Animator Aditya Triantoro Promosikan Kartun Nussa

 Profil Pengusaha Aditya Triantoro


pembuat kartun nussa
 
Pria kelahiran Jakarta 1989, yang pindah dan tumbuh di Amerika Serikat. Animator Aditya Triantoro mengikuti ayahnya pindah selama 9 tahun. Disini sang pengusaha menyerap dunia barat ketimbang kultur Indonesia. Adit sangat menyenangi dunia animasi dan mengerjakan konten IP.

Di tahun 2014, dia sembari mengerjakan aneka proyek animasi, terbersit pikiran membuat studio animasi. Adit baru merealisasikan pada 2016 silam bernama The Littel Giantz. Ketenaran studio ini ketika diajak artis Mario Irwinsyah dan 4 Stripe Production.

Ia memoles seri animasi Nussa dan Rara menuju layar kaca. Animasi Nussa merupakan suatu proyek harapan. Dimana karakternya memberikan harapan tontonan alternatif. Yang mendidik anak- anak agar berakhlak mulia. Ini tantangan bagi sosok Adit yang dulunya kebarat- baratan.

Memilih Karir Animator


Animator Aditya Triantoro mengerjakan proyek Nussa sejak 12 Juli 2018, pre- launching pada 11 November 2019, yang sebelumnya telah malang melintang di You Tube. Respon positif sekaligus telah ditunggu- tunggu, mengingat kualitas tayangan anak yang didapat di televisi.

Ini harapan bagi orang tua mengajarkan kehidupan kepada anak. Kartun yang mengajarkan dunia pernikahan, keluarga, dan mengurus anak. Juga bagaimana anak mengajarkan akhlak kepada sesama anak. Dari channel Youtube Nussa dan Rara telah memiliki 4,9 juta subscribers.

Menggarap serial ini sedikit banyak mulai mempengaruhi kehidupan Adit. Perasaan ingin mendalami agamanya semakin tumbuh. Hingga ia menitipkan doa kepada temannya Aditya, CFO dari The Littel Giantz saat ke Mekkah. Pertama dia menginginkan bisnis animasi mereka semakin membesar.

Tidak disangka doa lainnya adalah memantapkan keimanan. Ya, doa temannya terkabul, dan Adit semakin mendalami agama dan rajin beribadah.

Alkisah Adit kecil melihat keajaiban film Jurassic Park tahun 1993. Usianya 9 tahun tidak pernah menyangkan komputer begitu hebat. Melihat kecanggihan film tersebut sang ayah memberi sebuah penjelasan sederhana.

Bahwa komputer yang mengerjakan itu bukan sosok asli. Ayah menjelaskan komputer tidak cuma buat ngetik- ngetik. Tidak pula hanya bermain game. Kamu bisa membuat grafik yang kemudian jadi film ataupun game.

"Dari situ saya mulai ketertarikan, bahwa computer graphic bisa diaplikasikan secara luas," tuturnya kepada SWA.co.id

Pengalaman Jurassic Park membekas dalam benak Adit. Ia mulai tertarik akan dunia animasi. Tentu belum teknis ya, dia masih mengambar di atas kertas dengan cerita beralur. Baru selepas SMA, dia mulai mempelajari desain grafis dan seterusnya.

Tahun 2003, hobi menggambar membawanya membuat desain grafis. Dia mengikuti Bubu Awards Web Design dan Juara 1 se- Indonesia. Ia semakin percaya diri hingga mampu membuat animasi. Ini juga dipelajari otodidak tidak langsung bagus.

Prinsipnya bahwa semua orang memiliki passionnya. "Saya merasa animasi adalah akar saya karena story telling," ujar Adit. Melalui Nussa Official menjadi batu loncatan mengembangkan bisnis ini. Ia sendiri menyadari bahwa Indonesia belum menerima film animasi.

Youtube menjadi senjata Adit meyakinkan bahwa kita mampu. Nussa Official mampu menggaet 111 juta kali tontonan dengan cuma 21 episode. Ini membuktikan bahwa animasi dalam negeri bisa. Pasar Indonesia memang menarik, banyak animator mencoba animasi keluarga tetapi gagal di jalan.

Dia menganggap karena segmentasi mereka belum terbentuk. "Kita harus berani mengambil konsep yang berbeda dan beraninya lagi, kita membawakan agama," tuturnya. Karena agama merupakan topik sensitif maka dibutuhkan pengetahuan sejalan.

Animasi Islami banyak namun kontennya monoton. Durasi lama lebih dari 10 menit dan kurang kratif disuguhkan. Maka Nussa menyuguhkan konten pendek bahkan 1- 2 menit pun jadi. Jangan mengejar penonton panjang dengan 11- 12 menit bila cuma ditonton cuma semenit.

Ia juga mengatakan harus mencocokan dengan orang Indonesia pula. Mengapa Nussa tidak tayang di televisi sebelumnya. Dia menjelaskan bahwa tujuan Nussa adalah memberi pelajaran akhlak. Aditya juga mengkritisi televisi yang mengontrol konten animator.

Aditya tidak mau gegabah maka dibutuhkan penasehat. Inilah mengapa mereka menggaet Ustad Felix Siauw dan Ustad Abdul Somad sebagai pemberi saran. Sebelum menjadi CEO Littel Giantz, ia telah terlebih dahulu bekerja untuk Castle Production, Infinite Frameworks Studio, Sparky Animator, One Animation Singapura dan indonesia.

Singapura menunjukan bahwa orang Indonesia jago- jago. Di One Animation lah, dia bertemu orang- orang Indonesia yang menduduki jabatan sama dengannya. Mereka para animator handal dan sangat dihargai di negeri orang.

The Little Giantz memiliki 20 orang bekerja dalam tim. Awal mereka mengerjakan aneka pesanan klien dari berbagai negara, mulai dari Amerika, Jepang, Korea Selatan, Finlandia, Denmark dan Malaysia. Genre yang digarap mereka 70% mengenai hero, dan sisanya diikuti genre remaja.

Proyek mereka ditayangkan di Disney Channel, Disney XD, dan Nicklodeon. Mereka melakukan aneka kolaborasi dimana 90- 95 buatan sendiri. Mulai dari ide ceritanya, pembangunan karakter, dan cerita the Little Giantz sanggup.

Semua pencapaian tersebut tidaklah mudah apalagi otodidak. Pernah dia membantu ekonomi lewat bekerja di McDonald dan KFC. Debutnya datang ketika 2008 bekerja sama dengan rumah produksi. Ia menggarap animasi untuk iklan teh pucuk harum.

Bicara mengenani bisnis animasi maka berapa Aditya hasilkan. Tidak ada keterangan namun usaha ini tidak hasilkan satu sumber. Dari kartun Nussa tidak pula mengandalkan iklan dari Google. Mereka bermain di Internet Protocol, pendapatan dari sponsorship, kolaborasi, dan iklan.

Pengusaha Alumni Gontor ini Pemilik Restoran Seafood

Profil Pengusaha Edi Supedi


pengusaha alumni gontor
 
Menjadi pengusaha alumni Gontor ini kembangkan usaha seafood. Banyak orang menganggap orang lulusan pesantren cuma jadi guru ngaji. Hal ini dipatahkan pria bernama Edi Supedi, atau yang akrab dipanggil Edoy, dimana sekaligus memataskan pengusaha tidak mesti lulusan universitas.

Usaha bernama Sekar Seafood berpusat di Bandung. Restoran aneka makanan laut berada di kawasan Sunaraja Braga, Bandung. Awal mulanya Edoy membuka usaha sebisanya tanpa mikir modal. Cepat dia langsung membuka usaha nasi ayam dan sambel gelo.

Cepat- cepat pula dirinya banting stir membuka usaha restoran. "Di Bandung pecinta seafood banyak, pemain sedikit," jelasnya. Dia mengenang 15 cabang ayam gelonya tutup karena masuk zona merah.

Usaha Restoran Seafood


Agar membedakan seafood lain maka Edoy menghubungi para suplier langsung. Dibawa dari laut Indramayu, langsung fresh diambil dan diolah sehari itu. Pengusaha ini akhirnya mampu membuka cabang pertama. Usaha apapun membutuhkan tekat kuat, tidak terkecuali seafood.

Pasang surut bahkan gagal sudah menjadi makanan Edoy. Dia menanggung resiko berbekal yakin dan tekun. Pasti bisa Edoy mampu membuktikan dengan dua cabang. Prinsipnya jangan sekali- kali kamu menyerah. Bahkan menurunkan kualitas demi harga murah untuk menggaet orang.

Konsumen malah akan kabur bila bahan bakunya tidak segara. Karena sangat mempengaruhi rasa dari masakan kamu. Tiap restoran memiliki menu andalan maka begitupula Sekar Seafood. Restoran ini mengandalkan kepiting lada hitam.

Walau ini makanan andalan bukan berarti lainnya kurang enak. Justru harus sama enaknya, ya kan selera orang beda- beda, tujuan makanan andalan biar orang gampang. Kalau masuk mereka tinggal mantap memesan kepiting lada hitam.

Eddy Seopendy bersama kakaknya, Aris Widyanto bersama membangun bisnis ini. Ternyata mereka juga senang memasak selain alasan berbisnis. Hobi memasak yang didasari kesukaan keduanya untuk berburu kuliner di Bandung.

Mereka mencicipi makanan, merasakan bumbunya yang disusul perbincangan santai. Tidak cuma makanan seafood semua mereka suka. Ingin rasanya membuat makanan yang bumbu saja dicocol enak. Pakai nasi cukup berlaut bumbu kepiting lada hitam sudah enak pisan.

Kakak beradik ini mencoba memecahkan rahasia setiap makanan dicicipi. Bumbu masak apa serta komposisinya dieksperimenkan dulu. Mereka lantas memasak kemudian ditawarkan melalui Sekar Seafood. Edoy pun tidak segan bergaul dengan chef- chef hotel terkenal.

Edoy mulai bereksperimen, mengganti bumbu ini- itu, dan menemukan komposisi pas. Tidak enggan pula bertanya pengalaman pelanggan. Jadi tidak salah bila ada perusahaan operator seluler memesan sampai 200 porsi. Begitu mendengar pesanan begitu besar maka apa dilakukan Edoy selanjutnya.

Restoran Sekar Seafood tidak akan mampu menampung 200 orang. Tak hilang akal Edoy langsung mencari hotel kenalannya. Tempat terdekat yang biasanya mengadakan acara disulap. Dibawanya para pegawai itu ke sana, dan langsung disuguhi 200 porsi menu seafood langsung.

Kepiting lada hitam, kerang, dan ikan barakuda disajikan. Sempat chef asal hotel tersebut mencicipi kepiting lada hitam. Dia terkaget karena begitu enak kepiting olahan mereka. Berkat kecekatan Edoy nama usahanya semakin berkibar mampu melayani partai besar.

Pelanggan dari Singapura dan Malaysia mampi bila berkunjung ke Indonesia. Orang Bekasi juga mampi ke sini lantaran lebih murah.

Usaha Terus


Mengapa selepas menjadi santri malah memilih wirausaha. Karena menyenangkan orang juga punya nilai ibadah. Tidak sekedar mengejar keuntungan makanya rasa diatas segalanya. Usaha ini sempat tidak menghasilkan, bahkan merugi tujuh bulan berturut- turut karena tidak laku.

Sekarang perhari restoran ini menghasilkan puluhan juta rupiah. Harapannya restoran seafood yang disenangi semua orang berbagai usia. Ke depan, ia memilih membuka usaha lain, lini bisnis baru yang masih kuliner berkonsep nasi kuning.

Sebelum menjadi Sekar Seafood aslinya usaha makanan khas Indramayu. Dimana Edoy membawa nama Si Ratu Pedes Bebek Belur. Usaha bersenjatakan menu gomyang, sup kepala ikan dan makanan Indramayu lain.

Berjualan gomyang tidak mudah karena belum dikenal. Satu porsi gomyang dijual Rp.70.000. Tiga bulan pertama usahanya babak belur. Dia bahkan menanggung minus Rp.15 juta karena tak laku. Ini karena warga Bandung belum tersosialisasi.

Butuh waktu lama mengenalkan cita rasa gongyam ke lidah masyarakat Bandung. Alhasil tiga bulan itu dia harus menanggung hutang gaji karyawan, listrik, air dan sewa tempat. Edoy meyakinkan ini enak tidak kalah sama masakan kepala kakap.

Begitu membuka usaha baru mereka belajar dari pengalaman. Termasuk memotong rantai bahan baku yang jauh. Ini biar kedapan mereka dapat dengan mudah membeli bahan. Mereka pun mengajak kerja sama 25 mitra nelayan pemasok kepiting, cumi, kerang, dan kepiting.

Mereka pun mengolah udang windu yang berasal dari tambak. Edoy membeli harganya dengan tinggi karena langsung. Edoy sendiri semenjak awal tidak sembarangan mengambil. Tidak ada jaminan barangnya bagus karena tergantung alam.

Maka bila barang bagus seberapapun akan dibelinya untuk dijual. Ia berani menjamin bahan bakunya segar. Edoy juga belajar bahwa kapal nelayan kecil lebih baik. Nelayan yang menangkan secukupnya tidak berlebihan.

Alhasil tangkapan nelayan berperahu kecil selalu mebawa ikan segar. Nelayan besar akan berada di lautan sampai 45 hari. Nelayan kecil sore barangkat dan pagi kembali mensetok ikannya. Ke depan ia tinggal menaklukan Jakarta, sudah ada tempat seluas 3000 m2 disiapkan tahun depan.

Circa Handmade Usaha Boneka Buatan Tangan

Profil Pengusaha Ukke R. Kosasih



Usaha boneka tangan ini tidak disangka- sangka. Ukke R.Kosasih (34) tidak berpikiran boneka kain buatannya begitu disukai. Meski memiliki pekerjaan nyaman, wanita lulusan Universitas Indonesia ini tidak berhenti berkreasi. Pengusaha wanita yang memilih usaha jahit- menjahit utamanya boneka.

Dia menjelma menjadi pengusaha atau wirausahawan. "Dengan berpikir kreatif, tercipta peluang usaha baru yang inovatif," jelasnya. Berangkat dari upaya memperkenalkan budaya Indonesia inilah, ia memilih bisnis boneka tradisional.

Ukke memperkenalkan berbagai tokoh asal daerah beserta pakaian adatnya. Boneka miliknya yang memperkenalkan berbagai suku di Indonesia. Tahun 2006, ia pun mantap memilih mundur dari jabatannya sebagai advisor.

Kisah sukses Ukke diawali ketika kembali ke kampung halaman di Cihanjuang, Bandung. Disanalah Ukke tak sengaja bertemu Wati, putri tukang kebunnya, dan melihatnya terampil membuat boneka. Ia memang memiliki jiwa seni serta ketrampilan tangan, memiliki ide membuka workshop sendiri.

Membuat Boneka Sendiri


Dia dibantu sang kakak, Joanita, lalu Wati yang pandai membuat boneka. Mereka cuma bermodal 20 juta guna membangun bisnis kecil- kecilan. Ukke kemudian membeli dua mesin jahit dan merekrut dua orang pekerja. Mereka bekerja sama membangun bisnis boneka buatan tangan dari nol.

Namanya, Circa Handicraft dipilih menjadi nama workshop yang digawangi oleh dirinya dan Joanita. Ia menjelaskan nama Circa memiliki arti kurun waktu yang tidak ada habisnya. Filosofinya, boneka tangan yang dihasilkan bisa diwariskan mereka kepada anak- cucunya.

Para pegawai rata- rata perempuan kurang beruntung di desa. Konsep bisnis Circa Handicraft yaitu warna- warni nusantara dimana menampilkan bentuk berbagai suku dan budaya, serta ditambah lagi pakaian daerah asalnya.

Circa Handicraft sendiri mampu mengalami perkembangan pasat karena konsepnya ekslusip khas Indonesia. Ukke juga sengaja memanfaatkan kreatifitas pegawainya, dan 100% buatan tangan. Hasil karya mereka kemudian diberi nama sesuai daerahnya.

Misalnya, sepasang boneka khas Sunda, akan diberinya nama khas, yaitu Asep & Euis, Kadir & Badria untuk Madura, Putu & Sawitri untuk boneka Bali, serta Jiun & Rodiah untuk daerah Betawi. Wanita asli kelahiran Subang, 3 Januari 1966 ini, mampu mengundang banyak perhatian masyarakat luas.

Ia mampu menunjukan kreatifitas serta ketekunan tinggi. Bahakan Departemen Store di Kuta, Bali, telah menjadi pelanggan tetap bonekanya yaitu Putu&Sawitri. Mereka bahkan berani memasan 100 pasang secara rutin seharga berkisar Rp.75.000 sampai Rp.150.000.

Ukke kemudian dibantu oleh 17 pegawai yang mampu menghasilkan omzet Rp.20 juta per- bulan. Bahkan omzetnya bisa naik ketika musim liburan. Pesanannya tidak hanya datang dari dalam negeri, namun beberapa turis terpikat menjadikan cindra mata.

Agar bisnisnya terus berputar dan semakin kencang saja, Ukke melakukan berbagai strategi  jitu dalam pengembangan produk. Dia menciptakan rangkaian seri kreasi baru. Diantaranya seri Kiddies (lewat karakter Sunday, Megan, Wood Elf, Vivian), Country (Joan, Nina, Pipi), dan boneka kaus seri Animal (Owie Owl, Sasa Sheep, Cathy Cat, Ducky Duck).

Dia bahkan berani menggunakan bahan lokal asli daerahnya. Seperti kain batik ataupun songket untuk membuat pakaian si boneka. Dia pun sering berkunjung ke Bandung, Yogyakarta, dan Bali. Ukke mengaku melakukan penelitian terlebih dahulu agar benar- benar asli nusantara.

Workshopnya sebelumnya memiliki 4 orang pegawai, kini telah ditambah 11 orang pegawai baru. Boneka semua dikejakan dengan tangan. Mulai dari membuat pola boneka, menjahit, mengisi dakron, memasang rambut, membuat baju, menggambar wajah (menyulam bulu mata), memasang aksesori (mata, hidung), hingga membungkus plastik.

Jelas, pekerjaan ini memang butuh ketekunan, kesabaran, minat tinggi dan niat tinggi belajar boneka dan berkreatifitas.Usaha boneka buatan tangan Ukke ternyata sangat menjanjikan.

Pengusaha Aneka Jam Tangan Kayu Pala Nusantara

Profil Pengusaha Ilham Pinastiko


jam tangan pala nusantara
 
Pala Nusantara termasuk agresif dalam pengembangan produk sejenis. Ini kisah pengusaha aneka jam tangan kayu. Ilham Pinastiko sang pendiri bahkan memanfaatkan akar jamur. Ya kamu sedang tidak mengigau tetapi inilah faktanya.

Inovasi tali berbahan akar jamur yang dikeringkan. Usaha berbasis di Cikadung, Bandung. Dibuatnya memakai cara tertentu sehingga kuat menahan. Oleh karenannya Ilham pernah diganjar penghargaan Good Design Indonesia 2019 dari Kemendragi.

Bisnis Riset


Agar lebih menarik maka Ilham menciptakan desain berdasarkan budaya. Kekayaan Indonesia yang eksotis diselipkan diantara jam. Pala Nusantara memiliki tiga varian jam berdasarkan warna, yakni merah, biru, dan coklat.

Pala merah mewakili Toraja, yang memang kebanyakan kerajinan kayu berwarna merah. Pala biru mewakili Baduy yang khas dalam berpakaian. Pala coklat diadaptasi dari warna tanah, yang kental dengan simbol tanah Jawa dalam berpikir dan prilaku.

Ia pun menyisipkan simbol agar semakin kentara. Ketiganya memiliki desain grafis jelas menunjukan identitas. Awal mereka mengembangkan bahan mapel, ebony, dan senokeling. Namun Pala kemudian juga menawarkan jamur sebagai bahan jam kayu.

Pengusaha aneka jam tangan kayu ini tidak minder bersaing. Walau usaha sejenis mulai bermunculan menghiasi pasaran jam. Ada cita rasa nusantara yang membuatnya lebih eksotis dibanding jam lain. Ia membranding usahnya menjadi produk premium dengan harga Rp. 950 ribuan.

Ilham juga mengembangkan produk dasi kupu- kupu. Berbahan kayu namun dengan polesan yang sangat rapih. Alhasil pembeli sekilah akan melihat layaknya dasi kupu- kupu biasa. Dikisahkan ini semua bermula dari kesenangan Ilham menikmati kuliner nusantara.

Melalui Proyek Napak Rasa, dirinya berkeliling nusantara demi menikmati kuliner pilihan masing- masing wilayah. Proyek makanan khas Indonesia tersebut berhenti pada 2015 silam. Latar belakang pernah menjadi desainer jam tangan perusahaan jam dipakai.

Dia yang pernah menjadi pegawai perusahan jam nasional tidak minder. Prinsipnya Ilham memiliki passion akan kebudayaan Indonesia. Nah, mengapa tidak proyek Napak Rasa ditaruh disini, kan Ilham memiliki pengalaman maka tinggal diaplikasikan ke jam.

Pengusaha asal Bandung yang terus melalukan riset pengembangan. Dicari bahan dan desain terbaik untuk mewujudkan budaya nusantara. Bermodal Rp.35 jutaan, pada 2016 barulah usaha ini resmi ia luncurkan, 10 bulan pertama Ilham kehilangan banyak uang namun usaha tidak memuaskan.

Dia harus menyuntikan dana tambahan. "Karena pasarnya bagus, jadi butuh perputaran modal yang sangat cepat," jelasnya. Total uang tiga puluhan juta tersebut tidak menutupi. Disuntik modal kembali barulah di bulan ke- 10 menampak hasil.

Berkat tetap bertahan usahanya mampu hasilkan omzet. Perusahaan mampu hasilkan omzet sampai Rp.48 juta perbulan. Dengan kemampuan produksi 100 buah produk perbulan. Pengusaha muda 30 tahun yang menjelaskan 50% omzet digunakan operasional termasuk gaji 4 karyawan.

Sisanya 30% untuk cash flow dan 10% dana pengembangan. Ilham telah memperhitungkan semua termasuk keberlangsungan usaha ini. Hingga sekarang ia merasa belum puas melakukan inovasi dalam produknya.

"Walaupun sudah dijual tapi ini statusnya masih dikembangkan. Saya belum merasa puas, saya masih mencari titik sempurnanya," alhasil sang pemilik harus berpuasa dulu.

Pengalaman menjadi pengusaha memang penuh pengorbanan. Ilham memilih menunda menikmati hasil kerja kerasnya. Uang gaji pun tidak jarang masuk digunakan pengembangan produk. Perputaran uang di Pala Nusantara layaknya obat nyamuk, semakin membesar.

Biografi Nadiem Makarim Bos Gojek Siap Menderita

Biografi Pengusaha Nadiem Makarim


nadiem pendiri gojek
 
Dunia startup memang keras bahkan menuntut pemiliknya berpuasa dulu. Walau biografi Nadiem Makarim ini sangat bagus bukan berarti langsung sukses. Pengalaman di perusahaan asing seperti McKinsey langsung mentah.

Gojek belum memiliki fitur peta canggih kemana saja. Mereka masih menggunakan cara kuno yakni ojek pangkalan. Bedanya Nadiem membuat pengguna bisa mengundang jasa mereka. Tak perlu lagi berjalan jauh panas- panasan mencari ojek.

Bisnis Ojek Pengkolan


Pada tahun 2015, kemacetan Jakarta semakin parah dan banyak solusi hadir. Salah satunya pekerja dadakan berbekal montor mengantarkan orang. Transportasi umum memang tidak nyaman. Begitu pula ojek masih jadul tetapi mempunyai kelebihan luar biasa.

Nadiem menyadari bahwa motor bisa melewati macetnya Ibu Kota. Selain itu tidak perlu berdesakan dalam ruangan sempit pengap. Ojek pangkalan sendiri masih berkumpul di tempat- tempat tertentu, alhasil orang harus berjalan sampai jauh demi naik ojek.

Tidak semua penumpang memiliki kendaraan bermotor sendiri. Disisi lain kehidupan pegawai butuh ketepatan waktu. Nadiem menjadi pemakai layanan gojek tersebut. Nah, dari sinilah dia menemukan ide, ada masalah yang perlu Nadiem perbaiki ke depan mengenai ojek.

Pernah bekerja untuk McKinsey dalam bidang global riset dan konsultasi. Nadiem tertarik masuk ke dalam usaha startup melalui ini. Apalagi dia sempat menjadi managing director Zalora, dimana kerja sama dengan Rocket Internet, mengembangkan salah satu startup eCommerce.

Lain Gojek membutuhkan banyak sentuhan langsung pendiri. Nadiem sempat terseok lantaran ojek bukanlah transportasi masal berijin. Awal dia memiliki 20 orang tukang ojek, call center, dan lewat pemasaran sangat tradisional.

Idenya ojek dapat dipesan kapanpun, dimanapun, dan memiliki tarif jelas. Demi memahami sistem mereka bekerja. Nadiem tidak segan berkumpul dengan mereka tukang ojek. Gojek ini bukan sekedar berada di waktu tepat dan situasi tepat.

Melainkan Nadiem menemukan kesempatan diantara kemajuan teknologi. Nadiem berhenti bekerja di Zalora dan mendirikan Gojek pada 2011.

Ia lebih senang memakai ojek ketika pulang dan pergi kerja. Padahal dia mempunyai kendaraan roda empat pribadi. Padahal memakai mobil lebih nyaman dan aman dibanding ojek. Tetapi faktanya ia malah kecelakaan ketika memakai taksi hampir 5 kali.

Naik ojek aman Nadiem sepakat karena pengalaman pribadi. Dia sempatkan waktu bertemu mereka di pangkalan. Sembari mengobrol diketahuilah kebanyakan mereka cuma menunggu. Waktu mereka habiskan mangkal. Ia juga menyadari bahwa tukang ojek memiliki solidaritas tinggi sesamanya.

Rahasia mengapa Nadiem tidak kecelakaan karena naik ojek. Para tukang ojek pangkalan melakukan sistem gantian. Satu orang yang belum mendapatkan tarikan maka akan diberi. Sudah giliran, malah kebanyakan sepi, dan masih pula diragukan soal keamanan naik ojek ini.

Ia melakukan riset menemukan semua kelemahan ojek. Jaman dulu masih ponsel makan manfaatkan itu untuk mencari penumpang. Orang tidak perlu lagi datang menuju pangkalan. Belum lagi tingkat keamanan ditingkatkan karena memiliki perusahaan bernaung.

Tukang ojek tidak harus mangkal dan sudah pasti terdaftar jelas. Tingkat keamanan ditinggikan jadilah lebih dipercaya. Orang yang pesimis mulai melihat ojek memiliki fleksibilitas. Tidak terasa pria yang lulusan Harvard Business School, menjadi juragan 10 karyawan dan 20 tukang ojek.

Kembangkan Gojek


Dia memang mencintai ojek sebagai kendaraan harian. Berkat sistem tepat, ia mampu mengolah ini menjadi angkutan berkualitas layaknya taksi. Awal Gojek belum memakai sistem ponsel pintar ya karena belum ada. Begitu teknologi mencukupi maka Nadiem langsung merubah cara berbisnisnya.

"Saya rasa banyak orang- orang dulu tidak percaya ojek bisa seprofesional sekarang dan terpercaya seperti ini," ujarnya kepada Liputan6.

Inilah cikal ide pengembangan bisnis ojek ke depan. Nadiem sempat frustasi diawal- awal memberi keyakinan. Tidak dipungkiri citra ojek dijaman dulu memang kurang baik. Dari segi kebersihan, dan lagi keamanan termasuk sistem ongkos yang asal tembak.

Nadiem telah mengenal mereka secara personal hingga berempati. Ia sadar bahwa sektor ini punya nilai keluhuran. Awal dia harus ahli dalam bidang perojekan barulah memakai teknologi. Beruntung belum banyak pengusaha melirik ojek dan memiliki tekat seperti Nadiem.

Nadiem terus mendorong teknologi masuk ke dalam perusahaan. Bahkan mengajak ahli IT untuk bisa bersaing dengan industri lain. Kita bisa lihat industri keuangan telah memiliki teknologi canggih. Di taksi juga, namun Nadiem ingin lebih cepat melesat melebihi apa diberikan mereka ke konsumen.

Teknologi smartphone memberikan peta serta ketepatan pemesanan lebih tinggi. Bertahap dia mulai melirik jenis usaha lain yang bisa dionlinekan. Ada intertainmen, jasa pengantaran makanan dan barang, jasa kebersihan, dll.

Diwaktu bersamaan bisnis angkutan taksi aplikasi meraja lela. Termasuk Grab, yang dibesut oleh temannya bernama Anthony Tan, dan disinilah Nadiem berkaca. Teknologi merupakan cara terbaik memperbaiki keruwetan sistem ojek.

Bila pengusaha diluar fokus mengerjakan kendaraan roda empat. Nadiem mengaggap gojek lebih masuk akal untuk kemacetan Jakarta. Setelah itu, pria kelahiran Singapura, 4 Juli 1984, yang tidak segan masuk ke bisnis angkutan roda empat.

Ia bahkan mampu memaksa Anthony Tan masuk bisnis ojek. Padahal di negara lain angkutan seperti ojek hampir tidak ada. Pasalnya orang masih menganggap motor tidak aman. Anthony yang memaksa Nadiem terus berkembang.

Persaingan sengit yang sebenarnya dilakukan dua orang saling mengenal. Bumbu- bumbu berita itu memang memanaskan. Gojek tidak jauh dari sosok Kevin Aluwi. Sosok dibalik teknologi terdepan perusahaan terintegrasi.

Kevin memiliki latar pengolahan data dan business intelegent dalam dunia bisnis. Kevin baru masuk ke Gojek pada 2013 silam.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba