Pengusaha Alumni Gontor ini Pemilik Restoran Seafood

Profil Pengusaha Edi Supedi


pengusaha alumni gontor
 
Menjadi pengusaha alumni Gontor ini kembangkan usaha seafood. Banyak orang menganggap orang lulusan pesantren cuma jadi guru ngaji. Hal ini dipatahkan pria bernama Edi Supedi, atau yang akrab dipanggil Edoy, dimana sekaligus memataskan pengusaha tidak mesti lulusan universitas.

Usaha bernama Sekar Seafood berpusat di Bandung. Restoran aneka makanan laut berada di kawasan Sunaraja Braga, Bandung. Awal mulanya Edoy membuka usaha sebisanya tanpa mikir modal. Cepat dia langsung membuka usaha nasi ayam dan sambel gelo.

Cepat- cepat pula dirinya banting stir membuka usaha restoran. "Di Bandung pecinta seafood banyak, pemain sedikit," jelasnya. Dia mengenang 15 cabang ayam gelonya tutup karena masuk zona merah.

Usaha Restoran Seafood


Agar membedakan seafood lain maka Edoy menghubungi para suplier langsung. Dibawa dari laut Indramayu, langsung fresh diambil dan diolah sehari itu. Pengusaha ini akhirnya mampu membuka cabang pertama. Usaha apapun membutuhkan tekat kuat, tidak terkecuali seafood.

Pasang surut bahkan gagal sudah menjadi makanan Edoy. Dia menanggung resiko berbekal yakin dan tekun. Pasti bisa Edoy mampu membuktikan dengan dua cabang. Prinsipnya jangan sekali- kali kamu menyerah. Bahkan menurunkan kualitas demi harga murah untuk menggaet orang.

Konsumen malah akan kabur bila bahan bakunya tidak segara. Karena sangat mempengaruhi rasa dari masakan kamu. Tiap restoran memiliki menu andalan maka begitupula Sekar Seafood. Restoran ini mengandalkan kepiting lada hitam.

Walau ini makanan andalan bukan berarti lainnya kurang enak. Justru harus sama enaknya, ya kan selera orang beda- beda, tujuan makanan andalan biar orang gampang. Kalau masuk mereka tinggal mantap memesan kepiting lada hitam.

Eddy Seopendy bersama kakaknya, Aris Widyanto bersama membangun bisnis ini. Ternyata mereka juga senang memasak selain alasan berbisnis. Hobi memasak yang didasari kesukaan keduanya untuk berburu kuliner di Bandung.

Mereka mencicipi makanan, merasakan bumbunya yang disusul perbincangan santai. Tidak cuma makanan seafood semua mereka suka. Ingin rasanya membuat makanan yang bumbu saja dicocol enak. Pakai nasi cukup berlaut bumbu kepiting lada hitam sudah enak pisan.

Kakak beradik ini mencoba memecahkan rahasia setiap makanan dicicipi. Bumbu masak apa serta komposisinya dieksperimenkan dulu. Mereka lantas memasak kemudian ditawarkan melalui Sekar Seafood. Edoy pun tidak segan bergaul dengan chef- chef hotel terkenal.

Edoy mulai bereksperimen, mengganti bumbu ini- itu, dan menemukan komposisi pas. Tidak enggan pula bertanya pengalaman pelanggan. Jadi tidak salah bila ada perusahaan operator seluler memesan sampai 200 porsi. Begitu mendengar pesanan begitu besar maka apa dilakukan Edoy selanjutnya.

Restoran Sekar Seafood tidak akan mampu menampung 200 orang. Tak hilang akal Edoy langsung mencari hotel kenalannya. Tempat terdekat yang biasanya mengadakan acara disulap. Dibawanya para pegawai itu ke sana, dan langsung disuguhi 200 porsi menu seafood langsung.

Kepiting lada hitam, kerang, dan ikan barakuda disajikan. Sempat chef asal hotel tersebut mencicipi kepiting lada hitam. Dia terkaget karena begitu enak kepiting olahan mereka. Berkat kecekatan Edoy nama usahanya semakin berkibar mampu melayani partai besar.

Pelanggan dari Singapura dan Malaysia mampi bila berkunjung ke Indonesia. Orang Bekasi juga mampi ke sini lantaran lebih murah.

Usaha Terus


Mengapa selepas menjadi santri malah memilih wirausaha. Karena menyenangkan orang juga punya nilai ibadah. Tidak sekedar mengejar keuntungan makanya rasa diatas segalanya. Usaha ini sempat tidak menghasilkan, bahkan merugi tujuh bulan berturut- turut karena tidak laku.

Sekarang perhari restoran ini menghasilkan puluhan juta rupiah. Harapannya restoran seafood yang disenangi semua orang berbagai usia. Ke depan, ia memilih membuka usaha lain, lini bisnis baru yang masih kuliner berkonsep nasi kuning.

Sebelum menjadi Sekar Seafood aslinya usaha makanan khas Indramayu. Dimana Edoy membawa nama Si Ratu Pedes Bebek Belur. Usaha bersenjatakan menu gomyang, sup kepala ikan dan makanan Indramayu lain.

Berjualan gomyang tidak mudah karena belum dikenal. Satu porsi gomyang dijual Rp.70.000. Tiga bulan pertama usahanya babak belur. Dia bahkan menanggung minus Rp.15 juta karena tak laku. Ini karena warga Bandung belum tersosialisasi.

Butuh waktu lama mengenalkan cita rasa gongyam ke lidah masyarakat Bandung. Alhasil tiga bulan itu dia harus menanggung hutang gaji karyawan, listrik, air dan sewa tempat. Edoy meyakinkan ini enak tidak kalah sama masakan kepala kakap.

Begitu membuka usaha baru mereka belajar dari pengalaman. Termasuk memotong rantai bahan baku yang jauh. Ini biar kedapan mereka dapat dengan mudah membeli bahan. Mereka pun mengajak kerja sama 25 mitra nelayan pemasok kepiting, cumi, kerang, dan kepiting.

Mereka pun mengolah udang windu yang berasal dari tambak. Edoy membeli harganya dengan tinggi karena langsung. Edoy sendiri semenjak awal tidak sembarangan mengambil. Tidak ada jaminan barangnya bagus karena tergantung alam.

Maka bila barang bagus seberapapun akan dibelinya untuk dijual. Ia berani menjamin bahan bakunya segar. Edoy juga belajar bahwa kapal nelayan kecil lebih baik. Nelayan yang menangkan secukupnya tidak berlebihan.

Alhasil tangkapan nelayan berperahu kecil selalu mebawa ikan segar. Nelayan besar akan berada di lautan sampai 45 hari. Nelayan kecil sore barangkat dan pagi kembali mensetok ikannya. Ke depan ia tinggal menaklukan Jakarta, sudah ada tempat seluas 3000 m2 disiapkan tahun depan.

Circa Handmade Usaha Boneka Buatan Tangan

Profil Pengusaha Ukke R. Kosasih



Usaha boneka tangan ini tidak disangka- sangka. Ukke R.Kosasih (34) tidak berpikiran boneka kain buatannya begitu disukai. Meski memiliki pekerjaan nyaman, wanita lulusan Universitas Indonesia ini tidak berhenti berkreasi. Pengusaha wanita yang memilih usaha jahit- menjahit utamanya boneka.

Dia menjelma menjadi pengusaha atau wirausahawan. "Dengan berpikir kreatif, tercipta peluang usaha baru yang inovatif," jelasnya. Berangkat dari upaya memperkenalkan budaya Indonesia inilah, ia memilih bisnis boneka tradisional.

Ukke memperkenalkan berbagai tokoh asal daerah beserta pakaian adatnya. Boneka miliknya yang memperkenalkan berbagai suku di Indonesia. Tahun 2006, ia pun mantap memilih mundur dari jabatannya sebagai advisor.

Kisah sukses Ukke diawali ketika kembali ke kampung halaman di Cihanjuang, Bandung. Disanalah Ukke tak sengaja bertemu Wati, putri tukang kebunnya, dan melihatnya terampil membuat boneka. Ia memang memiliki jiwa seni serta ketrampilan tangan, memiliki ide membuka workshop sendiri.

Membuat Boneka Sendiri


Dia dibantu sang kakak, Joanita, lalu Wati yang pandai membuat boneka. Mereka cuma bermodal 20 juta guna membangun bisnis kecil- kecilan. Ukke kemudian membeli dua mesin jahit dan merekrut dua orang pekerja. Mereka bekerja sama membangun bisnis boneka buatan tangan dari nol.

Namanya, Circa Handicraft dipilih menjadi nama workshop yang digawangi oleh dirinya dan Joanita. Ia menjelaskan nama Circa memiliki arti kurun waktu yang tidak ada habisnya. Filosofinya, boneka tangan yang dihasilkan bisa diwariskan mereka kepada anak- cucunya.

Para pegawai rata- rata perempuan kurang beruntung di desa. Konsep bisnis Circa Handicraft yaitu warna- warni nusantara dimana menampilkan bentuk berbagai suku dan budaya, serta ditambah lagi pakaian daerah asalnya.

Circa Handicraft sendiri mampu mengalami perkembangan pasat karena konsepnya ekslusip khas Indonesia. Ukke juga sengaja memanfaatkan kreatifitas pegawainya, dan 100% buatan tangan. Hasil karya mereka kemudian diberi nama sesuai daerahnya.

Misalnya, sepasang boneka khas Sunda, akan diberinya nama khas, yaitu Asep & Euis, Kadir & Badria untuk Madura, Putu & Sawitri untuk boneka Bali, serta Jiun & Rodiah untuk daerah Betawi. Wanita asli kelahiran Subang, 3 Januari 1966 ini, mampu mengundang banyak perhatian masyarakat luas.

Ia mampu menunjukan kreatifitas serta ketekunan tinggi. Bahakan Departemen Store di Kuta, Bali, telah menjadi pelanggan tetap bonekanya yaitu Putu&Sawitri. Mereka bahkan berani memasan 100 pasang secara rutin seharga berkisar Rp.75.000 sampai Rp.150.000.

Ukke kemudian dibantu oleh 17 pegawai yang mampu menghasilkan omzet Rp.20 juta per- bulan. Bahkan omzetnya bisa naik ketika musim liburan. Pesanannya tidak hanya datang dari dalam negeri, namun beberapa turis terpikat menjadikan cindra mata.

Agar bisnisnya terus berputar dan semakin kencang saja, Ukke melakukan berbagai strategi  jitu dalam pengembangan produk. Dia menciptakan rangkaian seri kreasi baru. Diantaranya seri Kiddies (lewat karakter Sunday, Megan, Wood Elf, Vivian), Country (Joan, Nina, Pipi), dan boneka kaus seri Animal (Owie Owl, Sasa Sheep, Cathy Cat, Ducky Duck).

Dia bahkan berani menggunakan bahan lokal asli daerahnya. Seperti kain batik ataupun songket untuk membuat pakaian si boneka. Dia pun sering berkunjung ke Bandung, Yogyakarta, dan Bali. Ukke mengaku melakukan penelitian terlebih dahulu agar benar- benar asli nusantara.

Workshopnya sebelumnya memiliki 4 orang pegawai, kini telah ditambah 11 orang pegawai baru. Boneka semua dikejakan dengan tangan. Mulai dari membuat pola boneka, menjahit, mengisi dakron, memasang rambut, membuat baju, menggambar wajah (menyulam bulu mata), memasang aksesori (mata, hidung), hingga membungkus plastik.

Jelas, pekerjaan ini memang butuh ketekunan, kesabaran, minat tinggi dan niat tinggi belajar boneka dan berkreatifitas.Usaha boneka buatan tangan Ukke ternyata sangat menjanjikan.

Pengusaha Aneka Jam Tangan Kayu Pala Nusantara

Profil Pengusaha Ilham Pinastiko


jam tangan pala nusantara
 
Pala Nusantara termasuk agresif dalam pengembangan produk sejenis. Ini kisah pengusaha aneka jam tangan kayu. Ilham Pinastiko sang pendiri bahkan memanfaatkan akar jamur. Ya kamu sedang tidak mengigau tetapi inilah faktanya.

Inovasi tali berbahan akar jamur yang dikeringkan. Usaha berbasis di Cikadung, Bandung. Dibuatnya memakai cara tertentu sehingga kuat menahan. Oleh karenannya Ilham pernah diganjar penghargaan Good Design Indonesia 2019 dari Kemendragi.

Bisnis Riset


Agar lebih menarik maka Ilham menciptakan desain berdasarkan budaya. Kekayaan Indonesia yang eksotis diselipkan diantara jam. Pala Nusantara memiliki tiga varian jam berdasarkan warna, yakni merah, biru, dan coklat.

Pala merah mewakili Toraja, yang memang kebanyakan kerajinan kayu berwarna merah. Pala biru mewakili Baduy yang khas dalam berpakaian. Pala coklat diadaptasi dari warna tanah, yang kental dengan simbol tanah Jawa dalam berpikir dan prilaku.

Ia pun menyisipkan simbol agar semakin kentara. Ketiganya memiliki desain grafis jelas menunjukan identitas. Awal mereka mengembangkan bahan mapel, ebony, dan senokeling. Namun Pala kemudian juga menawarkan jamur sebagai bahan jam kayu.

Pengusaha aneka jam tangan kayu ini tidak minder bersaing. Walau usaha sejenis mulai bermunculan menghiasi pasaran jam. Ada cita rasa nusantara yang membuatnya lebih eksotis dibanding jam lain. Ia membranding usahnya menjadi produk premium dengan harga Rp. 950 ribuan.

Ilham juga mengembangkan produk dasi kupu- kupu. Berbahan kayu namun dengan polesan yang sangat rapih. Alhasil pembeli sekilah akan melihat layaknya dasi kupu- kupu biasa. Dikisahkan ini semua bermula dari kesenangan Ilham menikmati kuliner nusantara.

Melalui Proyek Napak Rasa, dirinya berkeliling nusantara demi menikmati kuliner pilihan masing- masing wilayah. Proyek makanan khas Indonesia tersebut berhenti pada 2015 silam. Latar belakang pernah menjadi desainer jam tangan perusahaan jam dipakai.

Dia yang pernah menjadi pegawai perusahan jam nasional tidak minder. Prinsipnya Ilham memiliki passion akan kebudayaan Indonesia. Nah, mengapa tidak proyek Napak Rasa ditaruh disini, kan Ilham memiliki pengalaman maka tinggal diaplikasikan ke jam.

Pengusaha asal Bandung yang terus melalukan riset pengembangan. Dicari bahan dan desain terbaik untuk mewujudkan budaya nusantara. Bermodal Rp.35 jutaan, pada 2016 barulah usaha ini resmi ia luncurkan, 10 bulan pertama Ilham kehilangan banyak uang namun usaha tidak memuaskan.

Dia harus menyuntikan dana tambahan. "Karena pasarnya bagus, jadi butuh perputaran modal yang sangat cepat," jelasnya. Total uang tiga puluhan juta tersebut tidak menutupi. Disuntik modal kembali barulah di bulan ke- 10 menampak hasil.

Berkat tetap bertahan usahanya mampu hasilkan omzet. Perusahaan mampu hasilkan omzet sampai Rp.48 juta perbulan. Dengan kemampuan produksi 100 buah produk perbulan. Pengusaha muda 30 tahun yang menjelaskan 50% omzet digunakan operasional termasuk gaji 4 karyawan.

Sisanya 30% untuk cash flow dan 10% dana pengembangan. Ilham telah memperhitungkan semua termasuk keberlangsungan usaha ini. Hingga sekarang ia merasa belum puas melakukan inovasi dalam produknya.

"Walaupun sudah dijual tapi ini statusnya masih dikembangkan. Saya belum merasa puas, saya masih mencari titik sempurnanya," alhasil sang pemilik harus berpuasa dulu.

Pengalaman menjadi pengusaha memang penuh pengorbanan. Ilham memilih menunda menikmati hasil kerja kerasnya. Uang gaji pun tidak jarang masuk digunakan pengembangan produk. Perputaran uang di Pala Nusantara layaknya obat nyamuk, semakin membesar.

Biografi Nadiem Makarim Bos Gojek Siap Menderita

Biografi Pengusaha Nadiem Makarim


nadiem pendiri gojek
 
Dunia startup memang keras bahkan menuntut pemiliknya berpuasa dulu. Walau biografi Nadiem Makarim ini sangat bagus bukan berarti langsung sukses. Pengalaman di perusahaan asing seperti McKinsey langsung mentah.

Gojek belum memiliki fitur peta canggih kemana saja. Mereka masih menggunakan cara kuno yakni ojek pangkalan. Bedanya Nadiem membuat pengguna bisa mengundang jasa mereka. Tak perlu lagi berjalan jauh panas- panasan mencari ojek.

Bisnis Ojek Pengkolan


Pada tahun 2015, kemacetan Jakarta semakin parah dan banyak solusi hadir. Salah satunya pekerja dadakan berbekal montor mengantarkan orang. Transportasi umum memang tidak nyaman. Begitu pula ojek masih jadul tetapi mempunyai kelebihan luar biasa.

Nadiem menyadari bahwa motor bisa melewati macetnya Ibu Kota. Selain itu tidak perlu berdesakan dalam ruangan sempit pengap. Ojek pangkalan sendiri masih berkumpul di tempat- tempat tertentu, alhasil orang harus berjalan sampai jauh demi naik ojek.

Tidak semua penumpang memiliki kendaraan bermotor sendiri. Disisi lain kehidupan pegawai butuh ketepatan waktu. Nadiem menjadi pemakai layanan gojek tersebut. Nah, dari sinilah dia menemukan ide, ada masalah yang perlu Nadiem perbaiki ke depan mengenai ojek.

Pernah bekerja untuk McKinsey dalam bidang global riset dan konsultasi. Nadiem tertarik masuk ke dalam usaha startup melalui ini. Apalagi dia sempat menjadi managing director Zalora, dimana kerja sama dengan Rocket Internet, mengembangkan salah satu startup eCommerce.

Lain Gojek membutuhkan banyak sentuhan langsung pendiri. Nadiem sempat terseok lantaran ojek bukanlah transportasi masal berijin. Awal dia memiliki 20 orang tukang ojek, call center, dan lewat pemasaran sangat tradisional.

Idenya ojek dapat dipesan kapanpun, dimanapun, dan memiliki tarif jelas. Demi memahami sistem mereka bekerja. Nadiem tidak segan berkumpul dengan mereka tukang ojek. Gojek ini bukan sekedar berada di waktu tepat dan situasi tepat.

Melainkan Nadiem menemukan kesempatan diantara kemajuan teknologi. Nadiem berhenti bekerja di Zalora dan mendirikan Gojek pada 2011.

Ia lebih senang memakai ojek ketika pulang dan pergi kerja. Padahal dia mempunyai kendaraan roda empat pribadi. Padahal memakai mobil lebih nyaman dan aman dibanding ojek. Tetapi faktanya ia malah kecelakaan ketika memakai taksi hampir 5 kali.

Naik ojek aman Nadiem sepakat karena pengalaman pribadi. Dia sempatkan waktu bertemu mereka di pangkalan. Sembari mengobrol diketahuilah kebanyakan mereka cuma menunggu. Waktu mereka habiskan mangkal. Ia juga menyadari bahwa tukang ojek memiliki solidaritas tinggi sesamanya.

Rahasia mengapa Nadiem tidak kecelakaan karena naik ojek. Para tukang ojek pangkalan melakukan sistem gantian. Satu orang yang belum mendapatkan tarikan maka akan diberi. Sudah giliran, malah kebanyakan sepi, dan masih pula diragukan soal keamanan naik ojek ini.

Ia melakukan riset menemukan semua kelemahan ojek. Jaman dulu masih ponsel makan manfaatkan itu untuk mencari penumpang. Orang tidak perlu lagi datang menuju pangkalan. Belum lagi tingkat keamanan ditingkatkan karena memiliki perusahaan bernaung.

Tukang ojek tidak harus mangkal dan sudah pasti terdaftar jelas. Tingkat keamanan ditinggikan jadilah lebih dipercaya. Orang yang pesimis mulai melihat ojek memiliki fleksibilitas. Tidak terasa pria yang lulusan Harvard Business School, menjadi juragan 10 karyawan dan 20 tukang ojek.

Kembangkan Gojek


Dia memang mencintai ojek sebagai kendaraan harian. Berkat sistem tepat, ia mampu mengolah ini menjadi angkutan berkualitas layaknya taksi. Awal Gojek belum memakai sistem ponsel pintar ya karena belum ada. Begitu teknologi mencukupi maka Nadiem langsung merubah cara berbisnisnya.

"Saya rasa banyak orang- orang dulu tidak percaya ojek bisa seprofesional sekarang dan terpercaya seperti ini," ujarnya kepada Liputan6.

Inilah cikal ide pengembangan bisnis ojek ke depan. Nadiem sempat frustasi diawal- awal memberi keyakinan. Tidak dipungkiri citra ojek dijaman dulu memang kurang baik. Dari segi kebersihan, dan lagi keamanan termasuk sistem ongkos yang asal tembak.

Nadiem telah mengenal mereka secara personal hingga berempati. Ia sadar bahwa sektor ini punya nilai keluhuran. Awal dia harus ahli dalam bidang perojekan barulah memakai teknologi. Beruntung belum banyak pengusaha melirik ojek dan memiliki tekat seperti Nadiem.

Nadiem terus mendorong teknologi masuk ke dalam perusahaan. Bahkan mengajak ahli IT untuk bisa bersaing dengan industri lain. Kita bisa lihat industri keuangan telah memiliki teknologi canggih. Di taksi juga, namun Nadiem ingin lebih cepat melesat melebihi apa diberikan mereka ke konsumen.

Teknologi smartphone memberikan peta serta ketepatan pemesanan lebih tinggi. Bertahap dia mulai melirik jenis usaha lain yang bisa dionlinekan. Ada intertainmen, jasa pengantaran makanan dan barang, jasa kebersihan, dll.

Diwaktu bersamaan bisnis angkutan taksi aplikasi meraja lela. Termasuk Grab, yang dibesut oleh temannya bernama Anthony Tan, dan disinilah Nadiem berkaca. Teknologi merupakan cara terbaik memperbaiki keruwetan sistem ojek.

Bila pengusaha diluar fokus mengerjakan kendaraan roda empat. Nadiem mengaggap gojek lebih masuk akal untuk kemacetan Jakarta. Setelah itu, pria kelahiran Singapura, 4 Juli 1984, yang tidak segan masuk ke bisnis angkutan roda empat.

Ia bahkan mampu memaksa Anthony Tan masuk bisnis ojek. Padahal di negara lain angkutan seperti ojek hampir tidak ada. Pasalnya orang masih menganggap motor tidak aman. Anthony yang memaksa Nadiem terus berkembang.

Persaingan sengit yang sebenarnya dilakukan dua orang saling mengenal. Bumbu- bumbu berita itu memang memanaskan. Gojek tidak jauh dari sosok Kevin Aluwi. Sosok dibalik teknologi terdepan perusahaan terintegrasi.

Kevin memiliki latar pengolahan data dan business intelegent dalam dunia bisnis. Kevin baru masuk ke Gojek pada 2013 silam.

Roihatul Jannah Pengusaha Boncengan Anak

Profil Pengusaha Roihatul Jannah

   
usaha jualan boncengan anak

Nama Roihatul Jannah pengusaha boncengan anak. Pengusaha 29 tahun yang mendadak terkenal kala itu setelah inovasinya menang perhargaan. Dia dulu memenangkan lomba Shell LiveWIRE Business Start-Up Award 2008, pada 11 April 2008.

Berkat inovasi Helmiat Bonceng Bocah, cita- citanya menjadi pengusaha sejak lama akhirnya tercapai juga. Konon saat itu, Iat (nama panggilan) tengah menghadapi sulitnya menemukan kursi untuk membonceng putrinya yang duduk di playgroup.

Dia berkreasi sebisanya agar sang putri bisa duduk nyaman. Ia berkisah pada saat itu keluarganya tinggal di kelurahan Sukamaju Baru, Depok, Jawa Barat. Dia sering mengantar anaknya, Hasnah, yang masih 3 tahun ke playgroup di Kelapa Dua dimana jaraknya mencapai 6km.

"Hasna (anak bungsunya) sekolahnya jauh karena memang mencari yang bagus," jelasnya. Iat pun mengantar anaknya dengan sepeda motor. Tetapi ternyata si kecil sering terlihat mengantuk ketika duduk.

Mencari Solusi Masalah


Demi keamanan, ia meminta saudara untuk menjaganya tetapi tidak bisa setiap hari. Mulailah terpikir membeli kursi balita. Tetapi ternyata tidak ada orang menjual produknya khusus dipasang di sepeda motornya. "Saya tanya ke toko hingga nyari di internet, nggak ada yang jual," tuturnya.

Dia memang memiliki bakat desain sejak masih sekolah dasar, bahkan sampai sekarang. Ketika akan membeli kursi atau meja, maka ialah yang mendesain.

Dia pun segera mendesain alat keamanan khusus motor itu.

"Saya melihat di motor, kira- kira alat ini bisa dipasang di bagian yang mana. Ternyata ada peluang, lalu saya minta tolong ke bengkel las. Desainnya seperti ini, bahannya dari satainless. Tapi kan harus ada bantalnya, biar enak. Awalnya sederhana," terangnya, melalui Tabloid Nova.

Akhirnya Iat mendesain sendiri kursi itu buat si bungsu, "proses mendesainnya sangat cepat, sehari jadi," katanya. Setelah itu dia membawa desainnya tersebut ke tukang las untuk dibuatkan,  esoknya kursi bonceng bocah sudah jadi. Ia memakainya untuk mengantar si-bungsu Hasna ke playgroup.

Menurutnya selama enam bulan, dan ia hanya  memakai kursi itu untuk mengantar putrinya. "Belum terpikir peluang bisnis," katanya. Nah, selama itu sudah ada tanda-tanda permintaan cukup tinggi.

"Kalau lagi berhenti di lampu merah banyak yang nanya kursi itu belinya dimana?" Iat mengingat kembali. Namun produk itu belum punya sistem keamanan yang paten. Ia tidak mempedulikan betul tentang itu; ia hanya menggunakan gendongan bayi diikat ke badan.

Terus produk itu digunakan untuk mengantar anaknya ke sekolah. Banyak orang memperhatikan terutama ketika lampu merah. "Bu, beli dimana," tanya seseorang di jalan.

Ia pun mendapatkan keyakinan oleh pertanyaan tersebut. Dia bisa memulai bisnisnya dari inovasinya ini. Wanita 30 ini kemudian memberi nama produk barunya bernama Helmiat Bonceng Bocah, dan menjadi produk laris manis.

Produknya tak langsung sempurna, perlu beberapa kali desain kembali. Dia menjualnya melalui brosur yang dibagikan teman- temannya. Melalui acara bertajuk Shell start- up, bisnisnya semakin dikenal serta mendapatkan suport sebagai bisnis baru.

Mereka kala itu mencoba mencari usaha start-up oleh mahasiswa, yang mungkin digunakannya setelah lulus. Iat kemudian mendaftarkan produknya berlomba, lalu masuklah ke tahap seleksi hingga jadi salah satu pemenang.

Melalui perlombaan mendapatkan modal 20 juta untuk membangun bengkel. Bengkel yang telah dua bulan itu berdiri kini menjadi sorotan media. Sejak masuk televisi, Iat mengaku tidak bisa berhenti menerima panggilan. Ketika mengantar anaknya ke sekolah, ada 14 nomor berbeda di layar.

Perkembangan Bisnis


Sejak itu, ia mulai menyadari perbedaan hidupnya kini. Ia telah resmi masuk ke dunia bisnis. Dia pun keluar dari pekerjaannya sebagai asisten dosen. Itungannya seminggu, bengkel sanggup berproduksi sekitar 50 unit. Itupun baru dari bengkel sendiri, belum bengkel orderan.

Satu Helmiat akan dijualnya seharga Rp. 250.000 per- unit. "Saya enggak mau nurunin harga dengan nurunin kualitas. Kami pakai bahan stainless steel," jelasnya. Produk tersebut akan disesuaikan jenis motornya. Dan, warna boncengan akan disesuaikan si anak; laki- laki atau perempuan.

Untuk memperluas pasar, dia telah memiliki sekitar 50 distributor, dan setiapnya diberi 50 unit. Ia menargetkan barang yang dijual akan naik agar tidak ada kekurangan stok di distributor.

Distributor sendiri masih dalam tahap penjajakan ada di Medan, Surabaya, Jakarta. Sedangkan produknya sudah sampai ke Lampung, pekan baru, palembang, padang, Samarinda, Balikpapan, Pare-pare, Bali, NTB, NTT, Ambon, Papua. Bahkan, ada pembeli, warga Indonesia yang memesan dari Jerman.

Iat pun memiliki website sendiri untuk berpromosi, yaitu helmiat(dot)com. Ia menjalaskan dalam menjalankan bisnis tidak hanya satu bengkel saja. Iat bekerja sama dengan bengkel- bengkel lain, yang utama bengkel pertama kali produk dibuat, dan tentu ada perjanjian di atas materai.

Perjanjian tersebut agar produk yang dibuat harus dipesan dulu ke dirinya. Saat ini ia telah memiliki enam karyawan, seorang di administrasi, pekerjaan umum, dan bagian perakitan dulu. Selain itu, ada karyawan part time yang ikut bekerja disana.

Bengkel di jalan Bakti Abri No 112, kelurahan Sukamaju Baru, Kecamatan Tapos, Depok. Kini tidak lagi hanya satu tipe. Mereka memproduksi 3 tipe yaitu standar, luxi, dan ross. Harga tipe standar yaitu Rp.300 ribuan, luxi dan ross lebih mahal sampai Rp.350 ribuan.

Perbedaan keduanya hanya pada konsep sandaran belakang. Pada standar ketinggian sandaran sampai punggung, sedangkan yang lain sampai leher. Menurutnya kendala terbesar ada pada jenis jok motor. Walau sama merek atau jenis, joknya bisa jadi lebih luas.

Untuk mengatasi hal itu, dia menyiapkan untuk berbagai motor. Iat menambahkan sistem purna jual yaitu garansi satu tahun. Dalam hal ini, dia jadi sering mengalah karena pembeli ibu- ibu pasti tak mau rugi. Dia tau pasti karena begitu pula dirinya.

Misalnya ada yang minta garansi, namun ternyata sudah pernah dibawah ke bengkal lain bahkan dilas kembali. Sikap profesional pula lah yang mengantarkan dirinya menjadi salah satu finalis Asia’s Best Young Entrepreneurs Award 2009 versi majalah Business Week.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba