Pernah Dilarang Jadi Pengusaha Laundry

Profil Pengusaha Fen Saparita


pengusahalaundry.png
 
Pernah dilarang jadi pengusaha laundry. Memang menjadi wirausahawa sulit. Tetapi menjadi pelopor merupakan kebanggan. Kerja kerasany terbayar ikut membangun perekonomian Indonesia. Dialah Fen
Saprita, pelopor bisnis landry, pemilik Melia Laundry berkisah awal terjun berbisnis.
 
Terinspirasi oleh gaya hidup masyarakata urban dimana rutinitas sangat tinggi. Jadilah kebutuhan akan cuci- mencuci pakaian jadi hal merepotkan. Disisi lain, mau menyewa pembantu tak semua orang bisa. Seperti halnya para mahasiswa dari perantauan yang hidup berhemat.
 

Bisnis Inspirasi


Sibu- sibuk itulah masyarakat perkotaan. Pada masanya, Fen cukup kesulitan mengingat saat itu belum lah setenar sekarang. Bisa dibilang dia menjadi salah satu pelopor bisnis laundry. Khususnya buat semua masyarakat di Jogja yang belum terlalu mengenal. 
 
Tahun 1996 tepatnya usaha itu didirikan dimana ia adalah karyawan biasa, ya, seorang yang berani mencoba keluar dari zona nyamannya. Jabatannya kala itu staff keuangan di Semen Gresik ditinggal. Ia malah memilih memulai bisnis laundry sendiri. 
 
Meskipun begitu keluarga besarnya mengaggap ini taklah serius. Mereka meragukan -protes ketika Fen memutuskan keluar. Tapi tak membuatnya nyalinya berbisnis surut. Butuh modal? Tidak perlu, cukup menjual rumahnya sendiri di Jakarta, lantas mantap menetap di Yogyakarta. 
 
Kemudian jadilah sebuah bisnis Melia Laundry & Dry Cleaning di 9 Maret 1996. Lokasinya sederhana saja. Pemilihan kata Melia memiliki arti mengalir menurutnya. Merek dagang yang ia harapkan akan mengalir untungnya. Termasuk mengalir tanpa hambatan apapun. 
 
Tiga bulan membuka usaha sendiri faktanya malah sepi. Tiga bulan semenjak buka tak ada satupun. Fen masih optimis akan usahanya. Ia bahkan semakin ngotot memperkenalkan "apa itu laundry". Kondisi sulit tak membuatnya lantas menyerah. Dibukalah sebuah counter tanya jawab. 
 
Tujuannya yaitu mempromosikan apa itu laundry. Sejak dibukanya sebuah counter di depan Supermarket Hero, sudah mulai banyak orang berminat. Lambat laun masyarakat Yogyakarta mulai paham apa itu laundry. 
 
Konsumen pun mulai datang ke Melia Laundry. Mereka membutuhkan jasa binatu cuci- cuci baju kotor mereka. Lantas, ia mulai membidik pasarnya sedikit- demi sedikit. Beda dari jasa- jasa laundry sekarang, kala itu, pasar targetnya ialah para masyarakata kelas menengah- atas. 
 
Dia memberikan layanan ekslusip buat mereka. Sementara itu menjamurnya bisnis laundry setelahnya tak juga menggoyah pasaran Melia Laundry. Prinspi dasarnya adalah menjaga loyalitas para pelanggan setianya. Fen selalu memperhatikan kepuasan konsumen. 
 
Tak ayak ketika permintaan jasa laundry meningkat. Dengan percaya dirinya membuka peluang baru. Ia menawarkan konsep kemitraan atau franchise. Setelah 8 tahun melewati asam garam bisnisnya, kini dia telah memiliki banyak cabang.
 
Berkat cara inilah Meli Laundry menyebar ke Semarang, Jakarta, Cirebon, Makassar, Bireun Aceh, Bengkalis Riau, Bali, Jambi, Medan, Padang, Surabaya, Samarinda, Bekasi, Banjarmasin, Kendari, Cepu, Bogor, Pasuruan, Pekanbaru, Balikpapan, Magelang, Palangkaraya, Ambon.dll. 
 
Konsepnya matang dan modern membuat usahanya bertahan di ramainya binatu. Prestasi sudah pasti didapatkan olehnya. Dia tercatat menjadi salah satu entrepreneur terbaik. Lelaki paruh baya ini mempunya kegigihan.

Bonek Bondo Nekat Pengusaha Daun Tembakau

Profil Pengusaha Mohrizal Rizki


pengusahatembakau.png
 
Pengusaha daun tembakau bukan narkoba. Bonek "bondo nekat" menjalankan usaha kreatif begini. Ia membuktikan bahwa kreatifitas berharga. Itu bisa dijadikan modal awal wirausaha muda. Kisah pria bernama Mohrizal Rizki, usahanya menyangkut mengolah daun tembakau.
 
 
Apa sih usahanya anak muda satu ini? Ternyata usahanya tembakau, eit, bukan sembarang tembakau. Bukan pula bisnis rokok kretek seperti akan kamu bayangkan. Dia bukan lah seorang produsen rokok.
 

Kerajinan Daun Tembakau


Terjun ke bisnis macam ini memang kegemarannya. Tembakau dipilih lantaran memang sudah lekat di hidup masyarakat dunia. Ia melanjutkan ini merupakan bisnis kerajinan. Adalah mahasiswa semester 7 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, konsep kewirausahaan sudah melekat dalam dirinya. 
 
Meski barulah bisnis pertamanya sudah bisa merebut perhatian loh.

"Sebelum menjalani bisnis ini, saya hanya berstatus mahasiswa..... Namun saya sudah memiliki jiwa entrepreneurship semenjak masih sekolah," tambah Rizki.

Tantangan terbesar baginya adalah menjalankan bisnis itu sendiri. Kalau cuma modal ngomong saja tak akan ada hasilnya. Pengusaha muda ini juga mengingatkan pentingnya inovasi. Ini lah yang terkadang membawa gerakan seorang pengusaha muda melambat. 
 
Perlu memikirkan inovasi- inovasi apa untuk bisnis mendatang. Kita harus memikirkan inovasi bisnis yang belum ada sebelumnya. Kemudian selepas menemukan inovasi. Hal paling tersulit ialah mengeksekusinya. Melakukan gerakan awal buat menjalankan ide bisnisnya. 
 
Rizki sendiri awalnya mengikuti ajang pameran oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jember. Dari sanalah lantas banyak pengunjung tertarik akan produknya. 
 
"Banyak pengunjung yang tertarik dengan produk saya dan menganjurkan saya mengembangkan bisnis kerajinan daun tembakau ini," terangnya.
 

Jadi Bonek Bondo Nekat


Pengusaha daun tembakau bukan narkoba. Ia mengambil resiko, maka dikeluarkanlah senjata andalan. Apalagi kalau bukan uang tabungan pribadiya dikuras buat berbisnis. Namun, hal tersebut terbayar, di 2014 resmi mendapatkan suntikan dana dari pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jember.

Di waktu sengganya, Rizkimasih bisa menyalurkan hobinya, yakni bermain gitar dan menciptakan lagu. Disisi lain bersemangat memulai usahanya sendiri. Modal awal saat itu cuma 500.000 saja dari tabungan milik pribadi. 
 
Modal lainnya ialah nekat atau istilahnya "bonek". Bondo Nekat kepanjangan dari cuma modal nekat memakai uang seadanya. Nekat dalam entrepreneurship konsepnya ialah keberaniannya mengambil resiko.

Modal nekat memberikan rasa kemandirian buat kita. Penulis juga merasakan hal yang sama. Ada kepuasan tersendiri ketika mendapatkan itu. Kemandirian membangun kepercayaan diri. Kepercayaan kita haruslah bisa keluar dari masalah pelik apapun; tidak cuma bisnis. 
 
Hal memotivasi adalah kata- kata jamak bagi kita pengusaha. Pegangan bahwa kegagalan merupakan awal dari keberhasilan. Sukses bisnis tembakau yang ia beri nama Cobacco Crafting. Ini merupakan produk pertama di Indonesia. 
 
Dan, menurut prediksinya, lima tahun kedepan masih banyak ceruk bisnisnya. Kerajinan produk tembakau ini diharapkan akan maju. Dalam lima tahun mendatanga Rizki fokus membangun relasi bisnis. 
 
Rizki akan fokus membangun relasi dengan palaku kerajinan lain. Fungsinya agar bisa mendapatkan ilmu bagaimana masuk ke pasar.

"Strategi saya dalam jangka waktu 5 tahun kedepan adalah membangun relasi dengan pelaku bisnis kerajinan tangan untuk memperoleh ilmu dalam meningkatkan mutu kualitas produk, serta memasarkan produk saya ke outlet-outlet kerajinan tangan di Indonesia," terangnya kepad pewarta.

Namanya merupakan ide pribadi. Merupakan satu perpaduan antara Crafting dan tOBACCO. Yang mana menggunakan ejaan dimiripkan Madura cobacco dari ko- bako. Ini mempersentasikan harapan besar masyarakat Jember. 
 
Dimana mayoritasnya adalah para pendatang Jember. Sukses memperkenalkan usaha pertama di Indonesia ini, apakah mimpi besar lain Rizki? Ia punya mimpi membangun usaha industri- wisata, apa itu, usaha yang memadukan wisata dan bisnis.

Ketika orang berkunjung mereka bisa merasakan bagaimana membuat tembakau. Bagaimana merubahnya jadi aneka kerajinan. Untuk itulah diperlukan pemikiran out of the box. Rizki berharap proyek besar ini akan jadi inspirasi bagi pengusaha lain. 
 
Menurutnya kondisi ekonomi sekarang memang butuh bibit- bibit usaha baru. Mereka para anak muda harus menjadi pengusaha. Pasar bebas di tahun 2015 menjadi patokan buat kamu menurutnya.

Kendala terbesar baginya menjalankan bisnis ini. Tak lain kalau bukan ada di tembakaunya sendiri. Bisnis dari Cobacco membutuhkan lembaran duan bakau. Perlu diketahui bahwa tembakau adalah tanaman yang punya siklus musiman. Jadi tak mudah buat berproduksi tetap. 
 
Mengakali hal inilah, rencananya, ia akan membuat satu ruang penyimpanan. Dimana ketika musim panen akan disimpan sebanyak mungkin. Hingga ia bisa selalu berproduksi. Bicara tentang inspirasi pengusaha -nya. Maka jawabnya tak lain adalah sosok Ir. Ciputra. 
 
Dia menyebut ia lah sosok entrepreneur sejati. Rizki sendiri mengaku sering mendatangi berbagai seminar kewirausahaan. Seperti yang diadakan oleh Ir. Ciputra. Inilah alasannya mau masuk ke dunia entrepreneurship.

Twitter @Cobaccocrafting

Bisnis Sepatu Bogoriginal Wirausaha Lokal

Kisah Toko Online Sepatu Lokal


bisnisepatu.png
 
Wirausaha lokal ini membuktikan Indonesia layak. Bisnis sepatu Bogoriginal membuktikan mampu memproduksi sepatu. Taukah bahwa Indonesia menjadi pusat produksi brand sepatu ternama. Model sepatunya macam- macam cantik.

Berawal dari rasa penasaran akan kulitas sepatu Bogor. Adalah dua orang sahabat berbisnis bersama, ialah Astiti Puriwigati atau dipanggil Putie, kemudian Ditta Harakita atau Ditta, keduanya sama- sama pemikiran yang sama.
 

Wirausaha Lokal

 
Ini produk lokal asli dari Bogor layak dipasarkan. Sepatu ini merupakan hasil produksi lokal. Dimata keduanya sebagai perempuan dan pecinta fashion pastilah beda. Meski keduanya mempunya latar belakang bukan bisnis. Keduanya sepakat menangkap peluang itu nyata. 
 
Jadilah kedua alumni jurusan Ilmu Pertanian IPB memulai kisahnya. Mereka tak sendiri dibantu para perajin sepatu Bogor. Usaha bernama Bogoriginal dibentuk. Mewadahi cita rasa dua mahasiswi ini buat berbisnis online.

Sebenarnya hidup mereka sudah berkecukupan. Mereka adalah wanita karir sekaligus ibu rumah tangga sukses. Cuma saja hati mereka tergelitik mencoba. Ranah internet dimanfaatkan keduanya sejak 2012. 
 
Jujur alasan lain kenapa memulai usaha sendiri; kerena tak fokus. Usut- punya usut keduanya mulai tak fokus di rumah tangga kerena beban pekerjaan. Itu alasan lain selain untuk mempromosikan sepatu lokal asli Bogor. Mereka ini saling memahami satu sama lain.

Pilihan hati mereka jatuh di pengrajin lokal sekitar mereka. Ini layak dipasarkan secara luas. Hingga kedua sahabat ini mulai fokus mengerjakan bisnis.

Memutuskan keluar dari pekerjaan mungkin bukan hal tersulit. Kemudian memperkenalkan nama brand milik mereka sendiri, Bogoriginal. Modal awalnya cuma Rp.400 ribu, tapi malah membengkak jadi Rp.15 juta
 

Bisnis Sepatu

 
Mereka lantas memasarkan produknya ke beberapa teman terdekat. Berjalannya waktu meningkat melalui sistem bisnis online menyasar perempuan muda. Mereka aktif memanfaatkan Twitter, Facebook, lain- lain. Tak cukup ditambah sistem reseller membuatnya lebih "wah".

Tak disangka lambat laun nama brand -nya mulai dikenal. Hingga pertengahan 2012 sudah bisa balik modal hanya dalam hitungan bulan saja. Kini, sudah punya toko di kawasan Darmaga Bogor, dikawasan bernama Graha Kartika Pratama Cluster Srikandi, Blok DD2 nomor 14 Cibinong- Bogor. 
 
Harga jual sepatu milik mereka dipatok cukup murah antara Rp.65 ribu sampai Rp.235 ribu per- pasang. Sukses Bogoriginial lalu disusul brand baru. Brand yang mewakili jati diri mereka. Yang merupakan kemantapan keduanya dalam mendesain sendiri. 
 
Lini khusus yang diberi mereka nama Edrea Harakita. Mereka cukup dibantu 12 orang pekerja. Terdiri dari 8 pegawai di gudang, 4 sebagai customer service, dimana ada 4 bengkel produksi. Apakah mereka menyesal meninggalkan pekerjaan buktinya tidak. 
 
Sukses memasarkan brand Bogoriginal menghasilkan omzet sampai Rp.100 juta sampai Rp.300 juta. Ditta menuturkan kepada pewarta Liputan6, sukses bisa diraih karena mereka mampu menjaga kepercayaan pelanggan. Bukan perkara mudah mereka harus tetap jadi bisnis online amanah. 
 
Cara menjaganya selain itu ada pada pelayanan konsumen juga menjaga kualitas produknya. Barangnya harus berkualitas, modelnya itu mengacu pada sepatu yang nyaman. Ditta menjelaskan awalnya mereka memproduksi sepatu hak tinggi tapi menyakitkan.

Sepatu hak tinggi nan cantik tersebut ternyata menyakitkan. Kemudian mulailah mereka melakukan survei kecil- kecil. Hasilnya ternyata perempuan muda suka sepatu empuk, desain nyaman di kaki, jadilah semua itu menjadi fokus bisnis mereka sekarang. 
 
Bukan tanpa halangan bayangkan saja ceruk pasar mereka tuju. Ia harus bersaing dengan bisnis sejenis menawarkan produk sama. Apalagi sekarang kemudahan berjualan di media sosial; siapa saja bisa.

"Tapi kami mengubah kendala jadi peluang," ujarnya.

Mereka masih bersemangat menyebarkan brand -nya ke penjuru Indonesia. Bahkan kalau bisa mencapai ke pasar manca negara. Mereka berdua punya tujuan baru sama lagi. Ingin membangkitkan brand lokal ke kancah internasional. 
 
Sebagai perempuan mencoba menghadirkan produk estetika. Memproduksi aneka sandal dan sepatu menarik bagi konsumen.

Sebagai putri daerah keduanya tidak cuma soal uang. Melainkan partisipasi aktif membangun lapangan kerja baru. Mereka dibantu pengrajin asal Ciomas, dipasarkan melalui online lewat Bogoriginal, memanfaatkan sosial media Twitter di @bogoriginal atau Facebook fanspage Bogoriginal Store. 
 
Kemudian ada dua brand baru Edrea Haratika dan Gratica. Dibantu oleh teman- teman kuliah, saudara di Bogor, dimana aktif bekerja menjadi reseller mereka.

Marketing Freshcare Bisnis Minyak Angin

Sukses Pengusaha Diana Christy


minyakangin.png
 
Bisnis minyak angin nampak begitu mudah. Dibalik marketing Freshcare ada dua sosok fital. Adalah sosoknya Harun Pramono dan Diana Christy, keduanya dikenal bersama membangun bisnis. Mereka merupakan kolega lama. 
 
Usut- punya usut keduanya pernah bersama bekerja di pucuk pimpinan Soho Group. Itu loh perusahaan PT. Soho yang punya produk Curcuma Plus. Harun sendiri tercatat menduduki posisi penting di perusahaan Soho. 
 

Bisnis Minyak Angin

 
Waktu itu, ia telah menduduki jabatan Sales & Marketing Director Consumer di divisi kesehatan. Ketika berbicara Soho produknya memang sejenis produk Freshcare oleh Ultra Sakti. Ya, produk ini memang diproduksi oleh sebuah perusahaan lain bernama PT. Ultra Sakti. 
 
Bisnisnya meliputi produk herbal mengikut langkah dari Soho sendiri. Salah satu produk yang dikerjakan olehnya adalah Diapet. Produk yang diluncurkan sejak tahun 2000. Bahan alaminya ya daun jambu biji diekstrak. Ini lantas digunakan untuk obat pencernaan.

Idenya memasukan daun jambu biji di kapsul. Sebelumnya belum ada produk sejenis yang menggunakan asli dari alam. Diapet sendiri ditangannya menguasai 30% dari pasar produk sejenis. Kisah sukses Harun lantas dilanjutkan di perusahaan barunya. 
 
Menurut profil di LinkedIn, Harun Pramono, tercatat menjadi Sales & Marketing Director dari 1999- 2010 (10 tahun). Pindah ke perusahaan lain namanya langsung melejit melalui produk bernama Freshcare.

Sosok lain adalah Diana Christy, sang Sales & Marketing Director di Ultra Sakti. Dimana bersama Harun jadi kunci sukses lain Freshcare. Mungkin orang Indonesia sudah biasa dengan produk minyak angin. Ada perbedaan jauh ketika kita melihat produk Freshcare. 
 
Faktanya mereka tak takut bahkan berani bertaruh lebih. Bayangkan saja tak mudah buat memperkenalkan konsep baru di produk sudah mapan. "Prosesnya panjang," ujarnya langsung kepada situs Mix.co.id. 
 
Tak membuat urung bahkan Ultra Sakti (US) semakin gencar. Melalui riset seksama kesimpulan kebutuhan akan minyak angin besar. Nah, disinilah, Freshcare dibentuk menjadi kemasan botol kaca modern. Kemudian dijadikan lebih modern melalui konsep roll- on. 
 
Ini mengatasi masalah utama produk minyak angin biasa. Dimana orang kesulitan buat membuka- tutup kemasan. Bicara mengenai produk saingan Freshcare yakni Safe Care, ternyata ini sudah ada sebelum Freshcare, masalahnya fokus distribusinya kala itu ada di Jawa Timur.

"Safe Care masuk ke pasar lebih dulu. Tapi distribusinya hanya sebatas daerah Jawa Timur," tutur Diana.

Marketing Artis

 
Menutup kelemahan itulah Freshcare serius dikerjakan. Pola ditribusinya juga 180 derajat berbeda. Yakni ia menyasar pasaran pasar modern, toko obat, beberapa ritel, menjadi sasarannya ke penjuru Indonesia. 
 
Inilah distribus merata menyasar pasar- pasar obat ethical. Karena ini berbeda dengan obat umum yang bisa dijual lewat warung- warung. Setelah merata barulah ditambah promosi gencar. Dua pasar atas dan bawah menjadi sasaran.

Harganya yang cukup murah membuatnya bisa dipakai dibawah. Kemudian diendors oleh sosok artis seperti Agnes Monica bisa memasuki pasar atas. Apalagi kepraktisan yang ditawarkan Freshcare begitu mengena di hati. 
 
Agnes Monica mewakili modern. Dan, tagline Freshcare adalah minyak angin modern, tapi masih bisa dijangkau kalangan menengah ke bawah. Promosi gencar tak cuma lewat juga melalui anake acara live. Ia menyebut pokoknya acara tv yang top rating!

"Pokoknya acara televisi yang termasuk top rating, kami hadir di sana," kata Diana.

Bisa dihitung berapa banyak biaya iklan dikeluarkan Freshcare; but it's work. Harun juga menjelaskan selain lewat televisi ada pula kegiatan diluar. Seperti halnya konser dangdut yang menyentuh kalangan bawah. Lalu melalui pengajian membawa kesegaran buat ibu- ibu di penjuru Jawa Timur. 
 
Kemudian ada pula program jalan sehat. Pokoknya mencari celah dimana orang biasanya berkumpul dan bisa kena masuk angin atau juga pegal- pegal. Siapa Diana Christy, adalah seorang Apoteker, lulusan Universitas Gajah Mada di tahun 1996. 
 
Konsisten masuk ke bisnis farmasi di aneka perusahaan. Sebagai marketer fokusnya memastikan Freshcare buat selalu menjadi top of mind. Mudahnya kalau pegal ya ingatnya Freshcare. Ini termasuk promosi lewat wadah imut lucu seperti gantungan kunci itu loh. 
 
Kapan saja -dimana saja maka pakai Freshcare jika pegal ataupun masuk angin. Baginya promosi lewat televisi merupakan piliha terbaik. Dimana bisa menjangkau aneka kalangan. Ibu dua anak ini memang sudah lama bekerja di perusahaan farmasi. 
 
Sebelum Ultra Sakti di 2010, dirinya pernah juga menjabat di Dancos Lab (Kalbe Internasional) tahun 1996- 1998. Kala itu, ia bekerja sebagai produk eksekutif. Kemudian ia pindah ke Soho Group pada 1998- 2010 sebagai Marketing Manager. 
 
Pilihan ini tepat terbutki dengan suksesnya lewat aneka produk herbalnya.

"Saya tidak terlalu banyak berpindah tempat kerja, karena yang saya butuhkan adalah kenyaman dalam bekerja, dan kestabilan untuk terus mengembangkan diri di perusahaan, serta tumbuh bersama setiap pekerjaan dan karya kita," tutur Diana.

Ket foto: Harun Pramono (tengah kanan), Diana Christy (pojok kanan)

Awal Usaha Tas Gembool Inspirasi Wirausaha

Profil Pengusaha Vidia Chairunnisa


usahatasgembol.png

Inspirasi wirausaha membuat produk sendiri. Kisah awal usaha tas Gembool, bikin tas sendiri, jualan sendiri, untungnya membawa nama Vidia terkenal. Bukan cuma nama brand tasnya dikenal jagat bisnis fashion Indonesia. Namanya juga dikenal menjadi sosok fashion designer.
 
Peluang bisnis fashion masihlah sangat menjanjikan. Kamu juga tak lah perlu menjadi seorang fashion desainer dulu. Usia baru 25 tahun, tapi sudah sukses bisnis tas sendiri ialah sosok Vidia Chairunnisa, masih berkuliah di Fakultas Teknologi Kelautan saat itu.
 

Menjadi Pengusaha

 
Jurusan tak sesuai bisnis dijalaninya. Memang, namun jiwa wanitanya yang mendorongnya berbisnis saja. Ia melihat adanya kebutuhan berpenampilan modis. Tak perlu jauh cuma dari lingkungan teman- temannya saja. Vidia lantas mulai berdagang tas murah. 
 
Diambilnya produk asal Bandung sebagai awalan. Usahanya dimulai di tahun 2009 ketika itu tak disangka bisa laku keras. Kemudian mulailah mencari- cari pasar lain. Melompat ke aneka pameran bisnis dilakoninya.

"Tak disangka, ternyata laku keras! Saya pun mulai coba- coba ikut pameran untuk meraup pasar lebih luas," terangnya kepada awak media.

Dirinya merasakan ada kekurangan dalam bisnis. Yaitu bahwa apa yang dijualnya tak menutupi seleranya. Ada kekurangan dalam model tas bikinan orang lain itu. Lantas mulailah Vidia buat memberanikan diri mulai untuk membuat tas -nya sendiri. 
 
Ia cukup memodifikasi apa- apa model di Internet. Kemudian lahirlah tas pertama karyanya bermerek Tas Lutjuw. Dia cukup meminta dibuatkan oleh pembuat tas asal Bogor.

Lantaran dibuatkan oleh pengrajin tas lain. Belum tentu memuaskan keinginan hati Vidia akan produknya. Ia menjelaskan bahwa sistem dibuatkan orang lain atau "makloon" ini, memang punya kelemahan pada kualitas kontrolnya. 
 
Ia tak bisa menetapkan material ataupun aksesoris tambahannya. Jadilah bahan yang digunakan oleh si pembuat berkualitas rendah. Bahkan mereka melakukan finishing seadanya saja. Benar- benar tidak bisa dipertanggung jawabkan.

"Produk saya pun tak maksimal karena saya dipaksa membeli material berkualitas rendah yang telah mereka sediakan dengan finishing seadanya," jelasnya kepada majalah Femina.

Tak memilih pembuat tas lain. Vidia langsung tancap gas memilih membuka workshop sendiri. Akhirnya jadi lah produk ternama itu yang bernama tas Gembool. 
 
Untuk ini dia mempekerjakan 50 orang pengrajin wanita asal Kampung Cihampea, Bogor, dimana tasnya ini memiliki nama Gembool dari kata gembul (dalam bahasa Jawa). Konsep tasnya fun, warna- warni, serta dekat dengan selera remaja.

Kata gembul sendiri bisa berarti banyak uang atau menggelembung tasnya. Mengembul karena banyak uang atau isinya. Harapannya biar usahanya lancar serta memakmurkan. Vidia langsung saja membidik pasar anak muda ABG. 
 
Alasannya karena mereka konsumtif, centil, ingin sesuatu yang menarik mata mereka. Ingin juga gonta- ganti tas sayangnya masih terbatas uang jajannya. Selain itu warna- warna Gembool juga nge- jreng jadi bisa dipadu- padankan.

Riset sederhana dilakukannya. Dalam risetnya anak muda masih abg memilih sesuatu yang trendi, tapi dari segi harganya murah, sesuai daya beli mereka. Untuk bahan sudah disesuaikan olehnya. Akan tetapi masih dalam tataran kualitas terbaik bisa disuguhkan. 
 

Bisnis Tas

 
Ia berusaha keras agar menekan biaya produksi serta harga jual. Meski material hitungannya biasa, tapi finishingnya rapih, inilah menjadi kekuatan tas Gembool.

Produk miliknya juga memberikan garansi reperasi hingga setahun. Reperasi bahkan digratiskan jika terjadi kerusakan dari pabrikan. "Produk Gembool yang handmade terjaga betul kerapian jahitan dan lemnya," jelas Vidia lagi.

Agar usahanya tetap kompetitif dirinya tak pernah lupa berinovasi. Selalu mengikuti tren desain tas, terus mengikuti perkembangan termasuk tren tas Korea belakangan. Ia lantas memodifikasinya. Tas- tas dari sana biasanya berwarna pastel, tabrak warna, dan motif hewan. 
 
Vidia meyakini pasaran anak abg lebih peka di update pasar, variasi model, kemudian harga ketimbang kualitas bahannya. Memang anak- anak remaja baru gede ini suka warna- warna ngejreng.

Ia pun menyediakan aneka warna. Total 8- 10 pilihan warna disediakan untuk produk tasnya. Kemudian ada produk dompet maksimal diproduksi 15 warna berbeda. Gembool juga mengeluarkan tiap bulannya 2-3 model berbeda.

Serbuan produk impor tak menyurutkan Vidia. Ia sudah menyusun marketing apik. Ia fokus memanfaatkan sistem reseller. Pendekatan teman ke teman atau remaja ke remaja diandalkannya. Ini terbilang sukses besar apalagi memanfaatkan sosial media. 
 
Ia juga mempersilahkan mereka buat men- dropship tas Gembool. Tak ada syarat pemebelian minumun tapi... Tapinya bagi reseller order banyak akan mendapatkan potonga per- unit produknya 15%. Dari resellernya sendiri bahkan sudah ada rutin memesan Rp.5 juta sekali order. 
 
Biasanya kalo begini akan dijual secara offline. Cara pemasaran lain yakni melalui sistem toko online besar. Gencar sekali Gembool buat membangun branding -nya. Terbukti ada toko online besar siap menjual produknya, dari toko Zalora, Lazada, serta Blibli. 
 
Khusus membantu para reseller produknya menyediakan katalog. Total ada 50 reseller yang tersebar Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, bahkan Negeri Jiran.

Setiap minggunya workshopnya menghasilkan 10 lusin tas dan 25 lusin dompet. Ini juga termasuk produk lain seperti halnya sarung ponsel dan organizer. Harganya, dompet seharga Rp.45.000- Rp.155.000, lalu buat tasnya Rp.125.000- Rp.179.000.

Memanfaatkan sistem marketing panjang komplek. Berapa total omzet dihasilkan oleh Vidia. Jawabanya tak main- main yakni rata- rata Rp.200 juta- Rp.250 juta. "Laba bersih saya sekitar 20%- 30% dari omzet," terang Vidia. 
 
Telah sukses menyasar pasar anak muda maka selanjutnya adalah pasaran dewasa. Dibawah bendera CV. Gembool Mulia Jaya, kini, workshopnya sukse berproduksi 1.300 tas tiap bulan. Menyasar target pasar dewasa disiapkanlah produk khusus.

Nama produk barunya Vidiap dibawah label Bagtitude. Merupakan konsep tas wanita dewasa masa kini. Ini sudah mulai berjalan sejak November 2013. Pemilihan warnanya beda karena bukan anak baru dewasa. 
 
Ia menggunakan warna elegan seperti coklat, hitam, atau ivory, material digunakan pun lebih diatasnya. Jadilah harga jualnya juga jadi lebih tinggi yakni Rp.350.000. Atas kerja bagus perusahaan barunya inilah ia sempat menjadi finalis Joytea Grean Sosro Youth Business Competition (YBC) 2011.

Ketika ditanya sejak kapan mulai berbisnis. Ternyata, eh ternyata, jauh sebelum jualan tas asli Bandung, ia sudah pernah menjajal tas impor. Ini dijualnya secara retail di sebuah mal di kawasan Bogor. 
 
Aktifitas bisnis ini dijalani dari kurun waktu Januari sampai Agustus 2009. Disinilah, kemampuanya mengamati pasar terasah melalui serangkaian pengalaman berjualan sendiri. Delapan bulan pula sudah diketahuinya jelas apa kelebihan kekurangan tas impor.

"Saya melihat tas impor maju karena mengikuti tren mode. Padahal kualitasnya tidak terlalu hebat dibanding lokal," terangnya.

Selepas rajin berjualan tas impor beralih ke lokal. Ia lantas memutuskan membuat workshop sendiri seperti penulis kisahkan diatas. Modalnya cukup besar yakni Rp.24. juta. Dibuatlah semacam satu bengkel kecil tas bertempat di kawasan Bogor. 
 
Orderan pertama dirinya ingat betul yaitu Rp.350.000. Vidia senang sekali -ini menjadi pesanan pertama kali dan merupakan kunci. Sukses menjual pertama kali ternyata usaha tasnya itu semakin berkibar.

Tiga tahun berjalan usahanya awalnya cuma dibantu 25 orang. Setidaknya sudah ada 40 orang reseller online diawal tas ini berdiri. Dari Aceh sampai Papu sudah ada resellernya. Dimana pada awal bisnisnya reseller sudah menyumbang 15%- 30%. 
 
Tas Gembool ditargetkan buat mereka yang berumur 14 tahun sampai 30 tahun. "Saya berharap bisa memiliki 100 reseller," pungkasnya.

Halangan berbisnis


Tidak ada halangan baginya memulai usaha sejak muda. Namun, bagi pemilik perusahaan CV. Gembool Mulia Jaya ini, satu- satunya penghalang kamu adalah pengalaman. Akan tetapi kita tak akan berpengalaman jika tak mencoba. 
 
Tidak tahu apa- apa soal bisnis. Vidia nekat nyemplung saja. Ini ajang pembelajaran yang tak mungkin didapatnya di pendidikan formal.  Sejak kecil sudah berjualan jepit rambut ketika masih duduk sekolah dasar. 
 
Kemudian, mulailah berjualan produk fashion lain kali ini adalah pakaian tidur dan muslin. Ketika itu ia sudah beranjak dewasa duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama di Lombok, Nusa Tenggara Barat. 
 
Cuma modal kenalan ibunya anak SMP itu berani mengajukan kerja sama. Ia kemudian tanpa malu menjual produk itu secara door- to- door saja. Dari sini, ia bisa mengumpulkan uang saku, bahkan sudah bisa beli ponsel sendiri.

"Saya lupa berapa bayarannya, tapi yang jelas saya bisa membeli ponsel dari hasil tersebut," ia mengingat.

Namun, ketika kedua orang tuanya tau, Vidia justru dilarang keras buat berjualan. Alasannya karena akan mengganggu tugas sekolahnya. Mereka takut mengganggu prestasi sekolahnya. Karena menghormati kedua orang tuanya berhenti sejenak Vidia dari berdagang. 
 
Tapi tekadnya sudah bulat kelak dia harus jadi pebisnis. Disisi lain orang tuanya berharap dirinya menjadi pegawai negeri sipil. Tahun 2005 selepas menamatkan sekolah menengah atas di Lombok. Dia memutuskan melanjutkan kuliah di Bogor yakni di Institut Pertanian Bogor (IPB). 
 
Di masa kuliah jiwa kewirausahaanya merdeka dan mulai lagi berjualan. Awal kuliah beralih berjualan mutiara. Saat itu banyak teman mencari mutiara khas Lombok. Dia sendiri tak spesifik menyetok. Cukup menghubungi pengrajinnya disana langsung. Semuanya itu ada setiap ada orang pesana saja.

"Jadi saya tidak menyetok, semua sesuai pesanan," jelasnya, semua pesanan temannya ditampung oleh Vidia kemudian ketika pulang kampung barulah dibelikan. Harga jualnya Rp.160.000 per- butir.

Kegiatan bisnis tanpa sepengatahuan ibu itu pun berlanjut. Bahkan menjadi lebih terobsesi dari sebelumnya Ia tumbuh terus dari berjualan. Produk mutiara tersebut dijual seharga Rp.160.000 dimana margin untungnya mencapai 50%. 
 
Meski margin tinggi bisnisnya dianggap terbatas kalangan tertentu. Dia merasa bisnis begini tak menjanjikan. Tahun 2008 dimulailah bisinis tas impor kemudian tas buatan loka. Sejak itu pula tekadnya buat memiliki brand sendiri timbul.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba