolah


Mereka menjual kecil- kecilan. Sebagai perusahaan software apa yang mereka dapat kecil. Hanya saja, Ryan memiliki kepandaian dalam hal mengatur keuangan. Fakta kakak tertuanya, Jared, merupakan nama besar di teknologi -menjadi teknikal operator Google China- yang lantas ikut terjun bersama Ryan menjadi teknisi.

Lalu ayahnya merupakan profesor marketing di BYU's School of Business. Maka sang ayah, Sam Smith, jadi tumpuan Qualitrics masuk ke pendidikan. "Kami masuk ke Universitas bisnis dimanapun kami mau," jelas Ryan. Para mahasiswa marketing lantas membeli Qualtrics ketika mereka sudah diterima di perusahaan.

Salah satu klien yang bangga menggunakan software ini adalah JetBlue. Mereka kesulitan untuk mengukur opini konsumen soal penerbangan pribadi, dibanding sebagai perusahaan. Untuk inilah pendekatan online jadi krusial bagi Qualtrics mengangkat feedback dari penumpang JetBlue.

Bagaimana mengukur jam berapa penumpang berangkat ke Philadelphia, dimana selalu saja ada kesulitan ya karena banyak orang sibuk. Mereka selalu kepepet untuk mendapatkan kopi pagi. Maka perusahaan seperti JetBlue diharapkan mampu memberikan kopi gratis dan donat. Fleksibilita menjadi andalah dari software survei ini.

JetBlue sendiri pernah mengalami pengalaman buruk. Maka CEO JetBlue, Kyle Groff, kembali ke masa dia menggunakan software Qualtrics. Dia ingat betul menggunakan software familiar tersebut ketika lulu kuliah. Dan inilah kelebihan perusahaan yang telah membangun nama dari kecil.

Ryan sendiri mengaku permodalan panjang dibagi dua. Dia dan sang ayah, membagi keuangan sebanyak 50- 50, jadi keduanya lantas bekerja sama menjadi tim solid. Sebagai keluarga mereka memiliki visi sama akan software survei sekarang dan mendatang.

"Kamu harus seperti orang buta, makan apapun yang kamu bunuh (usahakan.red)," ujar Ryan.

Pertumbuhan pendapatan naik sejalan berbagai perbaikan. Qualtrics mengaku mengantongi 6.000 pengguna dan 550 pegawai bekerja bersama. Perusahaan asal Utah, Amerika Serikat ini, baru- baru saja membuka kantor di Dublin, menjadi yang selanjutnya dari kantor di Sydney, Seattle, dan Washington DC.

Dan Ryan menolak tawaran pembelian perusahaan senilai $500 juta, waktu itu, dia sudah berumur 33 tahun selama satu dekade menjalankan usaha tanpa bantuan investasi.

Kerja seimbang


Bagaimana menolak uang sebanyak itu?

Mungkin suatu saat, kamu akan menjadi pemilik sebuah perusahaan, dan ada orang yang berminat membeli perusahaan kamu. Maka Ryan Smith memberikan pencerahan bagaimana agar tetap bertahan bekerja tanpa berputus asa -jadilah seimbang antara kerja dan keluarga. Ia ingat bagaimana dia berkonsultasi bersama istri.

Jumlah segitu lebih banyak dibanding apa yang dihasilkan perusahaan. Lebih besar dibanding pendapatannya ketika itu menjalankan perusahaan. Dalam waktu 30 detik sebelum memutuskan, dia dan istri berbalik arah dan menolak menjual. Alasannya simple karena menganggap bisnis ini adalah bagian dari keluarga mereka.

Selama satu dekade mereka telah bekerja untuk perusahaan. Dia sudah nyaman menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga. Menjadi entrepreneur bukanlah masalah dalam keluarga mereka; sudah kebal soal masalah itu sendiri. Menjadi perusahaan prifat berarti semua modal merupakan hasil pembiayaan sendiri, ini susah sekali.

Satu keluarga sepakat membuat usaha Ryan tetap menjadi perusahaan keluarga. Itu tidak mudah menjadikan dia sukses di keluarga dan pekerjaan. Bagaimana dia tetap kompak dengan ayah dan saudara laki- lakinya. Ini bukan soal pendapatan minim mendadak kaya seketika; ini soal kerja bersama penuh kegembiraan.

Menjadi pengusaha sekaligus kepala keluarga sangat liar. Seperti pesawat yang bisa berubah arah seketika, ia harus mengetahui arah angin, maka dibutuhkan satu orang sebagai kemudi keluarga. Dan lainnya akan jadi bagian sistem pesawat. Kembali ke rumah dan menghabiskan weekend bersama anak, esoknya Ryan harus bersiap.

Ketika seseorang bertanya tentang tanggung jawabnya. Maka dia menjelaskan:

1. Seorang suami
2. Seorang ayah
3. Seorang anak laki- laki
4. CEO
5. Atasan
6. Saudara
7. Seorang cucu
8. Seorang teman

Dia mencatat jika dia membawa sang istri berkencan dan membawakan bunga banyak, menjadkan rasanya dia itu seperti suami baik. Dan jika dia mengajari putri kecilnya cara menaiki sepeda, dia menjadi sosok ayah yang lebih baik.

Berbeda dengan pengusaha yang hanya usaha, memiliki rencana masa depan tahunan adalah kelebihan. Tapi pengusaha sekaligus family man seperti dirinya butuh rencana mingguan. Dia mencatat semua hal bagaimana agar menjadi seimbang antara bisnis dan keluarga.

Pekerjaan mingguan Ryan adalah:

1. Sebagai suami -mengajak istri makan malam dan memberi bunga
2. Sebagai ayah -mengajar putrinya naik sepeda
3. Sebagai anak -mengunjungi orang tua. Menggabungkan poin 2 & 3

Ryan sadar bahwa orang akan berencana satu fase hidup. Tetapi dia memilih mebuat berbagai fase rencana jangka pendek. Karena menurutnya orang seperti -merencanakan saty fase hidup- akan jadi lupa langkahnya bagaimana mencapai tujuan utamanya, bahkan kalau sudah tercapai mereka bingun apa lagi selanjutnya.

Sepatu Kulit Batik Kulkith Agnes Tandia

Profil Pengusaha Agnes Tandia 


 
Jadi pengusaha tidak harus mahal. Di usia 22 tahun, Agnes Tandia sukses berbisnis padahal bermodal cuma Rp.300 juta. Dia bercerita awal memulai dari mencoba- coba. Keisengan membuat jaket kain batik ternyata berbuah usaha. Jaket tersebut dipakai ke kampus dan akhirnya teman- teman mulai menanyakan dia.

Kebetulan dia berkuliah Jurusan Kriya Tekstil Seni Rupa, Ilmu Teknologi Bandung (ITB), tahun 2008. Maka tak salah jika ide bisnis menjurus ke kain perca. Jika kain batik tulis makin lama makin mahal. Lantas apa kabar sisanya, cuma menjadi tumpukan limbah.

Agnes mencoba mengangkatnya kembali. Semenjak jaket batik tersebut dibawa, banyak teman yang tertarik untuk membeli. Pesanan sangat banyak bagi Agnes mencapai 100 buah, memakain uang modal tiga ratusan ribu. "Omzet pertama jaket saya mencapai Rp.3 juta sebulan," kenangnya.

Bisnis batik unik


Ditemui di toko batik miliknya, bilangan Sukamulaya, Bandung, maka Agnes bercerita kembali tentang apa perjalanan bisnisnya. Bermodal sedaanya dibuatlah empat jaket. Itu langsung ludes hingga uang untung dapat diputar kembali. Melihat kain perca batik menumpuk ide lain muncul, termasuk membuat sepatu batik.

Di tahun 2009, Agnes memamerkan sepatu batik tersebut ke ajang Inacraft. Respon positif kembali nampak dihadapannya. Waktu itu padahal cuma "nebeng" stand milik kakak kelas. "Saya juga menitipkan kartu nama sebanyak mungkin."

Ketika itu usia Agens masih 19 tahun. Sukses berbisnis jaket melebarkan sayap ke sepatu batik. Berbeda di jaket yang batik kesemuanya. Sepatu Agnes memakai sistem menaruh perca diatas sepatu. Atau lapisan luar sepatu ditempeli batik sisa produksi jaket. 

Semakin banyak peminat, Agnes merespon hal itu lewat menamai usahanya Kulkith. Lewat ajang pameran Incraft di Jakarta Convention Center (JCC), usahanya makin dikenal oleh publik dan batik Kulkith mampu mengantungi Rp.8 juta. Padahal modalnya membawa sepatu dua lusin ke Inacraft cuma Rp.2 juta.

Agnes makin mantap saja bahwa batik merupakan passion. "Dari dua lusin saya bawa, yang tersisa hanya lima pasang," lanjut Agnes. Terobosan terbaru dilakukan olehnya meliputi sandal batik, dan juga sepatu kulit berlapis kain batik.

Sepasang sepatu dibandrol Rp.325.000 ketika di Inacraft. Dengan entengnya dia mengaku "pasrah" kalau laku ya bersyukur tetapi kalau tidak, ya tidak apa- apa. Karena memang kala itu, ia sudah dikenal sebagai seorang pengusaha jaket batik. Begitu sepatu batik laku keras maka dia meninggalkan usaha membuat jaket.

Alasan utama karena respon pasar lebih kuat. Untuk menambah jenis sepatu digunakan berbagai referensi termasuk melalui internet.

Ya karena modal terbatas maka Agnes juga menjual di internet. Berbagai cara pemasaran dilakukan olehnya. Yang paling mengena ialah melalui perantara fashion blogger. Nama Diana Rikasari dijadikan brand booster melalui review. Dia mulai menjelaskan detail produknya ke Diana Rikasari. "...dia pakai dan dia review di blog."

Bisnis online


Tujuan usaha tidak selalu soal untung. Satu hal ingin dicapainya ialah menjadi trend setter yakni bagaimana ia mengajak kaum muda mencintai batik. Memang dulu batik terkenal tua tidak cocok dipakai dikesempatan di luar formal.

Langkah pertama ialah lewat membuat jaket batik. Bermodal minim target pasar cuma sebatas teman- teman di kampus. Agnes dengan bangga memakai jaket buatan sendiri. Jaket dengan capuchon dua sisi yang bisa dipakai bergantian. Ini dipakai sebagai tes pasar juga bagaimana tanggapan anak muda.

Agnes melihat disana ada peluang bagi pasar anak muda. Sukses membuat batik, limbahnya tercecer, maka kain perca tersebut dijadikan sepatu juga sandal. Limbah batik dari hasil produksi jaket memang terbilang banyak menumpuk. Dia memilih sandal serta sepatu karena kebutuhan batik tidak banyak.

Untung karena dia berada di Bandung, maka tidak sulit dia menemukan penjahit ahli. Sebagai wanita maka ia termasuk mengikuti trend; disaat musim model Gladiator maka dia ikut, musim flat shoes maka batik Kulkith tidak ketinggalan.

Dia tidak sulit mendapatkan penjahit bagus. Ditambah bekal ilmu dari kampus, serta pandangan kedepan akan batik menjadikan Agnes sang juara. Perpaduan antara estetik corak batik dan kulit sintetis. Soal bahan baku dikatakan Agnes mudah didapat. Bahan batik sendiri terbilang lengkap, dari Pekalongan, Cirebon, Solo.

"...Yogyakarta. Malah sampai kain tenun ikat pun ada," Agnes menjelaskan. Karena saking cinta akan batik, ketika bepergian dia sempatkan membeli batik di daerah.

Disaat bersamaan kemajuan sosial media mendukung. Selain melalui perantara fashion blogger, yang sudah punya banyak follower setia. Usaha lain dilakukan Agnes yaitu melalui Facebook. Waktu itu semua orang berlomba bersosial lewat Facebook. Berbeda dia malah menjadikan Facebook tempat dia berjualan.

Jangkauan Kulikith meluas layakan sosial media. Ia mampu merambah Malaysia dan Belanda. Tahun 2009 juga dia mengirim lima lusin ke Belanda. Target pasar sendiri dia memilih memproduksi cuma sepatu batik wanita. Pasalnya menurut Agnes wanita lebih peka soal desain.

Setiap bulan dia merilis tiga desain baru sesuai trend. Harga juga disesuaikan tidak terlalu mahal, tidak terlalu berat di kantong wanita. "Jika harganya murah, mereka akan sering berbelanja," lanjut Agnes. Meski murah dia tetap fokus akan menjaga kualitas bahan. Lanjut yaitu pemilihan corak batik yang cocok buat sepatu.

Keluhan datang justru masalah tenaga kerja berkualitas. Utamanya dibidang desain, dibutuhkan kreatifitas yang tinggi untuk bisnis tersebut.

Langkah ke depan


Kini dia mampu menggaji empat orang karyawan. Penjualan naik menjadi 300 pasang per- bulan cuma lewat sosial media. Agnes juga aktif mengikuti aneka pameran kewirausahaan. Agnes lantas merintis bisnis offline store merekrut saudara serta teman. Juga termasuk toko di Bali, Agnes masih mantap membesarkan usaha ini.

Kalau permintaan naik seperti kala Lebaran, Agnes mengakali lewat mengajak pegawai tambahan. Semakin hari nama Batik Kulkith semakin terkenal. Soal ekspor belum sampai kesana, karena diakui olehnya masih sukar soal perijinan ditambah masih ada keluhan di pembeli lokal.

Masalah seperti gambar tidak seperti sepatu dibeli. Hal lain masih berputar dalam hal ukuran sepatu. Tidak sampai menurunkan omzet sih. Namun hal kecil tidak dia nafikan, justru semakin diminimalisir agar usahanya makin ke depan. Agnes lalu memperbaiki sistem menejemen bisnis Batik Kulkith.

Agnes juga bereksperimen melalui aneka macam akesesoris. Masih diarea yang dia senangi yakni kain batik. Kenapa mengambil batik? Karena Agnes mencintai batik. Jika biasanya batik dipakai di acara pernikahan, maka ditangannya batik menjadi fashionable, bisa dipakai kapan saja. Tidak perlu ada acara khusus buat batik.

Meski membuat produk lain seperti membuat jaket kembali. Nama Kulkith kadung dikonotasikan sebagai brand sepatu batik. Ia tidak menolak kenyataan ini. Meski begitu menjadi bukti bahwa brand -nya kena di hati masyarakat luas. Namun persaingan semakin ketat membuat Agnes harus siap selalu berkreasi lagi.

Produk batik semakin banyak. Tidak sedikit meniru desain diluncurkan Kulkith. Agar bisa bertahan dia pilih memiliki identitas tertentu. Ciri pada produknya dianggap penting. Meski sama sepatu batik tetapi fitur yang dihadirkan berbeda. "Intinya kita harus terus melakukan inovasi," tambahnya.

Tukang Sayur Ganteng Kaya Berkat Ketekunan

Profil Pengusaha Samsul Arifin 



Mahasiswa ini tidak malu harus berjualan sayur. Samsul Arifin menyatakan bahwa dia berjualan karena ingin membiayai kuliah. Memulai usaha bermodal seadanya. Namun, berkat kegigihan, ia kini menghasilkan omzet mencapai omzet Rp.6 juta.

Ia pedagang di Pasar Blok A Jakarta Selatan. Sambil berjualan sayur kuliah tetap dijalankan. Dia adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Professor DR Hamka, sambil menyambi menjadi tukang sayur. Ketika ditemui pewarta, ternyata dia masih berumur 24 tahun sudah nekat berbisnis.

Meski dinilai orang usaha sepele. Faktanya menghasilkan uang lebih dari yang dibayangkan. Bahkan oleh dia sendiri ketika menjalankan usaha tersebut. Meski terlihat riang sudah banyak masa sulit dilalui dulu.

Bermodal Rp.1 juta, uang tersebut digunakan untuk membeli sayur langsung dari petani. Dimulai sekitar 6 tahun jadi bukan serta- merta sukses seketika. "...sekarang usia saya 24 tahun," tutur Samsul. Waktu dirinya memulai masih berumur 20 tahunan.

"Awal dagang buat menutup uang kuliah," tutur dia. Omzet usaha dari gerai kecil tersebut naik sampai jadi Rp.180 juta per- bulan. "Kalau 1 bulan dihitung saja sendiri," ucap dia kembali.

Cara membeli sayur langsung ke petani memang lebih baik. Harga didapatkan pun lebih baik dibanding dia membeli di pasar dan dijual kembali. Benar- benar sayur segar didapatkan Samsul. Berkat ketukanan maka ia mampu menaikan gerai kecil di Blok A tersebut jadi berjaya.

Bahkan usahanya sudah menjadi dua. Dia tidak cuma punya gerai di Pasar Blok A Jakarta Selatan, tetapi juga di Pasar Induk Kramat Jati. Untuk di Blok A mempekerjakan 5 orang karyawan membantu. Di Pasar Kramat Jati dijaga dua orang.

Tidak cuma kuliah


Berkat usaha tersebut tidak cuma berkuliah. Dia bahkan membangunkan rumah buat ibu tercinta. Dari dia berjualan sayur bisa kuliah, beli mobi, beli motor, tanah, "...bangunin ibu rumah," tutur Samsul senang. "...dan mudah- mudahan untuk biaya kuliah," senangnya lagi.

Dia tidak muluk soal bisnisnya sekarang. Samsul cuma berharap pemerintah mampu menstabilkan harga. Ia berharap pertumbuhan ekonomi serta stabilitas keamanan. Layaknya mahasiswa, dia rajin mengamati setiap kebijakan dikeluarkan pemerintah.

Kalau aturan konsisten pastilah nasib pedagang akan tetap hidup. Samsul pun mengajak kita agar tidak malu menjadi apapun. "Jangan takut enggak punya modal, kalau mau usaha pasti ada jalan," Samsul menyarankan.

Dikesempatan lain, pemudah yang pernah diliput khusus oleh Detik.com, menceritakan kembali kisah sukses milikinya. Dikesempatan tersebut diceritakan oleh jurnalis warga Kompasiana -oleh Max Andrew Ohandi, maxandrew.com- Samsul tengah menghandiri acara bersama pedagang kecilan di Koperasi Sejahtera.

Telisik, ternyata usaha jualan sayur bukan hal baru, dia melanjutkan usaha kecil- kecilan orang tua dulu. Tapi usaha tersebut disebutnya hampir bangkrut. Untuk membangkitkan usaha itu, ia meminjam uang saudaranya sebesar Rp.1 juta. Tahun 2008, lebih tepatnya dia berhutang sekitar Rp.957 ribu, dibelikan beberapa peti sayuran.

"Saya pun gigih menjual sedikit demi sedikit peti sayuran tersebut dengan satu jenis sayuran saja," Samsul menceritakan kembali. Yah awalnya dia cuma menjual satu macam sayur yang dirasanya paling laku.

Dari untung dikumpulkan dibelikan kelengkapan sayur lainnya. Telaten Samsul memutarkan uang kembali tidak dipakai kepentingan pribadi. Hingga akhirnya mampu membeli beberapa peti sayur berbeda. Lalu dari sana muncul pertanyaan dari seorang wanita bernama Ibu Rumiyanti, seorang pedagang sayur juga.

Pertanyaan bagaimana menambah pelanggan dan tanggapan Samsul tentang harga cabe tinggi. Maka Samsul menjawab langsung yakni lewat pricelist. Maksudnya dia akan mensurvei dulu, membagikan harga sayuran dijualnya ke pemilik warung atau warteg. Melalui strategi tersebut sukses menjawab pertanyaan pertama dari si Ibu.

Untuk pertanyaan kedua, tanggapan Samsul tentang harga cabai naik- turun, dia menyarankan penjual sayur agar lebih bersabar mengamati harga. Ketika harga naik tinggi namun tiba- tiba turun drastis. Jangan langsung diturunkan. Samsul menyarankan tunggu 3 atau 4 hari apakah harga benar turun.

Kalau harga tiba- tiba naik lagi, maka mau- tidak mau pedagang menjual lebih mahal. Akibatnya konsumen jadi ilfil atau kecewa akan keadaan harga. "Oleh sebab itu harus ada jarak menaikan harga atau menurunkan harga," saran Samsul.

Sebagai penutup dia menceritkana kisah seorang Bapak yang kios sayurnya terbakar. Sang bapak akhirnya memilih melamar kerja di Supermarket tetapi ditolak. Lantaran bapak itu tidak memiliki email. Maka, suatu hari, dia mencoba membeli 4 peti sayur untuk dijual. Hasilnya mengejutkan dia bangkit berhasil mendapat untung.

Sampai suatu ketika seseorang mau menjadi pelanggan tetap. Si bapak mengiyakan ajakan kerja sama itu. "Baiklah nanti kita bicarakan lewat email lengkapnya ya pak," ujar pelanggan itu. Lalu ia menjawab tidak punya email. Pelanggan lantas menyaut, "apa bapak tidak punya email? sedangkan bapak tidak punya email saja sukses."

"KALAU SAYA PUNYA EMAIL SAYA AKAN MENJADI PEGAWAI SUPERMARKET," jawabnya, yang penulis simpulkan kesuksesan terkadang hadir dari ketidak mampuan. Usaha apapun kalau kamu mau menseriusi maka akan menghasilkan nilai.

Wirausaha Tanpa Usaha Kisah Dapur Tulis

Profil Pengusaha Agoeng Widyatmoko 



Gara- gara diPHK perusahaan, hidup Agoeng Widyatmoko berubah 180 derajat. Beruntung bekal jurnalistik itu mampu dia gali kembali. Jika kebanyakan orang akan mencari kerja. Maka Agoeng lebih memilih menulis buku. Dia terbilang nekat tidak mau bekerja lagi. Padahal uang pesangon cuma cukup buat beberapa bulan saja.

Lelaki kelahiran Yogyakarta memilih berwirausaha. Selepas dia diberhentikan oleh perusahaan media tempat dia bekerja sebelumnya.

Wirausaha tanpa usaha


Menjadi penulis dirasa tepat menjadi langkah awal. Berwirausaha tidak melulu menghasilkan produk untuk konsumsi. Namun, membangun bisnis apapun jenisnya, pastia akan menemui kesukaran begitupula Agoeng merasakan. Dimulailah rancangan tulisan atau portfolio karangan, lalu Agoeng segera menulis dalam bentuk buku.

Hanya ternyata tidak semudah membalik telapak tangan. Buku pertama miliknya gagal di pasaran. Agoeng tak patah arang mencoba. Buku pertama diterbitkan di tahun 2005, berjudul "Cara Jitu untuk Mendapatkan Kredit di Bank -Panduan untuk UMK". 

Menarik bukan?

Fakta bahwa dia tidak pernah berwirausaha tidak diketahui. Ia nekat menulis buku tersebut dan gagal. Buku kedua juga bertema kewirausahaan, pada 2006, Agoeng meluncurkan buku ke dua langsung meledak. Buku yang berjudul "100 Peluang Usaha" tersebut, lantas sukses besar menjadi best seller.

Waktu itu dia bertemu momen tepat karena belum sebanyak sekarang. Kalau sekarang kamu tingga buka di internet akan berjejer aneka buku kewirausahaan. Sukses buku tersebut bahkan diminta cetak tujuh kali. Ia pun lantas diundang menjadi pembicara wirausaha.

"Ada yang bertanya, dari 100 peluang itu, saya sudah coba usaha apa aja?" kenang Agoeng. Seolah sadar bahwa dia butuhkan lebih dari sekedar menulis tetapi mempraktikan.

Semenjak menikah dengan Anita Marfi, tahun 2007 menjadi titik baliknya masuk ke dunia wirausaha yang sesungguhnya. Dia bersama istri lantas membuka jasa penulisan bernama DapurTulis. Istrinya sendiri bahkan rela keluar dari pekerjaan untuk berjualan. Sedangkan Agoeng bertugas sebagai pengontrol kualitas tulisan.

Pada masa itu memang masih belum banyak jasa penulisan. Untuk mendapatkan klien, Agoeng rela berjalan jauh mencari klien. Mereka harus kemana- mana menjajakan layanan. Jasa paling banyak diminta dari klien adalah jasa pembuatan annual report, buku biografi, atau juga mengisikan situs perusahaan atau perorangan.

Usaha tersebut dijalankan bermodal rumah kontrakan sepetak. Di rumah tersebut tempatnya sempit, tidak memungkinkan ia mengajak klien ke rumah. Justru dari tempat tersebut, pasangan suami- istri ini, sepakat untuk saling menghibur dalam keterbatasan.

Keseriusan berkah


Serius mengerjakan bisnis jasa penulisan. Dari sekian puluh klien ditemui, maka datanglah klien pertama dari rekomendasi teman sang istri. Inilah menjadi titik bangkitnya usaha mereka. Cuma bermodal obrolan ringan di kampus Depok.

"Pertama dapat klien Alhamdulillah langsung disuruh ngisi konten website lembaga wisata internasional, Singapore Tourism Board" terangnya.

Menjadi klien pertama sekaligus membuka referensi pekerjaan sejenis. Agoeng mulai mendapat pekerjaan lebih banyak lagi. Mulai juga mengakat karyawan dan beberapa karyawan lepas. Usaha DapurTulis berjalan menjalankan beragam layanan jasa menulis.

Paling membanggakan ialah dua buku biografi yang sempat dia bantu, kemudian masuk serta dibahas khusus di acara Kick Andy.

Pencapaian tertinggi DapurTulis ketika diberikan kepercayaan pemerintah menangani yang namanya Annual Report ASEAN Secretariat, yang kemudian digunakan dalam pertemuan ASEAN Summit 2011 di Bali oleh Presiden Amerika, Barack Obama.

Berkat usaha jasa penulisan dirinya sekarang membangun rumah kantor di Depok, Jawa Barat. Menurutnya itu senilai nilai usahanya selama setahun setengah saja. Tetapi perlu ditekankan, namanya usaha berbasis kreatifitas sukar dihitung nominal. "Sebab, bisnis berbasis kreatifitas tidak ada patokan harganya," tuturnya.

Agar omzet tetap, Agoeng memilih menyasar LSM dan yayasan, disinalah pasar dianggapnya banyak serta itu memiliki nilai sosial. Sekarang tim DapurTulis aktif membagikan ilmu menulis, secara formal maupun lewat seminar, wujud lain yakni lewat lembaga pelatihan menulis.

Ia mengingkan orang semakin banyak paham soal nilai tulisan. Karya tulis merupakan mendidik, menjadi satu cara mewariskan ke anak cucu. "Bukan semata soal uang," tandasnya. Agoeng pun bersyukur karena pernah diphk, karena disanalah jiwa wirausahaanya menemukan tempat dan berkembang seperti sekarang.

Kunci sukses Agoeng, "...lakukan apa yang kita bisa semaksimal mungkin, pasti ada jalan."

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba