Biografi Raam Punjabi Bisnis Raja Sinetron

Biografi Pengusaha Raam Punjabi


biografi raam punjabi
 
Sedikit biografi Raam Punjabi yang pantas mendapat gelar "Raja". Bisnis Raja Sinetron adalah industri perfilman dan sinetron tentunya. Terutama bisnis sinetronnya pun mengais banyak keuntungan besar hingga sekarang. 
 
Kemampuan pria 70 tahun ini untuk melihat trend memang luar biasa, salain itu Raam juga berani mengambil resiko. Namanya selalu tercantum dalam uptext atau tulisan sebelum sinetron tampil. Raam Punjabi menjadi kaya seperti sekarang karena kerja keras. 
 

Bisnis Raja Sinetron dan Film

 
 
Dikisahkan pengusaha Raam Punjabi, merupakan anak keturunan India yang lahir di Indonesia. Pria kelahiran 6 Oktober 1943, yang punya hobi nonton film rame- rame. Ketika TVRI baru berdiri, Raam masij bekerja di pabrik textile, di tahun 1962 dan tak kepikiran jadi Produser. 
 
Waktu itu belum ada televisi swasta, sedangkan film lokal belum bagus dan kalah dari film- film impor Hollywood. Sejak kecil dia bersama saudara- saudaranya hobi ke bioskop. Raam kecil sudah terbiasa keluar- masuk gedung bioskop. 
 
Saking hobinya nonton dia jadi hafal nama- nama aktor dan aktrisnya. Disaat bekerja di pabrik textile, Raam tiba- tiba memiliki ide untuk memulai bisnis film sendiri.

Awalnya dia mulai dengan usaha mengimpor film- film asing. Bertahap Raam mengumpulkan modal dan mengajak kedua saudaranya. Mereka adalah Dhamoo Punjabi dan Gobind Punjabi, tahun 1967 mereka mendirikan PH kecil- kecilan, yang bernama PT. Panorama Film.

Ketertarikan anak ketiga dari pasangan Jethmal Tolaram Punjabi, dan Dhanibal Jethmal Punjabi ini, memang tinggi akan dunia sinematografi pada umumnya. Sejak kecil dia sudah hobi keluar- masuk bioskop untuk menonton film, hingga memutuskan membangun bisnis importir film.

Usaha yang digagas oleh dia mengajak kedua saudaranya bermodal 30 juta. Biografi Raam Punjabi mendirikan perusahaan PT. Indako Film. Tak puas sekedar mengimpor film, ia kemudian membuka usaha produser film, yang cuma butuh 3 tahun hingga berdirilah PT. Panorama Film.

PT. Panorama Film bekerja sama dengan PT. Aries Internasional Film, yang mengajak Wim Umboh untuk menjadi sutradara. Film mereka berjudul "Mama" pada 1972 menggunakan seluloid 70 mili, yang kurang laku dipasaran, disusul "Demi Cinta" yang cukup diminati tetapi biasa- biasa saja.

Film ketiga berjudul "Pengalaman Pertama" yang sukses besar. Tetapi tahum 1980 -an bisnis film Indonesia terpuruk. Kualitas filmnya rendah dan diisi oleh film bertema sensual dan horor. Maka Raam membanting stir membuat film komedi; sebuah pertaruhan besar.

Tahun 1980 dikenal sabagi tahun keterpurukan perfilman Indonesia. Bukannya terpuruk Raam malah sukses ketika krisis film. Ini berkat kenekatan Raam untuk mengangkat genre komedi. Kala itu film didominasi bertema seksual, tetapi dia malah nekat mengangkat film komedi bersama Warkop DKI.

Tujuh belas tahun dia berkutat dengan bisnis perfilman. Tak kurang ratusan film Raam buat yang lebih tenar dari PT. Parkit Film di 1981. Banyak sudah perusahaan dia bangun tetapi tak selamanya sukses. Hingga bisnis film kembali lesu, sementara itu televisi mulai digandrungi oleh masyarakat.

Tahun 1989 perfilman benar- benar hancur menemui titik jenuh. Raam tak kehilangan akal karena bisa- bisa merugi. Dia tidak idealis hingg melirik TVRI sebagai televisi pertama. Dengan cemerlang ia mengkonsep sinetron, ini yang dia jajakan kepada pihak stasiun televisi hingga era televisi swasta.

RCTI menjadi patner Raam untuk memasarkan sinetronnya. Sebuah peluang yang dibuka dengan satu sinetron komedi, "Gara- Gara" yang diperankan Lydia Kandou dan Jimmy Gideon. Tahun 1990 ia membangun PT. Tripar Multivision Plus bermodal Rp.250 juta.

Pengusaha Pekerja Keras


Sudah menjadi rahasia umum nama Punjabi selalu terlintas. Raam sendiri sering berkompetisi dengan saudara dan keluarganya sendiri. Sebut saja Dhamoo Punjabi yang juga membuka usaha sejenis. Dia dan Dhamoo pisah yang tak menyurutkan langkah, keduanya malah menjadi saling melengkapi.

Ketika Raam bersama Multivision Plus dan Dhamoo dengan MD Productions. Raam kemudian dapat bekingan dari putranya, Manoj Punjabi. Banyak orang melihat bersi tegang keduanya hanya didepan saja. Keduanya diduga justru memainkan perang saling berkompetisi untuk menaikan penjualan.

Bayangkan karena keduanya sama- sama sukses meraup untung. Raam tak terdengar mengalami kerugian bahkan malah untung berlipat.

"Tiada akar Raam Punjabi," tulis Ramadhan KH, kawan Raam Punjabi.

Ia memulai gebrakan dengan impor film yang dihentikan pemerintah. Aturan ketat mengenai batasan film impor dan monopoli mencegahnya. Raam akhirnya terpakas membuat filmnya sendiri bermodal hobi. Dia bukanlah sosok yang berpengalaman dalam dunia perfilman.

Dari Surabaya bersama kedua saudaranya, mereka lalu berangkat ke Jakarta dan mulai membuat film mereka sendiri. Lima tahun pengalaman membuat Raam belajar pola produksi. Dia juga mulai paham akan selera pasar kala itu. Raam belajar bahwa membuat film tak boleh sembarangan dibuat.

Ambil contoh film "Mam" yang untungnya kecil tetapi biaya produksi tinggi. Pola pikir Raam mulai terbentuk walaupun harus berproduksi secara rumahan. Bayangkan dia hanya anak muda yang nekat jadi pengusaha. Hingga film menjadi barang langka kalah dengan revolusi televisi tiba merusak.

Bisnis film tak secerah dahulu karena orang memilih televisi. Munculnya aneka televisi swasta jadi memperparah perfilman Indonesia. Dia memilih membangun bisnis sinetron. Untuk yang satu ini kembali sukses besar, sekaligus menyelamatkan Raam dari kebangkrutan karena bisnis film merugi.

Tahun 2000 dibuatlah bisnis majalah yang tak berumur panjang. Rencana awal ia ingin masuk ke bisnis review perfilman. Namun maksud hati tak kesampaian yang akhirnya ditutup. Raam mengakui ini bukanlah keahliannya. Raaam juga berinvestasi dari properti hingga bisnis lain diluar televisi.

Menjual Tempe Di Luar Negeri Kisah Pengusaha Muda

Profil Pengusaha Teguh Wahyudi

 

menjualtempe.png
 

Kisah pengusaha muda Teguh Wahyudi patut diapresiasi. Lantaran Teguh sukses menjual tempe di luar negeri. Dikisahkan bahwa dia merupakan mahasiswa di Jepang. Dia membuat tempe bermula memenuhi kebutuhan pribadi. Ini menjadi aktivitas kesukaanya ketika liburan atau waktu luang.


Kegiatan hobinya terakhir dilakukan Agustus 2003 dan menjadi bisnis. Dia membuat tempe di tempat kakaknya di Anjo Shi, Aichi Ken, Jepang. Teguh menjajal menciptakan bisnis berbekal bahan kedelai. Dia coba jajakan melalui toko halal pada November 2003.

 

Jadi Pengusaha Muda

 

Hobi berubah bisnis tersebut ternyata diterima masyarakat Muslim. Terutama masyarakat Indonesia yang tinggal di Mikawa, Jepang.  Tanggal 30 Maret 2004, Teguh kembali ke Jepang setelah pulang kampung, kembali buat sekolah berbekal visa study.


Dia belum terlalu menekuni pembuatan tempe. Belum berdiri perusahaan dan pemasaran terbatas ke toko- toko. Ia ingin jangkauannya makin luas. Tentu Teguh tetap mengutamakan pendidikan, kakaknya membantu mencarikan sekolah hingga mengurus legalitasnya.


Disela- sela kakaknya membahas mengenai menjual tempe ke mahasiswa. Benar dia belum menjajal berjualan lewat kumpulan mahasiswa. Tidak langsung, barulah kedatangannya pada 30 Maret, datang ketiga kalinya dia baru mulai mengerjakan saran kakak.


Teguh sendiri masih memiliki tanggungan kerja paruh waktu. Membagi waktu berjualan tempe sambil kerja tentu berat. Dia menjajakan tempe pada Sabtu dan Minggu karena libur. Ia menguntungi Apato- apato atau tempat tinggalnya mahasiswa.


"Akhirnya usulan itu saya coba, dan mulailah keliling di Nishio, Hekinan, dan Anjo, dengan mobil kakak," jelas Teguh. Kakaknya banyak membantu terutama menemani keliling. Maklum Teguh bukan tingga menetap melainkan masih berstatus pelajar.


Ternyata bukan cuma tempe orang Indonesia menginginkan lain. Mereka ingin Teguh juga menjual keliling barang khas Indonesia. Menjual produk sehari- hari asli Indonesia. Teguh mulai membangun bisnis impor.


Lewat Nanyang Trading terjalinlah kerja sama. Dia bekerja sama dengan perusahaan importir, yang spesifik mengimpor barang dari kawasan Asia. Tiap Sabtu- Minggu, Teguh berkeliling mengantarkan tempe buatan sendiri dan barang- barang impor.


Teguh senang bisnis berkembang baik. Pelanggan makin banyak, bahkan membuatnya membeli mobil box, guna memenuhi kebutuhan dan permintaan pelanggan. Bukan cuma satu melainkan armada mobil pengiriman. Pengiriman barang semakin hari semakin banyak.


"Sekitar bulan Juni 2004 saya menggunakan mobil one box sebagai armada keliling... karena semakin hari jumlah barang semakin banyak, akhirnya pada bulan July 2004 pindah hijrah ke Hekinan, dan di hekinan itulah menjadi aktivitas keseharian," Teguh bercerita.


Dia menjelma menjadi pengusaha muda. Demi memperkuat branding, agar mudah diingat kakaknya memeberi usulan nama Sahabat. Usaha bernama Sahabat merupakan bisnis kecil- kecilan, disamping melayani kirim barang Sabtu- Minggu, juga memiliki toko kecil di Hekinan dan Nishio.


Demi makin maju maka Sahabat pindah ke pusat kota Nishio. Namanya berubah dari Sahabat menjadi Sariraya. Teguh ingin bisnis bukan sekedar menjual tempe di luar negeri. Maka usahanya akan lebih sempurna bila memiliki badan hukum.


Dia ingin diakui pemerintah Jepang. Maka Sariraya didaftarkan perusahaan Indonesia di Jepang sejak Desember 2004. Syarat mengurus dokumen ialah kepemilikan buku tabungan yang dikeluarkan bank setempat. Beberapa bank didatangi tetapi tak satupun mau mengeluarkan surat.


Bank tidak mau mengeluarkan buku tabungan untuk mendirikan perusahaan. Ada 5 bank dimasuki dan Alhamdulillah, ada Okazaki Bank bersedia mengeluarkan bukti kepemilikan rekening atas nama. Dari bukti tersebut Teguh menegaskan bisnisnya.


Kelengkapan selesai kemudian diserahkan ke notaris. Sariraya didirikan putra- putri bangsa, antara lain Teguh Wahyudi, DR. Suyoto Rais dan Tri Umiati. Usaha Sariraya terus dikembangkan, juga didukung sahabat masyarakat Jepang pecinta Indonesia.


Sariraya diharapkan diterima seluruh masyarakat Jepang. Dari sekedar bisnis, Sariraya mengenalkan budaya Indonesia lewat live concert, charity concert, pertunjukan budaya, dan kegiatan amal. 

 

Bisnis Sariraya Co.,Ltd meliputi produksi tempe Yonezu Nishio, keripik tempe, bento tempe O- Bento, restoran di Nishio, swalayan di Nishio, hingga impor produk Indonesia. Inilah kekuatan jaringan warga Indonesia di Jepang, memberikan harapan buat pengusaha muda agar tidak menyerah.

Menjadi Penulis Buku Termasuk Wirausaha

Profil Pengusaha Indari Mastuti

 

menjadipenulis.png
 

Terlahir dari keluarga sastrawan dirinya menjadi penulis buku. Aneka buku termasuk buku wirausaha mampu dia buat. Kalau kamu berpergian ke toko buku beberapa judul terpampang: Jadi Petani, Siapa Takut?, Jika Penghasilan Suami Anda Lebih Kecil, Bagaimana Membangkitkan Motivasi Bekerja.


Adapula buku Sukses Menjalankan Peran Ganda, SHOPAHOLIC, JANJIHOLIC, Bahasa Baku vs Bahasa Gaul, Biar Hobby jadi Duit, 50 Kiat Percaya Diri, Bila Bisa Jadi Bos Kenapa Jadi Karyawan, Menulis Kok Dibilang Sulit, dan masih banyak lagi.


Walau menjadi ibu rumah tangga masih berkarya. Usia genap 29 tahun, tetap produktif sembari mengurus anak dan suami. Produktivitas jangan ditanya ia telah menulis tidak kurang 50 buku. Aneka judul dan genre mampu dia kuasai dari buku agama, cerita, keluarga, anak- anak, dan buku pertanian.


Menjadi Penulis Buku

 

Dari 50 judul buku semua ditulis diwaktu lumayan singkat 2004- 2009. Dialah pemilik nama pena Indari Mastuti, yang bernama lengkap Indari Mastuti Rezki Resmiyanti Soleh Addy. Iin, begitu nama sapaannya, memang terlahir dari keluarga sastawan.


Semenjak SD sudah menulis meskipun mungkin banyak talenta lain. Pasalnya sang ayah, Alm. Jumeno Addy Karso merupakan sastrawan sekaligus seniman. Dimana dia mampu menyanyi dan melukis. Dia juga jago olahraga dan ahli bahasa.


Semua diturunkan kepada Iin kemudian ditekuni. Iin menulis aneka genre dan memiliki cakupan luas wawasan. Dalam tulis- menulis ayahnya mendorong melihat bakat. Benar ayahnya, Iin memang bisa menulis sampai dimuat sejumlah majalah cetak.


Penghasilan menulis ternyata juga memotivasi dirinya. Dia terus menulis. Dari sekolah sampai masuk kuliah Universitas Pasundan, tetap menulis. Dia ingin menjadi penulis profesional. Bukan sekedar karena honor tetapi kecintaan.


Iin banyak berlatih hingga menghasilkan buku- buku bagus. Bermula ketika masih SD sampai SMP, dirinya menulis diary memakai mesin ketik, dan mesinnya membawa Iin diterbitkan pertama. Berbekal mesin ketik dirinya menulis berbagai hal.

 

Iin menyimpan tulisan kuno tersebut kedalam file komputer kelak. Saat SMU, dia mengirimkan tulisan ke Majalah Gadis, inilah pertama kalinya tulisannya terbit. Tulisn pertama mengenai tips mengindari stress, itu merupakan pengalaman pribadi bukan dari keluarga berada dan keluarga tak harmonis.

 

Menulis sekaligus menjadi bahan pengingat. Dia menulis quote. Akhirnya tulisan Iin mendapatkan penghasilan Rp.150 ribu. Uang gaji pertama dibelikannya mesin tik baru, perangko, dan kebutuhan penulisan lain.


Dulu Iim masih mengirim tulisan lewat perangko. Ia coba mengirim tulisan ke berbagai media cetak dan berhasil. Mengejutkan mereka bahkan menerbitkan rutin perbulan. Iis memang bukan murid yang pintar dan hafalannya jelek.


Tetapi dia memiliki kelebihan menulis dan terbukti. Dia terkenal diantara temannya pandai menulis. Itu dibuktikan dengan tulisannya terpampang di surat kabar, salah satuny kolom opini Pikiran Rakyat. Dia sempat jatuh karena meninggalnya ayah.


Sempat dia berpikir mau melakukan apa kedepan. Ekonomi keluarga terpuruk ketika dia tengah studi sekertari Institut Sekretaris Manajemen Indonesia (ISMI) di daerah Dago. Sembari terus menulis dia juga melakukan aneka pekerjaan.

 

Iin mendapatkan tawaran membuat notulen, mengerjakan esai teman, dan menjadi sales promotion girl atau SPG. Di tahun 2000, dirinya sempat mendapat pekerjaan biasa bukan menulis. Yakni menjadi costumer service sebuah perusahaan telekomunikasi, berbekal ijasah D1. 

 

Kemampuan menulisnya ternyata memberikan efek diluar dunia menulis. Dia dipindah tugaskan ke bagian purchasing, kemudian sales dan marketing. Atasannya bahkan sering memintanya mengerjakan raport marketing. 

 

Tahun 2001, dia kembali menjadi penulis untuk Ardan Cool and Lovely Magazine dan 99ners Magazine. Keduanya merupakan majalah berbasis usaha radio.  Dimana mereka telah memiliki banyak fanbase dari pendengar. 

 

Dia menulis cerpen, kuis, dan macam- macam tulisan lain tersebar. Menjadi penulis memiliki banyak ruang berkembang. Dia percaya diri. Di tahun 2004, dia menjadi marketing komunikasi mengerjakan aneka review dan marketing launching produk. Dia sampai ke Bali berkat ditugaskan menulis review.

 

Pampred 99ners menjadi mentornya menulis, dialah Daniel Mahendra yang mendorongnya menulis buku solo. Dorongan tersebut tidak dia sia- siakan. Iin memang berani mengambil tantangan. Buku berisi curahan hatinya dan diterbitkan.

 

Inilah awalnya menjadi penulis buku resmi dan dia bangga. Hingga dirinya senang mempromosikan ke teman- teman.  Ketika diadakan bedah baku pertama sungguh mengaggetkan. Banyak orang hadir sampai Penerbit Gramedia Pustaka Utama melirik. 

 

Lalu Grasindo lewat Dani Lesmana membuka peluang luas. Menjadi penulis dia memiliki caranya sendiri. Dulu mesin ketik, kini Iin membuat blog pada 2004, dimana berisikan curhat, artikel bisnis, menulis bisnis, dan menjadi bekal kedepan.

 

Blog tersebut merupakan histori kehidupan Iin. Pada tahun 2006, dia berangkat ke Batam dan berdiri grup literasi Batam Pos. Iin kemudian bergabung dengan MQ asuhan Ustad AA Gym, dan bertemu jodohnya di sana terus menikah.

 

Setelah menikah pikirinnya galau karena dilema. Apa dia benar ketika karirnya bagus, sementara anak dan suaminya mungkin terabaikan. Iin makin teromotivasi menjadi penulis rumahan. Alias Iin akan mengurangi menulis selain sendiri.


Iin termasuk menulis buku biografi. Berkat karirnya sampai dia memiliki kenalan orang penting. Maka dia diserahi tugas menuliskan biografi. Dia merupakan penulis biografi Brownis Amanda. Pernah menulis buku biografi Athalia, istri Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.


Pernah dia menulis biografi guru besar Unpad dan beberapa pengusaha sukses. Impian Iin memang ingin menjadi penulis semenjak 6 SD. Jangan remehkan kekuatan mimpi. Kamu harus terus berusaha mewujudkannya.


Iin berwirausaha lewat mendirikan Indscript pada 8 September 2007. Bisnis Indscript bukan cuma menerbitkan bukunya. Disini juga menjadi wadah penulis- penulis lain. Bisnisnya banyak termasuk jasa menuliskan buku. Iin juga aktif mengajak orang lain menulis.

 

Terutama dia mengajak ibu- ibu melalui organisasi bernama IIDB atai Ibu Ibu Doyan Bisnis. Utamanya memberikan literasi dan mengajari tulis- menulis. Tahun 2013, dia mengajak kawan mendirikan Sekolah Perempuan, mendorong lebih banyak wanita menerbitkan buku solonya.

CEO Femina Svida Alisjahbana Pengusaha Wanita

Profil Pengusaha Svida Alisjabhana


profil bos femina
 
Ikon pengusaha wanita Indonesia yang meneruskan bisnis keluarga. Tidak mudah, CEO Femina, dialah Syida Alisjahbana membuktikan pantas mampu menaikan pamor. Aneka penghargaan telah didapatnya ketika menangani bisnis ini.
 
Dia merupakan putri dari dua pendiri Femina, Sofian dan Pia Alisjabhana, yang bukanlah orang biasa- biasa. Majalah Femina memang termasuk majalan lama. Hebatnya mereka mampu bertahan ketika majalah lainnya gulung tikar.

Bisnis majalah wanita telah bergeser menjadi portal internet. Dan beban berat dipanggulnya atas nama keluarka Alisjabhana. Kekeknya dikenal sebagai sastrawan besar Sutan Takdir Alisjabhana. Alhsil dia menjadi sosok wanita cerdas berpandangan luas. 
 

Inspirasi Pengusaha Wanita

 
Buku sudah menemani langkahnya menjadi pengusaha. Awal masuk Femina ia menjabat manajer mengurusi notulen. Dia mondar- mandir mengurusi semua yang dibutuhkan direksi. Bila dicari dari mana dirinya belajar malah dari memasak. 
 
Begitu masuk ke bisnis ini, Svida harus membuat notulen alih- alih menyiapkan kebutuhan memasak.

"Karir saya dimulai dari dunia memasak," tuturnya.

Dia merupakan pewujudan emansipasi sejati. Tenang Svida masih memegang teguh soal mengurusi anak. Bila pemimpin pria akanm terjaga ditengah malam karena bisnis. Svida bisa bahkan juga demi menjaga anak. Bisa mengatur antara bisnis dan keluarga kehebatan wanita jaman now.
 
Prinsipnya kamu harus memiliki suport system tepat. Tidak bisa menjalankan semua sendirian seperti bisnis. Dia menyebut mereka para pengasuh anak. Sosok hebat yang diakuinya sangat membantu. Di dalam bisnis sendiri, Svida tidak merasa paling hebat dibanding para eksekutif pria.

Merasa puas dengan kesuksesan bukanlah hal baik. Ketika menghadapi kegagalan berarti menjadi waktu belajar. Mulai dari nol begitu penjelasan Svida kepada dewimagazine.com. Kita harus belajar dari kegagalan, percayalah dikesempatan barikutnya kita akan meraihnya.

Sukses kombinasi banyak faktor termasuk tekanan, mental, dana, dan kegagalan itu sendiri. "Bisa saja modal dengkul tapi jago barter," tuturnya.

Bila orang lain sangat memuja buku novel atau bisnis. Svida lebih menyukai buku memasak. Bahkan dia bisa tertidur pulas bila sudah membaca buku resep. Svida juga mengikuti aneka organisasi untuk kepemimpinan.

Dia bagian dari Youth President's Organization. Tempat dimana eksekutif kelas dunia berkumpul untuk berinteraksi, berdiskusi, dan tumbuh bersama. Femina dibawa Svida merambah bisnis fashion sampai ke core. Termasuk menggagas Jakarta Fashion Week 2019 dan berhasil memberi nuansa beda.

Svida juga menggagas Jakarta Eat Festival 2019. Ada bazar makanan yang juga disuport demo masak dan bincang- bincang. Ternyata membahas tren makanan disukai pengunjung. Svida menjalankan apa kesukaannya dan semua orang suka.

Tetapi ini tidak terlepas dari keahlian mengemas acara tersebut. Dalam fashion week kali ini, tidak cuma pertunjukan semata, karena dia menawarkan kemudahan. Keluhan pengunjung yang tidak dapat membeli hasil karya desainer Indonesia; terpecahkan dengan transaksi on the spot.

Inilah Fashionlink hadir memberikan jembatan desainer dan pembeli. Kesan bahwa baju desainer top Indonesia terbatas coba dihilangkan. Jembatan interaksi bagi desainer, pelaku industri, dan konsumen mode.

Menjadi CEO Femina


"Saya lahir dari keluarga progresif," ujar Svida.

Ia bercerita bahwa neneknya pernah menjadi guru di sekolah Belanda. Tidak terintimidasi didepan para Belanda. Bahkan ia ngotot mengajarkan kebaya pada tahun 1920. Svida pun memiliki kekuatan itu begitupula kamu wanita.

Svida merupakan lulusan S-2 hingga berkarir di Universitas Indonesia. Tidak hanya diam melainkan meninggalkan legasi. Svida mendirikan American Studies Center (ASC). Juga menginisiasi lembaga American Indonesian Exchange Foundation, lembaga beasiswa bagi pelajar asal Indonesia.

Dunia distruptif dengan aneka media digital bermunculan. Ini eranya konten hoax bertebaran dalam aneka media. Bahkan media tradisional tidak luput dijajah. Femina bertanggung jawab memberikan konten berkualitas. Bila perusahaan besar banyak menurunkan mutu maka Femina bertahan.

Ia menyemangati para generasi muda buat berkarya. Banyak mencari pengalaman, mampu berpikiran terbuka, menghargai alam, peduli lingkungan, dan mengangkat masalah sosial. Dia sendiri mengaku tidak cukup traveling ketika muda.

Kesibukan sebagai eksekutif muda membuatnya tidak sempat. Namun bertahap, dia mulai menguasai ritme pekerjaan dan hasilnya. Svida mengajak kedua anak kembarnya, Jojo dan Giri ikut bertraveling ke tempat impian. Mimpinya mengeksplor Sumba, Nusa Tenggara Timur, dan Patagonia, Argentina.

Svida mengajak Jojo untuk menyusuri keindahan Sumba. Mereka menyisiri pantai- pantai perawan menjadi pengalaman tak terlupakan. Ini dijadikan perjalanan spiritual bagi Svida. Dalam perjalanan itu, Svida menantang Jojo yang 19 tahun melihat peluang apa di masa depan disana.

Usianya 55 tahun tetapi masih memiliki goal- goal buat diselesaikan. Termasuk sixty major before sixty meliputi maraton Berlin, Chicago, London, New York, Boston dan Tokyo. Kesukses adalah satu perjalanan antara gagal dan sukses. Tidak ada kepuasan dalam satu kesuksesan karena itu tidak baik.

Kemenangan seperti mendapatkan mendali emas sekali. Kedepan harus berjuang mendapatkan emas lagi dari nol. Svida sebagai pengusaha memiliki pandangan 10 tahun. Di bidang kewirausahaan, ia ingin masuk ke dunia ketahanan pangan, utamanya dibidang pertanian.

Jualan Kerupuk Online Ketika Corona Kisah Pengusaha

Profil Pengusaha Ayub Antonius

 

jualankerupuk.png
 

Kisah pengusaha berikut layak ditiru dan diapresiasi kita. Jualan kerupuk online ketika Corona berlangsung. Ia bernama Ayub Antonius, pengusaha 37 tahun yang tak menyerah dihantam pandemi. Dia resign kerja kantoran. Dan harus melamar pekerjaan ke banyak perusahaan.


Pandemi membuatnya terpukul karena pekerjaan susah. Dia mungkin menyerah melamar. Tetapi Ayub tak menyerah menghidupi keluarga. Dia mengumpulkan modal seadanya. Kemudian dia berjualan kerupuk Palembang online.


Jualan di Tokopedia


Total 100 lamaran pekerjaan dikirim. Gagal total. Ayub memutuskan berjualan kerupuk. Dimulai ketika hari kedua PSBB Palembang dimulai. "Saya putuskan oke saya harus hasilin duit. Yaudah akhirnya saya keluar, saya nekat ambil motor, ambil kerupuk dari pabriknya segala macam," tuturnya.


Dalam berbisnis menjual seadanya dan memang sulit. Fakta bahwa ekonomi Indonesia memang tengah sulit. Dia terus berjualan walau untung dikit. Beruntung Ayub mempunyai keluarga punya pabrik kerupuk. Walau mereka bukan keluarga dekat banget.


Dia terus berjualan sebisa mungkin. Pokoknya dia harus mendapatkan uang demi keluarga. "Jadi, ya dapet harga bagus, ya udah akhirnya bisa jualan dengan harga bagus juga," tuturnya kepada Detik.com, dan dia niati tidak mau ambil untung banyak karena sadar keadaan.


Keadaan sekarang memang masih susah. Ditengah pandemi, dia memutuskan mencari kegiatan buat hasilkan uang. Ayub memakai marketplace Tokopedia. Terus usaha pendapatannya naik, hingga terus bertahan dikisaran omzet Rp.20 juta perminggu.


Ia mampu menjual 150- 300 bungkus perminggu. Jualan kerupuk online ketika Corona ternyata bagus. Mungkin karena orang sibuk di rumah dan mulai berbelanja online. Kerupuknya sekarang dikirim sampai ke Bali, Semarang, Cilegon, NTT, NTB, Kalimantan, Makssar, Manado, dan lain- lain.


Penjualan tetap stabil walau PSBB dicabut. Bisa begitu karena Ayub memastikan kualitas produk khas Palembang tersebut. Penjualan keluar negeri belum ada. Tetapi sudah banyak pembeli memesan buat dibawa keluar negeri; Mereka minta yang fresh.


Mereka mau membeli buat oleh- oleh. Adapula mereka mau membeli buat stok dia dan keluarganya di sana. Ayub tidak berpatokan satu pabrik. Perjalanannya berkeliling ke pabrik- pabrik lain. Ia kini memastikan produk kerupuknya beragam.


Ayub juga memastikan semua pemaketan sendiri. Info tambahan bahwa Ayub belum punya pegawai. Ia kini tengah berencana mempekerjakan dua pegawai. Kan dia urusannya banyak dari menstok krupuk, menerima pesanan, pengepakan, dan mengirim paket semuanya dilakukan.


Ayub sendiri memiliki harapan cabang offline kota lain. Mungkin juga membuat kerupuk sendiri, yang berbeda namun tetap cita rasa Palembang. Ayub sendiri mengakui kerupuk Palembang susah digoreng, lantaran tak pakai pengembang dan mengandung ikan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba