Donat Mungil Malang Diantara Inspirasi Bisnis dan Agama

Profil Pengusaha Putri Priyanti 



Tidak pernah disangka akan sesukses kini. Putri Priyanti hanya seorang ibu rumah tangga. Hingga dia sadar bahwa ada potensi bisnis ditangannya. Melalui makanan donat mampu mengantongi omzet mencapai Rp.25 juta per- bulan. Padahal bisnis ini awalnya sekedar sampingan tidak sangka akan sebesar sekarang.

Ulet, kerja keras, dan pantang menyerah menarik perhatian masyarakat. Lihat saja produk disuguhkan oleh bisnis "kecilan" Donat Mungil. Yang lambat laun untung bisnisnya tidak semungil namanya.

"Saya pembeli online, donatnya enak. Adonan tidak terlalu manis ditoping," jelas salah satu pelanggan Putri ketika diwawancara.

Usaha rumahan bertempat di rumah sendiri, Oma View daerah Pinggiran Timur, Kota Malang. Modal awal cuma Rp.50 ribu kini menjadi buruan masyarakat di Kota Malang. Ibu muda ini mempekerjakan lima orang wanita menjadi bagian produksi dan kurir antar donat.

Dimulai sejak setahun terakhir dan mengambil banyak perhatian masyarakat. Unik karena ia memadukan marketing sosial media serta marketing tradisional. Bisnis Donat Mungil dikemas sedemikian rupa sehingga tidak kalah kemasan dengan produk donat asing.

Aneka toping dibentuk sedemikian rupa jadi imut. Menarik tidak cuma kemasan tetapi topingnya. Coklat berasa enak tidak enek karena kecil mungil.

Harga perkemasan yakni Rp.15 ribu sampai Rp.63 ribu. Donat Mungil Putri Priyanti telah mampu menarik perhatian masyarakat Malang. Cuma suatu kejadian sempat membuat gaduh ramai di sosial media. Meski begitu ia tetap yakin tidak akan mempengaruhi omzet penjualan.

Alkisah sang pemilik mendapatkan orderan donat bertema Natal. Namun karena tidak sesuai dengan apa yang diyakini pemilik sebagai muslim; permintaan itu ditolak halus. Sayangnya, sosial media memang bermata tua, tajam dan tumpul malah membawa masalah tersebut merembet ke arah kebencian.

Secara tegas Putri menjelaskan ini masalah kepercayaan dirinya. Pengguna sosial media menyebut dirinya diluar nalar karena menulis ucapan Selamat Natal bukan hal besar. Bahkan harusnya dilakukan karena telah menjadi satu bentuk toleransi. 

"Sebagai Muslim kita tidak dibolehkan ya untuk seperti itu (mengucapkan selamat Natal)," tegasnya.

Akibat itulah dia mendapatkan cacian pula. Namun tidak sedikit orang mendukung sikap tegas Putri akan kepercayaanya. Apalagi menurutnya kebebasan agama sudah diatur oleh Undang- Undang. Pihak si Donat Mungil sendiri memang tidak menyebarkan SARA, tetapi menolak untuk menuliskan ucapan Selamat Natal.

Pelopor Wirausahawan Muda IT Ridwan eBdesk

Profil Pengusaha Ridwan Prasetyarto



Dia dikenal sebagai pengusaha era 2000 -an. Namanya sempat disebut sebagai pengusaha muda dibawah 35 tahun. Kala itu entrepreneurship masih dalam ketidak pastian. Menjadi pengusaha bukan pilihan utama, internet tidak melaju pesat seperti sekarang, maka inilah kisah Ridwan Prasetyo.

Tidak banyak kisah dapat ditemukan ketika dicari. File artikel diantara tahun 2000- 2009 ditelusuri. Yang pasti dia dikenal sebagai CEO eBdesk. Sebuah perusahaan software perintis bagi masyarakat Indonesia.

"Saya tidak bergaya seperti bos," tuturnya. Hanya orang biasa yang mengambil kesempatan. Berani kah kamu mengambil resiko. Juga bagaimana memasukan gaya berbisnis kamu. Dijamannya sudah menggunakan metode bisnis ala startup yang tidak terikat susunan hirarki.

Yang terpenting pekerjaan harus selesai tegas Ridwan. Sebaik mungkin bagaimana mereka mendeliver setiap produk mereka ke pasaran.

Bisnis software


Mendirikan perusahaan ketika umur 35 tahun. Dia bersama tiga kawannya sejak 1999. Barulah pada tahun 2001 mereka baru masuk ke ranah komersil. Bayangkan mereka memiliki banyak pelanggan besar, antara lain PT. Astra International, Telkom, PT. Rekayasa Industri, Satelindo, PT. Rajawali Nusantra Indonesia juga Pertamina.

Kebanyakan pelanggan dari Indonesia, juga Amerika Serikat, Arab Saudi, dan Malaysia. Didirikan oleh anak- anak alumni Institut Teknologi Bandung (ITB). Kantornya sejuk karena berpusat di Bandung, dimana berhawa dingin sejuk, sebuah rumah dan perkantoran jadi satu memiliki pekarangan luas.

Dari Amerika Serikat, pelanggan bonafitnya adalah Interim Healthcare, jasa outsourcing kesehatan. Kinerja mereka baik dan mampu mengantungi pendapatan Rp.4,5 miliar. Pada tahun 2002 membukukan laba bersih sampai 30%.

Perusahaan software yang melaju mengikuti perkembangan jaman. Dimulai dari perusahaan bernama Optima Infocitra Universal (OIU). Perusahaan perangkat lunak berbasis Microsoft dan Oracle. Dimana mereka ini mengembangkan software costumized. Fokus menangani bisnis khusus, maka eBdesk melepas diri dari OIU.

Sejak pertengahan 1997, Ridwan bersama kawan fokus membangun eBdesk, dimana merupakan jawaban atas ketidak puasan akan perusahaan software kala itu. Perusahaan dimasanya berorientasi proyek dan jasa konsultasi saja.

"Ini menjadikan kita pemakai software bikinan pemain besar dari luar," ujar M. Iqbal Noor, Chief Strategic Alliance eBdesk.

Dorongan memisahkan diri tersebut membuat mereka fokus. Mengerjakan software masal komersil pertama mereka. Namun tidak mudah mendesain perangkat lunak menjadi produk siap pakai. eBdesk butuh waktu sampai satu tahun sebelum akhirnya memasarkan produknya ke halayak.

Mereka bekerja melalui trial and error. Ridwan selaku CEO, mengaku pernah mengalami "salah" desain, yang terjadi karena tidak mampu mengikuti perubahan pasar. Ketika arah pasar berubah maka Ridwan juga harus mengarahkan perusahaan harus berubah. Padahal perusahaanya itu tengah giat mengerjakan software pertama.

"Kami pun terpaksa mengubah lagi desain yang telah kami buat sehingga investasi yang telah dilakukan kami stop," Ridwan menambahkan.

Analisa pasar tajam dilakukan oleh perusahaan. Belajar lewat keselahan mengakat hasil software mereka ke ranah internasional. Akhirnya produk pertama mereka jadi pada tahun 2001 dan telah terjual sampai 500 lisensi lebih. Sebuah software hasil rekayasa seharga $1.000 buat 25 pengguna, atau $40 per- pengguna.

Banyak pelanggan mengakui software mereka memang cost effective. Lebih rendah biaya dibandingkan hasil perusahaan lain. Produk bernama Corporate Portal Software versi 3. Dimana kamu bisa menggabungkan semua aplikasi perusahaan dalam satu interface atau layar. Sifatnya costumized dan gampang digunakan oleh siapapun.

Inilah kelebihan software karangan anak negeri ini. Berbasis internet membuatnya terkoneksi melalui sistem komunikasi per- komputer. Ridwan menyatakan faktor harga juga menjadi penentu penterasi produknya ke pasaran.

Sukses tanpa sorotan


Tentu tidak banyak orang Indonesia sadar akan keberadaan eBdesk. Lewat konsep matang serta harga yang bersaing, padahal, perusahaan ini telah sampai ke pasaran luar negeri. Nama Ridwan Prasetyo sempat ikut naik menjadi berita di media masa online.

Generasi pengusaha muda Indonesia pertama ini menjelaskan. "Produk kami memang tidak bisa menutupi semua kebutuhan suatu perusahaan, tapi produk kami buat ini mencukupi kebutuhan mereka, simple tapi efektif," jelas Ridwan.

Harga yang baik didukung kualitas baik. Ingat bukan menjual murah tetapi menjadikan terjangkau. Software bikinan eBdesk berbasis Linux membuatnya tidak terikat lisensi. Perusahaan mampu menciptakan perbedaan merebut pasaran. Cakupan pasar pun diperbatasi agar tetap unggul. Mereka menyasar perusahaan ukuran menengah.

Rata- rata pengguna adalah 25- 500 orang. Segmen tersebut memang sudah sejak awal. Jika dalam negeri sudah diserbu produk asing, maka eBdesk memilih pasaran luar negeri. Kecondongan ini memang sengaja mungkin menurut kami karena tradisi kita (mencintai produk asing.red).

Menembus pasar luar negeri memang tidak memudah. Tetapi mereka lebih menghargai value sebuah produk dibuat. Bukan soal branded nya tetapi kualitasnya. Meski begitu kualitas produk Indonesia khusus dibidang teknologi masih sederhana. Oleh karena itu dia meyakinkan kekuatan pelayanan agar dipercaya konsumen.

Untuk itu mereka membentuk jaringan di luar negeri. Sebuah kerja sama dalam hal teknologi, pemasaran, dan konsultasi.

Visi Ridwan serta pendiri eBdesk lain memang besar. Menjadikan perusahaan Software Corporate Portal yang memimpin pasaran di luar. Bukan sekala lokal tetapi sekala dunia. Mereka bahkan berani menargetkan negera- negara seperti Eropa, Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Mereka memasarkan melalui distributor independen. Produk mereka didistribusikan melalui para vendor hardware, konsultan software, dan pihak ISP. Melalui mereka lah produk milik eBdesk mencoba memasuki pasar dengan lebih dipercaya.

Uniknya mereka mendanai sendiri, dengan jumlah keryawan 27 orang, yang 23 diantaranya adalah ahli IT. Ridwan mengatakan investasi awal senilai $500.000- 1 juta. Dialokasikan untuk riset dan pengembangan produk. Jika untung maka akan langsung diinvestasikan kembali ke pengembangan produk.

Ridwan lantas bercerita kembali tentang perusahaanya. Pernah mereka memasarkan produk, eh ternyata, di luar sana ada perusahaan yang lebih dulu memasarkan produk sama. Sebuah "kecolongan" ujarnya kepada pewarta. Inilah pengusaha, masalah akan selalu menghadang tetapi harus dilewati karena kita belajar.

Target keuntungan tahun 2001 adalah $1 juta, dimana target penjualan 25.000 lisensi. Walau ia dan kawan- kawan telah sukses ekspansi masih dibidang sama. Mereka berprinsip berbisnis di ruang lingkup teknologi industri. eBdesk fokus mengembangkan perangkat lunak. Kunci sukses menurutnya adalah fokus di satu bidang.

Butik Sampah Yogya Modal Bungkus Mie Instan

Profil Pengusaha Hijrah Purnama Putra 


  
Dia memang peduli akan lingkungan. Dari pendidikan saja, putra asli Aceh ini, lebih memilih jurusan Teknik Lingkungan. Kepeduliannya pun tidak terbatas akan ras ataupun lingkungan. Hijrah Purnama Putra memilih untuk merealisasikan kepedulian justru di Yogyakarta.

Berkuliah di Universitas Islam Indonesia, Putra sudah peduli lingkungan bermula dari hal kecil. Hingga Putra begitu sapaan akrabnya menemukan konsep bank sampah. Lantas berlanjut membentuk apa namanya butik sampah sebagai media promosi.

Butik sampah layaknya seperti butik pakaian. Bedanya apa dipajang di etalase merupakan hasil daur ulang. Ia membuat aneka produk seperti tas bungkus makanan. Jangkauan produk butik sampah milik Putra sudah merata ke suluruh Indonesia. "...yang belum kita sampai Papua dan Maluku," ujarnya.

Ada keinginan kuat tidak cuma berhenti di Yogyakarta. Maka Putra berjuang keras agar mampu membawa konsep sampah modern ini menjadi nyata.

Sampah jadi jualan


Bermula aksi sederhana seperti mengumpulkan sampah di sekitar. Dia mulai dari warung bubur kacang ijo atau burjo dan angkringan. Aksi sederhana sejak tahun 2008 sampai menemukan butik sampah. Agar tidak cuma peduli lingkungan tetapi memberikan manfaat, maka Putra mulai membeli sampah dari masyarakat.

Ia mulai membeli sampah. Bersama seorang rekan sampai tahun 2009, sudah menggunung lah itu sampah. Ia mulai kebingungan mau diapakan sampah tersebut. Kemudian muncul ide tentang daur ulang sampah. Putra mulai memilah sampah serta memikirkan mau dijadikan apa.

Produk mereka pertama adalah seminar kit dimana dijual Rp.25.000. Perlengakapan itu menjadi booming dalam waktu seketika. Putra melihat peluang lebih besar maka terbangunlah bank sampah. Orderan seminar kit berbahan daur ulang melonjak sampai produksi 250 buah.

Bank sampah ini sudah dipilahkan jenis sampah bukan sembarangan. Fokus utama ialah sampah- sampah bungkus sachet makanan atau minuman.

Sosialisasi terus dilakukan agar bank sampahnya mendapat perhatian masyarakat. Terus terjual laris produk karya Putra, sampai terkumpul 205 kelompok petugas sampah sendiri. Masing- masing kelompok terdiri dari enam sampai delapan orang.

Dalam pengumpulan sampah terbilang mudah. Kelompok tersebut akan bersama mengumpulkan sampah. Dan nantinya ada tim yang melakukan penjemputan kelompok tersebut. Jika diibaratkan mereka adalah cabang bank sampah milik Putra. Harga satuan per- sampah mulai Rp.10- 70 dimana tergantung besar atau kecilnya.

Sebulan saja sudah dapat mengumpulkan 4.000 bungkus sampah. Putra pun mendapatkan penghargaan atas jerih payahnya sebagai wirausaha muda sosial juara pertama.

Bukan bisnis biasa


Tahun 2011, dibuka butik daur ulang, yang mana menurut Putra fokusnya memasarkan produk- produk dari hasil daur ulang. Utama produk karya Putra dan kawan- kawan. Produk karya Putra antara lain seminar kit, tas sekolah, goodie bag, dompet, tas laptop, bros dan lainnya.

Putra menyebut sudah ada 90 jenis produk berbeda. Butik daur ulang didirikan di Jalan Sukoharjo No 132 daerah Condongcatur, Sleman, Yogyakarta.

Tidak berhenti di produk lama, Putra terus berkreasi termasuk salah satunya produk tas lipat. Masyarakat sendiri meminati produk macam dompet, tas, dan map. Untuk harga jualnya relatif murah mulai Rp.6.000- Rp.275.000. Proses pembuatan terbilang cukup memakan waktu, tetapi mudah dipraktikan.

Pertama kali, Putra mengumpulkan sampah bungkus makanan atau minuman. Lantas dia berhitung berapa jumlah sampah terkumpul. Kemudian masuk tahap pencucian, dikeringkan, dan disortir kembali. Proses itu selesai sampah plastik akan masuk gudang dulu.

Kemudian sampah plastik tersebut dijahit, dibentuk, dan masuk ke tahap pengontorolan kualitas. Semua itu menjadi tahapan wajib sebelum barang siap dibentuk.

Sayangnya, masih banyak orang ragu untuk memakai produk karya Putra. Selain karena faktor kebersihan juga faktor malu menjadi kendala. Mereka malu kalau harus menjinjing tas hasil daur ulang sampah. Padahal Putra meyakinkan tahap desain sudah dibentuk sedemikian rupa.

Keawetan juga terjaga karena sistem quality control diterapkan. Putra sendiri masih memiliki banyak mimpi yang belum dicapai dari bisnisnya. Yakni bagaimana agar masyarakat yang menabung di bank sampah juga memakai produknya. Harus tidak ada keraguan memakai produk daur ulang sampah.

Untuk bank sampahnya, dia sedang menyiapkan sistem cek saldo lewat SMS. Bank sampah besutanya juga diharapkan mampu mengurangi sampah di Yogyakarta pada umumnya. "Kami dapat mengurangi jumlah sampah per hari di Yogyakarta mencapai 16,90%," tuturnya.

Selain dijual melalui butik, Putra juga menjual melalui berbagai pameran kewirausahaan Expo Wirausaha Muda Mandiri contohnya. Sambutan pengunjung expo juga baik tertarik akan kreasi Putra. Memang Putra tidak sekedar mendaur ulang tetapi terus berkreasi. Banyak tidak menyangka kalau produk tersebut dari limbah.

Sekilah memang tidak terlihat seperti sampah. Konsep selalu kreatif serta mengikuti mode membuat butik sampah berasa benar- benar butik. Kreasinya unik dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan daur ulang serampangan.

Bersama kawan Dosen UII ini hobi mengumpulkan bungkus mie instan. Terutama ketika mereka nongkrong di warung burjo. Sejak 2005 bersama kawan teknik UII menyambangi warung- warung mie instan yang buka 24 jam. Sebagai anak kos hobi mereka memang nongkrong dan menikmati malam di Yogyakarta.

Sejak 2009 mereka merubah bungkus plastik menjadi tas seminar. Pertama terjual 25 seminar kit dipesan oleh mahasiswa UGM. Tumbuh semakin banyak, Putra bersama kawan mulai rajin menyambangi warung ke warung. Di tahun 2012 barulah ide tentang toko khusus didirikan bersama penjualan yang terus meningkat.

Perbulan 300 bungkus sampah plastik bekas makanan dan minuman terkumpul. Berkat bank sampah yang dia gagas maka TPA Piyungan kehilangan sekitar satu ton sampah. Usahanya diharapkan semakin maju dan siap ekspansi membangun cabang di berbagai daerah.

Meski berstatus dosen sekarang, Putra mengaku bisnis sosialnya tidak mengganggu, karena dia dibantu oleh banyak orang. Banyak orang termasuk mahasiswanya mendukung Putra. "...tidak hanya memberikan teori tetapi mampu menujukan praktik," tutup Putra.

Mantan TKW Pemilik Usaha Peyek Wong Jowo

Profil Pengusaha Rida Wati 



Bekerja di luar negeri memang menjadi harapan beberapa orang. Namun sampai kapan kamu nanti mampu bertahan hidup jauh dari keluarga. Banyak loh pengusaha malah pengen pulang. Hanya saja kebutuhan hidup juga tidak dapat dielakan.

Salah satunya Rida Wati rela melepaskan pekerjaan jadi TKI. Sayaratnya dia harus memiliki usaha sendiri di kampung. Untuk itulah dia mengumpulkan uang buat masa depan. Tetapi justru bukan dari uang tersebutlah dia mendapatkan banyak untung.

Yah usaha ternyata tidak butuh modal banyak. 

Jangan biarkan diri mu terjebak dan menghentikan berusaha. Jika kamu TKI maka cobalah yang dilakukan oleh Rida. Gunakan uang modal seminim mungkin jadikan itu bisnis sampingan, siapa tau justru bisa jadi modal pulang.

Rida menyebut usahanya berawal dari bisnis sampingan. Berawal uang Rp.500 ribu yang disulapnya menjadi peyek. Bukan peyek tradisional seperti biasanya, dalam benak kreatif Rida mau dijadikan layaknya potato chip dalam kemasan.

TKW Hong Kong ini melanjutkan potongannya dibikin setipis mungkin. Kan biasanya peyek tradisional itu tebal serta terkadang alot. Kalau peyek Rida berasa lebih gurih karena tipis. Berkat usaha sampingan inilah dia bisa pulang kampung ke Cicalacap.

Keluar modal sedikit tetapi untungnya selangit. Ia menjelaskan kembali rempeyek kacang ini diberinya nama peyek Wong Jowo. "Saya terinspirasi potato chip, jadi sekali lahap langsung habis," jelasnya. Agar menarik masyarakat sekarang kemasannya dibikin semenarik mungkin.

Bermodal Rp.500 ribu dijadikan adonan satu kilogram. Kemasan mulai berbentuk kaleng -seperti halnya satu merek keripik- seharga Rp.35 ribu per- buah, adapula berbentuk plastik zipper seharga Rp.25 ribu, lalu ada kemasan kecil seharga Rp.5 ribu.

Dimulai baru dua bulan sejak akhir 2015, Rida mampu mendulang omzet mencapai Rp.10 juta per- bulan pada bulan- bulan pertama.

Usaha sederhana


Meski sederhana menampilkan dua rasa: Kualitas peyek Wong Jowo sangat menggugah selera. Penggunaan tiga wadah mampu menyasar dua segmen. Tiga kemasan berbeda memberikan penanganan berbeda. Jadi untuk kemasan zipper dapat disimpen lama dan mudah disimpan lagi.

Wanita berumur 33 tahun ini tidak menggunakan strategi marketing khusus. Dia dibantu sang suami yang dulu pernah bekerja menjadi marketing di perusahaan.

Beruntung karena komunitas pengusaha Banyumas ikut mendukung Rida. Berawal dari menjual ke toko- toko kecil, lalu masuk ke toko besar khas oleh- oleh, hingga Rida memasarkan ke restoran di sepanjang wilayah Banyumas.

Untuk pemesanan Jakarta baru datang lewat mulut. Masuk ke dalam komunitas pengusaha terbukti mampu menaikan kesuksesan suatu usaha. Diakui oleh Rida juga bantuan dari pihak Bank, seperti Bank Mandiri, lewat pelatihan bertajuk Mandiri Sahabatku mendorong dirinya berusaha lebih.

Pelatihan tiga bulan selama tujuh kali seminggu itu sangat berguna. Rida percaya diri memboyong bisnisnya ke Indonesia. Dalam pelatihan tersebut termasuk pemberian bapak asuh membimbing bisnis. Mereka para pengusaha sukses Indonesia.

Rida berharap makin banyak pengusaha yang berawal TKI. Justru ketika lapangan pekerjaan di Indonesia tidak cukup, justru terdapat kesempatan bagi kita.

Rempeyek Wong Jowo semakin terkenal di dalam negeri. Berkat mengikuti program kewirausahaan nilai dari brand milik Rida berjaya. Meski baru berjalan dua bulan mampu menembus Belanda dan Malaysia. Ia bahkan sudah menyiapkan program ekspor sejak Apri dan Oktober 2016 ini.

Mantan TKW ini masuk program Mandiri Sahabatku. Rida sendiri mendapatkan satu bapak asuh seorang pengusaha Batik besar. Berkat ia lah koneksi ke luar negeri didapatkan. Selain itu dukungan Bupati Cilacap terbukti ampuh mendorong bisnisnya maju.

"Belum ada yang serius menggarap rempeyek ini, padahal peluangnya cukup besar," terangnya.

Lewat kemasan kaleng memberikan unsur lebih. Rempeyek miliknya sudah seperti brand luar yang masuk ke Indonesia itu. Jumlah pesanan kemungkinan bisa saja besar. Untuk sementara distributor di luar tengah lagi mencoba mengetes pasaran Rempeyek Wong Jowo.

Sayangnya, berbanding terbalik dengan kesuksesan di luar. Rempeyek Wong Jowo masih dijual sebatas di toko oleh- oleh dan restoran sepanjang Jawa Tengah. Jakarta sendiri masih sebatas permintaan personal bukan buat distributor atau keagenan. Omzet perbulan dari usahanya sudah mencapai Rp.10 juta per- bulan.

"...rencananya mau varian rasa balado dan black papper," ujar Rida. Wanita berhijab ini sangat optimis akan jalannya untuk berekpansi.

Membuka Gym Sendiri Pengusaha Filipina

Profil Pengusaha Ricardo Marinduque 



Filipina tengah gencarnya memberikan bantuan modal. Terutama bagi Filipino yang bekerja di luar negeri jadi pengusaha di negeri sendiri. Berharap agar memberikan pilihan ekonomi terbaru bagi pekerja luar negeri. Nah salah satunya pengusaha sukses mendapatkan adalah Ricardo Marinduque, pekerja luar negeri.

Selama 15 tahun, dia bekerja menjadi buruh asing, Ricardo mantap memilih berbisnis gym sejak tahun 2005. Dia meminjam $4.500 dari Overseas Workers Welfare Administration.

Menjadi pengusaha tidak mudah. Ricardo membutuhkan waktu lama sampai mantap menjadi pengusaha. Ia juga membutuhkan dorong tidak cuma keluarga, tetapi pemerintah. Lulus sekolah menengah atas, ia langsung terjun ke dunia korporasi, dia langsung mencari pekerjaan tidak kuliah.

"Hidup itu susah," paparnya.

Bisnis untuk hidup


Dia mulai dengan menjadi pramusaji sebuah restoran. Pertama kali dia bekerja di daerah Malate, kemudian ke Manila, dan dan kemudian Makati. Tahun 1989, menurut wawancara bersama Enterepreneur.com.ph, ia melanjutkan bahwa dia lantas bekerja keluar negeri.

Menjadi buruh migram (TKI.red) menjadikannya pelayan buat rumah sakit militer, Saudi Arabia. Lantas dia masuk menjadi crew kapal mewah, bekerja menjadi bartender, penyaji wine, serta pelayan. Beruntung dia dapat menikmati perjalanan sampai ke tempat eksotis.

"Tujuan pertama adalah Tahiti," pungkasnya. Kemudian sampai ke Eropa, Amerika Serikat, bahakan sampai ke lautan Karabia.

Ketika umurnya sudah 40 tahun dunia terasa letih. Ia memilih kembali ke Filipina dan tingga menetap. "Itu sangat sukar bekerja jauh keluar. Anda harus jauh dari keluarga dan jam terasa sangat lama," kenangnya yang kini hidup tenang menjalankan usaha gym sendiri.

Bekerja di luar negeri membuatnya punya cukup uang. Banyak bisnis kecil- kecilan dilakukan mantan buruh migran ini; mulai dari apartemen sewa, tempat karaoke, minimarket. Tetapi mereka tidak mampu bertahan lama. "Saya tidak ada passion dengan mereka," Ricardo berdalih.

Tetapi hasratnya lebih ke arah olahraga. "Saya sangat suka ke arah olah raga, seni bela diri, ataupun angkat beban," jelasnya.

Tahun 2003 seorang kawan menawarinya mengambil alih bisnis. Membeli sebuah gym lama. Butuh waktu ia berpikir lama tapi melihat peluang. Benaknya waktu itu ialah akan susah jika membangun gym dari nol. Itu juga akan sangat mahal membeli peralatan baru. "Jadi saya mengambil kesempatan ini," ujar Ricardo.

Meski perlengakapan standar sudah ada. Dia merasakan butuh lebih dari peralatan tersebut. Jadilah keluar uang kembali senilai P200.000 untuk membeli peralatan memenuhi 200 meter persegi ruangan. Karena dia mempunyai passion, dia sudah menebak kebutuhan mendasar latihan harus dia miliki dan tambahkan.

Tentu saja, passion saja tidak cukup merubah bisnis tersebut sukses. Walau dia sudah menyediakan ruang bagi bela diri, karate, juga tekwondo sebagai latihan tambahan.

Tahun 2005, dia sempat patah arah, memutuskan untuk kembali gulung tikar berhenti berbisnis kembali. Itu semua karena penjualan melambat. Itu tidak berjalan baik. Dia sangat tergantung pengunjung mampir. Sama sekali tidak menarik perhatian klien tetap.

Untuk itulah dia mengikuti berbagai seminar tentang bisnisnya. Juga termasuk seminar manajemen termasuk yang diberikan oleh Overseas Workers Welfare Administration (OWWA). Dia serius belajar dari seminar yang diselenggarakan oleh University of the Philippines Collage of Human Kinetics.

Ricardo juga mempelajari tenteng nutrisi, anatomi, berbagai latihan dasar, penanganan kecelakaan, dan juga pelatihan lain spesifik. Dia juga belajar program kepemimpinan.

Lalu dia masuk menjadi anggota asosiasi pengusaha gym atau Association of Fitness Professionals of the Fililppines (AFPP). Melalui organisasi itulah ia menemukan channel bagaimana mengatasi masalah. Termasuk bagaimana menjalankan industri olah raga ini.

Pengusaha terus belajar


Dia hobi membaca banyak buku bisnis. Semua agar bisnisnya dapat naik terus, tidak malah gagal kembali. Kini kebanyakan kliennya merupakan pekerja kantoran. Bisnisnya mengalami kepadatan ya di pagi dan siang hari. Untuk meningkatkan kualitas dia menyewa pelatih berlisensi dan memberika pelatihan terprogram.

"Sebelum klien melakukan program pelatihan, kami mengadakan penilaian fitnes dan meneliti kesehatan," ia menyebut.

Jika perlu bahkan meminta catatan kesehatan dianjurkan. Ini agar Ricardo bisa menentukan sertifikasi tingkat kesehatan serta level pelatihan. Bisnis gym bernama Stamina Fitness Center ini semaki berkibar. "Itu sangat lah sukar. Akan ada waktu dimana saya selalu merasa akan gagal karena tidak tau lebih tentang bisnis saya jalankan."

"Karena ini hobi saya, saya mendatangi seminar untuk belajar lebih banyak," tambah Ricardo. Ia meyakinkan bahwa bisnis kecil dapat berkembang dan menjanjikan.

Berbicara tentang perjalanan bisnis, Ricardo berkata tentang kisah suksesnya, "ketekunan, kesabaran, dan pemahaman tentang bagaimana memadai."

"Bisnis adalah resiko anda ambil, satu hal yang kamu luangkan waktu dan kamu perjuangkan. Saya tidak bisa kuliah, tetapi saya belajar segalanya lewat pengalaman," tuturnya bijak.

Enam tahun kemudian Ricardo kembali meminjam uang. Tetapi, untuk kali ini, Ricardo sedang tidak akan menutup usahanya dan memulai kembali. Justru dia tengah berencana membuka cabang baru Stamina Fitness Center. Usahanya berjalan sangat baik, mungkin butuh waktu hingga bisa membuka cabang.

"Tidak ada bisnis akan gagal jika kamu memberikan perhatian," terangnya. Ricardo merupakan sedikit dari masyarakat Filipina yang mendapatkan kesempatan baru. Mendapatkan pinjaman lunak untuk memberikan lapangan pekerjaan baru.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba