Pengusaha Muda Kelom Jualan Sepatu Kayu Unyu

Profil Pengusaha Nadia Mutia Rahma


jualan kelom unyu
 
Banyak lah pengusaha muda yang memulai coba- coba. Tidak sedikit mereka mengalami kesuksesan besar. Ambil contoh Nadia Mutia Rahma. Siapa sangka sepatu kelom atau sepatu kayu itu, bisa terjuang hingga ke manca negara. Kemampuan Nadia melihat tren anak muda, desainnya modern, jadilah satu paket menjual.

Kalau cuma berbentuk sandal kayu biasa tidak bisa. Butuh kreatifitas mendukung membuatnya jadi lebih menarik lagi. Kan sekarang orang lebih suka menggunakan sandal japit dari karet. Ditangan Nadia, sandal yang juga disebut teklek, meskipun mengendalakan desain tetapi harus nyaman, dan akhirnya disukai orang.

Bisnis bernama Kloom Clogs, merupakan kreasi tangannya sendiri, identitas produknya adalah desain batik dan ukiran menggunakan teknik cat air brush. Dia juga memadukan kayu dan kulit khas Eropa. Hasilnya sudah tidak lagi tampak sekedar sandal, tetapi menjadi karya seni, modern, fashionable, dan elegan.

Bakat seni dan bisnis


Dengan bisnis Kloom Clogs, dia mampu menghasilkan omzet Rp.250 juta per- bulan untuk pasar lokal dan banyak lagi untuk pasar luar negeri. Kerja keras merupakan kunci sukses Nadia sekarang. Warga asli Nusa Loka, BSD City, ini mendesain sendiri sepatu kayu buatannya.

Ia memang sudah senang desain sejak kecil. Nadia kecil senang menggunting- gunting gorden rumah menjadi prakarya iseng. Beranjak dewasa dia memiliki hobi lebih terarah. Lambat laun hingga dia mendesain sepatu miliknya sendiri. Bukan perkara mudah karena untuk berbisnis, Nadia bahkan menjual mobilnya sendiri.

"Modalnya seharga satu mobil he- he- he," kekehnya.

Ia menceritakan kalau dia tidak dikasih modal. "Waktu itu mama ku belum kasih modal..." imbuhnya. Jadi kebetulan ketika dia belajar di Jepang itu. Dia sempat bekerja part- time. Disaat pulangnya terbeli lah satu mobil hasil jerih payahnya di sana.

"...terus mobilnya dijual, itu (mobil keluaran) tahun 2000 -an," ia menjelaskan. Karena uang sudah ada buat modal usaha, ia segera mengeksekusi ide bisnisnya.

Namun kendala lain menghadang dari sumber berbeda. Kali ini, Nadia kesulitan menemukan penjahit yang bisa memenuhi hasratnya, wanita asli Yogyakarta ini kesulitan menemukan penjahit di kota kelahirannya itu. Penjahit disana terbiasa membuat sandal biasa, bukan bergaya Eropa seperti rancangan Nadia.

Berbulan- bulan dia mencari akhirnya menemukan penjahit. Uang modal digunakan membeli bahan baku dan membayar pengrajin. Masalah kembali datang karena dia butuh waktu. Maksudnya apa dirancang dia saat dibuat tidak sesuai harapan. Butuh proses percobaan agar produk terutama kayunya biar pas dan nyaman.

Berbagai macam kayu diuji coba oleh Nadia. Akhirnya ia menemukan bahan kayu sampang dan mahoni yang diambil dari Garut dan Kalimantan. Hingga banyak lagi jenisnya, jenis kayu dipakai Nadia berbagai macam asli Indonesia. Berbahan kayu Kloom Clogs tergolong ringan disaat dipakai oleh wanita.

Nadia mengatakan ada teknik khusus untuk mengawetkan kayu. Termasuk bagaimana agar kayu jadi lebih ringan. Teknik khusus seperti getahnya dihilangkan, dijemur dulu, atau direndam beberapa hari. Pokoknya ini sudah melewati percobaan terlebih dahulu bukan sembarangan produksi.

Bisnis ratusan juta


Selain memasarkan dalam negeri, dia juga menjual ke luar negeri dan sebulan mampu menjual 400 pasang, hingga bisa dihitung berapa omzet bisnis ini. Nadia secara terbuka menyebut omzet di angka Rp.120 juta. Produk yang dikerjakan di bengkel pribadinya Yogyakarta dan Tangerang, Banten.

Ibunya, Nurdiyanti, ikut membantu sang anak berbisnis. Sejak kecil dia memang hobi menggambar dan lalu mendesain sepatunya sendiri. Nadia sendiri pernah belajar desain di Jepang. Kemudian soal teknologi kulit ada di Yogyakarta. Selanjutnya Nadia belajar mengenai anatomi sepatu sampai ke Swedia.

Usahanya dirintis 2009, ia memilih alas kaki kayu karena unik, bermodalkan 20 model sepatu kemudian dijajakan. Pemasaran dipasarkan ke kekerabatan dahulu. Di perjalanan waktu, produk sepatunya semakin dikenal dari mulut ke mulut. Pesanan bertahap datang kemudian semakin membesar berjalanannya waktu.

Setelah berjalan barulah dia meminta dimodali orang tua. Maka dijual lah mobil itu, dan menghasilkan uang Rp.90 juta untuk dijadikan modal. Dukungan orang tua ternyata tidak sia- sia. Bermodal besar sehingga mampu mengembangkan wirausahanya.

Nadia membandrol harga sepatu Rp.350.000- Rp.800.000 per- pasang. Kloom pun gencar membuka gerai sampai ke berbagai mal, seperti Gandaria City, Pondok Indah Mall, dan BSD City. Namun sekarang fokus mengikuti pameran wirausaha.

Saat ini produk kelom bikinannya sudah sampai ke Finlandia, Swedia, Islandia, Norwegia, dan Denmark. Ada juga yang dikirim ke Australia dan Singapura. Untuk produksinya ditargetkan dari 4000 menjadi 6000 pasang per- bulan. "Fokus kami tidak hanya di pasar ekspor, tapi juga akan lebih giat dalam pasar dalam negeri."

Sejak kelas dua SMA atau tahun 2006 silam, Nadia tinggal di Jepang, mengikuti sang ayah yang ditugaskan di sana. Di sana dia menemukan banyak teman bahkan dari berbagai negara. Salah satunya dari negara Skandinavia, jika anak muda Indonesia bersepatu asing, maka si anak Skandinavia ini malah pakai kelom.

Selepas enam bulan bersekolah di Esmod Tokyo, pulanglah dia ke Yogyakarta, hingga mulai mencari para penjahit guna memenuhi hasratnya. Awalan dia cuma membuat tujuh pasang kelom, dan membandrol harga Rp.250.000 per- pasang, barang itu langsung ludes dibeli tetangga.

Otak bisnis yang menurun dari ayahnya berputar. Kebetulan dia suka gambar, dari sekedar mendesain biasa, ia mulai mendesain sendiri lebih bagus. Otodidak dia belajar mendesain sendiri sandal kelomnya. Ia lantas memutuskan mengikuti pendidikan Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta, fokus dalam mempelajari kulit.

"Cuma bertahan tiga bulan. Baik di Esmod maupun ATK tak sampai lulus," ia mengenang.

Dari kedua sekolah tersebut, Nadia menemukan jaringan bisnis, dan mendapatkan jaringan pembeli dari luar negeri. Awal produksi dia langsung membuat banyak. Bersama lima pengrajin, dipasarkan lewat sosial media seperti Facebook dan Blog. Sang ibu pun membantu dalam pemasaran agar Nadia fokus berproduksi saja.

Kembali menjual mobil dijadikan modal usaha kembali. Ia berencana memperbesar jumlah produksi kala itu. Ia juga memperkuat dari permesinan. Dimana 70% produksi dilakukan oleh mesin, sementara sisanya lebih mengandalkan kreatifitas manusia.

"Nah, mencari tenaga untuk membuat ini sangat sulit. Benar- benar harus mendapatkan orang yang terampil," ia menutup.

Kisah Pengusaha Muda Berbisnis Limbah Kulit Ikan

Profil Pengusaha Putu Ary Dharmayanti 


mendaur ulang kulit ikan
 
Layaknya pengusaha muda lain, Putu Ary Dharmayanti, memiliki hasrat besar untuk produknya. Bagaimana agar produk buatanya diakui masyarakat. Adalah kisah co- owner Yeh Pasih Leather, menyulap limbah kulit menjadi produk bernilai jual tinggi. Prosesnya yang ramah lingkungan membawanya hingga ke Eropa.

Dalam praktiknya industri penyamakan sapi masih bermasalah. Limbah dihasilkan mencemari lingkungan jika tidak dikelola benar. Merupakan salah satu penghasil devisa dari segi non- migas. Penggunaan bahan- bahan kimia berbahaya ditambah meningkatnya perburuan liar untuk kulit hewan tertentu.

Wanita 27 tahun, lulusan Teknologi Industri Pertanian Universitas Gajah Mada, yang ingin mengajak kita sebagai konsumen meninggalkan budaya buruk. Meninggalkan pemakaian fashion kulit yang prosesnya ini tidak ramah lingkungan, mengancam kelestarian satwa, maka bergabunglah dengan Yeh Pasih Leather.

Bisnis ramah lingkungan


Berawal dari keprihatinan akan limbah kulit ikan, di Pelabuhan Benoa, Denpasar, maka Putu Ary kemudian berpikir bagaimana merubah itu menjadi barang komersil. Tahun 2009- 2012, anak pertama dari tiga bersaudara ini, bersama sang ayah I Wayan Aryana melakukan riset, dan cocok karena latar belakangnya teknik kimia.

Putu Ary mendapati bahwa bisnis penyamakan kulit menggunakan kimia berbahaya, contohnya formalin atau krom. Kemudian pewarnanya juga, maka Putu Ary memilih menggunakan pewarna alami dan juga mencari pengawet nabati aman, seperti getah tumbuhan bakau.

Kerja sama antara anak dan ayah ini sangat tidak disangka. Menghasilkan produksi kulit ikan sama yang berkualitas tinggi dan diakui Badan Standarisasi Nasional (BSN). Di tahun 2012, beberapa tahun selepas dia lulus kuliah, dia fokus menggarap bisnis penyamakan kulit ikan sebagai co- owner dan co- foundernya.

Gadis berambu panjang ini memang dikenal sebagai pengusaha muda. Dia juga berbisnis budi daya lobster, restoran, juga bekerja sebagai public speaker di sebuah perusahaan, pernah dilakoni. "Namanya juga anak muda yang sedang mencari jati diri, saya akhirnya menemukan passion di bisnis keluarga ini," jelasnya.

Kenapa kulit ikan? Jawabanya gampang, karena Indonesia merupakan negara maritim, produksi ikannya sampai 47,6 juta ton atau setara 52 persen produksi dunia versi Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO). Bali sendiri merupakan sentra filet ikan terbesar kedua di Indonesia, dengan sekitar 23 unit usaha di Benoa.

Ada 40 persen bagian tubuh ikan yang dipakai, sisanya berupa kepala, tulang, ekor, dan kulit terbuang menjadi limbah. Satu usaha filet ini menghasilkan 3000- 4000 lembar limbah kulit per- hari.

Kulit ikan kan unik memiliki guratan- guratan. Bekas sisik itu sangat eksotis jika dijadikan produk fashion. Seratnya kuat juga cocok menjadi produk samakan. Tren melihat bahan kulit eksotis dan ekslusif memang tidak bisa dipungkiri. Pemain utama kulit ikan ada Australia, Islandia, Kanada, Rusia, dan Indonesia.

Keunggulan Indonesia adalah tidak mengenal musim. Ikan melimpah ruah hingga menunggu kita mampu atau tidak memanfaatkannya. Jika negara lain bahan bakunya tunggal yakni salmon, negara kita memiliki aneka ikan untuk disamak kulitnya.

Usahanya menggunakan tiga jenis ikan: ikan kakap, barramudi, dan mahi- mahi. Kakap memiliki ukuran sedang dengan permukaan kulit rapi. Cocok buat bahan baku tas, dompet, alas kaki, ikat pinggang, dan juga aksesoris.

Ikan barramudi ukuran sisik sedang, permukaan lebih panjang. Mahi- mahi punya sisik kecil, halus, jadi ini sangat potensial menggantikan kulit sapi, atau kulit sintetis untuk lapisan kulit sebuah produk. Dia dan ayah mengembangkan tiga unit mesin sendiri.

Meskipun sekala produksinya masih rumah tangga, Yeh Pasih Leather, sudah menjangkau luar negeri seperti ke Rusia, Prancis, dan Jepang. Mereka dibantu 10 pengrajin, dan 6 orang diantaranya merupakan tetangga mereka.

Besarnya publikasi dan mengikuti aneka pameran membuat pesanan lembaran kulit ikannya terus meningkat. Ia mengatakan untung diraih bisa sampai sekitar Rp.30 juta per- bulan. Kesuksesannya tidak mengalami kendala berarti. Kenaikan permintaan membuat dampat siginifikan dalam biaya operasi dan profit tentunya.

Permintaan dari luar negeri memang paling besar. Pembeli luar membeli hingga 10 ribu lembar dalam setiap bulannya. Bersyukur ada bantuan kredit Jamkrida Bali hingga kapasitas produksi sudah mencapai 3000 lembar. Putu Ary membeli kulit ikan sisa filet Rp.5 ribu per- kg di Benoa.

Jika dijual di dalam negeri, lembaran kulit ikan yang sudah ia proses seharga $3, maka jika dikirim ke luar negeri harganya $14 per- lembar. Prinsip bisnis Yeh Pasih Leather adalah bebas limbah. Sisik ikan yang tidak terpakai masih bisa dijadikan cangkang kapsul. Daging ikan yang menempel bisa diolah abon atau pakan ternak.

Pemanfaatan kulit ikan merupakan solusi untuk Indonesia. Bagaimana kita nanti bisa menjadi pemain besar di industri kulit dunia. Putu Ary mengajak semua anak muda untuk menjadi wirausaha, bukan cuma duduk dan menjadi pekerja semata. "Bisnis terbaik adalah bisnis yang segera dimulai," ia menuturkan.

Biografi Bisnis Rambut Ekstensi Miliaran Berkat Online

Profil Pengusaha Diishan Imira


pengusaha rambut palsu
 
Namanya Diishan Imira, dia adalah pendiri dibalik startup Mayvenn, yang merupakan ide sederhana tetapi cukup menarik investasi besar. Selena Williams, sang Ratu Tenis, salah satu tercatat menanamkan uangnya di bisnis yang dijalankan Imira.

Bisnis apa sih kenapa disebut sebagai bisnis kuda hitam. Imira sendiri adalah seorang penata rambut, salah satu pemilik salon kulit hitam, spesialisasinya tentang weaveologist, atau orang yang ahli dalam hal bagaimana memperbaiki gelombang rambut kamu atau semacamnya.

Dalam sebuah pasar yang tidak terbaca, seperti bisnis rambut. Penetrasi pasar menjadi begitu abu- abu. Butuh sebuah inovasi yang besar untuk memasuki ke dalamnya. Dengan kemampuan menggunting hingga bagaimana mendistribusikannya ke dalam bisnis jutaan dollar.

Dia merupakan salah satu pendiri Mayvenn. Sebuah perusahaan yang fokus kepada produk rambut ekstensi atau rambut tambahan. Berdiri di Oakland, California, perusahaan tersebut dikonsep sebagai tempat untuk para klien membeli rambut sambungan. 

Harga per- bundle antara 20%- 25% komisi untuk stylis di website mereka.

Dia berpikir awalnya bagaimana membantu saudara perempuannya. Dia ingin menjual rambu sambungan melalui internet. "Saudara perempuan saya sekarang adalah seorang stylist di LA, dan dia mau masuk ke bisnis menjual rambut sambungan untuk dipakai setiap hari," lanjut dia.

Hanya lima persen saja pemilik salon atau stylist di Amerika yang menjual rambut sambungan. Khususnya untuk mereka wanita kulit hitam. Bahkan produk dijual di Mayvenn, bahan baku utamanya merupakan rambut dari Asia, yang memiliki tiga tekstur utama.

Kurangnya modal usaha ataupun tempat penyimpanan merupakan masalah klasik. Panggilan dari sang saudara perempuan itulah yang memanggilnya. "Itu tahun 2012 silam, saya baru saja menyelesaikan MBA dan sudah bekerja di Afrika Barat untuk internship Ernst&Young."

"Saya tau saya mau memulai sebuah perusahaan online, tetapi saya tidak tau saya mau melakukan apa," ia menjelaskan

Seorang traveler sejati yang juga sibuk mengimpor barang -seperti sepatu sneaker, furnitur, dan barang seni- semuanya dari berbagai penjuru dunia. Dia kemudian memutuskan membantu sang adik. Dia mulai mencari banyak suplier, membawa barang tersebut sampai ke Oakland.

Caranya dia akan mendatangi salon- salon. Imira akan mulai bertanya tentang rambut dan kerja sama bisnis. "Bisakah anda dapat lebih banyak (untuk saya)?" ujarnya. Dia mulai menjual juga rambut sambungan itu dengan berbekal mobil. Mulailah dia melihat gambaran besar distribusi bisnis rambut sambungan itu.

Dengan latar belakang pendidikan manajemen suply. Juga pengalaman investasi luar negeri pula. Makalah Sang MBA dari Georgia State University, tau bahwa dia bisa menjadikan stylist sebagai jalan bagianya ke dunia entrepreneurship, lewat rambut sambungan.

Mayvenn membantu para stylist, memberikan mereka akses gratis, tempat berjualan, dan suport 24 jam untuk berbisnis. Barang dari Mayvenn garansi 30 hari datang atau uang kembali. Pembeli bisa memakai, mencuci, mewarnai, memotong, dan jika mereka tidak suka bisa dikembalikan.

Para stylist ditugaskan bagaimana memberi layananan. Sementara rambut sambungan nanti dari perusahaan Imira. "Kami akan memberikan komisi 25% penjualan ke alamat bank anda," jelasnya. Setiap penjualan senilai $600, para stylist akan mendapatkan $100 kredit rambut untuk membeli rambut.

Biografi Pengusaha Kue Kering Yorya Untung Setiap Saat

Profil Pengusaha Liche Lidiawati


tidak takut jualan kue kering

Ia tidak pernah berpikir akan menjadi pengusaha. Sukses baginya adalah mengikuti cita- citanya. Selepas lulus SMA, Liche Lidiawati, berkuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran. Tapi siapa sangka justru dari berbisnis aneka kue kering dia menghasilkan miliaran rupiah per- tahun.

Bakat memasak sudah menurun kepada Liche. Ibunya memang hobi memasak. Secara tidak langsung telah membawa kesukaan memasak kepada Liche kecil. Kecintaan akan memasak menjadi ketika dia sudah jadi ibu rumah tangga. Apalagi dia sudah memiliki seorang anak, dia rajin membuat aneka kue kering sehat.

Awal ia cukup mengkreasikan ulang jajanan anak. Sebut saja coco crunch dijadikan kue olehnya. Lanjut ia membuat kue kering berdasarkan resep ibu. Perempuan 30 tahun yang juga bekerja sebagai dokter gigi di Pertamina ini, menerangkan lebih lanjut tidak pernah mengikuti pelatihan khusus membuat kue.

Bisnis resep keluarga


Penggemar kue bikinan Liche tidak cuma tiga putranya. Banyak teman kantor berminat dengan kue bikinan Liche. Sejak 1996 dia resmi jualan terbatas kue kering toplesan seharga Rp.5000. Setiap kali pulang kerja dia akan membuat kue dari pukul 18.00 sampai 01.00, kue pesanan teman- teman kantornya.

Ketika pesanan sudah banyak, dia dibantu dua orang pembantunya sebagai karyawan. Lantaran enak dan juga gurih peminat kue Liche menjadi. Padahal ia mengaku tidak membuat marketing khusus ke orang- orang.

Banyak pembeli datang ketika Lebaran. Meski harga naik entah kenapa kue Liche tetap laris terjual. Kue Liche rajin ditawar- tawarkan pelanggan sendiri. Ketika krisi moneter datang dia sempat kaget. Harga jual bahan kue kan naik. Ia sempat berpikir mengerem laju produksi kue miliknya.

Meskipun harga naik, orang bela- belain membeli kue bikinan Liche, pesanan tetap membludak apalagi jika masuk Lebarran. Menyadari bahwa kesempatan terbuka luas. Kebutuhan akan kue- kue lebaran begitu tinggi maka ia tetap berproduksi sama bahkan meningkat.

Ia mengankat keryawan baru sampai 10 orang. Tidak mau tanggu dibelinya rumah sebelah buat tempat produksinya. Di tahun 2000 -an sistem keagenan diterapkan Liche. Karena bisnis hobi, meskipun pesanan membludak, dia tidak begitu pedulikan manajemannya. Agan pertama adalah orang- orang yang dia kenal sekitarnya.

Agar bisnis tetap digemari aneka varian diluncurkan. Bahan bakunya bermacam seperti buah- buahan, lalu kacang hijau, dan cokelat. Ia meraciknya sendiri menjadi varian kue kering. Kakak iparnya yang juga kerap membuat kue sering memberi masukan kepada Liche.

Bisnis serius


Semakin besar bisnis semakin besar kebutuhannya. Kapasitas produksi meningkat dibanding sebelumnya. Ia, pada 2002, mendirikan pabrik seluas 600 meter untuk menampung 80 karyawan. Tidak tanggung dia menginvestasikan Rp.1 miliar untuk membeli 3 oven besar.

Sukses berbisnis membuatnya semakin sadar. Dia kemudian membeir nama bisnisnya Yorya, yang diambil dari nama ketiga anaknya, Adya Kamara, Ryan Narendra, dan Yodha Prasta Pradana. Tahun 2009 berulah ia mematenkan nama usahanya. Liche mengaku usaha kue kering memang sifatnya musiman tidak setiap hari.

Dia membuat untuk kebutuhan hari raya kita semua. Puncak penjualan ada di Lebaran dan Natal. Namun ia meyakinkan kue kering sudah seperti kebutuhan pokok ketika musimnya tiba. "Orang yang tidak punya uang bela- belain membeli kue kering," jelasnya.

Wanita kelahiran 29 April 1955 ini, mengatakan pertumbuhan bisnisnya melonjak ketika musim tiba, sampai 15% itupun di Yogyakarta saja. Bulan biasa dia mampu menjual 50 lusin stoples kue kering. Dan ketika Lebaran- bisa mencapai 9000 lusin dalam sebulan saja. Pada hari Natal mencapai 2000 lusinan.

Ia tidak sendirian, tahun belakangan, anak- anaknya ikut membantu perkembangan bisnis Yorya Cookies. Utamanya anak kedua Ryan membantunya bidang pemasaran. Sambil berkuliah di Australia, dia membantu membangun website Yorya Cookies. Ryan jugalah menjadi sosok kunci perubahan sistem keagenannya.

Sistem agen Yorya ada tiga: Silver, Gold, dan Platinum. Untuk menjadi agen Liche tidak mengajukan syarat- syarat tertentu. Semenjak punya eCommerce sendiri, bisnisnya sampai ke Aceh hingga Papua. Ia menyebut ada 200 agen. Harga jual per agen antara Rp.45- 52.200 per- toplesnya. Harga ritelnya Rp.70- 75 ribu.

Bisnis kue kering sekarang berbeda. Tidak sama ketika dia merintis Yorya. Pesaingnya banyak jadi butuh perbedaan signifikan. Seperti ia mengembangkan bentuk- bentuk kue baru. Varian rasa yang sudah ada 100 buah. Kompetisi ketat membuatnya rela menurunkan margin untungnya, dulu 125% sekarang cuma 40%.

"Margin berkurang tidak apa- apa karena sekarang pasar kue kering sudah sangat luas," imbuhnya.

Camilan Sayuran Kering Pengusaha ini Enak Menguntungkan

Profil Pengusaha Andriani Kurnia 


 
Susahnya anak- anak makan sayur menjadi ide. Nah, kali ini kita ide bisnisnya datang dari Andriani Kurnia, yang mencoba peruntungan di bisnis camilan sehat. Apalagi banyak camilan mengandung pengawet. Orang tau butuh sesuatu yang sehat tetapi menarik perhatian si kecil.

Bisnis ibu rumah tangga


Ide bisnis ini datang ke seorang ibu rumah tangga asal Bandung. Dia mencampurkan sayuran tanpa bahan pengawet. Ketidak sukaan anak mengkonsumsi sayur memang menjengkelkan. Padahal sayurang sangatlah baik karena mengandung banyak vitamin. Tidak jarang orang tua menakut- nakuti anaknya agar doyan sayur.

Andriani memutar otak agar tidak maen ancam. Berbekal kemampuan mengolah kue kering, dia mencoba membuat camilan pendorong nafsu makan sayuran. "Saya coba- coba mencampurkan sayuran ke dalam adonan kue kering," tandasnya.

Merasa caranya jitu menciptakan sesuatu. Andriani mulai membuat kue kering berbahan sayur lagi. Lalu dia coba jualkan ke pasar- pasar. Respon pasar ternyata baik dan menerima kehadiran bisnis Andriani. Ia resmi membuka bisnis camilan sehat sejak Oktober 2008 silam.

Modal awalnya Rp.500.000, yang mana bahannya tepung terigu, mentega, keju, telur dan sayuran tentunya. Dia memakai peralatan sederhana. Wanita 32 tahun ini semangat membuat cheese stick sayur. Dimana ia menambahkan sayuran di tengah penghalusan adonan. Kandungan sayuran perlu diingat 40% dari adonan itu.

Kandung sayurang yang besar membuat cita rasa berbeda. Itu meliputi enam pilihan rasa, yakni brokoli, seledri, bayam, bit, jagung, dan wortel. Satu lagi tanpa sayuran yaitu rasa keju original. Untuk kemasan dia menggunakan plastik mika. Kalau kemasan tidak terbuka lama, camilan tanpa pengawet ini bisa 3 bulan awetnya.

Ada dua kemasan yakni 1 ons dengan harga Rp.3000- Rp.3500 dan kemasan 2,5 ons -atau seperempat ons- harganya Rp.10.000. Ia juga menjualnya dengan sistem curah. Harganya cuma Rp.40.000 per- kilo. Istri Dikdo Maruto ini berproduksi seminggu dua kali.

Sekali produksi menghasilkan 3- 4 kilogram masing- masing rasa. Dia dibantu dua karyawan berbekal peralatan memasak rumah tangga. Pemasaran masih di Bandung, Jakarta, dan Jepara. Mereka yang beli biasanya buat dijual kembali. Ibu dua anak ini sudah dua semester berbisnis camilan sayuran sehat ini.

Omzetnya masih Rp.3 jutaan, sudah dipotong biaya produksi dan gaji karyawan, maka margin untungnya ia cuma dapat 30%. Memang masih kecil tapi sejalan dengan pola produksi yang masih kecil dan lama usaha ini berjalan. Banyak kendala dihadapi mulai proses edukasi pasar yang berjalan lambat.

Apalagi dia belum punya tempat jualan sendiri. Kedepan kalau ada modal usaha dia akan membuka outlet sendiri. Karena industri rumaha penetrasi pasar juga lemah. Ia sendiri tidak tinggal diam. Masih menyusun konsep tepat untuk produknya.

Ia mencatat prospek bisnis camilan sehat bagus. Dia yakin akan ada perkembangan tentang bisnisnya. Dia mengingatkan bahwa ini camilan sehat tanpa pengawet. Camilan ini sehat tanpa pewarna dan pengawet karena warnanya sudah dari sayuran itu sendiri.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba