Bisnis Pengusaha Ganteng Max Gunawan Lampu Ajaib

Profil Pengusaha Max Gunawan 


maxgunawam.png
  
Bisnis pengusaha ganteng Max Gunawan memang ajaib. Memiliki latar belakang arsitek dia menekuni pembuatan furnitur. Nama Max Gunawan sedikit dari pengusaha muda asal Indonesia, yang justru sukses di negeri orang. 
 
Max bukanlah anak orang kaya -meski tampan. Dalam sebuah diskusi umum inovasti dan motivasi, TEDxTalks, Max sedikit membocorkan kenapa dia membuat produknya sekarang.

Sejarah Pengusaha Ganteng

 
Alkisah Max kecil hidup dalam kekurangan. Bahkan nih, ia mengaku, waktu kecil iri dengan teman- teman yang memiliki mainan baru. "Semasa kecil saya selalu iri pada hal yang tidak bisa kami miliki," kenangnya. 
 
Mulai dari liburan keluar negeri, robot transformer, dan banyak lainnya, itu semua diirikan oleh Max kecil. Hingga suatu hari ayahnya membawakan jeruk bali. Dia gembira sekali. Tetapi bukan karena mau makan buah tetapi apa yang dia dapat lakukan. 
 
Max kecil menggunakan kulit jeruk menjadi mainan. Itu loh mainan mobil- mobilan dari kulit jeruk Bali yang besar. Kulit jeruk menjadi  badan, sementara rodanya berbahan tutup botol, tinggal dia menariknya dengan seutas tali. 
 
Penoton acara tersebut terkejut bukan main. Namun disanalah, awal kecerdasan Max kecil, dalam hal membangun sebuah konsep dan membawa nasibnya menjadi arsitektur. Jurusannya arsitektur di Connecticut, Amerika Serikat, dimana dia mengambil spesifikasi desain produk.
 
Walau dia memilih arsitektur kecintaan akan seni lebih dominan. Kecintaan akan seni memuncak di semeseter kedua, dimana Profesor nya bercerita tentang Tadao Ando. Dia, Tadao Ando, merupakan sosok arsitektur ikonik asal Jepang yang mengerjakan lampu.
 
Lebih tepatnya dia menciptakan lampu natural, terkonsetrasi dan menyatu alam. Dimana Ando dapat penghargaan Pritzker Prize 1995. Ketika semester ketiga, Max lebih menyeriusi dunia arsitektur karena melihat sudut pandang lain.
 
Ia mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar. Secara finansial dia telah sangat mapan. Namun kekosongan timbul. Apalagi ketika dia mengerjakan budget planning atau rencana anggaran. Dorongan membuat kemandirian sendiri.
 
Tepatnya 2012, dia merasakan kekosongan akan dunia arsitektur menurutnya. Dia bekerja lebih banyak memanajemen proyek dan kurang kreatif di desain. Ternyata dunia arsitekur tidak seseni bayangannya ketika masih berkuliah sangat korporasi.
 
Diwaktu sela dirinya mengerjakan sesuatu dalam workshop. Banyak mesin- mesin membantunya buat mendesain. Dia menciptakan sesuatu. Workshop memberikan pandangan berbeda. Terutama mengenai produk arsitektur idealnya.

Max tak segan memasarkan buatannya ke pasaran. Max ingin membuka usaha sendiri, mendesain, membuat produk sendiri. Dan pekerjaan tidak memberikan kesempatan. Disana dia tidak menciptakan sesuatu. Max disana justru bekerja dibidang perencanaan anggaran, bukan merancang. 

Sebuah pekerjaan bergengsi, gaji besar, dan memiliki nilai tinggi diatas kertas. Kemudian suatu ketika, dimana ia mengerjakan tugas, dan akhirnya memutuskan sudah cukup. Max selalu tertarik akan jenis objek bentuk sampai yang memiliki multi- fungsi.
 

Bisnis Dulu

 
Inilah titik dimana dia memilih entrepreneurship. Max menjadi pengusaha bukan soal uang. Tetapi Max ingin membuat produknya sendiri dan diapresiasi. Inspirasi Max tercipta ketika melihat karya seni arsitektur dunia bernama Jembatan Rolling Bridge, London.

Merupakan bentuk karya urban monumental berbentuk lipat. Awal dia ingin mencipatakan benda lebih besar, yakni rumah lipat yang dapat dimasukan mobil. Tentu semua membutuhkan uang terutama buat dia membuat prototipe.

Maka dia indahkan tetapi tetap produktif membuat benda kecil. Inilah awal dibuatnya Lumio, sebuah lampu portabel, yang bentuknya seperti buku. Lampu yang dapat digunakan kapapun, dimanapun, dan oleh siapapun.

Tahun 2013, dia memutuskan resign kerja, menggeluti desain Lumio. Dalam ketidak pastian, dia mendapat ide mengumpulkan modal. Lewat KickStater yaitu website investasi startup, yang mana didalamnya siapa saja dapat berinvestasi.
 
Max ingat bahwa dia senang membawa kertas catatan. Membuat lampu berkonsep buku memang nampak keren. Idenya September 2010, dia mengerjakan prototipenya dahulu. Max mengatakan ada tantangan dimana dia harus benar membuatnya menyala tanpa mengurangi fungsi lipat.
 
Max berhasil membuat prototipe, dan kebingungan apa orang mau membeli. Tapi Lumio memang bisa menarik perhatian orang. Max makin percaya diri. Harapannya pada Februari 2013, dia akan dapatkan donasi KickStarter senilai $60.000, tetapi malah dapat sepuluh kali lipatnya yakni $578.000.
 
Max berencana membawa itu ke San Fransisco. Berbekal mesinnya dia akan membuat beberapa ribu lampu. Tetapi apakah dia akan mampu membuat segitu dan laku.
 
Dia keluar dari pekerjaan pindah ke China. Max mencari material termasuk rekanan pabrik. Dan pihak pabrik meyakini bahwa Lumio tidak akan laku. Beruntung Max tidak mudah menyerah, memilih buat mengiklankan dan mampu menjual $1 juta.
 
Produknya cantik sampai membuat orang terpesona. Alhasil Max tidak mengeluarkan banyak uang beriklan. Namun masalahnya permintaan menaik tajam sampai pusing. Max kepusingan karena tak mempunyai modal tambahan.

Ikut Shark Tank

 
Awalnya dia cuma berniat mengumpulkan $60 ribu dollar saja. Alangkah terkejut, karena ternyata dia mampu mengumpulkan 580 ribu dollar, menakjubkan dia mampu mengumpulkan 10 kali lipat! Untuk memproduksi Lumio, dia menetap sementara di China, disanalah satu per- satu Lumio diproduksi. 
 
Max sama sekali tidak memiliki pabrik pembuatan sendiri di manapun. Langkah cerdas Max ternyata membuahkan hasil. Namun perlu diingat, dalam perjalanannya, Max langsung turun tangan sendiri mengamati standarisasi. Uniknya dia mampu menjual Lumio tanpa marketing sulit. 
 
Soal satu ini berterima kasih kepada pihak ABC TV dengan acara bertajuk Shark Tanks, yang mengangkatnya. Kerap kali Max berpikir, "apakah ini akan berhasil?" Keraguan tersebut ditepisnya melalui terus bekerja. 
 
Ia tau dirinya tidak bahagia menjadi pegawai kantoran. Max terus berpikir apa yang harus diciptakan. Mulai lah berpikir apa yang dibutuhkan manusia jaman sekarang ini.

Lumio merupakan solusi energi manusia. Tidak cuma berhenti di lampu, Lumio juga sudah ada buat kita pengguna gadget, sebuah carger mini Lumio. Tidak cuma berhenti di Lumio dirinya juga mulai aktif memproduksi aneka furnitur multifungsi.

Shark Tanks, episode 15, ditayangkan 16 Januari 2015, dan Max Gunawan selaku pembuat Lumio mulai memperagakan produk hasilnya. Max mengdapatkan investasi sampai $350.000, dalam bentuk pembagian saham hasil 10%. 
 
Mark Cuban menyebut Lumio lampu terkeren, dan ditulis oleh People Magazine. Akhirnya Robert Herjaveck adalah Sharks -istilah investor di acara tersebut- yang setuju dengan tawaran Max. Lumio sendiri berbentuk buku lipat yang akan terbuka 180 derajat membentuk lingakran. 
 
Ujungnya ada magnet yang dapat kita tempelkan dimanapun. Awalnya Robert mengajukan $100 ribu. Tetapi ternyata ke lima Sharks ini memiliki minat. Mereka lantas berebut memberikan nominal tertinggi. Max adalah bukti nyata kesuksesan tidak semalam.
 
Lumio memang sangat fleksibel. Di jamannya sudah memiliki kemampuan menyimpan daya. Lumio memakai lampu litium layaknya handphon. Dapat diisi ulang melalui kabel USB, tentu bisa dilipat buat dibawa kemana- mana.
 
Bagi para Shark (nama juri Shark Tank) produk Lumio sangat menjual. Gampang dipasarkan serta rasional dalam proses produksi. Lumio beromzet $125 juta di November 2015, dan makin naik seiring penayangan Shark Tank keseluruh penjuru dunia.
 
Dari seluruh dunia ia mendapatkan pemesanan 3000 pesanan. Selepas Shark Tank Januari 2015, bisa menjual $3 juta di akhir 2014, dan seterusnya berlipat. 
 
Seperti diprediksi para Shark, bahwa Lumio akan sangat laku, bahkan sampai dijual sebagai barang high end di Design with Reach, Foundation of Louis Vutton dan MoMA Store.

Untung Berbisnis Kue Hias Tinggalkan Pekerjaan

Profil Pengusaha Peni Respati

 

berbisniskue.png
 

Pengusaha Peni Respati tidak mengharapkan muluk usaha begini. Untung berbisnis kue hias ternyata mengejutkan. Adalah kreatifitas menciptakan ide baru orisinil serta mengikuti tren. Peni, wanita berhijab yang memulai usahanya pada April 2008, menamai usahanya Cake Miracle.


Dia memang berbisnis pembuatan kue. Agar bertahan lebih lama dibutuhkan inovasi. Maka Peni lebih memilih mengasah teknik kue hias. Penjualan kue memang tidak akan menurun, bila tidak memiliki pesain memadai baik skill maupun jumlah.


Jadi Pengusaha

 

Pembuat kue harus memiliki keistimewaan dulu. "Hobi saya memang memasak sejak kecil, selain itu ketertarikan akan dunia seni," imbuh Peni. Ia mengenang ketika kelas 6 SD, membuat kue craker pisang keju yang dibagi- bagikan.


Sebelum bisnis dia menjadi pekerja kantoran sampai 14 tahun. Dia menjajal membuat kue ketika masuk dunia kerja. Hasilnya dia bagi- bagikan kepada teman- teman sekantor. Buat meningkatkan skill dia mau mengikuti kursus memasak singkat.


Selama 14 tahun dia menerima pesanan baik teman suami maupun sekantor. Bisnis sampingan begitu kiranya Peni bermula. Namun pesanan kian banyak bertumpuk- tumpuk. Pesanan sudah memakan waktunya sampai memilih resign kerja.


Dia fokus membuat kue. Berkat bakat seninya dia mampu menciptakan tidak cuma kelezatan, juga termasuk kue- kue indah enak dipandang mata. Sampai konsumen tidak makan hiasan karena dikira bukan kue. 

 

Ambil contoh ketika dia membuatkan kue ulang tahun seorang anak. Kue ulang tahun buat anak 8 tahun berkonsep putri duyung. Hiasanya lengkap sudah termasuk mutiara laut, aneka ikan, dan juga kepiting. Mau dimakan sayang saking bagusnya layaknya hiasan bukan makanan.


Dia mampu menciptakan proporsi sempurna. Dalam sebuah kue bisa terdapat putri salju dan tujuh kurcaci beserta detail. Penampilan kuenya menawan sangat menarik mata. Tetapi bila dimakan akan sangat memanjakan pecinta kue sampai serba salah; Mau dimakan sayang, tak dimakan mubazir.


Peni selalu menerapkan standar premium. Bahkan perkakasnya berkualitas prima terutama oven. Ia mempunyai alat mixer adonan, lemari es penyimpan kue, dan pemanggang oven. Bagi pengusaha kue memang memiliki tiga alat tersebut wajib.


Dia mengenang awal pastilah tidak mudah. Bahkan Peni memakai oven seharga Rp.45 ribu dan mixer Rp.150 ribuan. Begitu usahanya maju dia langsung menginvestasikan ke peralatan. Peni melayani pesanan mulai dari kue ulang tahun sampai permintaan jajan kantoran.


Peni mulai mendalami kue hias terutama bertema populer. Dia ikutin tema pestanya. Harganya variasi dari Rp.200 ribu sampai Rp.1,5 juta. Peni menjelaskan harganya tergantung hiasan, bahan baku, serta ukuran kue.


Perhari dia bisa mengerjakan lima pesanan. Dalam dua tahun modalnya sudah kembali. Padahal Cake Miracle cuma berjualan memakai blog. Pemasaran lewat blog jaman tersebut memang menghasilkan. Ia mendapatkan pesanan ketika pengunjung datang ke blog.


Pemasaran menggunakan orang lain masih dijalankan. Marketing mulut ke mulut nyatanya menaikan penjualan. Permintaan akan kue- kue kecil juga meningkat. Peni mulai membuat kue seperti cupcake alias kue hias mungil seukuran muffin.


Cupcake beda sama muffin karena memiliki hiasan. Layaknya kue besar cupcake menghadirkan aneka toping. Harganya perkue Rp.5000 rahasia mendapatkan untung lewat rasa dan bentuk. Intinya berbisnis kue hias harus mengutamakan kualitas, baik pemasaran lewat internet ataupun bukan.


Memulai Bisnis Kue Hias


Menjadi wirausaha merupakan kesempatan karir kedua. Baginya membuat kue memberikan suatu kesampatan berganda. Dia juga memiliki karir bila kamu menyebut pengusaha bukan. Peni belajar menjadi penulis dan mengajar.


Tentu keduanya masih berhubungan dengan kue. Judul bukunya antara lain, Kue Kering Hias (2011), 3 Jam Mahir Membuat dan Menghias Cupcake & Minicake (2010), dan Kreasi Coklat (2008). Ia merupakan mantan pegawai 14 tahun.


"Di tempat saya dulu bekerja, saya melihat beberapa karyawan senior yang sudah berusia lanjut tapi masih bekerja. Saya tidak mau memilih karir begitu," ucapnya. Dari usia produktif 30 tahun, dirinya berharap menyisakan 15 sisanya menghasilkan suatu karya.


Dia ingin berguna buat orang lain tanpa terbentur birokrasi atau manajemen kantor. Empat belas tahun dirinya bekerja di perusahaan perkebunan swasta. Tahun 2006, dia mengenal NCC (Natural Cooking Club), yang mana mulai menerima pesanan teman kantor dan dari blog.


Dia mulai berpikir,"mungkin ini bidang yang bisa saya tekuni kedepan". Lewat buku dirinya melatih keahlian dalam memasak. Dia bahkan rela membeli buku impor berharga mahal. Beruntung Peni masih bekerja buat membeli buku lumayan mahal.


Cobaan pertama berbisnis kue hias adalah ekspetasi pelanggan. Mereka memang terkadang berharap terlalu tinggi, bahkan lebih dari apa mereka lihat di foto. Bila ekspetasi mereka tidak tercapai mereka akan "kejam" mengomentari. Peni selalu menganggap komentar sebagai feedback.


Membuat kue berarti menggunakan gula, musuh utama gula ialah panas membuat meleleh. Tau sendiri keadaan jalanan ibu kota memang menjengkelkan. Butuh teknik membuat kue tetap bertahan dijalanan sampai tangan konsumen.


Dulu waktu masih kantoran, dia berangan menjadi penulis dan pengajar, kini dia mewujudkan mimpi melalui Cake Miracle. Dimana ia sekarang memiliki porsi mengajar dan masak 50:50. Tentu Peni kini memiliki pegawai, juga memiliki murid- murid kursus membuat kue dari beragam profesi.


"Saya mengajak mereka bersenang- senang, jangan terlalu serius apalagi sampai berkompetisi," tutur pengusaha kue ini kepada Pesona.co.id. Delapan tahun berbisnis, dia memiliki karyawan, kendaraan operasional, dan kantor sendiri.


Omzet perbulan mencapai Rp.30- 100 juta. Ia bermodalkan menulis melalui blog. Walau tidak khusus beriklan, dia dibantu sopir sudah kwalahan mengirim pesanan banyak.

Usaha Bantal Burung Hantu Pengusaha Windy

Profil Pengusaha Windy Astuti Dhanutirto 


usahabantal.png
 
Ide membuat usaha bantal burung hantu hasilkan uang. Pengusaha berawal dari pilihannya resign dari pekerjaan. Dia yang dulu bekerja di bidang periklanan, sudah terbiasa melahirkan konsep ide tentang produk. Nah, kini, giliran dia bekerja sendiri lahirlah bisnis bantal imut.

Wanita bernama lengkap Windy Astuti Dhanutirto. Yang mana selalu gelisah akan pekerjaan yang monoton. Dia bermodalkan uang Rp.5 juta. Ia kemudian membuka bisnis bantal. Bantal bikinannya memiliki desain yang berbeda, unik, imut. 
 
Bantal bikinan Windya juga bisa dijadikan hiasan imut di rumah kamu. Tahun 2011 iseng dia membuat produk yang diberinya nama Jumba Jamba. Berawal gambar iseng lantas ia jahit menjadi bantal. Dia membuatnya pakai tangan.
 

Usaha Bantal

 
Sampai pesanan datang, Windy baru membikinkan itu khusus buat pembeli. Sampai siapa sangka permintaan meningkat. Maka Windy mulai belajar memakai mesin jahit. Bertahap tingkat produksi Windy meningkat. Jumba Jamba kebanyakan berbentuk aneka binatang. 
 
Yang paling imut adalah bantal berbentuk burung hantu. Dimana penjualannya tinggi mengundang banyak rejeki. Ada burung hantu, gajah, ayam, dan kupu- kupu. Kesemuanya itu dibentuk imut dari ukuran aslinya. Setiap bantal diberikan nama identitas. 
 
Mereka dikumpulkan dalam tema kerajaan binatang. Pengalaman dalam pekerjaan, mulai membentuk ide, lantas riset, hingga membuat produk merepukan pengalaman gregetan.

Sementara dia bekerja keras, idenya cuma menjadi milik pemilik perusahaan. Kenapa tidak menjadi salah satu pengusaha. Mangkanya Windy memilih resign dan membuka usaha. Tidak memiliki latar belakang tentang kerajinan. 
 
Tidak bisa menjahit. Cuma pakai lem kain ditempel- tempel begitu sampai selesai. Dan ketika seorang teman melihatnya suka. Dia jadi langsung memesan dua buat anaknya. Akhirnya Windy jadi makin bersemangat mengembangkan usaha. 
 
Karena lem tidak aman buat anak, Windy nekat belajar jahit sendiri dari You Tube. Ia kemudian memakai konsep adopsi buat setiap bantal binatang bikinannya.

Ia ingin menjadikan bantal layaknya keluarga. Bagaimana membuat bantal seolah layaknya peliharaan. Dia menjadikan karekter Jumba Jamba berkarakter. Untuk binatang dia juga memikirkan bagaimana caranya masuk ke semua gender. 
 
Binatang kayak burung hantu, ayam, gajah, dianggapnya disenangi semua anak.

"Aku bikin bantal tapi tidak mau hanya sekedar bikin bantal," paparnya. Ia juga memikirkan marketing yang serius layaknya dia masih bekerja dulu.

Harus ada konsepnya. Apakah kebiasaan ibu dan anak lakukan dengan bantal. Buat dijadikan mainan apa itu dijadikan teman tidur. Juga termasuk apakah ibu suka mendongeng buat anaknya. Kan asik memakai bantal karakter macam Jumba- Jamba buat mendongeng.

Dari pemikiran tentang cerita kancil, tentang putri, dan jadilah kerajaan binatang beserta karakternya masing- masing. Ia sendiri yang membuat karakternya. Juga menerima pesanan karakter khusus. Buat yang satu ini desain khusus biasanya buat acara khusus. 
 
Dijadikan souvenir atau hadiah buat ulang tahun anak kita. Dua cara dilakukan dia menjual produknya. Pertama melalui penjualan langsung. Kedua yakni lewat situs toko online www.jumbajamba.com. Ia kalau penjualan langsung juga pakai konsinyasi. 
 
Yakni menitipkan barang ke ritel modern di Bandung, sampai Bali. Di Jakarta masih menyusul perkembangan minat mereka. Windy juga rajin mengikuti pameran. Gunanya mendapatkan kontak kerja sama. Melakoni bisnis ini bisa dibilang ada masalah krusial. 
 
Dia harus menemukan pegawai tepat buat bisnis bantalnya. Pasalnya produk yang ia ciptakan lumayan rumit. Apalagi kalau permintaan mendadak per- proyek butuh tenaga khusus loh. Mangkanya dia mempekerjakan dua orang freelance. 
 
Dia bekerja sendiri bersama sang Ibu, dan dua orang freelance itu. Masalah lainnya, adalah ia sempat salah menentukan harga barang awal. Sempat beberapa kali salah menentukan patner kerja. Karena tidak mempelajari dulu tentang profil calon rekan kerjanya.

Pernah nih, ketika Lebaran, dia ikutan bazar yang diadakan pusat perbelanjaan. Lupanya dia lupa kalau ketika bulan tersebut orang nyari baju atau kue. Bukannya mencari bantal. Alhasil dia salah menebak momen bisnis tersebut. Ujungnya dia tidak mendapatkan untung berlipat seperti pengusaha lain.

Masalah lain timbul ketika pembeli luar negeri datang. Dia tidak bisa menentukan harga jual. Karena kita tau pengiriman ke luar butuh biaya tambahan. Dan, meskipun bantal ringan, ternyata dikenai biaya berbasis volume. 
 
Tidak jadi kerja sama deh. Padahal pembelinya banyak orang Australia, Amerika, Jepang, Eropa. Kini dia berproduksi 350 buah per- bulannya. Dimana modal awalnya cuma Rp5 jutaan. Jumlah 250 buat ritel dan 100 lagi buat yang mau custom di online shop. 
 
Harga dibandrol Rp.35 ribu buat bantal kecil dan Rp.270 ribu buat yang besar. Omzet capai Rp.10 juta per- bulan.

Pemilik Asli Cireng Rampat Kisah Pengusaha

Profil Pengusaha Ani Rohaeni

 
cirengrampat.png
 
Pemilik asli Cireng rampat Ani Rohaeni bercerita awal. Kisah pengusaha cireng sukses yang mampu mewaralabakan.  Hebat ibu 43 tahun asal JL. Cemara Bandung ini, nekat, memwaralabakan bisnisnya yang cuma jualan cireng. 
 
Atau jajanan yang terbuat dari aci digoreng asli Jawa Barat itu. Kisah dimana dia pertama kali mencoba- coba membuat inovasi pada jajanan cireng. Hasilnya sangat mengejutkan laris manis diserbu pembeli. Itu  Semua berawal dari hobinya pada jajanan cireng tersebut. 
 
Dia mulai membuat cireng lain, dari bentuk, rasa, serta ada isinya. Hingga bisa menggugah selera lebih- lebih lagi. Usahanya dikerjakan sejak tahun 1992, ia lantas memperkenalkan produk barunya; bernama The Cireng Rampat, yang kemudian menyebar hingga ke seluruh wilayah Kota Kembang.
 

Bisnis Cireng Asli


Isinya mulai dari rasa manis, pedas, dan asin. Untuk aneka rasanya ada isi daging sapi, sosis, bakso, kacang, kornet.dll. Semuanya lengkap sampai kami repot menulisnya. Patokan harga yang digunakan Ani juga lah terjangkau, cuma Rp.1.200 sampai Rp.2.000. 
 
Ia mengaku dengan menggunakan adonan berkualitas baik dan utamanya, Ani fokus pada rasa pedas yang tengah digilai anak muda. Disamping itu semua cireng buatannya ini crispy. Tak hanya disukai masyarakat biasa. 
 
Para selebritis juga sudah menjadi penggemarnya. Sebut saja Tukul Arwana yang sudah mencicipi rasa cireng buatannya di suatu acara di BSM. Untuk menghindari penjiplakan, Ani bergegas mendaftarkan produknya kepada instansi hak paten. 
 
Intinya agar tidak peniruan dimana cireng ini cuma diproduksi oleh Ani Rohaeni. Layaknya produk kuliner lain cireng buatan Ani tak mau kalah. Kali ini ia menyasar cara waralaba cireng untuk jadi alat pemasaran. 
 
Manajer Pemasaran dari Cireng Rampat, Sulistiyanto, mengaku usaha ini telah memiliki 51 mitra waralaba. Dimana sudah tersebar 51 gerai di tiap daerah seperti di Bandung sendiri, lalu di Bogor, Garut, Sukabumi, dan Banjaran masing- masing punya 10 gerai.

Totalnya ada hampir seratus gerai tersebar di kawasan Jawa Barat. Untuk usaha ini cukup kamu keluarkan uang 3,5 juta untuk menjadi pewaralaba. Dimana kamu bisa langsung berjualan menjual cireng khas miliknya. 
 
Ada lagi untuk kita yang diluar Jawa Barat akan sedikit lebih mahal yaitu 5- 7 juta. Keuntungan bisnis cireng waralaba ini yaitu semua sudah disediakan dan kamu tak perlu meminta stok layaknya retail.

Mengenai omzet dijelaskan oleh Sulistiyanto ada 36 juta per- bulan. Ini berasal dari 3.000 sampai 1.000 buah cireng yang akan disuport dan terjual semuanya. Menarik kan?

Kembali ke awal berbisnis Ani, dulunya, ternyata seorang karyawan di salah satu restoran internasional. Dia tak langsung berjualan cireng jelasnya. Dia dulu berjualan cireng untuk biaya hidup bersama dua anak. 
 
Biasa saja sebuah bisnis untuk menghidupi diri sejak 91. Dimana dia saat itu coba- coba mengolah aci yang lantas ia berpikir bagaimana jika dibuat combro. Nah, akhirnya ia mencoba membuat satu gumpalan aci yang lalu dibentuknya.

Isi pertama cirengnya cuma isi sambal kacang. Dari sinilah perjalanan bisnis Ani berlanjut dari cuma membuat beberapa hingga berkarung- karung. Karena tau rasanya hidup susah maka ia pun mengajak para tetangga untuk mengerjakan bisnisnya. 
 
Kala itu ia menyebut lingkungannya banyak penggaguran. ia membantu mereka yang pengangguran itu. Kisah pengusaha cireng sukses berkat inovasi dan kegigihan.

"Saya ingin menolong mereka yang putus sekolah, yang tidak punya orang tua. Mungkin dari situ mukjizat datang untuk saya, sehingga saya bisa merekrut orang untuk bekerja di sini," lanjutnya.
 
"Kebanyakan karyawan di sini mereka yang putus sekolah atau yang tidak punya orang tua. Karena itulah tujuan kita," jelas sang pemilik asli Cireng Rampat dalam satu sesi wawancara.

Dialah penemu cireng isi ini, dengan kepedulian akan lingkungan. kebaikan dibayar kebaikan itulah kira yang kita bisa pelajari. Cerita pun berlanjut dimana ia bercerita modal awalnya ini kecil. Dia menyebut cuma ada Rp.15.000 diawalnya.
 

Strategi Bisnis

 
 
Tapi kala itu sebelum krismon jelasnya dimana kalau sekarang bisa tak cukup. Dari usahanya ini juga muncul penjiplak meski telah dipatenkan. Setidaknya masyarakat tau apa produk aslinya dan mana yang palsu.
 
Ditelusuri lebih lanjut ini waralaba dan berbasis sitem beli- putus. Yaitu ia menggunakan sistem bernama beli- putus dalam penjelasannya. Mitra akan membayar administrasi untuk royalti kemudia mendapatkan suport lain. 
 
Dimana Ani mengaku ini untuk royalti merek dagangnya, yang memang sudah ada hak paten, ijin depkes, dan NPWP. Oleh para mitra cukuplah menjual dimana semunya sudah dibebankan dalam merek.

Kamu akan mendapatkan banner, bonus 50 potong cireng, dimana sisa uangnya akan berbentuk produk siap jual. Untuk gerai pewaralaba atau mitra harus disediakan sendiri, dimana, kamu nanti cuma akan disediakan produk siap jual saja.

Nama Rampat sendiri berasal dari nama anak- anaknya, yaitu Ramadhani dan Patria. Kedua nama anaknya itu lantas disatukan. Memang jika orang mengira Rampat berasal dari tempat wisata Raja Empat. 
 
Jadi bisa saja orang mengira jika Ani berasal dari Sumatra tapi tidak. Semua cuma kebetulan tegasnya, kalo ingat lah cireng, ingat Rampat, itulah mengapa banyak nama mulai meniru. Usaha yang dulunya cuma bermodal satu gerobak kini sukses besar.

Ketika merintis pengusaha Ani memulai berbisnis rumahan. Usaha dibelakang sana, di teras rumahnya, di jalan Cemara tetapi masuk gang. Terus dia berjualan sendiri sampai datang pesenan. Dari Jogja sampai Surabaya menikmati Cireng Rampat.
 
"Dorong gerobak sendiri. Trus saya jualan sendiri. Mulai dari situ ada yang pesen ke jogja, ke Surabaya," kenangnya. Maka ia mulai berpikir strategi bisnis terbaik. Strategi beli- putus. Dengan cara demikian membantu orang lain, sekaligus mempercepat penjualan.
 
Dia lantas bercerita bahwa ia tak pernah mensurvei usahanya. Ani cuma bermodal feeling. Ketika itu ia cuma membuat apa yang dipikirkan. Dia juga bercerita usahanya dimulai ketika ia punya suami. Karena usaha ini ramai dan suaminya tak suka karemaian atau entah kenapa; dia putuskan pisah. 
 
Dimulailah ia fokus pada bisnis cireng isi ini. Untuk membedakan isi, ia tak menggunakan sistem bakpau, atau dikasi tanda titik agar tau yang ini isi apa.

"Saya tidak mau, itu kan meniru bakpau. Kalau cireng kan membedakan isinya dari bentuknya. Kenapa saya membentuk cireng isi bakso dengan bentuk bulat, karena bakso kan berbentuk bulat. Seperti itu. Jadi, ya, sesuai dengan perasaan saja," jelasnya.

Catatan: kami mencoba mencari profil Bu Ani Rohaeni (foto) tapi tak ditemukan.

Ahli Telemarketing Sukses Pengusaha Karen Derby

Profil Pengusaha Karen Derby

 

ahlitelemarketing.png
 

Menjadi ahli telemarketing sukses memungkinkan. Pengusaha Karen Derby ini mematahkan frustasi kita akan pekerjaan tersebut. Menjadi telemarkater susah mengesalkan ditekenuhi. Telemarkating bagi Keren merupakan satu dari keahlian marketing serius.


"Aku menyukainya," ucap Karen. "Aku sama sekali tidak menganggap itu sebagai beban," lanjutnya. Dia bahkan terkagum- kagum orang dibayar buat telephon. Kita dibayar buat berbicara berjam- jam di gagang telephon. Tentu baginya merupakan kemudahan namun beberapa orang tidak begitu.


"Rasanya seperti mendapatkan uang untuk melakukan sesuatu yang mudah dan menyenangkan," Karen berujar. Anak keempat dari lima bersaudara hidup "sederhana". Ayahnya itu kebanyakan menganggur di rumah, sementara ibunya bekerja paruh waktu menjadi pelayan.

 

Mulai Berbisnis


Dia tumbuh besar di Mitcham, Surrey, London Selatan. "Aku selalu mencari cara menghasilkan uang karena kami bukan orang kaya," lanjut Karen. Waktu sekolah, dia bekerja di sebuah toko ikan, pernah bekerja menjadi pencuci, penjual koran, juga berkeliling London mencari botol bekas dan menjualnya.


Disuatu waktu dia memiliki empat macam pekerjaan sekaligus. Usianya 16 tahun, Karen memilih bekerja, meninggalkan sekolah dan mulai bekerja di pabrik. Tetapi dia sangat tidak menyukainya, jadi setelah dua bulan dia meninggalkan pekerjaan tersebut mencari lain.


"Aku sudah tidak tahan," ia lanjutkan. Bahwa dia tidak menyukai pekerjaan dibayar perpaket. Lalu dia menemukan pekerjaan terbaik menjadi telemarketer. Dia ditugaskan menjual sebuah space iklan dalam surat kabar lewat telephon.


Pekerjaan menyenangkan dia tekuni walau berpindah tempat. Dua tahun bekerja, Karen pindah ke ke Capital Radio, lalu pindah ke agen penjualan iklan. Kemudian, di tahun 1983, diusianya 22 tahun dia memutuskan membuka usaha sendiri.


Dia bersama seorang kawan mendirikan bisnis call center. Modal awalnya 30.000 euro -an, yang mana merupakan uang investor yang yakin akan kemampuan Karen. Banyak orang memandang Karen telalu berani ambil resiko.


Pengusaha Karen Derby tidak peduli. Dia merasa tidak rugi mencoba. Dibukalah perusahaan tersebut di kawasan Norbury, London Selatan, berbekal toko kecil. Karen lantas mencari jaringannya setelah sekian lama bekerja.


Dia menghubungi perusahaan- perusahaan besar dan mengajak mereka. Karen kemudian menunjukan kantor serta apa mereka bisa lakukan dalam telemarketing. Begitu dipercaya Karen ahli telemarketing sukses memberi persentasi.


Mereka diajak melihat apa yang bisa dilakukan telemarketing. Tujuh tahun perusahaan berdiri, dimana usahanya memiliki 200 staf yang menghasilkam omzet $4 juta. Ketika itu usia kandungannya telah siap melahirkan, tetapi dia memiliki pemikiran lain.


Dia tengah mengandung anak kedua. Karen berpikir sudah saatnya melakukan sesuatu berbeda. Siap melakukan perubahan penting hidupnya. Maka Karen menjual sahamnya senilai $1,6 juta. Tujuannya hidup lebih bebas. Namun pembeli sahamnya malah bangkrut cuma mampu membayar 500 ribu euro.


Rugi dia kehilangan separuh lebih nilai seharusnya. Tetapi dia mampu membeli rumah dari uangnya. Ia membeli rumah dan bekerja menjadi guru; Karen menjadi trainer telesales untuk perusahaan lain. Ini merupakan perwujudan filosofi, bahwa ada pengorbanan buat lebih baik.


Kerugian penjualan saham memang diluar kendali. Mungkin kamu berpikir udah enak punya usaha malah mundur. Ternyata pengusaha Karen Derby berusia 42 tahun lebih memiliki merdeka. Meskipun dia menyadari bahwa, dia mencintai dunia usaha dan menjadi guru mungkin kurang tepat.


Menjadi guru selama 10 tahun dan telah memiliki tiga anak. Karen kembali menjadi pengusaha. Jujur dia mengatakan menjadi trainer menghasilkan uang banyak. Dia bekerja buat perusahaan lain. Dan dia dibayar bila benar- benar bekerja, namun bekerja tidak menambah kekayaan.


Bila kamu memiliki bisnis maka menghasilkan uang meskipun tidur. Dulu dia memiliki perusahaan talesales. Kini dia melihat perusahaan telah memiliki pasukan sales sendiri. Banyak perusahaan lebih memilih membuat pusat pelatihan telesales, dan munculnya perusahaan jasa pelatihan.


Alhasil perusahaanya dulu mulai kehilangan prospek. Benar pilihannya keluar perusahaan dan menjadi trainer sales. Kini Karen Derby akan membuka perusahaan pelatihan. Tujuannya ialah menciptakan pusat pelatihan tetapi Karen tidak sembarangan.


Dia akan merangkul perusahaan pelatihan talesales kecil. Menjadi mereka kesatuan perusahaan besar bidang pelatihan sales. Tetapi ketika dia mengajukan bantuan permodalan perbankan. Mereka pihak bank tidak meyakini akan keberhasilan idenya.

 

Bank tidak mau memberikan modal dibutuhkan. Itu memaksa Karen mengevaluasi ide bisnis. Lalu dia mendirikan Pocket Franchise. Konsep bisnis dimana pegawai mampu membeli saham perusahaan. Ini akan membantu perusahaan sekaligus membantu pegawai.

 

Mereka yang ingin menjadi pengusaha akan ikut menjadi bagian. "Aku sampai tidak bisa tidur karena terus memikirkannya, dan aku sangat terobsesi!" ujar sang pengusaha. Dia kembali menyadari suatu tantangan akan dihadapi.


Akan butuh waktu sampai direktur perusahaan mau mengadopsi. Perusahaan besar menyukai ide ini tetapi mungkin merasa gugup, jelasnya. Dia harus menyampaikan ide sampai kelevel petinggi. Itu membutuhkan waktu panjang, dan dia tidak memiliki kesabaran seperti tersebut.


Ide Bisnis Baru


Gagal merevolusi bisnis melalui Pocket Franchise. Karen Derby masih tidak kehilangan hasrat buat berbisnis. Ketika dia menjadi trainer call center perusahaan orang. Dia menemukan dua perusahaan bidang energi butuh bantuan.


Mereka perusahaan gas dan listrik ingin banyak konsumen. Mereka menginginkan telephon ke setiap rumah menawarkan produk. Karen berpikir kenapa tidak mencarikan suplier ketimbang konsumen. Dia kepikiran kenapa tidak mencarikan orang suplier, dan mengarahkan itu ke dua perusahaan klien ini.


Sama- sama menguntungkan tetapi memiliki sudut pandang berbeda. Tetapi pihak klien tidak setuju tetap ngotot mencari konsumen rumah tangga. Karen berlalu berjalan melewati parkiran sampai ke mobil. Dia berpikir idenya hebat cuma membutuhkan rencana mewujudkan.


Ide bisnisnya lebih sederhana butuh waktu 20 menit menjelaskan. Dia melihat banyak perusahaan online memberikan peluang ganti suplier. Layanan online tersebut memberikan orang perbandingan harga tiap perusahaan gas dan listrik.


Alih- alih Karen memakai ide internet malah memakai telephon. Jadul memang tetapi dia menyadari orang butuhkan sentuhan langsung. Orang masih membutuhkan jasa komunikasi ketimbang memilih klik. 

 

Mereka butuh berbicara menanyakan sesuatu, menyingkirkan ketakutan, memastikan supplier benar, dan agar rumah mereka aman. Dia ambil libur selama musim panas membuat bisnis plan. Karen lalu mengunjungi kolega, Alistar Tillen, mengajaknya berpatner dan mencari investor.


Karen mencoba mendekati orang- orang kaya tetapi tidak berhasil. Hingga dia menemukan perusahaan bernama Bridges Community Ventures. Mereka setuju memberikan permodalan 125 ribu euro, dan mendapatkan 35% bagian saham.


Karen sempat menjaminkan rumahnya buat bisnis pertama. Ia kembali menjaminkan demi mendapat modal 17.000 euro, dan patnernya menanam modal 23.000 euro. Inilah cikal bakal Simply Switch, yang mana akan memberikan suplier energi termurah, dan menggantungkan pendapat dari feenya.


Jasa perusahaanya memakai konsep lewat surat kabar, badan amal, sampai retailer yang berprinsip kemitraan. Awalnya Simply Switch sangat kesusahan mengajak perusahaan enegeri. Mengajak buat mengikuti skema tersebut sangat susah.


Simply Switch sempat kesusahan akan pendapatan. Sampai mendapat 1000 panggilan untuk mengganti suplier. Mereka kemudian menambah layanan seperti mencari jasa broadband, perusahaan telephon, hingga jasa kartu kredit termurah.


Mereka mampu membuat konsumen datang bukan sebaliknya. Namun di tahun 2005, dia malah pilih menjual perusahaan untuk 22 juta euro dan berbisnis kembali. Karen mendirikan Call Britania yang berbasis call center.


Dia menciptakan lapangan pekerjaan sampai 10.000 pengangguran. Karen senang menjalankan usaha lagi. Ini caranya menikmati kehidupan memang passion. "Aku suka menunjukan pada mereka bahwa itu bisa dilakukan.


Ia menjelaskan, "aku orangnya cukup kompetitif". Keinginan membuat perusahaan karena dirinya mulai berpikir: Tidak ingin meninggal dikenang sebagai "ahli menelephon". Dia ingin menjadi seorang pengusaha sukses. Dia ingin memberikan kontribusi bagi kehidupan masyarakat.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba