Profil Gisneo Pratala Pengusaha Banyak Usaha

Profil Pengusaha Gisneo Pratala Putra

 

gisneopratala.png
 

Dirinya dikenal pengusaha banyak usaha. Profil Gisneo Pratala Putra sempat ingin menjadi penguasa dunia. Dia dikala masih sekolah dasar. Bertumbuhnya waktu, dia menyadari bahwa kunci kesuksesan terletak pada teknologi. Gisneo Pratala atau akrab dipanggile Neo mendirikan aneka usaha teknologi.


Menjadi technopreneur merupakan perjalanan panjang. Dia menjelaskan merintis semuanya. Dimana dia mendapatkan cemooh sepanjang perjalanan. Bayangkan Neo lulusan Universitas Gajah Mada, namun punya IPK 2.00, lulus 7 tahun, dan direndahkan investor.

 

Banyak Usaha


"Pernah nungguin investor 3 jam. Dia janjiin buat ngobrol 1 jam, terus dibilang kayak hidupmu sampah, idemu enggak akan berjalan di market," kenangnya.


Ia melanjutkan, "mending kamu enggak bikin startup!". Hinaan investor malah membuatnya semangat berwirausaha. Pengusaha muda Neo mulai bekerja keras kembali. Ia kembali menekuni idenya dan memperbaiki masalah.


"Aku digituin nggak sakit hati. Ya sakit dikit lah gitu, terus aku bilang oke ideku sampah. Terus sebaiknya gimana," ucap Neo, yang dikenal sebagai founder dan CEO Wideboard.


Widboard merupakan aplikasi menyatukan sistem korporasi. Sistemnya menguhungkan antar divisi dalam perusahaan. Aplikasi ruang buat sistem komunikasi terintegrasi baik email maupun data. Alat yang juga mampu mengumpulkan data dan kinerja pegawai real time.


Ia mengambil jurusan teknik mesin Universitas Gajah Mada. Sedari awalnya ia tidak menginginkan masuk teknik mesin. Maka Neo sudah memiliki pandangan tidak mengandalkan ijasah. Sudah ingin menyiapkan ancang- ancang menghadapi dunia luar.


Dia bahkan sadar sudah punya dua kemungkinan masa depan: Neo akan menjadi penjual pulsa. Atau terpaksa dia akan berjualan cilok. Tidak mau. Neo ingingkan perubahan besar dalam hidup. Kuliah di bidang tidak diminati alhasil Neo molor sampai 7 tahun.


Kerja keras mambuatnya diminati perusahaan milik negara. Sempat teknologi miliknya dipakai oleh PT. Kliring Berjangka Indonesia. Neo juga pernah menjabat anak cucu perusahaan milik negara, namanya PT. Garuda Tauberes Indonesia.


Kesuksesan tersebut makalah Neo diajak bergabung ke Citilink. Dia berkarier menjadi vice- president bidang teknologi informasi sejak Desember 2018. Neo miliki 38 kaos abu- abu. Menurutnya dalam sehari orang melakukan 3 juta kali keputusan.


Neo tidak mau menghabiskan waktu memilih pakaian. "Aku enggak mau repot- repot untuk nentuin aku mau pakai kaos apa. Jadi aku punya kayak gini itu setiap hari jadi aku tinggal pake baju yang sama celana sama," tuturnya.


Profil Gisneo Pratala


Neo semenjak kecil sudah menyukai bidang IT. Namun dia memplajari semuanya melalui otodidak. Untuk masakah komputer dia melalukan pembelajaran mandiri. Bayangkan masih kecil sudah pandai bahasa pemrograman.


Ketika masuk  SMP, Neo sudah mampu meretas komputer, ketika SMA dirinya sudah mampu dalam hal internet pusat. Dia mampu meretas router sekolah mati. Dia juga pernah sempat membajak sistem komputer kepala sekolah.


Lewat begitu Neo menikmati akses internet lebih cepat. "Jadi saya tetap lancar akses internet," terang Neo kapada Balairungpress.com. Pria kelahiran Solo, yang ayahnya merupakan pegawai Freeport, cerita bahwa waktu akan dilahirkan ayahnya naik pesawat.


Ketika hamilnya berada di ketinggian hingga turbulensi pesawat. Ayahnya lantas memberi nama yang berdasarkan suku Bugis, dan arti Kalimantan sendiri. Yakni bernama Gisneo berasal dari kata Borneo atau Kalimantan.


Begitu dilahirkan dia sempat tidak bernafas beberapa saat. Kemudia dia dimasukan inkubator dan kembali normal setelah 6 jam. "Kehidupan saya sebenarnya adalah keajaiban sejak awal," tuturnya.


Sempat inginkan mengembangkan dunia teknologi. Neo tidak pernah menutup kemungkinan lain. Seperti ketika dia memilih masuk jurusan teknik mesin Universitas Gajah Mada. Neo sempat ditawari beasiswa di luar negeri, di Jerman lewat Freie Universitat Berlin dan Fachoschule Aachen.


Dia tertarik ekonomi dan bisnis juga. Karena ayahnya menginginkan anaknya kuliah di Indonesia. Neo mengalah. Dia mengikuti keinginan ayahnya masuk ke Universitas Negeri unggul. Pilihan jurusannya antara ia menjadi dokter atau teknik mesin.


Neo setuju masuk teknik mesin. Masuknya gampang tetapi kalau keluar masih bingung. Neo sangat menyukai dunia bisnis. Dia sempat berjualan barang antik. Kemudian dia berjualan produk lain, sampai ikut menerima proyek dari dosen.


Dia sempat ditegur karena nilainya buruk. Tetapi Neo mampu menyelesaikan proyek memuaskan. Dia pernah berandai,"seandainya nilai itu dibayar pake cashback. Saya yakin nilai kuliah saya akan bagus." 

 

Neo sendiri mulai bosan berjualan barang dikala itu. Kemudian dia berencana kembali ke akarnya, yakni teknologi dan menjadi technopreneur. Pertama dia membuat game bernama Chip Champs. Ia lalu membuat aplikasi pencari nyamuk (MOLO, Musquito Locator).


Dilanjut Neo mendirikan Drops yang menjadi titik balik. Aplikasi Drops membantu mengurangi pencemaran air. Inilah yang kemudian dilirik Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan United Nation Global Pulse.


Kenapa dia memilih berbisnis internet ternyata berdasar data. Bahwa 88,1 juta penduduk Indonesia pengguna internet, dan 79 juta merupakan pengguna sosmed. Total pertumbuhan 15% pengguna internet, 10% pengguna sosmed, dan 6% pengguna smartphone.


Usaha rintisannya Circustudio dan Wideboard. Neo memiliki tim solid, Alfian, Dhafin, Ridwan, Rian dan Bintang. Mereka penyemangat Neo tetapi berbisnis teknologi. Neo pun menjadi konsultan bagi perusahaan lain, seperti PT. Indofood Sukses Makmur Tbk, dibawah devisi Bogasari.

Fasion Desainer Termuda Dunia Cecilia Cassini

Profil Pengusaha Cecilia Cassini

 
 
fasiondesainer.png
 
Yuk dengerin kisah fashion desainer termuda Cecilia Cassini. Gadis kecil ini mengenal fasion sejak masih bayi. Dan telah mengenal fasion di ulang tahun ke enamnya, ia mendapatkan hadiah pertama beruapa sebuah mesin jahit dari neneknya. 
 
Gadis kecil ini tak berhenti menjalankan mesinnya; ada saja yang didesain dan dijahit. Lalu di umur ke 10 tahun secara resmi namanya tercatat sebagai desainer termuda. Dia mendapatkan gelar fashion desainer temuda di Amerika bahkan mungkin di dunia.

Selama empat tahun terkahir, Cecilia telah mengambil pelajaran menjahit dari sana-sini; tetapi, sebagian besar, ia telah belajar banyak secara otodidak dengan jarum pada mesin dan bagaimana agar setiap benang itu terjait dalam kain.
 
Yang kamu lihat dalam diri Cecilia Cassini adalah anak yang cerdas secara kultural. Ketika anda melihat apa yang indah dilihat, dia membuatnya di atas kain, jelas dia merancang pakaian untuk setiap impian gadis kecil untuk dipakai.

Bisnis Fasion Desainer

 
Fasion show pertamanya, di Trunk Show, ia menjual hampir 50 buah dalam tiga jam membuat mereka para gadis-gadis muda terkesan dan bersemangat. Pada hari-hari dan tahun mendatang, semakin banyak anak- anak mengenakan desainnya. 
 
Desainnya termasuk T-shirt atau kaos yang telah dihiasai, lalu dijual secara ritel untuk sekitar $ 30, dan gaun pesta, yang menjual lebih dari $ 140. Secara bakat yang sejak lahir, ditambah mental yang matang dalam desain, ia mampu menggambarkan idenya dalam tema- tema tertentu. 
 
Sejak perjalanan pertamanya ke Paris sebagai bayi ia mulai membaca biografi desainer Eropa terkenal seperti Valentino, Christian Dior dan idolanya Coco Chanel, dan tidak lama kemudian, ia memulai pencariannya sebagai salah satu desainer terbaik.

Berbeda dengan idolanya seperti Christian Dior atau Coco Chanel, ia memilih untuk tidak menunggu hingga dewasa antara pekerjaan rumah ada kegiatan menjahit. Ketika anak seumurannya asik  bermain, Cecilia tengah sibuk dengen mesin jahit, jarum, dan kain. 
 
Dia suka bereksperimen dengan banyak warna- warna dan aneka corak berbeda. Dia selalu menyebut tiap pakaiannya adalah master- piece, karena setiap karyanya unik dan berbeda di tiap- tiapnya.

Cecilia mendapat inspirasi dari banyak orang dan tempat-tempat atau dari majalah mode sekalipun; tetapi, sebagian besar, ia mendengarkan hatinya dan mengikuti imajinasinya. 
 
Dia telah belajar, ketika baru berusia sepuluh tahun, bahwa dengan cukup semangat dan komitmen, semuanya adalah mungkin. Dan dia berharap bisa menginspirasi semua anak untuk percaya pada diri mereka sendiri dan untuk mengejar impian mereka.

Bisa dibilang dia beruntung untuk ditemukan dan dianggap serius oleh beberapa wartawan yang telah memberikan eksposur yang luar biasa. Akhirnya Cecilia kecil bisa tampil di beberapa televisi dan surat kabar di seluruh Amerika Serikat. 
 
Berita dari CBS dan halaman depan Los Angeles Daily News hanya dua dari banyak orang. "Kedengarannya seperti dia adalah anak berbakata. Itu tidak normal mendengar dari sepuluh tahun dengan jenis gairah untuk desain fashion," kata Mary Stephens, Director of Fashion Design di Fashion Institute of Design dan Merchandising.

Karena perhatian masyarakat, ia telah memiliki kesempatan untuk benar-benar mulai untuk menginspirasi anak-anak. Banyak anak-anak telah menghubungi Cecilia mengatakan bahwa karena ceritanya, mereka didorong dan terinspirasi: 
 
Seorang anak kemudian berkata, "hanya karena kita adalah anak-anak tidak berarti kita tidak harus atau tidak mampu mengikuti nafsu kita dan mengubah mimpi kita menjadi kenyataan." Baru-baru ini, memang Cecilia telah diminta oleh para guru sekolah dasar untuk berbicara di depan kelas.

Seorang guru kemudian menuliskan, "Murid-murid saya senang mendengar cerita mu, dan saya tahu bahwa itu akan membuat perbedaan bagi mereka. Mereka melihat bahwa seseorang usia mereka dapat melakukan hal-hal besar ketika mereka bekerja keras pada sesuatu yang mereka cintai. Itu sangat baik bagi mereka untuk melihat bahwa ketika kamu menjalankan bisnis, kamu juga meluangkan waktu untuk memberikan kembali kepada orang-orang yang memiliki lebih sedikit."

Cecilia memang cukup beruntung untuk memiliki mesin jahit dan orang tua yang membiarkan dia memotong kain untuk menciptakan busana baru dan mengembangkan bakatnya. Jika Cecilia adalah anak dengan bakat luar biasa, ia juga seorang anak dengan hati nurani yang besar.
 
Dia selalu ingin membantu untuk membuat perbedaan, membantu anak-anak atau siapa pun untuk mengikuti mimpi mereka. Suatu hari dia tersentuh mendengar kisah seorang wanita tuna wisma yang menerima beasiswa fasion.

Sayang, gadis kecil itu tak memiliki mesin jahit sendiri. Jadilah gadi kecil bernama Cecilia Cassini ini langsung membagikan apa yang menjadi jalan kesuksesannya; sebuah masih jahit.

Pengusaha Multimedia India Pemilik Zee TV

Profil Pengusaha Subhash Chandra Goyal

 
pengusahaindia.png
 
Dia adalah pengusaha multimedia India pemilik Zee TV. Namanya  Subhash Chandra Goyal, mungkin mengingatkan kamu kepada sosok Hary Tanoe. Tetapi Chandra memulai bisnisnya jual- beli beras di daerah Hishar, Haryana, kemudian lahir kembali sebagai media baron. 
 
Bisnisnya sekarang meliputi jaringan televisi satelit dan kabel, kargo, taman hiburan, lotre, serta sinema multiplek. Dia lah sang  pendiri sekaligus CEO di zeetv, bisnis televisi setelit besar di India. 
 
Dari November 2009, ia resmi mengambil alih menejeman Daily News and Analysis (DNA); resmi merambah media cetak.

Watak Pengusaha

 
Di bawah naungan Essel Group, majalah yang merupakan terbaik ke 8 berbahasa Inggris jadi milik seorang media baron. Dia yang pernah dianugrahi Emmy award di tahun 2011. Pria yang bahkan tidak memiliki gelar sarjana apapun tidak terhentikan langkahnya.

Subhash Chandar lahir dari pasangan Nandkishore Goenka dan Tara Devi Geonka, 30 November 1950, di Adampur Madi. Dia dikenal Subhash Chandra, ketika memutuskan menghilangkan nama belakangnya "Goyal". 
 
Ketika itu perubahan politik besar di India dan Pakistan. Dia merupakan anak laki- laki tertua dari 7 bersaudara. Sebagai laki-laki tertua, secara otomatis, dia harus bertanggung jawab atas keluarganya.

Sejarah Essel Group, bendera bisnisnya sudah bisa dilacak sejak akhir 90 an. Sekitar 1980, Remeshwardas Goenka yang merupakan kakek dari kakeknya mulai berbisnis. Bisnis pertama sekaligus fondasi bisnis yang dimiliki Chandra kini. 
 
Bisnisnya kala itu meliputi bisnis komoditi yaitu gabah, bisnis yang sebelumnya bernama Jagannath Rameshwardas, gabungan nama Rameshwardas dan patner bisnisnya, Jagannath.

Dia dikenal tertarik akan dunia bisnis bahkan semenjak kecil. Dia bersekolah di sekolah umum di Adampur Madi hanya sampai tingkat sekolah dasar, lalu memilih pindah mengikuti kakeknya berbisnis. 
 
Chandra kecil sesampainya di tanah sang kakek kemudian bersekolah di CAV School di Hissar, India. Jagannath Goenka, kakeknya, menjelam menjadi guru besar hidupnya tentang bisnis. Ia telah memberikan berbagai dasar- dasar bisnis.

Kebijakan sang kakek disebutnya "Jagannath Goenka University". Dari sang kakek, ia mempelajari tiga hal paling mendasar. Pertama, dia tak boleh menyimpan rasa takut, selalu bertanggung jawab, serta tidak boleh lari dari kebenaran. 
 
Dia juga tidak diperbolehkan melanggar komitmen walau itu cuma dimulut saja. Bagi sang kakek ucapan berarti janji yang harus dipenuhi meski bukan sebuah keseriusan.

Kakeknya merupakan sumber inspirasi hidup. Jagannath Goenka memiliki bisnis di sekitar rumahnya. Bisnis yang berhubungan dengan jual beli gabah dan menjualnya untuk beberapa komisi, gudang, atau pinjaman. Chandra kecil membantu bisnis dari yang termudah. 
 
Dia diharuskan mengikuti tiap petunjuk sang kakek. Setiap hari, dia harus ikut membantu mencatat dan menagih uang jual beli gabah.

Dia setelah pulang sekolah harus membantu menulis puluhan nama klien serta satu tumpuk buku keuangan. Sebuah pelajaran paling pertama yaibagaimana mencatat dan menulis nama klien. Pelajaran lain, Jagannath Goenka mengajari sang cucu untuk mampu menganalisa orang lain. 
 
Jagannath mengajarkan bagaimana mengobservasi guna mencari tau apa motif orang lain. Ia harus tau gerak- gerik mereka hingga menghasilkan suatu kesimpulan.

Jagannath selalu memerintahkan Chandra untuk menagih uang, dan bertemu lebih banyak orang tiap harinya. Ini hanya pelajaran bisnis lain, menyangkut keberanian. Dari bisnis, kakek Chandra bisa disebut sangat mengikuti tradisi orang India. 
 
Setiap kali Chandra berkunjung ke rumah selalu ada saja yang dilakukan kakeknya. Ia juga menjadi seseorang yang mencarikan jodoh dengan bijaknya. Ini semakin melekatkan figur sang kakek menjadi contoh dan panutan sepanjang hayat Chandra.

Ketika ia pulang, kakeknya akan menjejerkan banyak wanita cantik dan seorang calon untuk dirinya. Ketika Chandra lebih memilih wanita yang lebih cantik dari calon kakeknya, Jagannath pun langsung merespon. 
 
Ia berkata bahwa wanita cantik tak datang pun siapapun laki- laki pasti akan jatuh cinta seketika. Apa yang salah? Fisik bisa menipu tetapi Chandra harus lebih melihat lebih dari kecantikan itulah yang diajarkan pristiwa itu. Sang kakek memang begitu menyayangi cucunya satu ini, terutama tentang komitmen.

Tak salah jika kini, ia cukup menjabat tangan dan bisnis pun datang padanya. Cerita lain ketika sang kakek mengajak Chandra kecil pergi ke acara bazar. Di libur sekolah, ia akan pergi ke bazar bersama kakek untuk sekedar mencai informasi dan gosip tentang siapapun. 
 
Ini mengajarinya untuk selalu mendengar ke bawah. Bahkan samapain sekarang, Chandra selalu mencai informasi kebawah. Ia bahkan tak segan meminta saran secara ramah kepada bawahan untuk jadi lebih baik.

Bisnis bangkrut 


Subhash Chandra memiliki bekal bisnis, tetapi bermimpi menjadi ahli mesin ketika remaja. Dia pun segera mengambil kuliah jurusan mesin. Tapi, apa mau dikata, bisnis keluarga berubah menjadi krisis finansial. Hal itu membawanya berpikir kembali mengenai kuliah dan cita- citanya. 
 
Bisnis keluarga mengalami beberapa kali jatuh bangun sepanjang tahun 1967. Karena salah menejemen, perusahaan keluarganya bangkrut total dan berhenti berbisnis kapas.

The Adarsh Cotton Gining dan Oil Industry baru saja memulai jalanya jatuh ditahun sama dengan beridirinya. Gagalannya bisnis baru ternyata berefek domino terhadap bisnis utama. Sebuah kecelakaan juga menambah panjang apa yang harus direlakan. 
 
Mereka kehilangan dua perusahaan jutaan membuat keluarga menderita kerugian besar tanpa uang kembali. Kakek Chandra, Goenka dan partnernya,  Inder Prashad memutuskan berhenti berbisnis bersama membagi sisa- sisa aset.

Meski, perusahaan memiliki aset 600.000 rupe, mereka memilih membagi adil ditambah 50.000 sebagai pertambahan nilai. Bukan yang terburuk, mereka masih memiliki hutang yang belum bisa dibayar. Bahkan penjualan aset tak memberikan solusi apapun. 
 
Chandra memutuskan bergabung kembali berbisnis. Dia tidak perlu mengeluarkan uang untuk kuliah. Dia tidak pernah tunduk pada sebuah nasib buruk, selalu melihat kedepan, dan merubah kemiskinan jadi paluang.

Keluarga ini tak hanya bangkrut tetapi menyisakan hutang dan hanya Rs 6 lakh. Dimana ketika bisnis kian memburuk Chandra yakin berkata kepada sang ayah bahwa dia bisa melakukan sesuatu. Tepat di sekitar tahun 1979, dia mengembalikan kejayaan perusahaan keluarga itu. 
 
Perusahaan yang merupakan milik sang ayah, Jagannath Goenka, bernama Messrs Ramgopal Indraprasad kini ditangannya. Dia kemudian merubah nama bisnisnya menjadi Essel Group. Secara tertulis ia lah pendiri Essel Group sekaligus CEO perusahaan baru yang bangkit dari kubur.

Menjalankan bisnis dari perusahaan yang bangkrut itu bukanlah perkara mudah. Remaja 17 tahun, seorang Chandra, harus berjualan dari nol setelah keluar dari kuliah. Dia terdesak mencari jalan membangun kembali bisnis tanpa investasi apapun. 
 
Dia kemudian menemukan Food Corporation of India (FCI), bekerja sebagai menejer di 1968-1969. Dari sini pula, masa balik baginya, dengan masuk ke korporasi besar mengumpulkan modal sedikit demi seditki.

Dia mengumpulkan daya upaya mengembalikan bisnis keluarga di bawah naungan Essel Group. Para tentara tertarik untuk membeli hasil produksi berupa buah, padi- padian, dan kacang- kacangan. Tapi FCI tak memenuhi standar yang diminta para tentara.
 
Chandra melihat peluang di sana, lalu tiba- tiba menyarankan ide kepada pihak FCI. Bahwa dari keluarganya bisa membantu pihak FCI memoles kacang- kacangan dan membersihkan gandum. Pihak FCI setuju akan ide remaja satu ini.

Ia cukup memastikan bisnis barunya berhasil bahkan tanpa modal berarti, tapi menghasilkan nilai investasi. Dia pada tahun 1971- 72 menjadi tokoh revolusi agribisnis di penjuru Delhi. Dia bahkan mengerjakan bisnis lain seperti peleburan gelas, maski lalu memilih keluar. 
 
Di tahun 1976, pengusaha 26 tahun ini telah belajar di jalanan bukan dari sekolah. Dan, ia menemukan titik tersukses ketika revolusi hijau muncul, ditahun itu padi tumbuh subur.

FCI kebingungan menangani begitu banyak gabah dengan tempat terbatas. Maka Chandra lah satu- satunya penyelamat membawa FCI dari sebuah lubang jarum. FCI yang panik mencari ruang untuk menyimpan 14 juta ton biji-bijian makanan. 
 
Itu Mr Chandra yang datang ke bantuan dari FCI. Solusi darinya yaitu untuk menyimpan biji- bijian itu di tempat terbuka di bawah lembaran plastik. Mr Chandra kemudian memasuki bisnis plastik, membeli lembaran plastik dan kemudian memotong dan melas mereka menjadi tenda.

Menjadi Pengusaha Multimedia


Di tahun 1980- 84, ia membeli tanah seluas 735 acre di Gorai, ide bisnisnya agak gila yaitu sebuah taman bermain. Dia sangat terinspirasi atas kunjungannya di sebuah taman bermain dulu. Sayang bisnis ini terlalu aneh untuk India, teman- temanya menyabut bahwa orang India suka kemudahan. 
 
Mereka lebih menikmati apa yang didepan mereka sebagai hiburan. Di sisi lain, India digegerkan oleh ledakan bom, membuatnya berpikir sebuah cara agar setiap penjuru India ikut melihat videonya. Mereka, orang- orang dipinggiran kota akan memilih berebut menonton. 
 
Dia juga mulai mengitung berapa besar pendapatan atas iklan dalam video. Di 1990, melalui kunjungan santai ke Doordarshan di Mumbai, membuatnya berpikir tentang televisi satelit. Namun disisi lain, Chandra sedang menembak bisnis lain yaitu bisnis telephon seluler. 
 
Dia akhirnya berpikir bisnis televisi bukan telephon seluler. Sayang, bisnis televisi harus digagalkan oleh regulasi bahwa siaran televisi adalah sektor publik yang sedang dikekang. Akhirnya Chandra menangguhkan ide bisnis televisi ini. 
 
Namun, pikiran akan bisnis televisi masih saja mengganggu tenangnya. Hingga ketika ia melihat sebuah acara di satu stasiun asing, CNN. Dia berpikir kembali, kenapa kita tidak bisa memiliki program siaran televisi sendiri. 
 
Ia harus menemukan jalan keluar lalu menemukan perusahaan bernama Asiasat. Chandra mulai mengejar sang eksekutif Asiasat, meski sampai ke ujung dunia sekalipun bila perlu; akhirnya menemukan yang sedang berlibur di Kanada. 
 
Dia mengetok pintu, namun hanya jawaban dingin sebuah tanda penolakan. Dia tak berputus asa jadilah sebuah pertemuan antara dirinya dan Richard Lin, putra dari Li Ka Shing sang pemilik STAR.

Sebuah pertemuan yang tidak menyenangkan karena Asiasat hanya cabang bisnis utama. STAR atau Satellite Television of Asian Region adalah otak dibalik siaran televisi satelit di Hong Kong, China. Barulah setelah beberapa lama dia baru bisa bertemu sang pemilik rumah, Li Ka Shing. 
 
Ketika berbicara tentang India, Chandra dan timnya terkejut bukan main atas sikap tuan Li. Ide besarnya untuk membangun siaran televisi di India dianggap angin lalu. "India!" potong tuan Li, "tidak ada uang di sana di India. Saya tidak ada minat untuk India," terangnya.

Tak putus asa ia tetap pada tawarannya hingga kata sepakat terucap juga. Li bertanya kepada sang miliarder India, berapa uang yang bisa ia bayar. "Saya tidak mau kerja sama perusahaan dengan mu, jadi kamu bisa membawa transponder untuk dirimu sendiri," catat Chandra, meniru Li Ka Shing. 
 
Ia kemudian menjelaskan dalam pertemuan sebelumnya, harga yang ditawarkan sekitar 5 juta dollar. Tapi, tuan Li Ka Shing sekali lagi menolak, "Tidak cukup," sanggahnya. Jadilah petemuan itu tidak menemukan kata sepakat dan akhirnya berakhir.

Hingga akhirnya sebuah perjanjian peminjaman ditanda tangani. Ia hanya akan menyewa sebuah transponder bukan membelinya pada 22 Mei 1992. Chandra secara resmi menyewa benda itu senilai 5 juta dollar, itupun setelah tuan Li mengadakan survei ke India sendiri dulu. 
 
Untuk modal uang tersebut, guna memenuhi ambisisnya, Chandra harus mengikut sertakan dua sahabatnya yang bukan orang India; Sir James Goldsmith dan Kerry Pecker. Sisanya berupa uang modal dari beberapa perusahaan investasi.

"Perusahaan media yang ada merasa bahwa televisi satelit tidak akan sukses di negara. Sejak awal saya tidak tau apapun, jadi saya tidak takut," terang Chandra.

Betul saja ia berhasil merealisasikan bisnis media miliknya sendiri. Tapi sebelum itu benar terjadi harus datang beberapa cobaan terutama dari pemerintah. Kementerian informasi di India menyebut televisi satelit sebagau budaya konsumer. 
 
Bagaimana tidak, bisnis televisi satelit, ialah bisnis berlangganan. Ini berarti masyarakat harus membayar untuk melihat. Di tambah lagi informasi yang ada akan merusak negera satu per- satu. Ini benar- benar pemikiran tempo dulu yang ada di tahun 90 an

Chandra tetap teguh. Dia bahkan memilik acara- acara sendiri, ketika stasiun CNN dan BBC bisa ditonton di India. Pada 1992, Chandra telah memasuki bisnis software hiburan melalui perusahaan bernama Empire Holding Ltc. 
 
Lalu diganti Zee Telefilms Ltd yang fokus membuat acara Zee TV melalui Hongkong. Dari negara lain, sinyal televisi kemudian diarahkan langsung ke India melalui transponder STAR. Inilah bagaimana Zee lahir, tepatnya Zee TV dilahirkan pada 2 Oktober 1992.

Pendiri Travelio Berbisnis Sembari Mengurus Anak

Profil Pengusaha Christie Tjong

 

berbisnisstartup.png

 

 

Bayangkan berbisnis sembari mengurus anak, apalagi startup. Christie Tjong mengakui sendiri bahwa mendirikan startup berat. Selain masalah gender juga permasalah sifat startup. Wajib buat memperlakukan startup layaknya anak sendiri.


Pengusaha wanita sekaligus ibu dua anak. Christie harus ditimpali mengurus startup bak anaknya. Apalagi faktanya menurut riset Crunchbase, bahwa cuma 3% pendiri startup baru wanita, akan berhasil buat menggalang dana investor.


Berbisnis Startup

 

Persentasi begitu kecil namun kesuksesnya meraih pendanaan Seri- B. Di Desember 2020, kucuran dana mengalir $18 juta termasuk dari Temasek Holding, lewat Pabvilion Capital bahkan ketika masih di masa pandemi Covid 19.


Berbisnis sembari mengurun anak, Christie juga dihadapkan keterbatasan modal dulu. "Membesarkan startup itu hampir mirip menyuapi balita, harus diawasi tiap menitnya," tuturnya.


Namun ia mampu membuktikan membesarkan high- growth startup. Christie pendiri Travelio, yakni startup penyewaan apartemen memegang 5000 kontrak menejemen ekslusif, dimana total asetnya capai $350 juta.


Keterbatasan startup awal ialah ketersediaan infrastruktur korporasi. Makanya pendiri akan siap- sedia mengurusi banyak tugas perusahaan. Peran merangkap Christie bahkan sampai setara lima orang. Ia bercerita kepada nova.grid.id, bahwasanya berat menjalankan bisnis startup ini.


Dia ditumpuki beban banyak pekerjaan. Termasuk masalah penggalangan dana. Begitu uangnya ada, maka Christie harus segera membangun infrastruktur korporasi, membagi- bagikan porsi tugas untuk memenuhi target investor.


Para founder diwajibkan makin proaktif mengurusi lini bisnis, layanan, produk, maupun infrastruktur baru untuk scale up. Proses menaikan kualitas perusahaan atau scale up tidak cuma satu, melainkan dua, tiga, dan seterusnya cepat- cepat.


Pendanaan itu merupakan suatu beban baru pendiri. Ibu dari anak 1 dan 4 tahun, yang memiliki peran sebagai COO, atau Chief Operating Officer sekaligus ibu rumah tangga. "Dulu saya sempat mengira jika saya fokus ke salah satunya, yang lainnya pasti terabaikan," ucapnya.


Namun ia meyakinkan sendiri selama fokus ketiganya, tidak. Dia meyakini mampu menjalankan tiga peran sekaligus. "...kata terabaikan itu tidak akan muncul ketika saya mendedikasikan diri saya ke ketiganya, yang hanya bisa dicapai jika saya bisa mengatur waktu dengan baik," lanjut Christie.


Keterbatasan memaksanya efisien membagi waktu. Manajemen waktu berarti ia mengerti tiap peran. Ia harus semakin gesit mengambil keputusan. Pola pikir tersebut membentuk konsep "speed- outweigh perfection".


Oh ya, Travelio juga termasuk bisnis terpapar pandemi, maka pekerjaan Christie berlipat ganda selain menjadi ibu rumah tangga. Pengusaha diwajibkan memberikan perhatian ekstra. Prinsipnya cepat menyadari kegagalan, kesalahan, lakukan efisiensi, dan menindak lanjuti.


Ia menekankan kemampuan beradaptasi dan belajar hal baru. Dua kunci prinsipal dilakukan dan telah tertanam lama di perusahaan Travelio.


Bulan Mei 2020, Traviliomart diluncurkan, dimana menyediakan produk segar dan FMCG dari para pertanian, produsen, dan importir. Lini bisnisnya guna memenuhi kebutuhan penyewa apartemen, dan sekaligus semua orang Jakarta tanpa keluar rumah.

Almeyda Nayara Alzier Menjadi Pengusaha Slime

Profil Pengusaha Almeyda Nayara Alzier

 

jualanslime.png
 

Mengapa Almeyda Nayara Alzier menjadi pengusaha slime. Usianya masih 8 tahun, kelas 4 SD tetapi penghasilannya puluhan juta. Kehidupan Naya layaknya anak- anak lain tetapi berbeda. Dia memiliki pola pikir menciptakan sesuatu.

 

Berawal kegiatan sekolah rutin membuatnya berkreasi. Dia sama seperti anak kecil lain. Ia senang sekali bermain mainan. Suka merengek ketika dilarang bermain bersama kucingnya. Bermula seorang kakak kelas yang membawa mainan slime ke sekolah. 


Kakak kelasnya membuat Naya penasaran. "Apa sih benda itu," ceritanya kepada Fimela.com. Lanjut dari perkenalan tersebut muncul ketertarikan. Ia jatuh cinta kepada mainan tersebut. Naya kemudian mendapat cara membuatnya melalui video Youtube.

 

Pengusaha Cilik


Dari bahan sampai cara membuat sudah disediakan. Naya tidak membeli. Dia malahan meminta uang buat membeli bahan. Uang Rp.50.000 diminta ke ibunya buat membuat pertama kali. Naya mencoba pertama kali langsung gagal.


Namun nampaknya tidak mematahkan semangat Naya. Tidak menyerah karena kegagalan. Naya malah semakin tertantang. Terus mencoba walau ibunya tidak menyukai kegiatan tersebut. Naya beberapa kali minta uang buat ke toko buku, supermarket, beli bahan slime itu.


"Saya pikir dia ngapain? Diterjen dicampur lem," tandas Ibunya Naya. Ibu tampak tak senang karena Naya bikin berantakan. Bahan- bahan berserakan. Ngapain Naya buang- buang uang membuat. "Saya omelin. Dia buatnya ngumpet- ngumpet di kamar mandi," lanjutnya.

 

Naya berani mengatakan kalau menyukai slime. Gadis kecil tersebut langsung berhadapan dengan ibunya. Ia tidak takut menjelaskan kesukaanya, termasuk bahwa slime tengan "ngetrend". Maka sang ibu akhirnya luluh, membiarkan anaknya berkali- kali gagal membuat.


Ibu Naya bangga ketika putrinya berhasil membuat. Slimenya tersebut dibawa ke sekolah, kemudian teman- teman Naya tertarik membeli Rp.8000 -an. Ibu Naya cukup terkejut karena laku. Naya suka slime karena bentuknya lucu dan tekturnya.


Ketika datang entrepreneur day bulanan, ibu Naya dulu mengajarkan menjual sesuatu ketika mengikuti ajang tersebut. Kini dia menyarankan slime buata putrinya sendiri. Murid- murid selalu sibuk mencari barang buat dijual. Naya pun kebingungan mencari- cari barang buat dijual.


Naya awalnya mau menjual peralatan sekolah. Dia anaknya enggak maluan. Beda sama ibunya, yang sempat malu karena mau berjualan tas. Naya beda. Anaknya enggak gampang putus asa. Ketika dirinya melarang membuat slime, malah dilanjutkan sampai ngumpet- ngumpet.


Ibu Naya menjelaskan putrinya mulai terbiasa berjualan di kelas. Kalau barangnya habis pasti teman- teman merasa sedih. Kualitas slimenya Naya memang bagus. Naya kalau jualan tidak habis di kelas, tidak malu berkeliling menjual ke kelas lain.


"Kalau temennya minta diskon. Dia kasih diskon. Pokoknya dia mau setiap kali jualan barangnya habis," lanjut sang ibu.


Naya rela memotong keuntungan atau bahkan merugi. Tujuannya menyenangkan teman- temannya yang meminta diskon. "Soalnya kata guru Naya, kalau ada teman yang baik kepada kita harus dibalas baik lagi," jelas Naya.


Menjadi pengusaha slime bukan cuma bakat Naya. Dia memiliki bakat menggambar. Mungkin kelak akan menjadi tabungan bisnis Naya. Dia senang mewarnai. Ibunya menyadari hal tersebut, maka Naya dimasukan ke les menggambar. Ibu mau bakatnya terasah dan berkembang nanti.


Awal Naya jualan sampai beromzet puluhan juta. Naya melihat orang- orang punya olshop. Dia mau juga. Maka abangnya Naya membuatkan olshop memakai Instagram. Namanya ada 18 -nya karena kelahiran 18 April, dan followernya cuma 12!


Isinya pertama saudara- saudar. Lalu Naya minta teman- temannya promosikan. Saling follow nambah banyak teman, makin lama makin banyak, bahkan Naya tidak tau. "(Follower) tambah banyak. Aku juga bingung gimana bisa," ucap Naya.


Pengusaha slime ini kemudian mendapatkan banyak follower. Pertama kali, Naya masih posting foto- foto belum produk. Belum promosikan slime bikinannya. Naya belum kirim- kirim keluar daerah. Itu cuma dibeli sama teman- teman dulu.


Naya kemudian bikin video jualan sendiri. Merekam sendiri dia mempromosikan slime. Terus video ditulisin tulisan promosi. Ibu Naya awalnya marah karena juga jualan gliter dan lem. Semua proses jualannya dilakukan Naya sendirian.


Ibu Naya bertanya, ternyata dia pengen jualannya lebih laku diluar di sekolah. Ide membuat slime dapat dari melihat mainan kakak kelas. Kalau masalah warna, Naya kembangkan sendiri bahkan jadi lebih bagus- bagus, itu berkat Naya suka melihat kerudung bikinan Dian Pelangi.


Dian Pelangi memang dikenal pandai memadu padankan warna. Sampai Naya ikutan membuat slime berwarna pelangi. Rainbow slime sendiri memiliki kelemahan. Kata Naya kalau dikasih banyak warna malah cepat cair; enggak dibikin lagi.


Naya tidak sendirian tetapi mempekerjakan orang. Almeyda Nayara Alzier menjadi pengusaha, dan membuka lapangan pekerjaan. Ada 8 orang embak yang membantunya mengurus bahan. Kalau kunci pembuatan Naya yang pegang.


Sekali bikin slime sampai 10 kg. Itu nanti akan menjadi seratus cup. Tangan kecilnya belum mampu membuat sebanyak gitu. Tapi takaran bahan ditetapkan Naya sendiri. Dia pun menilai apakah slime jadi dan layak dijual.


Naya juga rajin bereksperimen membuat slime baru. Tapi dia batasi cuma sabtu- minggu. Tetapi ya kadang tidak bikin, ketika mood rusak, terutama ketika Naya membaca komen Instagram. Tidak sedikit yang "ngatain" produk slime bikinannya. Dia ngambek. Enggak mau membuat slime dulu.


Bahkan Naya enggak mau buat stok slime. Kalau stok slime lama habis, maka ya terpaksa olshopnya harus close order ngikutin moodnya. Kini akun @nayaslime18 telah memiliki ratusan ribu follower. Tak jarang komen negatif muncul.


Naya belajar menghadapi mereka. Naya kaget belum paham menghadapinya. Ibunya lalu memberikan suatu pandangan tentang "kerasnya" sosial media. Naya diajarkan buat menanggapi positif. Membuat semua omongan negatif menjadi penyemangat.


Suka Sedekah


Salah satu cibiran datang karena Naya bersedekah. Dia selalu menyisihkan hasil penjualan slime buat sedekah. Nitizen yang kebanyakan masih remaja tersebut bilang "Naya pamer".


"Saya sering nemuin dia nangis di kamar sambil megang handphone, biasanya saya tanya kenapa? Ternyata karena habis dikatain di Instagram. Dia sering shock, tapi saya bilang, jangan diambil hati, mereka kan nggak tau kamu," ujar Ibunya Naya.


Anak usia segitu berbisnis online sendiri mengapa tidak. Ibu Naya senang karena Naya memakain gadget buat sesuatu berguna. Naya bisa berkreasi dan mengasah kewirausahaan. Dibanding sibuk main gadget tidak jelas dan tidak mendidik.


Ibu selalu suportif buat Naya mengembangkan bisnis. Kan dia belum punya pengetahuan mendasar mengenai kewirausahaan. Maka ketika ada bazaar, ibulah yang terjun sendiri mencarikan sampai mendaftarkan. Penghasilan jualan juga diatur ibu Naya.


Terdapat pengalaman menarik selama putrinya berbisnis. Dikala guru ngajinya Naya dan abangnya tidak hadir; Naya disuruh ngaji ke belakang rumah. Dia disuruh ngaji bareng anak lain ke TPA. Dan sepulangnya, Naya bercerita ingin memberikan buku Iqra baru buat anak- anak TPA.


Naya berkata ingin bersedekah. Bukan sekali tetapi sering sekali. Mau pakai uangnya sendiri, maka ibunya memberi ijin, dan niatnya baik. Ibu Naya senang anaknya gemar bersedekah. Itu berkah dari usaha jualan slime tersebut.


Naya layaknya orang lain senang memposting di Instagram. Termasuk kegemaraanya bersedekah, termasuk mengadakan khusus acara "Sedekah bersama Naya". Naya sisihkan uangnya. Kegiatan itu terus berlanjut sampai sekarang, dan usahanya selalu dilancarkan.


Pendapatan kotor Naya berjualan slime sampai Rp.60 juta. Dikurangi biaya operasional, maka untung bersih didapat Rp.35- 40 juta. Buat sedekah disisihkan 30- 40%. Dan Naya juga bisa menabung buat masa depan. Terus kalau sudah banyak mau beli mobil mewah atau bangun rumah.


Ternyata tidak malah mau dipakai buat membangun pesantren. Naya juga mau pakai uangnya buat beli mobil, bukan pribadi tetapi ambulan buat masyarakat. Wah betapa mulianya gadis cilik bernama Naya ini. Almeyda Nayara Alzier menjadi pengusaha slime buat membantu orang.


Bila beberapa onlineshop merahasiakan resep dapurnya. Naya justru asik membuat tutorial membuat slime. Tidak ada kekhawatiran kalau usahanya dicontek. Dari sini kita belajar, bahwa seorang anak bisa begitu banyak mengajarkan orang, mulai dari ketekunan, wirausaha, dan beramal sholeh.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba