Membangun UD Pengekspor Arang Sampai Korea

Profil Pengusaha Ana Riswati 


 
Lulus Diploma 3 Akuntansi membuatnya selalu berhitung pasti. Termasuk menghitung jalannya berwirausaha kelak. Sayangnya, seperti halnya pengusaha lain, sebaik apapun hitungan mu pastilah kegagalan terpampang nyata. Tinggal bagaimana kita menghadapi, seperti hal Ana Riswati yang sukses berbisnis arang sampai ke luar negeri.

Ana, perempuan 35 tahun ini ketika ditemui oleh pewarta Detik.com, bercerita asal muasal bisnis batu arang. Dia berkisah semua karena hasratnya berwirausaha. Jadi jatuh bangun sudah menjadi hal biasa. Ini sudah masuk dalam hitungan perempuan berambut sebahu ini.

"Beberapa kali jatuh bangun," ucapnya getir. Kisah awal Ana bermula ketika seorang kawan mengeluh susah mencari arang. Seketika pikirannya masuk bagaimana kalau berbisnis arang. Bagaimana kalau dia memulai membuat arang yang katanya langka.

Tetapi tidak semudah dibayangkan teman- teman. Penyebabnya adalah salah perhitungan disaat memulai. Awal dia cukup membeli arang jadi lantas dijual kembali. Usaha dagang tersebut malahan merugi melulu. Ya tanpa mempunyai pengalaman apapun. Ana lantas berniat memproduksi sendiri komoditas berbahan kayu tersebut.

Sambil berproduksi sambi mempelajari seluk beluk arang. Termasuk belajar membuat dari sentra arang agar lebih tajam. Dia mulai menjadi pengepul mengumpulkan arang warga. Lama- lama usahanya jadi membesar berkat ketekunan. Ana resmi mendirikan UD Sri Bintang, mulai menyeleksi arang berkualitas untuk dijual kembali.

Permintaan pun naik drastis memasuki pasar lokal. Seperti perhitungan awal meski agak meleset dibelakang tidak masalah. Dari pasar lokal nama UD Sri Bintang naik menjajal luar daerah. Bahkan dia tidak perlu turun gunung menawarkan produk -orderan datang sendiri. Sampai Ana sendiri khawalahan melayani pesanan.

Memang arang buatan Ana berbeda dari sebelumnya. Dia bekerja sama bersama warga meningkatakan dari segi kualitas. Karena sadar akan kesalahan hitung, ia pun belajar langsung ke orang yang sudah sukses dulu di bisnis arang. Total empat nama dijadikan guru olehnya sebelum terjun berbisnis kembali.

Ia tidak membocorkan namanya. Tetapi Ana menyebut sebagian besar merupakan orang Yogyakarta. Inilah kenapa pengusaha harus selalu belajar. Ilmu tersebut dipadukan dengan hasrat Ana berbisnis. Ia mengutak- atik formula pembuatan arang sendiri.

Pasar ekspor


Memenuhi pasar dalam negeri sudah biasa. Kini Ana telah merambah pasar luar negeri hingga Korea bahkan Arab Saudi. Tidak ada rahasia sukses khusus dibagikan dia. Cuma ketekunan dimiliki perempuan sederhana yang jauh dari polesan bedak. Rahasia sukses, dengan tersipu malu, bahwa itu berkat kualitas produknya.

"Kunci kepercayaan konsumen adalah jika kita dapat mempertahankan kualitas," ujar Ana. Perusahaan saat ini menjual arang dikemas apik bersama pematik api. Tujuan utama ekspor arang UD Sri Bintang adalah Korea Selatan serta beberapa negara asal Timur Tengah; Arab Saudi, Kuwait, dan Lebanon.

Produk buatan Ana sudah dikenal oleh banyak orang. Perempuan kelahiran Maret 1977 ini tetap menjaga mutu produksi. Inovasi selalu dihadirkan oleh Ana ditengah perjalanan. Sebut saja pemanfaatan bermacam teknologi untuk pengeringan misalnya.

Perusahaan Ana sudah menggunakan oven untuk mengeringkan 70% produksi. Oleh karenanya kadar air di dalam arang relatif lebih rendah. Karena dioven maka arang buatan Ana lebih berat dibanding dibakar. Ia mengakui roda kehidupan tidak selamanya diatas. Berbagai kendala dihadapi bahkan harian, seperti datang musim hujan.

Untunglah dia memanfaatkan oven sebagai pembakar. Hanya, masalah lain muncul, kerap jalanan menjadi licin hingga pengiriman terganggu. Kendaraan pengangkut terkadang tidak mampu menembus medan tempat bahan baku utama.

Usaha sederhana menghasilkan omzet Rp.240 juta. Merupakan sandaran hidup keluarga Ana serta para karyawan berjumlah 26 orang. Mereka sebagian perempuan yang sudah bekerja sejak 2008. Obsesi besar Ana adalah bagaimana membangun pabrik arang bertungku besar. Secara rasional dia mengaku berpikir untung besar.

"...tapi buat saya ada yang tidak kalah penting," lanjut Ana. Baginya menjaga perusahaan agar tetap berjalan merupakan hal terpenting. Dia tidak memaksa berekspansi segera. Pekerja harus tetap bisa bekerja dan juga mendapatkan pendapatan setiap bulan.

Biografi Orang Terkaya Benua Afrika Aliko Dangote

Orang Terkaya Dunia Pertama Afrika 



Orang terkaya se- Benua Afrika itulah sosok Aliko Mohammad Dangote. Atau orang memanggil namanya cukup Aliko Dangote. Merupakan cicit salah satu orang terkaya di Afika, bernama Alhaji Alhassan Dantata, miliarder yang mana meninggal tahun 1955.

Dangote mengatakan, "Saya ingat ketika saya masih di sekolah dasar, saya akan pergi dan membeli karton permen (kotak gula) dan saya akan mulai menjual mereka hanya untuk membuat uang. Aku sangat tertarik dalam bisnis, bahkan pada saat itu."

Merupakan garis keturunan etnik muslim Hausa, dari Kano State. Pria kelahiran 10 April 1957 terlahir dari keluarga kaya raya. Unik karena dia tidak tergantung akan kekayaan keluarga. Bahkan menurut sumber, ia meminjam uang $500 dan memulai bisnis sendiri. Bayangkan Dangote tidak berbisnis minyak ataupun barang tambang.

Ia tidak pernah tinggal bersama pemangku kebijakan. Dangote bukan orang politik sama sekali pada masa muda. Lantas apa yang dilakukan oleh seorang Dangote? Menarik, dia cukup melakukan apa yang pernah dilakukan oleh Sam Walton, pendiri Wal- Mart, di Amerika Serikat.

Namanya menjadi dikenal di penjuru Afrika. Memulai berinvestasi kecil, menyasar target besar, dan mampu mengambil kesempatan depan mata.

Tangan midas


Pencapaian seorang Dangote bukan semalam. Dia terlahir sebagai orang biasa. Dangote, layaknya anak lain, belajar merangkak, berjalan lalu berlari.  Ia juga menangis tetapi di sekolah, dia fokus mengerjakan apa yang dekat dengannya. "Itu membutuhkan saya 30 tahun untuk mencapai dimana saya berada," jelas Dangote.

Masih terngiang bisnis pertama ketika sekolah berjualan sekotak permen. Ia menjualnya demi sedikit uang jajan. Sejak muda mata itu memang terfokus kepada berbisnis. Kesadaran akan resiko terbayar oleh hasrat ketika kesempatan di depan mata. Dia tumbuh dan akhirnya memiliki sentuhan midas. Ingat Dangote juga pernah jatuh bangun.

Peneliti ekonomi asal Harvard University menjelaskan: Pengusaha Amerika tidak boleh gagal dalam ketidak pastian. Bayangkan hidup Dangote memulia tanpa bantuan. Memulai berbisnis komoditi dan sukses, lantas menyasar bisnis gula refinasi, dan semen. Terakhir bahwa dia memulai bisnis petrokimia yang sangat jauh akar.

Tentu kesuksesan Dangote mengundang rasa iri. Itu termasuk para pejabat ditaktor yang melihatnya sebagai sosok sapi perah. Namun, dia tetap bersabar, tujuan lain seorang Dangote bukan cuma kekayaan. Dia ingin membangun Afrika lewat setiap bisnisnya.

"Saya membangun konglomerasi dan menyatukan setiap orang kulit hitam di dunia sejak 2008 tetapi itu tidak dibangun semalam," ucap Dangote.

Dangote melihat setiap aspek kesempatan selalu mengandung resiko. Memulai usaha gula padahal Afrika itu terkenal miskin, membangun usaha agro (padi), dan komoditas lain untuk Afrika.

Dangote Group bermula sebagai perusahaan komoditi kecil. Berbisnis sejak tahun 1977, sekarang bernilai multi- miliar naira (mata uang Afrika). Bisnis tersebar di Benin, Ghana, Nigeria, dan Togo. Sekarang sudah juga masuk di bisnis pemrosesan makanan, pembuatan semen dan muatan. Ia menjadi pemain utama di bisnis semen dan gula.

Bisnis tanpa batas


"Bulan ini, pejabat eksekutif kepala perusahaan terbesar Amerika pergi pada bercerita ke berbagai media untuk mengutuk ketidakpastian yang disebabkan oleh tebing fiskal. Dalam waktu yang tidak pasti seperti itu, mereka mengatakan, mereka ragu- ragu untuk berinvestasi di ekonomi AS," ujar Jonathan Berman di satu review Harvard Business.

Dia, Alhaji Aliko Dangote, terlahir dari kehidupan kaya raya kerena keluarga. Tetapi hidup dalam ketidak pastian sosial Afrika. Anak ke sepuluh kelahiran 10 April 1957 di keluarga muslim kaya. Dia berbisnis sejak lama. Yang pasti pertama berbisnis serius ketika kuliah Al- Azhar University Cairo, Mesir. Modalnya saja hasil hutang kepada paman.

Dangoter berhutang $500 kemudian dijadikan bisnis dagang. Ketika itu umurnya masih 21 tahun, bisnis jual- beli komoditas itu ternyata menguntungkan. Dangote Group terdiri perusahaan Dangote Sugar Refinery, Dangote Cement, dan Dangote Flour, kemudian bisnis petrokimia terbesar di Afrika.

Pada bulan Juli 2012, dia mendekati pihak Nigerian Port Authority, ide bisnis menyewa tempat terbengkalai itu untuk dijadikan fisilitas pembuatan tepung. Di tahun 90 -an, Dangote mengajukan proposal pinjaman ke Bank Nigeria, dia meminjam uang lebih kecil dibanding biasa. Membawa bisnis transpor, puluhan bis dibawa ke Nigeria.

Obajana Cement membangun fasilitas produksi semen Afrika. Lain hal, Dangote memulai bisnis garam dan juga pabrik tepung, maka dia juga mengimpor beras, ikan, pasta dan penyubur tanaman. Soal produk lain yakni mengekspor kapuk, kacang cesnut, cokelat, biji wijen, dan juga jahe ke banyak negara.

Dia mempunyai bisnis bidang real estate, perbankan, tekstil, minyak, dan gas. Perusahaan miliknya memiliki 11.000 pekerja dan menjadi konglomerat Afrike terbesar.

Dangote juga merambah bisnis telekomunikasi membangun 14.000 kilometer kabel fiber. Januari 2009 dia mendapatkan penghargaan provider of employment untuk industrial Nigeria. Orang terkaya Afrika ini terus mengembangkan bisnis semen ke pelosok Benua Afrika. Dia menerima tantangan membanguns bisnis bidang petrokimia.

"Sebagai investor yang percaya Nigeria, tahu Nigeria dengan baik dan sumber daya yang dibuat di Nigeria, kami telah merespon tantangan dengan keputusan kami untuk berinvestasi $ 9 miliar kilang petrokimia dan juga kompleks pupuk yang berlokasi di OKLNG Free Trade Zone," jawab Dangote.

Komplek diatas akan menjadi yang terbesar sepanjang sejarah Afrika. Oleh karenanya, pada 14 November 2011, Dangote mendapat penghargaan nasional, yaitu Grand Commander of the Order of the Niger (GCON ) oleh Presiden Nigeria kala itu, Goodluck Jonathan.

Selain berbisnis dia dikenal aktif kegiatan amal. Dia termasuk paling rajin, bersama Bill Gates, melalui Bill Gates Foundation berinvestasi kesehatan -termasuk menghapus polio di Afrika. Sumbangan CSR pun juga terhitung banyak:

1. Sumbangan $500.000 untuk UNICEF melawan campak
2. Sumbangan $6,4 miliar International Cancer Canter Abuja (ICCA)
3. Mendonasi mesin analisis buat Lagos General Hospital
4. Sumbangan $2,6 miliar untuk korban banjir dan wanita di Kogi
5. Berpatner Bank of Industry (BOI) meningkatkan jumlah lowongan pekerjaan
6. Keuntungan kerja sama Dangote dan BOI lain

"Untuk membangun bisnis yang sukses, anda harus memulai dari yang kecil dan juga bermimpi besar. Dalam perjalanan kewirausahaan, kegigihan tujuan adalah yang tertinggi," -Aliko Dangote.

Awal Dangote dirangking Forbes masuk orang terkaya ke 67 di dunia dan Afrika. Nah, tahun 2014 ini, dia tercatat menjadi orang terkaya 23 naik sangat jauh, sampai sekarang. Kekayaanya mengalahkan pengusaha Arab- Utopia, Mohammed Hussein Al Amoudi di 2013 senilai $2,6 miliar dan menjadi orang terkaya dunia pertama yang asli Afrika.

Agen Rendang Dunia Prospek 20 Juta

Profil Pengusaha Jualan Rendang  



Usaha rendang layaknya kamu coba menjadi pilihan di masa depan. Apalagi sejak dunia mengakui  rendang sebagai makanan terenak sedunia. Terbukti beberapa pengusaha sukses telah meraih bisnis rendang. Bahkan banyak diantaranya sampai di Amerika, atau negara lain.

Cerita ini tentang Prima Ega Yanti, pengusaha pemilik usaha Rendang Dunia. Beda dari usaha sejenis karena dia memanfaatkan rendang kering tahan lama. Pemasaran juga sudah masuk ke negara kawasan Eropa, dan juga Amerika Serikat. Dikelola oleh seorang ibu yang memulai karena rasa kecintaan.

Awal tahun 2012, dimulailah bisnis rendang berkonsep kemasan praktis. Rendang kering yang sangat enak buat dibawa kemana saja. Alasan memilih bisnis rendang karena melihat kemajuan kuliner. Rendang memang digemari semua kalangan di Indonesia. Cara menjual rendang pun lebih mudah, tahan lama dan makin enak semakin lama.

Ini hobi loh. Dalam perjalannanya berubah menjadi bisnis sampingan. Terus berkembang sampai akhirnya dia kualahan. Hal lain mendorong dirinya maju berbisnis sendiri. Yang bukan orang Minang saja mau berjualan rendang, kenapa dia tidak?

Usaha kemitraan


"Yang bukan orang minang saja mau majukan kuliner rendang," tuturnya. Maka Ega sebagai warga minang di Jakarta maka harus memajukan. "...bisa dong mempromosikan rendang," imbuh Ibu Ega. Uniknya dia tidak bekerja sendiri tetapi mengajak teman sekampung.

Dia mengajak warga Sumbar bersama membangun. Mereka lantas membangun kelompok usaha yang terus dipanggil Dunia Rendang. Sementara pemasaran dilakukan di Jakarta maka produksi rendang dilakukan di tempat asalnya. Kelompok produksi dibagi menjadi empat kelompok produksi.

Tidak cuma memasarkan rendang pada umumnya, mereka punya Rendang Daging Runtiah, Rendang Paru, Rendang Keripik Telur, serta Rendang Teri. Untuk rendang daging harganya Rp.55.000 sedangkan rendang telur Rp.25.000. Selai itu Ega juga menerima pesanan rendang basah dalam kemasan.

Rendang basah dijual menurut pesanan karena cuma bertahan 15 hari. Sedangkan rendang kering mampu bertahan sampai 100 hari. Untuk rendang basah dibutuhkan perlakuan khusus soal kemasan. Setiap minggu dia memproduksi 100 kg rendang. Produksi terbanyak ya rendang daging, kerena rendang identik sama daging.

Proses distribusi mencapai 100 kg hingga 500 kg seputar Jakarta. Jualannya kebanyakan memang Jakarta, tapi kebanyakan juga dikirim ke Eropa lewat pembeli, mereka adalah orang yang bekerja di Amerika, yang tengah berlibur di China dan sebagainya.

Ini benar- benar sama lezatnya dengan restoran khas Padang. Lalu munculah ide kemitraan dibangun ketika Ega tengah mengikuti pameran. Konsep ini tidak dijelaskan detail apakah waralaba, tetapi yang pasti mitra merupakan agen resmi. Kemitraan terbilang cukup murah yakni Rp.1,5 juta, dimana mendapat 40 boks yang berisi 200 gram rendang.

Jenis rendang juga lengkap seperti ada rendang runtiah, paru, keripik telur, serta ubi maco atau teri singkong. Ia menambahkan banner serta kartu nama. Totalnya dia memiliki 17 agen tersebar di Jabodetabek. Palingan banyak ada di daerah Bekasi. Keuntungan didapat Ega telah mencapai Rp.50 juta- Rp.80 juta.

Ega tidak menampik kesempatan masuk ke ritel. Salah satu toko ritel modern dijajalnya menjadi sarana. Lalu yang paling banyak diminati adalah rendang runtiah. Cara pemasakan yang masih tradisional yakni selama 8 jam dimasak pakai kayu bakar.

Travel Online Valadoo Pelajari Kegagalan

Profil Pengusaha Jaka Wiradisuria



Kenapa membukan jasa travel online. Tentu ini kan jamannya teknologi internet ada di genggaman kita. Inilah kisah tiga orang sahabat yaitu ada Jaka Wiradisuria, Aris Suryamas, dan Bondan Herumurti, yang berjaya memberikan layanan travel online. Pada Desember 2010, lahirlah Valadoo fokus melayani liburan domestik.

Tentu lewat jalur internet memudahkan kita semua. Salah satu pendiri, Jaka Wiradisuria, menjelaskan bahwa mereka bukanlah keturunan pengusaha. Terutama dia yang menyebut keputusan menjadi pengusaha gila. Dia tidak pernah membayangkan bahwa bisnis ini sukses.

Bahkan sejak awal pembuatan, Valadoo bukan disiapkan menjadi bisnis travel online. Mereka saat itu tengah keranjingan bisnis daily deal. Waktu itu memang bisnis online daily deal tengah naik daun alias booming. Jika dirunut munculnya Valadoo bersamaan Disdus dan Dealkeren asli Indonesia.

Untuk kasus lain Disdu dan Dealkeren masing- masing diakuisis oleh Groupon dan Livingsocial. Sementara itu mereka tertinggal beberapa saat -tetapi malah menjadi berkah tersendiri. "Kami kesulitan tanpa ada investor. Setelah empat bulan berdiri, perkembangan Valadoo cenderung stagnan," kenang Jaka.

Bukan bisnis biasa


Jaka sendiri selepas kuliah pernah bekerja di satu perusahaan asing. Hanya saja setelah 2,5 tahun mengalami kejenuhan. Sebelum berbisnis Valadoo pernah beberapa kali berbisnis. Jaka pernah berbisnis karet bersama teman tetapi ya gagal. Alasan Jaka adalah kehilangan fokus karena bisnis tidak penuh.

Perubahan bisnis daily deal menjadi travel online butuh pertimbangan. Mereka kemudian mengambil kiblat ke arah Wego, sebuah mesin pencari travel besutan Ross Veitch, eksekutif Yahoo dan sekaligus menjadi mitra bisnis Valadoo. Jaka melihat potensi pasar travel Indonesia besar sekali. Mereka akhirnya fokus pada bisnis travel domestik saja.

Pasar target adalah anak muda yang rindu tujuan domestik. Ukuran Sabang sampai Marauke memang dirasa menggambarkan bisnis Valadoo yang senilai Rp.5 miliar. Mereka menawarkan paket portfolio destinasi yang dikategorikan khusus, mulai gunung, olah raga menyelam, aneka pantai, kesenian dan budaya, romantis, dan banyak lagi.

Jaka menjelaskan menguatkan spesialisasi justru menjadi kunci. Istilahnya kalau menyasar tujuan luar negeri apa bedanya Panorama Tour. Dia sambil bercanda kalau itu sudah ada sejak dia lahir. Maka Valadoo harus memiliki perbedaan signifikan. "Jadi kami hanya fokus di traveling Indonesia saja," kata Jaka.

Dia sendiri meyakinkan bahwa Valadoo berbeda. Termasuk soal kemudahan, serta kelengakapan destinasi terbaik di Indonesia. Sebagai CEO Valadoo, meyakinkan kamu mendapatkan yang terbaik, sekaligu mudah mendapatkan tiket perjalanan. Bahkan kalau musim hujan maka tidak akan menampilkan liburan di luar.

Melengkapi pelayanan, perusahaan menyediakan blog travel bernama Jelajah. Memastikan kamu mendapat pengalaman review destinasi seapik mungkin. Tambahan lain yaitu adanya konsultan destinasi yang berasal dari kalangan selebriti. Ada 13 konsultan membantu berjalannya bisnsi Valadoo. Pendekatan akan melalui sosial media.

Strategi bisnis travel online: Engagement, newsletter, dan penjualan. Engagement dilakukan lewat sosial meda Facebook, Twitter, Pinterest. Kamu harus meyakinkan bahwa tidak cuma sekedar jualan. Soal newsletter berarti email yang dikirim ke email kamu. Tidak cuma berisi produk ditawarkan tetapi juga aneka tips dan review.

Total menurut Jaka berjumlah 26.000 pelanggan. Melalui engagement, kemudian newsletter sampai saatnya berjualan. Tambahan lain yakni melakukan branding lewat Malesbanget.com. Kamudian ditambah layanan Google Adword dan penerapan SEO (Search Engine Optimization) supaya relevan pencarian pengunjung.

Tiga bulan saja pengunjung situs naik 300% dan penjualan meningkat 500%. Karena mengandalkan tujuan wisata sendiri, Valadoo siap menggaet pengunjung luar negeri. Mereka bahkan menargetkan pendapatan bisa naik sampai Rp.1 miliar per- bulan.

Pembayaran paket wisata pun dibuat semudah mungkin. Yakni melalui kartu kredit, PayPal, atau ATM, dan lainnya yang mempermudah siapapun (wisatwan asing atau lokal). Paket wisata dijualnya variatif mulai dari Rp.100 ribu hingga Rp.10 juta. Valadoo sudah memiliki 80.000 orang hingga omzet mencapai Rp.5 miliar.

Bisnis tidak berarah


Sukses Valadoo ternyata tidak selamanya bertahan. Agustus 2014, menurut Techinasia.com, perusahaan Jaka mulai kehilangan arah dari tujuan semula. Biaya marketing membengkak sementara target pasar mereka lepas. Kerja sama dengan situs Malesbanget.com ternyata tidak berarti.

"Sebelumnya biaya marketing kami sangat tinggi. Salah satunya adalah ketika menjalani kerja sama dengan MaleBanget.com," tuturnya dalam satu sesi wawancara.

Dalam wawancara ini keputusan melakukan marger malah berakhir sia- sia. Padahal maksud awal dia adalah mengurangi biaya marketing. Marger dengan Burufly tidak berarti kerena perbedaan basis aplikasi: Valadoo menggunakan Drupal, sementara untuk Burufly menggunakan Drupal. Burufly sendiri merupakan sosial media sejenis Pinterest.

Bedanya Burufly fokus hal travel khususnya tanah air, "...maka kami memutuskan untuk melakukan merger," tuturnya.

Meski sudah didukung oleh Wego berupa pendanaan. Sayang, Jaka dan kawan- kawan setuju untuk segera menutup Valadoo. Meski berat sebagai CEO, kepercayaan staf ada ditanganya, keputusan menutup bisnis ini tidak terelakan. Menutup Valadoo berarti membuang aset berharga tetapi tidak dijelaskan berapa nilainya.

Situs Valadoo secara akses masih bisa diakses, tetapi tidak dapat berfungsi seperti halnya. Tidak dapat dia pungkiri bahwa berbisnis travel berat. Apalagi ternyata pemain terus bermunculan mengusung layanan yang hampir sama. Sebut saja Gogonesia, yang disarankan Jaka mempertajam arah bisnis mereka lebih tajam.

Gogonesia sendiri masih memiliki lima orang pegawai. Jadi tepat bagi mereka agar lebih membaca hal pasar agar tidak terulang kesalahan Valadoo. "...karena model layanan kami sangat mirip," kenangnya. Sementara itu pegawai Valadoo sebagian besar sudah berpindah. Sebagian mereka masuk Tiket.com atau industri travel lain.

Menjadi entrepreneur ada perasaan ego harus dilawan. Ini memukul telak bagi kehidupan seorang Jaka. Ia pun menambahkan kesalahan sudah sejak tiga sampai lima tahun lalu. Jaka sempat akan mendirikan startup baru. Teman dekat Jaka, Aldi Haryopratomo, sang CEO Ruma sempat menawarkan bergabung.

Egonya muncul karena harus bekerja untuk orang lain. Tetapi sudahlah, dianggap oleh Jaka bahwa ini akan menjadi S-2 baginya di dunia nyata.

Yukka Harlanda Bagaimana Memulai Usaha Sepatu Brodo

Biografi Pengusaha Pemilik Brodo


 
Siapa tidak kenal nama pemilik sepatu Brodo. Cuma tidak semua orang kenal akan kisahnya. Diambil dari bermacam referensi. Awal kisah Yukka Harlanda ternyata cuma coba- coba. Mencoba menjadi pengusaha muda ternyata menyenangkan. Bahkan hasilnya diluar harapan mahasiswa teknik Institut Teknologi Bandung ini.

Sejak masuk kuliah ada hasrat ingin memulai usaha sendiri. Mungkin Yukka sangat terinspirasi kisah sukses yang ada di internet. Padahal sejak awal, pemikiran mahasiswa Teknik Sipil layaknyanya teman- teman lain, yaitu masa depan enak menjadi pegawai perusahaan migas.

Dia akan digaji dollar. Namun, hasrat menjadi pengusaha yang muncul ditengah jalan tidak terbendung. Dia ingin membuktikan sambil berkuliah sambil berbisnis. Pilihan Yukka dirasa tepat karena ketika kita kuliah merupakan waktu penentuan. Kalau gagal Yukka bisa kembali ke jalur utama, atau sukses mambawa nama.

Cuma memulai sebuah bisnis tidak semudah itu. Bersema seorang teman, Putera Dwi Karunia, keduanya telah sepakat berbisnis bersama. Hanya mereka belum menemukan bisnis apa. Berkaca dari pengusaha lain seperti Chairul Tanjung tekat mereka berdua tidak terhentikan.

Menemukan jalan


Layaknya kisah pengusaha lain, akan muncul jalan ketika kita fokus menginginkan sesuatu. Ide bisnis sepatu muncul seketika ketika dihadapkan suatu keadaan. Yukka bercerita kepada SWA: Suatu hari Yukka harus mengikuti tugas akhir dan butuh sepatu formal. Ia bercerita sejak kuliah tidak pernah memiliki satupun sepatu formal.

Pasalnya menurut Yukka sepatu formal di toko tidak menggugah. Selain karena ukurannya sulit, juga desain yang dirasa tidak cocok. "Awalnya susah banget nyaris sepatu, ukuran 46, jadi untuk mencari sepatu agak susah," kenang Yukka.

Sekali menemukan sepatu malah mahal dan desain tidak bagus. Ia cukup putus asa berkeliling mal, ketemu tapi desainnya jelek, harga mahal, itulah masalahnya, hingga Yukka tidak memiliki sepatu formal sama sekali. Dia kemudian merencanakan membuat sepatu sendiri.

Yukka mulai menjelajah Bandung. Mencari tau bagaimana membuat sepatu. Inilah awal lahirnya bisnis sepatu Brodo bermodal ketidak sengajaan. Ia mencoba mendesain sesuai selera pribadi. Yukka berjalan sampai di Bandung Selatan.

Tahun 2007, dia berjalan sampai ke sentra pembuatan sepatu Cibaduyut, Bandung, Jawa Barat. Fakta yang mencengangkan ditemui bahwa sepatu merek global bahan kulitnya dari Cibaduyut. Ini semakin mendorong dia untuk membuat sepatu sendiri, yang nyaman, dan berharga cocok. "Waktu itu saya pikir pasarnya ada, tapi kok tidak ada brand Indonesia."

Bertepatan akan hasratnya saat itu ada booming sosial media. Pada tahun 2010, anak mudah tengah asiknya menggandrungi Facebook. Dimana pengguna internet meningkat drastis bertambah terutama Indonesia. Ini sangat menguntungkan keinginan bisnis Yukka. Untuk modalnya Rp.7 dibagi Rp.3,5 juta diantara mereka berdua.

Sepanjang perjalanan mulai berproduksi, Yukka sempat meminjam uang teman, orang tua, bahkan sampai ke Bank. Awal produksi cukup lima pasang sepatu asli buatan Cibaduyut. Pasar pertama disasar adalah teman mereka sendiri. "Saya tanya ke teman-teman, bagus atau enggak? Eh katanya bagus ya udah dibayar deh," kenang Yukka.

Mereka bersama belajar sendiri dari perajin Cibaduyut. Awal memang selalu gagal terus, tetapi kegagalan demi kegagalan menempa selera mereka. Mereka mencoba membuat standarisasi agar tidak ada kecacatan. Waktu itu belum sepenuhnya berpikir wirausaha. Masih mengukur kedalaman sampai akhirnya mereka lulus ITB.

Pengusaha otodidak


Yukka rela memempet banyak perajin untuk diambil ilmu. Agar bisa membuat sepatu idaman mereka. Agar dia mendapatkan rahasia ilmu membuat sepatu. Cara mendapat ilmu membuat sepatu cukup lewat ngobrol. Yukka membangun hubungan sebaik mungkin. Hinga terbuka pintu network dengan perajin asal Cibaduyut.

Nama Brodo sendiri tidak memiliki hubungan dengan sepatu. Katanya nih, itu diambil dari komik masakan Italia, yang mana tokoh utamanya memasak kaldu ayam. Kaldu tersebut bernama Brodo. Lalu itulah yang diambil namanya Brodo berlogo seperti gambar ayam.

Brodo merupakan esensi masakan Italia. Jika sepatu jelek, tetapi pakaiannya bagus, yah tetap saja hasilnya mengecewakan. Sepatu Brodo merupakan buah idealisme seorang Yukka. Waktu periode akhir masa kuliah, ia mulai menawarkan ke teman- temannya. Agak maksa sih harus dipepet sampai mereka mau membeli.

Teman Yukka memberikan tanggapan berbeda. Mereka tertarik akan desain buatannya. Dan sedikit mereka bercanda ngapain belajar kalkulus, fisika, kalau akhirnya jualan sepatu. Yukka cukup mengamini hal itu dan harapan membuka toko sendiri sudah di depan mata.

Menggunakan strategi membuat sepatu, menjual, membuat sepatu lagi, lalu dia jual lagi. Jadi Yukka tidak perlu menghabiskan banyak biaya. Uniknya, uang Rp.3,5 juta ternyata Yukka dapatkan sebagian besar dari tabungan waktu kecil yang merupakan angpao pas Hari Raya Idul Fitri.

Soal desain sepatu sampai detailnya dipelajari lewat YouTube. Sedangkan proses pembuatan harus dipelajari langsung ke perajin. Karena perjalanannya memakai passion maka hasilnya tidak mengecewakan. Ia mulai menawarkan melalui sarana SMS. Brodo lantas dijualnya melalui Kaskus, Facebook, Twitter, serta website sendiri.

Iseng mulai mengupload foto produk. Dia terus mentag teman, kenalan, pokoknya promosi Brodo saat itu gratis 100%. Harga Brodo saat itu dibandrol Rp.300.000 per- pasang. Perlahan namun pasti nama sepatu Brodo tersebar lewat mulut ke mulut. Dari berjualan cuma sepasang, berkembang sampai menjual 5-6 pasang.

Bisnis mepet


Karena masihlah kuliah dibutuhkan kerja ekstra keras. Dia harus bekerja efisien. Makanya Yukka dan Putra rela membayar pembantu di kosan menjadi tenaga pengirim. Yukka sendiri merangkap jabatan, mulai dari pembuat sepatu, ya costumer service juga.

Efisiensi digalakan sedemikian rupa diawal- awal. Yukka bahkan melakukan efisiensi bahkan ke baha baku. Hanya saja ternyata salah perhitungan soal satu ini. Mencoba mengirit bahan baku sampai bisa menurunkan harga justru berakhir bencana. Kualitas sepatu Brodo tidak terjamin. Alhasil banyak sepatu gagal produksi alias cacat.

Membeli bahan baku murah bukan solusi. Malah membuat Yukka rugi besar. Sebuah pelajaran dipetik oleh satu pengusaha muda ini. Oleh karenannya dia sekarang memilih menaikan harga sepatu ketika bahan baku naik.

Mulai dari 2007 sampai tahun 2012, Yukka dan Putra cuma mendapatkan bantuan dari seorang pegawai. Ya karena mereka mahasiswa jadilah tidak ada dana. Hanya dibantu beberapa teman kampus itupun seadanya. Yukka sendiri sempat diolok- olok karena ngotot. Bahkan sampai lulus kuliah bisnis Brodo terus dijaga.

Selesai kuliah membuat Yukka sempat berhenti sejenak. Dia mulai mencari pekerjaan sesuai latar belakang pendidikan. Namun seperti sudah bisa kita duga tidak bisa pindah ke lain hati. Ia melanjutkan bisnis tersebut, hingga menawarkan ke distribution outlet (distro). Selain penjualan online juga ditawarkan melalui offline ke masyarakat.

Berhenti mencari kerja, ia mulai bekerja di Brodo secara full time. Ia mulai merekrut orang bekerja sampai 75 pegawai. Semua sejalan dengan penjualan sepatu Brodo yang makin laris. Ada satu hal ditemuinya bahwa penjualan online ternyata lebih bagus. Oleh sejak itu sepatu Brodo fokus dijual melalui internet, termasuk dari toko online sendiri.

Kunci sukses sepatu Brodo: Menerapkan costumer service terbaik kamu. Dalam 3 tahun saja usahanya bisa naik tinggi. Mungkin terkesan basi tetapi manjur. Perlakukan pelanggan itu layaknya teman, sampai mereka merasa nyaman membeli produk kamu. Kalau sudah begitu pelanggan nanti akan menyebarkan cerita kita ke orang lain.

Sarjana teknik yang capek- capek kuliah cuma buat jualan sepatu. Yukka tidak pernah merasa terasing akan fakta itu. Dia tetap melanjutkan sepak terjangnnya. Bahkan semakin selektif dalam mengangkat pegawai di perusahaan kecilnya. Agar terus menjaga kualitas barang serta layanan memuaskan bagi pelanggan.

Dia mengadakan training. Melihat sendiri apakah pegawai sesuai karakternya dengan kultur perusahaan. Ia sekarang mempunyai 118 orang pegawai yang tersebar di sentra sepatu Cibaduyut. Produksi sepatu cukup diberikan perajin yang sudah mempunyai mesin. Berawal 5-6 pasang, kini, Brodo berproduksi 5000 sampai 6000 pasang.

Permintaan pun datang dari Jepang dan Amerika. Hanya prosesnya yang rumit membuat dia berhenti. Cuma sementara sampai perusahaan benar siap. Pasar incaran Brodo yakni Jabodetabek dan Jawa sebesar 40%- 50%.

Tidak berhenti kerja


Antara Yukka dan Putra sampai saat ini masih bekerja bersama. Mereka menerapkan manajemen kerja yang unik; defense dan offense. Maksudnya adalah defense untuk Putra yang tinggal di Bandung. Dia mengurusi semua produksi, gudang, pengiriman, serta costumer service. Untuk offense adalah Yukke meliputi marketing dan website.

Target pasar antara umur 19 sampai 35 tahun. Fokus penjualan lewat sarana digital marketing. Alasanya di umur segitu masih asiknya mengeksplor internet. Tetapi tidak menutup kemungkinan merubah gaya penjualan mengikuti tren. Sekarang sih hanya fokus dulu apa yang telah mereka kerjakan.

Untuk sepatu Brodo cewek belum dipikirkan. Fokus mereka hanya untuk konsumen sekarang. Harga sepatu paling murah dikisaran Rp.250 ribu sampai Rp.700 ribu. Untuk desain menggunakan desain timeless, yang berarti bisa dipakai sekarang atau untuk sepuluh tahun mendatang. Soal servis selalu meminta feedback dari pelanggan.

Setiap hari harus siap melayani pelanggan, mendapatkan masukan, pokoknya investasi terdepan ialah soal kepuasan pelanggan. Ambil contoh Brodo merekrut pegawai agar siap menerima telephon 24 jam termasuk pembelian 24 jam. Termasuk membeli software penjualan, jadi seperti di bank, ada ID nya serta history dari pembelian.

Tidak ada persaingan diutarakan oleh Yukka. Mereka hanya fokus menggarap produk, pasar, dan melayani pelanggan. Timbal balik berupa saran atau kritik menjadi makanan sehari- hari. Mulai dari sosial media, dari telephon, dan juga email. Penjualan pun sudah merambah Medan, Surabaya, dan masih akan terus meluas.

Awal berdiri, terhitung 2010 sampai 2013, Brodo tumbuh konsisten sampai 400%. Hanya untuk tahun ke depan sejalan pertumbuhan volume permintaan; Yukka tidak mau berlebihan. Target pertumbuhan dipatok antara 200% sampai 300%. Penjualan offline pun digalakan kembali, namun melalui penjualan di toko milik sendiri.

Menurut Yukka potensi pasar dalam negeri masih terbuka luas. Tidak terburu- terburu menyasar pasar luar negeri dulu. Ambil contoh pertumbuhan toko di Medan dan Surabaya. Desain toko sangat unik disesuaikan memanfaatkan sela kosong kantor perwakilan Brodo di daerah, terang pria kelahiran Jakarta, 18 Juli 1988 ini.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba