Sepatu Kulit Batik Kulkith Agnes Tandia

Profil Pengusaha Agnes Tandia 


 
Jadi pengusaha tidak harus mahal. Di usia 22 tahun, Agnes Tandia sukses berbisnis padahal bermodal cuma Rp.300 juta. Dia bercerita awal memulai dari mencoba- coba. Keisengan membuat jaket kain batik ternyata berbuah usaha. Jaket tersebut dipakai ke kampus dan akhirnya teman- teman mulai menanyakan dia.

Kebetulan dia berkuliah Jurusan Kriya Tekstil Seni Rupa, Ilmu Teknologi Bandung (ITB), tahun 2008. Maka tak salah jika ide bisnis menjurus ke kain perca. Jika kain batik tulis makin lama makin mahal. Lantas apa kabar sisanya, cuma menjadi tumpukan limbah.

Agnes mencoba mengangkatnya kembali. Semenjak jaket batik tersebut dibawa, banyak teman yang tertarik untuk membeli. Pesanan sangat banyak bagi Agnes mencapai 100 buah, memakain uang modal tiga ratusan ribu. "Omzet pertama jaket saya mencapai Rp.3 juta sebulan," kenangnya.

Bisnis batik unik


Ditemui di toko batik miliknya, bilangan Sukamulaya, Bandung, maka Agnes bercerita kembali tentang apa perjalanan bisnisnya. Bermodal sedaanya dibuatlah empat jaket. Itu langsung ludes hingga uang untung dapat diputar kembali. Melihat kain perca batik menumpuk ide lain muncul, termasuk membuat sepatu batik.

Di tahun 2009, Agnes memamerkan sepatu batik tersebut ke ajang Inacraft. Respon positif kembali nampak dihadapannya. Waktu itu padahal cuma "nebeng" stand milik kakak kelas. "Saya juga menitipkan kartu nama sebanyak mungkin."

Ketika itu usia Agens masih 19 tahun. Sukses berbisnis jaket melebarkan sayap ke sepatu batik. Berbeda di jaket yang batik kesemuanya. Sepatu Agnes memakai sistem menaruh perca diatas sepatu. Atau lapisan luar sepatu ditempeli batik sisa produksi jaket. 

Semakin banyak peminat, Agnes merespon hal itu lewat menamai usahanya Kulkith. Lewat ajang pameran Incraft di Jakarta Convention Center (JCC), usahanya makin dikenal oleh publik dan batik Kulkith mampu mengantungi Rp.8 juta. Padahal modalnya membawa sepatu dua lusin ke Inacraft cuma Rp.2 juta.

Agnes makin mantap saja bahwa batik merupakan passion. "Dari dua lusin saya bawa, yang tersisa hanya lima pasang," lanjut Agnes. Terobosan terbaru dilakukan olehnya meliputi sandal batik, dan juga sepatu kulit berlapis kain batik.

Sepasang sepatu dibandrol Rp.325.000 ketika di Inacraft. Dengan entengnya dia mengaku "pasrah" kalau laku ya bersyukur tetapi kalau tidak, ya tidak apa- apa. Karena memang kala itu, ia sudah dikenal sebagai seorang pengusaha jaket batik. Begitu sepatu batik laku keras maka dia meninggalkan usaha membuat jaket.

Alasan utama karena respon pasar lebih kuat. Untuk menambah jenis sepatu digunakan berbagai referensi termasuk melalui internet.

Ya karena modal terbatas maka Agnes juga menjual di internet. Berbagai cara pemasaran dilakukan olehnya. Yang paling mengena ialah melalui perantara fashion blogger. Nama Diana Rikasari dijadikan brand booster melalui review. Dia mulai menjelaskan detail produknya ke Diana Rikasari. "...dia pakai dan dia review di blog."

Bisnis online


Tujuan usaha tidak selalu soal untung. Satu hal ingin dicapainya ialah menjadi trend setter yakni bagaimana ia mengajak kaum muda mencintai batik. Memang dulu batik terkenal tua tidak cocok dipakai dikesempatan di luar formal.

Langkah pertama ialah lewat membuat jaket batik. Bermodal minim target pasar cuma sebatas teman- teman di kampus. Agnes dengan bangga memakai jaket buatan sendiri. Jaket dengan capuchon dua sisi yang bisa dipakai bergantian. Ini dipakai sebagai tes pasar juga bagaimana tanggapan anak muda.

Agnes melihat disana ada peluang bagi pasar anak muda. Sukses membuat batik, limbahnya tercecer, maka kain perca tersebut dijadikan sepatu juga sandal. Limbah batik dari hasil produksi jaket memang terbilang banyak menumpuk. Dia memilih sandal serta sepatu karena kebutuhan batik tidak banyak.

Untung karena dia berada di Bandung, maka tidak sulit dia menemukan penjahit ahli. Sebagai wanita maka ia termasuk mengikuti trend; disaat musim model Gladiator maka dia ikut, musim flat shoes maka batik Kulkith tidak ketinggalan.

Dia tidak sulit mendapatkan penjahit bagus. Ditambah bekal ilmu dari kampus, serta pandangan kedepan akan batik menjadikan Agnes sang juara. Perpaduan antara estetik corak batik dan kulit sintetis. Soal bahan baku dikatakan Agnes mudah didapat. Bahan batik sendiri terbilang lengkap, dari Pekalongan, Cirebon, Solo.

"...Yogyakarta. Malah sampai kain tenun ikat pun ada," Agnes menjelaskan. Karena saking cinta akan batik, ketika bepergian dia sempatkan membeli batik di daerah.

Disaat bersamaan kemajuan sosial media mendukung. Selain melalui perantara fashion blogger, yang sudah punya banyak follower setia. Usaha lain dilakukan Agnes yaitu melalui Facebook. Waktu itu semua orang berlomba bersosial lewat Facebook. Berbeda dia malah menjadikan Facebook tempat dia berjualan.

Jangkauan Kulikith meluas layakan sosial media. Ia mampu merambah Malaysia dan Belanda. Tahun 2009 juga dia mengirim lima lusin ke Belanda. Target pasar sendiri dia memilih memproduksi cuma sepatu batik wanita. Pasalnya menurut Agnes wanita lebih peka soal desain.

Setiap bulan dia merilis tiga desain baru sesuai trend. Harga juga disesuaikan tidak terlalu mahal, tidak terlalu berat di kantong wanita. "Jika harganya murah, mereka akan sering berbelanja," lanjut Agnes. Meski murah dia tetap fokus akan menjaga kualitas bahan. Lanjut yaitu pemilihan corak batik yang cocok buat sepatu.

Keluhan datang justru masalah tenaga kerja berkualitas. Utamanya dibidang desain, dibutuhkan kreatifitas yang tinggi untuk bisnis tersebut.

Langkah ke depan


Kini dia mampu menggaji empat orang karyawan. Penjualan naik menjadi 300 pasang per- bulan cuma lewat sosial media. Agnes juga aktif mengikuti aneka pameran kewirausahaan. Agnes lantas merintis bisnis offline store merekrut saudara serta teman. Juga termasuk toko di Bali, Agnes masih mantap membesarkan usaha ini.

Kalau permintaan naik seperti kala Lebaran, Agnes mengakali lewat mengajak pegawai tambahan. Semakin hari nama Batik Kulkith semakin terkenal. Soal ekspor belum sampai kesana, karena diakui olehnya masih sukar soal perijinan ditambah masih ada keluhan di pembeli lokal.

Masalah seperti gambar tidak seperti sepatu dibeli. Hal lain masih berputar dalam hal ukuran sepatu. Tidak sampai menurunkan omzet sih. Namun hal kecil tidak dia nafikan, justru semakin diminimalisir agar usahanya makin ke depan. Agnes lalu memperbaiki sistem menejemen bisnis Batik Kulkith.

Agnes juga bereksperimen melalui aneka macam akesesoris. Masih diarea yang dia senangi yakni kain batik. Kenapa mengambil batik? Karena Agnes mencintai batik. Jika biasanya batik dipakai di acara pernikahan, maka ditangannya batik menjadi fashionable, bisa dipakai kapan saja. Tidak perlu ada acara khusus buat batik.

Meski membuat produk lain seperti membuat jaket kembali. Nama Kulkith kadung dikonotasikan sebagai brand sepatu batik. Ia tidak menolak kenyataan ini. Meski begitu menjadi bukti bahwa brand -nya kena di hati masyarakat luas. Namun persaingan semakin ketat membuat Agnes harus siap selalu berkreasi lagi.

Produk batik semakin banyak. Tidak sedikit meniru desain diluncurkan Kulkith. Agar bisa bertahan dia pilih memiliki identitas tertentu. Ciri pada produknya dianggap penting. Meski sama sepatu batik tetapi fitur yang dihadirkan berbeda. "Intinya kita harus terus melakukan inovasi," tambahnya.

Tukang Sayur Ganteng Kaya Berkat Ketekunan

Profil Pengusaha Samsul Arifin 



Mahasiswa ini tidak malu harus berjualan sayur. Samsul Arifin menyatakan bahwa dia berjualan karena ingin membiayai kuliah. Memulai usaha bermodal seadanya. Namun, berkat kegigihan, ia kini menghasilkan omzet mencapai omzet Rp.6 juta.

Ia pedagang di Pasar Blok A Jakarta Selatan. Sambil berjualan sayur kuliah tetap dijalankan. Dia adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Professor DR Hamka, sambil menyambi menjadi tukang sayur. Ketika ditemui pewarta, ternyata dia masih berumur 24 tahun sudah nekat berbisnis.

Meski dinilai orang usaha sepele. Faktanya menghasilkan uang lebih dari yang dibayangkan. Bahkan oleh dia sendiri ketika menjalankan usaha tersebut. Meski terlihat riang sudah banyak masa sulit dilalui dulu.

Bermodal Rp.1 juta, uang tersebut digunakan untuk membeli sayur langsung dari petani. Dimulai sekitar 6 tahun jadi bukan serta- merta sukses seketika. "...sekarang usia saya 24 tahun," tutur Samsul. Waktu dirinya memulai masih berumur 20 tahunan.

"Awal dagang buat menutup uang kuliah," tutur dia. Omzet usaha dari gerai kecil tersebut naik sampai jadi Rp.180 juta per- bulan. "Kalau 1 bulan dihitung saja sendiri," ucap dia kembali.

Cara membeli sayur langsung ke petani memang lebih baik. Harga didapatkan pun lebih baik dibanding dia membeli di pasar dan dijual kembali. Benar- benar sayur segar didapatkan Samsul. Berkat ketukanan maka ia mampu menaikan gerai kecil di Blok A tersebut jadi berjaya.

Bahkan usahanya sudah menjadi dua. Dia tidak cuma punya gerai di Pasar Blok A Jakarta Selatan, tetapi juga di Pasar Induk Kramat Jati. Untuk di Blok A mempekerjakan 5 orang karyawan membantu. Di Pasar Kramat Jati dijaga dua orang.

Tidak cuma kuliah


Berkat usaha tersebut tidak cuma berkuliah. Dia bahkan membangunkan rumah buat ibu tercinta. Dari dia berjualan sayur bisa kuliah, beli mobi, beli motor, tanah, "...bangunin ibu rumah," tutur Samsul senang. "...dan mudah- mudahan untuk biaya kuliah," senangnya lagi.

Dia tidak muluk soal bisnisnya sekarang. Samsul cuma berharap pemerintah mampu menstabilkan harga. Ia berharap pertumbuhan ekonomi serta stabilitas keamanan. Layaknya mahasiswa, dia rajin mengamati setiap kebijakan dikeluarkan pemerintah.

Kalau aturan konsisten pastilah nasib pedagang akan tetap hidup. Samsul pun mengajak kita agar tidak malu menjadi apapun. "Jangan takut enggak punya modal, kalau mau usaha pasti ada jalan," Samsul menyarankan.

Dikesempatan lain, pemudah yang pernah diliput khusus oleh Detik.com, menceritakan kembali kisah sukses milikinya. Dikesempatan tersebut diceritakan oleh jurnalis warga Kompasiana -oleh Max Andrew Ohandi, maxandrew.com- Samsul tengah menghandiri acara bersama pedagang kecilan di Koperasi Sejahtera.

Telisik, ternyata usaha jualan sayur bukan hal baru, dia melanjutkan usaha kecil- kecilan orang tua dulu. Tapi usaha tersebut disebutnya hampir bangkrut. Untuk membangkitkan usaha itu, ia meminjam uang saudaranya sebesar Rp.1 juta. Tahun 2008, lebih tepatnya dia berhutang sekitar Rp.957 ribu, dibelikan beberapa peti sayuran.

"Saya pun gigih menjual sedikit demi sedikit peti sayuran tersebut dengan satu jenis sayuran saja," Samsul menceritakan kembali. Yah awalnya dia cuma menjual satu macam sayur yang dirasanya paling laku.

Dari untung dikumpulkan dibelikan kelengkapan sayur lainnya. Telaten Samsul memutarkan uang kembali tidak dipakai kepentingan pribadi. Hingga akhirnya mampu membeli beberapa peti sayur berbeda. Lalu dari sana muncul pertanyaan dari seorang wanita bernama Ibu Rumiyanti, seorang pedagang sayur juga.

Pertanyaan bagaimana menambah pelanggan dan tanggapan Samsul tentang harga cabe tinggi. Maka Samsul menjawab langsung yakni lewat pricelist. Maksudnya dia akan mensurvei dulu, membagikan harga sayuran dijualnya ke pemilik warung atau warteg. Melalui strategi tersebut sukses menjawab pertanyaan pertama dari si Ibu.

Untuk pertanyaan kedua, tanggapan Samsul tentang harga cabai naik- turun, dia menyarankan penjual sayur agar lebih bersabar mengamati harga. Ketika harga naik tinggi namun tiba- tiba turun drastis. Jangan langsung diturunkan. Samsul menyarankan tunggu 3 atau 4 hari apakah harga benar turun.

Kalau harga tiba- tiba naik lagi, maka mau- tidak mau pedagang menjual lebih mahal. Akibatnya konsumen jadi ilfil atau kecewa akan keadaan harga. "Oleh sebab itu harus ada jarak menaikan harga atau menurunkan harga," saran Samsul.

Sebagai penutup dia menceritkana kisah seorang Bapak yang kios sayurnya terbakar. Sang bapak akhirnya memilih melamar kerja di Supermarket tetapi ditolak. Lantaran bapak itu tidak memiliki email. Maka, suatu hari, dia mencoba membeli 4 peti sayur untuk dijual. Hasilnya mengejutkan dia bangkit berhasil mendapat untung.

Sampai suatu ketika seseorang mau menjadi pelanggan tetap. Si bapak mengiyakan ajakan kerja sama itu. "Baiklah nanti kita bicarakan lewat email lengkapnya ya pak," ujar pelanggan itu. Lalu ia menjawab tidak punya email. Pelanggan lantas menyaut, "apa bapak tidak punya email? sedangkan bapak tidak punya email saja sukses."

"KALAU SAYA PUNYA EMAIL SAYA AKAN MENJADI PEGAWAI SUPERMARKET," jawabnya, yang penulis simpulkan kesuksesan terkadang hadir dari ketidak mampuan. Usaha apapun kalau kamu mau menseriusi maka akan menghasilkan nilai.

Wirausaha Tanpa Usaha Kisah Dapur Tulis

Profil Pengusaha Agoeng Widyatmoko 



Gara- gara diPHK perusahaan, hidup Agoeng Widyatmoko berubah 180 derajat. Beruntung bekal jurnalistik itu mampu dia gali kembali. Jika kebanyakan orang akan mencari kerja. Maka Agoeng lebih memilih menulis buku. Dia terbilang nekat tidak mau bekerja lagi. Padahal uang pesangon cuma cukup buat beberapa bulan saja.

Lelaki kelahiran Yogyakarta memilih berwirausaha. Selepas dia diberhentikan oleh perusahaan media tempat dia bekerja sebelumnya.

Wirausaha tanpa usaha


Menjadi penulis dirasa tepat menjadi langkah awal. Berwirausaha tidak melulu menghasilkan produk untuk konsumsi. Namun, membangun bisnis apapun jenisnya, pastia akan menemui kesukaran begitupula Agoeng merasakan. Dimulailah rancangan tulisan atau portfolio karangan, lalu Agoeng segera menulis dalam bentuk buku.

Hanya ternyata tidak semudah membalik telapak tangan. Buku pertama miliknya gagal di pasaran. Agoeng tak patah arang mencoba. Buku pertama diterbitkan di tahun 2005, berjudul "Cara Jitu untuk Mendapatkan Kredit di Bank -Panduan untuk UMK". 

Menarik bukan?

Fakta bahwa dia tidak pernah berwirausaha tidak diketahui. Ia nekat menulis buku tersebut dan gagal. Buku kedua juga bertema kewirausahaan, pada 2006, Agoeng meluncurkan buku ke dua langsung meledak. Buku yang berjudul "100 Peluang Usaha" tersebut, lantas sukses besar menjadi best seller.

Waktu itu dia bertemu momen tepat karena belum sebanyak sekarang. Kalau sekarang kamu tingga buka di internet akan berjejer aneka buku kewirausahaan. Sukses buku tersebut bahkan diminta cetak tujuh kali. Ia pun lantas diundang menjadi pembicara wirausaha.

"Ada yang bertanya, dari 100 peluang itu, saya sudah coba usaha apa aja?" kenang Agoeng. Seolah sadar bahwa dia butuhkan lebih dari sekedar menulis tetapi mempraktikan.

Semenjak menikah dengan Anita Marfi, tahun 2007 menjadi titik baliknya masuk ke dunia wirausaha yang sesungguhnya. Dia bersama istri lantas membuka jasa penulisan bernama DapurTulis. Istrinya sendiri bahkan rela keluar dari pekerjaan untuk berjualan. Sedangkan Agoeng bertugas sebagai pengontrol kualitas tulisan.

Pada masa itu memang masih belum banyak jasa penulisan. Untuk mendapatkan klien, Agoeng rela berjalan jauh mencari klien. Mereka harus kemana- mana menjajakan layanan. Jasa paling banyak diminta dari klien adalah jasa pembuatan annual report, buku biografi, atau juga mengisikan situs perusahaan atau perorangan.

Usaha tersebut dijalankan bermodal rumah kontrakan sepetak. Di rumah tersebut tempatnya sempit, tidak memungkinkan ia mengajak klien ke rumah. Justru dari tempat tersebut, pasangan suami- istri ini, sepakat untuk saling menghibur dalam keterbatasan.

Keseriusan berkah


Serius mengerjakan bisnis jasa penulisan. Dari sekian puluh klien ditemui, maka datanglah klien pertama dari rekomendasi teman sang istri. Inilah menjadi titik bangkitnya usaha mereka. Cuma bermodal obrolan ringan di kampus Depok.

"Pertama dapat klien Alhamdulillah langsung disuruh ngisi konten website lembaga wisata internasional, Singapore Tourism Board" terangnya.

Menjadi klien pertama sekaligus membuka referensi pekerjaan sejenis. Agoeng mulai mendapat pekerjaan lebih banyak lagi. Mulai juga mengakat karyawan dan beberapa karyawan lepas. Usaha DapurTulis berjalan menjalankan beragam layanan jasa menulis.

Paling membanggakan ialah dua buku biografi yang sempat dia bantu, kemudian masuk serta dibahas khusus di acara Kick Andy.

Pencapaian tertinggi DapurTulis ketika diberikan kepercayaan pemerintah menangani yang namanya Annual Report ASEAN Secretariat, yang kemudian digunakan dalam pertemuan ASEAN Summit 2011 di Bali oleh Presiden Amerika, Barack Obama.

Berkat usaha jasa penulisan dirinya sekarang membangun rumah kantor di Depok, Jawa Barat. Menurutnya itu senilai nilai usahanya selama setahun setengah saja. Tetapi perlu ditekankan, namanya usaha berbasis kreatifitas sukar dihitung nominal. "Sebab, bisnis berbasis kreatifitas tidak ada patokan harganya," tuturnya.

Agar omzet tetap, Agoeng memilih menyasar LSM dan yayasan, disinalah pasar dianggapnya banyak serta itu memiliki nilai sosial. Sekarang tim DapurTulis aktif membagikan ilmu menulis, secara formal maupun lewat seminar, wujud lain yakni lewat lembaga pelatihan menulis.

Ia mengingkan orang semakin banyak paham soal nilai tulisan. Karya tulis merupakan mendidik, menjadi satu cara mewariskan ke anak cucu. "Bukan semata soal uang," tandasnya. Agoeng pun bersyukur karena pernah diphk, karena disanalah jiwa wirausahaanya menemukan tempat dan berkembang seperti sekarang.

Kunci sukses Agoeng, "...lakukan apa yang kita bisa semaksimal mungkin, pasti ada jalan."

17 Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes

Pengusaha Muda Indonesia



Anak muda Indonesia kembali mengharumkan nama Indonesia. Jika disana ada Ryo Haryanto, inilah tujuh belas anak muda mengharumkan nama Indonesia melalui entrepreneurship. Tidak tanggun- tanggung karena dari semua negara di Asia Tenggara, kita menyumbang paling banyak.

Dan uniknya, ketika menyabet hampir keseluruhan kategori, di setiap kategori ada pemuda- pemudi kita yang berusia dibawah 30 tahun. Seperti judulnya yaitu 30 Under 30 Forbes Asia. Ini merupakan satu ajang khusus penganugrahan bergengsi untuk entrepreneur dibawah 30 tahun. 

Selain daftar orang terkaya, majalah Forbes memang sedang getolnya memperhatikan Asia. Terutama ikut mengantisipasi lahirnya miliarder baru dunia.

Empat anak muda khusu di bidang tekonologi. Mereka, entrepreneur muda sukses berkat layanan aplikasi. Seperti Kevin Aluwi, salah satu pendiri sekaligus CFO -nya aplikasi Gojek; Benny Fajaria, salah satu pendiri Qlapa; Arief Widhiyasa, salah satu pendiri Agate Studio; Fery Unardi, salah satu pendiri sekaligus CEO Traveloka.

Uniknya, total ada 17 anak muda asli Indonesia, mereka merepresentasikan semangat perjuangan Indonesia sendiri, mereka merepresentasikan Hari Kemerdekaan kita. Inilah mereka:

Kategori Entertainment & Sport

1. Joey Alexander Sila, 12 tahun, Musisi

Arts

2. Helga Angeline Tjahjadi, 25 tahun, salah satu pendiri Burgreens

Retail & Ecommerce

1. Carline Darjanto, 28 tahun, Entrepreneur
2. Merrie Elizabeth, 28 tahun, CEO & Creative Director Blobar Salon
3. Yasa Paramita Singgih, 20 tahun, Pendiri & President Men's Republic
4. Ferry Unardi, 28 tahun, salah satu pendiri & CEO Traveloka

Finance & Venture Capital

1. Moses Lo, 27 tahun, Pendiri & CEO Xendit
2. Abraham Viktor, 23 tahun, salah satu Pendiri & CEO Taralite

Entreprise Tech

1. Abraham Ranardo, 25 tahun, salah satu Pendiri Mailbird

Consumer Tech

1. Kevin Aluwi, 29 tahun, salah satu Pendiri & CFO Gojek
2. Benny Fajarai, 25 tahun, salah satu Pendiri Qlapa dan Kreavi
3. Arief Widhiyasa, 28 tahun, salah satu Pendiri Agate Studio

Social Entrepreneur

1. Heni Sri Sundani Jaladara, 28 tahun, Pendiri Smart Farmer Kids In Action & AgroEdu Jampang Community
2. Muhammad Alfatih Timur, 24 tahun, salah satu Pendiri & CEO Kitabisa

Healthcare & Science

1. Mesty Ariotedjo, 28 tahun, salah satu Pendiri WeCare.co.id
2. Leonika Sari Njoto Boedioetomo, 22 tahun, Pendiri & CEO Reblood

Korban Lapindo Kuliahkan Anak Berkat Pepaya Calina

Profil Pengusaha M. Syifa 



Kisah korban lumpur Lapindo itu bernama M. Syifa. Disebutkan oleh pewarta Sidoardjonews.com, pria 54 tahun ini memang dikenal petani kuat. Pernah sekali ia membudidayakan buah blewah, itulah buah musiman yang rasanya segar dimakan. Sayangnya, keberuntungan belum dipihaknya jadi dia memilih usaha lain yang sejenis.

Dia seorang petani asal Desa Kandang RT 09 RW 05 Kec. Krumbung, Kabupaten Sidoarjo. Merupakan sosok petani ulet setiap hari bangun menaburi tanahnya dengan bibit blewah. Ia berharap menghasilkan buah yang berkualitas. Hanya tanah tersebut ternyata tidak cocok ditanami tanaman blewah hingga mati.

Sejak kecil ia memang menyukai bercocok tanam. Mulai blewah, mentimun emas, kegiatan bercocok tanam yang awalnya cuma sekedar mengisi waktu luang. Pria beranak delapan ini kesehariannya merupakan guru pengasuh santri. Sampai dia menjadi korban lumpur Lapindo yang menyesengsarakan hidup orang banyak.

Tetapi tidak mengurangi kegigihan bercocok tanam Syifa. Atas saran seorang temannya, ia lantas beralih ke bisnis pepaya, bercocok tanam pepaya Thailand

Diejek petani


Dia disarankan oleh teman menanam pepaya Thailan. Ia pun berangkat ke Trubus Surabaya membeli benih tersebut. Sayang pepaya Thailand tersebut ternyata tidak didapatkan. Lantas pemilik toko menyarankan dia bercocok tanam pepaya Kalifornia atau Calina.

Saran tersebut diikuti Syifa tanpa pikir panjang. Dibawalah benih pepaya Calina, yang katanya berasal dari negeri Amerika sana. Lima saset ditangan berisi dua puluha biji seharga Rp.30 ribu. Ia menaburkan benih itu ke tanah. Namun, sekali lagi kegagalan ditemui oleh Syifa, bedanya dia tetap ngotot.

Ia meyakini akan sukses. Jadi dia tidak memilih tanaman lain. Meyakini kegagalan diawal merupakan proses yang harus dilaluinya. Percaya akan insting, dia melanjutkan menanam pepaya Calina, "mungkin langkah awal saya untuk melatih kesabaran dan lebih mengenal tentang pertanian," imbuhnya.

Suami Nur Wasilan ini meyakini bahwa Allah pasti menjawab keseriusannya. Kegagal tidak dihitung, terus ia menanam sambil mencari informasi tentang tanaman tersebut. Bahkan dia membeli dua kali lipat dari jumlah bibit sebelumnya dibeli, yaitu sepuluh saset.

Total 200 biji disebar hanya menjadi saratus tiga puluh pohon. Itu saja masih ada pohon yang mati. Jadi dia cuma menghasilkan saratus dua puluh tujuh. Empat bulan berlalu dan pepaya akhirnya berbunga. Hingga ia sekarang menikmati buahnya dipetik. Dalam seminggu pepaya dipanen dua kali, sekali menghasilkan dua kintal.

Pernah sekali dalam proses menanam pepaya dia diejek. Lantaran harga pepaya murah di pasaran. Ngapain menanam pepaya kalau tak laku dijual. "Keuntungan didapat dari mana," kenang Syifa. Gagal dan omongan orang malah menjadi semangat dia menanam lebih banyak. Tanah seluas 1,7 hektar ditanami pepaya Calina semua.

Memang menanam pepaya tidak semudah omongan. Pepaya barulah akan mengeluarkan bunga setelah 6 bulan, setelah 8 bulan sudah tumbuh buah pepaya. Panen menghasilan dua kwintal dijual Rp.350 ribu. Dia menghasilkan omzet sekitar Rp.5,6 juta. Satu tahun minimal pemasukan sampai Rp.60 juta terangnya.

Berkat sabar


"Saya pun menyekolahkan anak- anak saya ke perguruan tinggi," tuturnya. Dalam proses pemasarannya juga tidak ribet. Dia yang kini sudah menjadi Pimpinan Anak Cabang Jam'iyattul Qurra' Wal Huffaz (JQH) NU, Kec. Kerumbung, mengaku pembeli malah datang sendiri. Tidak perlu lah jauh- jauh dia menjual ke pasar tradisional.

Meski begitu lagi- lagi omongan datang. Dia tetap yakin bahwa pepayanya tidak akan cuma dibeli kalangan sekitar.

"Nandhor kates piro kayane, nandhure yo suwe," ejek tetangga.

Alumni SMP N 1 Porong ini tetap bersikukuh budidaya pepaya. Hasil nyata ditunjukan Syifa lewat membeli mobil dan mampu menyekolahkan delapan anaknya. Karena dia memang menyukai bercocok tanam, maka dia tidak merasakan letih mengerjakan.

Dia terkadang dibantu istri dan anak ketika panen. Selain pepaya, dia merambah cabe, terong, dan melon di kebun di sela- sela pohon pepaya. Syifa juga menanam pepaya jenis merah delima dari Solok Sumatera, lalu pepaya Solinda dari Bangkok, Thailand.

Ekpansi bisnis Syifa termasuk memproduksi bibit sendiri. Lewat gelas plastik bekas air mineral ditaburi bibit hasil tanamannya. Akhirnya tetangga ikutan membeli bibit dan pelanggan juga membeli bibit. Mochamad Syifa menjual pepaya secara satu seharga Rp.6.000 sampai Rp.7.000, yang rasanya manis, atau datang ke rumahnya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba