Investasi Bodong Koperasi Langit Biru Kisah Pengusaha

Profil Pengusaha Jaya Komara


investasibodong.png
 
Kisah pengusaha berikut mengenai penipuan mengagetkan. Sosok Jaya Komara bisa menjadi inspirasi di sisi lain. Investasi bodong Koperasi Langit Biru sempat menggemparkan. Adalah kisah seorang miskin yang bermimpi menjadi kaya. Berbeda dengan kita yang hanya bermimpi. 
 
Pak Jaya lebih mau berusaha meski usahanya salah. Tak mudah jadi pengusaha, bukan, lebih tepatnya tak mudah untuk menjadi pengusaha sukses bertahan. Bertahan untuk tetap berusaha. Beberapa pengusaha menjadi terlalu tamak.

Menurut berbagai sumber. Dari seorang sekuriti diketahui bahwa dia dulu hanyalah penjual kerupuk di atas kereta. Dia membuat dan menjual kerupuknya sendiri. Kisahnya pun berlanjut setelah ia tak begitu sukses dengan usaha kerupuk, Jaya memilih berjualan daging. 
 
Usaha daging inilah yang menjadi dasar bisnisnya, ia lantas dikenal akrab sebagai seorang Ustad. Dari pengalaman 16 tahun berbisnis daging semua berubah. Dia dikenal sebagai sosok yang baik, yang selalu berpenampilan sederhana. 
 

Kisah Pengusaha

 
Usahanya tumbuh subur dengan nama PT. Transindo Jaya Komara. Perusahaan yang tahun 2011 itu cuma berbisnis konvensional. Jika dirunut sebenarnya usaha miliknya sudahlah cukup. Sebuah usaha konvensional memiliki 62 suplier peternakan, penggemukan, pemotongan serta usaha pendistribusian.

Lantas apanya yang salah? Siapa kah Jaya Komara masih lah misterius dimata orang. Yang pasti masyarakat menyebutnya Ustad, karena memang dia sering aktif di kegiatan keagamaan seperti berceramah. 
 
Menurut Rara warga setempat, bercerita bahwa dia Jaya Komara beserta istrinya adalah warga pendatang bukan warga asli di Perumahan Bukit Cikasungka, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang. Mereka tinggal di sebuah rumah, rumah tak bertuan.

Rara bercerita bahwa Jaya Komara dan istrinya tinggal di sebuah rumah kosong. Rumah kecil yang tidaklah bertuan. Jaya menempati rumah itu 2003 silam. Dia datang bersama istrinya dan 9 orang anak. Meski telah tinggal lama kemistriusan tetap berasa kala itu. 
 
Rara kemudian melanjutkan bahwa warga tidak tau apakah nama aslinya itu Jaya Komara, atau Jaya saja. Atau namanya Haji Komara pun tak jelas. Tapi, yang pasti, Komara sudah memiliki KTP setempat.

"Malah dia dapat KTP sini, tinggal di sini. Ustadz Jaya bisa melakukan ini, otomatis dia pernah melakukan hal sama di tempat lain," lanjutnya.

Karena sifatnya yang baik dan mudah membaur, penduduk tak mempertanyakan siapa dia. Dia suka datang ke tahlilan walau tak diundang kenang warga sekitar. Warga lain bernama Bu Sri Haryanti bahkan menyebut sosoknya jauh dari duniawi. 
 
Dia yang salah satu investor pertama Jaya Komara menyebutnya dia selalulah mengajak para investor dalam kebaikan dan bersabar. Jaya juga dikenal sebagai orang biasa. Tak mencolok punya bisnis apa ketika pertama kali tiba. 
 
Bahkan dia dikenal suka tidur bersama orang- orang yang tidur di masjid. Untuk menghidupi keluarganya, awalnya, dia bekerja sebagai tukang urut. Komara memulai semua dengan berjualan minyak gosok. Keluarganya tidak lah terdengar berkecukupan. 
 
Bahkan anak- anaknya tidak bersekolah. "Dia itu keluarganya orang susah. Anak- anaknya pun tidak ada yang bersekolah," lanjut Rara.

Ditelisik lebih dalam hampir seluruh warga Bukit Cikasungka, pernah diurut oleh Komara. Sementara itu, Ibu Genta menyebut "pengobatan" yang dilakukanya telah tersohor di luaran. Bahkan warga di luar kampungnya juga suka meminta pengobatan darinya. 
 
"Dia biasa dipanggil ke rumah-rumah buat pengobatan. Orang dari luar juga banyak yang datang," imbuh Ibu Genta.

Menurut kabar, dulu Kasat Samapta Polres Kabupaten Tangerang, Kompol Kustanto sering menggunakan jasa Komara untuk mengurut. Perihal itu, memang dibenarkan oleh Kapolres Tangerang Kabupaten Kombes Bambang Priyo Agodo. 
 
"Iya, betul. Memang dia (Kustanto) sering diurut sama Komara," ujar Bambang saat dihubungi.

Usaha daging


Ia dikenal juga sebagai sosok yang ulet. Segala pekerjaan dan usaha pernah ia tekuni. Dia pernah menjadi tukang urut, pernah juga beternak lele dan belut. Bahkan, dia sigap menanami singkong di kebun di belakang rumah miliknya. 
 
Semua dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari- hari. Usahanya yang selalu jatuh bangun menjadi semangat bagi para investor. Ceritanya yang berusaha dari nol menarik perhatian Ibu Genta pula.

Perlahan tapi pasti, Komara membangun kembali usahanya. Hingga akhirnya, pada tahun 2005, ia memulai berjualan daging sapi ke warga sekitar. Daging yang didapatnya dari suplier. Komara rajin menawarkan produk dagingnya ke pada masyarakata. 
 
Dagingnya bagus, didukung dengan prilaku Komara yang membuat para warga akhirnya ikut membeli daging darinya. Setiap warga yang membeli daging tidak membayar sesuai tarif.

Dulu 1 kilogram daging miliknya dijualnya Rp.60 ribu. Komara pun tak mematok warga harus bayar berapa. Lama- lama pesanan daging semakin tinggi. Daging yang dijualnya dengan sistem kredit diminati warga. 
 
Dia yang tak pernah menghitung- hitung berapa mereka ambil, membuat semakin ramai. Sponta warga melihat peringai Komara menjadi tidak enak sendiri. Mereka raji melunasi hutangnya tanpa diminta.

"Dulu rata-rata warga ambil 5 kg empat kali bayar dan dia suka nyuruh hitung sendiri, tulis sendiri. Jadi sangat bagus sekali, bukannya muji ya," tutur Ibu Genta.

Warga sekitar mulai banyak yang tertarik masuk lebih dalam, hingga akhirnya, Komara menawarkan paket lebaran. Ini menjadi puncak kejayaan Jaya Komara. Di tahun 2010, bisnis dagingnya itu sukses dibawah PT. Transindo Jaya Komara (TJK),  yang usahanya bergerak di bidang investasi daging. 
 
Sistem yang digunakan adalah sistem bagi hasil. Setiap investor menanam modal akan mendapatkan bonus investasi hingga 10 persen. Ibu Genta menjadi salah satu investor pertama di TJK. Kala itu, ia menanamkan modal Rp.8,5 juta untuk paket daging  100 kg daging. 
 
Dia mendapatkan bonus investasi senilai Rp.1,5 juta. Dia bercerita yang waktu itu tengah mencicil montor hanya mendapatkan bonus bersih Rp.1 juta. Dimana uang yang 500 ribu -nya ia gunakan untuk membayar cicilan. 
 
Nah, pada bulan ke sepuluh, dimana masih ada 12 juta sisa cicilan, Ustad Komara sendirilah yang membayarkan cicilannya. Komara sendiri tak terlalu aktif mengajak berinvestasi. Mereka malah mengajak untuk membagi hasil usaha para investor dari TJK untuk dibagikan ke sekitar. 
 
Semua berjalan dari mulut ke mulut. Komara yang selalu mengajarkan kebaikan, memotivasi orang untuk berbuat baik. "Ini semua dari mulut ke mulut. Pak Ustadz sendiri tidak pernah ajak-ajak orang," katanya.
 
Sebagai investor pertama, Ibu Genta juga kecipratan untung. Ia mampu mengumpulkan ratusan hingga ribuan downline. Nilai investasi yang dikumpulkan downline pun mencapai Rp 2 miliar. Nah, sistem dowline inilah yang biasanya jadi masalah. 
 
Entah sejak kapan Komara mulai menggunakan sistem piramida dalam bisnisnya. Tapi menurut Bu Genta semuanya baik- baik saja diawal. Lancar- lancar saja pendapatannya dari investasinya itu.

Seiring waktu naman perusahaan berubah menjadi Koperasi Langit Biru (KLB). Investor KLB tumbuh pesat hingga mencapai 125 ribu yang berasal dari berbagai pelosok. Menurut Rara mungkin karena kegiatan berdakwah Komara di luar kampunglah yang membuat usahanya makin maju. 
 
Di luaran, nyatanya Komara sangatlah dikenal bahkan lebih terkenal dari warga kampungnya. Dikenal sebagai seorang Ustad yang memang memiliki visi tentang berbagi. Tentang usaha bersama- sama berbagai kisah. 
 
Investor KLB telah menembus angka 125 ribu dari berbagai pelosok tanah air dengan nilai investasi mencapai Rp 6 triliun.  Atas usahanya itu, perekonomian Jaya Komara meningkat drastis, jadi kaya mendadak. 
 
Yang dulunya hanya menempati rumah kecil, Komara akhirnya mampu membeli rumah dua lantai dengan ukuran besar. Bahkan, konon katanya, ia mampu membeli tanah perkebunan di Bukit Cikasungka yang luasnya sekitar 1 hektar. 
 
"Dengar- dengar dibeli, apa gimana saya juga kurang tahu persis. Karena saya tidak mau ikut campur urusan dia," timpal Rara. 
 
Komara juga dikabarkan memiliki usaha lain baik berupa sawit, pasir, dan lain- lain. Usut punya usut, meski bisnisnya moncer, Komara bukanlah sosok yang pandai mengelola keuangan. Bukti tentang usaha sawit atapun pasir tidaklah benar.

Kenyataanya bisnisnya jadi gali lobang- tutup lobang. Usaha nyatanya cumalah broker daging sapi yang tak punya perternakan sendiri. Dari sebelumnya bunga atau bonus investasi bersih berasal dari daging. 
 
Namun, lama ke lamaan, usahanya itu tak mampu menutupi bonus investasi yang terlalu banyak. Meski telah berbisnis lama. Namanya bisnis, pasti ada masa lesu atau gagalnya, nah, untuk menutupi janji bonus itulah ia gali lobang.

Lobangnya itu ditutupi dengan uang investor baru, lalu ditutup lagi dengan uang investor lain. Tak disangka- sangka jumlah investornya itu sangat membludak. Semua berkat jabatan Ustad yang disandangnya. 
 
Gambarannya akan seperti ini. Ketika masyarakat malah berbondong- bondong ingin jadi investor karena kisah suksesnya, kewajiban yang disandang Komara makin besar. Disisi lain profit sektor riil tidak ada karena ia hanyalah broker dan uang investasi itu tidak diperuntukan untuk sektor usaha.

Karena memang usahnya tidak sebagus yang anda bayangkan. Akhirnya uang masyarakat untuk masyarakat diputar kembali. Untuk memutarnya, Komara mulai menjual investasi bodong. Dia tak rasional lagi. Menjual harapan bonus besar untuk para investor baru yang akan masuk. 
 
Usut punya usut, uang hasil investasi malah dibelikan rumah di Perum Telaga Asri, ada 30 sertifikat dan akte jual beli tanah. Ada sawah seluas 5.300 meter persegi. 
 
Selain itu ada rumah di Kuningan, Jawa Barat Rp 400 juta, ada 13 bidang tanah, lalu ditambah empat kantor Koperasi Langit Biru, rekening asuransi senilai Rp 700 juta, sepuluh bidang sawah di Banten, sebidang tanah di Serpong, Tangerang. 
 
Kesemuanya dihasilkan dari investasi yang seharusnya peruntukannya untuk usaha- usaha yang lebih produktif. Akhirnya uang investor baru yang digunakan untuk menutup investor diatasnya. Bisnis rasional sang Jaya Komara berubah menjadi sistem downline piramida tak berujung. 
 
Usahanya hanya mengumpulkan investasi. Sayang, lagi- lagi, di usaha nyatanya tak menunjukan hasil apapun. Itu menjadi tak sebanding dengan jumlah uang yang masuk serta bonus yang dijanjikan. Paket investasinya berkisar Rp 385.000-Rp 14 juta. 
 
Diamana imbal hasilnya bisa mencapai 258,97 persen dalam dua tahun atau 10 persen sebulan dari nilai penyertaan. Tentu semua cuma investasi bodong Koperasi Langit Biru. Hingga, akhirnya, si pengusaha Jaya Komara diciduk polisi atas kejahatannya.

Jasmine Bisnis Bumbu Masak Samara Micron

Profil Pengusaha Marcella Sutisna

 
bisnisbumbu.png
 
Pengusaha Marcella "Jasmine" Sutisna berbagi kisah sukses. Pemilik bisnis bumbu masak Samara Micron yang bermula sederhana. Ini merupakan usaha keluarga pemarutan kelapa. Berdiri sejak 1968, usahanya membuat mesin kelapa parut, lalu berkembang berjualan bumbu racik di era 80 -an.
 
Jasmine kini memenuhi kebutuhan bumbu dapur mandasar. Usaha bumbu memang sangat menggiurkan. Kita dikenal memiliki banyak jenis rempah. Masakan khas Indonesia mengandung banyak rempah, seperti rendang dan nasi goreng.
 

Bisnis Sederhana


Indonesia memang kaya dan sempat diserbu bumbu "palsu". Gempuran bumbu kemasan palsu asal negeri Tiongkok menggetaskan. Samara Micron tidak goyah. Jasmine hadir menjadi produsen bumbu masak asli Indonesia. Mereka berpengalaman 49 tahun menghadirkan bumbu aneka bentuk.

Bahan bumbu meliputi tabur, racik, dan bahkan selai. Samara Micron juga membuka usaha selai buat roti dan kue. "Samara Micron mementingkan jaminan mutu," ucap pengusaha Marcella Sutisna.

Bila mereka menjual bumbu cabe maka akan dapat cabe. Tidak terdapat campuran. Dia meyakinkan jaminan mutu. Ratusan bumbu kemasan dari rendang, gepuk, gule, soto, rawon, kare sampai opor. Dia menjual bumbu karena pengalaman menjadi ibu.

Bahwa ibu senang memasakan makanan buat keluarga. Tetapi ibu akan terkendala masalah bumbu masak. Terutama bila mereka ingin cepat memasak buat anak. Bumbu rendang saja membutuhkan puluhan rempah.

Samara Micron juga menghadirkan bumbu masak khas Eropa. Mereka menjual bumbu pizza, balado, barbeque, steak ladam hitam dan lain- lain. Mereka sudah mengantongi sertfikasi halal. Jasmine lalu menjelaskan bahwa mereka tidak memakai kimia.

Tampilan kemasan bumbu nampak bening terlihat. Ini akan meyakinkan masyarakat bahwa mereka membeli rempah asli. Mereka menjual bumbu mulai dari Rp.2000 sampai Rp.12.000. Bumbunya juga hadir di depertemen store Yogya Sunda, Pasar Baru, Setiabudhi Supermarket dan beberapa agen.

Sedangkan penjualan online hadir melalui situs www.samaramicron.com. Bisnis bumbu masak mereka sudah masuk tiga generasi. Usaha bermula menjual kelapa parut dan cabai giling sejak 1968. Jasmine menjelaskan bahwa sejarahnya usaha milik nenek.

Neneknya gemar membuat kue basah berbahan santan. Maka kakeknya mencoba membuat mesin memarut kalapa. Maka jadilah, yang mungkin merupakan mesin parut pertama di dunia, dan sempat dipamerkan di Jakarta Fair tetapi tidak dipatenkan.

Jasmine tetap percaya diri mengembangkan bisnis tersebut. Samara Micron berarti bumbu kecil dalam bahasa Sunda. Mereka memproduksi lewat dapur bersih. Kualitas bumbu diproduksi berkualitas tinggi dan segar. Keaslian bumbu dapat dibuktikan lewat kemasan bening.

Pengusaha Tas WeBe Biografi Wenny Sulistiowaty

Biografi Pengusaha Wenny Sulistiowaty

 
taswebe.png
 
Biografi Wenny Sulistiowaty pengusaha tas WeBe asli Indonesia. Dia merupakan sedikit dari sosok pengusaha pengolah limbah. Wenny merubah enceng gondok menjadi tas. Taukah bahwa tanaman itu sudah dikenal mampu diolah kerajinan.
 
Dia menjadi sedikit banyak pengusaha yang mampu mengemas produk ini secara modern. Berawal dari hobi. Ia memulai semua dari hobinya membuat berbagai kerajinan dari eceng gondok. 

Produknya tidak hanya tas hand- made, ada aksesoris, juga bingkai foto dan vas. Namun, dari kesemuanya, produk tas lah yang paling mendapat banyak perhatian. Produknya kemudian kita kenal sebagai tas WeBe, nama yang diambil dari nama pasangan Wenny dan suaminya (Budi).
 

Bisnis Handmade


"Saya ingin, handmade yang saya produksi berkualitas tinggi, elegan, eksklusif, dan dapat bersaing, baik di dalam maupun di luar negeri," pungkasnya.

Ia mengawali semuanga atas dasar hobi. Dia jadi salah satu pengusaha yang percaya dari hobi bisa menjadi bisnis. Itu bukanlah isapan jempol. Wenny telah membuktikannya sendiri. Sebenarnya ia suka sesuatu yang modis dan bemerek. Maka ketika menuangkannya dalam hobi. 
 
Hasilnya, sebuah produk- produk yang tak kalah kualitasnya dari produk impor. Meski berbahan eceng gondok. Anda tak akan melihat tanda guratan- guratan bahwa produk ini dari tanaman eceng gondok.

Tahun 1998, Wenny tengah mengambil kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah. Waktu itu ia yang tengah mengerjakan skripsi berpikir untuk membuka usaha sendiri. Kala itu sebenarnya tak mendukung karena krisis moneter. 
 
Tapi ia tetap memberanikan diri membuat usaha sendiri. Dia hanya akan memanfaatkan sumber daya sekitar. Tak perlua meminjam ke Bank. Wenny pun mulai membuat berbagai macam kerajinan tangan.

Usaha kecil- kecilan yang jutru menguntungkan. Toko pertamanya dibuka di JL. Wahid Hasyim, Kranggan, kawasan pecinan di Kota Semarang, Jawa Tengah. Usaha pertamanya mempekerjakan ibu- ibu muda, ia dengan penuh kesabaran mengajari mereka. 
 
Wenny mengutamakan kualitas mengajari mereka bagaimana agar bekerja dengan rapih. Memulai dari pameran ke pameran, dia kemudian mengamati dari sekian banyak produk karyanya, tas dari eceng gondok, rotan, mendong, dan agel paling diminati. 
 
Sejak saat itulah ia fokus pada pembuatan tas saja. Bahannya tak hanya dari eceng gondok, tapi bahan lain di sekitara Yogyakarta dan Solo. Dia mencoba untuk membuatnya berbeda dari segi kualitas, model dan warna. Hingga suatu saat ada permintaan ekspor.

Mulai di tahun 2000, ia mulai menjajal pasa ekspor dengan tas- tas buatannya. Dia, kala itu, dibantu oleh suaminya Budi Husodo, yang kemudian bersama membangun PT. Webe Inter Tirzada. 
 
Sasaran ekspornya lalu meliputi negara- negara kawasan Asia, seperti Jepang, kemudan merambah Amerika Serikat dan Eropa. Kala itu ia belum menggunakan merek WeBe sebagai brand andalannya. Dan telah cukup lama mengerjakan pasar ekspornya. 
 
Wenny menjadi sosok yang semakin matang. Dalam berbisnis ini ia mengamati bahwa orang Jepang menyukai apa- apa dari kain. Sementara itu Amerika Serikat dan Eropa menyukai bahan- bahan alam. Melalu pengamatan dia menjual produknya dengan strategi khusus. 
 
Pengusaha tas WeBe memproduksi tas sesuai musim. Baik model ataupun warna kesemuanya telah disesuaikan kebutuhan konsemen di sana, tidak asal kirim.

Pasarnya di luar negeri semakin kokoh. Lalu bagaimana dengan pasar dalam negeri? Justru disini, produknya lebih dikenal di Jakarta, bukannya di Semarang. Setiap ada kunjungan pastilah mereka yang dari pusat. 
 
Itu semua berkat pemerintah kota Semarang sendiri yang merekomendasikan perusahaanya. Hasilnya mereka para ibu- ibu jadi melirik produk buatannya. Dari pengamatan kami, apa yang membuat produk Wenny jadi berbeda adalah konsepnya.

Tas buatan Wenny tak nampak seperti buatan dari eceng gondok. Teksturnya yang seperti produk tas buatan pabrikan luar semakin menyegarkan. Tak ayal dari mulut ke mulut pamor tasnya telah menyebar di penjuru Jakarta. 
 
Tasnya menjadi sasaran kaum sosialita disana. Intinya adalah kualitas. Prinsipnya adalah "Tuhan sudah memberi talenta, tinggal bagaimana tiap individu itu mau mengembangkan. Setelah diberkati, coba pula untuk memberkati orang lain. Tuhan memberi apapun tanpa ada batasan. 
 
Maka, manfaatkanlah apa yang telah diberikan Tuhan, sebelum apa yang diperoleh akan dihentikan suatu ketika tanpa diduga siapapun."

 Tas WeBe


Ekspor tas eceng gondoknya telah mencapai puncak di tahun 2007. Dia sadar akan produknya. Produknya waktu itu yang dijual tanpa merek, perlu dihentikan. Wenny ingin produknya dikenal sebagai tas merek asal Indonesia. 
 
"Kalau saya ekspor tetapi tidak menggunakan merek sendiri, Indonesia, khususnya Semarang, tidak akan dikenal," kata dia.

Seiring masa kontrak ekspornya selesai. Wenny sigap menghentikan ekspor tasnya. Selepas berhenti ekspor ia tak langsung membuat merek untuk produknya. 
 
Langkah pertamanya adalah membangun galery WeBe Gallery dan WeBe Art di Semarang. Tujuannya agar semakin dikenal dulu bahwa produk itu dari Semarang, Indonesia. Ia menginginkan bahwa siapa yang ingin membeli produk buatannya haruslah ke Semarang.

Usaha rumahannya telah berkembang sangatlah pesat. Pabriknya telah resmi didirikan di kawasan industri Candi. Di pabriknya ini anda akan disuguhi bagaimana tas- tas tersebut diproduksi secara besar- besaran. 
 
Seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa pembelinya bukanlah masyrakat biasa. Mereka pembelinya adalah para kolektor dan pecinta seni khususnya. Lalu, bagi masyarakat, mereka masih memandang produk yang bermerek dan modis.

Karena itulah Wenny berbalik arah. Ia menyasar produk- produk berbahan kain. Produk buatannya yang sebelumnya ditujukan untuk ekspor ke Jepang, dibalik arahkan. Hasilnya produk buatannya yang satu ini sangat diminati pasar Indonesia. 
 
Sepanjang tahun 2007- 2009, Wenny hanya fokus pada pengembangan model untuk brand -nya. Ia fokus pada model dan desain tasnya. Adalah sebuah penelitian panjang hanya untuk menemukan warna- warna yang pas.

Kemudian tas bermerek WeBe secara resmi diluncurkan. Dia memperkenalkan mereknya melalui berbagai pameran. 

"Pameran pun saya buat terbatas. Hanya undangan yang menghadiri pameran saya. Seluruh relasi saya, termasuk para pejabat yang pernah datang ke pabrik, saya undang. Cara ini sengaja saya lakukan untuk menciptakan citra eksklusif pada produk merek WeBe," tutur Wenny.

Di tahun 2010 hingga 2011 Wenny berpikir membuka usaha di tengah kota. Jika sebelumnya para pembeli harus masuk ke kawasan industri, kini, tak perlu lagi. Dulu masyarakat yang biasanya akan berombong untuk masuk ke kawasan industri. 
 
Kini, telah tersedia di tengah kota, produknya bisa ditemui di gerainya di tengah kota. Ini memang sudah menjadi cita- citanya sejak dulu tambahnya. Wenny tak hanya membuka gerai. Dia membuka khawasan penjualan suvenir di kawasan Semarang, yang kemudian diberi nama Kampoeng Semarang. 
 
Tak hanya ingin memajukan produknya sendiri. Ternyata Wenny ingin agar perajin asal Semarang pada umumnya dikenal melalui Kampoeng Semarang. Tempat yang lokasinya seluas sekitar 4.000 meter persegi di kawasan Semarang Utara, Kampoeng Semarang. 
 
Tempatnya kerap menjadi tujuan wisatawan untuk membeli suvenir khas Semarang. Wenny, kini, telah memiliki 100 karyawan yang berasal dari daerah rawan rob dan banjir itu untuk menjadi pegawai di Kampoeng Semarang. 
 
Produk tasnya ada 40 macam model dan 40 ragam warna berbeda untuk anda koleksi.Ia menambahkan apa yang menjadi kekuatan brand WeBe sekarang: warna- warna yang kuat. Dimana jika anda memilih warna apa yang cocok untuk pakaian anda, tas WeBe telah siap. 
 
Tas buatannya telah melalui pasang surut sehingga kualitasnya tak dipertanyakan lagi. Baik material dan model semuanya telah dipikirkan matang oleh seorang Wenny Sulistiowaty Hartono. Modelnya tak akan konu karena si empunya sendiri suka dengan produk modis.

Meski tak lagi secara masal melakukan ekspor. Nyatanya produk WeBe tetaplah berupaya meningkatkan ekspornya. Meski begitu dengan banyaknya produk tiruan dari China, menjadi perhatian khusus Wenny. Ia berkata ketika ke Guanzhou, dia menemukan produk tiruannya. 
 
Tas WeBe yang dijual lebih murah dari apa yang dikerjakannya. Meski kesal dia tetap lega karena merek menjual produk tiruan itu asli Indonesia, asli produksi Semarang.

Biografi Wenny Sulistiowaty Hartono


Lahir: Purwokerto, Jawa Tengah,  10 Oktober 1976

Pendidikan:

1. SD Kristen 3 YSKI Semarang, Jawa Tengah
2. SMP YSKI Semarang
3. SMA YSKI Semarang
4. S-1 Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga

Pekerjaan:

1. Pemilik PT Webe Inter Tirzada, 1998
2. Pemilik Kampoeng Semarang, 2012
3. Pendampingan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)

Biografi Tony Fernandes Bisnis AirAsia

Biografi Pengusaha Tony Fernandes

  
tonyfernandes.png
 
Pria dibalik kesuksesan bisnis AirAsia. Biografi Tony Fernandes, atau Anthony Franches Fernandes bermula akan kritik terhadap penerbangan. Di jamanannya hiduplah era dimana perbedaan setatus begitu terasa. 
 
Berbeda di Indonesia yang memang sudah beda, di Malaysia, kamu tak akan menemukan perbedaan sangat mencolok. Satu kendala seorang Tony menjajaki karirnya bukan sebagai orang pribumi. Maka dalam biografi Tony Fernandes tidak mudah.

Ya, di jamannya, mungkin hingga sekarang adanya satu pembedaan tentang orang pribumi atau tidak terasa. Dia tidak mudah mendapatkan modal apalagi kekayaan.

Berani Bermimpi


Alkisah, pertumbuhan Malaysia begitu pesat semua karena ikut andil tangan pemerintahnya. Dimana di tahun semenjak tahun kemerdekaan Malaysi di Agustus 1957, negara yang dulunya negara agrari ini telah berubah menjadi negara industrial. 
 
Di akhir tahun 1960 -an, dengan jenuhnya pasar impor, negara Malaysia memilih untuk menjadi negara eksportir. Mei 1969, muncul demonstrasi karena pemerintah terlalu berpengaruh. Dimana pemerintah ikut campur sangat dalam soal pembagian kekayaan. 
 
Hampir mirip jaman orde baru kita. Disini terbaliknya dimana pemerintah fokus pada orang pribumi bukan orang asing. Di jamannya itu, kekayaan terbagi tiga ras: yaitu ras Bumiputra (pribumi), Chinese, dan India.

Dimana entrepreneurship kokoh didalam diri orang beras Chinese, dan India juga punya kelebihan pada hal tertentu. Sementara orang Bumiputra kurang dalam entrepreneurship -nya.

Tony lahir 30 April 1964, keluarganya tidak pernah berpengalaman atau kenal entrepreneurship, Ayahnya seorang tabib dari Goa (India), sementara ibunya itu seorang guru musik yang keturunan Malaka- Portugal. 
 
Atau dengan kata lain, Tony datang dari keluarga India- Malaysia dari golongan profesional. Dia itu berasal dari kelas menengah. Seperti halnya anak kelas menengah lain, keluarganya tentu mampu mengirim Tony bersekolah hingga ke London.

Fernandes ketika berumura 12 tahun pergi ke London di tahun 1976. Dia bersekolah di Epsom Collage lalu lulus dan melanjutkan pendidikan di London School of Economics, dimana ia lalu lulus pada tahun 1987, dia mendapatkan gelar sarjana akuntansi. 
 
Totalnya dia telah tinggal di luar negeri selama 11 tahun. Perasaan akan rindu orang tua membawanya kembali ke Malaysia.

Sebuah pengalaman terbang  memberikan gambaran penerbangan murah. Saat itu, tetapi, belum terpikirkan apapun tentang bisnis airlines. Bahkan dia tidak bersentuhan walau secuil pun dengan penerbangan komersil. Dia seorang akuntan biasa saja. 
 
Selama perjalanan karir, dia singgah di Virgin Communication, salah satu perusahaan milik Virgin Group. Apa yang dipelajari dari Virgin? Dia belajar banyak tentang bisnis internasional. Memberikan dirinya pandangan tentang apa itu bisnis multi- nasional dan internasional.

Dia tercatat sebagai pegawai berprestasi. Membawanya resume baik hingga mampu masuk sebagai Senior Financial Analysis di Warner Music International di London. Di Warner, tumbuhlah jiwa entrepreneur dalam dirinya. 
 
Warner kala itu mengubah dirinya sebagai hanya seorang akuntan menjadi sosok seorang analis dan strategis. Dia bekerja menjadi seorang analis disana sejak tahun 1989, kemudian di 2001, secara sadar memutuskan mengundurkan diri. 
 
Padahal kamu perlu tau Fernandes sudah menjadi Vice Presidents di ASEAN regional. Rekam jejaknya bekerja di Warner menunjukan sudah 3 kali dirinya menerima promosi. Mengagumkan.

Seorang pakar menyebut alasannya keluar dari Warner bukan tanpa strategi. Seolah ia telah bisa membaca kegagalan satu merger Warner untuk American Online di 2001. Sampai disini kenyataan bahwa sosok Tony Fernandes telah memiliki entrepreneurship didalamnya.

Tetapi kenyataan miris bahwa Tony Fernandes bukanlah orang Bumiputra menjadi menarik. Bagaimana dia sukses, tentu semuanya berkat kemampuanya sebagai seorang entrepreneur sejati.

Perbedaan itu sangat terasa seperti perbedaan antara kasus Malaysian Airline dan AirAsia sendiri. Dan satu fakta menarik, meski CEO, AirAsia secara kepemiliki lebih besar dimiliki orang asli Malaysia. Jadi menjadi entrepreneur sulit bagi mereka yang bukan penduduk asli Malaysia.

Lahirnya AirAsia


Beda Malasysian Airline dimana pemerintah bekerja sebagai entrepreneurnya. Kisah Tony berbeda, yakni ada sebuah perhentian di London. Inspirasinya ketika melihat Stelios Haji-Ioannou, pendiri easyJet airlines di televisi. Dia lah yang menjadi sumber inspirasi Fernandes membangun low- cost carier.

Sosoknya dilihat oleh Fernandes tengah menjelaskan konsep LCC ini di sebuah stasiun televisi. Tony mulai tersadar menemukan ide tentang penerbangan murah. Dia mulai berpikir dia bisa melakukanya nanti di Asia Tenggara.

AirAsia sendiri sejarahnya berawal dari perusahaan sedarah dari Malaysian Airline. Itu didirikan pada tahun 1993, dirikan oleh perusahaan konglomerat milik negara, DRB-HICOM dan mulai bekerja di tahun 1996. Di tahun 2002, secara tertulis MAS atau Malaysian Airline memonopoli udara.

Menjadi bagian milik negara membuat perusahaan mendapatkan dukungan mutlak pemerintah. Artinya juga termasuk komersialisasi. Tapi disadari atau tidak pemerintah lebih memilih MAS itu, menganak tirikan AirAsia. 
 
Kala itu, Tony Fernandes tengah menggarap idenya di tahun 2001, dan kebetulan, tahun itu AirAsia mempunyai hutang sebesar $37 juta.

Awalnya Tony sendiri tidak tau tentang perihal hutang AirAsia. Tujuannya kala itu cuma datang ke Perdana Menteri Mahathir di Juni 2001 meminta ijin terbang. Dia ngotot ingin bertemu Perdana Menteri untuk memberinya ijin membuka usaha. Tony sendiri sudah mempunyai perusahaan bernama Tune Air. Dia bekerja sama dengan tiga orang patner, yang ternyata Bumiputra. 
 
Akhirnya, setelah bertemu Perdana Menteri, ia berhasil meyakinkan Mahathir soal LCC -nya. Ternyata, bukan cuma lisensi, ia juga memerintahkan Tony ambil alih AirAsia juga.

Dia memintanya agar TuneAir mengambil alih AirAsia sendiri, yang berarti mengambil alih hutang- hutangnya. Bukannya untung dia malah "buntung" harus mengambil alih perusahaan terbengkalai.


Beda target fokus AirAsia kala itu orang Asia yang belum pernah terbang. Memakai slogan "Now everyone can fly" mendorong mereka berbondong- bondong ke AirAsia. Dan, cara itu berhasil, AirAsia mengadopsi cara kerja Ryanair.

Caranya menggunakan satu jenis pesawat, menggunakan sistem online memotong biaya travel agen, makan berbayar, mengurangi waktu di tanah atau pesawat harus terbang sangat sering, dan membuat banyak jadwal penerbangan sesering mungkin.

Tau kah kamu siapa orang dibalik ide brilian diatas. Dibaliknya, ada Connor McCarthy, mantan Direktur Operasi Ryanair, yang dijadikan Tony penasihat. Sosok Tony Fernandes memang risk- taker. Entrepreneur sukses menghasilkan miliaran dollar. 
 
Tony tercatat orang terkaya ke- 7 di Malaysia memiliki total kekayaan $650 juta. Itulah sedikit kisah sukses bisnis AirAsia.

Biografi Sharp Tokuji Hayakawa Sejarah Pengusaha

Profil Pengusaha Tokuji Hayakawa

 

biografisharp.png

Sejarah pengusaha Tokuji Hayakawa berikut biografi Sharp. Hayakawa kelahiran 1893 asal Tokyo, dan keluarganya memiliki masalah domestik. Alhasil Hayakawa kecil diambil asuh keluarga Ideno. Dia telah diadopsi. Hayakawa disekolahkan tetapi cuma mencapai sekolah menengah atas.


Kemudian ia keluar karena memang tidak punya biaya. Keluarganya merupakan pangrajin besi, namun dikhususkan membuat ornamen besi tidak lebih. Mereka hidup miskin. Hayakawa kepikiran membuat sabuk khusus.


Penemuanya beruapa kepala sabuk yang mampu mengikat kuat. Desainnya dipetenkan berupa besi tusuk buat dicantolkan dalam lubang. Inilah cikal sabuk modern yang dinamai "Tokubijo". Begitu ia luncurkan pada 1912, produk yang telah dipatenkan tersebut menarik perhatian masyarakat luas.


Terutama masyarakat Eropa tertarik menerapkan tersebut ke Western Style. Total permintaai sampai 33 grosesses atau 4.752 total. Hayakawa ingin membuka usaha pembuatan independen. Maka ia pun pergi meminjam uang buat mendirikan perusahaan.


Modalnya dibikinkan pabrik pembuatan khusus pada September 1912. Kemudian pabrikannya tumbuh bagus sampai mengekspansi. Ia pada 1913 mendapatkan paten keran air canggih. Kemudian Hayakawa membuat prototip pensil pencet, yang juga bernama Sharp.


Dia kemudian membuat tape rekorder, radio dan televisis. Hayakawa meninggal diusia 86 tahun di tahun 1980. Itulah biografi Sharp Tokuji Hayakawa.


Dulu perusahaan Hayakawa bernama Hayakawa Metal Works di 1924, Tanabe- Cho, Osaka. Di 1942 namanya berganti Hayakawa Electric Industry Company. Jadi perusahaan mereka memang membuat aneka produk elektronik.


Dari membuat televisi sampai membuat kalkulatro. Nah kalkulator inilah menjadi cikal perkembangan perusahaan. Kalkulator mereka terkecil sampai membuat oven microwave pertama. Nama perusahaan berubah menjadi Sharp Corporation pada 1970.

 

Mengapa dinamai Sharp ternyata berasal nama produk pensil. Penemuan pensil mekanikal tersebut yang membuat namanya melambung. Sayang pensil tersebut mengalami masa surut sampai harus bisa membuat lain. Hayakawa memaksakan perusahaan membuat sesuatu tidak pernah dilakukan.

 

Sharp menjadi perusahaan fokus mengerjakan elektronik. Hayakawa menyadari bahwa Jepang sangat ahli meniru. Ketika perusahaanya membuat pensil maka orang lain meniru. Dia tidak masalah. Bahkan ia melakukannya juga termasuk dalam membuat televisi.


"jika Anda selalu berusaha keluar dengan produk unggulan yang akan meniru pesaing, dan perusahaan akan terus berkembang. Imitasi mengarah pada persaingan, meningkatkan tingkat teknologi dan membawa kemajuan dalam masyarakat," jelasnya. 

 

"Namun, perusahaan selalu mengejar produk turunannya, sehingga harus memikirkan produk apa selanjutnya dan penelitian lanjutan," jelas sang pengusaha.


Industri bisa tidak terdapat orginalitas karena semua saling meniru. Bisnis etik buruk tetapi terbukti industri Jepang berkembang pesat. Persaingan membuat produk tiruan namun lebih baik. Hayakawa menyadari bahwa mereka harus lebih terdepan, lebih berkualitas, dan lebih disukai masyarakat.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba