Juragan Lele Banting Stir Usaha Abon Lele

Profil Pengusaha Sukses Samian

 

juraganlele.png
 

Samian juragan lele banting stir usaha lain. Pasalnya dia dihantam badai Corona sampai bikin abon lele. Dia menjelaskan semua dikarenakan "keterpaksaan". Pembudidaya lele asal Kampung Kamal, Kelurahan Senipah, Kutai Kartenagara, Sumatra Utara.


Dia padahal memulai usaha tahun 2019. Begitu dihantam pandemi kesulitan melanda Samian. Omzet jualan lele mentahnya turun drastis. Semian tak mau tinggal diam menghadapi kenyataan. Dia mengolah lelenya menjadi abon.


Awal mulanya dia menjual ikan sampai ke Balikpapan. Di sana, nanti ada tengkulak, nah dialah yang akan membeli semua. Tetapi tengkulak tidak lagi datang semenjak Corona. Padahal, total 5000 bibit ikan dia budidayakan, hasilkan tak kurang 6 kuintal yang tidak akan laku terjual.


Menurunnya permintaan menjadi sebab faktor utama. Lele dibiarkan hidup dan diberi makan tanpa dijual. Alhasil mereka semakin besar sampai melebihi batas ideal. Menurut penjelasan juragan lele ini, idealnya ikan konsumsi 7- 8 ekor yang beratnya 1 kilogram.


Ikan lele miliknya terlalu berat dimana 1 kilogram total 2- 4 ekor. Ternyata masalah begini bikin lele tidak laku dipasaran walau normal. Kondisi begini membuatnya dan kelompok taninya melakukan suatu inovasi.


Dia menggandeng Kelompok Wanita Tani (KWT) Kampung Kamal. Setengah panen akan dijadikan abon. Dibantu ibu- ibu mereka mengolah setengah panen seberat 6 kuintal. Produksinya ramai- ramai ketika awal pandemi Covid 19.


Bahan ikan 2,5 kg diolah menjadi 8 ons abon. Per- 1 ons dikemas kemudian dijual Rp.15 ribuan. Bila dijual ke tengkulat perkg dijual Rp.18 ribu. Walau orang sudah familiar membudidayakan ikan lele jaman sekarang. Menurutnya menyiapkan bibit sulit dimasa 0 sampai 3 bulan sulit.

5 Pengusaha Muda Bertalenta di Bidangnya

Profil Jutawan Muda Dunia

pengusaha muda bertalenta

Pengusaha muda yang memiliki banyak ide serta keberanian. Beberapa memilih menolak uang jutaan dollar, memegang penuh bisnisnya dan menghasilkan lebih dari itu. Mereka adalah pengusaha muda yang fokus dan Forbes telah memperhatikan gerak- gerik mereka ini.

Mereka yang mampu melawan stigma oportunis dan merangkak dari bawah. Orang- orang muda yang penuh talenta dalam bidangnya masing- masing.

1. Pete Cashmore 27 tahun, Mashable

Pete Cashmore mendirikan blog terpopuler berisi berita- berita tantang teknologi menarik. Mashable didirikan ketika Cashmore tinggal di rumah bersama orang tuanya di Aberdeenshire, Skotlandia. Ketika itu ia berusia 19, dan menjadi chief executive hingga sekarang di umur 27 tahun. 
 
Hari-hari ini Cashmore menjalani kehidupan sang maestro media, bekerja membagi waktunya antara Skotlandia, San Francisco, New York dan Los Angeles. Dia menyebut Mashable "sumber utama berita, informasi dan sumber daya untuk generasi yang terhubung."

Ada spekulasi ia akan menjual Mashable di nilai $ 200 juta, tapi dia tetap bertahan. Akun @ Mashable menjadi salah satu akun Twitter paling-diikuti di dunia, dengan lebih dari 3.7 juta pengikut. BusinessWeek menyebut Mashable sebagai salah satu blog yang paling menguntungkan di dunia. 
 
"Bagaimana alat web dan sosial bersih- karya yang mengubah interaksi manusia dan membentuk kembali budaya" mendorongnya membuat Mashable.

Dia mengatakan kepada sebuah stasiun radio Boston: 
 
"Komunikasi Lebih baik ... semakin kita berinteraksi tidak hanya kita menjadi lebih toleran terhadap ide-ide baru dan cara-cara berpikir yang berbeda, kami juga menciptakan lebih banyak ide-ide baru, karena apa ide jika mereka tidak tabrakan antara orang-orang dari latar belakang yang berbeda."

2. Jessica Matthews 25 tahun, Uncharted Play


Jessica Matthews adalah co-founder dari Uncharted Play, sebuah perusahaan dibidang sosial. Perusahaan yang ia bentuk bersama teman sekelas di Harvard. Mereka bekerja mencari energi alternatif dari sekedar menendang bola. Mereka membuat sebuah "energy- harnessing soccer ball". 
 
Mantan President Bill Clinton juga menyebut dialah sang inovator terbaik. Bahkan President Obama senang bermain dengan bola ini. Lebih lanjut, perusahaan menciptakan soket pada bola dengan baterai didalam. 
 
Jadi ketika kita bermain bola tersebut selama 30 menit, energi kinetik akan mengisi baterai. Ini dapat digunakan untuk menciptakan cahaya selama beberapa jam. Penemuan ini akan membantu mereka yang tidak memiliki lampu listrik. 
 
Membantu mereka yang mengandalkan tenaga minyak untuk cahaya. Penemuan selanjutnya akan berbicara tentang tali lompat, skateboard, dan lain- lain.

3. Lucy Baldwin 28 tahun, Goldman Sachs


Wanita 28 tahun yang kini bekerja sebagai menejer direktur di Goldman Sachs, London. Dia disana bertugas sebagai kepala bank investasi untuk jaringan retail Eropa serta kepala tim kualitas konsumen. Nona Baldwin tau betul tentang kurang lebih $3 miliar di bisnis mewah secara global. 
 
Dia pernah bekerja analis merger dan akuisis, namun beralih ke penelitian equitas. Dia melihat bisnis keuangan memiliki banyak kesempatan.

Dia mengatakan dalam konferensi di London pada tahun 2012, dia terkesan dengan seberapa cepat analis muda di bidang ini diizinkan untuk memiliki kontak dengan eksekutif. Mereka dari eksekutif perusahaan yang cenderung tertutup membutuhkan gerakan pintar. 
 
Nona Baldwin berada di barisan depan untuk perempuan dibidang keuangan dan melihat perusahaan dari kebijakannya. Dia melalui Website Gateway, mengatakan jelas: perusahaan keuangan tidak mempromosikan equitas untuk kepentingan diri sendiri - benar- benar membantu yang terbawah. 
 
"Jika anda melihat sekelompok perusahaan yang terdaftar, mereka yang memiliki tenaga kerja yang beragam tampil lebih baik."

4. AJ Forysthe 25 tahun, iCracked


AJ Forsythe, 25 tahun, telah memulai iCracked yaitu memperbaiki - atau membeli - perangkat Apple mobile, termasuk iPhone dan iPad - dan sekarang perusahaan berharap untuk membuat sekitar $ 10 juta dalam penjualan tahun ini.

iCracked memiliki jaringan insinyur (disebut "iTechs") di 11 negara yang dapat dengan cepat memperbaiki ponsel dan perangkat Apple lainnya.

Forsythe mengatakan ia berencana menghadiran iCracked di setiap kota di dunia dalam dua tahun ke depan. "Pikirkan iTechs kita sebagai pribadi, spesialis perbaikan elit yang datang kepada Anda, dimanapun Anda berada di klik tombol," katanya.

5. Amir Taaki 25 tahun, Dark Wallet


Amir Taaki, 25 tahun, adalah Inggris-Iran co-founder Dark Wallet, sebuah layanan yang ingin menjadi "The Anarchist's Bitcoin App Of Choice." Orang-orang di balik Dark Wallet yaitu komunitas yang bergerak di sekitar Bitcoin, mata uang digital, yang mulai terkenal di seluruh dunia

Dark Wallet mengatakan memungkinkan pengguna untuk menghabiskan Bitcoin dan menerima mata uang seperti layanan lain. Yang berbeda dari layanan "dompet" lain, Dark Waller dirancang untuk melindungi status Bitcoin sebagai anonim, mata uang akan sulit dilacak.

"Banyak pengembang Bitcoin menonjol adalah aktif dalam kolusi dengan anggota penegakan hukum dan mencari persetujuan dari legislator pemerintah," kata Dark Wallet di situsnya. Namun layanan ini berbeda dimana orang tetap bisa berteransaksi tanpa "persetujuan khusus".

Kami percaya ini bukan kepentingan diri pengguna Bitocoin atau bukannya melayani kepentingan bisnis untuk si kaya yang membentuk self-titled Yayasan Bitcoin ...

"Kami tidak perlu menjadi perusahaan dikontrol oleh orang gila. Ketidaktaatan adalah satu-satunya cara. "

Kisah Pengusaha Startup Listrik Uncharted Play

Profil Pengusaha Jessica O. Metthews


startuplistrik.png
 
Kisah pengusaha startup listrik Uncharted Play. Taukah kamu, sifat yang perlu dimiliki untuk menjadi pengusaha adalah sifat acuh. Menjadi acuh merupakan berkah bagi Jessica O. Matthews dalam sebuah artikel. 
 
Baginya acuh berarti tak sekedar berpikir tentang diluar kotak, ketika tak tau batasannya. Kita tak pernah tau parameter kota itu sendiri. Apakah yang anda kerjakan benar- benar ide segar. Atau, itu pernah dilakukan orang lain, lalu gagal.

"Itu sangat mudah untuk berpikir di luar kotak ketika anda tidak tahu apa parameter kotak itu apa," katanya.
 

Pengusaha Sosial


Jessica dikenal sebagai seorang CEO sekaligus salah satu pendiri sebuah perusahaan. Nama start- up -nya Uncharted Play, uniknya perusahaan ini hanya punya tujuh pegawai, termasuk dirinya. Sebuah perusahaan berbasis di New York City, yang menjual penemuan bernama Soccket. 
 
Apa itu? Hanya bola sepak yang mampu menghasilkan energi listrik. Itu dihasilkan, disimpan, lalu digunakan oleh satu buah bolam lampu.

Lampu LED yang terpasang pada Soccket mampu menyala tiga jam. Semua pengisian hanya membutuhkan si pengguna menggunakannya bermain. Meski terlihat sepele atau anda akan berpikir buat apa, usahanya ini sangat membantu bagi meraka yang tertinggal. 
 
Khususnya bagi anak- anak di negara tertinggal tanpa listrik. Sejak didirikan Mei 2011, Uncharted Play telah membagikan sekitar 10.000 bola Soccket di Amerika Serikat, Meksiko, dan sebagian Afrika. 
 
Untuk menghasilkan keuntungan, Uncharted Bermitra dengan perusahaan sponsor seperti Western Union dan State Farm, yang membayar untuk mendistribusikan bola sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial mereka. Perusahaan ini menghasilkan sekitar $ 2 juta dalam pendapatan.


Jessica, 26 tahun, memang memiliki kelebihan sejak kecil. Keberanian telah tertanam dalam banaknya. Putri dari dua orang anak pasangan imigran asal Nigeria yang tinggal di sebuah wilayah Poughkeepsie, M.Y. Dia sangat mencolok dimasa remajanya. 
 
Bayangkan saja beberapa pelajaran tambahan untuk science dan untuk olah raga, lari menjadi salah satu pelajaran tambahan. Dia bisa berlari 400 meter dalam 52 detik.

"Saya sangat cepat," ungkapnya bangga. "Orang tua saya selalu mendorong kita dalam segala sesuatu dalam hidup. Filosofi mereka adalah, jika anda ingin berlari secepat anda bisa, anda harus menjadi yang memimpin di jalan."

Setelah kakaknya Tiana, 27, mengundurkan diri untuk Harvard, karena kecelakaan. Di Harvard, di kampus yang sama, Jessica mengambil kuliah psikologi dan ekonomi. 
 
Hingga ada satu waktu para mahasiswa diajak berdiskusi tentang tugas science untuk sesuatu yang artistik dan punya nilai sosial. Inilah yang membuka jalan terciptanya Soccket sekarang.

"Saat itulah saya pertama kali datang dengan ide untuk Soccket, "katanya menganang." Itu hanya fisika SMA, menggunakan senter kocok- nyala dan sebuah roda hamster."

Ia yang baru saja menyelesaikan MBA di Harvard, ketika menjalankan proyek Uncharted Play. Sekarang, prototipenya telah tak terhitung jumlahnya sejak yang pertama. Dia ingin membuat sebuah dorongan besar dengan Soccket di sepak melalui Piala Dunia di Brasil. 
 
Dia berharap menjual bola di sana, yang saat itu dihargai $.99 sekaligus mempromosikan produknya. Ini diharapkan membangkitkan minat organisasi- organisasi non-pemerintah, yang kemudian mempromosikan Soccket baik sebagai perangkat praktis dan alat pengajaran ilmiah. 
 
Penemuan Jessica memiliki potensi, baik untuk membantu anak- anak mengerjakan PR, sekaligus untuk memupuk rasa ingin tahu mereka. Penemuan Soccket membawa energi ke dalam permainan menyenangkan. Membantu anak- anak mengerjakan tugas.

Soccket akan membantu mereka terutama untuk mereka yang ada di negara dunia ketiga, seperti negara- negara Afrika.

Mainan hemat energi


Cerita favorit Jessica tentang Soccket adalah tentang seorang anak Nigeria pemalu yang bukanlah siswa yang baik. Tapi setelah ia mencoba Soccket, beberapa hari kemudian, ia menemukan bagaimana benda itu bekerja. 
 
Dia membuka kulitnya, belajar mengenainya, lalu berpikir tentang menggunakanya untuk mengisi listrik DVD player.

"Pada akhirnya, saya ingin membantu orang menjadi penemu sendiri sehingga mereka tidak merasa mereka telah menemui jalan buntu setelah mereka sudah tak punya ide," kata Jessica, yang menjelaskan bahwa Uncharted Play akhirnya bisa menjadi inkubator bagi pencipta lain. 
 
"Tapi pertama- tama, kami ingin membangun merek ini dan mendapatkan jalan kami di luar sana," ia lanjut.

Perusahaan ini telah menghasilkan sumber energi lain. Mainan kedua dan berpotensi, yang lebih universal dan serbaguna bernama Pulse ($129, jika membeli satu, mensponsori satu, di unchartedplay.org). 
 
Tim tujuh orang, yang mencakup kakak Jessica, yang ketika artikel ini dimuat di usatoday.com, tengah membuat Pulse (tali lompat elektrik) di rumahnya. Ia menggunakan serangkaian printer tiga dimensi bertengger di meja.

"Anda dapat melakukan perjalanan dengan mudah dengan Pulse, dan setelah 15 menit melakukan lompat tali, yang baik untuk anda, itu akan memberikan enam jam cahaya LED atau mengisi baterai iPhone50%," katanya. 
 
"Di banyak (negara-negara berkembang), sering hanya anak laki- laki yang diperbolehkan untuk bermain sepak bola. Jadi ini adalah sesuatu yang anak perempuan bisa menggunakan."

Jessica mengatakan Uncharted Play tengah mengarahkan pandanganya ke skateboard pembangkit listrik dan bola basket sebelum "menangani isu-isu sosial lainnya segera, seperti makanan dan air."

Semua apa yang dihasilakan Jessica bukanlah kejutan bagi ibunya.

"Ketika Jessica masih TK, dia mengatakan kepada gurunya dia ingin tumbuh untuk membantu orang," kata Florence Matthews, yang membantu suaminya, Idoni, menjalankan bisnis perangkat lunak milik keluarga, Decision Technologies International.

"Dia memiliki begitu banyak ide, ketika ia membahas ide- ide itu dengan saya, saya langsung sakit kepala,"

Matthews mengatakan dia tak terkejut bahwa ide besar pertama putrinya ialah Soccket, mengingat bahwa keluarganya sering berkunjung ke desa kecil di Nigeria dimana selalu ada bau busuk lampu minyak tanah. Tidak ada listrik di sana. 
 
"Untuk melihatnya membantu orang-orang yang membuat saya sangat bahagia," katanya lagi.

Tapi Jessica tak lengah akan pujian. Jika tidak, ide- ide besar di luar sana tidak akan menjadi miliknya, dia menegaskan.

"Masalah terbesar yang kita miliki di dunia adalah masalah pasokan akan ide," kata Jessica. Dan kisah pengusaha startup listik ini memberi pandangan kita.

Usaha Lobster Air Tawar Pengusaha Muda

Profil Pengusaha Gema Paku Bumi

 
usahalobster.png
 
Perkenalkan Gema Paku Bumi seorang pengusaha muda lobster. Selain kembangkan usaha lobster air tawar juga budidaya ikan lain. Dia budidaya lelel. Dijalankan sejak awal 2010, Gema juga budidaya ikan gurame, nila dan bahkan ayam ternak, namun dia masih mencari komoditas mumpuni.

Adalah mahasiswa Semester 3 Universitas Sebelas Maret (UNS). Ia melakukan aneka riset kembangkan usaha agro begini. Gema menemukan peluang besar di lobster air tawar. Dia menemukan lobster air tawar asal Australia.

Tawarkan Mitra Bisnis

 
Ia menemukan lobster air tawar disini berasal dari Australia. Kebetulan ada program pemerintah khusus dari Ditjen Dikti, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bernama Program Kreatifitas Mahasiswa. Ia mendaftar. Kemudian dia mendapatkan modal guna melakukan pengembangan.

Penelitian dilakukannya demi memberikan kemanfaatan masyarakat luas. Riset milik Gema diterima. Isi risetnya mengenai budidaya lobster air tawar di Indonesia. Dia mendapatkan modal usaha Rp.100 juta. Ia menggunakan uang tersebut buat riset ke Australia.

Ia mempelajari pengembangan sampai pakan. Kemudian penelitian tersebut akan diturunkan ke adik tingkatnya. Berbekal uang segitu Gema melakukan penelitian dalam lab kampus. Sebagiannya dia bawa ke kos- kosan.

Tidak memiliki kolam Gema harus bereksperimen. "Jadi ada ruang kosong kita pakai ember, pakai bak, bahkan pakai lemari baju plastik yang selorokan itu kita jadikan kolam ikan," Gema menjelaskan kepada Detik.com.

Gema sejak awal melakukan riset demi menjadi pengusaha. Segala upaya dilakukannya demi dapat menghasilkan uang. Ingin usaha lobster air tawar menjadi tumpuan hidup. Gema sama sekali tak punya pemikiran melamar kerja.

Gema bercita- cita menjadi pengusaha muda semenjak dulu. Dia berkata kedua orang tuanya adalah inspirasi. Mereka kedua orang tua merupakan pedagang pasar. "Ya anaknya tak ingin jadi pedagang tapi pengusaha," lanjutnya.

Tahun pertama, hasil budidaya lobsternya dijual ke toko- toko ikan hias atau penghobi. Kenapa karena disaat itu jamannya lobster air tawar masih jarang. Hingga orang membeli buat dijadikan ikan hias bukan konsumsi.

Dulu lobster air tawar masih dijadikan hiasan aquarium. Seiring berjalan waktu, budidaya lobster air tawar digemari, akhirnya mulailah menjadi konsumsi. Harganya bervariasi dari Rp.140 ribu per- kg, Rp.170 ribu per- kg, dan Rp.500 ribu per- kg.

Mitra bisnisnya bisa menjual Rp.500 ribu per- kg di wilayah Bali. Ini merupakan subsitusi lobster laut yang belum bisa dibudidaya. 
 
Perbedaan antara lobster laut dan air tawar pada rasanya. Lobster laut rasanya manis gurih dan amis, dan lobster air tawar manis. Bila ukuran lobster laut memang lebih besar.

Bisnis Gema diberi nama Gemma Farm. Ia membuka peluang kemitraan. Skema bisnisnya mensuplai indukan ke mitra. Mereka mitra akan membudidaya kemudian dijual ke Gemma Farm. Kemudian pihak Gamma Farm jual ke restoran atau hotel mitra.

Tidak sedikit total mitranya mencapai 2.100 orang. Gema mematok harga kisaran Rp.250 ribu sampai Rp.950 ribu, tergantung ukuran. Untuk paket indukan berisi 4 pasang lobster dan biasanya dapat bonus satu pasang.

Indukan sudah disortir jadi tidak akan sedarah. Lobster air tawar ini tidak boleh dikawinkan sedarah, atau hasilnya gak bagus. Gema perbulan menjual 10 ribu induk lobster. Omzet dicapainya sampai Rp.100 juta bahkan lebih.

Pasalnya Gemma Farm juga menyediakan olahan lobster. Kemudian juga memberikan pelatihan senilai Rp.477 ribu. Indukan produktifitasnya tergantung ukuran. Dimana indukan Rp.250 ribu itu hasilkan 50 telur minimal, ukuran sedang sampai 100 telur maksimal, sedang 200 telur, dan besar 300 telur.

Modal dibutuhkan mitra cuma Rp.600 ribu. Satu mitranya hasilkan 50 kg perminggu, bila dihargai Rp.140 ribu saja, maka mitra menghasilkan omzet Rp.7 juta perminggu atau sebulan Rp.28 juta.

Pengusaha Bubur Kertas Bisnis Menghasilkan

Profil Pengusaha Sumarsono 


buburkertas.png
 
Sumarsono adalah pengusaha bubur kertas. Dia tak  menyangka akan menjadi bisnis menghasilkan. Dulu ia sempat bekerja menjadi buruh. Menjadi buruh takut kalau diphk. Namun, karena diphk, justru Sumarsono menjadi pengusaha. 
 
Pasalnya dia tidak mudah putus asa. Ketika tempat kerjanya kolaps dan bubar karena krisi moneter. Justru Sumarsono mengajar ambisi pribadi. Menjadi pengusaha berbekal kemampuannya di bidang desain grafis.

Tepatnya tahun 1989, ia pertama kali datang ke Jakarta, dia bekerja menjadi advertising outdoor. Untuk ini dia bekerja menjadi produksi dan grafis.
 

Berbisnis Seni

 
Dia punya dasar pemahaman tentang gambar. Hingga, masuk di tahun 98', bisnis perusahaan tempat Sumarsono bekerja kolaps. Dua tahun dia hidup bermodal pesangon. Di tahun 2000, kemudian Sumarsono berusaha serabutan menjual aneka benda seni seperti patung atau lukisan. 
 
"Ada dua tahun menganggur," kenangnya. Dia beruntung tak cuma memiliki keahlian tetapi bakat alam.

Keluarga Sumarsono kebanyakan seniman. Khususnya dia tinggal diantara para seniman patung. Kemudian dia mengingat kerajinan masa sekolah. Bubur kertas. Dia berpikir kenapa tidak dibikin sesuatu. 
 
Dipadu padankan selera seni Sumarsono. Dia yakin bahwa kertas koran dapat dijadikan kesenian bernilai tinggi. Tidak mudah seperti dibayangkan Sumarsono. Ketika mencoba malah takaran air tidak seimbang. Sia- sia sudah tumpukan koran tersebut. 
 
Ia belum paham caranya menyampur. Sumarsono terus berusaha dan semuanya otodidak. Kegagalan demi kegagalan dilalui. Akhirnya 2007 Sumarsono berhasil membuat bubur kertas. Kemudian dia mengolahnya menjadi ornamen dinding. 
 
Dia bercerita ketika memulai bermodal minim. Dia nekatlah menjual sepeda motor. Dia kemudian menambah melalui pinjaman orang. Modal dikumpukkan dia sampai Rp.60 juta. Uang digunakan buat peralatan daur ulang. 
 
Buat membeli cat minyak, kertas koran, dan biaya oprasional. Itulah modal pertama digunakan Sumarsono. Hasilnya jadi 11 unit panel ornamen siap jual. Ia menamainya LaxsVin Art, dipasarkan ke pasaran Cibinong, Jawa Barat.

Sebelum memulai membuat bubur kertas. Ia pernah mencoba pakai panel kayu. Bahan bekas sengaja dia pilih karena murah dan go green. Tidak cuma papan, ada pelepah pisang, kemudian terakhir bubur kertas, menjadi pilihan utamanya. 
 
Bubur kertas memiliki karakter khas ketika diberi sentuhan lukisan olehnya. Awal dia membuat cuma dua dimensi. Meskipun aneka warna, hasilnya tidak begitu bagus, nah sejak itu ia juga mulai bereksperimen lewat tiga dimensi. 
 
Tahun 2006 akhirnya menghasilkan sesuatu sesuai harapan. Tidak punya literatur khusus menjadi panduan. Ia cuma meraba menciptakan produk belum orang lain buat. Lukisan panel berukuran 80x120 tersebut laris manis. Dalam tempo dua jam tinggal dua buah. 
 
Sehari dia bisa mengantungi untung Rp.4 juta. Memasuki tahun 2007, dia mulai diajak pemerintah setempat aktif mengikuti berbagai pameran kewirausahaan. Melalui pameran dia membangun brand mengajak orang beli.

Melalui pameran dia mendapatkan masukan baru. Katanya jualan Sumarsono kemahalan. Dan ukurannya terlalu besar. Sulit buat dibawa orang perjalanan jauh. Khususnya buat panel lukisan yang dibandrol harga Rp.1,5 juta. 
 
Pembeli asing mengeluhkan produknya berat sulit dibungkus dibawa pulang. Berbekal masukan tersebut dia merubah gaya. Lantas dia membuat panel seberat lima kilogram. Ukuran tersebut cocok dengan batas bagasi 20kg di pesawat.
 

Kerja Keras

 
Bisnis panelnya dijalankan Sumarsono mengajak 3 orang pegawai bekerja. Kertas koran didapatkan lewat pengepul. Seharinya memakai 300- 400 kilogram koran bekas.

Agar pengepul tetap menjual ke dia. Dirinya ikhlas menaikan nilai beli sampai Rp.2000 per- 1kg. Maka para pengepul mendapatkan untung Rp.1000. Biaya produksi untungnya rendah. Menekan harga jual tetap dia bisa lakukan. 
 
Ukuran 45x45 dibandrol Rp.75.000- Rp.100.000, produksinya sampai ribuan panel. Ia mengatakan kenapa makin laris. Panel bikinanya murah. Bahkan ada diskon Rp.75.000 sebuah bila mau membeli enam. Kan orang biasanya beli satu kali satu panel. 
 
Hal lain agar jualannya makin mantab ialah ia membuat lukisan berserial. Jadi orang akan berpikir buat menambah koleksi membeli lebih banyak. Uang muka 30% buat pemesanan sudah cukup. Ukuran segitu sudah menutupi biaya produksi. 
 
Dia juga jadi eksportir menjual sampai ke luar negeri. Dia mengandalkan pameran menggait eksportir. Baik dari Brazil ataupun Malaysia. Omzetnya naik dari Rp.20 juta menjadi Rp.30 juta per- bulan.

Uang segitu 20% nya dipakai produksi. Total Sumarsono tidak mengandalkan pinjaman bank sama sekali. Ia menjamin panel buatanya akan selalu berbeda. Akan ada desain baru setiap kali ada kesempatan. Juga ia akan aktif mengikuti aneka pameran.

Warna era 80 -an dihidupkan kembali lewat dominasi oranye. Meskipun beda desain ataupun ukuran, dia tetap menyasar rumah konsep minimalis. Warna dasarnya berusaha memakai hitam. Tujuannya agar dapat dengan mudah ngeblend dengan warna cat rumah apapun.

Tidak cuma jualan saja. Ia menularkan konsep daur ulang juga. Dia memberikan pelatihan umum. Menjadi pembicara berbagai kegiatan bertama daur ulang. Dari NTB, Serang, dan Jakarta dia telusuri menjadi ahli di bidangnya.

Dari menjadi pembicara dan pelatihan, eh ternyata, ia bisa menghasilkan uang juga. Terutama jika dia beri pelatihan khusus. Bisa mencapai Rp.2,5 juta buat pelatihan. Dia sendiri tidak khawatir banyak pesaing. Ia beralasan setiap orang punya gaya lukis sendiri. 
 
Ditambah jam terbang dia lebih banyak soal aspek bisnis. Mereka akan mengangkat budaya mereka sendiri. Gaya lukisan mereka sendiri juga. Dibantu tiga orang karyawannya. Untung didapat bisa mencapai 50% nya. Atau dia bisa mengantungi uang Rp.30 juta. 
 
"Saya akan mangajarkan mereka yang mau belajar," tutur pengusaha bubur kertas ini.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba