Pemuda Aceh Berhasil Menjadi Wirausaha Berkat Ban

Profil Pengusaha Muda Aceh Habibi 


  
Awal tahun 2011 silam, pemuda asal Bireuen- Aceh, bernama Habibi mencoba sesuatu yang baru. Tengah bergulat dengan hasratnya menjadi pengusaha muda. Mahasiswa Universitas Almuslim, berpikir kenapa ban bekas mobil dibuang begitu saja. Mereka cuma berakhir di tempat pembuangan akhir sampah saja.

Sambil menambal ban sepeda motor, pikiran tersebut berjalan dan mahasiswa matematikan tersebut mulai memprhitungkan. Bagaimana dia mengubah menjadi bentuk berguna. Menjadi ramah lingkungan adalah kunci sukses bisnis Habibi. "Alam semakin rusak. Karet ban bekas itu kan tidak bisa dihancurkan," ujarnya.

Mungkin ribuan tahun bisa, tetapi apakah sanggup ketika produksi ban bekas terus- menerus. Hingga di Desember 2015, bekal untung bisnis tambal ban motor miliknya di Keude Jeunib, pergi lah Habibi ke toko membeli pisau pemotong karet. Dibelinya pisau dan batus asah, kemudian bor listri, kuas, dan cat.

Semuanya dibeli berhutang di salah satu toko alat bangungan -atau di Aceh disebut Toko Buso- beruntung karena pemilik toko percaya kepada Habibi. Sekitar dua atau tiga ban bekas dijadikan media untuknya berkreasi. Semua pikiran dicurahkan oleh Habibi membentuk kreatifitas artistik berbahan ban bekas.

Semua karena keuletan dan daya tahan menghadapi ketidak pastian. Tidak mudah meyakininya, bagaimana sebuah ban bekas akan menjadi pot bunga berbagai variasi akan laku. Disebarkan produk tersebut ke sosial media, dimulai dari sosmed, dijadikan lapak pertama pengusaha muda ini.

Sambutan postifi bermunculan melihat produk Habibi. Kemudian usaha tersebut diberi nama Seni Pemuda Desa atau SPD, yang mana merujuk kepada statusnya sebagai mahasiswa pendidikan S.Pd. Menurutnya menjadi guru bukan sekedar di kelas. Jangan berpikir kaku sebagai mahasiswa juga harus melihat banyak kesempatan.

Jangan terperangkan di dalam ruang kelas tambahnya. Jangan terjebak mengajar kepada hanya siswa yang berseragam. Lewat entrepreneurship kita bisa memberikan pengetahuan kepada siapapun. Ini termasuk juga cara bagi guru untuk berdikari tidak fokus menggantungkan hidup untuk menjadi PNS.

Dia dibantu teman- teman putus sekolah mencoba berbisnis. Menghasilkan berbagai produk variasi bahan ban bekas, mulai dari vas bunga bermotif, ember, ayunan, dan meja. Cukup ban dikupas kemudian digulung bulat. Dipaku, selanjutnya diperhalus, dan dilukis, jadilah aneka produk termasuk tempat sampah lucu.

Kelebihan tempat sampah dari bahan ban bekas. Ya bebas hujan karena ban bekas tidak akan masalah jika kena air terus- menerus. Juga tidak akan karatan ataupun pecah. Bermodal seratus ribu, kini, Habibi sudah mampu mengantungi omzet jutaan rupiah.

Nama Pemilik Sate Padang Ajo Ramon Pasar Santa

Profil Pengusaha Ramon Tanjung 


 
Sang pemilik Sate Padang Ajo Ramon telah meninggal dunia. Tidak banyak yang bisa penulis tulis di sini. Terutama tentang kisah suksesnya. Namun perlu menjadi catatan inspiratif, bahwa dia merupakan polopor masuknya bisnis sate Padang di Jakarta.

Hampir setiap hari dipadati pengunjung, yang rela menunggu di warung mereka di Pasar Santa, Jakarta Selatan, justru ketika musim libur pembeli mengantri panjang. Anak ke empat Pak Ramon, Iwan lalu mulai bercerita, bisnisnya dimulai sejak 1980 sejak awal bertahan tempatnya masih di Pasar Santa ini.

Jika pindah cuma pindah posisi karena sempat ada renovasi. Aneka penghargaan sudah diterima sate Ajo Ramon terutama lomba sate se- Indonesia bersama Kecap Bango. Sebelum meninggal Ramon Tanjung sempat memesankan anaknya agar bisnisnya tetap berjalan.

Selama 37 tahun bisnis Ajo Ramon mampu mengantongi omzet sampai Rp.500 juta per- bulan. Wisatawan asing juga sudah ramai mencicipi sedapnya Ajo Ramon. Dengan perpaduan pedas dan asin rasa sate ini memang berbeda dengan sate umumnya.

Wisatawan asal Prancis sampai kepedasan ketagihan. "...rasanya sungguh enak...," ujar Tash yang sedang berlibur bersama teman- temanya di Indonesia. Sementara itu penikmat lokal menyebutkan resep Ajo Ramon beda daripada sate padang umumnya. "...gurih, dan bumbunya enggak bohong," jelas Sapto.

Rahasian sukses sate padang menurut Iwan. Beda dari biasanya, pelanggan bisa memilih sendiri satenya dan lengkap, dari lidah, usus, jantung, dan daging aja. Kemudian sate disiram bumbu perpaduan 35 bahan rempah. Penjualan sampai 8 ribu tusuk dengan omzet mencapai Rp.16 juta per- hari dengan tujuh cabang.

Total pegawai bisa dipekerjakan sampai puluhan loh. Kunci sukses menurut anak Ramon Tanjung adalah konsisten. Kualitas ada pada rasa, tidak bisa dipungkiri persaingan makin menjadi. Untuk tetap menjadi pemenang Sate Padang Ajo Ramon mempertahankan kualitas produknya.

Rumahtopi.com Perjalanan Bisnis Ahlinya Topi

Profil Pengusaha Iqbal Rahmanuel 


 
Sukses Iqbal Rahmanuel tidak seketika. Bisnis dijalankan pengusaha muda satu ini memang terlihat sangat sederhana. Bisnis aneka penutup kepala yang bisa dilakukan semua orang. Butuh cara berbeda biar Iqbal mampu memecahkan kebuntuang bisnis.

Ide kreatif perantau Medan adalah menspesifikasi dirinya. Bisnis bertema rumah topi dimana setiap orang akan menemukan topinya di sini. Guna mendukung bisnis Iqbal membangun  www.rumahtopi.com inilah ujung tombak bisnis topi berbasis internet.

Inspirasi mendorong membuka bisnis topi. Dia merasa kesusahan mencari topi. Loncat sana, kemudian ke sini, tidak ada tempat pasti dimana dia memanjakan hobinya. Rumah Topi adalah bisnis menawarkan aneka jenis topi bahkan paling susah dicari sekalipun.

Bukan bisnis topi biasa


Awal dia iseng mencari topi bermodal tidak biasa. Dia mencari topi komando dan topi lukis. Kan susah tidak umum dicari anak muda. Ternyata meskipun lewat internet, masih susah ditemukan dimana bisa dia mendapatkan topi- topi tersebut.

Ia kemudian menemukan masalah sama dirasakn orang lain. Inilah kesempatan bisnis jika Iqbal mampu memenuhi kebutuhan mereka. Sebuah peluang bisnis ketika menemukan permasalah serupa di berbagai forum internet. Bermodal uang Rp.5 juta dia mulai membantun website www.rumahtopi.com dan mulai memasok.

Beberapa jenis topi ditemukan langsung dijual. Topi tersebut jarang ditemukan di pasaran. Berkat ide itu Iqbal mampu mengantongi omzet Rp.17 juta- 20 juta, dimana topi dijualnya 150- 200 topi dan margin untungnya 40% loh.

Dimana ada 25 jenis topi dengan variasi model berbeda banyak. Contoh topi snapback, trucker, newsboy, ushanka, hingga flat cap yang susahnya minta ampun dicari di Indonesia. Cara Iqbal memenuhi produksi ialah dengan menggaet pengrajin topi asal Bandung, lainnya Iqbal mengimpor dari pabrikan di China.

Topi beraneka macam, dari pria, wanita, anak- anak, tersedia di Rumah Topi. Strategis sosial media dia lebih pertegas agar bisnisnya menggaet lebih banyak. Marketing Iqbal memang tidak face- to- face tapi ternyata lebih efektif dibanding perkiraan orang.

"Kami juga melakukan promo langsung dan berinteraksi dengan konsumen di sosial media," tuturnya. 

Tiga tahun berbisnis bukan tanpa kendala teman. Dia mengaku ada beberapa hal: Salah satunya pemasok produk topi, yang mana awalnya dia membuat berdasarkan karena belum ada pegawai. Padahal pesanan besar sekali ketika bisnisnya terus berkembang, Iqbal sempat keteteran tetapi berhasil melewati masa itu.

"...bahkan saya pernah menolak pesanan 1.000 topi," kenang Iqbal. Dengan jujur dia mengatakan kondisi perusahaanya kala itu. Mau bagaimana lagi bisnis Iqbal memang baru dimulai.

"Lebih baik kami jujur supaya konsumen tidak kecewa," paparnya. Keutelan Iqbal terbayar dengan pusat produksi sendiri di Surabaya. Kanapa bisnis Iqbal sukses karena balum banyak orang menggarap pasar itu. Ke depan dia berharap Indonesia menjadi produsen topi berkualitas dunia.

Ia menyebutkan bahwa pengrajin kita itu punya kreatifitas tinggi. Masalah pengrajin adalah di manajemen produknya. Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR angkatan 2012 ini, juga masih semangat mengerjakan kuliahnya.

Bisnis terus


Begitu meliat peluang bisnis topi. Dibenak Iqbal adalah bagaimana agar nomor satu. Bagaimana caranya agar toko onlinenya nangkring di halaman pertama Google. Nama Rumah Topi juga sudah termasuk satu doa dia panjatkan agar menjadi pusat topi Indonesia.

Menurut Iqbal tempatnya merupakan pusat topi terbesar. Pemuda kelahiran 9 September 1993 ini, mulai resmi membuka bisnisnya pada Maret 2012 silam. Selain berbisnis topi, Iqbal juga membuka usaha lain, seperti Raja Tas Kertas dan Es Krim Creamel. Kuliah sambil berbisnis dijalankan penuh semangat tanpa ragu.

Keuntungan dicapai sekarang sampai Rp.20 juta. Iqbal juga sudah memiliki toko offline di Jalan Kapas Kampung No.45, Surabaya.  Meskipun sibuk berbisnis Iqbal tidak lupa kuliahnya. Semua sudah dia jadwal dengan baik. Karena baginya masih merupakan kewajibannya sebagai mahasiswa untuk mengikuti kelas.

Kan kita bisa memilih sendiri jadwal biar tidak benturan. Kesuksesan Iqbal tentu membanggakan kedua orang tuanya. Membuat orang tua bangga sudah lebih dari cukup. Bisnis asyik tetapi menjadi mahasiwa adalah kebanggaan orang tua. Disini dia bisa mengaplikasikan ilmu manajemennya secara langsung kerja.

Saran Buat Online Shop Baru dari Pengalaman Shinta

Profil Pengusaha Shinta Chandriani 




Ketatnya persaingan bisnis online tidak membuatnya ragu. Semua orang seolah bisa memulai satu bisnis online, tetapi tidak semua seberuntung Shinta Chandriani, gadis 18 tahun, kelahiran 18 Oktober 1997, Jakarta, yang memulai bisnis dengan mengambil barang dari suplier impor.

Dia yang masih mahasiswa semester 1, Jurusan Akuntansi di sebuah Universitas di Tangerang, bercerita kepada pewarta Studentpreneur.co bahwa bisnis pertamanya gampang kok. Dia berbisnis aksesoris saja. Dimana dia ambil barang dari importir asal Korea, Tiongkok, dll.

Berjalan waktu Shinta mulai merambah pakaian. Bisnis Shinta terus berkembang, bervariasi dibanding dia sebelumnya, tetapi tidak segampang orang lain. Shinta memilih cara baik berjualan. Dia meyakinkan diri dulu bahwa apa dijualnya merupakan produk berkualitas.

Dia sebelum jual, barangnya disurvei dulu. Shinta tidak segan merogoh kocek buat beli. Dia coba sendiri kemudian baru beli banyak buat dijual. Tidak cuma pakaian, ada sepatu dan aksesoris seperti blazer dan lain- lain, tidak cuma impor kok adapula produk baju dan sepatu lokal.

"Saya jual produk, saya beli dulu, apakah sebagai costumer saya merasa puas," jelasnya.

Biasanya itu dia lakukan  ketika mau membeli produk baru. Untuk masalah tersebut dia cari suplier yang mau return jika produk cacat.

Jualannya lewat Instagram dan BBM, nama onlineshop nya Blythebloosom dimana omzetnya lumayan sampai jutaan rupiah. Bisnis pertama kali Shinta tidak membuat stok produk alasannya karena dana yang dia miliki terbatas, tetapi tetap sukses kan.

Bisnis reseller


Ketatnya bisnis tidak membuat Shinta minder. Justru dia makin bersemangat jualan. Karena pada dasarnya dia memang hobinya berjualan. Sejak SD malahan, walaupun jualannya masih tidak jelas mulai dari jualan mote, gantungan kunci, sampai tas mote. Kalau untungnya namanya anak- anak pasti tidak fokus jadinya.

Sayangnya, jaman sekarang udah gak jaman mote, bisnis tersebut akhirnya hilang. Dan tergantikan dengan bisnis online sejak SMA kelas 1. Berawal dari seorang teman yang memulai dulua. Dia punya online shop lantas Shinta liat kayaknya seru. Kemudian lahirnya online shop bernama Shinchan Olshop dari singkatan nama.

Maskuk kelas 3 SMA, Shinta memilih fakum, dimana konsentrasinya ada pada ujian nasional. Lalu setelah itu dia mulai melanjutkan dan diberi nama seperti di atas, Blythebloosom. Cara berjualan juga sudah beda dari sebelumnya, kalau dulu dia jualan di Facebook sekarang di Instagram.

Jualannya aneka fashion wanita, pemikiran Shinta adalah hobi belanja wanita tidak akan ada matinya, dan itu juga berpengaruh pada perubahan trend wanita. Shinta diharuskan mampu mengikuti kebutuhan pasar. Pelanggan pertamanya adalah temannya sendiri. Dari mereka jualannya laku pertama kalinya dan membua semangat.

Tantangan bisnis onlineshop adanya barang beragam, harga bervariasi, banyak pesaing yang juga tidak kalah kreatif dengannya. Enaknya gak usah ribet karena tidak terpaku waktu. Selama mempertahankan kepuasan konsumen dan mempertahankan harga, maka kelak dia yakin bisa memiliki merek sendiri.

Kalau ada komplain beda gambar dangan barang. Menurut Shinta, sudah diminimalisir dengan sudah dia survei dulu, namun ya namanya manusia beda dikit meski masih bagus dikomplain juga. Jika terjadi itu maka dengan legowo Shinta meminta maaf sebesar- besarnya.

Bahkan dia kasih voucher diskon pembelia berikutnya. Di sisi lain, tidak sedikit pembeli puas, makan tidak segan mengupload selfie dengan produknya dan ditag ke dia. Untuk kedepan mau apa lagi, Shinta sudah punya rencana yakni membuat baju dan sepatu mereknya sendiri dimana bertahap sudah dimulai.

Untuk sementara dia mau fokus belajar lebih banyak. Terutama soal manajemen dan marketingnya, Shinta inginkan sistem yang lebih rapih dari bisnisnya sekarang seperti ketentuan reseller dari dia. Saran dari Shinta kalau mau bisnis cobalah mencari target pasar, survei pasar, dan dipikirkan dulu apa produknya.

Aplikasi Pertolongan Anak Dibully Gampang Kok

Profil Pengusaha Natalie Hampton 


 
Terkadang seorang anak membutuhkan tempat sendiri. Adapula anak yang memang lebih suka menyindiri. Namun jangan biarkan mereka sendiri tanpa teman. Pengalaman menjadi sosok dibully pernah dirasakan oleh Natalie Hampton. Hanya karena dia berbeda bukan berarti malah dijauhi menjadikan semakin sendiri.

Sebagai siswa sebuah sekolah anak perempuan di Sherman Oaks, California, merasakan betul bagaimana dia makan sendirian. Menjadi anak yang duduk di pojokan makan bekal sendiri adalah "prestasi". Sesuatu yang tidak adapat Natalie lupakan sepanjang sekolah menengah.

Gadis 16 tahun tersebut merasakan penolakan, malu ketika mendatangi sebuah meja. Berbeda anak- anak lain Natalie mampu mengendalikan dirinya. Akhirnya dia punya teman berkat keberaniaanya untuk duduk bersama anak lain, walau mata mereka tidak bisa bohong pada awalnya.

Tak kenal maka tak sayang. Natalie kemudian menemukan titik temu. Bagaimana membantu teman- teman seperti dirinya untuk dapat teman. Bagaimana anak lain sadar bahwa mereka yang makan sendiri bukan mau hidup sendiri. Mereka butuh rangkulan dahulu. Mangkanya Natalie membuat sebuah aplikasi bertema makan.

Dia masih ingat karena suka menyendiri. Dia diperlakukan berbeda. Dianggap membedakan diri atau juga dianggap sombong. "Saya diberi tau oleh seorang teman sekelas bahwa saya begitu jelek," sangat lah menakutkan dan semua orang terasa membenci mu.

Makan bersama


Sejak menjadi sosok lebih terbuka, Natalie mulai mengikuti aneka kegiatan membantu anak lain. Ingin memberi mereka jalan agar menjadi lebih baik. Namun dia menyadari bahwa waktunya terbatas. Ketika ia keluar dari kampus tersebut maka tidak akan ada lagi bantuan buat anak korban bully.

"Jadi saya berpikir menciptakan sebuah aplikasi merupakan satu jalan terbaik untuk membantu anak- anak di sekolah dan ruang makan siang baru dan membantu mereka menemukan mereka rumah baru," ia berkata.

Dia kemudian membentuk sebuah tim proyek. Mereka menciptakan aplikasi pribadi. Dimana orang- orang di sekitar akan menyadari keberadaan mereka tanpa mempermalukan mereka. Anak yang duduk sendirian akan tau kalau ada meja kosong tanpa harus meminta tetapi malah diajak lewat layar smartphone.

Dalam seminggu aplikasi buatannya didownload 10.000. Yang mana semakin besar, dan sungguh sangatlah mengejutkan karena sekedar proyek kecil- kecilan sederhana. Jika sebelumnya dia pikir akan hanya masuk ke sekolahnya. Eh, ternyata, malah mengglobal lebih banyak dan umum dipakai pengguna smartphone.

Ada orang dari Maroko, Australia, Inggris, Prancis, yah tidak terbatas di Amerika saja. Ternyata niat baik Natelie tersampaikan.Masalah Natalie memang bukan masalah pribadi. Umum, dibanyak tempat anak- anak terkadang malah duduk sendirian ketika istirahat makan siang atau sekedar jajan.

Aplikasi yang dibuatnya memang bersifat umum buat siapapun. Dia bukan satu- satunya yang merasa sendirian di dunia sekolah menengah. Dan sampai sekarang, Natalie juga masih merasakan hal tersebut loh, tetapi dengan kadar berbeda.

Karena Natalie punya pandangan optimis. Tetapi sekali lagi, tidak semua orang memiliki pemikiran yang sama sepertinya. Diantara perasaan sendiri Natalie menyadari bahwa di sekolah juga ada anak baik kok. Mereka yang peduli sesamanya dan dipermudah mencarinya lewat aplikasi tersebut.

"Saya baru menyadari berapa banyak orang yang peduli dan membantu setiap harinya di komunitas sekolah sampai saya membuat ini," jelasnya.

Perasaan takut ditolak anak- anak seperti Natalie akan selesai. Karena begitu mereka melihat layar akan terlihat meja mana yang kosong. Dan teman kamu akan memberikan tulisan ajakan, menguatkan untuk tak ragu datang dan duduk bersama. "Jadi tidak ada lagi rasa malu. Tidak ada isolasi. Itu akan jadi lebih mudah."

Meskipun begitu bentuk bully lainnya mengkhawatirkan. Bentuk cyber bullying menjadi masalah Natalie perhatikan akhir- akhir ini. Inilah cara dia menciptakan sosial media yang bersih. Melalui membuat app sendiri untuk menolong anak- anak introvert. Pertumbuhan aplikasi Natalie bagus didukung oleh banyak orang.

Lewat aplikasi tersebut dia punya teman, temannya akan mengajak teman lain di sekolah, Natalie juga dibantu keluarga yang membantu aplikasinya masuk ke sekolah lain. Senang karena tidak ada penolakan dari setiap sekolahan mereka masuki. Harapan Natalie adalah membantu orang lain, meskipun hanya satu.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba