Jual Kemeja Batik Unik Pengusaha Muda

Profil Pengusaha Ergy Adhitama

 

jualkemeja.png

Pengusaha muda berikut merasakan betul keajaiban internet. Jual kemeja batik unik siapa sangka akan diminati masyarakat. Bahkan diluar apa ekspetasi sebelumnya. Pemuda 26 tahun ini, yang bernama Ergy Adhitama hasilkan puluhan juta rupiah.


Dia jualan batik online. Kain batik dibuat dari bahan tenun Cirebon. Terbuat dari bahan tenun yang dia desain modis, dan model kekinian. Ergy membuat corak berbeda dibanding batik umum. Brand Bonolo dibangun dengan 12 desain motif kemeja 7 warna.

 

Unik Pengusaha Muda


Warnanya antara lain abu- abu muda, abu- abu tua, biru muda, biru tua, merah salem, hitam dan hijau. Ia menjelaskan bahwa batinya berbeda. Ergy mengamati orang- orang jenus berbelanja batik. Mulai desain pakaian sama, atau motif batik yang sama dengan orang lain.

 

Berbelanja menurutnya haruslah menyenangkan. Orang akan bersemangat menemukan motif baru. Dia juga melihat melalui sudut pandang anak muda. Bahwa mereka menyukai sesuatu yang tidak biasa. Ini merupakan potensi bisnis besar bila dikembangkan.

 

Ia pun melakukan riset kecil bahwa orang susah memilih batik. Kebanyakan memakai batik turunan milik keluarga. "Mereka pakai batik bukan yang meraka suka, cuma yang ada saja seperti bekas dari orang tua," imbuh sang pengusaha.

 

Bonolo menawarkan batik simple. Buat pemula akan mudah mengadaptasi batik ini. Ia memastikan ini akan menjadi sesuatu benar mereka suka. Bonolo diluncurkan pada Januari 2016. Ergy meluncurkan bisnis walau masih bekerja kantoran.

 

Dia bekerja di suatu perusahaan agency Jakarta. Hingga pada Juni 2016, dia memilih resign, memilih sepenuhnya menjadi pengusaha jualan batik. Proses uji pasar selama lima bulan. Ergy akhirnya mulai meluncurkan situs resmi dan online shop pada Juni, tepat dua minggu sebelum lebaran.


Bonolo sebelumnya dijajalkan ke teman- teman dahulu. Praktis tidak butuh waktu lama, bisnisnya mampu naik daun mendapatkan pesanan. "Lebaran lebih gila dari bulan biasanya. Pas lebaran, dua minggu bulan puasa, itu penjualannya menyentuh 180 baju dalam dua minggu," imbuhnya.


"Itu pertama kali saya belajar, enggak mengerti bisnis onlin," tambah dia. Bonolo memakai sistem ready stok. Dalam sebulan produksi mencapai 80- 90 kemeja batik Bonolo. Harga jualnya Rp.350 ribu- 425 ribu. Ergy biasanya 50- 60 potong dalam waktu dua minggu.


Modal awal Rp.15 juta, omzet Bonolo rata- rata Rp.45 juta- Rp.60 juta, dan rata- rata produksinya 240 potong perbulan. Ia mengaku bahwa omzet naik turun. Maklum berwirausaha. Tetapi dia minimal bisa mengantongi 40 jutaan.


Pertama kali jualan langsung mampu menjual ratusan. Padahal effornya dan ilmunya masih rendah ketika dia mulai. Respon market onlinenya luar biasa dibanding berbisnis tradisional. Jual kemeja batik melalui online lebih cepat menyebar.


Dia mendapatkan pengalaman menarik: Bahwa pembeli mungkin berbalik arah, mereka memalingkan ke produk lain lantaran akses membeli susah. "Membaca behaviour marketi online itu susah. Yang saya lihat misalnya user experience. Ada hal- hal sepele saja yang bikin dia tidak jadi beli," jelas Ergy.


Ergy menambahkan, "Misalnya biasanya beberapa detik, jadi lebih lama beberapa detik. Biasanya itu terkait kualitas websitenya." Ergy terus berinovasi meningkatkan pengalaman pembeli. Memastikan mereka merasakan pengalaman membeli batik menyenangkan.


Belum berpikir merambah pasar luar negeri. Ia masih fokus mencari pasar dalam negeri. Dia merasa bahwa potensi dalam negeri masih luas. Di bidang batik masih bisa didalami buat dikembangkan. Jadi jangan gegabah memasarkan keluar negeri.


Masih banyak "piece of pie" yang belum dimakan. "Saya intinya mau membawa produk batik naik ke level lain. Batik can be fun" tutur Ergy. Pengusaha muda ini mengajarkan bahwa user experience membeli batik masih kurang.


Orang masih enggak tau mana yang bagus, mau beli dimana. Dia inginkan nanti pembeli merasakan user experience menyenangkan. Meresakan pengalaman menyenangkan berbelanja batik di Bonolo.

Usaha Mukena Lukis Omah Colet Pekalongan

Profil Pengusaha Sukses Murdiyah 


usahamukena.png

Usaha mukena lukis asal Pekalongan berikut kisahnya. Bila orang tua lain maunya anaknya menjadi pegawai. Lain kisah Murdiyah, alkisah dari 9 orang anaknya, yang mana semuanya lulusan sarjana. Tidak ada satupun menjadi pengusaha. 
 
Sang ayah nyeletuk mengomentari hal tersebut. Mengapa anaknya semua bekerja untuk orang lain, padahal ayah ingin punya kayak Aburizal Bakrie.

Menjadi pengusaha tengah diminati ayah Murdiyah. "Pengusaha yang membuka lapangan pekerjaan buat orang lain," jelasnya. Sembilan belas tahun Murdiyah bekerja. Sebagai karyawan Bank Danamon, kok, ia tiba- tiba menanggapi serius celetukan sang ayah.
 

Menjadi Pengusaha


Kakak Murdiyah kebetulan punya koneksi. Hubungan baik dengan pengusaha tekstil. Mereka lantas jadi jalan bagi dirinya menggapai bisnis. Mereka adalah pemasok bahan tekstil, dan membuat bahan mukena bukan lah susah. 
 
Tidak ada kata terlambat buat berbisnis. Sukses ini diraih berkat kerja sama Murdiyah dan Marfuah. Ia mengenang, dulu, dia dan Marfuah pernah tinggal bersama Bude. Tinggal bersama Bude yang penjual mukena. Waktu itu mukena masih belum warna- warni seperti sekarang. 
 
Masih polosan tetapi cukup buat kenangan Murdiyah. Sampai tahun 2005, memutuskan berbisnis mukena sendiri, inilah kisah suksesnya.

Meskipun memproduksi sendiri, bisnis dijalankan Murdiyah tidak langsung sukses. Posisi produksi ada di Pekalongan membuat dia bersemangat. Karena bisnis mukena Murdiyah merupakan kombinasi seni lukis dan batik. 
 
Memasuki tahun 2007, keseriusan bisnis muken Mukena Batik Omah Colet, bisnis mulai lah nampak. Ia dibantu sang suami, Dicky Roswy, yang mana keduanya tekun berbisnis mukena lukis. Tidak kenal menyerah itulah utama. 
 
Aneka pameran didatangi mereka berdua. Salah satunya pameran diselenggarakan oleh tempat bekerjanya dulu. Pokoknya bagaimana menggait orang mengenal brand sekaligus jualannya.

Bagaimana menanamkan merek Batik Omah Colet ke benak orang. Berjalannya waktu, usaha Mardiyah menghasilkan, awalnya cuma teman sekantor Bank Danamon, tetangga, dan kini semua orang mau. Banyak orang setuju lukisan Mardiyah diatas mukena itu indah.

Penjualan meningkat pesat ketika memakai internet. Bisnis melalui Facebook, Omah Colet dimulai pada 2014 silam, kemudian disusul jualan lewat Instagram sendiri. Penjualan maju pesat dimana dari 2 orang karyawan menjadi 50 orang karyawan.

Dari bisnis Omah Colet, Mardiyah mampu membeli 2 unit rumah di Kota Legenda, Bekasi Timur, di sana dijadikan butik muken Batik Lukis Colet. Semester 1, tahun 2016, bisnis mereka menghasilkan omzet mencapai Rp.1 miliar. Selain di sana, adapula di pertokoan Dukuh Zamrud, Bekasi.

Bisnis tumbuh


Dulu, Omah Colet cuma memiliki dua orang karyawan, kemudian menjadi tujuh tenaga pelukis. Kemudian ada tenaga penjahit, pengobras, dan bagian quality control berjumlah 8 orang. Memasuki Ramadhan, bisa ditebak permintaan naik dan jumlah pekerja lepas semakin banyak.

Inilah berkah Lebaran karena berbisnis mukena. Bisnisnya laris manis bak kacang goreng. Sudah ada 15 varian mukena cantik, dari mukena colet biasa bermotif bunga- bunga aneka warna, mukena bergradasi, ada mukena pasir cinta, gribikan, coklat timbul, mukena mega cinta dan sebagainya.

Mukena tidak cuma ukuran biasa S, M, L, dan mukena menyasar trend ABG juga. Mukena lainnya khusus buat ukuran jumbo, inilah kelebihan bidikan pasar Mardiyah. Harga jual kisaran Rp.90.000 sampai Rp.135.000. 
 
Dan omzet mencapai Rp.40 juta dengan pemasaran sekitar Pekalongan, dan 50- 60 juta dari Jakarta. Ia berkata menjual mukena colet memang tidak mudah. Usaha dijalankan Mardiyah mendapat tantangan. Yakni ketika booming bisnis mukena bordir dari Tasikmalaya dan Bukit Tinggi. 
 
Tetapi karena bahan utama terbuat kain santung (katun rayon) maka bahanya lebih adem, jahitannya lebih halus, lama kelamaan maka orang pilih dia. Ketika tidak musimnya mukena, maka Omah Colet mengembangkan desain baru. 
 
Bisnis mereka juga akan merambah pembuatan sajadah, sarung, baju koko, kopiah dan lainnya. Setelah 9 tahun, dia ternyata tetap menjadi pegawai, kini dia sudah mengundurkan diri buat lebih fokus berbisnis mukena lukis coletnya.

Cumlaud Sarjana Tanpa Lulus SMA

Biografi Pengusaha Andri Rizki Putra

 
cumlaudsarajana.png
 
Bayangkan kamu cumlaud Sarjana tanpa lulus SMA Inilah kisah dari Andri Rizki Putra, atau akrab dipanggil Rizki, adalah pemuda kelahiran 23 tahun lalu adalah seorang sarjana hukum yang memiliki segudang prestasi. 
 
Hanya satu bulan bersekolah di SMA formal, Rizki memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan sendiri di rumah. Katanya sebuah metode disebut "Unschooling", yang berbekal ijasah paket C, ia melanjutkan pendidikan di Universitas. Dia bukanlah seorang anti- pendidikan. 
 
Bukan lah pula pemuda pemberontak lalu menyebut sekolah tempat tak berguna.

"Saya anak tunggal, lahir di Medan dari ayah keturunan Tionghoa dan ibu Batak. Waktu kecil saya termasuk anak yang hiperaktif. Saya berasal dari keluarga yang sangat sederhana dan broken home. Berat memang, tetapi saya bisa melaluinya," ceritanya sambil tertawa.

Ia mampu tembus seleksi ketat penerimaan Fakultas Hukum Universitas Indonesia di tahun 2007. Pada tahun 2011, ia lulus dengan predikat Cum Laude, lalu, berbekal pengalaman pribadinya itu, pada tahun 2011 didirikanlah sistem yang ia sebut Masjidschooling. 
 
Sistem yang akan membantu orang- orang yang kurang beruntung. Tujuannya guna meraih Ijazah Kesetaraan Paket A, B, dan C.

Sistem pendidikan yang mengajar- belajar melalui masjid sesuai namanya. Tenaga pengajar terdiri dari ibu- ibu rumah tangga sekitar lokasi masjid dan para mahasiswa dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Universitas Indonesia (UI), serta pelajar dari berbagai SMA dan perguruan tinggi lainnya. 
 
Pada tahun 2012 ia mendirikan Yayasan Pemimpin Anak Bangsa (YPAB) sebagai lanjutan masjidschooling, tapi dengan target yang lebih luas.

Targetnya tidak lagi yang beragama Islam. Kali ini ia dibantu oleh relawan muda yang berusia 20 hingga 30 tahun dari berbagai latar belakang pendidikan dan profesi.

"Setiap akhir pekan saya biasanya berkunjung ke yayasan (YPAB) untuk mengajar dan menerima para relawan yang ingin berbagi ilmu di sana. Kadang juga suka diselingi kerja sih; pekerjaan kantor yang terkadang suka menumpuk memaksa saya untuk menyelesaikannya di akhir pekan," jelasnya dalam sebuah wawancara dengan aquila-style.com.

Kejujuran Rizki



Dia mengidamkan sebuah sistem pendidikan yang jujur. Tak mau hanya berharap, Rizki mulai membangun itu dari keberanian untuk bertanggung jawab. Atas kejujuran, pilihannya untuk tetap di sisi yang dia percayai bahwa pendidikan juga menyangkut integritas.

Ketika lonceng Unas (ujian nasional) bergema di pertengahan 2006 lalu. Sosok anak berlari bergegas keluar dari kelas di sebuah SMP. Dia ingin buru- buru ke kantor kepala sekolah. Meski terik panas, ia tampak tak mau berhenti, mengehentikan larinya. 
 
"Kenapa ingin ke kantor kepala sekolah?" tanya seorang guru. Tanpa takut, remaja berseragam putih biru itu bilang bahwa dirinya ingin mengadukan kecurangan di kelasnya, yang kala itu sedang diadakan ujian nasional.

Bagaimana bisa, ungkap Rizki, guru- guru tutup mata bahwa murid- murid peserta ujian menyontek dengan bebas. Bahkan menurutnya guru ikut mengirim kunci jawaban lewat pesan pendek? "Buat apa pintar kalau didapat dari ketidakjujuran?" tegasnya.

Untuknya ini sesuatu yang tak masuk akal. Apalagi ketika sang guru justru berbalik bertanya, "Kenapa Rizki tak bilang ke saya (untuk dapat sontekan)? Nanti pasti kamu dapat nilai yang lebih bagus," kata guru itu menimpali, yang berdiri di depan pintu, mencegah Rizki bertemu kepala sekolah. 
 
Menolak karas dan tanpa perlu menyontek, ia bisa lulus dari SMP dengan nilai bagus. Rizki menolak mentah- mentah tawaran guru tersebut. Ia gagal bertemu kepala sekolah, lalu pulang ke rumah.

Nilai yang didapatnya, dalam tiga mata pelajaran, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan Matematika, adalah 8,75. Ironi tak mandek di situ. Teman- teman sekolah Rizki yang notabene siswa salah satu SMP unggulan di Jakarta Selatan justru mengucilkannya. 
 
Kenapa? Karena ia mengikuti kejujurannya, sesuatu yang tidak lah mainstream jelasnya dibeberapa acara televisi. Tantangan sosial pun menghalanginya untuk berkata jujur. Sempat berpikir melapor ke Indonesia Corruption Watch (ICW) dan mengekspose ke media; namun ditahan orang-orang dekatnya. 
 
Rizki drop dan depresi. Semua karena ia menyembunyikan fakta bahwa kejujuran yang dipegangnya tidak dihargai. Dia pun hanya menghabiskan masa- masa menjelang SMA dengan mengurung diri di kamar dan enggan keluar rumah. 
 
Rizki merasakan ada kehampaan ketika memasuki jenjang SMA di 2006.

"Ki, kalau kamu tidak bisa mengikuti yang mainstream (menyontek), kamu akan selalu tertinggal dari masyarakat!" Wah, ketika mendengar kata- kata itu, sungguh mental saya "berantakan". Kepercayaan saya menimba ilmu di sekolah pun lenyap seketika. Berangkat dari situ saya memutuskan berhenti sekolah di jenjang SMA," ingatnya, menjelaskan perasaanya kala itu.

Meski diterima di SMA unggulan, mendapatkan beasiswa prestasi, dan mencetak nilai tertinggi; dia sudahlah tidak bersemangat sekolah. Ia memilih putus sekolah kepercayaannya akan sekolah formal luntur. Namun, anda jangan berpikir dia benci bersekolah. 
 
Rizki masih semangat mencari pendidikan. Dia meyakinkan sang ibu, Arlina Sariani, 50, bahwa dirinya mencari pola belajar dengan caranya sendiri. "Saya menamakan jalur pendidikan SMA saya adalah unschooling," ceritanya saat ditemui Jawa Pos di Grand Indonesia.

Bukan homeschooling yang harus membayar mahal biaya pendidikan. Bukan pula mencari pendidikan non- formal. Ia memilih bersekolah sendiri di rumah, Unschooling, atau tidak mengikuti lembaga pendidikan apa- apa. Bahkan belajar tanpa pengawasan orang tua. 
 
Dia belajar sendiri di rumah. Sumber pendidikannya dia dapat dari buku- buku bekas dari saudara- saudaranya. Jangan salah sangka Unschooling berarti melawan program pemerintah untuk wajib belajar 9 tahun. 
 
Jika mau dijelaskan Rizki saat itu mengikuti program informal dari pemerintah berupa berupa pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM). Sistem yang melahirkan ijasah paket. Sayang, ijasah paket kadung negatif, hanya hal tak mau berijasah paket beberapa orang malah memilih tidak bersekolah. 
 
Banyak orang putus sekolah hanya karena tak mampu secara akademis. Akses ke perguruan tinggi juga susah karena beberapa kampus tidak menerima pelamar berijazah paket ini. Yang pertama dilakukan Rizki mencari tahu, apakah dirinya masih bisa melanjutkan ke jenjang universitas. 
 
Dari informasi yang didapatkan ia tertantang untuk ikut program paket C ini. Rizki tertantang untuk mengikuti ujian paket C tersebut yang setara SMA secara akselerasi.

Diknas pun membolehkan, asal dengan syarat, ia harus mengikuti placement test yang berisi ujian akademik dan tes IQ. Dan, hasilnya, Rizki berhasil melampaui syarat ujian paket kesetaraan di bawah 17 tahun.

Sekolah otodidak


Ia menjelaskan hambatan dari belajar otodidak ialah "mengalahkan diri sendiri!". Rizki mesti berani mengatur jadwalnya sendiri. Mendisiplinkan diri dengan sistem buatannya sendiri dan waktu belajar yang sangatlah luas, sampai- sampai bisa menghanyutkan. 
 
Ibunya tidak bisa memonitor belajarnya, karena memang ia harus bekerja mencari nafkah hingga larut malam. "Mau tak mau, semua harus ditanggung sendiri," jelasnya.

Yang tersulit dalam pembelajaran yaitu menemukan caranya sendiri. Teman- teman seangkatan Rizki masih duduk di kelas 1 SMA, sedangkan ia sudah mempelajari materi kelas 3 SMA untuk ujian paket C. Tidak ada teman ataupun guru yang bisa diajaknya berdiskusi untuk membahas materi tersebut. 
 
Hal itu membuat dia sangat tertekan dan depresi. Tapi ia tetap ngotot, menggunakan metode buatan sendiri yaitu logika dan komperasi.

Untuk lolos tes paket C, dalam sehari dia menghabiskan 22 jam untuk belajar. Dia melumat pelajaran yang normalnya diambil tiga tahun menjadi setahun saja seketika. Pelajaran yang dirasa sulit dia cari jawabannya lewat internet. Dia juga rajin membaca surat kabar.

"Ujian paket seharusnya juga lebih sulit karena saya harus belajar enam mata pelajaran. Sebaliknya, ujian nasional hanya tiga mata pelajaran," tuturnya, tak sia- sia begitu ujian itu selesai ia mendapatkan nilai tertinggi.

Rizki mencetak nilai sangat tinggi dimana rata- ratanya 9 tiap pelajaran. Dia lulus SMA pada usia 16 tahun! "Saat itu pun pengawas ujian sempat menyodori saya kunci jawaban agar saya lulus. Pasti saja saya tolak," ujarnya, lantas tersenyum mengenang kisah ironi itu. 
 
Pendidikan pun dia dapatkan dengan sangat murah. Ia menyebut hanya Rp.100 ribu. "Untuk biaya fotokopi ijasah," cetusnya.

Melalui caranya itu Rizki jadi sosok yang lebih kritis. Dia tak mau begitu saja menerima ilmu yang didapat dari satu buku saja. 
 
"Karena saya terus meringkas buku, maka saya bisa mengukur kualitas suatu buku dan materi yang dirangkum di dalamnya. Saya tidak mau menerima isi konten buku begitu saja tanpa saya berusaha mencari tahu lebih lanjut kebenaran teori dan praktiknya. Makanya dalam rangkuman tersebut, saya juga menambahkan opini-opini pribadi saya atas suatu materi yang dituangkan."

Jujur saja ibunya jadi bulan- bulanan keluarga dan tetangga. Masak membiarkan anak belajar sendiri begitu kira- kira gunjingan mereka. Apalagi ketika Rizki mau mengikuti kejar paket C, seolah mentertawakan nilai ijasahnya. 
 
Padahal paket C adalah sah berdasarkan peraturan negara. Ia sendiri tak ambi pusing, toh itu sah didapatnya. Menurutnya kalau mau kuliah yang penting mau belajar, bukan secarik kertas bernama ijasah.

Itu bukan refleski kepintaran kita. Dia pun menenangkan sang ibu, "Ma, jangan ambil pusing omongan orang. Aku tahu kok apa yang sedang aku jalani!" Hebatnya, Ibunya selalu percaya sama omongan saya. Hehehe.

Sekolah sendiri


Pada tahun 2007, Rizki sukses tembus SNM PTN dan diterima sebagai mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Indonesia (UI). Bahkan, sang dekan pun heran ada mahasiswa berijasah paket. Toh, pada 2011, pada usia 20 tahun, dia justru menjadi lulusan terbaik bahkan berpredikat cum laude.

Pengalaman panjangnya dalam sistem pendidikan itu memicunya untuk membuat sekolah gratis. Tak sekadar gratis, dia membantu murid-muridnya mendapatkan ijazah paket A, B, dan C. Yayasan pertama yang dia dirikan adalah masjidschooling. Dia menamai masjidschooling karena proses pembelajarannya bertempat di teras Masjid Baiturrahman di bilangan Bintaro.


Selain membuka yayasan, ia menjadi konsultan di firma hukum Baker and MzKenzie dan sekaligus menjadi pendiri Yayasan Pemimpin Anak Bangsa (YPAB) pada 2012. Dia juga dibantu oleh koneksinya dari luar negeri seperti Meksiko dan Malaysia untuk mengajar anak- anak di YPAB. 
 
Hasilnya, mereka yang dipandang sebelah mata justru pandai berbicara bahasa Inggris cas- cis- cus. Rizki sebuah mengutarakan kebanggaan ketika muridnya sukses, meski sebelumnya dalam kesusahan.

Sudah banyak murid "unschooling" Rizki yang "naik kelas". Ada tukang jual koran menjadi pegawai admin di media. Ada pula pembantu rumah tangga (PRT) yang menjadi admin di perkantoran. 
 
Bahkan, Prihatin, salah seorang murid yang sehari-hari berjualan pisang goreng di Tanah Abang, menjadi peraih nilai ujian nasional paket B tertinggi nasional. Kini Prihatin melanjutkan paket C. Dua murid lainnya yang bekerja sebagai PRT, ungkap Rizki, akan melanjutkan kuliah.

"Pernah juga dikira tengah melakukan kristenisasi dengan antek-antek asing," papar Rizki yang kini sibuk menyiapkan diri melanjutkan kuliah school of education di Amerika Serikat. 
 
Tantangan akan selalu ada untuk yayasan miliknya. Namun, semua itu dilalui dengan baik, YPAB kini telah memiliki beberapa cabang. Selain di Tanah Abang, juga di Bintaro, kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal, dan Medan. Rencananya Rizki juga mendirikan YPAB di luar Jawa.

Dari segi kurikulum, selain menggenjot kemampuan berbahasa asing, dia juga aka menambahkan praktik- praktik entrepreneurship.

"Saya tidak memaksa murid untuk punya nilai bagus. Tapi, menekankan pentingnya kejujuran. Lihat, koruptor itu adalah orang-orang pintar, namun sudah tidak jujur sejak dalam pikiran," tegas Rizki yang juga giat di Brunch Club, komunitas pencetus ide- ide pemula bisnis TI atau Start Up itu.

Wanita Berbisnis Pemancingan Kisah Hj. Ernawati

Profil Pengusaha Ernawati

 
pemancingan1000.png
 
Tidak biasa wanita berbisnis pemancingan seperti Ernawati. Kisah pengusaha yang memang lulusan perikanan. Usahanya itu bernama Pemancingan 100 dan Pemancingan 1000. Dia sendiri loh berminat untuk usaha tersebut.

Dikisahkan dia mengenal pemancingan berkat bekerja di sana. Hj. Ernawati pernah bekerja di usaha kolam pemancingan. "Saya enggak nyangka akan berbisnis seperti ini," ucapnya. Dia bekerja di rumah pemancingan No. 10 milik tetangga.

Dia bekerja di sana selepas SMA Polanharjo pada 1994. Baru kerja setahun, anak pimilik kolam itu melamar Ernawati menikah. "Jadi, status saya berubah dari pegawai menjadi menantu," terangnya. Ia berkata bahwa tidak memiliki latar belakang perikanan.

Kolam Ikan Bekas


Ernawati belum kuliah disaat itu. Ayah dan ibunya bekerja menjadi petani transmigrasi asal Jawa di Bandar Lampung. Mereka sendiri adalah warga kelaten. Hj. Ernawati merupakan kelahiran Klaten pada 29 April 1976, dan akhirnya tinggal di Klaten.

Ia menikahi orang Klaten. Walau anak pengusaha pemancingan, sang suami dan dia cuma dimodali usaha toko kelontong. Sisanya ia akan bantu- bantu mengurusi kolam pemancingan No. 10. Ernawati punya hobi memasak. Maka dia akan diserahi tugas memasakan hasil pancingan orang.

Dia bantu- bantu mertua termasuk memasakan. Itu bermula dari ketidak sengajaan loh. Lama- lama ia menjadi sangat ahli memasak aneka olahan ikan. Konsep pemancingan 10 memang berbentuk tempat makan. Sehabis memancing mereka kemudian meminta dimasakan langsung.

Pengunjung ingin makan sembari menikmati pemandangan. Mereka ingin makan didekat kolam ikan tersebut. Nah, kebetulan Ernawati memang hobi masak, tiba- tiba dia diminta memasakan ikan tangkapan itu. Kolam- kolam lain sampai meminta Ernawati buat memasakan ikan.

"Akhirnya keterusan dan banyak mengundang tamu," kenang Erna. Dia menemukan kelebihan yang kelak sangat berguna.

Pengusaha wanita berbisnis kolam pemancingan kenapa tidak. "Saya suka memasak apa saja," ia melanjutkan. Dijelaskan di atas, bahwa suaminya mendapatkan satu toko kelontong kecil. Letaknya di pasar yang kemudian dijual dijadikan modal kolam.

Ernawati mengingat laku Rp.25 juta. Uang tersebut kemudian dibelikan kolam pemancingan. Itu berasal dari tanah sawah mertua seluas 3 ribu meter persegi. Mula- mula Erna bersama suami cuma bikin kolam kecil- kecilan.

Mereka bekerja keras sampai dipercaya pinjaman. Kemudian uangnya dipakai buat membesarkan usaha tersebut. Pengunjung semaki banyak datang. Kolam kecil tersebut diberi nama Pemancingan 100. Lama- lama lahan sudah terisi penuh air kolam, bukan lagi bentangan sawah.

Untung mengalir sampai mereka membeli lahan baru. Inilah cikal Pemancingan 1000 milik mereka yang ternama. Mereka membeli lahan seluas 6.5000 meter persegi. Tetapi keduanya malah menjadi bahan ketawaan orang.

Mereka membeli lahan bekas tempat sampah. "Tapi kami, kan, punya planning sendiri," Erna yakin akan keputusan mereka.

Bicara kesuksesan mereka juga pernah merasakan masa sepi. Di Klaten, mereka total sepuluh tahun berbisnis, ya sepi. Padahal mereka berdua sudah dibantu Balai Pembenihan Ikan. Sudah dibantu juga sama masak tetap tidak membantu banyak.

Pemancingan 10 kemudian mengalami kenaikan signifikan. Dari tempat pemancingan sampai semua ikut- ikutan buka rumah makan. Dulu kolam- kolam semua bernomor berurutan. Sekarang ya sudah terserah masing- masing dinamai apa.

Pemancingan 1000 memberikan kesan membawa hoki. Setelah ia memakai nomor 100 ramai, lalu dulu pakai nomor 10 juga ramai. Kalau nomornya 1000 mungkin akan membawa lebih banyak kesuksesan datang. Mereka sukses membesarkan dua kolam tersebut.

Mereka berkreasi termasuk menciptakan tempat bermain anak. Menjadi pelopor diantara pemilik kolam ikan yang monoton. Walau jauh dari jalan utama, pemancingan mereka menarik pengunjung datang dan nyaman mengajag anaknya.

"Saya full mengelola usaha ini," ucapnya. Suaminya yang menyiapkan semua keperluan bahan baku, dari pembinaan bibit, menanam beras dan sayuran. Unik, mereka menanam tomat, daun kemangi, padi, mentimun, dan cabai organik di kebun sendiri.

Mereka akan sibuk menghadapi event besar tahunan. Mulai dari liburan lebaran, natal, tahun baru, libur sekolah. Mereka juga mencukupi melalui pemasok bahan baku. Usaha pemancingan justru akan jadi ramai ketika musim liburan.

Hari biasa pemancingan ditutup pukul 18:00, walau pengunjung datang ditolak. Beda kalau liburan, jam 18:00 saja masih buka, ya, selama bahan baku masih tersisa maka  pintu akan terbuka. Kan kasihan mereka udah jauh- jauh datang mau liburan.

Waktu istirahat biasa ketika tidak musim liburan. Ernawati sudah menyisakan waktu. Liburan berarti ditutup, mereka habiskan waktu jalan- jalan ke mal atau Toko Buku Gramedia; Erna menemani anak- anak. "Saya pribadi paling senang belanja buku masakan," lanjut Erna.

Putrinya, Putri Ike Nurmawati, sekarang kelas 1 SMA dan seorang putra, Putra Nur Mahendra, kelas 1 5 SD. Erna selalu menyisihkan waktu berlibur bersama. Ia dan suami juga spesial menyisihkan 12 hari buat berangkat umroh pertahun.

Total Erna memiliki 60 pegawai yang dianggap keluarga sendiri. Ia selalu melihat potensi mereka. Lalu menempatkan mereka sesuak kapasitasnya. Memperlakukan pegawai baik, maka mereka akan tumbuh kesadaran sendiri.

Misalnya, ketika musim liburan, para pegawai akan rela datang pukul 03:00 dini hari walau tidak ia pernah suruh. Ke depan mereka akan membangun gedung pertemuan. Daerah Jati memang belum ada tempat mengadakan acara besar. Suami membeli tanah luas dipinggir jalan ramai.

Pot Boneka Usaha Penghasilan 60 Juta Perbulan

Profil Pengusaha Nurfinayati

 

potboneka.png
 

Walau nampak sederhana mimiliki penghasilan 60 juta  perbulan. Pot boneka usaha yang dijalankan wanita bernama Nurfinayati. Dia merupakan lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB). Ia memanfaatkan ilmunya ketika kuliah buat berkebun.


Nur memiliki keinginan mengenalkan berkebun. Banyak orang merasa enggan lantaran jijik berkotor- kotor. Nah, bisnis Potty begitu Nur menamai, memanfaatkan media tanam sederhana. Dia lantas memberi kreatifitas melalui imajinasi karakter boneka.


Potty berpusat di Bogor dimana pertama ia pasarkan. Keinginan menyalurkan ilmu pertanian begitu kuat. Nur adalah ibu rumah tangga. Banyak waktu tersisa hingga dicobalah membuat Potty ini. Maunya mengisi waktu luang sembari mengurus anak.


Di tahun 2009, dia ingin membuka usaha sendiri rumahan, ingin memberdayakan masyarakat sekitar. Ia ingin produktif. Maka jadilah pot aneka bentuk lucu. Di dalamnya selain bahan media tanam juga bibit tanaman.


Nur biasa menjual pot mulai dari Rp.20 ribu- Rp.100 ribu. Pot boneka usaha menjanjikan karena bisa hasilkan Rp.50- 60 juta perbulan. Modal awalnya cuma Rp.500 ribu dan produksi antara 1000- 2000 pot perbulan. 

 

"Mereka enggak perlu kotor- kotoran, bisa dilakukan di lahan sempit," ujarnya kepada Detik.com


Kenapa boneka karena target pasarnya semula anak- anak. Ia ingin membuat media pembelajaran buat menanam. Lambat laun ternyata juga menjaring orang dewasa pula. Orang- orang biasanya bikin buat hadiah, souvenir, dan lain- lain.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba