Profil Bong Chandra Miliarder Pengusaha Muda

Profil Pengusaha Bong Schandra

 
 
Berikut profil Bong Chandra merintis menjadi miliarder. Pengusaha muda yang telah mendapat gelar motivator termuda se- Asia. Ini bukanlah gelar tanpa beban dan dapat dibuktikan. Bong adalah pendiri Triniti Land, yang mampu mengunci penjualan Rp. 518 miliar.
 
Namanya adalah Bong Chandra, di tahun 2010, ia mendapatkan gelar "motivator termuda se- Asia" yang saat itu usianya masih 23 tahun. Suksesnya telah dimulai dari menjadi pebisnis, pembicara, dan akhirnya menjadi motivator populer se- Indonesia. 
 
Siapa kah dia? Apakah ada cerita asa dibalik kehidupannya yang sudah mapan. Dia adalah penulis buku berjudul Wealth, sengaja tidak menyelesaikan kuliah memfokuskan diri menjadi motivator dan pembicara.

Menyemangati Diri

 
Sosoknya yang masih muda bukan berarti tak punya cukup pengalaman. Bong sudah terbiasa hidup bekerja keras. Saat usianya menginjak 18 tahun, ia telah memilih fokus berbisnis daripada bersenang- senang seperti mereka seumurnya. 
 
Dengan slogan hidupnya "live begin at 20", Bong membangun mentalnya untuk menjadi panutan orang banyak. Kerja kerasnya dimulai ketika krisis ekonomi tahun 1998.

Di usia 11 tahun, kehidupan Bong kecil bisa dibilang hidup di dalam kemapanan. Dia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, putra dari seorang pengusaha kue pasangan Aditya dan Bong Sungo. 
 
Mereka hidup cukup baik hingga krisis 98. Krisis yang mulai menggerogoti usaha kue ayahnya hingga terancam gulung tikar. Sejak saat itu hidup semakin berat bagi keluarga kecil ini.

"Rumah sampai nyaris dijual," katanya saat ditemui di salah satu usaha miliknya, Free Car Wash Serpong, Tangerang Selatan.

Bong kecil mulai merasakan kegundahan sang ayah. Empatinya tergugah untuk ikut membantu usaha kedua orang tuanya. Tapi bagaimana? Ia hanya bocah 11 tahun kala itu, tak mau kehilangan akal, Bong kecil mulai menjual sisa potongan kue dari pabrik ayahnya ke sekolah. 
 
Tak banyak bisa dihasilkan dari usaha itu, tapi ini lebih baik daripada berpangku tangan pikirnya. Pertama kali menjual kue, ia merasakan gengsi, tapi ia tidak indahkan itu.

Meski menderita penyakit asma dan tubunya ringkih, bukan berarti dia tak berani berjualan. Dia makin giat mengembakan bisnis seiring waktu berjalan. Saat itu, dari sekedar menjual kue beralih ke menjual aneka parfum. "Saya menjual parfum dan VCD (cakram padat)," kenangnya. 
 
Setelah masuk SMA, ia bersama seorang temannya nekat berbelanja pakaian ke Bandung untuk dijual kembali meski waktu itu tak punya duit. "Modalnya kepercayaan," katanya gampang. Pagi sekali nih mereka berangkat, sore kembali ke Jakarta dengan membawa setumpuk baju yang siap dijual. 
 
Bong membuka lapaknya di Senayan dan Pasar Taman Puring, Jakarta Selatan. Ia juga menjual pakaian seragam kepada rekan dan adik kelasnya. Bong sadar betul dia harus membuang jauh- jauh sifat peduli akan cemooh orang- orang disekitarnya. 
 
Ia sadar betul hidup tak lagi mudah, dan mereka cuma akan menjadi satu hambatan jika didengarkan Dan, seorang teman menyindirnya, "seumuran kita harusnya bersenang-senang," ujar Bong menirukan temannya. 
 
Tapi ia berkukuh pada pendiriannya. Beruntung, orang tuanya rajin memberi nasihat tentang arti kesabaran. Bong dikenal gemar membaca buku- buku motivator dunia seperti sosok Donald Trump, membuatnya punya impian sendiri. "Keinginan sukses makin besar," jelasnya. 
 
Kegemaran ini memudahkannya memotivasi diri. Ia mulai menasihati temannya yang patah semangat. Ada satu yang ia sadari setelah sekian lama berbisnis. Ia memiliki asa untuk menyemangati hidup orang lain. 
 
Bong pun mengajak lima orang rekannya, bersama mereka membuka event organizer kecil. Fokusnya waktu itu memberikan pelatihan motivasi. Jujur saja, kala itu sebenarnya Bong dan rekan sendiri ragu mau dibawa kemana usahanya itu nanti.  
 
Sasaran pertamanya mereka orang- orang terdekat. "Saya diminta beberapa rekan satu jemaat di gereja," ujarnya.

Investasi Properti

 
"Ini investasi saya," katanya lebih lanjut. Apalagi tujuan bisnis ini tidak melulu tentang mencari uang. "Saya memperluas pertemanan," katanya. 
 
Dan lewat sebuah kesempatan ia mulai menjalankan event pertama nya di sebuah perusahaan di Jakarta. Profil Bong Chandra, awalnya memotivasi para karyawan pemasarannya. Selama dua tahun pertama, ia hanya memungut biaya operasional saja. 
 
Di event itu, Bong sendirilah yang berdiri di depan mic membawakan motivasi. Dia belum menjadi miliarder tetapi percaya. Ternyata usahanya yang tak ngotot melulu tentang uang membawa uang. Maksudnya dari hanya memungut biaya operasional, ia berkenalan dengan banyak orang disana. 
 
Pergaulan Bong bertambah luas menggurita. Alumnus SMA Kalam Kudus Jakarta ini mendapatkan teman dari 90 ribu peserta pelatihannya, yang kebanyakan para pelaku bisnis sukses. "Kalau teman kita sukses, kita akan kecipratan sukses," katanya. 
 
Keyakinannya yang kerap mengisi pelatihan di kalangan pebisnis properti ini benar. Ia mulai diajak sesama pembicara saat memberikan pelatihan di Real Estate Jawa Timur. Awalnya sih Bong cuma sekedar mencarikan investor untuk pembangunan properti seluas 5,1 hektare di kawasan Ciledug, Tangerang. 
 
Meskipun gagal, rekannya itu tak kecewa, justru memintanya bergabung menjalankan bisnis ini. Cukup mengejutkan karena dia bisa dibilang orang baru di bisnis properti. Dia bersama kedua temannya menjalankan perusahaan properti senilai Rp 180 miliar sejak Januari 2011.

"Ini modal networking," katanya. Setiap orang harus menyetorkan modal Rp.500 juta. Lalu, Bong bersama kedua temannya membeli tanah seluas lima hektar seharga Rp30 miliar di Ciledug. Modal sekitar Rp1,5 miliar digunakan sebagai tanda jadi pembelian tanah di Ciledug. 
 
 
Bong dan kedua temannya itu membeli tanah dengan cara mencicil dua tahun sambil mengembangkan tanah dengan membangun Ubud Village. Kemudian mereka membangun bendera bernama Triniti Property.

"Cari nama untuk perumahan yang bagus dan memiliki konsep yang kuat. Setelah itu pecah jadi unit-unit kecil agar harganya bisa bersaing. Berikan program cicilan yang lebih panjang," kata Bong membocorkan sedikit dari rahasia suksesnya kepada VIVAnews.

Berkat kemampuan bicaranya pula, Bong berhasil memasarkan sekitar 300 rumah dan 65 ruko di daerah Ubud Village dengan berbagai cara marketing dalam setahun. Caranya antara lain mengkonsep perumahan berbeda, yaitu dengan nuansa Bali, dan membuat berbagai unit-unit ekslusif. 
 
Di Ubud Village, Trinity Property mempunyai nilai investasi sebesar Rp180 miliar. Keberuntungannya terus bergulir setelah terus bekerja keras. Pelan tapi pasti banyak tawaran mengajaknya berbisnis bersama.

Menulis buku


Selain properti, Bong mendirikan bisnis pencucian mobil. Usaha ini dibangun di Buah Batu, Bandung, dan Serpong. Kini ia menjalankan tiga usaha dengan karyawan mencapai sekitar 100 orang. Menjadi pembicara motivasi menyibukan hari- hari Bong selain sibuk berbisnis. 
 
Ia akhirnya memutuskan berhenti kuliah di Jurusan Desain Grafis Universitas Bina Nusantara. Setelah tidak kuliah, satu- satunya pilihan Bong adalah menjadi motivator yang sukses, terus memotivasi orang- orang diluar sana.

Meski dia sudah berbicara di hadapan 15 ribu orang per tahun, mulai mahasiswa, ibu rumah tangga, dosen, ahli hukum, dokter, pengusaha, hingga CEO, Bong tetap menyebut dirinya sosok pribadi yang tertutup. 
 
"Saya tidak mudah akrab," katanya. Bong juga mengenali dirinya sebagai orang yang lambat bertindak. "Saya menuntut sempurna jadi kerap lama berpikir."

Menyempurnakan karirnya, Bong menulis buku berjudul "Unlimited Wealth dan The Science of Luck". 
 
Berbagai perusahaan, termasuk perusahaan nomor 1 versi Fortune 500 tahun 2009 menggunakan jasanya sebagai motivator. Saat ini Bong telah memimpin sekitar enam perusahaan. Ia bahkan dikabarkan tengah membangun hotel bintang lima di Jimbaran, Bali dengan nilai investasi Rp1 triliun.

"Semua pencapaian dimulai dari nol bahkan utang. Ini membuktikan bahwa yang terpenting bukan siapa anda sekarang, tetapi ingin seperti apa anda besok," katanya.

Saat ini Bong Candra menempati posisi sebagai pimpinan dari tiga perusahaan besar yaitu PT. Perintis Triniti Property, PT. Bong Chandra Success System, dan PT. Free Car Wash Indonesia. Kesemuanya merupakan hasil kerja keras dari Bong yang ia mulai benar benar dari Nol. 
 
Memang sukses tidak akan menunggu usia, manfaat kan apa yang ada sekarang, dan raih apa yang anda impikan. Itulah kenapa usia dua puluh tahun merupakan awal bukanlah akhir. Pengusaha muda ini menerapkan konsep kerjasama operasi lahan.

PT. Perintis Trinit Tbk, atau Triniti Land, hampir semua sistem kerjanya kerja sama pemilik saham. Di Triniti

Bio Data Bong Chandra


Nama Lengkap: Bong Chandra
Nama Panggilan: Bong
Profesi: Motivator , Pengusaha, Penulis
Tempat, Tanggal Lahir: Jakarta, Minggu, 25 Oktober 1987

Pendidikan:

- SMA Kalam Kudus Jakarta
- Universitas Bina Nusantara (Tidak Tamat)

Penghargaan:

- "Forty under Forty", 40 tokoh sukses  dibawah usia 40 tahun, Majalah Fortune Indonesia tahun 2010
- Motivator Termuda di Asia, tahun 2010 (usia 23 tahun)

Social Media

www.facebook.com/bongchandra
www.twitter.com/BongChandra
www.bongchandra.co.id

Prospek Usaha Keripik Tempe Kisah Wirausaha

Profil Pengusaha Sukini

 
usahakeripiktempe.png

Banyak sudah kisah wirausaha kita sampaikan. Berikut gambaran prospek usaha keripik tempe. Berkat kondisi yang "kepepet", terdesak akan kebutuhan ekonomi mampu membuat orang berpikir kreatif, bahkan tanpa pengalaman sekalipun.

Dia memanfaatkan satu ruangan gubuk di pinggiran sawah, yang lebarnya cuma 3x4 meter. Dia, Sukini (44), seorang wanita warga Desa Gumiwang, Kecamatan Purwonegoro mengawali usaha rumahannya sendirian. 
 
Tepatnya kira- kira enam tahun silam di tahun 2007 -an, usaha rumahan itu dimulai memanfaatkan peralatan sederhana. Bisnisnya ialah mengolah seriping pisang. Lalu bisnis rumahan itu tumbuh dimana bisnis core -nya adalah pengolahan keripik tempe bermerek Suka Nicky.
 

Menjajal Usaha


Bu Sukini menjelaskan proses panjang sejak dari nol bisnisnya dijalankan. Usaha rumahan yang diawali dari desakan. Kira- kira di tahun 1988, usai melepaskan masa lajang, ia tak memiliki pekerjaan tetap. Dia hanya seorang ibu rumah tangga yang menggarap urusan- urusan rumahan.

Hingga akhirnya di tahun  1990 dia dikarunia anak pertama. "Begitu lahir Galih Widodo, anak pertama kami, saya merasa kebutuhan rumah tangga semakin bertambah, sementara suamiku cuma bekerja serabutan. Paling sering kerja proyek. Tidak ada pemasukan yang lain," katanya saat ditemui Derap Serayu di rumahnya, RT 3 RW X, kompleks belakang Pasar Gumiwang, Banjarnegara.

Keinginan itu semakin kuat, keinginan untuk membantu sang suami berusaha. Kian menyadari kebutuhan akan hidup itu semakin mendesak, pengeluaran yang lebih besar dari pendapatan sang suami. 
 
Jadilah Sukini bertekat untuk berusaha apalagi anak pertamanya punya kebutuhan sendiri. Meski sang suami, Siswanto (48), telah berusaha apapun untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Itu masih lah kurang untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya.

Sukini berusaha keras membantu setidaknya mengurangi beban itu sedikit.

"Kondisi terdesak itulah yang menuntun saya untuk berani lebih maju. Seperti umumnya wanita, keahlian yang saya miliki adalah memasak. Karena itu saya mencoba untuk membuat seriping pisang, ia menjelaskan.
 
"Waktu itu, karena tidak memiliki ruang cukup, awalnya kami memindah gubuk 3x4 meter dari sawah ke dekat rumah. Pisang dikupas di luar, baru kemudian digoreng di dalam gubuk," kenangnya haru.

Usahanya macam- macam jajanan. Tidak hanya keripik pisang ia juga membuat sale (pisang manis yang dikeringkan) atau juga kacang kulit. Secara umum memang usaha keripik pisang anak bungsu dari delapan bersaudara itu menghasilkan. Meski pemasaran produknya masih tradisional.

"Saya ingat betul, menjalani  marketing secara tradisional sendiri. Dengan berjalan kaki saya memikul seriping pisang buatan istri ke pasar," ucap Siswanto suami Sukini.
 
Dia tidak meragukan Sukini. Suami membantu sampai akhirnya sedikit demi sedikit untung. Mereka bertahap menabung buat  membeli motor. Siswanto lantas mengantarkan keripik- keripik itu memakai motor ke pasar.
 
"Sampai akhirnya sedikit demi sedikit keuntungan yang kami dapat ditabung untuk membeli motor. Akhirnya saya pun bisa mengantar barang menggunakan motor ke pasar," jelasnya.

Kendala bisnis keripik pisangnya selain marketing adalah bahan baku yang tersendat. Untuk mencari bahan itu memang susah. Diakuinya, ini sangatlah merepotkan, dan wajar jika usaha yang satu ini akhirnya berhenti di tengah jalan.

"Akhirnya saya memutuskan untuk ganti produksi keripik tempe yang bahan bakunya lebih mudah dan selalu ada di pasar. Padahal, kami ini tidak ada keturunan perajin tempe. Semua dilakukan dengan belajar sendiri," katanya. 
 
Sukini mengaku meminta bantuan tetangga untuk mengajari membuat tempe. Pada awalnya ia gagal, bahkan satu kwintal tempe harus terbuang sia- sia dari percobaan pertama. Namun, dengan sabar telaten, Sukini tetap berusaha untuk menghasilkan keripik tempe yang enak.

"Pernah membuat tempe 50 kilogram kedelai, malah tidak jadi. Ya sudah, akhirnya dibuat pakan ikan. Kebetulan saya punya kolam ikan juga," kata Siswanto. 
 
Awalnya Sukini mempekerjakan 3 orang untuk membantu dalam usahanya, tapi kini usahanya bisa menyerap tenaga kerja lokal (tetangganya) hingga sebanyak 25 orang. "Bahkan ketika permintaan pasar membludak, seperti pada saat lebaran, pekerja pun saya tambah sampai 30 orang," ungkapnya.

Kini, tiap harinya Sukini mengaku menghasilkan setidaknya 3 kwintal keripik tempe dari  1,5 Kwintal kedelai yang dibeli dan diolahnya sendiri menjadi tempe. 
 
Melalui penerapan teknologi pengolahan hasil pertanian yang digunakan seperti Spinner (alat peniris minyak), Sliccer (alat pemotong tempe), Handsealler(alat bantu pengemas), dan lain sebagainya, ia dan seluruh karyawan mampu menghasilkan produk keripik tempe berkualitas. 
 
Produk mereka digemari masyarakat Banyumas. "Tadinya tempat produksi kami terbatas, tempat mengolah kedelai menjadi tempe, menggorengnya menjadi keripik dan mengepaknya dalam kemasan di satu lokasi yang sempit.," ujar Sukini.

Pengusaha sederhana inipun telah memiliki tempat khusus. Ruangan berukuran 3X10 meter untuk penggorengan, kurang lebih 18 orang yang menggoreng keripik tempe, dan jumlah tungku yang sama yaitu 18 tungku.

Diyakini Sukini dan Siswanto, bahwa jumlah produksi yang sekarang masih bisa bertambah. Padahal untuk pemasaran masih berkisar lokalan saja di eks karsidenan Banyumas. Mereka kirim sekitar eks kerisedenan, ada yang langsung beli, ada yang masuk grosir.

Lewat grosir inilah banyak produk mereka menyebar keluar kota. Diam- diam produk mereka sampai ke Cirebon. "Meski kadang sudah dengan mereka berbeda," aku Sukini.
 

Ekspansi Usaha


Menjadi prestasi membanggakan ketika produknya diam- diam masuk pasar Purwokerto. Padahal kota ini telah lebih dulu disebut kota keripik. Lantas apa yang membuat usaha Sukini ini berbeda dari yang lain? Apa yang menyebabkan keripik tempenya ini digemari dari keripik buatan lokal.

"Makanan itu biasanya diingat atau dikenang karena bentuk dan kualitas rasa," ujar sang pengusaha. Ia melanjutkan bentuk tempe mereka dibuat unik, yakni bulatan- bulatan kecil. Sukini terjun langsung sampai detik ini. Ia ingin kualitas produk selalu terkontrol. 
 
"Karena hampir semua proses dilakukan di satu lokasi, satu kontrol, dan satu pengawasan, maka usaha kami bisa dikategorikan sebagai produksi tempe keripik terpadu," terangnya.

Tidak adonanan keripik yang mencoba dipaten- patenkan. Semua tersentral pada Sukini bahwa usahanya ini berjalan berdasarkan instruksinya. Sebelum disubkan ke rumah warga atau pegawainya, dialah sendiri yang memastikan adonan dan pencampuran keripik sebelum digoreng. 
 
Produk keripik tempe Suka Nicky memang harus selalu fresh. Kedelai sebanyak 1,5 Kwintal setiap harinya langsung diolah menjadi tempe dan dibuat keripik. Atau, secara jalasnya tempe itu dibuat sendiri bukan langsung matang lalu digoreng.

Selanjutnya keripik tempe yang sudah jadi juga langsung di kemas (packing), dan siap untuk dipasarkan. 
 
"Sangat jarang kita mempunyai tendon melimpah, pasti armada kami langsung distribusi. Sisa di rumah hanya diperuntukkan untuk pembeli atau pelanggan yang tiba-tiba saja datang ke rumah," ujar Siswanto yang kemudian merangkap peran sebagai koordinator marketing.

Tak pungkiri keduanya kini punya impian- impian untuk usahanya kini. Dia juga mendapatkan bantuan dari mereka pemerintah dinas terkait yang disukurinya. Baik juga bantuan berupa modal atau alat untuk merehab tempat produksinya. 
 
Ada pula bantuan pendidikan bagi Sukini terutama menyangkut limbah produksi. Mereka masih punya kendala mengolah limbah tempe. Bagaimana diolah dan dimanfaatkan kembali lebih optimal. Maka ia berharap mendapatkan pendampingan akan ini.

Beryukur kalau mereka diajari cara pengolahan limbah baik dan tempat.  Terkait modal, saat ini diakui Sukini, ia dan suaminya masih sekedar memutarkan omset yang ada. Menurutnya potensi pasar sangat terbuka dan masih luas, tapi dia tidak mau gegabah dengan menambah modal lewat hutang.

Berkat usaha Suka Nicky mereka mampu membantu ibu- ibu di sekitar rumah. Mereka lebih produktif dan menghasilkan uang. Berbekal Suka Nicky, salama kurang lebih 3 tahun, suaminya tidak perlu lagi kerja serabutan. Bahkan kedua anaknya melanjutkan sekolah sampai bangkut kuliah.

Inilah kisah wirausaha keripik tempe Suka Nicky. Kami berharap prospek usaha keripik tempe dapat kamu mulai.

Pembuat Cover Album Maroon 5 Seniman Jogja

Profil Pengusaha Bayu Santoso

 
ceritainspirasi.png
 
Seniman Jogja berikut mengguncang dunia. Dia menang pembuat cover album Maroon 5 atau Maroon five. Tempat lahirnya merupakan sumber orang- orang kreatif, seperti Bayu Santoso atau Bayo Gale sapaanya. 
 
Anak muda ini menjadi sorotan nasional dan dunia tahun tersebut, dia smenjadi pemenang perlombaan unik kelas duni. Ia memenangkan lomba cover altenatif untuk album Maroon Five, membuat sosoknya mendadak terkenal. 
 
Bayu sendiri mengaku mengaku coba- coba ketika memasukan karyanya di lomba. Dia memenangkan kontes membuat desain alternatif artwork album kelima dari band pop rock kenamaan dari Los Angeles, Maroon 5, bertajuk 'V'. 
 
Tertulis di halaman resmi Maroon Five, "Congratulations to Bayo Gale on the winning artwork in our Creative Allies contest to design an alternate cover for V," Karyanya tidak hanya bagus tapi memasukan unsur Indonesia yaitu ukiran Jepara.

Desain unik milik Bayo itu bergambar muka harimau dengan paduan desain kreatif yang tegas namun tetap artistik. Bayo juga dengan cerdik menyisipkan logo 'V' yang notabene adalah tajuk album kelima Maroon 5 di antara hidung si harimau tersebut.

Siapa Bayu Santoso? Di dunia desain grafis namanya belum setenar kini. Dia hanyalah mahasiswa semester 3 Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa. 
 
Tapi berkat memenangi kontes, pemuda kelahiran asli Sleman dan bungsu dari 5 bersaudara mendadak terkenal. Perasaanya memangkan kontes tersebut, "senang dan kaget," kata pemuda kelahiran 16 September itu.

Bayu mengetahui kontes setelah membuka Facebook resmi milik Maroon 5, lalu membuka website untuk kejelasan informasi. Setelah mengetahui sisi-sisi album band asal California itu, mahasiswa yang kos di sekitar kampusnya ini membuat coretan di kertas sebagai awalan. 
 
"Mengalir saja. Saya ambil sosok harimau karena kesannya misterius," jelasnya.

Proses desain dilakukan selama 7 bulan. Finishing selama 7 hari. Terciptalah gambar wajah harimau bak ukiran dengan dominasi warna putih dipadu abu-abu dan cokelat. Di albumnya itu memang Maroon 5 memang mengandalkan lagu 'Animals' sehingga cocok jika desain covernya berupa binatang. 
 
"Memang niat untuk ikut lomba, tapi tidak menyangka untuk juara dan menang," kata Bayu merendah.

Padahal, 4 Juli 2014 lalu, Bayu juga memenangi kontes yang diselenggarakan musisi AS, Billy Joel. Dalam desainnya, Bayu menggambar sosok Billy Joel dan istana Kremlin dengan warna merah, hitam, dan krem. 
 
Apa rahasia sukses Bayu menjuarai kontes dan mengukir prestasi membanggakan? "Kesempatan jangan ditutup. Yang penting nyoba dulu, karena kita nggak tahu akan menang atau kalah," kata pemuda berkulit kuning langsat ini.

Memang jika kita tak pernah mencoba maka tak akan tau hasilnya; gagal atau sukses.

Gibran Anak Jokowi Pengusaha Katering Sukses

Profil Pengusaha Gibran Rakabumi Raka

 
gibrankatering.png
 
Gibran anak Jokowi tidak mengandalkan orang tua. Dia bernama lengkap Gibran Rakabuming Raka, yang merintis menjadi pengusaha katering sukses. Awal- awal dia sempat tidak nyaman disorot media masa. Kini profilnya dimana- mana disebutkan sebagai pengusaha sukses.
 
 
Dia bukanlah seorang penggaguran, yang akan selalu mengikuti ke mana saja ayahnya pergi. Memiliki bisnis stabil dia mampu membiayai keluarga kecilnya. Gibran juga mengikuti jejak sang ayah. Tanpa ragu dirinya terjun ke dunia politik bermodal wirausaha.

Dia memiliki bisnis serius dibidang kuliner yang mulai berkembang pesat. Bisnisnya bisa jadi motifasi bagi kita karena dia memulai semuanya dari nol.

Bisnis keluarga


Pagi itu, Senin 20 Oktober, pemuda bernama lengkap Gibran Rakabuming Raka itu diperkenalkan di depan awak media oleh Jokowi. Selain anak tertua itu, Jokowi juga memperkenalkan istrinya, iriana, serta dua anak lainnya, Kahiyang Ayu dan Kaesang Pangarep. 
 
Gibran memang jarang bersama ayahnya. Dia memilih sibuk bekerja dibalik usaha kateringnya. Lalu bagaimana dengan usaha keluarga?

Jokowi ingin anaknya melanjutkan bisnis keluarga. Itulah pasti yang dirasakan para pengusaha ketika masa jaya telah didapat, dan sang penerus telah mantap. Pemuda kelahiran Solo, 1 Oktober 1988 itu, malah sibuk mengurusi bisnis kateringnya, Chilli Pari Catering Service. 
 
Jokowi pun dikabarkan marah besar disaat putra sulungnya itu memilih membuka bisnis sendiri, " lha terus sing ngelanjutke sopo? Kalau saya jadi wali kota, siapa yang ngelanjutin? Kamu nggak nurut sama orangtua!" kata Jokowi.

Sejak lulus sekolah dasar, Gibran memang sudah hidup terpisah dari orangtuanya. Sejak SMP, dia tinggal di Singapura. Dia menempuh pendidikan setingkat SMA di Orchid Park Secondary School, Singapura, pada tahun 2002. 
 
Dia kemudian melanjutkan pendidikan di Management Development Institute of Singapore (MDIS). Setelah lulus pada 2007, dia pindah ke Australia untuk belajar di University of Technology Insearch, Sydney, Australia.

Saat kuliah lah Gibran menyebut waktu dimana dirinya tertarik di bisnis kuliner. Meski dipaksa- paksa untuk melanjutkan bisnis keluarga, ia tak bergeming. Dia melihat potensi bisnis kuliner khas Solo meski tak punya pegangan di bisnis tata boga. 
 
Satu yang dia pegang adalah prospek bisnis yang cerah, mengikuti intuisinya. Setelah lulus kuliah di 2010, dia nekat membuka katering kecil-kecilan. Gudang mebel sang ayah disulapnya menjadi kantor dan dapur.

Berdirilah usaha bernama Chilli Pari Catering Service itu. Meski sudah berjalan Jokowi katanya bersi keras tak mau mengeluarkan modal untuknya. Nama bukanlah asal dipilih. Gibran mempertimbangkan nama itu secara filosofi. 
 
Chilli yang berarti cabai. Warna merahnya menggambarkan keberaniannya. Sementara Pari yang dalam bahasa Indonesia yang berarti padi menggambarkan kemakmuran. Bermodal proposal, dia menyusuri tujuh bank untuk memberikan sokongan dana.

Akhirnya ada satu bank yang setuju untuk memberikan pinjaman modal. Usaha yang dimodali sekitar 1 miliar itu resmi berdiri pada Desember 2010, menggarap order kecil- kecilan di Solo.

Meski berkecukupan ia tak lantas merengek meminta bantuan modal. Dia konsisten dengan pilihannya atas intuisinya. Awalnya, Gibran hanya mempekerjakan belasan orang sajak. Namun sejak di bulan Januari 2011, perusahaan katering ini sudah memakai tenaga ratusan orang. 
 
Melihat perkembangan usaha anaknya yang maju akhirnya Jokowi luluh juga. Tahun 2011 Jokowi mengizinkan anaknya mengelola Catering wedding di gedung pertemuan Graha Saba milik Jokowi. 

Sekarang bisnisnya selain rutin mengelola catering di Graha Saba juga melayani katering berbagai event baik nasional maupun internasional. Catering Chili Pari milik putra sulung Jokowi ini sangatlah berbeda dengan catering lainnya di Solo. 
 
Katering di Solo hanya menyajikan menu-menu yang standar, seperti kroket, sup matahari, atau lauk sambal goreng hati. Di Chili Pari banyak disajikan menu-menu baru yang belum lazim di Solo, namun  penyajiannya tetap dengan ala "piring terbang" yang menjadi khas Solo.

Katering Chili Pari mengerti sekali karakteristik masyarakat Solo pada umunya. Kalau tamu nggak dilayani, itu nggak sopan namanya. Makannya dengan sistem "piring terbang" tidak bisa ditinggalkan dalam setiap event baik pernikahan, pertemuan dan lain sebagainya di Solo. 
 
Namun bagi sebagian anak-anak muda Solo yang sudah terbuka dan modern biasanya ada juga yang memilih sistem buffet. Anak sulung Jokowi memang tidak mematuhi orang tua tapi punya cara untuk meluluhkan mereka; dengan bekerja keras.

Bisnis katering ini dengan cepat tumbuh. Sebuah terobosan dia lakukan. Tak melulu menyediakan menu makanan khas Solo. Menu-menu andalan dari Jawa, Jepang, dan bahkan dari negara Barat, dia sajikan. Nama Chilli Pari pun semakin berkibar. 
 
Dan kini, Gibran tercatat sebagai Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Boga Indonesia . Lalu bagaimana dengan bisnis mabel keluarga? Gibran pun mengatakan: "Saya nggak tahu nanti adik- adik saya apakah mau melanjutkan usaha Bapak atau tidak. Kalau saya, jelas sudah tidak mau," tegasnya.
 

Pengusaha Berhutang

 
Pengusaha katering sukses ternyata pernah berhutang. Menurut ceritanya dia sempat membuat usaha kertas. Dia tidak punya pengalaman. Melainkan bermodal kertas proposal mengajukan pinjaman. Tentu dia ditolak hampir semua bank. Dia masih bau kencur belum berpengalaman berbisnis.

Cuma satu bank setuju memberikan pinjaman Gibran. Itupun uang dikeluarkan tidak utus sesuai apa isi proposal. Pertama kali membangun bisnis dia tidak menyiapkan dapur. Malah menyulap kantornya jadi semacam restoran mini. 

"Pertama kali yang paling penting kantor depan dulu haru bagus. Dibelakang dulu belum ada apa- apa, cuma ada satu kompor," jelasnya di halaman situs Chili Pari.

Ternyata terdapat tujuan merubah kantor menjadi restoran mini. Disinilah orang akan datang mencicipi makanan kateringnya. Mereka tidak perlu tau bahwa di dalam cuma punya sekompor. Penampilan muka sangat meyakinkan pemesan katering.

Menjadi pemula bisnis katering tentu tidak mudah. Awal Chili Pari ditolak lantaran belum memiliki nama. Pernah dibatalkan karena pihak konsumen tidak mempercayai. Gibran memutar otak. Datanglah dia ke rumah konsumen yang membatalkan.

Tujuannya tidak lain bersilaturahmi baik- baik. Dia membawa sendiri katalog makanan. Bahkan dia membawa sample buat dicoba. Ditambah iming- iming bonus apabila melanjutkan pesanan. Dari Chili Pari, kateringnya merambah wedding organizer, souvenir, undangan bahkan foto pre- wedding.

Lewat bisnis kuliner Chili Pari muncul martabak manis besar Markobar, pasta bakar Pasta Buntel, Goola minuman tradisional modern, Ternakopi untuk kopi, dan Mangkoku buat makanan dalam mangkok aneka topping.

Tempe Organik Pengusaha Senior Agus Priyanto

Profil Pengusaha Agus Priyanto

 

tempeorganik.png
 

Pengusaha senior Agus Priyanto dikenal Agus Tempe. Dia penggagas bisnis tempe organik. Pria 65 tahun tersebut memakai kacang koro menjadi pengganti kedelai. Sejak 2012, dia juga memanfaatkan kacang kedelai lokal, yang dianggap tidak enak tetapi sama bernutrisi.


Agus menjelaskan kacang koro pedang cocok. Lebih lanjut bahwa tempe sebenarnya memakai kacang- kacangan. Tidak harus memakai kedelai. "Tempe itu awalnya kacang- kacangan. Tidak identik memakai kedelai. Tanaman koro pedang ini bagus dijadikan tempe," ujarnya.


Tempe produksinya kemudian dilabeli organik. Kecintaan akan tanaman organik sudah tidak diragukan. Ia juga merupakan pendampi para petani Majalengka, Jawa Barat, terutama untuk mengembangkan hasil pertanian kacang koro.


Bisnis Organik


Kacang koro banyak tetapi dibutuhkan nilai tambah. Ada Added Value demi menaikan harga jual. Ini termasuk membuatnya menjadi tempe. "...awalnya banyak trial and error," celetuknya. Agus coba- coba sampai hasilkan tempe.


Mengenal pertanian organik ketika bertemu komunitasnya. Pengusaha senior ini memupuk kecintaan akan organik. Lewat komunitas, dia mulai memproduksi dan memasarkan, dan bahkan ditawari ikutan pameran organik. Agus sempat tidak percaya diri akan produknya.


Begitu ditawari Agus tidak langsung mengiyakan. "Saya masih ragu. Tempe koro ini akan laku atau tidak. Bisa diterima atau tidak. Begitu pikir saya kala itu," ia menjelaskan. Namun mereka meyakinkan Agus hingga ikut pameran.


Selepas pameran, maka mengalirlah pesanan sampai dua tahun berjalan aman. Agus lalu memproduksi tempe koro disesuaikan pesanan pelanggan. Ia berinovasi. Hasilnya Agus menciptakan varian tempe lain berbahan kacang hijau, kedelai kuning, dan kedelai hitam.


Agus sendiri tidak mematok mendapat untung berapa. Bahkan ia mau memberikan bantuan buat para pemula atau non- profit oriented. Selama dua tahun itu, Agus tidak pernah menaikan harga, padahal makanan organik tengah naik daun.


Ia justru meyakinkan masyarakat akan dampak kesehatan. Bahwa tempe organiknya sehat walaupun berharga murah. Sehat tidak harus mahal. "Saya ingin berbagi sehat, karena tempe ini sebagai super food. Bahkan diluar negeri, harga tempe bisa lebih mahal daripada daging," ujar Agus.


Dibutuhkan waktu sampai mampu menjual tempe koro. "Saya awalnya memakai koro, tapi ternyata tidak mudah mengubah kebiasaan dari kedelai ke koro," jelas Agus. Tempe mengandung prebiotik dan probiotik. 

 

Tempe organik buatanya rata- rata dibeli mereka penderita auto- imun dan penderita lupus. Nama Agus Tempe bukan cuma julukan tetapi dijadikan branding. Ia memproduksi hanya 200- 300 potong. Agus cuma memanfaatkan penggiling kacang dan peralatan sederhana.


Tempe dibuat tradisional. Respon pasar sejujurnya sangat baik. "Saya sering kwalahan tenaga, karena kekurangan SDM yang baik," Agus menjelaskan. Kemampuan produksinya lumayan dan pengiriman dilakukan sendiri bahkan keluar Jabodetabek.


Beberapa reseller mengajukan diri ke Agus. Toko organik baik online dan offline meminta dikirimi. Dari penjualan tersebut Agus Tempe menyebar keseluruh Indonesia. Harga tempenya itu dibandrol Rp.4500- 7000. Agus ditanya soal bahan baku dan memang berlimpah.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba