Pengusaha Cacing Abdul Aziz Inspiratif

Profil Pengusaha Abdul Aziz

 
abdulaziz.png
 
Pernah mendengar nama pengusaha cacing Abdul Aziz. Pria yang bernama lengkap Abdul Aziz Adam Maulida, atau Abdul Aziz, bukanlah pengusaha biasanya. Jika kita melihat bisnis agronya, pastilah terbayang apa saja yang dari agraria tetapi bukan. 
 
Usahanya bukan aneka peternakan, seperti ternak sapi, ayam, ataupun beternak lele, tapi bagaimana jika beternak cacing. Inilah kisah Abdul Aziz sang pengusaha dan peternak cacing yang sukses menangguk untung jutaan rupiah.

Jadi Pengusaha Cacing


Awalnya, Adam hanyalah seperti kita pada umumnya, pegawai di sebuah perusahaan. Namun, tepat pada 27 April 2010, dia memilih mengundurkan diri untuk  berbisnis sendiri. 
 
Tercatat dia telah melakoni banyak usaha dari membuka les privat SD, beternak sapi, beternak lele, bahkan jual- beli kertas bekas. Seperti pengusaha pada umumnya, apapun usahanya tak ada yang sukses kala itu. Semua proses belajar yang dilalui pria asal Malang ini.

Kapan dia berkenalan dengan bisnis cacing. Ketika itu ia bercerita tengah mengikuti seminar belut di satu komunitas, Komunitas GOBES (Gabungan Orang Belut Semarang) namanya. Nah, disanalah dia tau kalau mekanan belut itu cacing, tapi belum sadar sepenuhnya saat itu. 
 
Bukannnya langsung berbisnis cacing. Adam malah berbisnis kolam belut. Dia lantas menyebar 10 kilogram cacing itu ke kolam belutnya. Nyatanya bisnis belut bukanlah untungnya lagi. Itu tak semudah yang kita bayangkan. 
 
Semua perbaikan telah dicobanya, dari pakan dan perlakuan, tapi hasilnya tetap gagal. Apa mau dikata kali ini bisnisnya tak hoki lagi. Adam menyerah untuk berbisnis belut.

Gagal menjadi pengusaha belut. Adam lantas melirik usaha lain menjual kertas dan besi bekas. Hingga ia meresapi pakan belutnya, yaitu cacing. Kalo dilihat- lihat lagi bukannya lebih mudah ya kalo membudidaya cacing. 
 
Pakan murah melimpah pikirnya. Perkebangannya pun cepat, penyakit raltif tidak ada, perawatannya juga mudah dalam benaknya.

Namun apakah berharga untuk dijual. Adam pun berpikir dan menemukan bahwa cacing punya nilai jual. Ada prospek pasar yang terbuka disana untuk digali lebih dalam.

Pada Agustus 2010, ia mencoba menawarkan cacing untuk pemancingan di sekitar rumahnya saja. Cacing- cacing itu ternyata laku Rp.40.000 per- kg. Lalu, berita tersebar, efeknya ya jadi banyak pemilik kolam pemancingan yang meminta cacingnya. 
 
Kebutuhan kala itu ada 5- 10 kg per- minggu. Sejak saat itulah ia pun sibuk beternak cacing. Kalo dilihat memang cacing punya pasarnya. Sumber penghasilan dari ucaha cacing bisa dari kosmetik, pertanian, perikanan maupun peternakan, bahkan bisa pula dari kolam pemancingan. 
 
Adam telah menemukan usaha yang dicarinya. Pada Juli 2011, permintaan akan cacing juga datang dari Dinas Perikanan Provinsi Jawa Timur. Dia diminta untuk mensuplai kebutuhan pakan indukan ikan sekitar 1 ton per- bulan. 
 
Usaha cacinya semakin berkembang, ketika itulah harga cacing miliknya bisa menembus angka 50.000 per- kg. Di Januari 2013, saking banyaknya permintaan datang, akhirnya, Adam mengajak kerabat dan temannya untuk ikut serta di bisnis cacing tersebut.

Adam tercatat menjadi inisiator pembudidaya cacing jenis lumbricus di Kota Malang. Pria lulusan S-1 Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya, ini sekarang telah memiliki tanah 600 meter. 
 
Dan, coba kamu tebak, kesemuanya merupakan peternakan cacing yang bergeliat di tanah. Melalui "kandang" cacing itulah ia menghasilkan untung hingga ratusan juta.

Peternakan cacing itu mampu menghasilkan cacing yang beratnya mencapai 3-4 ton per- bulan. Dimana Harga jualanya berkisar Rp.40.000 sampai Rp.60.000 per- kilo. Usahanya yang bernama RAJ Organik ini bisa menjual 300 kg per- hari rata- rata. 
 
Melalui cacing pula ia dikenal sebagai mentor atas 1500 peternak lain tersebar di Bali dan Jawa Timur. Di setiap sabtu dia dan tim -nya akan sibuk memberikan pelatihan bagi 40- 50 orang peternak di sekoah cacing yang didirikannya. 
 
Sekolah cacing itu kira namanya. Pada Juli 2013 tepatnya dia pertama kali membuka satu kelas cacing di rumahnya. Kelas cacing yang menjadi cikal bakal sekolah cacing miliknya kini.

"Beternak cacing itu sebenarnya gampang asal kita mau telaten dan serius. Hal yang saya tekankan kepada binaan adalah agar mereka tidak semata-mata beternak cacing, lalu sudah puas dengan keberhasilan menjual cacing," katanya.

Ia menekankan filosofi cacing selain aspek budidaya. Dia menyebut cacing itu sumber kehidupan.Ternak ini berarti menjadi awal bagi usaha lain, seperti peternakan, perikanan, dan pertanian. Beternak cacing pulalah dasar bagi usaha alami ramah lingkungan. Lewat caria itulah ia memberikan stimulan tentang usaha yang mereka tengah jalankan nantinya.

Adam mengajarkan bahwa kotoran sisa ternak cacing bisa dijadikan pupuk kompos. Fungsinya adalah untuk menggenjot produksi pertanian dimana sangat baik menggantikan pupuk kimia. Cacing bisa menjadi bahan pakan sehat bagi ternak ayam atau bebek karena non- kimiawi. 
 
Dia lantas mendirikan Komunitas Pengusaha Organik Terpadu (KP2OT) Kota Malang. Fokusnya dalam menggencarkan produk hasil dari organik bukan pupuk kimiawi.

Dia memberikan kita tips bila ingin berbisnis cacing. Tispnya: membuat suatu usaha itu membutuhkan standar perawatan yang jelas, baik pakan, tempat dan juga teknologi perawatan. Yang juga harus jadi prioritas bagi kita ialah usaha yang kontinu pada jumlah produksi.

Sebagai entrepreneur, Adam masih akan terus mengembangkan bisnis cacing. Dia tengah mengembangkan konsep BIO CYCLO FARMING. Dimana usahanya ini merupakan hilirnya RAJ Organik. 
 
"Hulunya cukup 1 saja, hilirnya tidak membatasi," terangnya. Soal hambatan dia mengaku tak ada hambatan berarti karena budidayanya mudah. Fokusnya kini ialah bagaimana agar dari masyarakat ada kesadaran bersama.

Pemilik Alam Sutra Biografi Ning King Konglomerat Orba

Profil Pengusaha The Ning King


biografi ning king
 
Siapakah pemilik properti ikonik Alam Sutra. Jejaknya lumayan jauh, ya pertama- tama kita akan membahas biografi Ning King. Atau the Ning King dari namanya saja sudah menunjukan kespesialan beliau. Merupakan salah satu konglomerat yang survive dari jatuhnya masa Orde Baru.

Biografi Ning King, konglomerat Orba yang ditaksir memiliki kekayaan8,4 triliun. Lantas apakah yang membuatnya demikian kaya. Bermula dari berbisnis tekstil di Banung, biografi Ning King, adalah pria kelahiran 1938 yang kemudian merambah pabrik tekstil pada 1961.

Diusianya masih 31 tahun memiliki visi yang jauh. Ning King yang dikenal mencintai produk dalam negeri. Ia bangga akan hasil karyanya sendiri. Setiap produk teksti bikinan pabrik kecilnya dulu. Ia selalu tulisi "Buatan Indonesia", prinsip bisnis konglomerat orba ini ialah kualitas produk.

Berawal toko tekstil kecil, yang kemudian masuk ke Jakarta, di sebuah gang bernama Jalan Pintu Kelinci, Jakarta Pusat. Yang kini memerupakan kantor perusahaan PT. Daya Manunggal. Pabrik kecil Ning malah berdiri di Salatiga, yang mana dia tidak bekerja sendiri.

Konglomerat Orba

Memiliki visi jauh termasuk membuat pabrik baja dan properti. Sukses berbisnis tekstil lewat Daya Manunggal atua Damatex. Ia membangun pabrik seng bernama cap Moon Elephant. Dia juga mulai berbisnis besi beton. Ia tidak mengerjakan bisnisnya sendirian melainkan bersama- sama.

Ning mengerjakan bersama Nippon Steel, Nippon Kokan Marubeni, dan Mitsui dari Jepang. Untuk mengembangkan bisnis tekstil, Ning tidak malu meminta kerja sama dengan Marubeni, Mitsui Toray, Kuraray, dan Kurabon, ini membuat karyawanya melonjak menjadi 12.000 orang.

Sosok sulung dari tiga bersaudara memang sudah giat wirausaha. Kesabarannya membawa dirinya menjadi eksportir. Pengusaha kelahiran Soreang, Bandung, usianya masih 16 tahun saja sudah giat berdagang. Ning King diajak ayahnya berdagang sampai pasar untuk jualan kain.

Kemudian dia pindah ke Jakarta, membuka toko kekstil kecil di kawasan Jakarta Pusat. Tepatnya di gang bernama Jalan Pintu Kelinci. Sebagai pengusaha sudah tampak melayani sepenuh hati. Baginya membuat produk berkualitas adalah keharusan.

"Tekstil buatan kami dilempar ke pasar cap "Buatan Indonesia", sejak produksi pertamanya," ujarnya.

Baginya jualan tekstil kecil- kecilan ialah kebanggaan. Dia tidak malu pernah jualan tekstil, walaupun sekarang bisnisnya kelas atas bidang properti. Dari Dematex, pundi- pundi kekayaan konglomerat Orba ini tumbuh, ekspansi ke segala lini menjadi andalan Ning King.

Soal tekstil dia tidak mau setengah hati. Prinsip wirausahanya semua lini bisnis harus berjalan. Juga harus bersiap berkembang termasuk tekstil. Ketika krisis moneter datang, berkat kerja keras dan sudah masuk pasar ekspor, Ning King mampu bertahan menghasilkan pundi- pundi uang.

"Saya optimistis, tekstil menjadi komoditi penghasil devisa nonminyak yang cukup potensial," kata dia menjelaskan.

Tahun 1982 Indonesia mampu mengekspor $400 juta ke berbagai negara. Baginya bidang tekstil masih menjadi passion pengusaha sukses ini. Ia mengatakan bahwa kekuatan kita setara tiga negara spesialis tekstil. Apakah pengusaha sukses kerena keberuntungan?

Faktanya dia percaya amat sangat akan hoki. Tetapi prinsipnya bagi wirausaha muda bahwa kerja keras dulu. Ini sesuai pesan disampaikan oleh sang ayah. Ia juga menambahkan kita harus banyak beramal. Jadilah sosoknya yang memberikan bantuan bukan meminta bantuan ke orang lain.

Konglomerat Orba Bertahan Berjaya

Pada zamannya biaya opresional dibilang lebih murah. Ia mengatakan bahwa upah buruh masih murah. Sekarang Ning King terlihat lebih aktif mengerjakan bisnis properti. Layaknya pengusaha lain dari Jaman Orba, ada catatan hitam dalam suksensya Ning King bertahan sampai sekarang.

Diambil dariTempo, Ning menjadi salah satu dimudahkan urusannya. Oleh Orba, dulu pernah sulit likwiditas. Eh, mendadak lancar dan bahkan bisa membeli perusahaan pabrik ban ex- BUMN. BLBI pernah dikatakan olehnya, kepada pengusaha China, bahwa itu merupakan satu harta karun.

Sedangkan dia mampu membeli perusahaan. Hutangnya kepada BUMN tercatat terbayar tidak wajar atau sesuai hutangnya. Dari Argo Manunggal salah satu lini bisnisnya pada 1949. Sebagai satu- satunya pengusaha yang memiliki usaha perbankan, lewat Bank Danuhutama.

Dia katanya menjadi satu dibitur bermasalah di Bank Exim. Dan menjadi "pembobol" Bank Rakyat Indonesia, pada tahun 1999. Bersama Projo Pangestu, dia juga tersangkut kasus penyuapan Jaksa Agung, Letnan Jendral TNI Andi Muhammad Andi Ghalib, melalui rekening Gulat.

Lagi- lagi oleh pemerintah Orba dipermudah dengan keluarnya SP3. Kasus ini mandek berkat Ning yang setuju pengakuan kewajiban pemegang saham. Dari semua tuntutan hukum, dia terbebas pada Desember 2003 silam, yang mana Argo Manunggal semakin menguatkan daya jual Ning King.

Lewat Argo Pantes, dirinya pernah menjabat sebagai Dewan Pembina Asosiasi Pengusah Indonesia, pada 2003- 2008 silam. Dia tercatat menjadi orang terkaya ke 48 oleh Forbes Indonesia 2018 ini.

Salah satu lini usaha topnya adalah PT. Alam Sutra Reality. Dari tekstil, merambah properti dan real estate, baja, asuransi, dan konstruksi dalam Argo Manunggal Group. Mega Mandiri Properti punya saham 99% dan sisanya milik Hungkang Sutedja, anak ketiga dari tujuh bersaudara.

Peternak Kroto Sukses Bisnis Begini Kiat Pengusaha

Profil Pengusaha Ajiponto

 
peternakkroto.png
 
Mau menjadi peternak kroto sukses berikut kiat pengusaha. Kenapa untung berbisnis kroto. Semakin bertumbuhnya kebutuhan akan produk yang satu ini. Tak sejalan dengan habitat alaminya. Disisi lain, kroto punya banyak manfaat selain soal menjadi makan burung. 
 
Produk yang merupakan telur dari Oecophylla Smaragdina atau semut rangrang ini, nyatnya, mudah dibudidayakan dan murah bagi kita untuk memulainya. Tak percaya? Berikut beberapa kisah sukses pengusaha kroto serta segala lika- liku memulainya.

Habitat alami untuk semut bertelur mulai terbatas. Tidak ada lagi hutan bahkan pohon rindang di tengah kota sementara itu permintaan kian deras. Kroto juga berkurang ketika musim hujan. Butuh cara agar bisa kita selalu produksi setiap harinya.
 

Usaha Kroto

 
Untuk itulah budidaya kroto mesti digalakan. Salah satu pembudidayanya pria bernama Ajiponto asal Yogyakarta. Mulai terjun kira- kira tiga tahun lalu, cuma bermodal melihat kebutuhan pasar saja.

Permintaan datang tak cuma dari pecinta burung kicau. Tapi juga dari para pemilik budidaya ikan atau juga memenuhi kebutuhan kolam pemancingan. Dalam hitungannya setiap haris Seni sampai Jum'at kamu bisa menjual telur kroto kebanyakan untuk pecinta burung. 
 
Jikalau akhir minggu, atau haris Sabtu dan Minggu, Aji menyebut telurnya dimintai para penghobi pancing. Pria 36 tahun ini membandrol harga perkilogramnya yaitu Rp.150.000.

Tak cuma berjualan kroto siap pakai. Aji menjual indukan atau sarangnya untuk dikembang biakan. Dia bahkan menjual bibit semut rangrang, kroto, satu paket dengan cara budidaya. Untuk satu sarang semutnya ia jual Rp.100.000. 
 
Cuma hati- hati saja, karena satu sarang semut, punya ribuan jumlah semut di dalamnya. Semuanya dijual dalam bentuk sarang dalam toples. Dalam sebulan, ia dapat menjual 40kg kroto dan 200 buah sarangs semut.

Berapa omzetnya? Menurut pengakuan Aji, dirinya mampu mengantongi omzet Rp.26 juta. Lainnya Ajiponto, lain pula Joko Septyawan, yang fokusnya pada penjualan bibit saja. Ia yang berdomisili di Bantul, Yogyakarta, sudah berkecimpung satu tahun lebih awal. 
 
Dulunya memang dia menjual semut untuk dipakai tapi kini tidak terlalu. Satu toplenya yaitu ukuran 2 liter dibandrol seharga Rp.175.000. Selain itu ia juga menjual 5 liter seharga Rp.350.000. Omzet tiap bulannya disebutkan Rp.3,5 juta.

Jika dilihat dari segi bisnis keduanya setuju 'ada prospek'. Modal produksinya pun menurut mereka bisa dibilang murah. Bahkan Ajiponto berani menyebut 80 persen keuntungan dari omzet. Sedangkan Joko, bisa menghasilkan hingga 90 persen dari omzet per- bulan. 
 
"Ongkos budidaya sangat kecil karena perawatannya yang simple," imbuh Joko. Kamu cukup memastikan semutnya terhindar dari binatang pengganggu dan juga diberi makan cukup.

Aji pun membagikan tips mudah budidaya telur semut. Kandang budidaya semut bisa memanfaatkan tempat berupa toples 1 liter. Toples tersebut akan menampung koloni semut yang berjumlah ribuan. Koloni tersebut bisa saja kamu dapatkan dari alam. 
 
Tapi sekarang kamu bisa mendapatkannya dari membeli yang berbentuk toples langsung. Namun, Aji mengingatkan tak semua toples bisa digunakan, tak semua toples cocok untuk budidaya semut rangrang tegasnya.

Ia menyarankan toples berbahan mika. Dari pengalaman budidaya semut rangrang, ia menyebutkan bahwa toples berbahan mika lebih baik. Semut rangrang berdasarkan pengalamannya akan membangun sarang lebih cepat di toples berbahan mika. 
 
Kalau dalam mika bahkan bisa terbentuk dalam 2x24 jam. Kalau bahan lain bisa sampai tiga sampai empat hari imbuhnya. Kondisi toples haruslah bersih dari tanah. Loh? Benar, semut rangrang cuma butuh tempat, soal sarang akan dibuatnya sendiri.

Semut rangrang akan membentuk sarang bermodal semacam benang sutra dari mulutnya. Setelah itu kamu bisa melubangi disalah satu sisinya. Lubang sebesar jari kelingking tersebut digunakan untuk semut mencari makan dan minum. 
 
Ingat semut juga minum selain makan. Supaya para semut tidak merembet jauh sampai kemana- mana. Letakan mangkuk berisi air dikaki- kaki meja tempat sarang semut dibudidaya. Supaya hasil lebih maksimal pastikan sarang semut terhidar dari predator. Apakah semut punya predator tentu punya.

Hewan predator itu termasuk tikus, cicak, tokek, selain itu kamu juga harus hindari sinar matahari. Dalam penjelasaanya meja toples harus ditempatkan di daerah yang jauh dari sinar matahari. Sedangkan bicara tentang makanan dan minuman. 
 
Untuk makanannya ada aneka macam tapi menurut Aji. Dirinya memilih menggunakan ulat hongkong. Air minumnya paling mudah karena cuma bermodal air gula. Untuk satu meja berisi 30 koloni (30 toples), pemberian makanan cukup kira- satu ons per- bulan ujar Joko Setiawan.

Harga ulat hongkong tersebut dijual di pasar cuma Rp.5.000 per- ons. Untuk air minumnya dijelaskan oleh Joko setiap satu sendok teh gula dicampurkan 200 mililiter (ml) air matang. Ditambahkannya bahwa air itu cukup untuk satu sampai empat hari. 
 
Berapa lama akan menghasilkan telur keroto. Dijelaskan oleh keduanya toples akan menghasilkan setelah satu bulan. Toples berukuran 1,5 liter bisa menghasilkan 1 ons kroto setiap bulannya. 
 
Oh ya, sebagai tambahan, untuk toplesnya dibalikan kebawah atasnya ya. Fungsinya ketika kroto sudah jadi nanti kamu bisa angkat. Setelah diangkat lantas barulah diambil krotonya.

Foto: Ajiponto

Ajitek Agromedia Sindo

Alamat: JL. Wates KM.6 Balecatur Gamping Yogyakarta
081226703999 atau 087839371109
Pin BB 7E4F2326

Website: www.ternaksemutkroto.com

Email: tanyaajiponto@gmail.com

Danu Sofwan Pengusaha Cendol Waralaba Randol

 Profil Pengusaha Danu Sofwan

 
danusofwan.png
 
Ramai- ramai berita pacar baru Jenita Janet berikut profilnya: Danu Sofwan pengusaha cendol yang inovatif. Saeorang pengusaha muda tengah naikan kasta minuman cendol. Dia mulai dikenal ketika hadir menjadi bintang tamu Hitam Putih. 
 
Sedari muda dia sudah mempunyai jiwa kewirausahaan tinggi. Ketika musim bisnis tertentu contohnya gelang Power Balance; Danu mencari- cari tau. Ia sibuk mencari tau bagaiman biar bisa berjualan gelang tersebut. 
 
Tak mau cuma menjadi konsumen saja lah. Sifatnya ini juga berlaku untuk bisnis cendol miliknya. 

Banyaknya minuman asing masuk ke Indonesia membuatnya tersentuh. Dia tak mau cuma jadi pasar bagi produk lain. Padahal di Indonesia sendiri banyak minuman asli yang enak rasanya. Bermodal kesukaan jajan kuliner dimulailah usahanya.
 

Waralabakan Randol


Ketika dirinya menikmati minuman bernama Bubble Tea. Di suatu hari, ia berpikir kenapa kita begitu suka minuman asing tersebut. Kenapa banyak orang rela entre saat itu untuk segelas minuman. Disitu dicarilah produk minuman Indonesia apa yang mungkin bisa digilai seperti itu. 
 
Kerisauannya akan minuman asing tak membawanya ikut- ikutan berbisnis minuman asing seperti Bubble Drink atau pun Capucino Cingcau. Dia justru melirik cendol sebagai sasarannya.

Dalam perjalanannya ternyata minuman cendol punya khan. Dia menemukan sebuah artikel di CNN Travel, bahwasanya, minuman khas Indonesia ini menjadi salah satu minuman dunia. Menjadi terenak asli Indonesia yang bahkan masuk 50 besar minuman dunia. 
 
Mendirikan waralaba sendiri baru muncul selepas dirinya tertantang. Danu tertantang teman- temannya yang sudah membeli franchise mapan. Pertanyaan, kenapa bukan saya yang menjadi pemilik franchise menggema.

Diajaknya dua orang teman bekerja sama memulai bisnis cendol. Mereka bertiga, pertama- tama, memulai dengan mengamati atau mengobservasi terlebih dahulu. Mulai berjalan- jalan mencari- cari resep cendol dan akhirnya mereka menemukan. 
 
Mereka berjalan ke berbagai daerah belajar cendol. Danu mencari tau dari bagaimana membuat cendolnya, lalu mencicipi aneka susu yang bisa dicampurkan cendolnya. "Kita enggak pakai santan, tapi diganti susu UHT," jelas Danu.

Dani secara otodidak belajar bagaimana membuat. Dia juga belajar otodidak loh soal bagaimana cara untuk waralabanya. Dia secara sengaja memang merubah santan menjadi susu. Alasannya, karena susu sudah jadi tren masa kini, ini untuk dicampur di minuman- minuman asing. 
 
Selama tiga hari, Danu dan kedua kawannya jadi mabuk, mereka mabuk mencoba- coba aneka merek susu. Ada 15 merek susu yang cocok untuk disatukan dengan cendol dan topping miliknya. Segala proses dilaluinya sebelum benar- benar dibuatnya untuk masyarakat. 
 
Modalnya sekitar 13 juta, Danu mendirikan satu gerai saja dulu, yaitu di Pondok Kelapa, Bekasi. Tak disangka responnya mengejutkan dirinya. Antrean pembeli ternyata cukup panjang di hari pertama saja. Hal tersebut membuatnya makin percaya diri. 
 
Dia lantas mengunggah foto- foto hasil kerja kerasnya yang sukses di media sosial. Langsung, tanpa tedeng aling- aling, dirinya menawarkan kerja sama untuk waralaba atau franchise langsung. Nama usahanya itu Randol atau Raja Cendol. 
 

Pengusaha Cendol

 
Milik pengusaha muda kelahiran Tasikmalaya, 20 Agustus 1987, merupakan pelopor cendol modern. Di waralaba Randol dipatoknya cukup terjangkau. Yaitu Rp.6 juta untuk indoor dan Rp.8 jutaan untuk outdoor -nya. 
 
Murahnya franchise tanpa fee ataupun success fee. Ini berarti penghasilan kamu 100% untungnya akan kembali ke kamu. Randol menyasar untuk pembelian bahan bakunya saja. Danu mengaku santai bahwa nanti pihaknya tak mengambil untung besar. 
 
Bahkan tidak untuk pembelian bahan baku jadi tenang buat kalian yang mau bergabung. Sukses Danu menarik minat beberapa orang langsung bergabung. Dari foto- foto di sosial media yang ia upload langsung mendapatkan perhatian. 
 
Esokan harinya langsung sudah ada dua orang yang berminat untuk masuk ke waralabanya. "Saya sangat senang, apalagi kini jumlah para panglima (panggilan untuk pembeli waralaba Randol) terus bertambah," ucapnya.

Pemasaran Randol pun difokuskan di sosial media. Danu bahkan sudah punya tim khusus mengurusi sosial media. Untuk meningkatkan brand- awareness atau kesadaran akan merek dan kualiatas produknya. 
 
Danu sangatl aktif memperkenalkan merek sendiri. Salah satu yang terunik ketika Danu mengadakan lomba selfi bareng Randol. Selain itu ada pula pengembangan aneka rasa dan juga penggunaan nama unik. Sebut saja ada Kejendol atau keju cendol dan Sundol Bolong atau Tiramisu cendol.

Danu juga mempertahankan tradisi mengunjungi franchisor. Para franchisor akan dipertemukan dan saling bertukar pikiran. Saling berbagi bagi mereka yang penjualannya banyak ataupun penjualannya sedikit. Untuk para franchisor di setiap gerai bisa menghasilkan Rp.2- 3 juta per- hari. 
 
Ternyata usaha Danu bisa masuk ke kalangan menengah atas. Danu juga aktif mengikuti pameran waralaba. Melalui pameran bisa untung sampai Rp.15 juta per- hari. Randol pun dipersiapkan untuk menjajah Malaysia olehnya.

Info lain

Twitter: @RadjaCendol
Facebook: RadjaCendol
Telp: 081315311321
Instagram: @RadjaCendol

Twitter pribadi: @danu_sofwan 

Usaha Pot Tanaman Hias Ditengah Pandemi

Profil Pengusaha Adji Anastasya

 
usahapot.png
Menggeluti usaha pot tanaman hias ditengah pandemi. Prospeknya ternyata sangat manarik seperti kisah seorang pengusaha ini. Tanaman hias memang tengah naik daun ditengah pandemi. Wanita yang bernama lengkap Adji Anastasya tidak pernah menyangka.

"Awal- awal saya masih jualan foto kan, test pasar, test the water aja. Tapi ternyata banyak yang minat," ujar Ana. Dia memang menyukai tanaman hias.
 

Jualan Pot Tanaman Hias


Suatu ketika dia tengah mencari pot buat tanamannya sendiri. Dia memiliki tanaman hias. Rencanannya mau ditaruh di kamar. Tetapi Ana merasa ada kekurangan karena memakai pot biasa. Kalau mau taruh di kamar kan butuh pot yang lucu- lucu.

Enggak mau Ana memakai pot tanaman bulat biasa. Boring katanya. Dia lantas berkeliling situs jual- beli online atau ecommerce. Niatnya mau mencari- cari pot lucu buat dibeli. Dia tidak menemukan sesuai apa keinginannya.

Ana lantas datang ke tempat pengrajin pot langsung. Kebetulan dia kenal pengrajin di daerahnya. Dia kemudian bertanya bisa bikin pot begini. Mereka lalu jawab bisa membuat pot begitu. Kebetulan sang pengrajin tengah mengembangkan pot karakter.

"Awalnya itu memang buat konsumsi pribadi, buat saya saja begitu kan," tuturnya. Inilah awal usaha pot tanaman hias miliknya.

Seiring waktu berjalan dia kemudian berjualan pot tanaman. Dia mengajak kerja sama si pengrajin tersebut. Kesempatan tersebut tidak disia- siakan, mengingat bisnis tanaman hias tengah naik daun di tengah pandemi.

Modal dikeluarkan sangat minimal cuma Rp.2 jutaan. Uang tersebut merupakan tabungan semenjak menjadi ibu rumah tangga. Dia sempat berjualan mengisi waktu luang. Kini dia mampu mengantongi omzet Rp.10 -12 juta.

Modalnya memang minimal tetapi diwaktu tepat. Dari pot seharga Rp.30- 150 ribu hasilkan puluhan juta. Ana mengaku cuma membutuhkan waktu sebulan. Walau begitu dia menyadari bahwa bisnis musiman tidak akan bertahan.

Ia pun mengembangkan bisnis pot rotan. Harapannya bisnis @pot.tera akan bertahan, walau ketika tanaman hias tidak lagi "booming"

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba