Kisah Manis Pahit Choa Seniman Coklat Filipina

Biografi Pengusaha Raquel T. Choa 



Menjadi pengusaha bisa saja merupakan pilihan hidup. Terkadang mungkin karena keterpaksaan agar tetap hidup. Menginginkan hidup lebih baik maka Raquel T. Choa berusaha. Dia hidup sangat sederhana. Ia sejak berumur muda sudah berjualan lilin dan sampaquita untuk membantu orang tua.

Umur 12 tahun, dia sudah bekerja menjadi kasambahay di Laguna, Filipina. Berjalanan waktu ia mengingat betul hidupnya "tidak jauh dari coklat". Dia ingat belajar menyajikan dan menyiapkan coklat dari sang nenek, Leonila Borgonia, yang bekerja menjual nanay.

Dia ingat, di umur 12 tahun, neneknya lah yang membawa dia pergi dari Cebu ke Laguna. "Saya tidak takut untuk bekerja karena saya bepikir saya harus benar- benar bekerja," kenangnya sedih.

"Saya memiliki masalah listrik di provinsi sampai saya tidak bisa melihat apa yang saya lakukan," imbuhnya lagi. Dari bekerja sebagai kasambahay uangnya digunakan untuk pulang ke Cebu. Dia ingin bertemu orang tuanya. Namun ternyata kedua orang tua Choa berhutang ke rentenir dan menjaminkan rumah serta tanah.

"Mereka tidak meninggalkan rumah karena mereka dibutuhkan untuk membayar hutang," dia berujar. Inilah hidup dimana Choa harus bekerja kembali buat membayar hutang orang tua.

Bisnis coklat


Umur 7 tahun sudah paham tentang konsep tablea. Adalah nama untuk jajanan coklat berbentuk tablet. Dia sudah tau bau coklat bahkan dari jauh. Inilah dasar dia menjadi ahli coklat untuk membangun bisnis Ralfe Gourment Chocolate Boutique, dimana dia memulai usaha dari 2010.

Layaknya kisah film Charlie and the Chocolate Factory, dia ingin berbisnis coklat sendiri. Awal sih dia tidak paham mengenai detailnya. Hanya saja Choa mau berbisnis tablea buat bertahan hidup. Dia lantas meminta diajari nenek. Choa belajar membuat coklat hingga bagaimana membuat minuman coklat.

Disaku Choa ada 10.000 peso dan membelikan ratusan kilo biji coklat. Dari sanalah, dia belajar aneka cara membuat produk coklat, mulai mengeringkan, menggoreng, dan membuat biji tersebut menjadi aneka bentuk produk olahan.

Bukan perkara mudah berbisnis. Ketakutan akan biji- biji coklat tidak laku dipasaran hinggap. Dia takut kalau bisnis tidak berkembang. Maka berkardus biji coklat akan terbuang sia- sia. Bagi seorang chef untuk olahan coklat, kualitas biji segar memang sangatlah penting, jadi apa solusi buat bisnis Choa sekarang.

Dia ingat bagaimana seorang chef sekitar mengejek. Menyebut coklat miliknya adalah dirty- chocolate. Ini karena proses pembuatan masih menggunakan tangan. Namun dia tetap percaya diri atas apa pengajaran dari nenek. Karena juga Choa menyukai buatan tangan langsung lebih nikmat.

Bisnis Choa makin mengembang. Beruntung dia didukung oleh suami, Alfred, seorang teknisi mesin, dan juga rekan bisnisnya, Edu Pantino, yang mendukung langkahnya. Sampai dia mendapatkan julukan orang- orang sebagai ambasadornya coklat di Filipina.

Tidak ada rahasia dalam berbisnis coklat. Dia menyebut passion dan cinta kamu punya. Jikalau kamu melihat sesuatu penuh cinta. Bermodal sebuah bisnis sederhana dia menjadi ahli coklat. Tawaran franchise mengalir dari China atau Taiwan tetapi dia malah menolak.

"Kamu memberi apa yang terbaik apa yang kamu punya," tutur dia. Akan tetapi untuk franchise dia memilih tidak karena menurut Choa bisnis soal keluarga dan anak- cucunya kelak.

Bisnis passion


Banyak orang tidak tau bahwa dia terlahir miskin. Bayangkan dia cuma makan nasi sekali setahun, sisanya makan jagung dan sayuran saja. Dia tinggal bersama nenek di rumah kaki gunung Barangay. Disana dia mulai belajar bertani, menjual sayur, dan biji coklat. Menjadi petani coklat sejak kecil diajari neneknya sendiri.

Dia ingat berjalan melewati sungai agar dapat sekolah. Bersemangat dia mampu menjadi siswa berprestasi di sekolah. Meskipun dia harus belajar tanpa lampu karena tidak ada listrik. Dia lantas tinggal dan bekerja di Manila. Choa mencucikan baju orang, menjual lilin, sampaquita hanya untuk bertahan hidup.

Dalam sebuah artikel dia menyebut tidak pernah menyesal. Dia tidak pernah menyesal terlahir miskin. Choa tidak pernah susah ketika masih kecil. Bahkan menurunya karena itulah menjadi dorongan baginya agar bisa seperti sekarang. Berkat itu dia sangat menghargai kenikmatan apapun meski sedikit.

"Masa kecil saya menyenangkan dan gembira. Hidup saya itu mudah, bersemangat menunggu musim panas tiba. Jikalau ini bukanlah bagian dari masa kecil saya, maka saya tidak akan seperti sekarang saya. Semakin kamu menderita, semakin kuat kamu," tegas Choa.

Entrepreneur satu ini memang sangat optimis. Di masa mudanya, Choa tidak pernah berharap akan kaya, ia hanya bermimpi bahwa dia akan bekerja kantoran dan bagian dari perusahaan korporasi. Dia mengakui ia tidak pernah bermimpi akan menjalankan usaha sendiri seperti empat tahun belakangan ini.

Sebagai pengusaha wanita, seorang business woman, maka dia menyarankan kamu agar tetap semangat buat menjalankan bisnis baru mu. Jangan pernah menyerah, kamu harus mencoba sesuatu yang baru, kegagalan akan selalu mengikuti keberhasilan, dan menempatkan kita berbeda dari orang biasa lakukan setiap hari.

Buatlah produk bernilai dibicarakan dan bernilai uang. Pastikan kamu selalu punya pengalihan. "Jikalau orang terus membeli produk kamu, maka kamu ada di jalur tepat," saran Choa.

Ingatlah selalu mendukung pembeli. Berikanlah apresiasi kepada pelanggan. Dia mencatat: Ketika kamu mulai berbisnis jangalah memikirkan tentang pesaing. Jangan sibuk sendiri mengamati mencoba mengalahkan pesain, namun jadilah lebih percaya diri akan kemampuan sendiri.

Akan selalu ada batasan kamu dengan kompetitor. Malah kalau kamu fokus diantaranya, kamu akan hilang fokus karena kita akan selalu bersaing. Fokuslah ke kepercayaan diri bahwa kamu lebih unik. Pasaran akan luas bagi kalian berdua jika kamu percaya. Carilah perbedaan dan lebih banyak latihan agar menonjol lagi.

Choa meyakinkan kita bahwa bisnis bukan tentang memiliki setumpuk modal. Taruhlah kepercayaan diri jadi investasi dan passion menjadi modal kapital kamu.

Usaha dari nol


Karena miskinnya keluarga Choa tidak dapat membeli susu. Maka sumber nutrisi mereka hanya coklat yang mereka tanam sendiri. Mereka minum coklat meski pahit tanpa gula. Ini menjadi nutrisi mereka sehari- hari. Kenapa pahit tanpa gula, ternyata keluarga Choa memilik filosofi sendiri, bahwa gula tidak baik bagi coklat.

Umur 13 tahun, dia bekerja sendiri pulang- pergi, lantas membuka kantin sendiri di pabrik. Dimana dia lalu bertemu rekan satu kerjanya di pabrik. Seorang entrepreneur Alfred Choa, yang umurnya 18 tahun waktu itu. Menjadi ibu rumah tangga dia masih bersemangat membuat aneka coklat sendiri dari kedua tangannya.

Tahun 2009, kebakaran melanda rumah mereka, dan Choa akhirnya meminta diajari membuat tablea. Dia lalu mendandani garasi, memasang meja billiar, dan menjual tablea dan produk coklat lainnya sementara dia mengawai renovasi rumahnya.

Apapun kamu lakukan lakukan passion kamu. Pikirkan sesuatu yang unik seunik kamu sendiri. "Itu ada di tangan kamu," ujar dia. Lakukan sesuatu datang dari hati. Jangalah kamu sekedar mengikuti tren. Lakukan apapun untuk menggapai kebahagiaan kamu. Itulah yang akan nampak di hasil akhir produk kamu nantinya.

Kenapa memilih berbisnis coklat? Dia mengenang pembicaraanya bersama Edu Pantino. Seorang Argentina yang mau bekerja sama dengan Choa. Dia sebenarnya sudah tau bahwa coklat bisa dijadikan sesuatu dari masa kecilnya.

Orang Argentina ini menantang Choa tentang produk andalan Filipina. Akhirnya dia terkenang namanya satu produk "tablea". Cukup lama sebelum membuka bisnis dia berpikir. Aneka ide mentok hingga dia bertemu coklat. Yah Choa akan berbisnis jamuan aneka produk coklat -termasuk tablea- yang dibuka di garasinya.

"Harta karun saya dan membuka kan jamuan coklat di garasi rumah kami," ia menjelaskan. Choa tidak cuma menjual coklat murni. Dia menyediakan aneka makanan, seperti pizza dan pasta yang juga dibumbui coklat tentunya. Tidak butuh waktu lama mengimplementasi ide membuka usaha serba coklat tersebut.

Sebagai ibu rumah tangga, beranak delapan, maka sudah biasa baginya bekerja di dapur. Dia cukau mulai lagi mengingat ajaran nenek. Dengan belajar lebih intensif kembali maka dia menemukan celah. Dari satu ke dua eksperimen mampu dia menciptakan produk unik dan menu enak yang dijualnya lewat tiga bisnisnya.

"Ini tidaklah mudah," dia menambah.

Dia menciptakan ratusan kilo tablea untuk bahan masakan ke hotel- hotel sekitar. Dia dibantu Pantino masuk ke hotel sebagai teknisi coklat. Dia secara bertahap menjelaskan tablea sebagai produk berkualitas nasional. Mulai mereka menerobos jaringan hotel internasional dan menjadikan seni membuat coklat diakui dunia.

Bisnis keluarga


Ingatan Choa kembali ke jaman umur 8 tahun. Dia ingat sang nenek menyiapkan tablea. Membuatnya jadi makanan lain nikmat dimulut gadis kecil itu. Waktu itu dia belum menyadari bahwa biji coklat atau kakao adalah bahan utama membuat coklat manis. "Itu adalah sarapan kami setiap hari," kenangnya.

Ketika nenek menjelaskan coklat merupakan pengganjal perut mereka. Dan coklat memiliki kandungan gizi baik. Choa mendengarkan seksama penjelasan tersebut. Maka ketika dia mendapatkan resep bagaimana membuat tablea tertanam dibenaknya.

Dia lantas dinikahi pengusaha, Alfred Choa, diumur 16 tahun dan kecintaan akan coklat semakin membesar. Justru ketika menjadi ibu rumah tanggan dan memiliki delapan anak, ibu dari Michael Ray, Michelle Honey, Anthony, Jonathan, Hanna, Alfredo, Rose Angeline dan John Paul, justru malah menjadi pemilik perusahaan sendiri.

Masa kecil sulit membuat dia tidak takut akan resiko. Dia percaya diri mengambil keputusan di perusahaan. Ia menjadi seniman coklat dimana coklat mengalir di imajinasinya.

"Sukses berarti melalukan hal baik. Saya melakukan hal baik dan seterusnya," ujarnya.

Sukses tablea membawa visi Choa ke masa depan. Dia ingin mengekspor produk coklat khas Filipina jadi komoditi internasional. Fakta dijelaskan Choa, negara mana yang mendapatkan pohon coklat pertama, yaitu ketika Spanish mulai menjelajah tahun 1670.

Jawaban tersebut pasti sudah kamu ketahui. Selanjutnya mimpi wanita 36 tahun ini bagaimana cara membuat produk coklat Filipina mendunia. Dan jika dia ingin lakukan itu, dia akan membawa lebih banyak kardus berisi coklat dan membawa ke pasar global.

Dia memutuskan akan mengekspor coklat. Bukan cuma berkardus coklat siap makan. Tetapi bagaimana cita rasa coklat khas Filipina menyebar ke dunia. "Saya tidak pernah berpikir saya akan berbisnis dengan coklat sekarang," ia tambahkan.

Biografi Inspiratif Robert Herjavec Shark Tank

Biografi Pengusaha Juri Shark Tank



Juri Shark Tank satu ini telah membuktikan fakta tentang imigran. Bahwa imigran siapapun mampu merubah nasib. Dan juga bisa merubah dunia tempatnya menetap tinggal. Kelahiran Kroasia, sebelumnya Yugoslavia, 14 September 1962 merupakan pemilik Herjavec Group. Yang nilai kekayaanya naik tetap dari angka $200 juta.

Dia adalah pengusaha asal Kanada. Seorang investor handal sekaligus penulis buku. Dia semakin terkenal ketika dia menjadi salah satu juri Shark Tank.

"Terkadang itu terasa kamu tidak layak masuk kesana," kutip Herjavec, merujuk kepada keadaanya sebagai orang imigran.

Herjavec tumbuh di Zbjeg. Namun terpaksa meninggalkan negeranya karena sang ayah. Ceritanya bahwa ayah Herjavec merupakan toko vokal. Alhasil, pada umur delapan tahun, tanpa tau sebabnya maka dia ikut dibawa keluarganya keluar dari wilayah konflik

Satu keluarga kemudian sampai di daerah bernama Halifax bermodal satu koper, dan uang $20. Bagianya ia merasa hidup sangatlah sulit. Waktu itu dia hanya bocah biasa, yang bahkan tidak bisa berbicara bahasa Inggris. Transisi hidup memang sulit dimana dia lantas tinggal bersama nenek di sebuah pertanian.

Merasakan hidup sebagai petani harus mengikuti tradisi sekitar. Diantara tetangga baru yang sama bekerja jadi petani, dia menemukan fakta bahwa keluarga Herjavec lebih miskin, dimana dia merasa minder akan hal tersebut untuk bersosialisasi sebagai masyarakat ekonomi lemah.

Dia mengenang sang ayah bekerja di pabrik. Menghasilkan kurang lebih $76 seminggu -atau setara $464,26 jika tidak terpengaruh inflasi- di 2015. Dia kemudian mengenang "bully" dirasakan ketika sekolah. Pernah ia mengadu kepada ibu karena diejek teman sekelas karena miskin.

Bayangkan ayah Herjavec bekerjanya jalan kaki. Dia mengumpulkan uang ongkos naik angkot, sampainya di rumah, ketika dia mendengar ucapan sang anak. Ayah Herjavec berkata,"jangan pernah mengeluh," yang mana menjadi kata bijaknya hidup sampai sekarang.

Dia sangat mengagumi sang ayah. Dia menjulukinya "pria tangguh, yang sangatlah tangguh." Perkataan sang ayah akan jangan mengeluh mendorong dia maju. Keinginan akan membangun kemapanan semakin tumbuh. Tambahan dorongan lain ialah ketika dia mendapti sang ibu ditipu mentah- mentah.

Bayangkan seorang salesman datang, mengajak ibunya membeli alat pembersih debu seharga Rp.500, dan itu setara gaji ayah seminggu. Kejadian tersebut mendorong Herjavec harus lebih cerdas. Pemikirannya ialah dia bersumpah tidak mau lagi orang tua ataupun dia dimanfaatkan orang lagi.

Tahun 1984, dia lulus kuliah dari University of Toronto, dengan latar pendidikannya Ilmu Bahasa Inggris dan juga Ilmu Politik. Dia bekerja agar mampu mencukupi keluarga. Dia mengambil aneka pekerjaan dengan gaji mepet upah minimum di 1990 -an, seperti menunggui meja, mengantar koran, menjadi sales, debt collector.

Imigran sukses


Dia mendeskripsikan dirinya sebagai "Imigran dalam kapal". Merujuk pada imigran Timur Tengah yang mulai masuk ke Eropa melalui kapal- kapal kecil. Umur delapan tahun dia merasakan sendiri ikut ayahnya masuk ke Kanda menghindari penjara.

Dia mengenang bagaimana dia tidur di basement. Cuma punya satu sepatu terpasang dikakinya. Mungkin ia merasakan kemerdekaan di negara baru. Namun perasaan emosional melanda transisi hidup Herjavec. Dia menginjak dunia baru berbeda. Herjavec bahkan dibully teman sekelas karena hidup miskin sebagai imigran.

Ia bahkan dipukuli karena memakai pakaian tidak keren. "Ketika saya berkata kepada ibu saya, dia lantas berkata, "Robbie, tidak ada seorangpun di dunia lebih baik dari kamu dan kamu tidaklah lebih baik dari siapapun di dunia"," ia berkata kepada majalah Entrepreneur bahwa mengeluh tidak ditolerir.

Tumbuh besar dia sempat merasa minder. Dia merasa semakin seperti orang asing di negeri asing. Sempat ia melihat ayah berangka kerja berjalan kaki. Ayahnya bekerja menjadi tukang sapu di sebuah pabrik. Lalu ia menjadi saksi ibunya ditipu tukang jual mesin penyedot debu.

"Saya menyadari bahwa dibandingkan orang lain, kami sangatlah miskin," kenangnya. Umur 14 tahun muncul rasa ambisi untuk menjadi multi- miliarder, karena ia ingin memberikan kehidupan keluarga lebih baik.

Ia ingin lebih dari bayangan kosong keluarga tentang "kembali ke Kroasia". Dia tidak mau keluarganya malah kembali kesana dan memulai dari nol (lagi). Herjavec menginginkan hidup diatas semua pikiran liar tersebut. Dia lantas berkata kepada orang tuanya bahwa dia akan menjadi bos.

Seseorang yang tidak akan dipecat dan bisa bersantai. Bukan hidup seperti pekerja pabrik bersama ayahnya dulu. Dia ingin menjadi seseorang yang bebas menentukan jadwalnya sendiri. Dia mau menjadi entrepreneur. Bekerja seadanya seperti cerita diatas, dia mulai bekerja lebih keras agar menjadi sosok seperti di citakan.

Karir bisnis


Karir di bidang perfilman dimulai sejak dini. Dia bekerja di belakang kamera di berbagai rumah produksi. Ia kemudian menjadi asisten direktor, filmnya seperti Cain and Abel dan The Return of Billy Jack. Karirnya di bidang ini mengalami puncak sebagai produser siaran langsung Olympic Musim Dingin XIV untuk Global TV.

Herjavec mendapatkan penghargaan termuda meliput Olympic. Mencari pekerjaan dibidang produksi, ia lantas mendaftar ke perusahaan Logiquest menjual produk IBM, namun karena tidak sesuai pengalaman maka dia ditolak. Herjavec tidak putus asa malah menawarkan bekerja selama enam bulan tanpa gaji.

Karena dia bekerja gratis maka Herjavec mencari sambilan. Bekerja keras lalu naik pangkat sangat jauh yakni menjadi Jendral Manajer di Logiquest. Di 1990 -an, dia dipecat oleh perusahaan, lantas mendirikan perusahaan sendiri bernama BRAK Systems, perusahaan keamanan internet Kanda, berkantor di basement rumah.

Kemudian BRAK Systems sendiri dijual ke AT&T Canada di Maret 2000 senilai $30,2 juta. Dan setelah tiga tahun pensiun, serta menumpang tinggal di rumah ayahnya bersama tiga anaknya, akhirnya Herjavec menemukan satu lagi perusahaan bernama Herjavec Group di 2003.

Bisnisnya meliputi keamanan jaringan internet, menjual dan memanajemen layanan provider, dimana dia jadi CEO perusahaan. Perusahaan ini tumbuh sangat cepat dan menjadi provider IT terbesar Kanada, menurut Branham Group. Herjavec Group (THG) memiliki tiga pegawai di 2003 jadi 150 pegawai pada tahun 2013.

Total pertumbuhan perusahaan 630% dari 2007- 2014 lalu. Dari penjualan yang cuma $400 K pada 2003 menjadi $125 juta masuk 2012. Perusahaan mencapai target penjualan lebih dari $500 juta.

Mimpinya menjadi imigran sukses telah tercapai. Dia selalu percaya akan hidup sukses dan akhirnya sukses melebihi imajinasi terliar. Hidup baginya terbagi dua, orang yang sudah ditakdirkan Tuhan sukses sejak lahir dan mereka yang menjangkaunya kesuksesan.

"Saya salah satu diantara orang yang sukses karena menanggung luka di kehidupan mereka, yang tau bahwa mereka tidak akan mampu bertahan lagi dan mau merubah nasib," imbuhnya kepada Entrepreneur.com

Menjadi imigran, kemudian mendapatkan kewarganegaraan Kanada tidak mudah. Dia tidak seketika jadi warga negara karena entrepreneur. Butuh waktu contoh saja entrepreneur salain dirinya. Mereka harus siap menghadapi perbedaan budaya dan bahasa, dan norma hidup sementara tetap berusaha agar sukses.

Menurutnya tidak sangatlah sulit menjadi entrepreneur imigran. Susah buat mencampur di tempat tinggalnya sekarang. Namun tidak berarti menghentikan kamu mencari tempat menjadi sukses. "Tidak masalah siapapun kamu atau darimana pun kamu," Herjavec menambahkan lagi.

Pada dasarnya dalam hati terdalam orang tidak peduli. Tidak peduli warna kulit. Tidak peduli tentang apa agama ataupun jenis kelamin. Mereka cuma peduli berapa nilai kamu taruh dalam kehidupan.

Hidup biasa


Pilihan terbaik seorang Herjavec bukanlah memilih berbisnis awal. Bukanlah belajar bahasa baru agar bisa menyatu dengan lingkungan. Bukanlah pula menjual perusahaan ke AT&T untuk jutaan dollar. Adalah dia memutuskan untuk menolak virus dia sebut hidup biasa. Menolak hidup biasa saja dalam bentuk apapun itu nanti.

"Dunia tidak menghargai kebiasaan," ujar Herjavec. Kamu harulah menjadi hebat untuk sesuatu. Tidak ada namanya cukup baik. Cuma ada terbaik ataupun kata lebih hebat. Pengusaha besar bermata biru savir, sekarang berumur 52 tahun, kini menduduki posisi sebagai pemilik perusahaan keamanan internet.

Dengan sagala macam masalah dilalui. Dia pernah bekerja menjadi penjual koran loh. Juga pernah bekerja menjadi kolektor utang. Dia pernah bekerja menjadi pembersih lantai bergaji $76 per- minggu. Herjavec memang hidup berkecukupan tetapi dia ingin lebih.

Umur 14 tahun dia "digigit" serangga entrepreneurship. Dia lantas menyatakan keinginan menjadi pengusaha kepada kedua orang tua. Ayahnya lantas memberikan saran. Ayah Herjavec menunjuk jabatan tertinggi di perusahaan tempatnya bekerja. Tetapi sosok tersebut tidak membuat Herjavec berpuas.

"Bagi orang tua saya, orang itu adalah sosok paling sukses mereka tau karena dia adalah sosok yang tidak akan dipecat dan pekerja keras."

Tanpa adanya mentor membuat dia cukup kesulitan. Dia ingin menjadi orang yang tidak peduli akan gajinya ataupun sewa. Ingin menjadi seseorang sukses dan besar. Dia kemudian menyasar buku- buku menjadi sang mentor. Sasarannya tidak lain adalah kisah- kisah biografi pengusaha.

Dari sanalah dia menemukan tidak seorang pun peduli akan orang biasa. Kesuksesan adalah bisa dihitung. Ia mau menjadi sukses dan menghasilkan banyak uang. Atau apapun yang mendefinisikan kesuksesan tersebut. "Lakukan satu hal dan lakukan itu lebih baik dari siapapun," jelasnya. "Lakukaan apapun buat menjadi paling hebat."

Jika tidak mau, maka kamu tidak akan pernah melihat titik potensi kamu. Kamu tidak akan pernah sukses buat menghidupkan mimpi kamu.

"Temukan talenta kamu, jadilah hebat dan lakukan hal hebat dari telanta kamu sendiri. Jika kamu lakukan, tidak cuma kamu akan sukses, kamu akan mendapatkan kepuasan pribadi dan mencukupi sesuatu uang tidak dapat beli."

Catatan: foto diatas adalah fotor Robert Herjavic di rumah lamanya

Peci Kopiah Anak Bergambar Kartun Untung Jutaan

Profil Pengusaha Ahmad Irwan


 
Kopiah seoalah ditelan masa. Padahal jika kita runut kebelakang kopiah merupakan identitas. Tidak ada satu presiden yang tidak memakai kopiah. Seolah sudah menjadi identitas petinggi negara. Kegunaanya tidak lagi berhenti buat sholat tetapi fasion itu sendiri. Inilah nampaknya peluang ditangkap oleh Ahmad Irwan.

Siapa sangka sosok sederhana ini seorang pengusaha. Sukses bahkan katanya nih, Ahmad meraup omzet mencapai ratusan juta. Seperti ditulis di SindoNews dikatakan bahwa dia mengantongi Rp.500 juta. Atau dia menjual sebanyak 300 kodi sekali produksi per- bulan.

Bukan sembarang kopiah biasa. Usaha pembuatan kopiah ini menyasar anak- anak. Lewat imajinasi mereka lah pria asal Bogor ini kaya. "Saya saat itu masih buta soal bisnis," kenang Ahmad, ketika melihat sang ayah sedang menjalankan usaha keluarga. Usaha keluarga yang dirintis ayah Ahmad dulu tidak seramai sekarang.

Usaha tersebut dibangun di Gersik sejak 1970 -an. Kemudian berpindah tangan ke Ahmad karena ayah dipanggil Sang Khalik. Waktu itu, tahun 1991, dia masihlah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan waktu itu masih kelas 3 jadilah wajar tidak tau. 

Dia hanya tau perusahaan ayahnya membuat kopiah hitam. Setumpuk- tumpuk kopiah tanpa corak ditumpuk di pabriknya. Anak SMP itu lantas menyerahkan jalannya usaha kepada pegawai ayah.

Bisnis mendadak


Lantaran buta soal bisnis maka wajar dia dikibuli orang dulu. Dia lalu bercerita pelajaran pertama bisnisnya tentang kepercayaan. Pegawai kepercayaan keluarga malah membuat rugi. Selama berjalan waktu, dia baru menyadari, bahwa sang pegawai mengalihkan pembayaran klien ke rekeningnya sendiri.

Total dia kehilangan 30% transaksi bisnis. Menyadari hal tersebut, seketika dia meminta ijin kepada kepala sekolah buat waktu khusus untuk usahanya. Singkat cerita dia diijinkan mengurus ke Bank. Dia beri waktu khusus urusan ke Bank, yang mana waktu bukanya dibawah pukul 12 siang.

Memasuki masa SMA, tepatnya dua tahun kemudian, dia total mengurus usaha keluarganya itu. Dan anak sulung dari dua bersaudara tersebut tetap mendapatkan cobaan. Memang berbisnis tidak semudah membalik telapak tangan, ujar pria kelahiran 1974 ini.

Tahun 1998, usaha Ahmad terimbas krisis moneter, dimana cobaan sekarang berupa naiknya harga bahan baku membuat kopiah. Harga bahan baku melonjak tidak dapat ditebak. Kemudian tiga toko distributor di Pasar Anyer, Bogor, ketiganya terbakar sekaligus. Rugi besar lantaran barang distok ludes terbakar belum laku.

Krisis moneter membuat Ahmad kehilangan stok. Dia rugi lebih dari Rp.180 juta lantaran barang ludes ikut terbakar. Namun dia tetap berproduksi bermodal seadanya. Ayah empat anak ini mendapatkan cobaan lain yakni enam tahun selepasnya.

Dua toko milik distributornya di Pasar Tanah Abang terbakar. Kerugian mencapai Rp.100 juta, memang tak sebesar dulu tetapi membuat Ahmad tertekan. Dia sempat trauma buat berbisnis kembali. Karena kejadian kali ini dia sempat berhenti berproduksi. Ahmad sempat menjadi pengangguran karena tidak ada pilihan.

Rasa takut justru menjadi semangat. Entah mendapatkan ilham apa, ia malah bersemangat buat membuktikan bahwa dia bisa. Mungkin karena waktu itu dia merasa diremehkan orang. Perasaan dihina justru membuat dia bersemangat membukitkan, seperti dikisahkannya dalam artikel tersebut.

"Saya terpacu untuk bangkit kerena tidak ingin diremehkan, bahkan oleh keluarga sendiri," kenangnya. Inilah yang membuat proses produksi ditingkatkan.

Untung ada CSR dari Petrokimia menjadi jalan. Uang sebesar Rp.10 juta digunakan buat memproduksi. Dia kembali aktif dan mulai mengikuti sejumlah pameran. Dari sanalah lahir bisnis UD. Gading Gajah, yang mana produk andalannya NYIL dan Al Ichsan, yang mana bentuk ekspansi bisnis seorang Ahmad Irwan.

Melalui pameran dia mulai memahami selera pasar. Termasuk merencanakan penyempurnaan produk kopiah miliknya. Lankah selanjutnya dalam produksi ialah eksplorasi. Dia merancang kemungkinan buat membuat motif diluar kopiah hitam biasa.

Dia menemukan lebih dari 30 motif. Dia mantapkan diri menggarap pasar anak- anak. Kopiah yang memiliki aneka tema untuk desain motifnya. Ahmad membuat motif klub bola dan karakter kartun. Awalnya dia cuma mau menarik perhatian saja. Coba- coba dia melihat pasar dan pembeli meminati toko kartun seperi Naruto.

Dia lantas membuat aneka tokoh kartun. Daya tarik pasar didukung minat anak- anak sekarang. Juga satu kebutuhan akan orang tua buat mendidik anak beribadah. Ia mulai membuat aneka karakter kartun yang dia liat terbukti digandrungi anak- anak.

Kopiah motif bola juga menjadi primadona bagi pembeli anak- anak. Tidak cuma anak kecil tetapi dewasa juga punya. Alasan mereka karena ingin mengoleksi segala pernak- pernik klub kesayangannya. Mereka ini para kolektor pencari pernak- pernik. Juga dibuat kompak dengan atribut baju koko berkonsep club sama.

Bisnis Ahmad semakin sukses berkat tepat membidik pasar. Dia memindahkan pasar ke Sumatra dan hasil penjualan meningkat. Ahmad bahkan masuk ke butik loh. Harga jual ditawarkan juga naik karena sudah bisa masuk ke butik. Bagaimana dia sepintar sekarang, bukan lagi kalau tidak karena pengalaman bisnisnya.

Semua berawal dari pesanan dari pusat perbelanjaan Sarinah. Wawasan Ahmad terbuka tentang bagaimana cara masuk ke butik. Alhasil sekarang dia mencetak dua jenis: kopiah buat pasar tradisional dan buat pasar swalayan atau butik.

Bisnisnya tersebar ke Sumatra, yakni Pekabaru, Medan, Palembang dan Batam. Untuk pasarnya di Jawa ada di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Perbulan dia memproduksi 500 kodi omzetnya mencapai Rp.500 juta. Ia bahkan menyebutkan omzet naik dua kali lipat, utamanya ketika masuk dua bulan menjelang puasa. Dia mendapat Rp.300 juta untuk bulan puasa saja. Nilai omzet segitu jelasnya berasal dari butik mencapai 60 persen dari penjualan.

Harga jual butik dikisaran Rp.600 ribu sampai Rp.1 juta per- kodi. Kalau harga di pasaran tradisional cuma mencapai Rp.350 ribu per- kodi. Ahmad juga tidak seketika memasarkan produk ke suatu tempat. Dia lebih memilih mengamati pasar agar produknya sesuai.

UD Gading Gajah memilih fleksibel soal produksi setiap bulan. "...supaya sama- sama menguntungkan," imbuh dia. Dia sendiri tidak takut bersaing dengan produk serupa dari produksinya. Ahmad malah bangga karena menjadi pelopor bisnis kopiah.

Dia meyakini kopiah harus makin kreatif. Supaya tidak ketinggalan ditelan masa. Kunci suksesnya berada di selalu fokus mengerjakan sesuatu. Jangan menyerah ketika ada masalah. Ahmad juga mengingatkan agar kita selalu kreatif menciptakan trobosan. Harus mampu mengamati produk apa yang disukai konsumen kalian.

Untuk itu dia bahkan membuat manekin sendiri. "...dan interior pameran supaya produk terlihat yang terbaik di mata konsumen," imbuhnya.

Dilarang Usaha Aqiqah Tetap Ngotot Hasilkan Ratusan Juta

Profil Pengusaha Teguh Arif Hidayat 


 
Menjadi pengusaha muslim usaha apa terbaik. Apalagi kalau bukan usaha aqiqah. Ini salah satu ajaran yang disunahkan umat muslim. Bayangkan 4,5 juta bayi terlahir dan beraqiqah menjadi sunahnya. Dan banyak umat muslim mulai sadar pentingnya beraqiqah. Di era sekarang aqiqah tidak lagi rumit banyak kemudahan.

Banyak pengusaha aqiqah bermunculan. Dari pengusaha veteran sampai yang pengusaha muda sukses. Salah satu pengusaha veteran dibidang aqiqah adalah Teguh Arif Hidayat. Tahun 2007 silam, dirinya mulai berbisnis aqiqah bernama As Shidiq. Kala itu mencari lembaga pemberi layanan aqiqah tidak semudah sekarang.

Ia harus mencari kambing atau domba sendiri. Saking sulitnya mencari, sampai Teguh mendapatkan kambing dari daerah Priuk, Jakarta Utara. Disitulah ide mengenai usaha aqiqah terbentuk. Kenapa tidak dia memberi layanan penjualan sekaligus pengolahan menjadi satu, sebuah bisnis profesional seperti sekarang.

Uang tabungan sebesar Rp.750 ribu dijadikan modal. Taguh lantas membeli beberapa peralatan memasak dari kompor dan penggorengan. Uniknya kambing dan domba baru dibeli setelah ada pesanan. Jadilah Teguh mulai menawarkan usaha aqiqah tanpa kambing.

Sukses nekat


Strategi bisnis Tegus mudah kok. Dia langsung membagi brosur. Mencetak brosur mengenai usahanya lantas menempelkan di tempat strategis. Paling menarik iyalah Teguh menitipkan brosur ke apotik. Kemudian dia juga memberikan informasi kepada rekan kerja, tetangga, dan saudara.

Untuk layanan tambahan, dia mendobrak lewat cara mencicil kambing. Ini dapat mempermudah masyarakat menyiapkan aqiqah anak jauh hari. Nilai angsurang disesuaikan harga hewan ditambah perkiraan kapan si calon bayi lahir. Hasil layanan tersebut terbukti manjur. Bulan pertama berbisnis dia mendapatkan 7 pesanan kambing.

Pada bulan kedua dia mendapatkan 12 ekor. Bulan ketiga mendapatkan pesanan sampai 20 ekor. Usaha dia jalankan membaik membuat rekan kerja Tegus ikutan. Dia memberikan suntikan dana modal Rp.5 juta ke Teguh. Rekan kerja Teguh itu juga menunjukan tempat pemasok kambing dan domba asal daerahnya.

Semenjak itu pula usaha dijalankan Teguh makin berkembang saja. Sukses bukan berarti ia lekas puas akan hasilnya. Dia ngebut membeli lahan untuk dibangun rumah 3x5 meter sebagai dapur dan kandang. Rumah yang terletak di bilangan Petukangan Selatan, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Rumah tersebut dijadikan tempat penggemukan kambing. Tempat pemotongan kambing sekaligus dimasak di sana. Teguh yakin akan kualitas nomor satu selalu punya cara meningkatkan itu.

Cara meningkatkan layanan seperti membuat varian masakan. Aqiqah bernama As Shidiq ini memiliki aneka menus seperti tongseng, gulai semur, kare, dan lainnya. Untuk kambing atau domba orang bisa datang ke tempatnya buat memilih langsung. Pembeli juga bisa melihat proses penyembelihan langsung.

"Ada bonus buku risalah akikah dan jika diperlukan dokumentasi hewan," ia tambahkan.

Memang inovasi layanan selalu diberikan Teguh. Bahkan dia sudah masuk ke ranah internet lewat website milik sendiri www.akikahmurah.com. Dimana dia menyampaikan tipe layanan akikah. Juga termasuk harga kambing atau domba dijual serta aneka promosi lainnya.

Informasi lain juga berupa edukasi tentang aqiqah. Dia mengedukasi calon konsumen sehingga tidak salah memilih. Namun startegi melalui internet bukanlah strategi utama. Kesuksesan aqiqah As Shidiq memang dari offline. Dimana 90 persen konsumen baru merupakan hasil rekomendasi pelanggan.

Sukses layanan


Memberikan layanan satu atap membuat aqiqah lebih menarik. Berbeda jika dulu dimana orang harus cari sendiri kambing ditambah masak sendiri. Konsep one stop solution dianggap lebih murah, serta gampang buat dijalankan, maka pelanggan tidak perlu khawatir kehabisan waktu buat aqiqah.

Pelayanan terbaik selalu diberikan Teguh. Dia sendiri mampu menjual sampai 750 ekor kambing atau domba per- bulannya. Mengejutkan omzet diraup Teguh telah mencapai Rp.750 juta. Untung kotornya sampai 20- 30 persen dari harga satu kambing yakni Rp.600 ribu sampai Rp.1 juta.

Teguh sadar membuka usaha aqiqah berarti ibadah. Makanya dia lebih memilih menyasar masyarakat kelas menengah bawah. Ini ditunjukan dengan kemudahan membeli kambing atau domba lewat angsuran. Dia ingin mengedukasi bahwa aqiqah bisa murah. Orang Islam bisa mengikuti sunah tanpa khawatir soal uang lagi.

"Selama ini persepsinya aqiqah mahal, padahal tidak," imbuh dia. Dia bahkan menyebutkan uang Rp.400 ribu sudah dapat kambing dan diolah secara syar'i. "...umurnya cukup dan sehat," tambahnya.

Seiring kemajuan usaha aqiqah, pria penghobi baca ini melebarkan sayap ke bisnis lain. Seperti katering dan restoran khusus kambing atau domba. Semua karena permintaan konsumen sudah terpenuhi. Ia menambah lagi bahwa bisnis katering sejalan bisnis aqiqah. Berarti orang dapat memasakan ke dia langsung tanpa repot.

Dia juga menyiapkan peralatan makan lengkap. Jadilah orang tinggal cari tempat buat acara aqiqah dan isi semua ditangani As Shidiq aqiqah. Semua makanan tinggal dihidangkan ke pengunjung acara aqiqah. Untuk usaha resto dibuka di JL. Ciledug Raya, Petukangan Selatan. Menu disajikan sate kambing dan domba dia sendiri.

Walaupun terlihat biasa, restoran dihadirkan Teguh, menurut klaimnya memiliki cita rasa berbeda. Dimana dia menyuguhkan sate barbeque, saos padang dan lada hitam. Suami dari Nurlela ini memang memiliki semangat wirausaha tinggi. Dia bahkan tengan mengkonsep sistem kemitraan modal agar usahanya makin menyebar.

Dia tidak memilih waralaba atau franchise. Dia lebih memilih ke sistem pendanaan bersama. Join venture mungkin istilah tepat buat usahanya. Dari pihaknya yang akan mengelola sementara hasilnya bagi hasil.

Dilarang jadi pengusaha


Kisah sukses Teguh bukanlah tanpa hambatan. Orang tua mana mau anaknya jualan kambing. Padahal dia sudah disekolahkan tinggi- tinggi sampai kuliah. Padahal dia bekerja di perusahaan sekelas Nokia. Ganjalan hati tersebut sempat membuat usahanya agak tersendat. Apalagi ketika dia memutuskan keluar dari perusahaan.

Orang tua mana mau anaknya bergaji tinggi kini jualan kambing. Pilihan sulit diambilnya di tahun 2008 tetapi dia sudah melihat arah bisnisnya. Dalam benaknya ada kegamangan antara membesarkan perusahaan orang lain atau menjadi pemilik usahanya sendiri. Waktu itu permintaan kambing aqiqah sudah meledak butuh dia disana.

Butuh seseorang buat menjalankan usaha aqiqahnya. Dia sendiri harus turun tangan. "Tidak enak juga jika harus sering terlambat ke kantor. Apalagi tanda tangan saya diperlukan untuk mengambil suku cadang," ia mengenang. Orang tua langsung protes mempertanyakan keputusan Teguh keluar dari kantor.

Masuk akal karena berkat orang tua, Teguh bisa lulus kuliah jurusan ekonomi di Universitas Budi Luhur, dia ingat betul kedua orang tuanya bekerja keras banting tulang. Tetapi dia tetap yakin ngotot melanjutkan usaha di bidang aqiqah ini.

Dia membuktikan bahwa jualan kambing bisa sukses. Bahkan dari usahanya kini, Teguh mampu mengakat kedua orang tuanya berangkat haji. Dia juga membantu adik sampai kuliah. Tidak perlu khawatir karena omzet usahanya sudah ratusan juta dan punya restoran sendiri.

Seiring usaha berkembang jumlah pegawai meningkat. Dia memiliki 29 pegawai bekerja. Dia mengambil orang- orang yang minim keahlian. Sebagian besar merupakan buta aksara yang membutuhkan pertolongan.

Bakso Rumput Laut Mahasiswa Maha Bakso

Profil Pengusaha Zaenal Arifin dan Mohamad Haiba 



Bosan akan bakso itu- itu saja. Zaenal Arifin bertekat membuat perbedaan mencolok. Bersama rekannya sesama mahasiswa, Mohamad Haiba, mengembangkn bakso berbahan rumput laut. Tidak cuma sebatas itu, mereka lantas mengembangkan bakso kelapa muda. Jika dilihat bentuknya tidak berbeda sama- sama bulat.

Bakso buatan Zaenal tidak sekedar daging sapi. Tambahan rumput laut menjadikan bakso makin gurih. Dia juga punya senjata lain yakni bakso jamur. Berkat ide kreatif dua orang mahasiswa mampu meraih omzet mencapai Rp.13 juta.

Mahasiswa salah satu Universitas Swasta asal Jombang. Bermodal semangat kewirausahaan membuka satu gerai bakso di Jalan Raya Ceweng No.9, Kecamatan Jombang, Jawa Timur -depan SPBU Ceweng. Kedai bakso buka pukul 10.00 pagi sampai 10.00 malam.

Cara membuat bakso umum. Bedanya ditambah berbagai bahan, termasuk rumput laut, kelapa muda, dan juga jamur kecil- kecil. Semua dicampur bareng menjadi satu adonan. Rebus sampai matang sampai dapat dihidangkan.

Kesan bahwa bahan baku biasa tetapi luar biasa. Para pengunjung mengaku senang bakso buatan Zaenal. Ia menyebut rasa rumput laut, kelapa muda, dan jamurnya bukan tempelan. Belum ada duanya di Indonesia kali yah. Sebagai mahasiswa keduanya mengaku senang dapat berbisnis sambil tetap berkuliah.

Berjalan sampai 1,5 tahun usahanya stabil. Rata- rata omzet Rp.13 juta selalu diraih. Gerai bakso yang lantas diberi nama Maha Bakso memang beda. Tambahan gerai milik keduanya memakai konsep lesehan. Konsep yang fokus menjadi tempat istirahat apalagi posisinya strategis arus mudik.

Di tempat ini diharapkan bisa menjadi tempat istirahat, meeting, ataupun sekedar ngobrol. Nuansa dibikinnya senyaman mungkin bermodal televisi laya datar dan alunan musik menghibur. Kedua mahasiswa ini masih mau terus berkreasi menciptakan bahan bakso lain, yang tidak melulu menggunakan bahan daging sapi.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba