Jual Kerajinan Bunga Sabun Pengusaha ini Untung

Profil Pengusaha Sukses Camelia


 
Selain harum di tubuh wangingnya sabun juga menguntungkan. Berapa banyak rupiah bisa diteguk. Ternyata bisa diluar dugaan dengan kreatifitas tingkat tinggi. Ini cerita seorang pengusaha wanita bernama Camelia. Siapa sangka wanginya sabun batangan bisa diubah menjadi emas sungguhan.

Singkat cerita dimulai dari ketertarikan Camelia akan karya seni. Bermula 2013 silam, lewat saudarinya dari Kendari, yang memperlihatkan kerajinan berbahan dasar sabun mandi. Produk sehari- hari tersebut ia lihat bisa dirubah menjadi sebuah bentuk kesenian ukir.

Melihat bentuk unik, indah, dan harum, Cameli mendapatkan ide cemerlang untuk membuat kerajinan dari bahan sabun batangan. Wanita asal Makassar ini menghasilkan keuntungan sampai jutaan. Untuk bisa dia sekarang, belajar mengukir sabun membutuhkan waktu lama.

Tidak mudah apalagi dia bukan orang menganggur. Sebagai ibu rumah tangga, kegiatan menata rumah bisa menyita waktu. Disela- sela membersihkan rumah, dia mengukir alat pembersih tersebut menjadi bentuk bunga. Satu pot diproduksi dalam tempo tiga pekan. Bau sabun berbentuk bunga menjadi kelebihan hiasan ini.

Semangat wirausaha menggebu ketika Camelia dikunjung orang. Melihat hiasan tersebut dan wanginya yang memenuhi ruangan. Mereka tertarik memberikan lontaran pertanyaan. Dari ketertarikan mereka bisa disimpulkan sendiri bahwa Camelia punya peluang bisnis menjelang Idul Fitri. Berjualan di Pantai Losari, hasilnya jualan Camelia laku keras diborong pembeli.

"Responnya sangat bagus, orang penasaran dengan kerajinan ini," jelasnya.

Bisnis serius


Dia merasa bisnisnya bisa dipasarkan lebih luas. Selepas Idul Fitri jualanya menyebar dari mulut ke mulut. Dibantu anak ketiganya, Adel, bisnis kerajinan sabun semakin dikenal masyarakat. Adel membantu pula promosi lewat sosial media. Pesanan semakin banyak lewat promosi semacam tersebut.

Dia juga ikut berbagai ajang promosi usaha kecil dan menengah. Juga ikut berbagai pelatihan wirausaha, seperti tentang bagaimana berpromosi, cara mencari modal, hingga produk mereka semakin luas dalam hal jangkauan penjualan.

Bunga buatan mereka pun ikut dipamerkan di acara pameran Menteri Koperasi dan UKM. Yang mana tiap pot ukuran besar dihargai Rp.150 ribu. Terhitung murah karena waktu pengerjaan mencapai 2 mingguan. Dan yang kecil dijualnya Rp.50 ribuan, usaha ini menghasilkan untung Rp.500 ribu per- bulannya.

Meskipun kecil, dia tidak menyerah, masih ada pasar yang tengah digalinya lagi. Untuk membuat satu pot atau 25 tangkai, dibutuhkan tiga sampai empat batang sabun. Sabun tersebut diparut kecil- kecil, hingga jadi serbuk, diberi air dijadikan adonan yang gampang dibentuk.

Setiap rangkaian dibentuk dengan lem. Kemudian diberi batang besi panjang sebagai dahan. Nah, kalau hal daunnya dibuat dari daun plastik. Ditempel ke bunganya hingga membentuk indah. Bunga akan mengeras dalam waktu. Soal wanginya bisa bertahan sampai empat bulanan.

Gunakan plastik yang dilubangi, dibungkuskan ke bunga, tujuannya agar wangi jadi lebih awet tahan lama. Produk ini juga ditawarkan ke pihak hotel, atau perusahaan- perusahaan. Optimis bisnis ini berkembang bahwa ketika mereka sadar akan produknya. Pastilah pesanan akan membanjiri dia ketika sudah berhasil.

Kisah Mualaf Pengusaha Berwirausaha Khanz Hijab Bogor

Profil Pengusaha Juwita Karo Karo




Ada hikmah dibalik pristiwa. Sejalan dengan pencariannya akan Tuhan, siapa sangka nasib membawa Juwita Karo Karo, bisa menjadi salah satu pengusaha hijab ternama. Dari kecil dia mengaku sudah merasakan ketentraman ketika Adzan berkumandang. Juwita adalah CEO sekaligus pemilik Khanz Hijab Bogor.

Memeluk Islam sejak 2008 silam, perjalanan hidupnya sangat getir dan berbeda 180 derajat jika nanti kita bandingkan dengan bisnisnya. Penampilan Juwita tidak seperti sekarang. Lahir dari keluarga Kristen yang taat. Juwita terasingkan dari keluarganya karena masuk Islam.

Hanya berbekal pakaian di badan, sepasang sepatu, Juwita hijrah ke Bogor mencoba mengadu nasibnya. Ia dimana- mana tidak diterima keluarga. Tidak punya apa- apa. Juwita seolah putus asa, mulai melangkahkan kakinya mencari tempat tinggal sementara.

Badannya yang lusuh karena memang sudah lama tanpa tujuan -sudah seperti pengemi-, mereka yang ia tanyai memilih menghindar. "Saya benar- benar hampir putus asa," kenang dia.

Kisah susahnya menjadi mualaf


Memang tahun pertama menjadi mualaf sangat keras. Selain penolakan dari keluarga, hal lainnya adalah ia harus segera memperdalam ilmunya. Kenyataan bahwa dia sekarang sendiri berbahaya. Jika tidak karena iman kuat mungkin Juwita tidak akan bertahan kala itu.

Kehidup ekonomi juga terbolak- balik. Jika dulu dia berkecukupan sekarang susah. Untuk makan saja dia tidak mampu. Waktu itu masih SMA kemudian mau meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. Sampai di Bogor, dia menuju Universitas Ibun Khaldun, dimana ada pendaftaran mahasiswa baru.

Tidak punya apapun Juwita nekat menghadap Rektor. Waktu itu Rektornya, Prof. Ramly Hutabarat, dia memohon kepadanya langsung. Karena iba Rektor memberinya kesempatan, dan bahkan memberikannya beasiswa. Prinsip keluarga masih tertanam mengakar bahwa "tangan  di atas lebih baik dibanding di bawah."

Konsekuensinya dia bekerja keras agar membuktikan. Mengganti biaya masuk Rp.6,5 juta. Dia harus bisa hingga siap bekerja sambilan. Dia menjadi reseller gorengan di kampus. Karena saking rajinnya Juwita mau mengganti uang tersebut. Dia dikenal bukan sebagai mahasiswa tetapi penjual gorengan.

"Sampai seluruh dosen dan mahasiswa UIKA kenal dengan saya, bahkan saya ini dianggap tukang jualan gorengan, bukan mahasiswa UIKA," tujuh tahun silam ketika dia memulai hidupnya dari nol kembali.

Berangkat jam 07.00, tidak pernah malu berjualan gorengan keliling kampus. Padahal kuliah mulai pukul 09.00. Ketika kuliah jalan dia tetap menjajakan dagangan ke teman- temannya.

Hidayah datang ketika dia mempertanyakan tentang adzan. Kenapa di agama Kristen tidak ada adzan yang berkumandang. Sebuah perasaan ingin tau luar biasa. Yang mana dianggap salah oleh kedua orang tuanya. Bukannya mendapatkan jawaban malah Juwita dilarang menanyakan hal semacam itu.

"Ma, kenapa sih di gereja tidak ada adzan?" tuturnya.

Dia memang terlahir dari keluarga Kristen misionari yang taat. Pengambilan keputusan soal agama tidak boleh gegabah. Meskipun belum bersyahadat, Juwita sudah mulai memakai mukena dan belajar sholat. Ya namanya tupai melompat, sepandai- pandainya pasti jatuh juga.

Sang ibu memergoki dia sedang belajar bacaan sholat. Dia sempat diusir orang tua. Namun tidak berapa lama, dia diajak kembali pulang. Dia diberikan pilihan mau tetap atau menjadi muslimah. Juwita dengan tegas memilih Islam dibanding keluarganya.

Sebagai mahasiswa dan mualaf, Juwita adalah berprestasi dimana banyak organisasi kampus diikuti. Dia salah satu anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), anggota dakwah kampus, dan kegiatan lainnya. Dia sosok mahasiswa berprestasi dengan IPK 4.00 ditengah kesibukan wirausaha dan kuliahnya.

Tahun 2011, dia lulus dengan nilai cumlaud, sang Rektor yang menerimanya dulu lantas memberikan satu pesan khusus. "Perjuangan belum selesai, Juwita," ucapnya. Tawaran bekerja di Bank Syariah sudah bisa dia masuki langsung. Namun dia tolak karena memilih fokus melanjutkan wirausaha di fashion hijab.

Bisnis mualaf


Usaha pertama ialah reseller gorengan. Tanpa rasa malu rutinitas jualan gorengan keliling kampus. Jualan gorengan milik orang demi bertahan hidup buat makan. Tatapan mata Juwita memandang berita tentang kita akan menghadapai MEA. Kita harus mencintai produk buatan Indonesia, harus menciptakan produk baru.

"Saya tidak mau menyerah, apapung yang terjadi, saya terus berusaha," ujarnya.

Mengumpulkan uang kemudian dia berbisnis lain. Dia mencoba beternak lele. Gagal, dia memang merasa ternak lele bukan jalannya. Tidak ada passion bisnis ketika disana. Rugi Rp.30 juta tidak membuat ia merasa putus asa  justru semakin bekerja keras menjemput rejeki.

Kemudian dia melirik bisnis fashion hijab. Berawal dari menjadi reseller, dia mulai menjajakan via online aneka hijab kepada masyarakat. Mulai dari reseller kemudian iseng mencoba mendesain hijab sendiri. Ia mengajak satu penjahit, dia kemudian dibagian pemasaran dibantu empat orang buat pemotongan kain.

Dia mampu menjual 500 potong per- hari. Nama bisnis Khanz Hijab Bogor mampu menarik banyak orang menjadi reseller. Dia mampu menjual sampai ke Malaysia dan Hongkong. Juwita belajar dari siapapun, termasuk belajar dari resellernya, yang menjual ratusan ribu sampai puluhan juta rupiah.

Pengusaha harus punya semangat pantang menyerah. Juga kedisplinan dan kesungguhan. Tidak cuma itu ia menambahkan bahwa belajar kapanpun dimanapun. Belajar tidak lama- lama, cukup 20 menit belajar yaitu terutama sebelum sholat Subuh. "...otak masih fresh," tutupnya.

Potensi Berbisnis Clay Buat Wirausaha Menjanjikan

Profil Pengusaha- Pengusaha Clay 


mereka pengusaha clay

Memang bisnis bidang kerajinan selalu ada jalan. Kalau kita jeli, pasti ada saja peluang dapat kamu bidik kembali. Cukup mengikuti trend kekinian bisa. Ambil contoh sukses beberapa pengusaha berikut. Soal bisnis mereka boleh dibilang tengah digandrungi masyrakat yaitu bisnis clay.

Clay impor menjadi pilihan beberapa pengusaha. Polymer clay memang bisa diubah menjai apa saja. Salah satu pengusahanya bernama Yeni, wanita 31 tahun yang mulai mendalami kerajinan clay sejak 2002 silam. Awalnya dia diajari seorang teman hingga akhirnya berwirausaha.

Produk mulai dari miniatur hewan, bentuk makanan, dan bunga. Pesanan bisa mencapai ratusan juta loh. Dia menjual Rp.15.000 per- item. Soal omzet Yeni memilih tidak memberi tau. Tetapi bisa dipastikan jika produk claynya sangat mirip aslinya, sudah pasti omzetnya bisa sampai puluhan juta.

Meskipun masa krisis, dia masih bisa menjual terutama mereka para kolektor. Pengusaha clay lainnya ada pasangan suami istri Hermawan dan Widi. Mereka membuat aneka figura berbahan polymer clay. Yang mana clay ini dioven dulu baru kering.

Bisnis mereka bermula dari hobi sang istri. Widi merupakan penggemar clay sejak dulu. Jadi tanganya memang sudah terampil. Masuk 2007, dia dan suami, mulai menekuni bisnis aneka produk clay dibawah bendera Pro C1ayArt, yang mana fokus mereka lebih artistik lewat figura clay bukan sekedar miniatur.

Perpaduan warna detail, dimana sudah ada 25 desain frame foto 3R dan 4R. Dimana sudah termasuk aneka hiasan kecil berbahan clay juga. Hiasannya juga tidak besar, terkadang hanya butuhkan 1 kilogram saja per- bulan. Dimana harga jualnya Rp.400-500 ribu dimana omzet mereka perbulan mencapai Rp.40 juta.

"Karena harus impor, harga jualnya jadi mahal," paparnya.

Mencintai Wirausaha Pengusaha Muda Vietnam Mendunia

Profil Pengusaha Thuy Thanh Truong


kisah pengusaha muda vietnam

"Ketika saya mengerjakan sesuatu yang aku cintai tentanya maka aku akan menikmatinya, untuk ku berhenti mengerjakan itu berarti sebuah hukuman," ia membuka.

Namanya Thuy Thanh Truong, pengusaha muda asal Vietnam, dikenal sebagai ratunya startup di negar itu. Ia merupakan putri satu- satunya. Kelahiran Bein Hoa, kota di utara Vietnam. Di 2003, orang tuanya lalu pindah ke Amerika, untuk pendidikan lebih baik Thuy.

Dia masuk Alhambra High School. Kemudian kuliah di Pasadena City Collage. Tahun 2009 dia pindah ke University of Southern California sebagai lulusan ilmu komputer.

"Saya cuma tidur lima jam sehari," ucap pengusaha 29 tahun ini.

"Saya bahkan tidak bisa mengatasi jet leg. Saya tidak percaya prinsip hidup seimbang," jelasnya. Kenapa bisa begitu karena dia sibuk menjalankan tiga bisnis di dunia berbeda. Dia dengan semangatnya bisa masuk ke jajaran perusahaan Silicon Valley.

Awal bisnis


Layaknya orang tua lain asal Vietnam, Amerika menjadi tujuan terbaik pendidikan anak mereka. Tetapi ia memilih kembali ke Vietnam ketika lulus. Jujur orang tua Thuy ingin dia bekarir di Amerika Serikat. Dia kemudian memulai bisnis pertama yakni bisnis yogurt beku bersama teman sekolah menengahnya.

Bisnis tersebut dimulai 2008, yang mana diberinya nama Parallel Frozen Yogurt. Dengan sistem yang bersifat startup. Bisnis ini berkembang diluar perkiraan. Yang mana dia mendapatkan pendanaan untuk bisa membuka 3 cabang.

Dia berhasil menghasilkan ribuan dollar. Dengan marketing dan branding baik, bisnis Thuy bisa dibilang tidak ada hambatan. Namun brand bagus saja tidak cukup loh. Intinya bagaimana Thuy menciptakan bisnis berkesinambungan. gagal. Dalam tiga tahun akhirnya bisnis ini tutup pada 2012.

Penjelasannya adalah 99% bisnis startup gagal, hanya 1% yang berhasil dalam perjalanannya nanti. Dia menambahkan ketika kamu muda. Kamu mau menjalankan bisnis. Jalankan bisnis kamu rasa passion mu itu. "(Tapi) tidak ada garansi itu akan berhasil," terang dia.

Walaupun gagal dia menjelaskan di sana, kita bisa belajar sesuatu untuk bisnis lainnya ke depan. Disisi lain ternyata Thuy juga sedang menjalankan bisnis teknologi pertamanya -disaat yang sama bisnis yogurt dia jalankan.

Tahun 2010, teman kuliahnya, Elliot Lee berkunjung ke Vietnam. Keduanya setuju membuat studio kecil di Ho Chi Minh City, untuk membantu teknisi asal Vietnam berkembang. Usaha tersebut diberinya nama GreeGar dimana merupakan aplikasi whiteboard aplikasi desain kolaboratif laris iOS Store di berbagai negara.

Dimana penggunanya sempai 100 negara, penggunanya adalah para anak sekolahan. "Kami menghasilkan ribuan  dollar tetapi gagal menaikannya," tandasnya. Dimana pada 2014, bisnis ini selesai, tutup dimana sebagian timnya terpecah dan Thuy bersama beberapa orang mengerjakan aplikasi Tappy.

Apa sih Tappy? Sebuah aplikasi sosial media, dimana menyasar orang Vietnam sendiri, dengan tumbuhnya sampai 10% per- tahun. Tappy mencoba menjadi pemain lokal. Dengan mengenali keadaan Vietnam lokal mampu membuat aplikasi ini lebih bersinar.

Lewat Tappy bisa mencari orang di sebuh event tertentu. Tappy bisa digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain. Kemudian jadilah komunitas kalian sendiri lewat Tappy. Pada Mei 2015, pihak Weebly, sudah sepakat membeli Tappy dimana senilai 7 digit angka nilai dalam waktu 10 bulan launching.

Lantas dia diangkat menjadi direktur bisnis oleh Weebly untuk Asia. Meskipun terlihat Vietnam punya potensi besar dalam startup. Faktanya infrastruktur masih terkendala. Wi- Fi dimana- mana sih. Tetapi sinyalnya sangat lemot. Dan perusahaan yang mau investasi butuh waktu 6 bulan hingga dokumennya siap.

Menjadi pengusaha muda Silicon Valley kehidupan Thuy adalah 50- 50 antara ke Amerika dan Vietnam. Dimana juga termasuk ke Singapura, dengan 10 kali pertemuan tiap harinya. Orang tuanya tinggal di Los Angles, pulang ke Vietnam dia berkunjung ke rumah paman dan sepupu di kampunya Bein Hoa.

Kekek Thuy dan ayahnya adalah pekerja keras, mereka memilih wirausaha. Mangkanya orang tua Thuy bisa mendukung memberikan semangat. "Kamu harusnya kerja keras ketika muda," tutup Thuy.

Toko Kebakaran Bangkrut Pengusaha Nazhmah Bangkit Lagi

Profil Pengusaha Nazmah Armadhani 


bangkit dari kebangkrutan

Menjadi pengusaha harus siap mengambil resiko. Begitu juga sukses Nazmah Armadhani, masih saja dia teringat cemooh tetangga. Waktu itu Nazmah sudah bekerja kantoran. Sebagai lulusan Sarjana, kok, gaji Nazmah tidak sebesar gaji babysitter.

"Sarjana kok gajinya kalah sama babysitter ku," ia menirukan.

Dia, seorang ibu rumah tangga memiliki tiga anak, bekerja kantoran cukup menyita waktu. Tetapi hasilnya tidak sebesar perjuangan mencapai gelar sarjana itu. Terselip keinginan membuka usaha sendiri. Namun dia belum punya bayangan. Berbisnis sepatu lukis? Menggambar saja Nazmah tidak bisa mau melukis lagi.

Bertitle Sarjana Ekonomi, pencapain Nazmah ialah bekerja sebagai editor, dan itupun di perusahaan kecil buku- buku Islam. Tahun 1992 digajinya uang Rp.80.000 per- bulan. Sedangkan sang babysitter tetangga gajinya Rp.400.000 per- bulan.

Malu Nazmah mendengar kenyataan hidup. Apalagi ditambah ejekan soal suami yang betah di kampung karena jam kerja Nazmah. Sang suami memang tinggal terpisah di kampunya, Banjarmasin, Kalimantan. Ia mencapai titik kesal ketika harus mengandung anak kedua.

Tahun berlanjut, masuk tahun 2000, anaknya sudah masuk TK -yang cukup mentereng di Surabaya. Yang mana isinya anak- anak tergolong mampu. Dibanding Nazmah, maka ia tidak ada apanya, justru ketika itu dia mulai mengamati paluang masuk ke dunia mereka.

Modal pertemanan dan tetangga toko di Pasar Turi. Dimana suaminya adalah pedagang ritel di sana. Maka Nazmah mendapatkan harga kusus buat ambil barang. Lantas dia mencoba menjajakan ke mereka berbekal mengamati mereka. Bisnis busana muslim Nazmah baru saja dimulai sambil membawa anak bungsu jalan.

Awalnya dia sama sekali tidak berani menawarkan. Mental tempe katanya. Padahal dia sudah bawa banyak barang tetapi tidak jadi dijual. Sampai ada ibu mendekati Nazmah karena penasaran akan barang bawaan -yang sangat besar itu. Nazhmah hanya tersenyum penuh arti. 

Sang ibu spontan nyeletuk. Rasa ingin tau membawanya membuka bawaan Nazmah. "Lho ini dijual ya, saya buka ya?" terang Nazmah. Dari sanalah kepercayaan lebih timbul. Mulai Nazmah berubah menjadi sosok pengusaha pakaian muslim sekaligus ibu rumah tangga.

Musibah bisnis


Diantara perjuangannya menjadi pengusaha. Kabar buruk terjadi yakni dua toko suaminya terbakar. Alhasil dia kehilangan banyak modal usaha. Padahal satu toko tersebut merupakan toko baru. Tetapi memang itu sudah menurun pendapatannya dan akhirnya terbakar. Tahun 2007 kerugian ratusan juta diterima dia dan suami.

Memulai bisnis kembali memang susah. Tapi Nazmah membuktikan dirinya mampu. "Dua toko kita habis, pas mau bulan puasa. Dua tahun kita bingung karena nggak ada pemasukan," ia mengenang. Dan suatu saat, sang anak mulai membuat lukisan di atas sepatu polos, Nuzmah lantas menjajal masuk ke pameran.

"Ternyata ibu gubernur suka," jelasnya.

Padahal bisnis dijalankan Nuzmah terbilang pasaran. Banyak sudah pengusaha masuk di bisnis tersebut. Tapi ia meyakinkan diri bahwa produknya berbeda. Pengalaman merupakan hal terpenting. Namun, disisi lain, Nuzmah merupakan sosok pelajar mengamti pasar dan juga kemampuan pegawainya.

Jika pengusaha lain sudah percaya diri. Nuzmah yang tidak bisa melukis. Mempercayakan kepada mereka yang cuma lulusan SD. Mereka mungkin tidak berpendidikan tinggi. Tetapi justru disana ada ketelatenan. Dan darah seni tidak memandang jenjang pendidikan.

Hasilnya produk Nazmah seperti buatan pabrik. Garisnya rapih bukan sembarang goresan. Karyawannya cukup lima orang asal Jawa Timur. Bahan cukup cat sablon atau cat akrilik, kemudian sepatu polos didapat dari Surabaya, Sidoarjo, hingga Bandung juga.

Omzet sampai Rp.20 juta kalau ikutan pameran. Sedangkan kalau tidak mengantungi omzet Rp.6 jutaan. Ia menambahkan masalahnya karena produknya nyempil di toko orang. Tidak terlihat mencolok namun pasti menarik pembeli. Ada 60 pasang dijamin laku ketika sudah keluar dari rumah produksinya.

Harga bervariatif antara cewek dan cowok beda. Harga mulai Rp.100- 300 ribuan, dan kalau cowok kan medianya besar jadi harganya lebih mahal. Nuzmah sendiri belum merambah pasar ekspor. Alasanya ya karena prosesnya berbelit. Walaupun sudah ada penawaran tetapi masih dia tolak buat memenuhi pasar.

Ia membayangkan keribetan ekspor. Sudah lagi ada kendala bahasa, dan ditambah lagi keharusan merapikan manajemen dulu. Bagi pengusaha sepatu lukis waktu empat tahun dianggapnya kurang. Mungkin 10 tahun lagi. Pemasan bisa memesan dengan model sendiri inilah kelebihan dia.

Warna cerah menjadi andalan brand Dhona Dani ini. Tips sukses buat kita? Nazmah mengatakan bagi kita pengusaha pemula, tidak khusus pengusaha sepatu lukis ya, harus percaya diri akan karya kita sendiri. Dia mengatakan kita harus selalu optimis ada masa depan di bisnis kita jalankan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba