Lulusan SMP Sukses Pengusaha Properti

Profil Pengusaha Fauzi Saleh


lulusansmp.png
 
Lulusan SMP sukses pengusaha properti. Kesuksesan memang datang lewat berbagai cara. Dan perlu diketahui kesuksesan, itu bukan monopoli mereka yang lahir sudah berada. Semua tulisan di blog ini membuktikan sukses harus dari nol. 
 
Kita bisa melompat jauh ketika kita berusaha, siapapun kita. Semua orang memiliki genetik untuk sukses dalam dirinya. Semua kembali lewat jalan mereka masing- masing. Fauzi Saleh telah melihat jalan ketika ada kesempatan membali tanah. 
 
Cuma sekedar membeli, kemudian menjualnya, dan seterusnya menjadi biasa. Ia adalah anak asli Betawi, lahir di Tanah Abang, Jakarta. Dia tak mengenyam pendidikan tinggi. Sekolahnya hanya tamatan SMP.

Tetapi kerja kerasnya harus diacungi jempol. Serta, satu hal lagi, yakni dia memiliki kualitas sebagai sosok sosial entrepreneur.
 

Bisnis Properti

 
Dia tak pernah lupa berlaku baik kepada pegawai dan orang yang membutuhkan. Hatinya tau kalau kita berbuat baik maka akan menghasilkan kebaikan. Setamatnya SMP, Fauzi langsung bekerja seadanya yaitu bekerja di tempat pencucian mobil bergaji Rp.700.000. 
 
Pekerjaan lain Fauzi pernah kerjakan yaitu menjadi satpam. Fauzi ditugaskan menjadi penjaga gudang milik perusahaan tempatnya bekerja. Apa yang bisa membalikan kehidupannya hingga kini adalah prinsip "bismillah". Prinsip berserah diri yang selalu ia pegang saat memulai bisnisnya di tahun 1989.

Berbekal uang simpanan sejak pertama kali bekerja. Ditambah uang hasil mengobyek sebagai tukang taman. Ia mengumpulkan uang sebesar 30 juta. Fauzi lalu membeli tanah seluas 6x15 meter sekaligus membangun rumah di Jakarta selatan. 
 
Untuk membangun rumah itu, ternyata ia butuh uang tambahan 10 juta lagi. Setiap malam jumat, Fauzi dan pekerjanya melakukan wirid Yasin, dzikir, dan memanjatkan doa agar usahanya berhasil. Singkat cerita rumah itu akhirnya bisa terbangun dan dijual lagi seharga Rp.51 juta.

Uang hasil penjualan dibelikan tanah lagi, dan dibangunlah satu rumah lagi dan menjualnya kembali. Begitu seterusnya hingga pada tahun 1992 usahanya kian membesar. 
 
Ia mendirikan PT. Pedoman Tata Bangun dan mulai membangun 470 unit rumah mewah pesona Depok 1 dan 360 unit rumah pesona Depok 2. Kemudian ia membangun Pesona Khayangan.

Kini, perusahaanya telah membangun pesona Khayangan 1, total sebanyak 500 unit dan Pesona Khayangan 2 sebanyak 1100 unit. Harga rumah group pesona milik Fauzi tersebut berkisar Rp.200 juta sampai Rp.600 juta per- unit. 
 
Menariknya tradisi pengajian setiap malam jumat masih dilakukan, tidak pernah Fauzi mau tinggalkan. Sekali dalam sebulan, dia menggelar pengajian akbar yang disebut dengan pesona dzikir yang dihadiri seluruh buruh, keluarga dan kerabat di komplek pesona khayangan beberapa waktu lalu. 
 
Ada sekitar 4.000 orang yang menghadiri. Fauzi tidak menginginkan hasil usahannya hanya untuk diri sendiri. "Saya hanya mengambil, sekedarnya, selebihnya digunakan untuk kesejahteraan karyawan dan sosial," ucapnya tegas. 
 
Sekitar 60 % keuntungan digunakan untuk kegiatan sosial, sedangkan selebihnya dipakai sebagai modal usaha. Sejak empat tahun lalu, ada Rp70 milyar yang digunakan di kegiatan sosial. Fauzi memberikan bonus dan tunjangan karyawan. 
 
Pria yang memiliki lebih dari 2.000 orang karyawan ini mengaku bahwa karena mereka jugalah, sehingga mendapat rezeki.  Tak hanya memperhatikan kesejahteraan pekerjanya, ia juga sering menyumbangkan pendapatan yang ia dapatkan untuk kegiatan sosial dan zakat. 
 
Fauzi telah membuktikan lulusan SMP sukses pengusaha properti, berbekal kerja keras, tekad yang kuat dan dibarengi dengan doa, niscaya segala yang diimpikan akan tercapai.

Nugget Ikan Lomek Inovasi Bisnis Pengusaha Riau

Profil Pengusaha Ali Imroen

 
nuggetikan.png
 
Inovasi bisnis pengusaha Riau. Ali Imroen (25), mendapatkan orderan banyak sejak ikut memasarkan produk ini. Pria asli Riau ini kini menjadi salah satu distributor Nugget Lomek produksi masyarakat Desa Alai kecamatan Tebing Tinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. 
 
Ali menuturkan hasil olahan dari masyarakat Desa Alai tersebut, tidak cukup ramai peminat karena pemasarannya terbatas bukan karena tidak enak. Oleh sebab itu dengan mengakali bagaimana Ali bisa menjual produknya ke pasaran. "Mulai ramai yang memesan nuggetnya," ucap Ali Imroen.

Lelaki penggemar Iis Dahlia ini mengaku sejauh ini Ia baru- baru mempromosikan Nugget Lomek itu lewat jejaring sosial. Meski demikian, diakui sudah banyak pemesan datang, tidak hanya dari Kepulauan Meranti, tetapi juga dari daerah luar.

Prospek Nugget Ikan Lomek

 
"Peminatnya cukup ramai, bahkan yang mesan bukan hanya dari Meranti tapi sampai ke Pekanbaru dan Batam. Ini belum sampai sebulan pesanan sudah puluhan bungkus," ujar lelaki bertubuh gempal itu.

Ali mengaku naget lomek selain bergizi dan tinggi kalsium, juga terjangkau dari sisi harga dibanding nugget dari ayam. Untuk satu bungkus 200 gr, Nugget Lomek, Ali menjualnya dengan harga Rp 15 Ribu. 
 
Kalau untuk luar daerah akan dikenakan biaya tambahan yaitu ongkos kirim. Dari segi rasa nugget ikan lomek ini sama enaknya, rasanya lebih gurih dan lebih murah dari bahan baku. Perlu diketahui nugget ini terbuat dari ikan lomek yang banyak terdapat di perairan Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.

Ikan berwarna putih ini memang jika dijual biasa harganya tak begitu tinggi.


Banyak masyarakat menyarankan untuk nugget ikan Lomek lebih bersolek. Situs goriau.com yang gencar mempromosikan olahan satu ini, tanggapannya ternyata sangat positif. Masyarakat luas mulai melirik satu dari banyak hasil olahan Lomek untuk berbenah. 
 
Proses pengemasan jadi penting untuk suatu produk. "Bagusnya diberi kemasan yang menarik, agar nilai jualnya juga menjadi tinggi," saran salah seorang masyarakat Riska (33) atas pangan olahan ikan lomek itu.

Masyarakat yang mengerti tentang rasa enak ikan lomek dan biasanya berada di luar daerah menyambut baik adanya pangan olahan ikan lomek ini. Selain murah rasanya enak juga bisa jadi altenatif olehan yang disukai muda ataupun tua. 
 
Menurut mereka ikan lomek saja sudah enak apalagi diolah menjadi panganan seperti yang dikembangkan oleh warga Desa Alai itu.

"Sudah lama tidak makan ikan lomek, ikannya saja enak apalagi nugget lomek," ujar beberapa warga Meranti yang saat ini berada di luar daerah.

Dapat disampaikan pula, dari ikan yang banyak terdapat di Meranti itu, warga Desa Alai telah membuat bakso lomek dan nugget lomek. Produk tersebut merupakan panganan yang paling banyak dipesan oleh masyarakat. Inovasi bisnis pengusaha Riau memang hebat.
 
Sejauh ini hasil olahan dari ikan lomek itu baru dipacking menggunakan plastik putih, dan belum ada kemasan menarik seperti makanan lainnya yang banyak di mini market.

"Untuk saat ini saya baru melayani pengiriman yang dekat saja, karena saya tidak tahu berapa hari nugget lomek ini bisa bertahan tanpa dilakukan pendinginan," ujar Ali Imroen, salah seorang distributor Nugget Lomek. Kita tunggu kisah selanjutnya.

Haji Amir Mahpud Belajar Wirausaha dari Kemiskinan

Profil Pengusaha Amir Mahpud

 

amirmahpud.png
 

Jujur diakui Haji Amir Mahpud adalah anak orang kaya. Namun dia belajar wirausaha dari kemiskinan yang direncanakan. Ya dari delapan orang anak orang tuanya. Hanya Amir yang melewati fase miskin buat membangkitkan bisnis keluarga.


Sudah bukan rahasia umum bahwa bisnis transportasi sesak. Selain masalah bahan bakar, kebijakan dari pemerintah yang berubah- ubah sangat mengecewakan. Terkadang pengusaha transportasi harus melalui masa dimiskinkan. 

 

Entah pemerintah berpikir apa, padahal perusahaan transportasi harus diutamakan. Kita tau bahwa jalan sudah tidak mampu menampung kendaraan pribadi. Namun penjualan kendaraan tunggal terus naik tanpa rem pasti. 

 

Bisnis Kekeluargaan

 

Disisi lain, angkutan transportasi umum harus dipukul telak dengan naiknya bahan bakar minyak. Ayah Amir bernama H. Engkud Mahpud, adalah pemilik awal usaha PO Mayasari. Dari dulu banyak sudah perusahaan otobus (PO) bangkrut.


Mereka akan dijual kemudian dibeli perusahaan sejenis. Nama Mayasari Bakti bertahan walau banyak rintangan. Perusahaan legendaris ini berdiri pada tahun 1964. Usaha yang melayani trayek Cililitan dan Tanjung Priok.


Berkat program Gubernur Ali Sadikin, Mayasari Bakti lantas mendapat suntikan dana dan seterusnya. Perusahaan otobus memang demikian sulit. Mereka sudah banyak mendapatkan suntikan dana sana- sini. Kebijakan pemerintah yang berubah- ubah membuat perusahaan sulit.


Nampaknya Haji Amir Mahpud belajar wirausaha dari sini. Perusahaan yang didirikannya merupakan bagian Mayasari Group. Pak Amir nampaknya paham betul prinsip kekeluargaan. Ia pun rela keluar dari ring utama bisnis Mayasari.


Berdirilah Primajasa yang merupakan bagian dari PT. Mayasari Bhakti Utama. Dimana entitasnya ada PT. Mayasari Bakti Utama sebagai holding, dan PT. Mayasari Bhakti sebagai bisnis utama mengurusi bis kota. Usaha ini juga termasuk PT. Primajasa Perdanarayautama dipimpinnya.


Perusahaan Primajasa meliputi bis AKAP/AKDP, pariwisata, taksi dan angkutan keryawan. Adapula namanya PT. Maya Gapura Intan untuk bis MGI/AKDP, PT. Maya Raya, PT. Cahaya Bhakti Utama, dan PT. Do'a Ibu.


Dimana fokus Primajasa adalah kendaraan jarak dekat. Mereka tidak menyasar rute jarak jauh. Alasan utamanya karena dapat tergantikan pesawat. Primajasa memanfaatkan sistem diluar kebiasaan. Mereka tidak terpaku terminal ke terminal.


Primajasa menciptakan tempat tunggu khusus dalam kota. Mereka pun memiliki trayek- trayek unik dalam kota. Mereka juga memiliki shalter tunggu, antara lain Kota Harapan Indah Bekasi- Bandung, Jababeka- Bandung, dan Bandara Soekarno Hatta- Bandung.


Primajasa dan PO lainnya terdampak kenaikan BBM 100% dulu. Pak Amir selaku Direktur Utama dan CEO Primajasa, harus bertindak terutama menangani internal dan ekstrenal perusahaan. Di dalamnya perusahaan juga mengalami gejolak luar biasa.


Bagi Amir melihat masalah menjadi tantangan buat diatasi. Kalau bisa dijadikan peluang. Pengusaha yang dikenal ramah tersebut siap. Ketika Primajasa berdiri sudah tumpukan masalah menghadang. Ini kondisi berbeda dari perusahaan induknya, Mayasari Bhakti.


"Dasar saya mendirikan perusahaan Primajasa adalah menciptakan perbedaan riil dari bisnis induknya, sehingga timbul dimensi berbeda dari perusahaan induknya," jelas H. Amir Mahpud.


Walau sudah berusaha namun ternyata semua sudah terbaca. Dia sudah menebak arah bisnis bis antar kota. Usaha ini tidak akan segemerlap dulu. Terutama di Ibu Kota, lantaran munculnya konsep Bus Way milik pemerintah daerah.

 

"Waktu itu saya sudah berpikir bahwa transportasi dalam kota suatu saat nanti akan mengalami titik jenuh," ujar bapak tiga anak ini.


Dia sudah tau bahwa jalur gemuk ketat. Persaingan di Jakarta sudah penuh sesak, dan Primajasa butuh penyegaran. Idenya menyasar trayek diluar kewajaran PO bus lain. Dia mengambil jalur yang kurang diminati, tetapi dibutuhkan.


Amir merintis rute sendiri sampai 90% rute mereka. Primajasa cuma memiliki 10 persen rute gemuk. Ia bersai bersama dengan banyak kompetitor. "Kami selalu mengevaluasi rute yang tidak dijalankan pesaing, sehingga rute ini menjadi potensi bisnis," tambah sang pengusaha.


Dalam Biografi Amir Mahpud, ia sempat mengenyam tiga pendidikan berbeda dalam dan luar negeri. Dia merupakan lulusan Universitas Parahayangan, Pancasila, dan Oakland. Menjadi pengusaha dirinya tidak berpikir mainstream mengikuti orang.


Primajasa tidak ikut- ikutan melayani antar kota bahkan sedari dulu. Padahal, di masanya transportasi udara belum tenar, masih mahal hingga melayani rute terbatas. Amir pun sudah menebak arah masa keemasan transportasi udara.


Amir tidak berpikir muluk tetapi semudah ini: Bahwa layanan bus jarak jauh memiliki resiko besar. Ini sangat mudah menjadi target sarana pengganti. Transportasi jarak jauh begitu menggiurkan termasuk bagi pengusaha maskapai udara.


Amir lantas mengambil jalan tengah. Rute jarak antar kota menengah dirasakan lebih imun. Pesawat terbang kan membutuhkan cost tinggi. Mau take off antar kota sudah paling jauh dan strategis. Kalau ambil jarak menengah, biaya akan meninggi karena akan lebih sering take off dan landing lebih sering.


Begitupula sarana transportasi kereta api yang bergantung stasiun. Hasilnya Primajasa tidak mampu mempertahankan rute menengah. Bisnis mereka tidak terpengaruh walau pesaing berbeda jalur. Bahkan rute pesawat terbang membuka berkah.


Pada 10 Oktober 2006, dibukalah rute Bandara Soekarno Hatta- Bandung Super Mall. Berkat kejelian Amir melihat peluang. Frekuensi penerbangan meninggi begitu pula kebutuhan penumpang. Termasuk kebutuhan bus antar kota menengah.


Tujua mereka bisa pulang ke daerah melalui Bandara Soekarno- Hatta. Atau mereka yang berminat untuk berwisata ke Bandung. Padahal antara Jakarta dan Bandung sudah tersambung jalan tol. Namun tidak semua terpenuhi, terutama mereka yang dulu memakai kendaraan pribadi butuh jangkauan luas.


Amir menciptakan rute sendiri di dalam rute umum. Primajasa mampu memenuhi keuntungan dari rute tersebut. Mereka melayanai 60 persen kebutuhan rute tersebut. Load factor terus meningkat apalagi kala musim liburan telah tiba.


Pengusaha sekaligus Majelis Pertimbangan Parat (MPP), Partai Amanat Nasional (PAN), mengatakan wirausaha soal membaca peluang. Penambahan armada sesuai kebutuhan masyarakat akan rutenya. Ini membuat setiap 45 menit sudah tersedia bus siap berangkat.


Pemberangkatan dari Seokarno- Hatta mulai pukul 08:00 hingga 22:00. Dari Bandung Supermall pukul 01:00- 15:00. Strategi Amir memang tergolong unik diluar pakem umum. Biasanya mall malah akan mendekati terminal, ini menjadi kebalikannya Primajasa yang mendekati mall.


Ini mengikuti pola pikiran masyarakat mendekati titik keberangkatan dan kedatangan. Dari perubahan pakem tersebut diyakini memberikan efek. Kemudian Amir juga merubah pakem lain, bahwa bus akan menggantungkan dirinya ke terminal- terminal.


Belajar Wirausaha


Keberadaan terminal diluar tempat keramaian (pinggiran kota) mempengaruhi. Alih- alih Primajasa yang masuk ke dalam perkotaan. Mereka mendekati sumber keramaian menciptakan pemberhentian bus. Ia tidak cuma membuat tetapi mengikuti pola.


PO bus Primajaya melayani dari keramaian ke keramaian lain. Kan terdapat 1200 pabrik berdiri di atas Jababeka. Ini merupakan pasar potensial. Pengusaha vateran yang gemar bermain golf. Ia juga mampu merubah pasaran naik ke menangah atas.


Strategi tersebut sejalan peningkatan kualitas pelayanan. Dia mengatakan SDM berkualitas juga suatu keniscayaan. Amir pun rela merogoh kocek demi menaikan kemampuan karyawan. Primajasa memberi pelatihan masalah teknik.


Di kurun waktu sebulan, mereka akan mengirim para pengemudi mengikuti pendidikan. Pelatihan itu diselenggarakan oleh pemerintah. Kepiawaian Amir mampu menaikan jumlah armada 25 unit menjadi 700 armada. Mereka tetap setia melayani rute DKI, Jawa Barat, dan Banten.


Primajasa juga memiliki 500 armada taksi loh. Ia sangat menyadari berdiri Primajasa berkat kekuatan masyarakat. Amir membangun manajemen berasa kekeluargaan. Bukti berupa ajakan pengajian buat semua karyawan perminggu.


Amir juga mengajak semua karyawan buka bersama dan Tarawih bersama. Penunjang lain demi mereka karyawan, termasuk membangunkan tempat olah raga berupa lapangan badminton, dan sepak bola. Ini termasuk pemberian waktu buat rekreasi keluarga karyawan.


Perusahaan memberikan pula program beasiswa keluarga karyawan dan crew bus. Beasiswa diberikan sejak 2003, dan tercatat telah memberikan beasiswa untuk 356 putra- putri karyawan, dari jenjang SD sampai perguruan tinggi.


Perusahaan ikut membantu mewujudkan mimpi karyawan. Mereka memberikan program Umroh dan Haji kepada karyawan. Program peningkatan spiritual tersebut dimulai sejak 1990. Ada 2- 3 orang dinaikan Haji oleh Amir pertahun.

Tas Gendhis Asli Indonesia Bisnis Bahan Tanaman

Profil Pengusaha Ferry Yuliana

 
tasgendhis.png

Bisnis bahan tanaman tengah digandrungi masyarakat. Tas Gendhis asli Indonesia menjadi salah satu pelopornya. Produk yang dibuat secara anyam. Mampu enghasilkan jutaan rupiah, dan keuntungan bagi para petaninya. 
 
Dia lah Drg. Ferry Yuliana atau Ferry Yuliana, atau disapa Lia, berfokus pada bisnis berbasis nasional. Sementara perusahaan- perusahaan tas alam memilih ekspor, dia memilih fokus pada pasar lokal 100%. 
 
Lia adalah pelopor beridirinya tas Gendhis, tas yang terbuat dari anyaman tanaman mendhong, rotan atau pun enceng gondok.

Ketika nanti berkunjuang ke halaman Facebook milik Gendhis Bag, anda akan disuguhi foto beraneka ragam tas. Tidak hanya beraneka warna tapi beraneka bentuk menarik. Dari bentuk, mungkin seperti produk buatan luar negeri, tepi ternyata itu tas rotan yang telah dianyam.
 

Pejuang UMKM

 
Menakjubkan. Lia memiliki mimpi untuk memasarkan produk- produk asli Indonesia. Ini jadi alasan dirinya terjuan di dunia bisnis. Ia memiliki dasar idealis dimana bahan dan warna musti berasal dari bahan lokal dan alami.

Ia juga memberdayakan petani lokal untuk bahan baku rotan. Jika dicermati usaha miliknya yang berbahan baku eceng gondok, rotan, atau mendhong sangatlah membantu. Bahan tersebut dibelinya secara langsung dari para petani. 
 
"Dengan sentuhan kreativitas tinggi, kami menyulap tanaman tersebut menjadi tas-tas bernilai jual tinggi. Dampaknya, penghasilan petani pun bertambah," begitu ujarnya. Menjadi satu berkah tersendiri ketika tas Gendhis laris dipasaran.

Tentu, semakin banyak pula bahan baku yang harus dibeli Lia, guna membuat produk- produknya. Lia meyakinkan produk miliknya 70% bahan alami. Keprihatinan dirinya akan petani rotan nampak dari ceritanya. Dia tak tega ketika malihat rotan dihargai rendah. 
 
Dari sedikit kratifitas jadilah tas anyaman rotan yang cantik, tak kalah dengan produk luar. "Mereka lebih memilih mencari karet atau emas yang pendapatannya lebih menggiurkan," begitu lanjutnya. 
 
Oleh karena itu, Lia berusaha untuk membeli bahan baku langsung dari petani, agar bersemangat dalam menanam tanaman anyam terutama rotan.

Seorang dokter gigi yang masih aktif mendapatkan kemampuannya secara otodidak. Lia tak pernah belajar khusus untuk bisnisnya ini. Ketika kecil ia sering membuat prakarya. Ini pula menjadi landasan kreatifitas seorang Drg. Ferry Yuliana. 
 
Selain sibuk berbisnis, ia sibuk mengajarkan para ibu- ibu PKK. Kebetulan bahwa memang produk buatannya menggunakan bahan yang mudah dibudiayakan. Jadi kamu membuat tas anyaman dimana dan kapan saja.

"Tujuan pertama kami adalah Kalimantan, karena bahan rotan berasal dari sana. Kami mengajarkan tentang pola anyam, cara mewarnai dengan bahan alami, cara mendesain dan mengemas, sampai cara membuat display produk," Begitu katanya.

Lia mulai melatih petani untuk menganyam, hingga mereka bisa menganyam rotan yang dihasilkan agar mendapat bahan setengah jadi; Lia akan membelinya nanti. Tentu harganya akan berbeda ini juga menambah produknya cepat diproduksi. 
 
Produksi Lia sudah menembus manca negara bahkan ia sudah membranding produknya dengan nama "Tas Gendhis". Selain tas, Lia juga memproduksi bagasi serta dompet.

Karena jasanya melestarikan alam Indonesia, ia dianugrahi penghargaan oleh President Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Penghargaan yang didapat karena ikut melestarikan rotan. Usahanya manyasar produk berbasis tradisional memang bisa diacungi jempol, tapi selalu ada saja masalah. 
 

Pemalsuan Produk

 
Kini Lia masih terus berjuang disisi lain, berhadapan dengan produk- produk palsu yang menggunakan merek Gendhis Adanya produk palsu dengan mereknya di pasaran, ini justru membuat Lia semakin berkreasi. Lia membuat produk- produk limited editions. 
 
Selain produk palsu ada pula perusahaan sejenis tumbuh. Mereka, sekitar 7 perusahaan, dua perusahaan bersekala besar dan sisanya sedang. Yang beda dari Gandhis, mereka justru berbondong- bondong memenuhi ekspor, tapi tidak untuk Lia. 
 
Bagi dirinya yang terpenting konsep yang sejak awal diusung usahanya membantu para petani.
 
"Yang membuat saya tergerak adalah tas natural dipandang sebelah mata oleh masyarakat kita sendiri. Saya jadi paham mengapa para perajin tas memilih bermain di pasar ekspor. Konsumen luar negeri lebih menghargai dan menyukai tas natural," kata Ferry. 
 
Ia baru menggarap pasar ekspor pada tahun kedua, itu pun hanya 20%. Memilih pasar lokal membuat tas Gendhi punya masalahnya sendiri. Disini justru produknya disepelekan dan butuh edukasi untuk pasar di setiap marketing. 
 
Bahkan ada orang yang menyebut tasnya hanya tas pasar atau tas anyaman. Ini betul membuatnya ingin menangis. Dengan sabar ditambah kreatifitas, ia kemudian mencoba menjelaskan produknya dari segi desain dan jenisnya. 
 
"Apalagi, saya mengerjakannya dengan hati, karena memang sangat menyukai tas natural," kata Lia, yang gemar mengutak-atik aksesori.

Ketika pertama kali diluncurkan, Gendhis Natural Bag dijual seharga Rp75.000 – Rp125.000. Padahal, harga tas di pasar hanya seperempatnya. "Bisa dibayangkan respons yang kami terima. ‘Wah... kok, mahal sekali? Di pasar hanya Rp20.000. 
 
Bahannya sama, ya. Ini lebih bagus sedikit, tapi harganya sampai 5 kali lipat.’ Karena itulah, saya harus menjelaskan kepada calon konsumen, satu per satu," ungkapnya. Ia pun langsung menjelaskan lagi seperti apa produknya.

Akhirnya justru banyak konsumen yang tak hanya menjadi pelanggan setia, bahkan seolah menjadi bagian dari bisnis Gendhis. Kalau muncul pemain baru yang meniru produk Gendhis, merekalah yang justru berdiri di garda depan, tak segan- segan melabrak. 
 
Namun, angin kencang belum berhenti bertiup. Masa-masa yang berat dilalui Lia, usahanya kehilangan 90% karyawannya pergi, hijrah ke perusahaan kompetitor. Yang tersisa hanya Ferry dan suami, serta 3 pegawai.

"Padahal, kami sedang mendapat banyak pesanan  dari Jepang. Antara panik dan shocked, saya mencari pegawai pengganti. Untunglah, dalam waktu satu minggu, pos-pos yang kosong itu terisi. Kejadian ini memberi saya pelajaran berharga: kami harus introspeksi diri," tutur Ferry.
 
Dia mengungkapkan bahwa setahun setelah kejadian itu, penjualannya justru meroket 3 kali lipat. Ya ternyata bisnis bahan tanaman sebagus ini.

Pengusaha Pakaian Dalam Mereguk Hoki Bisnis

Profil Pengusaha Jefri Van Novis

 
pengusahapakaindalam.png

Pengusaha pakaian dalam mereguk hoki bisnis. Namanya kini dikenal sebagai pemilik usaha travel dan umroh. Itu semua berkat nama usaha yang diambil dari brand pakaian dalam. Dia dulu memang jualaan pakaian tidak perlu malu.
 
Nama usahanya diambil dari sebuah merek pakaian dalam. "Bonita" walau terkesan tak sopan menamai bisnis Umrohnya dengan nama ini. Tapi nama hanyalah nama, toh bukan dia, Jefri Van Novis sang pemilik merek tersebut. 
 
Dia mendapatkan barang dari kakak sepupunya kala itu usahanya digunakan untuk membiayai kuliah. Sejak lulus kuliah terbersitlah pikiran untuk berdagang. Bersama sang kakak sepupu yang mensuplai produk pakaian dalam Bonita, ia pun mulai berjualan semuanya semata- mata karena kebutuhan.

Nama sukses


Bonita sendiri berarti berarti wanita jelita dalam bahasa Spanyol. Nama inilah yang begitu lekat dan tak bisa dipisahkan dari Jefri Van Novis, pria lajang kelahiran Bukit Tinggi 16 November 1981 ini. Dan akhirnya ketika tak lagi berbisnis pakaian dalam, nama ini masih dipakainnya. 
 
Hoki kalau kata pengusaha keturunan Tionghoa mah. Kemana-mana ia selalu membawa pakaian dalam wanita. Jefri kemudian sangat identik dengan Bonita, merek pakaian dalam wanita yang kurang jelas impor atau produk lokal.

Menenteng pakaian dalam sebagai usaha pastilah membangun mental tersendiri. Jefri memang sosok yang tangguh meski usaha pertamanya. Usai SMA kelas 3, Jefri yang termasuk murid terpandai disekolahnya tak yakin bisa meneruskan kuliah, "Darimana biayanya, orang tua saya bukan termasuk orang berada," kenangnya. 
 
Meski begitu ia tetap mengikuti SPMB. "Ketika hasil SPMB diumumkan, saya termasuk yang diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, Padang," ucap sang pengusaha muda.

Dari kegetiran biaya kuliah dan biaya hidup di Padang Pelak, jadilah ide berdagang muncul. Jadilah Jefri pedagang produk pakaian dalam wanita, brand Bonita meliputi bra, celana, korset dan sejenisnya dimana ia bekerja sama dengan kakak sepupunya di Jakarta. 
 
Modalnya hanyalah tekat dan kepercayaan dari kakak sepupunya, karena Jefri tak memiliki modal sepeserpun. Ia mendapat kredit selama satu minggu. Jefri segera bergerak memasarkan produknya ke pasar- pasar tanpa berpikir dua kali.

Bonita sendiri adalah merek pakaian dalam untuk kalangan menengah ke bawah. Tipikal orang Minang asli, ulet, dan pantang menyerah itulah dirinya. Hari pertama menginjak kota Padang, ia langsung memasarkan produk ini. 
 
Semua peluang dijajalnya. Selain memasok toko-toko grosir, juga memasarkan ke pedagang eceran dan kaki lima. Sehingga ia mendapatkan margin lebih besar lagi. Semua toko di Padang ditawarinya.

Ia juga menjajakan dagangannya hingga ke  pasar Aur Kuning yang terkenal strategis, merupakan pasar grosir terbesar di Sumatera Utara. Lokasi pasar ini sangat strategis, tak jauh dari terminal bis antar kota, sehingga semakin ramai dikunjungi. 
 
Banyak pedagang dari daerah lain yang datang berbelanja ke pasar ini untuk didistribusikan ke kota lain. Tanggapannya sangat beragam. "Ada yang suka dan memuji, tak sedikit juga yang meremehkan produk kami," katanya

Suka duka berbisnis


Tanggapan negatif tak dihiraukannya, terus maju dengan bisnis yang terdengar nyeleneh ini. "Kalau kita menawarkan sepuluh toko saja, mudah-mudahan ada yang membeli satu toko saja produk kami," begitu jelasnya. 
 
Karena ia menawarkan ke ratusan toko, maka jumlah toko yang berkenan membeli produknya pun lumayan banyak. Ke kampus- kampus ia pun tak ragu membawa barang dagangannya dan menawarkannya kepada rekan kuliahnya secara langsung.

Sambutan teman- temannya pun beragam, ada yang salut terhadap semangatnya itu dan ada pula yang melecehkan.

"Saya sempat dijuluki tauke bra. Biar saja, saya malah menikmatinya," katanya santai. Malah julukan itu membuat Jefri dan dagangannya lebih terkenal. "Banyak juga rekan-rekan wanita yang memesan dagangan saya," katanya. 
 
Belakangan, ketika usahanya kian berkembang, kolega yang sempat melecehkan itu malah berbalik salut kepadanya. Tak berhenti kuliah, ia pun tetap melaju dengan nilai yang tinggi. Ia mengambil jurusan Manajemen Pemasaran yang diselesaikan dalam tempo 3,5 tahun. 
 
IPK -nya juga bagus yaitu 3,3. Agar bisa mengerjakan keduanya ia harus bisa membagi waktu. Tiada kata bersanatai dalam kamus bisnis seorang Jefri. Tiap senin hingga jumat dari pagi hingga siang ia fokus kuliah dengan tekun. 
 
Sore harinya ia berkeliling pasaraya Padang menagih pembayaran kepada toko-toko yang mengambil produknya. Jum’at sore ia pulang ke Bukittinggi membawa uang untuk disetorkan sekaligus membawa lagi barang yang akan dijual minggu kemudian.

Sebelum pulang ke Bukittinggi Jefri biasanya mendatangi satu demi satu toko yang biasa dipasoknya, "Cari order," imbuhnya. Minggu sore ia telah ada di Padang kembali untuk menyerahkan pesanan ke pelanggan-pelanggannya. "Begitulah saya setiap minggu," katanya. 
 
Disela- sela padatnya jadwal ini ia masih sempat untuk kursus bahasa Inggris. "Ini merupakan modal penting untuk menghadapi persaingan global," katanya. Usai berkuliah di 2004, ia masih mensuplai barang ke Padang, namun hari- hari lebih banyak di Bukittinggi.

Ia membantu sang kakak berjualan pakaian dalam. Disisi lain ia belajar banyak dari sang kakak mengenai seluk beluk pasar grosir terbesar di Sumatra Utara itu.

Bonita Tour


Di akhir 2006, Jefri mantap untuk mengelola bisnis sendiri, tak mau bergantung kepada sang kakak. Bisnis pakaian dalam ditinggalkannya meski prospeknya masih bagus. Semua pelanggan dan pengecer diserahkan kakaknya untuk menggantikan. 
 
Memulai bisnis dari awal lagi namun satu hal yang tak bisa lepas; nama merek Bonita melekat pada bisnis barunya. Usahanya berupa travel dan perjalanan umroh, bisnisnya yang diberinya nama Bonita Tour and Travel.

Perusahaannya fokus menangani pemesanan tiket pesawat udara untuk tujuan kedalam dan keluar negeri. Dengan modal yang tidak terlalu banyak, Jefri cukup merintis usaha barunya dengan menjadi sub- agen penjualan tiket pesawat. 
 
Setelah setahun menjadi sub- agen, Jefri bisa mewujudkan keinginannya menjadi agen resmi. "Sebagai agen resmi kita bisa menikmati komisi secara utuh, serta mendapat sejumlah intensif lainnya," katanya.

Pada 2007, ia mengajak sang kakak untuk mendirikan PT agar bisa menjadi agen resmi untuk selanjutnya. Disini ia merangkak dari bawah lagi. Modalnya mepet dan harus mendekati maskapai satu demi satu untuk menjadi agen. Berawal dari Mandala Airlines lalu Batavia Air selanjutnya. 
 
Berkat kegigihan menjual tiket satu demi satu maskapai termasuk Garuda Indonesia mempercayakan penjualan tiketnya. Potensi bisnis di sektor ini terbilang besar.

Orang Minang memang terkenal perantau yang kerap bepergian ke seantero nusantara, bahkan mancanegara untuk berniaga dan menggerakkan roda bisnis mereka. Nah, dari sanalah bisnis macam ini bisa berjaya. 
 
Dengan jejaring luas dikalangan para pedagang besar dan grosir di pasar Aur Kuning, Jefri  bisa berubah menjadi peluang. Hubungan baiknya dengan sejumlah pengusaha dan instansi pemerintah membuat banyak diantara organisasi tersebut yang memesan tiket kepadanya langsung. 
 
"Alhamdulillah, cukup banyak yang mempercayakan semua urusan perjalanan penerbangannya kepada Bonita," ungkap Jefri. 
 
Ada perusahaan CNI, Tupperware, sejumlah showroom mobil di Bukittinggi, dan sekretariat DPRD Kab Agam, Sumatra Barat. Dia juga meraih kepercayaan dari Jabatan Pendidikan Perak Darul Ridzuan, Malaysia.

Itu karena ia mampu memberikan layanan yang sangat memuaskan kepada tiga rombongan dari Malaysia yang berkunjung ke Bukittinggi. "Tapi jika kita geluti secara serius, lama-lama pelanggan kita makin banyak dan hasilnya pun makin banyak," ujarnya. 
 
Rata- rata Bonita bisa menjual seribu tiket dalam sebulan. Dan, 70% pelanggan perusahaanya adalah mereka yang dari pasar Aung Kuning.

Berbeda dengan biro perjalanan di Bukittinggi dan sekitarnya yang sekedar menyediakan tiket, Bonita Tour and Travel memberi sejumlah nilai tambah; menyediakan travel untuk antar jemput dari Bukittingi ke Bandara Minangkabau Padang yang berjarak lebih kurang 100km. 
 
Untuk pembelian 10 tiket sekaligus Bonita rela memberi satu tiket travel gratis. Ia juga bersedia mengantarkan tiket yang dibeli ke alamat pelanggan langsung. "Pemesanan bisa dilakukan melalui telepon atau SMS," katanya.

"Kami juga menyediakan hotline service untuk pemesanan maupun keluhan." lanjut Jefri

Melebarkan sayap bisnis


Kesungguhan seorang Jefri terlihat di berbagai cara untuk mempromosikan Bonita. Segala ilmu yang telah dia dapatkan dari kampus ditambah pengalaman berjualan pakaian dalam di pasar, pastilah ia mampu menarik, membujuk,dan membangun loyalitas pelanggan. 
 
Ia rajin mengunjungi pelanggan, jemput bola, sekedar untuk menanyakan kabar dan memberikan penawaran tersebut secara pribadi. "Untuk langganan saya juga tidak mengenakan biaya pembatalan (cancelation fee) pesanan tiket," kata Jefri.

Selain itu, pembayaran tiket juga tak harus tunai. "Bonita bisa memberi waktu tenggang beberapa hari." Ia tak ragu menyebar 2 ribu brosur ke penjuru pasar Aung Kuning. Dia juga menempelkan stiker di angkot, menggencarkan promosi mulut ke mulut. 
 
Tak berhenti, dia beriklan secara teratur di media cetak dan radio lokal, serta aktif membuka stand atau booth di berbagai pameran usaha. Jefri juga menerapkan pemberian bonus point untuk setiap pembelian tiket, travel atau sewa mobil di Bonita Tour dan Travel.

Untuk pelanggan yang mengumpulkan 88 point pesawat ia memberikan 1 tiket gratis untuk rute yang sama. Sukses di daerah, Jefri ingin membangun bisnisnya hingga ke Jakarta. Akhir maret 2008 ia berhasil membuka cabang di pasar blok A, Tanah Abang, Jakarta Pusat. 
 
Lokasi ini sangatlah strategis karena merupakan pusat bisnis grosir yang bukan saja melayani seluruh Indonesia melainkan juga ekspor dan imporke kawasan Timur Tengah, Afrika, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam, bahkan juga ke pasar Amerika dan Eropa.
 
Bisa dipastikan kebutuhan tiket ke berbagai penjuru dunia terbuka luas. Di Tanah Abang, Jefri telah bersiap untuk memualai semuanya dari nol. Tempat itu telah terlebih dahulu dikuasai beberapa travel agen. 
 
Jika Bonita bisa merebut hati pelanggan barunya, pastilah bisnisnya akan membuahkan hasil berlipat ganda. "Pelanggan kami yang selama ini membeli di Bukittinggi banyak yang berdagang disini. Merekalah target awal kami," katanya.

Banyak pelanggan loyalnya yang bertindak sebagai evangelist, merekomendasikan kepada calon pelanggan baru. Hasilnya ialah, "Pelanggan baru yang membeli disini pun cukup banyak," katanya. Jefri pun ingin tetap membesarkan bisnisnya ke bidang terkait. 
 
Lingkup usaha seputar bisnis ini memang masih sangat potensial untuk digali. "Usaha diluar ticketing pesawat sangat menjanjikan," katanya. Untuk sasaran jangka pendek ia berniat mengembangkan layanan jasa pengiriman seperti kargo dan titipan kilat.

Layanan ini sudah dirintisnya dari kantor barunya di Pasar Tanah Abang Blok A. "Respon pasrnya sangat bagus," katanya. Bahkan berdasarkan kebutuhan pelanggannya, ia juga berniat masuk ke usaha penukaran uang (money changer). "Doakan agar semua usaha ini bisa berhasil," katanya. 
 
"Impian terbesar saya adalah membangun perusahaan penerbangan Bonita Air," tutup Jefri, yang tak malu menjadi pengusaha pakaian dalam. Dia mereguk hoki bisnis disini.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba