Pengusaha Down Syndrome Buktikan Sukses

Profil Pengusaha John Cronin


bisnis kaos kaki

John Cronin telah membuktikan dua hal kepada kita: Pertama, pengusaha down syndrome tidak akan masalah. Kedua adalah kreatifitas tanpa batas merupakan kunci sukses kita. John mampu merubah fenomena Presiden Donald Trump menjadi peluang bisnis.

Pria 21 tahun yang menderita down syndrome asal Long Island, Amerika. Meskipun dia cuma lulus SMA dan berkebutuhan khusus, senyumnya memancarkan percaya diri untuk berjualan. Semua itu berkat dukungan keluarga yang tidak membatasi John.

Mencintai Entrepreneurship


Ia menyenangi dunia entrepreneurship berkat sang ayah. Mimpinya membuka usaha bersama sang ayah walau kecil- kecilan. Mau membuat usaha kuliner tetapi tidak bisa masak. Maka John memilih berjualan kaos kaki karena dia suka.

"Aku suka kaus kaki karena itu menyenangkan, banyak warna dan membuat kaki hangat," tutur dia.

John mencintai kaus kaki kemudian membuat desain sendiri. Produk ditawarkan John's Crazy Sock yang unik. Desain unik ditambah warna- warni dipadu padankan. Yang sempat viral adalah kaos kaki bergambar Donald Trump dengan bulu warna kuning seperti rambutnya.

Dia juga membuat unicorn, semangka, pahlawan super, dan motifnya cenderung absurd. Kaos kaki yang unik dengan sentuhan personal John Cronin. "Setiap paket ada catatan terima kasih dari ku," ia menjelaskan.

Ayah John, Mark Cronin, menyatakan bahwa sangat bangga akan putranya. Mengerjakan bisnis ini bersama memiliki kesan mendalan. Pada November 2016, mereka beruda membuka usaha ini dan tanggapannya sangat mengejutkan, maka dalam dua bulan mampu menjual 1000 pasang.

Penjualan mereka begitu fenomenal bahkan sampai kehabisan. Hasilnya John mengajak brand lokal ikut bergabung memenuhi stok pesanan. Nah sekarang ini, produk John's Crazy Sock ini memiliki banyak pabrik tersebar diseluruh dunia, dan beberapanya merupakan desain asli John.

Perusahaan ini mengirim lebih dari 42 ribu pesanan dan hasilkan $1,7 juta atau Rp.23 miliar. Tidak cuma mencari keuntungan tetapi terdapat tujuan lain. John mendonasikan 5% dari penjualan untuk jalannya Special Olympics, yakni ajang lomba dunia untuk para kebetuhan khusus.

Pengusaha down syndrome ini juga berdonasi ke The National Down Syndrome Society, atau The Association For Children With Down Syndrome, hingga badan riset kangker.

Susah Dapat Kerjaan Peluang Usaha Kaca Gravir

Profil Pengusaha Doni Alferi


sukses usaha kaca gravir

Susah dapat kerjaan pernah dirasakan pengusaha satu ini. Akan tetapi bukannya tetap mencari, Doni Alferi, membuka peluang usaha kaca gravir di Padang. Dia lebih memilih berhenti berharap kepada dunia kerja.

Tahun 1998, Doni menyelesaikan kuliah Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan Perbankan Padang. Dia  sebagaimana kebanyakan sarjana baru, Doni pun ikut mencoba mencari pekerjaan. Puluhan surat lamaran disebarkan ke sejumlah perusahaan baik nasional maupun lokal; harapannya satu diterima.

Ia sangat berharap segara mendapatkan pekerjaan secepatnya setelah selesai kuliah. Dorongannya, ia sangat merasakan rasa ingin membalas budi, terutama kepada orang tua yang telah menguliahkan. Ia merasakan hidup menganggur itu tidaklah menyenangkan.

Enam bulan ia belum mendapatkan panggilan kerja, ia mulai merasa tidak tenang. Memasuki bulan kedelapan belum mendapatkan pekerjaan sesuai harapan. Hati pria kelahiran 1973 itupun gelisah tapi dia tutupi.

"Tapi saya masih nyantai saat itu," terangnya.

Menjad Pengusaha


Setelah setahun lewat dia belum juga mendapatkan pekerjaan. Ini mulai mengusik batinnya dan membuat tidak tenang. Ia yang menyadang gelar sarjana namun belum bekerja menjadi beban. Rasa frustasi itu mulai menghinggapinya walau coba dialihkan..

"Teman- teman seangkatan banyak yang sudah mendapatkan pekerjaan, tapi kok saya belum. Tak mau hanya tinggal diam, ia memutuskan memasang target pribadi.

Kalau sampai tahun 2000 belum juga mendapatkan pekerjaan, dia akan menjadi wiraswasta saja atau menjadi pengusaha. Meski telah mengambil keputusan itu, Doni belum menemukan arah usahanya mau apa. Dia belum menentukan bisnis macam apa akan dikerjakannya.

Janji pada diri sendiri harus ditepati menjadi kekuatan tersendiri. "Karena saya sudah membulatkan tekat tahun 2000 sebagai tahun perubahan nasib, begitu saya belum mendapatkan pekerjaan juga di tahun tersebut, saya benar- benar memutuskan menjadi wiraswasta," terangnya.

Maka dimulailah perjalanan anak muda asal Padang gagal menjadi pegawai. Pada tahun 2000, Doni telah mengontrak sebuah bangunan di Jl. Hamka, Padang. Ia hanya bermodal tekat ditambah keyakinan menjadi pengusaha sukses. Di tempat itu pulalah ide bisnis bisnis muncul dibenak Doni.

Dia mendapatkan ide bagaimana jika berbisnis kaca gravir. Pertimbangannya mudah bahwa di Padang belum ada orang berani menggarap bisnis kaca hias mahal ini. Ia pun segera mencari sumber tentang bisnis ini dari berbagai sumber.

Nekat, Doni lantas berangkat ke Jakarta buat magang di sebuah pabrik kaca gravir. Magang menjadi salah satu cara ditempuh Doni agar mengetahui seluk beluk bisnis. Menurutnya menaklukan kota Jakarta akan mengasah kemampuan serta mentalnya.

Ia juga perlu tau seluk beluk distribusi kaca gravir lalu dibawanya ke Padang nanti. Benarlah bisnis kaca gravir memang sudah kuat di ibu kota, dan telah berkembang sangat pesat. Doni megang di perusahaan milik orang dikenalnya.

Selama menimba ilmu bisnis gravir tersebut ia tidak peduli jika dibayar atau tidak. Yang terpenting bagi Doni, ialah sebuah kesempatan menimba ilmu gratis. Merasa bekal itu telah cukup maka kembalilah Doni ke Padang. Dia lalu memberanikan diri membuka Kinabalu Glass.

Ini menjadi perwujudan tujuannya menjadi seorang  pengusaha. Di awal bisnisnya Doni mengaku semuanya serba terbatas. Termasuk soal modalnya untuk produksi, juga terbatas, pengalaman belum seberapa, termasuk soal alat produksinya.

Momotong kaca hingga menyemprot cat masih dilakukannya manual. Tetap pada pendiriannya. Soal pasokan bahan baku untunglah bukan menjadi soal. Bahan baku utama yaitu kaca patri di dapatnya dari seorang kenalan di Jakarta.

"Kalau bahan lainnya, seperti kaca limbah, stainless steel, dan timah bisa diperoleh di Padang," terangnya.

Bekerja Keras


Karena bisnisnya tergolong baru di Padang, Kinabalu Glass, belumlah banyak dikenal maka butuh bekerja keras. Doni turun tangan sendiri menjajakan produknya. Ia tak segan mencari satu persatu mencoba meyakinkan masyarakat sekitar.

Pesanan itu pun belum begitu banyak tetapi lumayan. Doni mengatakan waktu itu menjadi ujian berat baginya karena pengeluran. "Kontrakan tetap harus dibayar, sementara pesanan belum banyak. Hanya tekad dan semangat yang membuat saya tetap bertahan," kenang Doni.

Seiring waktu usaha Kinabalu Glass mulai dikenal masyarakat luas di Padang. Melalui penetrasi agresif serta produk -produk cantik dan apik terpajang di etalase ruko kontrakan. Bisnis Kinabalu Glass telah sukses mendapatkan apresiasi masyarakat.

Mereka merespon positif atas pelayanan selama ini. Usaha kecil itu pun tumbuh semakin besar terlihat dari pesanan setiap bulannya. Omzet bisnisnya pun naik seiring dengan kepopuleran merek dagang. Doni kini mampu mengantongi omzet hingga Rp.100 juta per- bulan.

Umumnya permintaan itu datang dari mereka di perhotelan atau perumahan. Tidak cuma datang dari Padang, produknya telah dicari mereka dari Sumatra Barat, Jambi, Pekanbaru, dan Bengkulu. Doni telah sukses berkat tekat kuat ditambah keyakinan.

Kinabalu Glass telah memiliki sebuah bengkel serta dua ruang khusus pameran. Ia mempekerjakan 16 orang sementara produksinya telah mencapai 20 meter persegi. Sebagai usaha kecil, angka tersebut bisa tergolong besar dalam jumlah produksinya.

Demi memuaskan konsumennya, Doni selalu membuat disain anyar sesuai pesanan pembeli. Produknya pun tidak hanya terbatas pada kaca jendela dan pintu, tapi juga kaca perabot rumah tangga lainnya, seperti meja dan lampu hias.

Karena disain produknya dibuat sesuai pesanan, maka harga jual yang dipasang pun bisa bervariatif. Angkanya bisa mencapai antara Rp 1,5 juta hingga Rp 6,5 juta per meter persegi.

"Tergantung pada tingkat kerumitannya," kata Doni.

Dari harga setiap meter kaca yang diproduksi, Doni mengaku bisa memetik keuntungan berkisar 25% hingga 40%. Maka, wajar jika dalam enam tahun pertama usaha berjalan, lelaki ini sudah mampu membeli sebuah rumah dan mobil sendiri.

Ke depanya, pengusaha muda ini berharap bisa membangun pabrik peleburan limbah- limbah kaca, yang nantinya bisa dipakai membuat aneka kerajinan kaca gravir. Kalau rencana ini terealisasi, maka ketergantungan akan pasokan kaca dari kota Jakarta bisa dilepaskan.

Dia pun tidak perlu menambah ongkos kirim ataupun biaya produksi. Susah dapat kerjaan ternyata memberikan rejeki berlipat ganda.

Bisnis Yogurt Singapura Butuh Pengorbanan

Profil Pengusaha Muda James Ong


bisnis yogurt sukses

Selalu bermimpi tentang memulai bisnis sendiri butuh pengorbanan. Suatu hari, James Ong akhirnya membuka bisnis yogurt dengan outlet pertama bernama Frolick. Pengusaha muda yang berusia 26 di tahun 2008, dia bersama 3 orang mitra yang tidak lain temannya di Hwa Chong Junior College.

Mereka membiayai bisnisnya tanpa mendekati bank atau tanpa bermodal hutang apapun. Mereka berprinsip menggunakan uang sedikit mungkin, namun tetap memastikan produknya kompetitif. Bisnisnya terbilang lumaya cepat karena pasarnya luas.

Sejak pembukaan kios Frolick pertama pada Februari 2008, bisnis telah berkembang dari hanya satu kios sederhana seluas 100 meter persegi, ke lebih dari 10 kios baik di Singapura dan luar negeri. Yang terbaru, mereka telah membuka beberapa kios di Myanmar.

Bisnis lucu


James Ong (30) sendiri tidak akan menyangka bahwa keputusannya berbuah manis. Dimulai dari memutuskan berhenti bekerja sebagai konsultan manajemen resiko. Ong bersama ketiga temannya, Mr Ken Hsu Chen Kang, 28; Mr Leslie Ang, 30 and Mr Lee Yingxin, 28, mencoba berbisnis.

Ia memulai bisnisnya bermodal cuma $.100.000. Mereka telah berempat memulai dari paling bawah. Kuartet ini telah tahu satu sama lain sejak di sekolah di Hwa Chong Junior College dan tetap berteman dekat bahkan setelah berbeda universitas.

Selama bertahun-cangkir kopi dan sesi brainstorming, mereka mendiskusikan spektrum ide bisnis mulai dari penjualan teh gelembung ke mengoperasikan diskotik. Mereka akhirnya menetap di yogurt beku setelah Hsu kembali ke Singapura dari Amerika Serikat.

Dia disana melihat bagaimana permintaan yoghurt beku akan kuat bahkan terus meningkat. Yougurt tidak butuh waktu banyak untuk meyakinkan teman- temannya bahwa mereka bisa meniru konsep bisnis tersebut.

Ong menjelaskan setelah dari pembicaraan tersebut, mereka berempat mulai aktif mencari informasi segala sesuatu tentang resep yogurt terbaik. Ketika berbicara resep yogurt yang kaya, lembut seperti resepnya sekarang tidaklah mudah.

Ia menjelaskan semuanya bermula dari mencoba, gagal, dan mengulang kembali. Semuanya berulang hingga delapan bulan berlalu. Makanan ringan tersebut dibuat oleh mereka di dapur milik ibunya. Mereka berempat berharap akan menyempurnakan resep itu disana.

"Ide untuk memulai sebuah merek yogurt beku muncul terutama karena mitra saya dan saya selalu ingin memulai bisnis, kita semua dibesarkan di yami yoghurt (ironi), dan yogurt beku adalah konsep yang terbukti di luar negeri (di kedua Korea dan Amerika Serikat ).

Adapun merek "Frolick", saya kira itu selalu dalam pikiran kita bahwa apapun yang kita mulai, merek harus mewakili karakter kita," terangnya. Uang modal mereka kemudian digunakan mencari kios dan tentunya membangun merek mereka, Frolick.

Ini cukup memakan modal besar ($100.000 besar buat bisnis di Indonesia) karena mereka ingin cepat sukses. Benar saja mereka ingin mematangkan bisnisnya dalam satu tahun, bahkan berani menyewa sebuah agensi.

Mereka menyewa sebuah agensi lokal yang pernah memenangkan penghargaan, Ayslum, tujuannya membangun merek serta menciptakan promosi terbaik.

Mereka kemudian berbagi pekerjaan agar membuat semua berjalan baik. Alokasi waktu menjadi hal yang terpenting karena ia hanya bekerja bersama tiga mitranya; tanpa ada pegawai. Sebagai kepala bisnis, Ong, telah menerapkan strategi khusus yang agresif lalu ditambah sedikit keberuntungan disana.

Ia dan rekannya sepakat akan membangun outlet dimana pun hingga di seluruh penjuru Singapura. Mereka didukung keberuntungan karena outlet pertama adalah tempat paling strategis.

Keputusan terbaik ialah keputusan bekerja sama dengan agensi Ayslum jelas Ong melanjutkan. Mereka adalah sebuah perusahaan terbaik yang mampu menciptakan merek sesuai apa kepribadian mereka. Adapun itu yaitu Frolick yang penuh rasa humor, mereka mampu membangun brand milik

Ong jadi terkesan ceria. Ong pun bercanda bahwa dirinya dan rekan memang belum melewati masa puber (keluarlah sebuah tawa darinya).

Seperti sebelumnya konsep kecerian dan humor terasa ditiap kemasan Frolick. Dimana mereka menawarkan semua produk melalui cara profokatif. Sebagai contoh ketika kita menemukan salah satu kios yogurt milik mereka.

Kita akan disuguhi sebuah selogan- slogan aneh di depan outlet seperti "We stay hard longer" dan "Spankingly Good" (bahasa slang terdengar nakal). Kita, sebagai pembeli, akan juga sangat cepat menganalisa ada sesuatu di layanan mereka.

Kita akan disuguhi para pelayan muda. Mereka pelayan berumur sekitar 20 tahun ke bawah dimana masih segar, sesegar yogurt milik mereka. Terasa bagaimana? Jangan salah paham, yogurt Frolick sendiri memang dipasarkan bagi mereka di umur 14 tahun hingga 24 tahun.

Kesegaran itu menjadi pilihan utama selain humor dan kecerian warna. Hari ini Frolick melihat rentetan persaingan dari merek- mereka baru yang baru-baru ini memukul pantai Singapura, seperti Berrylite Frozen Yogurt, Oio Frozen Yogurt dan yoguru.

Tapi Ong yang melihat oleh persaingan ini, yakin bahwa yogurt milik mereka dapat menahan panas dari ini anak-anak baru di blok.

"Saran saya adalah bahwa hal itu selalu lebih baik untuk memulai bisnis dengan teman dekat. Kata kuncinya adalah "dekat". Dengan cara ini, kamu tidak akan memiliki harapan palsu satu sama lain terutama soal hal kemampuan dan komitmen," jelasnya.

Juga, menjadi teman dekat yang membuatnya lebih mudah untuk menyelesaikan konflik, dan "kita semua tahu konflik yang pasti akan terjadi!," sebuah saran dari pengusaha muda.

Perusahaan: FROLICK (JKNG LLP)
Alamat: 21 Toh Guan Road East, Toh Guan Centre #05-18 S608609
Website: Frolick.com.sg
Facebook: Frolick

Demi Membayar Hutang Gadis Cantik Menjadi Pengusaha

Profil Pengusaha Kim Su Kyung


pengusaha cantik korea
 
Demi membaya hutang ayahnya, Kim Su Kyung memilih tidak melanjutkan sekolah, dan gadis cantik korea ini memilih menjadi pengusaha. Dia mencoba membuka usaha sendiri demi membayar Rp.23 miliar. Beryukur Su Kyung sejak remaja telah memilih untuk hidup mandiri.

Umurnya 15 tahun memutuskan berhenti sekolah. Dia mulai mengerjakan aneka usaha. Demi bisa membayar hutang sebesar itu sangat sulit. Tidak mungkin bisa mengumpulkan miliaran dengan usaha biasa. Namun Su Kyung tidak mau terus- terusan berpikir langsung membuka usaha.

Pilihannya ialah bisnis toko online yang dianggap mudah. Tetapi tentu Su Kyung harus menanggung resiko bila gagal. Banyak masalah muncul bukan sekedar permasalah tidak laku. Mulai dari masalah marketing sampai mengurusi barang jualan.

Bisnis Sejak Muda


Su Kyung mencoba sembari belajar ditengah jalan. Umurnya telah 21 tahun sudah melewati aneka hambatan usaha. Dia berhasil belajar mengatur keuangan perusahaan. Alhasil Su Kyung mampu buat membayar hutang ayahnya. Bisnis yang dijalankan serius membuat Su Kyung berhenti bersekolah.

"Banyak orang mengira menjalankan bisnis online tidak terlalu sulit. Tinggal unggah foto dan orang akan membeli, tapi sebenarnya tidak mudah," ia menjelaskan.

Agar bisnis online miliknya menarik maka dibutuhkan model. Su Kyung lantas meminta bantuan teman- temannya menjadi model. Ia sendiri juga cocok menjadi model pakaian. Selanjutnya, tinggal Su Kyung menunjukan selera fashionnya, nah ini sulit karena membutuhkan rasa dan pengetahuan.

Dia mengerjakan semua tahapan sendirian. Semua dilakukan sendiri dari memilih pakaian, aksesoris, siapa modelnya, pengeditan foto dan pengiriman. Pengepakan dilakukan ia sendirian sampai segitu banyaknya. Sibuk dan repot membuat fokusnya sekolah terganggu tetapi semua menyenangkan.

Gadis cantik Korea ini sedari kecil ingin menjadi pengusaha. Meskipun merepotkan Su Kyung masih bisa bergembira. Semenjak SMA, Su Kyung senang membuat scrapbook dan mengoleksi majalah fashion. Ia bersikeras menjadi pengusaha walau mengorbankan sekolah, demi membayar hutang.

Inilah cikal bakal sang CEO pusat perbelanjaan online asal Korea Selatan, Victoria Garconne. Sedari awal, Su Kyung senang memulai usaha dan mengerjakan semua sendirian. 

"Aku juga suka memperhatikan bagaimana cara orang berpakaian," tutur dia.

Su Kyung senang menata busana dan punya mimpi menjadi desainer. Ia punya cita- cita meluncurkan merek sendiri. Su Kyung senang bila baju buatanya dipakai orang banyak. Diusia 15 tahun, tentu dia tidak mengerti apa- apa mengenai bisnis.

Sembari berjalan dia belajar mengenai semua aspek bisnis. Su Kyung mengambil banyak referensi dari berbagi sumber, mulai dari internet sampai baca- baca buku kewirausahaan. Su Kyung senang mengunjungi perpustakaan.

Demi mendapatkan modal maka ia bekerja sambilan dulu. Itu sekaligus menjadi cara belajar sembari semua berjalan. Pengetahuan akan fashion yang bersumber sedari kecil sangat membantu. Su Kyung pandai memilih pakaian dari suplier di wilayah Dongdaemun.

Ia menata semua sendiri di berbagai bergaya. Dicarinya aksesoris dan perhiasan yang cocok dipadu- padankan. Lima bulan berjalan dia mampu menghasilkan Rp.350 jutaan. Bulan berikutnya, nilainya tambah menjadi keuntungan Rp.1,1 miliar dari jualan pakaian saja.

Bertahap ia mampu melunasi hutang ayahnya tersebut. Bukan sekedar itu, Su Kyung sekarang bisa membiayai enam anggota keluarga. Dia mampu memberi mereka pekerjaan. Kunci sukses Su Kyung terletak diusianya, karena masih remaja ia mampu menyasar target seumurannya.

"...jadi aku mengerti apa yang mereka butuhkan," jelas Su Kyung. Harga dipatok juga tidak terlalu tinggi tanpa mengorbankan kualitas.

Su Kyung senang meminta feedback dan berinteraksi dengan pelanggan. Di waktu tertentu, dia akan mengadakan kumpul- kumpul dan pesta diskon. Ia senang berinteraksi dengan pelanggan mengenai fashion.

Su Kyung pernah ditagih debt collector yang banyak dan bengis itu. Tidak mudah ya perjalanan sang CEO muda. Demi membayar hutang dia kehilangan masa muda termasuk teman. Su Kyung cuma punya sedikit teman dekat. Dia bertekat harus menjadi pengusaha sukses demi masa depan.

Sejarah Internet Indonesia Situs Pertama Kali

Artikel Bisnis Sejarah Internet Indonesia


sejarah kafegaul
 
Menelisik sejarah internet Indonesia ternyata sangat jauh. Dimulai dari Detik.com, menyusul aneka situs pertama kali dibuat asli Indonesia. Sebuat saja Astaga.com dan Kafegaul keduanya dikenal tempat nongkrong anak muda ketika online.

Bermula dari internet yang begitu mahal terbatas di wilayah tertentu. Anak- anak muda akan coba- coba masuk melalui internet kampus. Bahkan nih, mereka rela menginap untuk bisa online, jaman itu belum ada namanya Kaskus kalau bicara forum ya Kafegaul. 

Sementara itu Detik merupakan sumbernya berita. Utamanya Detik yang dikena sangat update soal berita. Optimisme internet luar negeri mengalir melalui sukses American Online (AOL), yang disebut oleh Time Warner, kemudian besar- besaran membangun media online.
Awal tahun 2000 -an urusan chatting anak muda lewat Kafegaul. Tinggal tulisa nama nickname tanpa email langsung bisa ke chatroom. Dulu Mirc emang ramai, namun kurang berasa lokalnya, maka ya Kafegaul tempatnya.

Tetapi taukah kamu bahwa Kafegaul dipelopori investor asing. Diperkuat oleh wartawan senior total sampai 30 orang. Ya demi cepat mengembangkan situs ini melalui waktu. Harapannya kelak internet di Indonesia akan berkembang pesat. Tidak disangka popularitas Kafegaul mengalahkan Detik.com.

Jamannya itu banyak sekali halangan anak muda buet ngenet. Mulai dari pihak kampus yang mewajibkan isi email buat identitas, lemot lah, banyak virus masuk, dimana kebanyakan memakai Plasa lalu munculah Yahoo!

Investasi masuk ke Astaga sangat besar sampai Rp.70 miliar. Modal segitu dipercaya akan kembali dalam dua tahun. Ini sejalan dengan pengguna internet naik sejalan jaringan GPRS. Juga harapan bisnis eCommerce yang makin digemari hingga sejuk buat periklanan.

Tahun 2000 -an, tiba- tiba Lippo Group membalik inti bisnis Asuransi Lippo. Maka lahirlah bisnis layanan internet ala PT. Asuransi Lippo e- Net, tbk. Perusahaan ini kemudian membuka bisnis online pertama, Lipposhop, situs berita Lippostar, dan layanan jaringan internet, D- Net.

Dibawah naungan PT. Indonesia Media Teknologi (IMT), Astaga dan Kafegaul sama dalam naungan usaha bersama. Ceritanya di tahun 1999 -an, kedua situs pertama kali dibuat itu diakuisisi perusahaan asal Afrika Selatan, M- Web. Kemudian di 2003 malah perusahaan M- Web ini cabut dari Indonesia.

Mereka meninggalkan Astaga dan Kafegaul dalam asuhan mantan pegawai. Lalu David Burke yang menjabat CEO PT. M- Web Indonesia menyelamatkan. Sang mantan pegawai kemudian mendirikan PT. Indonesia Media Teknologi, tujuannya untuk mengelola kedua situs ini.

Sejarah internet Indonesia kemudian berlanjut Kafegaul forum. Dimana memiliki 15.000 pengunjung perhari dan 200.000 halaman dicari. Disisi lain malah Kaskus naik daun bahkan sampai mendapatkan investasi patnership.

Kafegaul yang forum senior malah dikalahkan Kaskus. Kafegaul layaknya Friendster yang tenggelam karena Facebook (Kaskus). Astaga sendiri tidak kalah membingungkan karena berubah sistem. Ini tidak lagi tempat chatting melainkan situs berita.

Ketika M- Web hengkang semua aset dijual dan ditahan konsorsium investor lokal. Dikerjakan ya seadanya sampai muncul Phil Rickard dan Sandy Gunawan. Mereka membeli Astaga.com pada tahun 2012 dan berhenti beroprasi.

Astaga.com diluncurkan kembali pada 2013 dengan nama sama. Isinya udah berbeda karena berisi artikel- artikel baik berita maupun umum. Bahkan jika kamu cek, pengguna bisa menuliskan artikel mereka di sana.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba