Mr. Burger Sukses Bisnis Bukan Sekedar Follower

Profil Pengusaha Andopi Karika Bella


pemilik waralaba mr. burger

Banyak pengusaha meniru bisnis besar tetapi berakhir gagal. Namun tidak bagi Andopi Karika Bella, yang merintisi Mr. Burger menjadi besar dengan 300 cabang. Kita pasti ingin tau bagiaman kisahnya bisa begitu, Ando pun bercerita semua berawal dari kegemarannya akan burger.

Putra dari seorang pengusaha batik dan pengrajin perak. Darah wirausaha mengalir dalam tubuhnya lalu tumbuh. Ia mengenang alasan mengapa memilih usaha burger. Dulu, waktu kecil, dirinya selalu senang membeli burger dari abang- abang burger keliling.

Pengalaman tersebut ternyata masih berkesan melak dibenak Ando kecil. Anggapan bahwa bisnis ini meniru makanan luar negeri ditampik. Dia bahkan bertekat untuk mengangkat makanan ini dengan selera asli Indonesia. Ando kemudian membuka gerai burger pertamanya pada tahun 1998.

"Burger ini tidak ada titik jenuh, ini makanan semua kelas dan praktis," jelasnya.

Bisnis Pasang Surut


Ia menyadari bahwa burger bukan bisnis musiman. Kapanpun ia akan menemukan orang berusaha membuka gerai burger. Ando awalnya memulai dengan konsep usaha sampingan dahulu. Pria kurus kecil dan berambut gondrong, yang tekun membawa usaha burgernya hingga punya banyak cabang.

Berbisnis burger bukanlah fokus Ando dikala dewasa. Ia justru membuka usaha wartel, dan menjadi pengembang properti. Sang kakak ipar yang menarik Ando untuk terjun di bisnis burger. Dia diajak menjadi konsulatn untuk Edam Burger, usaha yang dijalankan kakaknya tersebut butuh pengalaman.

Berkat Ando bisnis Edam Burger berkembang pesat dan diwaralabakan. Ia berprinsip bahwa kualita nomor satu. Edam Burger ditanganya dibuat kemasan menarik, pelayanan yang mumpuni, dan rasa dari burger yang enak. Pengalaman berwirausaha nampaknya memberikan kepercayaan bagi Ando.

Pengusaha ini lantas terpikir untuk membuka usaha burger sendiri. Tahun 1995, Ando baru membuka Crispy Burger, cikal bakal dari Mr. Burger ini memiliki 200 orang karyawan. Pasang surut telah ia lalui mengurus dua bisnis burger bersamaan.

"Pak Made yang punya Edam Burger itu kakak ipar saya, lantas saya menjadi konsultan dia yang tak dibayar," ia meluruskan.

Usaha Edam Burger di Jakarta Selatan dipegang Ando, tetapi perbedaan prinsip dari Made membuat dia mundur. Pengusaha 32 tahun ini lebih memilih menekuni Crispy Burger, yang akhirnya menjelma menjadi Mr. Burger, sejak 2005 Ando mengusung nama tersebut yang terdengar seperti brand luar.

Perkembangan bisnis Mr. Burger terbilang sangat cepat. Itu berkat Ando yang memilih fokus pada bisnisnya sendiri. Ia bahkan mampu membuka waralaba dalam 5 bulan pertama. Dia membuka 10 gerai di kawasan Alfamart Jakarta Selatan, padahal proyek ini bisa dibilang masih pengembangan.

Ando bukan sekedar berbisnis tetapi merencanakan. Pengusaha ini tak sekedar menetapkan tempat di Alfamart. Konsep waralabannya pun sudah matang, dari fee waralaba Rp.3 juta yang dibayar dulu setengahnya, maka ia meraup Rp.500 juta dengan biaya bagi hasil per- Alfamart Rp.250 ribu per- bulan.

Dari roti, daging, sampai saus merupakan produksi rumahan sendiri. Ia mengatakan nama Mr berarti "makanan rakyat". Jadi walaupun namanya kebaratan, ia menawarkan bumbu bercita rasa Indonesia yang tak lekang. Buktinya dia mampu membuat tiap gerai menghasilkan margin untung 20- 30%.

Di tahun 2007, dirinya dianugrahi Citra Award, dengan 100 cabang Mr. Burger yang aktif di kawasan Jabodetabek. Ando lantas mengembangkan konsep restoran Mr. Burger, dan berencana membuka 500 cabang sampai ke Yogyakarta, Medan, dan yang terbaru di Pekanbaru, Riau.

Lulusan SMA Sukses Menjadi Teknisi Mesin Cetak

Profil Pengusaha Sudar 


pengusaha mesin otodidak
 
Jangan melihat seseorang dari latar belakang pendidikan saja. Lulusan SMA ini sukses menjadi pengusaha teknisi mesin cetak. Sudar membuat mesin cetak plastik dari mencontoh. Ia menganalisa mesin asli yang diekspor luar negeri, kemudian membuat mesinnya sendiri berbekal analisa tersebut.

Lazim bagi lulusan permesinan industri yang membuat ini. Tetapi Sudah menunjukan bahwa ilmu tak terbatas di sekolah. Mereka yang paling tidak memiliki ilmu kejuruan mesin atau listrik bisa, tetapi tidak Sudar karena hanya lulusan sekolah menangah atas.

Warga Dusun Mantren, Desa Tenggerkidul, Pagu, Kabupaten Kediri, yang cuma jebolan jurusan pertanian. Ia yang memiliki prinsi tekun menguasai aneka ilmu lain. Belajar dari berbagai sumber, Sundar belajar dari pengalaman bersentuhan dengan mesin.

Bekalnya ialah ketika dia diajak bapaknya bekerja di perusahaan. Ia bekerja di perusahaan yang berbisnis membuat mesin ini. Dua kali dirinya ikut bekerja di perusahaan berbisnis sama. Alhasil dia sadar betul seluk- beluk mesin, dari komponen, cara perawatan, merakit dan memperbaiknya.

Pengusaha Percetakan Otodidak


Ia diajak sang ayah untuk bekerja di pabrik perdoksi mesin. Sudar hanya belajar otodidak. Tidak ada mentor mengajar. Dia hanya ikutan bapaknya melihat cara kerja mesin percetakan plastik. Pria yang lahir di Madiun, yang memiliki ketekunan diatas rata- rata, dan bersungguh- sungguh belajar.

Sudar telaten melihat teknisi mengotak- atik mesin cetak plastik. Dia terus memperhatikan mereka yang membongkar dan memperbaiki mesin cetak. Waktu pertama kali bekerja, pengusaha ini bekerja sebagai pegawai kontrol kualitas, yang mengawasi hasil dari mesin percetakan tersebut.

Dia bertugas mengendalikan mutu dan kontrol hasil. Ia sama sekali buta soal seluk- beluk mesin di dalamnya. Dari hasilnya, bagian per- bagian diawasi, dia memperhatikan seksama karena tugasnya sebagai QC. Sudar bertahap mengamati dari proses awal sampai akhirnya menghasilkan.

Sedikit- demi sedikit dirinya tertarik untuk mengamati proses. Sudar belajar mengenai komponen dan sistem produksi. Karena suka melihat- lihat, eh malah orangnya mengajak Sudar ikutan, kenapa tidak dia mencoba. Dia disuruh membongkar mesin- mesin tersebut sendiri, tanpa pengetahuan cukup!

Sudar belajar dengan otodidak tanpa mentor khusus. Dia belajar dari nol murni kesemuanya, hanya berbekal ikutan. Pengusaha ini berkutat dengan permesinan saban hari. "Jadi ya, harus mengandalkan ingatan," tukas Sudar. Itu tidak semudah dibayangkan, apalagi oleh orang yang sudah ahli mesin.

Ia bekerja lebih keras karena tak memiliki keahlian dasar. Bahkan diakuinya bahwa belajar untuk merakit mesin susah bukan main. Adapun beberapa mesin memilik tingkat kesulita tinggi. Ambil contohnya saja, ketika dia mempelajari mesin las potong, yang gunanya untuk memotong kresek.

Berjalannya waktu, ia tidak hanya telah pandai membongkar, tetapi mampu merakit mesin- mesin sampai bekerja. Kemudian Sudar ditawari bekerja sebagai pegawai teknisi mesin cetak. Atasannya hanya membutuhkan melihat bahwa Sudar mampu.

Di tahun 2003, ia pulang kampung dan mendirikan bengkel perakitan mesin cetak sendiri. Sudar merasa dirinya telah siap menjadi wirausahawan. Berdiri dengan kakinya sendiri, Sudar membuat aneka mesin percetakan tas kresek. Alat yang dikembangkan dirinya juga terbilang lebih sederhana.

Dia membuat tiga jenis mesin cetak plastik dengan fungsi beda. Sundar menjual per- unit ataupun full unit. Satu mesin karyanya dibandrol harga antara Rp.300 jutaan. Dalam pembuatan mesinya, Sudar memakai besi bekas yang dibeli tempat langganannya.

Unit pertama mesin yang dibuatnya berkonsep mesin roll. Mesin tersebut mampu membuat plastik cacah menjadi gulungan. Mesin yang kedua berkonsep plong, fungsinya yaitu untuk memotong atau mencetak dan membentuk plastik kresek, dan yang terakhir mesin las plong.

Berdasarkan keterangan Sundar, bengkel tempatnya telah berhasil membuat 30 mesin yang dirakit dan laku dipasarkan. Pengusaha sederhana ini memasarkan tidak hanya di Kediri, tetapi juga Nganjuk dan Jombang, dan meluas pemasaran ke Jambi dan Riau. Sumber: jawapos.com

Pengalaman Wirausaha Muda Pendiri Iwearzule

Biografi Pengusaha Zulqarnain Agus


pengusaha custom clothing

Pengalaman wirausaha muda berikut patut kamu catat: Tidak ada kesuksesan tanpa kegagalan. Inilah kisah Mukhamad Zulqarnain Agus Rosano, yang sempat menghasilkan puluhan juta rupiah. Sayang, kesuksesan itu hanya bertahan setahun, sisanya Zul harus rela jatuh miskin tanpa uang sepeserpun.

Sejak kuliah Zul muda memiliki keinginan kuat untuk berwirausaha. Ia ingin menjadi pengusaha karena beberapa hal. Pertama, dia ingin memiliki waktu lebih banyak dengan keluarganya kelak. Dia merasa menjadi pegawai akan menghabiskan waktu, seperti halnya kedua orang tuanya dulu.

Dia ingin kelak lebih banyak berkumpul dengan istri dan anak. Virus kewirausahaan telah merambat di benak Zul. "Tidak seperti saya yang kurang kasih sayang karena ditinggal orang tua bekerja," ia mengenang. Kedua, dia ingin pensiun lebih muda, diusia 30 tahun sudah memiliki bisnis yang stabil.

Perjuangan Pengusaha Muda


Sejak berkuliah di Kota Bandung, Zul telah mengamati banyak kesempatan untuk berwirausaha. Di tahun 2010, bisnis camilan seperti Ma Icih tengah naik daun, Zul pun sempat meneguk keuntungan dari bisnis camilan. Dia sempat berjualan stik keju, yang sukses menghasilkan omzet Rp.60 juta.

Pemuda yang berkuliah di Universitas Padjajaran ini, tidak mampu mepertahankan omzet Rp.60 juta tersebut. Dia terpaksa menutup bisnisnya karena bangkrut. Zul terpaksa menutup bisnis camilannya yang telah berjalan setahun. 

"Saya bangkrut dan merugi, karena ada kesalahan pengelolaan," tuturnya kepada Kontan.

Dia memberikan kepercayaan kepada orang tak berkompeten. Zul mengenang saking bangkrutnya, sampai- sampai tak punya uang sepeserpun. Ia tak mampu membayar uang kos hingga terusir. Pria 24 tahun ini tersebut lalu kembali ke Banyuwangi, untuk menenangkan diri dan berpikir ulang.

Tidak butuh waktu lama, jiwa kerwirausahannya terpanggil kembali berkat nasihat dari kedua orang tua. Tahun 2012, ide mengenai bisnis clothing custom muncul tiba- tiba, ini berkat permasalah sehari- hari yang Zul rasakan. Dia selalu merasa kesulitan mencari celana yang sesuai ukurannya.

Ide bisnis ini pun tidak membutuhkan modal besar. Bahkan Zul tak perlu mengeluarkan modal sama sekali. Ia mulai menawarkan jasa pembuatan celana kepada temannya di kampus. Cukup mengambil gambar- gambar dari Google, Zul mulai menawarkan konsep celananya dari pintu ke pintu.

Ketika pesanan datang, Zul cukup memesankan ke penjahit di kawasan Pasar Baru, Bandung. Dia mengambil pelajaran dari kegagalan bisnis camilannya. Bahwa jangan sekali- kali memakai uang perusahaan untuk pribadi. Uang baiknya dialokasikan dahulu untuk membesarkan usahanya dahulu.

Ia juga menggunakan uang hasilnya untuk berpromosi. Zul hidup sesederhana mungkin demi untuk bertahan. Dia fokus mengejarkan bisnis clothing costumnya hingga berkembang. Pengusaha muda ini terus berkembang karena tak ada kompetitor.

"Ini sesuatu yang baru, orang bisa memilih apa yang menjadi keinginannya, baru diproduksi," ucap Zul.

Produk Iwearluze mengincar pasaran usia 21 sampai 27 tahun. Tetapi ternyata semua tidak sesuai dengan rencana. Iwearzule mengalami permasalan karena manajemen produksi. Di tahun 2014, dia sempat berpikir akan menyerah, karena perusahaan samacam ini tak berjalan dengan baik.

Belajar dari Kegagalan Bisnis


Pernah mengalami kegagal membuatnya lebih berhati- hati. Zul harus membagi mana uannya, dan mana uang perusahaan. Dia semakin fokus hingga lini bisnis custom clothingnya berkembang. Dari kegagalan sistem produksi, dia belajar sistem produksi dan mengujinya satu per- satu.

Banyak perusahaan yang menawarkan standar dan prosedur. Tetapi Zul membutuhkan sistem yang ia bikin sendiri. Delapan bulan, Iwearzule menemukan sistem monitoring untuk produksi, ya dengan sistem ini semua transaksi dapat dipantau dari layar komputer.

Sistem tersebut mendorong bisnis Iweazule berkembang pesat. Bila produksi sudah aman, maka ia tingga meningkatkan marketing. Dengan begini ia mampu menerima pasanan seberapapun. Sudah 2 bulan sistem diaplikasikan, hasilnya Iwearzule mampu meraup omzet sampai ratusan juta di 2014.

Tiga bulan pertama di tahun 2015, Zul mampu mencetak omzet sampai Rp.400 juta setiap bulan. Ia melayani pesanan celana, jaket, dan kemeja. Konsep custom memudahkan orang memesan sesuai keinginan mereka, tetapi Zul telah menyiapkan standarisasi agar tak sembarangan.

Orang bisa memilih dari tiga konsep pakain jadi pilihannya. Desain ini akan menjadi guideline bagi pembeli. Mengapa demikian, karena ia mamandang tak bisa sembarangan, karena brand Iweazule harus punya imaje. Bukan sembarangan menerima jahitan sesuka hati melainkan harus terarah jelas.

Tentu Zul tidak berhenti hanya mengembangkan beberapa desain. Ia terus berkembang termasuk soal kecepatan pesanan. Perusahaanya mampu menyelesaikan pesanan cuma tiga hari sampai enam hari. Ia memberikan garansi uang kembali bila produk mengecewakan, dan layanan 24 jam via website.

Soal bisnis Zul selalu melakukan perencanaan matang baru eksekusi. Ia memastikan eksekusinya baik sesempurna mungkin. Dia tidak hanya berhenti sukses mendirikan Iwearzule. Melalui lini bisnis dibawah naungan Zul Group, bisnisnya moncer dengan bisnis parfum sampai layanan servis rumah.

Ia sama dengan pengusaha besar lainnya berekspansi. Zul mulai menggeluti bisnis parfum dengan nama Zul Parfume. "Bisnis tidak ada yang gampang, semua harus dipelajari," tuturnya. Dia memulai bisnis dari nol, mulai dari belajar aneka bahan kimia untuk membuat wewangian sesuai selera pasar.

Zul juga turun ke bisnis logistik melalui Zul Home Delivery Service (ZHDS). Bisnisnya tersebut memberikan layanan antar untuk semua kuliner di Bandung. Zul juga berbisnis garmen sekala besar untuk kebutuhan perusahaan lain, dan kedepannya dia akan membuka restoran dan bisnis travel.

Wirausahawan Karena Ingin Kebebasan


Ia bercerita bahwa menjadi wirausahawan bukanlah cita- cita. Mimpinya sedari kecil bukalah jadi pengusaha sukses. Pandangan itu berkembang sejalan pengetahuan akan entrepreneurship. Dia ingin hidup tanpa dikekang, padahal cita- citanya dahulu menjadi seorang arsitektur atau insinyur teknik.

Zul menganggap bekerja dengan orang memakan waktu. Dia tidak senang dengan kegiatan lembur, yang pada akhirnya menghabiskan waktu kedua orang tuanya. Suami dari Inna Susanti, memandang entrepreneurship adalah hal baru, yang mana layak untuk diperjuangan seperti tokoh inspirasnya.

Pengusaha muda ini terinspirasi kisah Richard Branson, pengusaha kelas dunia yang memiliki lebih dari 400 bisnis dibawah Virgin Group. Maka tak salah bila dirinya membuka banyak lini bisnis. Dia ingin seperti Richard Branson, dan ini terbukti dengan lahirnya Zul Group dengan aneka bisnisnya.

Tidak mudah karena apa bayanganya tak selalu tepat. Ia pernah mempercayai orang kemudian malah dikecewakan. Zul harus pandai memilih jajaran eksekutifnya, karena kelak pasti dia akan memberi kepercayaan untuk mengelola Iwearzule, dan kemudian fokus mengerjakan bisnis lain di Zul Group.

Zul menyerahkan Iwearzule ke tangan salah satu direkturnya. "Nah, untuk terjun di bisnis baru, saya harus fokus di sana selama enam bulan, untuk memastikan bisnisnya berjalan lancar," jelas Zul. Dia juga tak membiarkan pegawainya menjadi mesin, maka dibuatlah suasana yang nyaman di kantor.

Ia menerapkan sistem bekerja modern yang lebih manusiawi. Pria kelahiran 7 Agustus 1991 ini, ingin agar pegawainya betah disaat bekerja. Di kantor, jika kamu berkunjung, akan ada banyak ruangan hiburan dan relaksasi untuk pegawainya, yang kini berjumlah 40 orang yang kebanyakan anak muda.

Dia juga tak menerapkan aturan ketat dalam bekerja. Alhasil para pegawai mudanya betas, bahkan rela bekerja sampai malam, itupun tanpa tekanan yang dibawa sampai rumah. Tahun 2016 nanti, dia berencana membangun kantor baru untuk semua lini bisnisnya di Zul Group.

Biografi Sukanto Tanoto Perkebunan Kelapa Sawit Terbesar

Biografi Orang Terkaya Sukanto Tanoto



Biografi Sukanto Tanoto lahir di Belawan, Sumatra Utara, 25 Desember 1949, pemilik perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia. Ia memiliki nama asli Tan Kang Hoo merupakan pengusaha besar Indonesia. Dia adalah sang CEO PT. Garuda Mas Indonesia, yang berbisnis minyak sawit, plup, dan kertas.

Berdasarkan Forbes, ia disebut- sebut merupakan orang terkaya nomor 418, total kekayaan mencapai $2,8 miliar. Lahir di hari natal, di tahun 1949, biografi Sukanto Tanoto merupakan yang tertua dari tujuh bersaudara. Ayahnya adalah imigran berasal dari Putian, provinsi Fuji di Mainland China.

Di 1966, ketika berusia 17 tahun, ia berhenti sekolah karena sekolahnya ditutup pemerintah Soharto. Ia pun memilih berbisnis setelah berhenti, bekerja keras 16 jam, kemudian masuk ke bisnis saham.

"Saya sedang belajar di sebuah sekolah Cina. Saya tidak diijinkan untuk pergi ke sekolah nasional karena orang tua saya mengadakan kewarganegaraan Cina. Saya dianggap asing. Saya tidak pernah belajar bahasa Indonesia secara resmi, " kenang pengusaha ini.

Pemilik Perkebunan Kelapa Sawit Terbesar


Tanoto lalu masuk ke bisnis pipa minyak sekala multinasional. Keberuntungan membawanya ke situasi yang kondusif berbisnis, ketika harga minyak naik di 1972 ketika krisis minyak. Tanoto mulai mencetak $1 juta pertamanya ketika berhasil melalui bisnis minyak.

Memaksa keberuntungan, ia pun mencari modal mengembangkan bisnisnya. Tanoto menyadari bisnis kayu merupakan bisnis yang berkembang, kemudian diubah menjadi plywood. Bisnis kayu dibawa ke negara Jepang dan Taiwan, merubahnya jadi polywood yang dijual kembali lebih mahal di Indonesia.

Melihat kesempatan tetapi tidak efisien, Tanoto ingin membangun bisnis pulp di Indonesia, hanya dia butuh perijinan. Di era Suharto, itu merupakan praktek umum ketika pengusaha harus dekat para politisi. Tanoto harus dekat mereka (pejabat) guna mendapatkan ujin pabrik plup berdiri.

Mereka meragukan ide bisnisnya memaksa agar melapor ketika pabrik jadi. Dalam 10 bulan, Tanoto mulai membangun pabrik pulp pertama, Inti Indorayon Utama di provinsi Sumatera Utara. Ia berhasil merubah wajah Indonesia, dan membuat pemerintahan militer tersebut kagum, semua berkat kenekatan.

Itu berkat keputusannya yang tak idealis. Dia mendekati para politisi dimasanya itu. Di 7 Agustus 1975, Suharto datang ke pembukaan pabrik pertama di Medan. Perusahaan Pulp digagas oleh Tanoto, lalu dibeking oleh Suharto membuatnya menjadi orang terkaya di Indonesia, di 1980 -an.

Pertengahan 1970-an, ia akhirnya baru melanjutkan sekolah bisnis di Jakarta. Setelah sukses tanpa gelar dia merasakan kekosongan,. merasakan pentingnya pendidikan bagi kerjaan bisnisnya. Merasa tak puas, ia memutuskan belajar di INSEAD, sekolah bisnis terkemuka di Fountainbleau, Perancis.

Sukanto Tanoto berbicara bahwa sifatnya yang mirip ibunya, sifatnya tegas dan keras membentuk dirinya. Dia mengenang bagaimana ibunya selalu tegas menegurnya.

"Saya paling banyak makan rotan," kenangnya tentang sosok sang ibu. Sejak 12 tahun, ia gemar membaca buku apa saja termasuk buku revolusi Amerika dan tentang perang dunia; ia bercita- cita menjadi dokter.

"Kalau dulu saya meneruskan fakultas kedokteran, saya jadi dokter," kenang pengusaha ini.

Tapi, ketika 13 tahun, Tanoto menghadapi sulitnya hidup ketika ayahnya pergi karena strok. Ayahnya, Amin Tanoto yang juga pebisnis minyak, bensin, dan onderdil mobil. Pekerjaan yang sangat dikenal karena selalu ia lakukan sepulang sekolah, sambil sibuk belajar tentunya.

Dari ayahnya pula, dia belajar bertanggung jawab mengambil alih bisnis lalu membantu ke enam adiknya. Pandai melihat peluang, ia mulai berjualan kayu lapis ketika itu menghilang di pasaran Singapura, yang kemudian menjadi CV. Karya Pelita di 1973.

Awal Karir Sukanto Tanoto


Dia kemudian memproduksi kayu lapis merubah namanya jadi PT. Raja Garuda Mas, merubahnya menjadi CEO atau direktur utama. Kayu lapis bermerek Polyplex itu diimpor ke berbagai negara Pasaran Bersama Eropa, Inggris, dan Timur Tengah.

"Strategy competition saya itu satu dua step sebelum orang mengerjakannya," ungkapnya.

Ia pun memulai Indorayon, atau PT.Inti Indorayon Utama, perusahaan bergerak dibidang penananam plup. Pabriknya menghasilakn plup, kertas, dan rayon. Perusahaan juga berhasil membawa bibit plup unggulan guna ditanam di Indonesia.

Kehadiran Indorayon sempat ditolak masyarakat dan aktifis karena ditengarai mencemari danau toba. Danau diduga tercemar limbah plup, membuat Indorayon ditutup. Tanoto pun mengambil hikmah kesalahannya, memilih tidak mengulangi lagi.

Ia kemudian membangun lagi pabrik pulp lagi di kepulauan Riau. "Apa yang saya pelajari dari Indorayon, saya praktikan di Riau," ucapnya mengingat. Di Riau, ia membangun hutan tanaman industri dan pabrik plup terbesar di Riau, PT. Riau Plup, dan mendekati masyarakat sekitar.

Bagi masyarakat, PT. Riau Plup menjalankan hubungan sosial dengan lembaga swadaya masyarakat. Dia mengajarkan bagaimana berusaha; penggemukan sapi, pembuatan jalan, dan pertanian. Tapi, sayangnya, pabrik PT. Riau Plup tidak berjalan lancar, meski sukses merebut hati masyarakata.

Karena adanya krisis moneter, pabrik yang dimulainya di 1995 sempat berhenti, dan  barulah selesai di tahun 2001 silam.
 
Pada 1972, ia mendirikan perusahaan CV. Karya Pelita, belakangan berganti nama PT. Raja Garuda Mas. Mendalami seluk beluk kayu, dia harus terbang ke Taiwan mempelajari kayu lapis. Tak sampai enam bulan, perusahaannya telah memproduksi polyplex, yang dijual ke Timur Tengah dan Eropa.

Tanoto kemudian membangun Forindo Pte.Ltd. di Singapura mendukung pengadaan barang dan jasa pendukung perusahaany PT. Raja Garuda Mas Lewat PT. Bina Sarana Papan, yang kemudian sukses membangun Uni Plaza dan Thamrin Plaza di Medan.

Dia juga mendirikan PT Inti Indosawit Subur di 1980. Kebun kelapa sawitnya mulai dari 8.000 hektare dengan 2.000 karyawan. Tiga tahun kemudian Raja Garuda Mas mengakuisisi Bimoli. Di tahun yang sama, ia mendirikan Pec- Tech, perusahaan infrastruktur, energi, minyak, dan gas di Cina dan Brasil.

Bukan tanpa halangan, dua perusahaannya harus berhadapan dengan masyarakat, pecinta lingkungan hidup, dan Menteri Lingkungan Hidup, Emil Salim. Menurut Emil perusahaan dibawah kepemilikan Sutanto Salim mencemari lingkungan sungai asahan.

Perusahaan PT. Inti Indorayon Utama mililnya, yang memiliki pabrik bubur kertas di desa Sosor Padang, dianggap mencemari lingkungan, tapi malalui kekuasaan Suharto kala itu; perusahaan tetap maju. Hingga, penampungan limbah jebol, dan tumpah semua ke sungai asahan; Indorayon tutup Juni 1999.

Ia mangaku baru kali ini berinvestasi sangat besar $213 juta,dan rugi $600 juta. Melalui Soharto, Tanoto kembali membangun Indorayon jadi PT. Toba Plup Lestari. Pada 1989, ia mendirikan Asia Agri, perusahaan pengolahan yang menguasai 150 ribu hektar perkebonan sawit, karet, dan kako.

Asian Agro mengelola aneka bisnis agro, dari Indonesia, Filipina, Thailand, dan Malaysia. Modalnya 19 pabrik, Asian Agri, perusahaan berhasil menembus 1 juta ton produksi minyak sawit, sekaligus menjadikannya pemain utama di bisnis sawit dunia.

Usaha yang lain, Tanoto mengambil alih mayoritas saham bank United City Bank di tahun 1986-1987. Tidak hanya dalam negeri, ia mendirikan perkebunan kelapa sawit melalui National Development Corporation Guthrie di Mindanao, Filipina, dan electro Magnetic di Singapura, serta pabrik kertas di Cina.

Sejak 1997, ia dan keluarga memilih tinggal di Singapura dan mengambil kantor pusat di Singapura. Ia memiliki cita- cita besar menjadikan pengusaha Indonesia pemain bisnis global.

20 Wirausaha Muda Mandiri 2014 Metro TV

Pemenang wirausaha muda Bank Mandiri


wirausaha muda mandiri 2014

Helo, buat kamu yang gak sempat berkunjung, buat kamu yang pengen jadi wirausaha muda mandiri, yang berkompetisi tetapi belum kesampaian.

Tenang, kami juga mencoba mencari tau infonya kok, dan akhirnya menemukan 20 finalis wirausaha muda 2014. Mereka semua adalah pemenang bagi kami tak ada yang lebih dari yang lain. Dan, terima kasih buat Metro TV, yang mengulasnya di lamannya jadi kita bisa menelisik lebih dalam.

Pemenang wirausahawan kelompok mahasiswa

Untuk kategori industri, perdagangan dan jasa

2. Juara 2: M Zulqarnain A R (Iwearzule -custom clothing)

Untuk kategori boga

1. Juara 1: Filsa Budi Ambia (Peyek Kepiting -jajanan peyek daging kepiting)
2. Juara 2: Martalinda Basuki (UD Klasik -minuman coklat murni)

Untuk kategori industri kreatif

1. Juara 1: Adhidharma Sudradjat (Apple Coast Indonesia -urban streetwear clothing)
2. Juara 2: Vania Santoso (Startic AV Peduli -produk daur ulang)

Pemenang wirausahawan kelompok pasca- sarjana atau alumni

Untuk kategori industri, perdagangan dan jasa

1. Juara 1: Anita (Royal Garden Family Spa & Reflexology)
2. Juara 2: Tsummadana Wulan (Miulan Hijab -produksi busana hijab)

Untuk kategori boga

1. Juara 1: Imanuddin (Mochilok -jajanan Bandung)
2. Juara 2: Indah Pratiwi (Pempek Kentang Indah)

Untuk kategori industri kreatif

1. Juara1:Wahyu Adjisetiawan (Evrawood Paraja Modatama -tas casual urban)
2. Juara 2: Thoat Fauzi (PT. Joso -konsultan arsitektur)

Jika sebelumnya Mandiri cuma fokus pada industri non- digital. Guys, buat kamu yang berbisnis di online, kini Bank Mandiri telah menyentuh industri tersebut malalui penghargaan terpisah yaitu Mandiri Young Technopreneur (MYT). Selain MYT ada pula penghargaan terpisah untuk para wirausaha muda sosial yaitu melalui Wirausaha Sosial Mandiri (WSM).

Pemenang MYT

Untuk kategori teknologi digital

1. Juara 1: Charity Lights API (Aplikasi philantrophy melalui aktivitas olahraga dikonversi menjadi donasi)
2. Juara 2: Cakra Therapy Autis (Aplikasi yang membantu terapi anak autis)

Untuk kategori non- digital

1. Juara 1: Mini Boiler untuk UKM (Boiler yang simple dan portable untuk UKM)
2. Juara 2: Mycotech (materi terbarukan dari jamur)

Pemenang WSM

Untuk kategori industri pariwisata dan kreatif

1. Juara 1: Nara Kreatif (usaha reatif pengelolahan limbah organik)
2. Juara 2: Melukis Harapan (pemberdayaan masyarakat eks- Dolly, yang berbasiskan wisata edukasi dan kuliner)

Untuk kategori pertanian dan kelautan

1. Juara 1:  Projomino (Asosiasi Kelautan & Perikanan)
2. Juara 2: Purwobinangun Salacca (Kelompok Usaha Pengolahan Salak)

Buat para pemenang selamat, semangat dan terus menginspirasi kita semua. Buat penulis dan kalian di luar sana, semoga bisa menyusul, walau tak jadi finalis tapi bisa menginspirasi orang sekitar dan orang banyak.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba