Bisnis Properti di Australia Pengusaha Iwan Sunito

Profil Pengusaha Iwan Sunito


bisnisproperti.png

Pengusaha Iwan Sunito  sering tidak naik kelas. Tetapi bukan berarti dia tidak mampu. Kini ia sukses bisnis properti di Australia. Dia mengakui menjadi orang bodoh itu membosankan. Dulu pernah tidak kelas di SMA, kini, ia adalah salah satu pengusaha keturunan Indonesia yang berprestasi. 
 
Meski telah menjadi warga negara Australia Iwan masih aktif menjadi pembicara untuk mereka para pengusaha muda Indonesia. Dia dikenal sebagai CEO Crown International Holding Group, perusahaan properti besar di Australia.

Ia menyebut hidupnya "fortunate life", keberuntung sekali. Dari Surabaya, lahir disana kemudian tinggal di Kalimantan, di sebuah rumah kayu sederhana. Pengalaman Indah. Baginya ketika berenang di sungai yang dalam, adem, yang ada buayanya.
 

Properti di Australia

 
Pengalaman malam- malam mencari udang bermodal tombak. Pengalaman indah berlari- lari di hutan Kalimantan, baginya semuanya adalah sebuah keberuntungan. Ya, Iwan tentunya kini tak akan merasakan hal itu lagi. Hidupnya tentang bersyukur dulu dan sekarang.

"Rain forest. Kalimantan Tengah. Pangkalan Bun, it's really beautiful," ujar pengusaha Iwan Sunito. Menjadi pengusaha ternyata sudah menjadi impian pria yang dikenal sebagai "Raja Properti Sydney". 
 
Ibunya hanya seorang pengusaha kecil begitu pula ayahnya. Namun pengalaman melihat mereka, terutama sang ibu, merintis bisnis dari bawah, dan menawarkan kue- kue tersebut memberikan kesan tersendiri. 
 
Hanya bisnis kue kecil- kecilan tapi kesannya mampu membangkitkan semangat Iwan. Meski sekolah berantakan sejak SD, SMP, sampai SMA, ia mengaku bukan orang bodoh. Mungkin karena lingkungan yang tidak mendukung. 
 
Atau, gurunya yang tidak baik ucapnya bercanda disela- sela wawancara dengan Vivanews. Iwan menirukan bagaimana dia dan kawan- kawanya selalu menyalahkan guru. Mereka bukanlah achiever lugasanya, selalu menyalahkan guru atas nilai- nilai jelek mereka. 
 
"Wah gurunya sentimen sama saya, kalau saya tidak naik kelas," tirunya.

Tidak pernah lulus dan harus mengulang satu tahun lagi, nilai Iwan semakin baik. Setelah pindah ke Australia ada tekat tersendiri dalam dirinya. Tekat untuk berubah. Buktinya ia sukses bersekolah di Australia dengan segala perbedaan kultur, ijasahnya Australia. 
 
Orang tua Iwan sendiri yang mengirim pura- putranya ke Australia untuk bersekolah meski harus bersusah payah. Singkatnya Iwan berangkat sendiri ke Australia menyusul kakaknya, sedangkan orang tuanya ada di Indonesia masih bisnis kecil- kecilan.

Di Australia Iwan memborong dua gelar sekaligus, serjana arsitektur dan master manajemen konstruksi. Dua gelar yang bermanfaat untuk mendukung bisnisnya kelak. Setelah lulus kuliah ia tak langsung memasang tarif, justru rela mengerjakan tanpa upah. 
 
Dia pun mau mengerjakan proyek- proyek kecil. Dia sembari mengambil gelar master manajemen konstruksi, ia sudah sibuk mengerjakan beberapa rumah. Iwan tak menyangkan akan bisnis properti di Australia.

"Sambil mendengarkan pengajar, saya tahu bagaimana practical prosess-nya. Kebanyakan student-student lain hanya dengar, tetapi nggak tahu di mana konteksnya. Saya dengar, saya menangkapnya lebih cepat," terangnya.

Iwan bekerja di sebuah perusahaan arsitek selama enam bulan. Bukan perusahaan biasa karena perusahaan itu pernah membangun konstruksi untuk Olympic 2000. 
 
"Saya kerjanya menggambar. Setelah enam bulan, saya nggak bisa berdedikasi, saya keluar. Setelah itu, saya mengambil master," jelasnya. Pada tahun 1994, barulah dia membuka bisnis sendiri yaitu bisnis arsitektur. 
 
Mulai dari satu bisnis itulah bisnis Crown Group berdiri, dari satu usaha bergabung dengan grup usaha lainnya.

(lihat wawancaranya di Vivanews)

Pemilik Kaos C59 Pengusaha Marius Widyarto

Profil Pengusaha Marius Widyarto


pembuat kaos c59


Siapa sih pemilik Kaos C59 ialah pengusaha Warius Widyarto. Kaos C59 yang asli Bandung, dan buat yang belum tau, kaos merek C59 telah menjadi legendanya kaos sablon lokal. Kaos merek ini punya ciri khas ikon, tulisan, serta gambar- gambar lucu.

Marius Widyarto, adalah orang dibalik desain dan nama bekennya, siapa sangka bisnis yang dimulai sejak 1980 ini, cuma bermodal uang Rp.5 juta. Pemasaran cukup melalui kediamannya sendiri di Jalan Caladi nomor 59, Bandung, Jawa Barat.

Soal nama kalian pasti sudah menduga dari mana C59 itu berasal. Pada tahun 1980 menjadi titik balik bagi seorang Marius Widyarto atau sering disapa Kang Wiwid. Di tahun tersebut memilih berbisnis berarti harus sedikit berkorban.

Nekat Bisnis


Ia menggunakan uang kado pernikahan sebesar Rp.5 juta untuk modal. Uang tersebut dibelikannya saebuah masin jahit serta dua buah mesin obras untuk modal pertama. Tak langsung bekerja, ia harus memanfaatkan sedikit bantuan dari teman terdekat dan beberapa kenalan.

"Ya kalau sekarang besaran nominal, jaman dahulu di 1980-an mungkin sebesar Rp5 jutaan," ungkapnya saat berbincang dengan okezone.com.

Awalnya, Kang Wiwid cukup mengandalkan jaringan disekitarnya, seperti teman- teman terdekat yang juga kebetulan mempunyai komunitas hobi, seperti motor, terjun payung, off road, dan lain sebagainya.

"Saya punya teman banyak, komunitas motor, terjun payung, dan off road. Itu  menjadi network pemesanan kaos," bebernya. Usaha tersebut dimulai bersama sang istri tercinta Maria Goreti, dan seorang pembantu.

Kala itu angan- anganya agar bisa membuat sesuatu yang berbeda dari yang lain. Pada tahun- tahun itu bisnis kaos oblong sudah marak.

"Dulu sudah ada pesaing, tapi bagaimana saya mendesain t-shirt dengan desain yang aneh. Waktu itu sablonan kalau di cuci hilang. Akhirnya saya menciptakan bagaimana sablonan ini tidak hilang yaitu dengan sablon karet. Di situlah mulai booming," jelasnya.

Selain keunikan dari jenis sablon yang tidak mudah hilang tersebut, C59 masih punya kunikan lain. Laki- laki yang memang dikenal akan kreatifitasnya ini, mengatakan hal lain yang unik dari kaos sablonnya ialah cara pengerjaan kaosnya.

Kaosnya tidak memiliki sambungan disisi kiri dan kanannya, ini membuat kaos terasa lebih nyaman karena lebih halus terktur dalamnya. Dua hal tersebut yang menjadikan kaos oblong C59 unik, dan ini menambah nilai jual diantara ketatnya persaiangan.

"Seperti misalnya, kaos tidak ada bagian sambungan, di bagian kanan dan kiri ini tidak ada sambungan. Itu yang menjadi salah satu unique selling point dari saya, meski ini berawal di gang sempit. Memang bukan saya yang pertama, tapi produk ini banyaknya di luar negeri," terangnya.

Sebelum menemukan jalannya, ketika masih belum sesukse sekarang, Kang Wiwid sekedar melayani kaos bergambar yang teknik pengerjaanya masih sangat sederhana, hanya menggunakan sistem komputer. Tak ada nilai jual untuk bisnisnya.

Yang terpenting dari seorang pengusaha menurutnya adalah keberani untuk mengeluarkan ide kreatif. Dari awalnya hanya obrolan santai, jika kita kreatif sebagai pengusaha maka bisa menjadi ide dalam membuat sebuah desain kaos.

"Dulu pas sekolah, ide nakal, cerdas, simpel. Kata-kata selalu ada. Ide kreatif bisa berasal dari mana saja, celetukan. Karena saya punya ide. Saya tidak bisa meggambar, manfaatkan teman yang bisa gambar, tidak punya punya uang manfaatkan teman yang orangtuanya punya pabrik kaos," jelasnya.

Kini, usaha kecilnya tumbuh besar, mempekerjakan 559 ribu karyawan semakin jauh berbeda di awal 1980-an silam. Pada 1990, C59 semakin berkembang dengan membangun pabrik dan fasilitas modern bersamaan dengan dibangunnya toko retail (showroom) pertama di Jalan Tikukur nomor 10. 

Ia enggan menyebut berapa omzet perbulan yang bisa dikantongi. Dia menjelaskan ringkas bisnis yang digelutinya telah mampu menghidupi 559 karyawan yang dulu hanya tiga orang saja, ia dan istri ditambah seorang pembantu.

"Masalah pendapatan, sekarang yang jelas saya bisa menghidupi 559 orang karyawan saya. Saya tidak bisa berbicara tentang omzet. Untuk jumlah produksi saya juga tidak bisa memberikan secara besaran angka. Ya kira-kira per bulan 59 ribu pieces," jelasnya.

"Untuk harga per pieces, kira- kira Rp59 ribu, hitung saja (untungnya)," terangnya sambil berkelakar.

Sejak 1993-1994, kaos sablon C59 berdiri secara sah sebagai perusahaan berbentuk Perseroan terbatas dengan Marius Widyarto Wiwied sebagai direktur utamanya.

Rahasia Bisnis

 
Sementara itu, seiring dengan perkembangan jaman, pada 2000 silam, di usia yang ke-20, C59 mulai memasarkan produknya ke Eropa Tengah seperti Ceko, Slovakia, dan Jerman. Dia sukses membenahi usaha ini menjadi retail besar.

Untuk dalam negeri kaos C59 melakukan ekspansi ke beberapa kota besar di Indonesia, melalui toko sendiri dan menjalin kerja sama dengan Ramayana Departement Store sebagai distributor untuk Jakarta, Balikpapan, Yogyakarta, Ujung Pandang, Lampung, dan Malang.

Kaos C59 juga menjalin kerja sama dengan PT Matahari Departement Store. Konsep dan varian produknya juga berubah dari "Basic t'shirt" (Kaos Oblong) menjadi "Fahion Apparel" dengan segmentasi kalangan remaja usia 14-24 tahun.
 
Jalan menjadi pengusaha memang tidak gampang. Berkat inovasi, ditambah kerja keras dan tekat. Kang Wiwid memang memiliki tekat berwirausaha. Menjadi wirausaha dapat dijalankan siapapun. Namun ia selalu mengingatkan untuk menjalankan dengan cinta.
 
Bisnis garmen kaos C59 dimulai dari gang kecil di Bandung. Usahanya PT. Caladi Lima Sembilan sudah diminati masyarakat. Total delapan kantor cabang berdiri. Dari 230 juta jiwa dipastikannya pasti membutuhkan kaos.

Tahun 1980, Kang Wiwid langsung menginisiasi kaos kreatif, desainnya belum banyak dilakukan orang dulu. Kini mungkin sudah banyak menyaingi tetapi telah kalah. Brand C59 sudah besar hingga sulit ditinggalkan.

Usaha ini dibangun bermodalkan mesin jahit. Kang Wiwid dapatkan sebagai kado pernikahan. Lewat seorang teman digadaikannya ijazah SMA. Dia mendapatkan modal bahan baku. Suplai bahan baku ia dapatkan cuma bermodal kepercayaan.

Marius bekerja sama dengan Pameran Dirgantara Bandung tahun 1986. Ia menawarkan kaos berdesin kedirgantaraan. Jamannya kaos sablonan alumni Universitas Parahayangan Bandung, Fakultas Ekonomi tahun 1986, ternyata laku keras karena kualitas tinggi pada masanya.
 
Kang Wiwid pun tidak segan berinvestasi peralatan baru. Kemampuan samblonnya mampu memenuhi pesanan masal. Maka Kang Wiwid mampu mencetak omzet sampai Rp.5,6 miliar.

Pemilik Istana Boneka Wirausaha Butuh Nyali

Profil Pengusaha Susan Soewono

 
istanaboneka.png
 
Pemilik Istana Boneka Susan Soewono tidak menyangkan. Wirausaha butuh nyali dimulai ketika tahun 2000 mulai menjahit. Dia berbisnis kreatif membuat boneka. Butuh perjalanan panjang telah dilalui hingga kini bisnisnya sukses mendapatkan lisensi dari Disney. 
 
Ketika itu, dia sudah mempunyai satu usaha mini market di Simpang Borobudur di Malang, Jawa Timur. Karena toko itu mulai ramai, Susan lalu berpikir untuk membuka usaha lain. Munculah ide untuk membuka toko boneka.

"Karena belum ada toko boneka di Malang, maka saya putuskan untuk membuat toko boneka. Ketika itu, saya mendapat pinjama 0,5 kg emas dari teman sebagai modal," jelasnya.

Usaha boneka


Di awal, ia hanya mengambil boneka dari para supplier untuk dijual lagi. Lama- lama, kok dia merasa apa yang dijualnya sama dengan apa yang dijual di luar sana. Lalu, dia mulai membuka home industry di samping rumahnya untuk memproduksi boneka. 
 
Warga kota Malang mulai menyukai boneka-boneka yang dijual di toko itu. Secara perlahan, ia pun membuka pabrik boneka sendiri. Istana Boneka atau Isbon, tidak hanya fokus pada segmentasi anak- anak saja tapi boneka aneka usia.

"Memang mayoritas anak-anak, tetapi boneka bisa juga dibutuhkan oleh orang dewasa, misalnya untuk kado, atau untuk acara lamaran dan pernikahan. Biasanya kami membuat suvenir berupa boneka. Jadi, konsumennya luas mulai dari anak-anak hingga orang dewasa," ungkapnya.

Dari sebuah toko kecil di Malang, Susan akhirnya melebarkan sayapnya kemana- mana. Toko boneka Isbon mulai punya cabang di sejumlah kota seperti Jakarta, Bali dan Bandung. Hingga kini, sudah ada 40 cabang toko Isbon di seluruh Indonesia. 
 
Cabang ke-41 akan dibuka di Bandung, bulan depan. Ada yang unik dari boneka yang dijual di Istana Boneka yaitu mempunyai garansi seumur hidup. Ini dilakukan agar konsumen bisa tetap ‘memelihara’ boneka yang dibeli di Isbon bisa tetap bertahan lama.

"Jadi, semua yang membeli boneka di Isbon akan dapat sertifikat Lifetime Guarantee. Kalau untuk mengganti kacing yang copot atau mata yang hilang itu gratis, tetapi kalau untuk mengisi busa atau mencuci, maka akan chargenya. Servis ini kami berikan demi kepuasan pelanggan," jelasnya. 
 
Harga bonekanya tidak terlalu mahal berkisar antara Rp.100 ribu hingga Rp.350 ribu. Susan sendiri mengaku memperhatikan betul soal harga. Dia punya pengalaman sendiri tentang harga bonekanya.

"Ketika itu pas hari Lebaran dan anak-anak di kota Malang ada yang datang ke toko Isbon sambil membawa uang angpau yang mereka terima. Wajah mereka sangat senang karena akan membeli boneka di toko Isbon. Ternyata, setelah dihitung, uang mereka tidak cukup. 
 
Ketika itu, kami memang belum memproduksi boneka ukuran kecil. Salah satu pegawai kami sampai berlinang air mata melihat wajah sedih anak-anak itu," jelasnya.

Sajak saat itu, Susan memutuskan memproduksi boneka dengan ukuran yang lebih kecil dan harga lebih murah. Selain itu ia pun mengadakan acara bagi- bagi boneka gratis kepada anak- anak. Setiap harinya ada lima boneka asli yang dibagi- bagikan. 
 
Soal boneka apa yang dibagikan juga unik. Susan menggunakan media Twitter untuk anak- anak menyampaikan boneka apa yang mereka inginkan.

"Nanti tim sosmed kami yang akan pilih pemenangnya. Biasanya, yang kami pilih anak-anak dari daerah yang tidak ada toko Isbonnya dan yang ada JNE-nya tentu biar pengirimannya mudah. Mereka cukup mengatakan, saya ingin boneka Winnie the Pooh," jelasnya.

Menurutnya melihat raut wajah anak- anak yang bahagia atas bonekanya punya kesan tersendiri. Menurut Susan kebahagiaan di wajah anak- anak itu memberikan perasaan tak terkira, tidak bisa diukur dengan uang. 
 
Kebahagiaan itulah yang menjadi konsep berbisnis Istana Boneka. "Happy oriented, bukan money oriented," tegasnya. Dia juga menjelaskan karyawan juga punya bagian saham disana, meski Istana Boneka bukanlah perusahaan terbuka.

Jika anda tertarik hasil karya mereka silahkan kunjungi laman www.istana-boneka.com atau bisa berteman di Facebook dengan Istana Boneka serta di akun twitter @istanaboneka.

Demam film Frozen keluaran Disney ternyata memberikan blessing in disguise bagi Susan Soewono, pemilik Istana Boneka. Dia dipaksa oleh Disney untuk menyerahkan semua boneka Frozen yang dibuatnya karena dianggap sebagai barang bajakan. 
 
Waktu itu dia harus menyerahkan satu truk yang dikirim ke Amerika yang akan dimusnahkan sebagai barang bajakan.

"Saya kirim semuanya, satu truk boneka karakter Frozen ke Amerika. Ketika itu saya minta kalau bisa boneka itu jangan dibakar, tetapi otoritas di sana mengatakan semua barang bajakan harus dimusnahkan. Jadi, saya harus merelakan boneka Frozen itu dibakar," kata Susan kepada suara.com.

Peristiwa ini terjadi sekitar Maret 2014 itu tidak membuat Susan patah arang. Ia kemudian mengajukan diri untuk mendapat izin lisensi dari Disney secara langsung. Awalnya, pihak Disney di Amerika Serikat pesimistis lantaran Indonesia dinilai sebagai gudangnya produk bajakan. 
 
Untuk mendapat lisensi itu disebut Susan tidak mudah. Selain harus merogoh duit cukup dalam tentunya, standar yang diterapkan oleh Disney juga tinggi.

Pihak Disney harus melihat langsung pembuatan boneka di pabrik, mengecek tingkat kesejahteraan dan keselamatan pekerja pabrik.

"Ada tim Disney yang diterjunkan langsung, tapi setelah melihat kondisi pabrik  kami akhirnya lisensi itu diberikan," ujar Susan.

Memang Susan merogoh kocek dalam- dalam. Dia menolak menyebut berapa besarnya biaya mengurus lisensi itu. Kata dia, sejak lama dirinya memang sudah punya keinginan untuk bisa mendapatkan lisensi dari Disney, namun tidak tahu caranya. 
 
Hingga saat ini, pihak Disney selalu meminta satu hasil produk untuk dicek, mereka meminta satu boneka untuk dikirim ke Amerika. Oleh karena itu boneka dari Isbon sangatlah berkualitas, kualitas internasional, meski begitu harganya tidak sangatlah mahal khas produk bermerek.

Isbon sendiri dinobatkan sebagai pemegang lisensi terbaik oleh pihak Disney pada Juli 2014. Saat itu digelar pameran boneka oleh pemegang lisensi Disney di Indonesia.  
 
"Isbon dipuji menjadi yang terbaik, bahkan boneka kami juga diminta untuk dikirim ke kantor perwakilan Disney di Singapura untuk dipajang di sana," ungkap Susan. Berbagai boneka karakter film Disney itu selain Frozen, ada juga Big Hero 6, Star Wars Rebels, Sofia The Firs dan lain sebagainya.

Harga boneka - boneka itu pun bervariasi, mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 2,5 juta.

"Semua boneka di Isbon merupakan buatan tangan, tapi kualitasnya tidak kalah dengan produk impor," paparnya kepada Liputan 6. Pemilik Istana Boneka menegaskan bahwa wirausaha butuh nyali.

Sahril Berbisnis Mangga Ekspor Keluar Negeri

Profil Pengusaha Sahril Sidik

 
pebisnismangga.png

Sahril Sidik usianya 28 tahun memutuskan bekerja saja. Dia berbisnis mangga ekspor keluar negeri. Mangga yang bernama gedong gincu memang digandrungi. Berawal dia yang bekerja menjadi pegawai kapal kargo. Dia berlanjut menjajal menjual produk ekspor sendiri.

Dikisahkan pengusaha muda ini pernah berniat menjadi abdi negara. Ia sempat masuk Sekolah Tinggi Pemerintah Dalam Negeri (IPDN) di Sumedang, Jawa Barat. Merasa tidak betah, Sahril bersama teman- teman memilih kabur dari sekolahnya ke Sumedang.

Ia melanjutkan pendidikan di Akademis Maritim Cirebon sampai tamat. Ijasah dan pengetahuan cuma dia pakai 11 bulan. Dia bekerja di perusahaan kargo. Alih- alih lanjut melaut, malahan dia berjualan mangga gedong gincu.
 

Ekspor Mangga


Tidak sekedar petani melainkan pengusaha muda. Sahril lantas berbisnis mangga ekspor keluar negeri. Dirinya tidak cuma menanam tetapi memasarkan. Usaha Sahril bermula ketika mendekati wanita bernama Cucu Sumiyanti, istrinya kelak.

Dimana dia sering berkunjung ketika masa pendekatan. "Pada masa- masa pendekatannya, saya sering berkunjung ke rumahnya dan disuguhi mangga gedong gincu. Karena enak, saya habis banyak," ujar ayah dari Rizki dan Mila.

Buah mangga jenis Indramayu cengkir. Bedanya di buah terdapat semburat merah di pangkal buah, bentuk membulat, rasa daginya manis, dan serat halus. Mangga jenis gedong gincu banyak ditanam di kawasan Majalengka, Cirebon, dan Jawa Barat.

Pengalaman tersebut membawanya menjajal bisnis buah. Berbekal menyewa dua batang pohon asal daerah Desa Pasirmuncang, Kec. Penyingkiran, Kab. Majalengka seharga Rp.1,6 juta. Ditambah dia menggelontorkan biaya pemeliharaan total Rp.2, 3 juta.

Harga perkilogramnya Rp.15.000 dan ambil untung 200 persen. Keuntungan sebesar tersebut belum ia bayangkan bila diekspor kelak. "Itu baru saya jual ke saudara. Pikir saya, apalagi kalau saya jual keluar negeri," tuturnya.

Pasar Singapura ditembuh berkat memiliki teman. Kebetulan temannya sering sekali melakukan lelang lukisan ke Singapura. Sahril suka bantu- bantu temannya itu. Nah, dia lantas meminta bantuan buat membawa beberapa sampel mangganya.

Lelaki berdarah Aceh tersebut sangat mengutamakan kualitas. Alhasil dia memberikan produk paling bagus hingga menarik. Permintaan skala besar berupa sampel di tahun 2004, ia diminta mengirim sampai 15 ton dan berlanjut di 2005, dan 2006 ekspornya mencapai 113 ton.

Keberhasilan masuk ke pasar Singapura membuatnya bersemangat. Khususnya buat dia memperluas lahan tanam. Di tahun 2004, dia menyewa lahan seluas enam hektar milik beberapa petani. Di tahun 2006, sang pengusaha muda menyewa kebun mangga seluas 30 hektar di Majalengka dan Cirebon.

Rahasia Pengusaha


Sahril tampil lebih percaya diri. Berkat banyak teman dirinya mudah mengembangkan bisnis. Semua itu berkat pengalamannya berorganisasi, ia pernah ikut Forum Komunitas Taruna Maritim Indonesia (Forkatami) dan juga Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Dia bahkan telah memasuki pasar Amerika Serikat. Berkat bantuan seorang teman membawa mangga sampai ke sana. Koneksi pertemanan Sahril meluputi alumni dan berbagai profesi. Mereka biasanya sesama anggota organisasi dan alumni lain dari daerah lain.

Ia terhubung melalui ikatan persamaan visi. Sahril termasuk orang yang mudah berteman. Berkat ikatan teman, katanya mangga gedong gincu sudah masuk Gedung Putih, dinikmati sebagai camilan buat staf kepresidenan Amerika.

Persyaratan mangga masuk ke Amerika terbilang ketat. "Berat minimalnya 2,5 ons, penampakan bersih, bebas residu pestisida," jelasnya kepada Kompas.

Mengapa Sahril cepat mengembangkan bisnisnya. Ternyata berkat bantuan rekanan Singapura. Yang ia rela mengeluarkan pinjaman usaha buat Sahril. Dia bahkan mendorongnya untuk mengikuti pelatihan agrobisnis.

Ia memperkaya diri pengetahuan akan mangga. Sahril juga diajak menjadi pembicara mengenai buah mangga. Sahril tak ragu membagikan pengetahuannya. Disaat ini, ia telah melakukan pembinaan ke 50 petani. Sahril menegaskan, bahwa peluang berbisnis mangga ekspor keluar negeri masih luas.

Dia menyebutkan permintaan datang meluas dari China dan Turki. Kesulitan terbesar membina petani buah adalah pola pikir. Mereka berpikir kalau pohon mangga merupakan warisan. Prinsipnya pohon itu akan berbuaha walau tanpa dipelihara.

Pemeliharaan wajib karena mengikuti standar ekspor. Buat non- standar maka Sahril akan menjual ke pasar lokal. Adapula pasar lokal menghendaki mangga kualitas ekspor. Khusus swalayan yang mana targetnya menengah atas. 
 
Kualitas mangga non- ekspor sangat melimpah. Sahril memutar otak menciptakan bisnis jus buah. Dia menggandeng pabrikan di daerah Surabaya. Sahril tetap berpatokan standar ekspor Singapura. Kalau di Indonesia asal ada uang pasti bisa diekspor, tetapi ya resiko dikembalikan.

Bocah 13 Tahun Jadi Pengusaha Fudge Terkenal

Profil Pengusaha Fraser Bawtree

 

pengusahafudge.png
 

Wajahnya terpajang berkat jadi pengusaha fudge terkenal. Bukan sembarangan bocah 13 tahun ini masuk halaman muka Time Magazine. Ini berkat kepiawaian sosok Fraser Bawtree mengolah kue. Dia muncul di majalah Time for Kids Magazine.


Ini berkat resep kue milik sang kakek. Dikisahkan ia mencoba membuat resep kue milik kakeknya. Berkat kue dia membangun suatu perusahaan. Pertama usianya masih 11 tahun dan beromzet 220 juta. Lalu di tahun lalu, dia mulai mempekerjakan manajer orang dewasa.

 

Bisnis Kue Fudge


Berkat bantuan pegawai ia mampu hasilkan 770 juta tahun ini. Uniknya Fraser mampu menjual sampai keluar Amerika. Bayangkan ia menjual sampai penjuru Eropa dan Jepang. Ayah Fraser berkata anaknya ini cuma coba- coba membikin kue. 

 

Ia mengenang ayahnya, kakek Fraser, memberikan resep ketika masih kecil. Kakeknya senang melihat Freser membuat kue. Mereka senang membuat kue terutama fudge Scotlandia. Ayah Fraser mengenang sang kakek adalah guru fisika, dan telah meninggal diusia 66 tahun.

 

"Ayah saya membuat kue dan sering mengajari Fraser cara membuat biskuit, selai, dan fudge," jelasnya lagi.


Mereka tinggal di Cheletnham dan senang akan kesuksesan bocah 13 tahun ini. Ketika Fraser masuk sampul majalah Time merupakan suatu kehormatan. "Aku sangat bangga mencapai sebuah goal. Hal ini benar- benar meningkatkan kepercayaan diri," ucap Fraser.


Pengusaha fudge terkenal ini melanjutkan, "aku ingin terus membangun bisnis ini. Suatu pengalaman bisnis yang riil bergerak dari pembuatan fudge di rumah ke sebuah pabrik khusus." Taukah bahwa ia menderita disleksi. Ini menyebabkan dirinya sulit menulis atau membaca.


Ini sangat sukar dihadapi terutama menjalani pendidikan. Fraser kesusahan mengerjakan tugas. Tetapi dari membuat kue semua beban hilang. Membuat kue meruapakan cara merileksasi seorang Fraser. Ini juga menjadi bisnis menjanjikan. Fraser tidak pusing lagi masalah penyakit dan masa depan.


Unik Fraser sangat pandai matematika. Menghitung pengeluaran biaya sampai margin untung mudah. Dia belajar matematika praktikal. Ia menikmati proses membuat kue terutama kue manis. Fraser pun diundang celebrity chef, Jamie Oliver.


Dia diajak mengikuti BIG Festival memamerkan produk. Diversifikasi dilakakun oleh Fraser meliputi raisin, permen, mashmallow, dan gift packages.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba