Profil Pengusaha Agus Priyanto
Pengusaha senior Agus Priyanto dikenal Agus Tempe. Dia penggagas bisnis tempe organik. Pria 65 tahun tersebut memakai kacang koro menjadi pengganti kedelai. Sejak 2012, dia juga memanfaatkan kacang kedelai lokal, yang dianggap tidak enak tetapi sama bernutrisi.
Agus menjelaskan kacang koro pedang cocok. Lebih lanjut bahwa tempe sebenarnya memakai kacang- kacangan. Tidak harus memakai kedelai. "Tempe itu awalnya kacang- kacangan. Tidak identik memakai kedelai. Tanaman koro pedang ini bagus dijadikan tempe," ujarnya.
Tempe produksinya kemudian dilabeli organik. Kecintaan akan tanaman organik sudah tidak diragukan. Ia juga merupakan pendampi para petani Majalengka, Jawa Barat, terutama untuk mengembangkan hasil pertanian kacang koro.
Bisnis Organik
Kacang koro banyak tetapi dibutuhkan nilai tambah. Ada Added Value demi menaikan harga jual. Ini termasuk membuatnya menjadi tempe. "...awalnya banyak trial and error," celetuknya. Agus coba- coba sampai hasilkan tempe.
Mengenal pertanian organik ketika bertemu komunitasnya. Pengusaha senior ini memupuk kecintaan akan organik. Lewat komunitas, dia mulai memproduksi dan memasarkan, dan bahkan ditawari ikutan pameran organik. Agus sempat tidak percaya diri akan produknya.
Begitu ditawari Agus tidak langsung mengiyakan. "Saya masih ragu. Tempe koro ini akan laku atau tidak. Bisa diterima atau tidak. Begitu pikir saya kala itu," ia menjelaskan. Namun mereka meyakinkan Agus hingga ikut pameran.
Selepas pameran, maka mengalirlah pesanan sampai dua tahun berjalan aman. Agus lalu memproduksi tempe koro disesuaikan pesanan pelanggan. Ia berinovasi. Hasilnya Agus menciptakan varian tempe lain berbahan kacang hijau, kedelai kuning, dan kedelai hitam.
Agus sendiri tidak mematok mendapat untung berapa. Bahkan ia mau memberikan bantuan buat para pemula atau non- profit oriented. Selama dua tahun itu, Agus tidak pernah menaikan harga, padahal makanan organik tengah naik daun.
Ia justru meyakinkan masyarakat akan dampak kesehatan. Bahwa tempe organiknya sehat walaupun berharga murah. Sehat tidak harus mahal. "Saya ingin berbagi sehat, karena tempe ini sebagai super food. Bahkan diluar negeri, harga tempe bisa lebih mahal daripada daging," ujar Agus.
Dibutuhkan waktu sampai mampu menjual tempe koro. "Saya awalnya memakai koro, tapi ternyata tidak mudah mengubah kebiasaan dari kedelai ke koro," jelas Agus. Tempe mengandung prebiotik dan probiotik.
Tempe organik buatanya rata- rata dibeli mereka penderita auto- imun dan penderita lupus. Nama Agus Tempe bukan cuma julukan tetapi dijadikan branding. Ia memproduksi hanya 200- 300 potong. Agus cuma memanfaatkan penggiling kacang dan peralatan sederhana.
Tempe dibuat tradisional. Respon pasar sejujurnya sangat baik. "Saya sering kwalahan tenaga, karena kekurangan SDM yang baik," Agus menjelaskan. Kemampuan produksinya lumayan dan pengiriman dilakukan sendiri bahkan keluar Jabodetabek.
Beberapa reseller mengajukan diri ke Agus. Toko organik baik online dan offline meminta dikirimi. Dari penjualan tersebut Agus Tempe menyebar keseluruh Indonesia. Harga tempenya itu dibandrol Rp.4500- 7000. Agus ditanya soal bahan baku dan memang berlimpah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.