Profil Pengusaha Ergy Adhitama
Pengusaha muda berikut merasakan betul keajaiban internet. Jual kemeja batik unik siapa sangka akan diminati masyarakat. Bahkan diluar apa ekspetasi sebelumnya. Pemuda 26 tahun ini, yang bernama Ergy Adhitama hasilkan puluhan juta rupiah.
Dia jualan batik online. Kain batik dibuat dari bahan tenun Cirebon. Terbuat dari bahan tenun yang dia desain modis, dan model kekinian. Ergy membuat corak berbeda dibanding batik umum. Brand Bonolo dibangun dengan 12 desain motif kemeja 7 warna.
Unik Pengusaha Muda
Warnanya antara lain abu- abu muda, abu- abu tua, biru muda, biru tua, merah salem, hitam dan hijau. Ia menjelaskan bahwa batinya berbeda. Ergy mengamati orang- orang jenus berbelanja batik. Mulai desain pakaian sama, atau motif batik yang sama dengan orang lain.
Berbelanja menurutnya haruslah menyenangkan. Orang akan bersemangat menemukan motif baru. Dia juga melihat melalui sudut pandang anak muda. Bahwa mereka menyukai sesuatu yang tidak biasa. Ini merupakan potensi bisnis besar bila dikembangkan.
Ia pun melakukan riset kecil bahwa orang susah memilih batik. Kebanyakan memakai batik turunan milik keluarga. "Mereka pakai batik bukan yang meraka suka, cuma yang ada saja seperti bekas dari orang tua," imbuh sang pengusaha.
Bonolo menawarkan batik simple. Buat pemula akan mudah mengadaptasi batik ini. Ia memastikan ini akan menjadi sesuatu benar mereka suka. Bonolo diluncurkan pada Januari 2016. Ergy meluncurkan bisnis walau masih bekerja kantoran.
Dia bekerja di suatu perusahaan agency Jakarta. Hingga pada Juni 2016, dia memilih resign, memilih sepenuhnya menjadi pengusaha jualan batik. Proses uji pasar selama lima bulan. Ergy akhirnya mulai meluncurkan situs resmi dan online shop pada Juni, tepat dua minggu sebelum lebaran.
Bonolo sebelumnya dijajalkan ke teman- teman dahulu. Praktis tidak butuh waktu lama, bisnisnya mampu naik daun mendapatkan pesanan. "Lebaran lebih gila dari bulan biasanya. Pas lebaran, dua minggu bulan puasa, itu penjualannya menyentuh 180 baju dalam dua minggu," imbuhnya.
"Itu pertama kali saya belajar, enggak mengerti bisnis onlin," tambah dia. Bonolo memakai sistem ready stok. Dalam sebulan produksi mencapai 80- 90 kemeja batik Bonolo. Harga jualnya Rp.350 ribu- 425 ribu. Ergy biasanya 50- 60 potong dalam waktu dua minggu.
Modal awal Rp.15 juta, omzet Bonolo rata- rata Rp.45 juta- Rp.60 juta, dan rata- rata produksinya 240 potong perbulan. Ia mengaku bahwa omzet naik turun. Maklum berwirausaha. Tetapi dia minimal bisa mengantongi 40 jutaan.
Pertama kali jualan langsung mampu menjual ratusan. Padahal effornya dan ilmunya masih rendah ketika dia mulai. Respon market onlinenya luar biasa dibanding berbisnis tradisional. Jual kemeja batik melalui online lebih cepat menyebar.
Dia mendapatkan pengalaman menarik: Bahwa pembeli mungkin berbalik arah, mereka memalingkan ke produk lain lantaran akses membeli susah. "Membaca behaviour marketi online itu susah. Yang saya lihat misalnya user experience. Ada hal- hal sepele saja yang bikin dia tidak jadi beli," jelas Ergy.
Ergy menambahkan, "Misalnya biasanya beberapa detik, jadi lebih lama beberapa detik. Biasanya itu terkait kualitas websitenya." Ergy terus berinovasi meningkatkan pengalaman pembeli. Memastikan mereka merasakan pengalaman membeli batik menyenangkan.
Belum berpikir merambah pasar luar negeri. Ia masih fokus mencari pasar dalam negeri. Dia merasa bahwa potensi dalam negeri masih luas. Di bidang batik masih bisa didalami buat dikembangkan. Jadi jangan gegabah memasarkan keluar negeri.
Masih banyak "piece of pie" yang belum dimakan. "Saya intinya mau membawa produk batik naik ke level lain. Batik can be fun" tutur Ergy. Pengusaha muda ini mengajarkan bahwa user experience membeli batik masih kurang.
Orang masih enggak tau mana yang bagus, mau beli dimana. Dia inginkan nanti pembeli merasakan user experience menyenangkan. Meresakan pengalaman menyenangkan berbelanja batik di Bonolo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.