Pendiri Joger Biografi Joseph Theodorus Wulianandi

Biografi Pengusaha Joseph Joger


biografi pendiri joger

Kisah pendiri Joger Bali usaha pakaian terunik dunia. Biografi Joseph Theodorus Wulianandi, tentu asing diletinga kamu, tapi bicara produk, siapa yang tak kenal produk merek Joger. Ya, kali ini kita berbicara tentang pendiri sekaligus otak dibalik tulisan nyeleneh.

Joseph Theodorus Wuliandi, atau bisa juga Mr.Joger.BAA.BSS, singkatan dari Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-siapa. Dia lah sang maestro dibalik produk- produk unik, aneh, dan gila, bahkan kata- katanya terkadang "menipu", tapi entah mengapa kita begitu menyukainya.

Pemilik pabrik kata- kata mengungkapkan bahwa dia tidak memiliki kemampuan berbahasa khusus dan dia bukanlah orang pintar hanya orang yang memiliki tekad untuk maju terus. Minimal tidak menjadi seorang pengangguran atau kemudian menjadi sampah masyarakat di negeri tercintanya ini.

Menjadi Pengusaha


Itulah motivasi utama Mr. Joger. Dia hanya mempunyai keyakinan dan keberanian sebagai modal awal untuk membangun karya- karyanya. Pria kelahiran Denpasar, 9 September 195, yang menyebut dirinya memang berbeda sejak kecil.

Hidupnya ialah merdeka, tidak terikat, dan unik, persis seperti karya- karyanya kini. Karakter ini pula yang melekat dalam produk Joger hingga sekarang. Baginya "Sedikit itu lebih baik asalkan cukup" daripada "banyak tapi masih merasa kurang."

Tapi akan lebih menyedihkan jika miskin tidak bahagia pula. Alkisah, Pak Joseph ini atau kemudian dikenal dengan Mr Joger di sekitar tahun 1970an, yang sedang menempuh kuliah di Hotelfachshule, Bad Wiesee, Jerman Barat, berkenalan dengan Mr. Gerhard Seeger.

Keduanya menjadi kawan akrab yang sangat baik seperti saudara mungkin. Saking baiknya, saat Mr Joger menikah dengan istrinya Ibu Ery Kusdarijati, Mr Gerhard Seeger rela memberikan hadiah uang sebesar USD 20.000. Uang yang banyak itu, jika di rupiahkan, akhirnya dipakai untuk modal usaha.

Awalnya sih tak terpikirkan nama apa, tapi karena mengingat kebaikan sang sahabat, jadilah Pak Joseph menggunakan nama Gerhard dalam bisnisnya. Joseph berinisiatif menggabungkan namanya dan Mr. Gerhard menjadi satu.

Jadilah nama Joger tersebut, jika dilihat seksama merupakan gabungan Joseph dan Gerhard. Bermula dari satu toko souvenir kecil di Jalan Sulawesi, Denpasar, di depan Pasar Badung, nama Joger resmi dilahirkan tanggal 19 Januari 1981.

Nama Joger ini melekat terus, hingga akhirnya pada tanggal 7 Juli 1987, Joger membuka satu toko souvenir besar di Jalan Raya Kuta, Bali, yang semakin ramai, sampai sekarang. Tadinya yang hanya berencana membuka satu toko besar akhirnya memilih membuka satu lagi.

Alasanya karena membludaknya pengunjung yang mengejutkan si pemilik sendiri. Mereka sampai memenuhi jalan di depan toko, membuat kemacetan, dan tempat parkir kecil itu selalu penuh oleh berbagai kendaraan bermotor.

Setiap hari, ribuan pengunjung mendatangi pusat kata- kata Joger. Bahkan, kalau hari libur nih, untuk masuk tokopun mesti antri saking banyaknya orang yang akan masuk.

Dan bermula dari kaos, sekarang ini di Joger banyak sekali item produk yang bisa dibeli, mulai dari souvenir kecil, tas, batik, kaos, stiker, jam aneh yang memutar tidak searah jarum jam biasa, bahkan hingga sandal dan sepatu. Semuanya laris manis diburu pengunjung, terutama kaos khasnya.

Perjuangan hidup


Ternyata dibalik kesuksesan besar itu ada proses yang perlua dijalani. Kala sekarang, Joger sudah punya beberapa mesin sendiri, dengan proses digital yang cepat, bahkan hampir tak pernah berhenti karena saking banyak pesanannya.

Saat awal mula sekali, Joger merupakan perwujudan kerja keras Joseph dan istrinya, yang kala itu hanya berbisnis sovenir biasa. Belum punya mesin membuat Mr. Joger tak putus asa. Dia melakukan semuanya sendiri dari pembuatan dan penciptaan kata- kata unik itu.

Karena belum ada mesin, desain tersebut akrhirnya ia "orderkan" kepada orang lain yang punya mesin. Saat itu, semuanya dicetak manual. Desain dan kata-kata original khas Mr Jogerpun akhirnya mulai dijajakan di tokonya. Di salah satu sudut ruangan toko berbaris produk karyanya.

Tantangan selanjutnya membangun merek, sekaligus merebut kepercayaan orang untuk membeli produknya. Mr. Joger tetap pantang berputus asa. Mr. Joger memanfaatkan beberapa koneksi untuk menjajakan produknya pada wisatawan lokal maupun asing.

Joseph bergerilya dari mulut ke mulut, dari satu tourist guide ke tourist guide yang lain, mengabarkan kepada mereka agar mau merekomendasikan produk Joger kepada mereka para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Lambat laun tapi pasti, kerja kerasnya mulai mendapatkan hasil. Dengan keunikan produknya yang memang berbeda dari biasanya, ia mulai mendapatkan perhatian dari banyak pihak, termasuk media masa. Mereka mulai meliriknya menjadi sumber berita.

Muncul lah profilnya di berbagai media masa, baik itu lokal maupun nasional. Sejak kemunculannya di berbagai media inilah, tidak pelak lagi, Joger mulai menancapkan kakinya menjadi salah satu barang souvenir wajib yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Pulau Dewata.

Yang menarik dari Joger adalah kreativitasnya yang seakan tidak pernah surut di tangan Joseph. Konsep kata-kata yang digunakan begitu orisinil, unik, menggelitik, dan penuh sindiran. Tetapi tidak bisa dipungkiri, kata- kata yang terkesan konyol itu sangatlah filosofis, dan penuh permenungan.

Kreativitas itu pun sepertinya tidak pernah berhenti disitu. Konsep pemasaran yang tidak biasa yang dijalankan Joger sangat berhasil (Istilah kerennya Anti Marketing).

Orang biasanya selalu hanya ingin mengungkapkan hal-hal baik pada dirinya, tetapi sejak awal, Joger bilang: "Joger jelek, Bali bagus". Tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras.

Joger bukanlah berhasil dengan tiba-tiba. Keberhasilan Joger berasal dari upaya kerja keras terus menerus dari pemiliknya, dan juga tim kerjanya. Mereka melakukan berbagai cara dan upaya agar tokonya bisa besar.

Mereka terus mencoba konsisten agar produk buatannya tetap kreatif, dapat diterima, dan semakin dapat memberikan manfaat.

Usaha Ikan Bakar Babe Lili Penuh Perjuangan

Profil Pengusaha Babe Lili


ikan bakar babe lili

Usaha ikan bakar Babe Lili memang fenomenal. Rasanya sudah tidak terbantaskan, diulas berbagai media masa. Tak aneh memang, namanya begitu melejit tidak hanya di kalangan masyarakat, tetapi artis, dan para pejabat. Rasanya enak mumpuni memiliki cita rasa khas.

Restoran miliknya yang berdiri di jalan Wahid Hasyim tak pernah berhenti bau ikan dibakar. Aromanya begitu kuat dari alat- alat pembakaran ikan itu, tapi siapa sangka itulah, restoran yang berdiri sejak 1996 hanya bermodal Rp.38.000 sudah besar

Berkat kegigihan restoran tersebut telah bermetamorphosis menjadi restoran besar. Usaha ikan bakar Babe Lili bukan kaleng- kaleng.

Bisnis serabutan


Pekerja serabutan, begitulah kehidupan pria yang bernama asli Mardji, sebelum akhiranya berdagang. Sejak usia 11 tahun, Babe Lili keluar dari rumahnya, hidup sendiri tanpa bantuan keluarga. Ia dikala masih mudah adalah seorang pengelana yang hidup tanpa tujuan.

Hidupnya berantakan bahkan sempat dianggap sudah tiada atau meninggal. "Pekerjaan apapun saya jalani, dari satpam dan supir bajaj, semua pernah saya lakukan, hingga terjebak di dunia hitam, mengkonsumsi obat-obatan," ucap bapak berusia 74 tahun ini, kalem.

"Pokoknya haram jadah!," ucapnya mengenang masa lalunya. Di tahun 2006 bisa dibilang masa dimana ia mendapatkan kesadaran dan pemikiran baru. Sebabnya, Babe Lili merasa sakit hati bukan kepalang

"Saya sakit hati melihat orang bule bisa berbisnis makanan mereka di Indonesia. Anehnya, orang kita malah menyukai makanan mereka. Saya berpikir untuk menciptakan makanan khas laut di tengah kota. Ikan bakar laut pilihan saya," kisahnya bersemangat.

Babe Lili tak cuma bersemangat tapi nekat memulai bisnis. "Ya, 38.000 modal awalnya. Dulu, saya sering menjajakannya dari rumah ke rumah. Saya keliling ke tiap perumahan untuk menawarkan ikan bakar buatan saya," lanjut sang pengusaha.

Harga jual masih murah yakni Rp.2000 perekor tidak seperti sekarang. Nah, dari sanalah ikan bakar buatannya mulai digandrungi orang. Bukan hanya dari kalangan bawah, artis dan pejabat pun banyak tertarik. Pengusaha yang memiliki 20 -an karyawan, mengaku bangga mampu menginspirasi orang.

Tak aneh jika restoran ini mampu mengabiskan 60- 70 kilogram ikan laut. Kata Babe Lili, ikan bakanya itu dibumbui setelah dibakar setengah matang. Hal tersebut agar bumbu meresap ke dalam. Di restoran H. Babe Lili ada 8 jenis ikan serta sambal dan lalapan yang dapat dinikmati bersama. 

"Ya, ada sekitar 8 jenis ikan laut yang dijual disini. Sebutlah, ikan kambing-kambing, baronang, kerapu, kakap, kue, bawal, hiu dan ayam-ayam. Selain itu, saya pun menyediakan berbagai olahan udang dan cumi," ucapnya.

Harganya pun masih terbilang cukup terjangkau, dari 35 ribu – 45 ribu rupiah. Kini bisnisnya itu telah bercabang 2 lokasi di Jakarta. Hasilnya, ia pun bisa naik haji dan keliling Eropa bersama istri dan anak tercinta.

"Sebelumnya, saya tak pernah berpikir bisa naik haji dan keliling Eropa. Alhamdulillah, ini berkah," ucap ayah 3 anak ini penuh syukur. Setelah hampir 14 tahun berlalu, Babe Lili pun memilih untuk istirahat dari bisnisnya.

Hidupnya kini tak jauh dari sajadah. Ia hanya sekali-kali terlihat di restoran induk, di jalan Wahid Hasyim, karena lokasinya yang berdekatan dengan rumahnya. Sementara, cabang-cabang restorannya ada di daerah Dharmawangsa dan Bintaro dikelola oleh anak-anaknya.

Inilah bisnis dimana kamu bisa mewarisakan sesuatu untuk dikenang dan jadi tumpuan. Usaha ikan bakar Babe Lili mengajarkan kebangkitan tanpa pandang bulu.

Usaha Angkringan Menguntungkan

Profil Pengusaha Pak Agus


usaha angkirang menguntungkan

Usaha angkringan menguntungkan terbukti muncul disemua daerah. Sudah bukan lagi dikuasai oleh daerah tertentu.Bila biasanya kita melihat bisnis- bisnis semacam ini sebagai khasnya Yogyakarta, itu salah.

Makanan angkringan telah berkembang, menjadi layaknya warung makan Tegal yang tersohor. Masih bisakah diandalkan? Ya, bisnis semacam ini dapat ditekuni dan divariasi sesuai keinginan kamu.

Bisnis tetaplah bisnis, meski sama- sama warung tegal pastilah beda antara yang di Jakarta dan kota kecil Semarang.

Makanan angkringan telah masuk kota Tangerang dan telah banyak pengusahanya. Salah satu pengusahanya adalah pasangan Bapak Agus dan Ibu Juweni.

"Mungkin karena dari sisi harga sangat terjangkau, itu yang kami jual, menyediakan makanan murah meriah, dengan kualitas tetep terjaga," ungkapnya. Disamping murah, lapak jualannya memberikan suasana berbeda dibanding warung makan biasa.

Usaha Kecil Menguntungkan


Warung angkringan yang berkonsep lesehan dimana hanya butuh tikar dan penerangan tradisional. Dari berbagai catatan, meski angkringan kebanyakan berkonsep jajanan malam, ada juga yang dijual di siang hari.

Kita tak bisa pungkiri keuntungan dari para pekerja kelaparan di siang hari. Sebuah grobak bisa jadi awal yang baik bagi anda yang berminat berbisnis angkringan. Mereka, para pembeli pastilah akan datang jika memang enak makanannya.

Inilah yang membuat keduanya yakin bisnisnya berjalan awet. Dari semula satu lapak, pasangan ini akhirnya mendapatkan tawaran seorang kolega untuk bekerja sama.

"Kemudian kami merekrut tenaga masak dari kampung kami, sekaligus tenaga-tenaga penjualnya di masing-masing lapak sampai saat ini kami memiliki 20 lapak," imbuh pasangan dari Klaten, Jawa Tengah ini.

Bagi pasangan suami istri ini, sukses punya arti kedisiplinan menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam perkembangan bisnis mereka. Mereka juga meyakini soal disiplin mengelola keuangan.

"Kami punya prinsip yang kami pegang dari pesan orang tua kami, bahwa ketika memelihara ayam itu jangan dimakan induknya tapi makanlah telurnya," ungkapnya.

Arti ungkapan tersebut diatas, menurut mereka berdua, adalah bahwa dalam menjalankan usaha ini mereka telah berusaha sekuat tenaga. Mereka sekuat mungkin agar tidak menggunakan uang modal untuk kebutuhan konsumtif, tapi mereka gunakan untuk diputar kembali.

Benar sekali, kebanyakan usaha baik baru atau lama gagal karena seenaknya sendiri menggunakan modal. Si pengusaha tak mampu memisahkan antara omzet yang didapat dengen keuntungan bersih. Ditambah lagi jika usaha belum jalan, tapi modal telah habis.

Ketika ditanya soal persaingan, dimana terdapat usaha sejenis, pasangan ini mengaku tidak takut. "Untuk persaingan, kami punya prinsip bahwa selama kami tidak menyerang dan bikin rusuh di usaha orang, Insya Alloh kami juga tidak akan diganggu," terangnya.

"Yang penting kami tetap bekerja keras menjaga kualitas serta rasa makanan yang kami tawarkan itu tadi, pembeli akan terus datang," imbuh pasangan ini.

Bisnis angkirangan membawa keduanya, Ibu Juweni dan Bapak Agus, saat ini tidak lagi menumpang hidup di rumah saudara.

"Alhamdulillah saat ini kami telah memiliki aset berupa tanah, rumah, mobil untuk operasional usaha," mengenai pendapatan bersih perbulan dari usaha angkringan menguntungkan, sambil malu-malu pasangan ini menyebutkan angka, rata-rata Rp 30 juta.

Sebuah angka yang fantastis untuk usaha sederhana seperti angkringan. Namun yang menjadi kebanggaan dan kebahagiaan batin bagi pasangan ini  adalah ada 35 orang karyawan yang hidup dari usaha ini.

"Kami sangat bahagia dan bangga secara batin bisa membantu menaikkan taraf perekonomian karyawan kami," tegas keduanya, inilah yang disebut kerja bukan soal jadi kaya.

Kuliah Sambil Usaha Kenapa Tidak Bisa

Profil Pengusaha Jessica Ekstrom


kuliah sambil usaha

Sembari kuliah, beberapa orang sibuk mengais uang, sekedar mencoba bertahan di minggu- minggu akhir bulan. Kuliah sambil usaha kenapa tidak bisa. Bayangkan kamu makan- makanan instan, dan sangat sibuk tenggelam disela- sela rak buku, sembari memulai sebuah perusahaan atau usaha.

Sudah pasti kamu tidak terbayangkan sedikitpun mahasiwa manapun. Dikutip dari entrepreneur.com, Jessica Ekstrom memulai bisnis disaat masih sibuk di kampus, bisnis bernama headbandsofhope.org.

Memulai bisnis dari kampus, kenapa kamu harus bilang tidak untuk jadi sukses lebih awal. Alasan untuk tidak memulai bisnis saat masih sekolah karena kesibukan kuliah, menjadi omong kosong belaka. Kamu akan selalu menemukan kata yang sama, tak ada waktu untuk memulai hal baru.

Entrepreneur Dimanapun


Dalam hidup kamu akan selalu ada kata "sekarang bukan waktu yang tepat". Jessica berbisnis bando atau hiasan rambut untuk si kecil, dan setiap pembelian akan didonasikan untuk kangker anak. Cara penjualan yang baik, sekaligus mengingatkan kita bahwa mahkota itu berharga.

Bisnis ini lebih baik daripada bisnis lain yang mengandalkan produk tidak jelas. Perlu diingat, dia bukanlah seorang pengusaha sejak semula, hanya seorang mahasiswi sebuah universitas.

Untuk kalian yang memilih menyelam atau tidak, berikut alasan kenapa kamu harus memulai bisnis saat ini juga. Alasan yang sama dan ditulis ulang oleh Jessica, berikut adalah alasannya memulai bisnis:

1. Kamu punya sumber modal. Ketika memulai Head Bands of Hope, ia tidak memiliki modal khusus tentang kewirausahaan, dari pengetahuan sederhana soal marketing ataupun membuat produk. Ia pun sadar akan satu hal: bahwa dirinya dikelilingi orang- orang hebat.

Ketika di kampus, profesor mu pasti mempunyai sesuatu tentang pengetahuan wirausaha. Konsultasi pertama Jessica membawa langkah pertamanya memulai sebuah bisnis kecil.

2. Membangun jaringan dan suport. Apapun yang kamu lakukan disekitar kamu adalah mereka yang sama dengan kamu, mahasiwa. Bagi mereka apapun itu jika menyangkut tentang menjadi sukses, bersama- sama kenapa tidak bisa?

Bagi Jessica siapapun kamu dan mereka, ini soal membangun sebuah koneksi, bertujun untuk sebuah kesuksesan atau melakukan sesuatu.

Pasar pertama Head Bands of Hope ialah mereka yang ada di kampus, kemudian ceritanya mengalir dari mulut ke mulut,  dari teman ke keluarga. Tujuannya adalah menciptakan efek ripple, mengalir dan tersebar luas.

Sebagai tambahan, menurutnya, mereka yang dikampus mengenal sosial media dan mencari sesuatu yang dianggap menarik, ini menjadi fondasi kamu dalam berbisnis.

3. Menjadi egois bisa diterima. Kenyataan kamu punya tanggunga jawab di kampus. Tapi, kamu memiliki sebuah tanggung jawab lebih besar setelag lulus dan di dunia nyata. Apa yang kamu punya sebagai anak kuliahan? Adalah sifat egois tentang mengerjakan tanggung jawab kamu lebih dahulu.

Kamu memiliki semua modal lalu mulai investasikan, persiapkan jiwa dan hati, lalu masuki dunia yang kamu inginkan. Bisnis bukanlah apa yang kamu khawatirkan daripada nilai ujian kamu, lakukan tahap awal tak ada salahnya jika gagal, lanjutkan jika sukses besar.

4. Kamu punya reputasi untuk menangkis. Jika jaman sekarang anak muda identik dengan obsesi kepada sosial media, malas, tak tau tentang kerja keras, bisa jadi bermanfaat. Tanggapan miring ini bisa jadi senjata ketika kamu tau itu bukanlah kamu, diri kamu adalah pengusaha.

Kamu akan disorot kamera ketika sukses itu nyata, bayangkan kamu adalah seorang entrepreneur muda ketika teman kamu sibuk bersosial media selain hidup di kampusnya.

Kamu berbeda, Jessica membuktikan sebuah bisnis bisa begitu efektif dalam marketing di jaman sekarang. Menjadi pengusaha muda itu ada untungnya dijaman yang identik dengan tanggapan miring.

5. Tak masalah jika gagal. Ia menyukai masa- masa kuliah ketika melakukan segala sesuatu diluar kotak. Kamu tak perlu takur gagal terangnya lebih lanjut. Jika saya merasa terlalu nyaman dan tak merasakan rasa ditolak, artinya saya tidak berusaha menarik diri saya cukup keras, jelasnya.

Jika kamu gagal, kamu bisa jadi seorang mahasiwa kembali. Tapi, jika kamu telah masuki dunia kerja, tak ada jalan kembali.

Yang terbaik dari semuanya adalah tentang pengalaman, satahun atau dua atau mungkin empat dan lima tahun lebih pengalaman daripada mereka yang tidak memulai sama sekali.

Sewa Mobil Mewah Pengusaha Mantan Loper Koran

Profil Pengusaha Aryanto Mangundiharjo


mantan loper koran

Pengusaha mantan loper koran yang melewati asam- manis kehidupan. Aryanto Mangundiharjo telak menemukan kenyataan pahit. Walau kelahiran asli Jakarta, kejamnya Ibu Kota sama menghajar sosok Aryanto sejak muda.

Usia 15 tahun terpaksa berhenti sekolah dan bekerja. Dia tertarik menjual koran ketimbang berkutat tugas sekolah. Arya juga jarang pulang membuat khawatir. Tumbuh dijalanan membuatnya kuat, dari sanalah dia belajar mengenai konsep anti- kemapanan dan berani ambil resiko.

Dia sudah memiliki modal keberanian tinggal kreatifitas. Keluarga Arya ini sebenarnya merupakan sosok berkecukupan. Ayahnya, Wiyoto Mangundiharjo punya usaha mapan, punya usaha penyewaan alat berat di Jakarta.

Aryo lebih memilih bekerja di jalanan. Bekerja loper koran ternyata tidak membuatnya puas. Maka ia dipaksa memutar otak. Dia merintis usaha jasa pertama. Bukan memakai sosial media atau aplikasi dari smartphone.


Bisnis Rental Mobil


Pada 1991, jamannya pager dimana cuma bisa mengirim secuil pesan singkat. Itupun dia tidak punya tetapi terdapat cara. Arya berkenalan dengan sosok pemberi pinjaman jalanan. Dia memberikan Arya remaja pinjaman Rp.300 ribu.

Dibelilah pager yang kemudian dipakai menjual jasa antar. Arya lalu menuliskan nomor pagernya ke secarik kertas. Itu lantas diselipkan disetiap koran yang akan dijualnnya. Arya pun semakin bekerja keras menjual koran.

Makin banyak orang membeli maka nomornya semakin tersebar. Berkat itu tinggal menunggu orang menghubungi. Bertahap banyak orang menyimpan nomornya dan berlangganan. Dengan sigap, Arya berangkat mengantarkan majalah atau koran langsung ke rumah.

"Sejak kecil, saya terbiasa melihat bagaimana orang tua saya berbisnis," celetuknya. Berpikir kreatif diasah Arya demi bertahan hidup dijalanan. Startegi langganan berjalan manis hasilkan lebih banyak pembeli.

Arya memang supel. Pandai bergaul dan berbicara membuat semua orang senang. Dalam tiga tahun saja, dia telah mendapatkan sertus pelanggan membeli lewat jasa antar. Arya lantas bekerja sama dengan jasa kurir.

Dia mengajak adiknya membantu pengiriman majalan dan koran. Usaha keagenan koran berbekal jualan keliling. Arya menjadi bos sampai kerjanya cuma duduk- duduk. Ia pun menyerahkan usaha itu ke adiknya; Dia ingin mencari tantangan baru.

"Saat itu saya mikir, saya masih muda, kok kerjanya sekarang duduk- duduk saja, enggak ada lagi tantangannya," imbuhnya. Itu sekitar tahun 1988, dimana usianya masih 18 tahun, jiwanya bergejolak sampai rela menjadi satpam atau sekuriti.

Pekerjaan satpam bukanlah pilihan terakhir. Dia ingin bisa mengendarai mobil. Kebetula ia bekerja di tempat jualan air mineral. Ada beberapa mobil pikap terparkir di tempat kerja. Beruntung dibolehkan pemilik belajar mengendarainya.

Arya belajar menyetir kemudian bekerja di tempat air. Dia ditugaskan mengantar air keliling. Setahun bekerja, Arya pindah profesi menjadi pengemudi taksi Blue Bird. Tapi, di tahun 1999, dia dikirim ke Bali dipindah tugaskan.

Bekalnya kemampuan bahasa Inggris lumayan. Arya pun ditugaskan menjadi sopir Golden Bird di Bali ini. Golden Bird sendiri merupakan anak usaha Blue Bird. Pasarnya penumpang kelas atas yang diantar memakai mobil mewah.

"Saat itu, saya pegang mobil Volvo," kenangnya. Di Bali, pergaulannya termasuk dengan pengusaha mobil rental. Inilah cikal usaha sewa mobil mewah sang pengusaha, Arya Mangundiharjo.

Bom Bali I meledak menyebabkan kekacauan dimana- mana. Bom meledak pada 12 Oktober 2002, yang memaksanya pulang kampung ke Jakarta. Dia tidak tinggal diam. Langsung saja berbisnis rental mobil. Dia cuma bermodal uang simpanan Rp.3 juta.

Arya cukup meminjam mobil Toyota Kijang dari kenalannya. Kemudian ia lempar ke orang yang membutuhkan sewa. Buat menggaet penyewa, Arya rela merogoh kocek demi menyewa sudut iklan surat kabar. Ternyata rencana tersebut berhasil menggaet banyak pelanggan.

Pesananan mengalir tetapi belum punya mobil. Pamor naik makin banyak teman yang mau menitip mobilnya. Bisnis rental melonjak drastis sampai berani mengikuti tender. Dimana dia ikut penyediaan mobil untuk perusahaan obat nyamuk cair.

Dia menang. Disewalah 14 unit mobil Toyota Kijang selama 3 bulan. Arya menang sewa harian. Tapi taukah kamu, bahwa Arya ternyata menyewa mobil dari orang lain, sewa bulanan kemudian disewa perusahaan obat nyamuk harian. Untung besar sampai dia sanggup membeli mobil kijang sendiri.

Wajahnya berbinar ketika menceritakan kontrak- kontrak besarnya. Dia bercerita, bahwa pernah ada perusahaan ponsel menyewa 48 unit beberapa tahun. Bisnis berlanjut, pengusaha mantan loper koran tersebut menemukan pasar mobil mewah.

Arya menemukan pasar tersebut pada 2006 silam. Dikisahkan dia menerima keluhan pengusaha asal Rusia. Dia kesulitan menemukan penyewaan mobil mewah di Jakarta. Dari rental mobil biasa lantas banting stir menjadi mobil mewah.

Sewa Mobil Mewah


Nama Jakarta Bahana berubah menjadi Jakarta Limousin. Arya nekat menjual semua mobil- mobil kijangnya buat mobil mewah. Pergaulan luas membuatnya mudah berkenalan siapapun., Dia kenal beberapa pengusaha pemilik mobil mewah.

Proposal penyewaan mobil mewah langsung dikirim kemana- mana. Dititipkan ke perusahaan besar, dari sektor migas sampai batu bara. Sewaan kemudian datang mengalir begitu mudah. Pelanggan baik pemimpin perusahaan, sampai mereka yang mau menikah, suting iklan, atau suting film.

Banyak orang kedutaan negara sahabat datang menyewa mobil. Pejabat juga menyewa mobil mewah milik Jakarta Limousin. Aneka kegiatan besar seperti KTT Asean sampai Sea Games, ikut menyewa mobil mewah milik Arya Mangundiharjo.

Tidak berhenti sampai selebriti luar negeri ikut menyewa. Ketika mereka datang, dari Linkin Park, Rihanna, Beyonce, Ketty Perry dan Justin Bieber memakai mobilnya. Arya menjelaskan, buat mereka akan lebih rumit pasalnya permintaan spesifik jenis mobil, warna, dan banyak sampai satu kru.

Alasannya biar penggemar tidak menemukan mereka dimana. Warna dan jenis mobil akan membuat penggemar menebak- nebak. Mobil mewah paling laris disewa pribadi adalah Toyota Alphard. Lalu Marchedez Benz laris disewa perusanaan dan kedutaan.

Berapa harga sewa mobil mewah ketika disewa. Harganya bervariatif antara Rp.3 juta untuk Alphard, dan Merchedez Benz antara Rp.5- 15 juta tergantung jenis. Harga sewa mobil supermewah malah bisa lebih selangit.

Kemudian ia juga memiliki Frerari Spider Seraph Rp.30 juta, Bently Flying Spur Rp.32 juta, dan Hummer H3 Limousine Rp.37,5 juta. Mobil paling mahal ya Roll Royce. Dimana mobil diatas harga Rp.10 miliar disewakan Rp.50.

Uang tersebut buat 12 jam sewa. "Tapi, itu semua bisa nego kok," tuturnya. Harga sudah termasuk buat bahan bakar, sewa sopir, minuman dan makanan ringan, buku bacaan, majalah, dan surat kabar. Ia menambahkan beberapa mobil bahkan menyediakan boday dan kaca anti- peluru.

Kelebihan Jakarta Limousine adalah memiliki sopir profesional. Mereka mahir berbahasa Inggris, diambil dari jasa keamanan, sehingga ketika datang masalah langsung dihadang. Mereka mampu melindungi kita sewaktu ada perampokan atau terjebak kerusuhan.

Buat pelanggan yang merasa butuh keamanan ekstra: Disedikan sopir bersenjata api, dimana Arya meminta bantuan Brimob dan Kepolisian. Optimisme mengalir akan masa depan jasa sewa mobil mewah.

Arya sudah melebarkan sayap ke Semarang, Surabaya, Denpasar, Solo, Jogja, Medan, Pekanbaru dan Banjarmasin.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba