Kertas Berbahan Batang Pisang Pengusaha M. Shafiq

Profil Pengusaha M. Shafiq

 
kertaspisang.png
 
Terbersit pikiran membuat kertas berbahan batang pisang. Dia ingin membuat Al Quran sendiri. Inilah kreatifitas M. Shafiq kini sibuk menggeluti bisnis alternatif kertas tersebut. Kertas bukan sembarang kertas, tapi kertas- kertas yang dibuat dari batang pisang. 
 
Tidak hanya memberdayakan masyarakat tapi juga menjaga lingkungan. Pasalnya di daerah asalnya bagian batang pohon pisang ini jadi sampah. Bentuk tidak menarik, berair, dan tidak punya nilai ekonomi. Berbanding terbalik jika berbicara daun atau buahnya.

Batang pohon pisang ditempatnya, biasanya, akan langsung dibuang setelah habis buahnya. Dibanding dengan daun dan buahnya yang bisa dijual, memang batang pisang cenderung diabaikan. 
 

Pengusaha Pisang

 
Pria asli Boyolali, Jawa Timur, itu lantas menjelaskan dulu ia pernah bekerja di Yayasan Istiqlal. Sebuah tuga membuat Al- Quran raksasa, bersama temannya, mereka menemukan fungsi lain batang pisang. Dari batangnya itu bisa diolah menjadi kertas warna- warni.

Tidak cuma digunakan membuat Al- Quran. Kamu juga bisa membuat kertas kardo dari batangnya. Selepas keluar dari Yayasan Istiqlal Shaiq meneruskan penemuannya itu. Pengusaha alumnus IAIN Wali Songo, Semarang, bersama beberapa temannya mendirikan usaha kertas daur ulang. 
 
Perusahaan unik fokus pada membuat aneka kertas dari batang pisang. Perusahaan berbendera Banana Paper ini membuat aneka kertas termasuk kertas kado yang elegan atau kartu undangan nan cantik.

"Awalnya pengin bikin Alquran yang ditulis sendiri, kemudian dari situ bikin usaha kertas daur ulang dari kertas koran bersama teman, tapi saya akhirnya resign dan mengkhususkan pada bahan baku pisang," ungkap Syafiq, saat ditemui di Pameran Inacraft 2013 Jakarta, ketika tengah memamerkan produk- produknya.

Banyak alasan mendorong dirinya mengerjakan bisnis ini. Selain fakta bahwa ini penemuan baru, tapi fakta bahwa di daerahnya, ia menemukan banyak batang pohon pisang terbengkalai. Alasan lain kenyataan bahwa masyarakat di sekitar rumahnya berpendidikan rendah. 
 
"Kampung saya banyak pohon pisang," selorohnya.

Kalaupun dipergunakan, orang menggunakan batang pisang secukupnya untuk bungkus rokok tembakau. Lalu Shafiq pun membeli sisanya untuk diolah kembali. Apa kelebihan kertas dari batang- batang pisang dibanding kertas biasa. 
 
Pohon pisang mengandung zat anti- air yang kuat sehingga tidak akan membutuhkan banyak bahan pengawet. Dia sendiri mendapatkan pengetahuan itu dari seorang teman.

Kertas Berbahan Pisang


Syafiq mengaku tidak pernah belajar khusus. Dia cuma belajar inti pembuatan kertasnya bukan prosesnya. Dijelaskannya ia telah mengantongi ilmu bagaimana kertas itu disaring. Tapi untuk saringan apa, bagaimana ia memprosesnya, bubur kertanya diapakan, semua itu dari otodidak. 
 
Dia mengaku semua belajar dari trial- error saja. Untuk membuat kertas ia akan mendatangi petani sendiri. Dibelinya seharga Rp.1.750 per- kg itu langsung ke para petaninya.

Dalam sebulan diakuinya membutuhkan 600kg batang pisang. Pewarnanya ada dua macam: pewarna alami dan sintetis. Guna menarik perhatian masyarakat kertanya biasa dihiasi. Syafiq menghiasi dengan daun- daun aneka bentuk. 
 
Bisa pula membuat hiasan sendiri berbentuk binatang, bunga, ataupun motif daun. Hiasan itu bisa pula diambil dari alam. Kertas Banana Paper terlihat unik karena coraknya aneka ragam.

Adapula yang dihiasai daun pohon kelengkeng, daun cemara, bougenvile, kupu- kupu, dan belang.

Dibutuhkan waktu bagi dirinya untuk sampai pada masa sekarang. Butuh lah waktu bagi pria kelahiran 7 November 1967 ini untuk memulai usaha. Dimulai dengan menitipkan produk lewat toko, mengikuti berbagai bazar, ataupun melalui jaringan pertemanan. 
 
Setelah jatuh bangun sebagai pengusaha pemula. Akhirnya usaha Bananan Paper di JL. Sadang Serang No.8 Bandung ini meraih pasarnya. Dibutuhkan waktu 3 tahun jelasnya. Omzetnya bahkan melonjak sampai Rp.300 juta per- bulan. Termasuk jika memasuki bulan Ramadhan. 
 
Produknya sampai ke Bali, Jakarta, ataupun Bandung tetapi juga Malaysia. Guna memenuhi kebutuhan dibutuhkan 10 orang dipekerjakannya. Dalam sebulannya ia bisa menghasilkan angka Rp.6.000- 55.000 per- lembar. Produknya juga termasuk bok- bok hias ataupun cover buku lucu.

Bisnis Keripik Paru Sapi Untung Ratusan Juta

Profil Pengusaha Purboningsih Sri Yuniati

 

bisniskeripikparu.png
 

Mau jadi pengusaha untung ratusan juta. Coba tiru bisnis keripik paru sapi buatan Bu Pur. Berasal dari wilayah Salatiga sentra pembuatan karipik khas ini. Pembeli dari luar tidak cuma sekitar, tetapi keripik paru sapi menjalar sampai Jakarta.

 

Paru sapi memang idaman diolah berbagai macam. Salah satunya dibikin keripik dan khas Salatiga. Selain enting- enting gepuk nama makanan paru sapi diminati. Ini menjadi incaran wisatawan ketika berkunjung ke wilayah lereng gunung Merbabu.

 

Nama pengusaha tersebut Purboningsih atau Bu Pur. Bercerita bahwa Keripik Paru Sapi Cap Bu Pur dari wilayah Yogyakarta, Tangerang, Bandung, dan Jakarta. Di Salatiga asalnya sudah tersedia di grosir oleh- oleh langganannya.

 

Bisnis Keripik Paru Sapi

 

Masing- masing pelanggan perhari memesan dua sampai tiga kali sebulan. Buat memenuhi pesanan dia memproduksi rata- rata dua kuintal paru, atau setara 200 bungkus keripik. Usaha sejenis juga dilakoni wanita bernama Sri Yuniati.


Sri menamai usahanya Cap Lombok. Sri merupakan pengusaha wanita asal Mrican, Salatiga. Dia telah memproduksi sejak 20 tahun silam. Produksinya menyasar wilayah Semarang, Bogor, Tangerang, dan Jakarta. Ia cuma memproduksi 24% buat pasar Salatiga, sisanya nanti dijual keluar kota.


Harga keripik kedua pengusahanya dikisaran Rp.80 ribu perkg. Ukuran kecil dijual Rp.25 ribu perkg, dan ada kemasan kaleng berbobot 1,35 kg, dijual seharga Rp.145 ribuan. Untuk memproduksi kedua merek ini mendapatkan pasokan rumah pemotongan sapi Salatiga.


Mereka kompak mencari bahan baku dalam kota. Dan mereka menghindari pembelian dari daerah lain seperti Boyolali. Semua disebabkan kekhawatiran pengusaha akan kualitas sapi. Kan jauh takutnya berasal dari sumber sapi gelonggongan.


Sapi gelonggongan merupakan sapi diminumi air banyak biar berat. Baik Pur maupun Sri membeli paru sapi segar seharga Rp.40 ribuan. Rata- rata Sri membutuhkan paru bermutu baik, dapat dilihat dari warna dan kekeringan paru.


"Paru yang bagus berwarna jambon (merah muda) cerah, dan tidak mengandung air," terang Bu Sri.


Bahan 50 kg begitu hanya terpakai separuhnya. Bukan karena tidak dipakai melainkan susut. Sebelum dimask, paru harus direbus dahulu sampai terjadi penyusut, baru dibumbui dan digoreng. Keripik paru setelah direbus diiris tipis dahulu. 


"Ketebalan paru harus diperhatikan agar renyah," lanjutnya. Sri pun sudah hafal ukuran tipisnya keripi ketika mengiris. Tidak perlu memakai alat mengukur tertentu. Sri mengatakan ukurannya tipis. Bila tidak hati- hati saat mengiris, maka bisa- bisa tangan dan jari menjadi korban.


Taukah bahwa permasalahan utama bisnis keripik paru sapi dimana. Terletak di bahan bakar memasak baik gas maupun minyak butuh banyak. Mahal sampai akan mempengaruhi harga produk. Maka dua pengusaha baik Bu Pur maupun Bu Sri memakai bahan bakar kayu.


Penggunaan kayu bakar ternyata memberikan efek ganda. Bahwa keripiknya akan berbau harum bila memakai bahan kayu, selain lebih murah. "Wanginya bisa beda dan lebih khas," lanjut Sri. Dia bisa mengantongi untung ratusan juta, dan Bu Pur Rp.30 juta, dan berlipat ganda bila Ramadhan tiba.

Pengusaha Cantik Batik Trusmi Sally Giovanny

Biografi Pengusaha Sally Giovanny


pengusahacantik.png
  
Perkenalkan pengusaha cantik pemiki Batik Trusmi, Sally Giovanny. Hidup memang memilik pilihan. Bagi pengusaha muda pilihan adalah resiko terbesar. Wanita cantik bernama Sally Giovanny berikut menjadi contoh nyata. 
 
Bayangkan sejak umur 18 tahun, Sally sudah dihadapkan pilihan mau usaha sendiri atau berhenti sekolah. Lulus SMA karena biaya Sally sempat galau mau melakukan apa nantinya.

Sally terlahir dari keluarga broken home. Kedua orang tuanya cerai ketika umurnya 6 tahun. Dia tinggal sama ibunya, yang setiap pagi buta pergi ke pasar. Ibu Sally membeli aneka sembako buat dijual kembali. Hidup dia memang penuh keprihatinan.
 

Rahasia Bisnis


Apakah dia mau kuliah atau membuka usaha. Ternyata tidak memilih kuliah sambi bekerja. Sally memilih fokus berusaha buat membantu keluarga. Alasan membiayai adik di bangku sekolah dasar memang kuat. Disisi lain gadis 18 tahun itu sudah memiliki cita- cita menjadi pengusaha mandiri.

Keputusan terbesar ialah ketika dia memilih menikah muda. Tentu kalau satu ini, keluarga sempat protes ya, namun keinginan tersebut dipastikan bukan keinginan sesaat. Dia menikah dengan Ibnu Riyanto, pemuda yang seumuran dia, dan justru karena menikahlah usahanya sukses sampai sekarang.

Ibnu bukan orang kaya. Bukan pula keturunan orang kaya berwarisan banyak. Banyak orang mencibir tapi mereka tetap menikah. Dari uang amplop bisnis mereka dimulai. Berkah setelah menikah justru dirasa Sally membawa angin segar. Ibnu sendiri sosok bertanggung jawab. 
 
Dia juga tidak takut memberi makan Sally. Awal berbisnis beneran, Sally butuh waktu beradaptasi hingga benar- benar berbisnis batik. Yah Sally adalah pengusaha batik Trusmi yang terkenal itu loh. Diawal dia mengaku bisnis batik bermodal Rp.35 jutaan. 
 
Yang mana merupakan hasil sumbangan pernikahannya dulu. Ia merasa beruntung karena menikahi lelaki hebat. Sosok Ibnu meski 18 tahun, memiliki visi juga dibidang kewirausahaan. Keduanya kemudian berbisnis jualan kain mori. 
 
Inilah cikal- bakal bisnis batik Sally dimulai dari menjualkan kain mori kepada pembatik. Langsung dibawanya dari pabrikan kain ke sentra- sentra batik.

Sally menjadi suplier buat pengrajin batik Cirebon. Kain putih tersebut memang dijadikan kain batik. Namun dia menyadari menjadi suplier mori cuma gitu- gitu aja. Dia melihat banyak kain mori tersisa tidak terjual. Ia dan Ibnu lantas mendekati pengrajin batik tersebut.

Keduanya memintakan seorang pengrajin membatikan. Tolong dibuatkan desain di sisa mori jualan mereka. Ia sendiri kemudian menjajakan batik Cirebon tersebut. Melihat peluang di kota Jakarta lebih besar. Sally memutuskan memasarkan batik Cirebon ke Pasar Tanah Abang.
 
Pengusaha cantik Sally pergi bersama suami ke Jakarta bermodal nekat. Bayangkan agar menghemat akomodasi, keduanya itu sepakat berangkat jam 12 pagi, sampai di Jakarta istirahat di pom bensi ataupun masjid. 
 
Ketika pasar buka, bukannya menyewa porter, Sally meminta sang suami mengangkut berkarung batik Cirebon sampai ke atas. Dia meminta Ibnu sendiri memanggul berkarung batik. Masuk ke Tanah Abang, mereka harus menelan satu kekecewaan; batiknya tidak laku! 
 
Alasan penjual disana karena sudah memiliki suplier besar. Bukan seperti mereka yang baru saja berbisnis sendiri. Untuk membalik keadaan mereka membuat desain lebih unik.

Mereka membuat desain berbeda dari umumnya. Bersyukur batik karya Sally akhirnya dibeli meskipun tidak banyak. Ia lantas mengenang perlakuan salah satu penjual di sana, "saya coba dulu ya dan bayarnya pake giro, alias dibayar 3 bulan kemudian." 
 
Katanya sih begitulah cara pembayaran diterapkan di Tanah Abang. Sally pun menego agar dibayar tunai. Namun sebagai catatan harga jual diturunkan Rp.1000 per- kainnya. Ia tidak putus asa malah semakin semangat. 
 
Bermodal untung sedikit diputarkan menjadi modal kembali. Dia lantas mengajak suami membuka toko sendiri. Uang Rp.15 juta dibayarkan buat membuat toko sendiri. Ada dua pilihan membuka toko: Memilih buat toko besar namun masuk ke perkampungan. 
 
Atau membuka toko kecil di tempat strategis. Keputusan ini diambil dan kedua dipilih jadilah satu toko kecil di pusatnya keramaian. Mereka membuka di kawasan sentra jualan batik. Mereka menyulap sebuah rumah di Jalan Trusmi Kulon no. 129 menjadi pusatnya.
 

Sukses Batik Trusmi

 
Sebuah rumah disulap menjadi galeri batik bernama Batik IBR. Wanita kelahiran 25 September 1988 ini, hanya memiliki dua karyawan awalnya, beruntung ketika batik lantas jadi booming besar!
 
Berawal membeli kain mori di pabrik, Sally menjualkan ke pengrajin batik Cirebon. Dia membeli kainnya per- meter. Mana lagi kain mori dibeli Sally itu tipis. Alhasil untung dihasilkan Sally sangat sedikit dan punya resiko besar tidak laku. 
 
Membuat batik sendiri menjadi siasat ia mendapatkan untung lebih. Salain itu, dia dan sang suami merekasakan ketertarikan akan pola batik. Keduanya setuju buat berguru ke seorang pengrajin batik. Mereka menjalin kerja sama mau dibuatkan batik Cirebon. 
 
"Saya banyak belajar. Kemudian bermitraan dengan pembuat batik," pungkasnya.

Perbandingan berjualan batik dan kain kafan keliatan. Bayangkan jika dia menjual 36 meter kain polos hanya untung Rp.10.000. Jika pengrajin sudah mengolah maka 2 meter untung Rp.5000. Dia mulai membuat desain batik sendiri. 
 
Pertama kali membatik dia membuat batik cap kemudian batik tulis khas Cirebon. Profesionalitas Sally diuji bukan sekedar untung. Wanita mualaf berjilbab ini tidak mau setengah. Mendalami batik dia memproduksi cap dan batik. 
 
Melewati jalan panas, berdebu, keringat bercucuran, Sally mampu masuk ke pasar Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Toko batik dibuka dia dan Ibnu berukuran kecil. Dan "sialnya" mereka membuka didepan toko batik besar. Mereka terbiasa melihat banyak pengunjung datang ke depan. 
 
Tidak cuma orang tetapi mobil berjejer di depan toko tersebut. Mereka kalah dari luas toko bahkan jumlah koleksi batiknya. Bukannya minder Sally malah penasaran, apasih kelebihan mereka?

Kelebihan batik miliknya adalah juga menyasar pasar anak muda. Dan ketika batik booming tidak salah jika usahanya makin diminati. Menurutnya semua karena Cirebon mulai menjadi kota wisata. Nama batik asli dari Cirebon menggema ke seantero Indonesia.

Sukses Sally selain melakukan diferentsiasi, adalah keputusan menggunakan nama Trusmi. Nama daerahnya ini diubah menjadi brand -nya sendiri. Nama Trusmi sendiri juga merupakan kepanjangan "Terus Bersemi". 
 
Yang meniru gaya Batik Malioboro, yang mana mengambil nama dimana tempatnya bertempat tinggal dulu. Mulai batik formal sampai buat santai. Nama Trusmi menjelma menjadi ikon Kota Cirebon. Sayangnya tidak semulus dibayangan ketika mulai naik daun. 
 
Dia pernah ditipu justru ketika tengah tenar. 
 
"Semua pengusaha punya jatah gagal," optimisnya. Baginya setiap orang punya hak berusaha.

"Kita tinggal meningkatkan kualitas," imbuhnya. Pengusaha cantik yang lebih memilih dikomplain soal harga. Dibanding kalau dia dikomplain soal bahan.

Menjadi mualaf memberikan kesan berbeda. Menurutnya semenjak memakai hijab usahanya makin maju. Ia menyebut mendekatkan diri ke Tuhan merupakan cara. Salah satu cara ketika menghadapi kesulitan. 
 
Dia dulu pernah sempat depresi karena ditipu. Hingga dia mendekatkan diri ke Tuhan semua mulai membaik lagi. Untung diraih, malang tidak dapat dihindari kata pepatah. Guna mengembangkan usaha. Dari sekedar punya satu toko menjelma menjadi tiga. 
 
Batik Trusmi belum berpuas berbenah. Hingga Sally memutuskan membeli satu pabrik bekas. Tujuannya ya buat memproduksi lebih banyak batik dibanding dulu. Kebutuhan batik memang meningkat tajam. Masa tahun 2011 merupakan puncak kesadaran. Tidak cuma ia menawarkan ke pengoleksi batik kelas menengah atas. 
 
Tetapi mulai memasarkan ke orang menengah bawah yang lebih ke kebutuhan sandang. Mau membeli pabrik bekas, Sally malah ditolah si empunya berkali- kali. Ia tidak patah semangat. Akhirnya dia membeli pabrik besarta mesin- mesinnya. 
 
Modal membeli pabrik itu pun tidak lepas dari pengorbanan besar. Ia menggadaikan rumah orang tua, kendaran pribadi, sampai ke rumah pribadi. Pabrik itu memiliki mitos, sudah banyak usaha gagal disana, mulai ban, kain, sampai mabel.

Sally dan Ibnu tidak peduli. Tekatnya kuat merubah pabrik bekas milik pengusaha Chinese asal Singapura itu. Dia sudah terbiasa menghadapi mitos, candanya. 
 
"Usaha itu harus berani melawan mitos. Mitos tahayul, mitos kalau anak broken home dan orang miskin enggak bisa sukses," kata Sally menggebu.

Pernah ditipu membuat usahanya hampir bangkrut. Ia pernah menyalahkan Tuhan. Menurutnya dulu Tuhan itu tidak menghargai usahanya. Pada saat itu, Sally menemukan jawaban, bahwa mereka ternyata kurang dari cukup memberi ke orang banyak. 
 
Bekerja sambil beramal moto keduanya kini 70% ibadah dan 30% nya bekerja. Ibu dua anak tersebut kemudian membuka Yayasan Rizky Berlimpah Berkah. Yayasan tersebut sebagai satu penyaluran baginya atas nikmat Tuhan. 
 
Disisi lain pengusaha cantik ini juga membuka lebih banyak lapangan pekerjaan. Juga mau membagi ilmunya cuma- cuma, lewat banyak seminar, pengajian, pelatihan, dan pameran usaha. Usahanya memberikan 850 orang pekerjaan sebagai karyawan. 
 
Lebih dari 500 pengrajin batik Cirebon ikut menjadi mitra binaan. Batik Trusmi makin laris dipasaran omzetnya mencapai 100 jutaan. Umurnya masih 26 tahun tetapi visinya masih luas buat membuka usaha. Kini kiosnya mencapai 1,5 hektar menjadi yang terluas di Indonesia.

Puluhan wisata datang mampi membeli batik. Meski cuma lulus SMA, dia memiliki gaji diatas mereka yang berijasah S-1 dan S-2. Ibu dari Faisal Annur dan Nayla Almahira ini tidak berprofit oriented. Maksudnya ia lebih memilih harga dinaikan biar kualitas terjaga. 
 
Tidak laku sudah menjadi hal biasa dalam perjalanan Sally. Namun, siap sih, yang gak kenal nama Batik Trusmi. Nama brand yang sudah merambah ke pasar online juga lewat www.eBatikTrusmi.com

Dendeng Jantung Pisang Bisnis Dua Pengusaha

Profil Pengusaha Diah Srikandi

 

dendengjantung.png
 

Pernah terpikir tidak berbisnis dendeng jantung pisang. Bisnis dua pengusaha berikut menghasilkan  uang lumayan loh. Ada Bambang Eko Putro, warga Cimahi mengolah bahan dianggap limbah ini. Jantung buah pisang memang dianggap limbah.


Beberapa daerah melihat mereka menjadi bahan makanan. Namun pamornya masih kalah hingga banyak orang masih membuangnya. Inilah Denjapi atau dendeng jantung pisang diolah seperti daging. Bila orang biasanya memakai daging kini memakai jantung pisang.

 

Dua Pengusaha Dendeng


Tekstur bagian tanaman ini memiliki tekstur serat mirip daging. Tidak semua pisang dapat diolah bagian tubuhnya ini. Diantara jantung pisang enak adalah jenis klutuk, kepok, raja bulu, dan raja siam. Dan paling enak adalah jantung pisang klutuk.


Bentuk dan rasanya enak memiliki tekstur sangat mirip. Tingga kamu memotong persegi, tipis, lalu diolah hingga tampak berserat, warna kecoklatan dan berasa manis. Mirip daging asli. Memakai bahan rempah benar akan hadirkan aroma tajam menggoda.


Makanan khas Cimahi yang diketahui memiliki kandungan gizi baik. Kandungannya protein 12,051%, karbonhidrat 34,831%, dan lemak total 13,050%. Hebatnya bila dikombinasikan dengan buah dan daun akan lebih untung. Pengusaha akan dapat memanfaatkan semua bagian tubuh pohon pisang tersebut.


Kisah Diah Retnowati sedikit berbeda karena tidak mengikuti tren. Dia merupakan warga Jawa Timur bukan Cimahi. Oleh- oleh khas salah satu daerah Jawa Barat kemudian Diah adaptasi. Nama usahanya Dendeng Ontong Srikandi.


Wanita yang lebih dikenal dengan nama Diah Srikandi. Dalam bahasa Jawa jelasnya "ontong" berarti merujuk jantung pisang. Bagian tubuh pohon pisang berwarna merah keunguan bukan barang baru. Ini sudah sering dipakai bahan masakan kuliner, terutama sayur lodeh dan pecel.


Diah tidak cuma membuat dendeng. Ontong pisangnya diolah brownis, paru, bahkan kerupuk. Bagian pisang ini sangat digemari pelaku vegetarian. "Olahan ontong andalan kami adalah dendeng ontong yang disukai para vegetarian," lanjutnya.


Usahanya terletak di toko Srikandi di Jalan Raya Rogo Kabupaten Kediri. Menurutnya spesial dendeng ontong memakai jenis pisang klutuk atau kepok. "Selain pisang kepok dan klutuk tidak bisa dipakai buat dendeng. Selain rasanya bisa sepet seratnya juga tidak bisa menyerupai daging," lanjutnya.


Pengusah Diah Srikandi menjelaskan terdapat beberapa variasi rasa. Dia membuat dendeng rasa abon, rendang, manis dan pedas. Itu semua dikemas dalam dua kemasan berupa kaleng dan kardus. Diah menjelaskan kemasan kaleng dapat tahan setahun.


Kemasan kardus asal disimpan rapat bertahan tujuh bulan. Diah mengikuti aneka pameran berkeliling Indonesia mewakili Jawa Timur. Dia mengatakan harga jualnya terbilang terjangkau. Harga kalengan dendeng Rp.17 ribu/kaleng, brownis Rp.23 ribu dan krupuk Rp.20 ribu.


Harganya terjangkau cocok dijadikan oleh- oleh ketika di Kediri. Diah dibantu tujuh karyawan dan seorang wakil bernama Marsiah. Dia sudah bekerja 32 tahun, sudah memiliki anak yang sudah Diah anggap anak sendiri, dan Marsiah mengurusi semua urusan toko dan pabrik ketika Diah ikut pameran.


Ide Dendeng Jantung Pisang


Usaha tersebut bermula kejenuhan Diah menjalani bisnis. Selama 32 tahun usahanya membuat bolu, tart, nastar, dan makanan ringan seperti keripik, rangginan, sambal pecel dan petis. Jatuh bangun dan nyaris bangkut sudah berusaha lama.


Di bisnis, ditipu dan dibohongi menurut Diah adalah biasa, ia berprinsip kegagalan adalah kesuksesan tertunda. "Saya pernah ditipu ratusan juta. Orang Bojonegoro dan beberapa orang lainnya," Diah lalu menceritakan.


Ceritanya mereka memesan banyak untuk lebaran. Tetapi mereka kembalikan tujuh hari sebelum hari lebaran. Mereka tidak mau melunasi pembayaran. Padahal Diah memakai modal memakai utang dari bank ini.


Pusing Diah dibikin memikirkan modal utang bank. Pengusaha wanita tegar sampai rela menjual aset rumah. Sudah melunasi hutang dirinya memilih rehat jualan selama setahun. Suatu ketika ia berjalan- jalan ke belakang rumahnya yang persawahan.


Diah melihat pohon pisang lengkap bersama jantung pisang. Iseng- iseng dia membeli beberapa di pasar buat diolah. Dia mencoba mengolah ontong dijadikan lodeh dan sayur pecel. Dari sana dia mempelajari tentang kelezatan ontong pisang kepok dan klutuk.


Kedua jenisnya memiliki cita rasa cocok dijadikan bahan makanan. Terus ada teman yang ternyata vegetarian, menyarankan membuat lauk berbahan ontong menggantikan ikan atau daging. Idenya membuat lauk pengganti ditanggapi serius.


Diah berhasil membuat dendeng ontong. Sebelumnya dia menyadari jantung pisang mirip daging sapi, kalau diolah memakai bumbu bahkan akan sulit dibedakan. Singkatnya dia berhasil membuat bahan ontong dan diuji cobakan.


Teman Diah yang melakukan uji coba rasa, ternyata berhasil menghasilkan tanggapan positif. Suatu kesempatan tidak boleh dilewatkan di 2004. Dimana Diah diajak mengikuti Pameran Pekan Budaya yang digelar Pemkab Kediri, maka disanalah dendeng Diah pertama diperkenalkan khalayak umum.


Hingga dendeng miliknya telah terkenal di daerah Ponorogo dan Madiun. "Saya kemudian mengurusi legalitas halal, setalah itu baru ikut pameran keliling Indonesia," tutur Diah. Masalah kembali datang ketika ditipu orang disaat pameran di Cito Surabaya.


Dia dikenal seorang wanita asal Sidoarjo. Tanpa curiga, dia memenuhi pesanan senilai Rp.7 juta. Dia hingga akhir tidak menerima pembayaran. Dia sudah menjelajahi Jakarta, Jogja, Semarang, Bandung, Bali, Kalimantan dan Nusa Tenggara Barat.


Omzet sekarang tinggal Rp.90 juta perbulan. Dulu dia mampu mengantongi omzet Rp.300- 400 juta. Diah Srikandi sendiri kemudian menjadi pembicara. Khususnya dia membicarakan mengenai bahan baku disekitar kita untuk diolah.

Resep Abon Membuka Peluang Usaha Menjanjikan

Profil Pengusaha Johan Yuniarto

 
resepabon.png
 
Berbekal resep abon membuka peluang usaha menjanjikan. Usianya mungkin sudah tidak muda, tetapi masih bersemangat menjadi pengusaha. Bahkan pria berambut putih ini berniat menaikan level ke nasional. Inilah Johan Yuniarto, pria kelahiran Bandung yang tak muda lagi memilih berbisnis abon. 
 
Dia yang telah pensiun merasa perlu mengisi hari- harinya dan berbisnis merupakan jalan. Berawal kesempatan, ia melihat bisnis makanan begitu berkembang di Bandung. Dia yakin abon buatannya akan diterima pasaran.

Pasalnya, ia membuat abon yang berbeda memiliki cita rasa khas. Johan mengambil bahan bahan dari laut daripada abon sapi. Abonnya diolah dari bahan baku unggulan seperti ikan hiu, tuna, kakap, salem, dan ikan krapu. 
 

Peluang Usaha

 
Dia menuturkan lantaran ini pula harga abon miliknya mencapai Rp.20.000- Rp.25.000. Masih bisa dibilang murah, Johan berseloroh itu karena abonnya mampu meningkatkan kecerdasan otak.

"Kalau abon harganya Rp.20.000 itu untuk bahan bakunya ikan air tawar, tapi untuk yang Rp.25.000 terbuat dari ikan laut," tuturnya.

Dia menambahkan usahanya dimulai sejak 2009 silam masih berorientasi usaha kecil. Dia mengerjakan semuanya bersama keluarga di Jl. Keadilan II No.33 Bandung. Dalam waktu dekat, Johan berjanji akan membuka cabang baru di beberapa tempat. 

Johan menawarkan beragam rasa dan semunya merupakan hasil dedikasi. Ia membuat resepnya sendiri melalui berbagai percobaan panjang. Dia bahkan mengorbankan keluarganya mencicipi resepnya. 
 
Akhirnya berhasil, resep abonnya lahir setalah 3 bulan masa percobaan kemudia disusul sample yang siap dipasarkan. Ia yakin betul sukses suatu produk berdasarkan keunikannya. Ditambah, abonnya selalu menggunakan bahan- bahan terbaik. 
 
Johan telah lama mengamati di Jawa Barat khususnya, jarang ditemukan pembuatan produk abon ikan. Bermodal 4 juta rupiah, ia yakin bisnisnya akan berhasil membawanya menjadi pengusaha sukses di 2009.

"Saya survei ke supermarket di Bandung jarang ditemukan abon ikan semacam ini. Kalau ada, paling hanya sedikit, itupun diproduksi diluar Bandung; seperti Cirebon dan Subang. Itupun masih sebatas abon nila, belum bentuk variasi," ujar dia berbincang di Liputan6.com.

Menurutnya bagian tersulit hanya bagaimana memastikan bahan- bahannya. Dia berbicara bagaimana cara memilih ikan, mencuci, dan memisahkan daging dari duri. Rumah Abon, nama usahnya, mengambil ikan di daerah sekitar Bandung untuk ikan air tawar. 
 
Ikan air laut, ia mengambil dari Pangandaran, Indramayu, dan Cirebon. Produk abonnya meliputi abon ikan air laut, seperti abon hiu, tuna, kakap, salem, dan kerapu.

Sedangkan abon ikan air tawar, meliputi abon ikan nila, gurame, gabus, lele dan belut. Sebagai catatan tambahan, bisnis abon akan menurun penjualannya di masa masuk sekolah. Ibu- ibu akan memilih belanja keperluan sekolah daripada membeli abon. 
 
Di lain waktu, seperti Ramadhan, Johan mengaku permintaan meningkan jauh disebabkan kepraktisan abon. Ibu- ibu dengan mudahnya membeli, menyimpan, kemudia memakannya ketika berbuka atau sahur.

Dalam sebulan, Rumah Abon menghasilkan 1 kuintal abon atau sekitar 1000 box pesanan. Satu box akan dijual untuk Rp.25.000. Kini omset rumah abon sendiri mencapai Rp.25 juta per- bulan. Johan memiliki 2 karyawan, dan beberapa anggota keluarga yang ikut masuk di bisnisnya. 
 
Ia menempatkan mereka ditiap cabang membuat bisnis keluarga semakin luas. Untuk terus laris, Johan Yuniarto selalu mengembangkan cara baru bisnisnya. Dimulai dari pemasaran dimana ia menyerahkan semuanya melalui penjualan online. 
 
Dari segi produksi, ia membuka cabang baru sedangkan disegi produk; Johan tak segan mencoba resep baru lagi. Ia bahkan menemukan resep baru yaitu abon kremes. Apa itu? abon ikan yang merupakan gabungan ikan dan irian kentang halus yang digoreng kering.

"Kalau keuntungan sih cukup lumayan, apalagi saat ini produk kami dipromosikan hingga ke Mekah. Kami juga membuka kesempatan menjadi reseller," ujarnya. 
 
Ia juga menambahkan saat ini bisnsnya menghasilkan omset sekitar 25 juta rupiah. Nilai yang sangat besar bagi seorang pensiunan yang tidak mungkin lagi bekerja sebagai pegawai.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba