Kaos Kaki Wudhu Soka Berbekal Keluhan Pelanggan

Biografi Pengusaha Aman Suparman


 
Punya hobi aneh malah menjadi usaha menghasilkan. Ini kisah Aman Suparman, yang sejak remaja hobinya mengumpulkan kaos kaki. Aneka bentuk dikoleksinya serta aneka motif menghiasi. Hobi mengumpulkan kaos kaki dari aneka bentuk, aneka motif, dimana Aman sendiri tidak tau pasti kenapa bisa begitu. Kenapa dia suka mengoleksi kaos kaki bahkan sampai kuliah.

Jika ditanya oleh pewarta kenapa hobi mengumpulkan kaos kaki. "Saya juga gak tau kenapa senang koleksi kaos kaki," jawabnya. Karena aneh dirinya kerap mendapatkan cemooh. Aneka ejekan berupa panggilan nyeleh datang dimasa- masa remaja, seperti sebutan Si Pengumpul Kao Kaki Bolong dan Bau. Atau lainnya, tetapi tidak membuat Aman menjadi berhenti.

Hobi Aman mendapatkan tempat malah ketika masuk ke dunia kampus. Tentu di kampus, anak muda bisa bereksperimen dengan penampilannya termasuk aneka jenis kaos kaki. Ia percaya diri saja memakai aneka kaos kaki bermotif aneh. Motifnya kadang berupa gambar kartun lucu, salur, atau pun motif lainnya yang tak biasa.

Setiap keluar negeri pun, dia akan mencari- cari koleksi kaos kaki terus. Perasaan membuka usaha kaos kaki muncul ketika memang susahnya hidup di kampus. Wajar saja, karena di kampus, dalam kehidupan di kampus membutuhkan banyak biaya.

Kaos kaki bolong


Pucuk dicinta ulam pun tiba dihadapan Aman. Waktu itu, ketika masih di kosan, kebetulan sekali salah satu penghuni mempunyai usaha kaos kaki. Dia tertarik hingga menyodorkan diri bergabung. Jadilah sejak Januari 2002, ia resmi menjadi distributor aneka jenis merek kaos kaki berbagai perusahaan. Namun, si patnernya ternyata harus pindah rumah, jadi lah dirinya harus memutar otak menjalankan usaha lagi.

Untuk pertama kalinya dia berpikir layaknya pengusaha. Memutar otak sendiri bagaimana melanjutkan usaha kaos kaki ini. Dia melihat peluang, pangsa pasar besar di bisnis kaos kaki, sayangnya dia tidak cukup buat menimba ilmu distributor cuma dua tahun. "Dan saya memanfaatkan peluang itu untuk dijadikan lahan usaha," paparnya.

Tidak menemukan jawaban akhirnya Aman nekat bikin sendiri. Modal Rp.2 juta dikeluarkan berbekal dari hutang ke orang tua. Uang tersebut dibelikannya kain di Cigondoweh, pusat grosir kain terkenal di Bandung. Soal jahitan diserahkan kepada orang lain lewat biaya produksi. Untuk motif dan desain pun dikerjakan dia sendiri berkaca dari hobinya.

Di 24 Mei 2004, resmi lah berdiri perusahaan bernama CV. Al- Amin. Usaha bernama sama dengan nama di kaos kakinya. Dia lantas jualin kaos kakinya lewat internet. Tetapi dia tidak lupa tidak berhenti dengan cara pemasaran konvesional dari orang- ke orang. Aman lantas menciptakan gebrakan lewat kaos kaki jempol yang terkenal itu.

Dimana kaos kaki bisa dikenakan buat dipakai dengan sandal. Kaos kaki yang punya lekukan diantara ibu jari dan jari kedua telapak kaki. Ini digunakan guna memudahkan kaum muslimin memakai kaos kaki tanpa mencopot jika tidak bersepatu. Kaos kaki Al- Amin namanya menggelora jualannya sampai tidak hanya di Bandung, tetapi menjalar sampai ke kota- kota lainnya.

Namun berjalannya waktu, ternyata banyak produsen kaos kaki meniru modelnya. Produk Al- Amin sudah memiliki banyak pesaing di pasaraan saat itu. "Modelnya hampir sama, tapi harganya lebih murah, dan kualitas dibawahnya," tutur Aman. Alhasil, dirinya mendapatkan keluhan dari agen resminya, tetapi berkah lain datang.

Ia sangat bersyukur karena menemukan keluhan. Berkat itulah usahanya bisa terevaluasi hingga tumbuh. Dia menyebut inspirasi, inovasi, kualitas produk. Ini semua didasarkan reaksi pengusaha terhadap lingkungan, ya termasuk dari keluhan mereka. Saat itu tahun 2004, keluhan datang dari seorang pelanggan bernama Ima, yang baru pulang dari berangkat haji.

Susahnya membuka dan memasang kaos kaki saat berwudhu membuat ide bisnis. Ia akan menciptakan saja kaos kaki wudhu. "Ada kaos kaki yang bolong gak? Jadi, kalau wudhu kaos kakinya gak perlu dilepas," kata Aman menirukan. Aman tidak membuang waktu merencanakan produk tersebut di dunia nyata. Pria asli Bandung, kelahiran 15 Januari 1982 ini, lantas melakukan serangkaian uji coba.

Kaos kaki Islami


Kaos kaki yang nyaman meski dipakai berwudhu sekalipun. Di tahun 2007, lahir lah produk bernama kaos kaki praktis, sayangnya nama tersebut kurang "ngeh" sehingga tidak laku. Sampai ia memutuskan memakai nama "kaos kaki wudhu". Inilah awal naiknya usaha miliknya kembali setelah sempat turun karena peniru- peniru produk Al- Aman.

Intinya kaos kaki dirancang sedemikian rupa hingga ada lubang di telapak kaki. Jelasnya, tinggal dilipat saja ke atas ketika mau mengambil wudhu. Sukses kaos kaki wudhu lantas dipakainnya brand kaos kaki Soka. Perusahaan mampu menghasilkan 12 ribu pasang setiap pemasanannya. Jika musim haji tiba maka akan naik sampai 3- 4 ribu lusin kaos kaki.

Jumlah sebanyak itu berkat para distributor, khususnya dari luar negeri, ya perusahaan Aman telah sukses di luar negeri menjual sampai Singapura dan Malaysia. Dua distributor saja sudah mampu sampai ke Kota Suci Mekah. "Saya dapat kabar dari teman yang pergi haji ke Mekah. Mereka melihat kaos kaki Soka sudah ada di sana," tututnya bangga.

Meski jumlahnya tidak banyak tetapi menjadi kebanggan sendiri. Tidak cuma musim haji, tren dari kaos kaki Soka bahkan tumbuh sejalan tren hijab, dan pada akhirnya kaos kaki Soka menjadi kaos kaki muslimah. Ya dimana banyak wanita mengenakan kaos kaki biar gampang ber- wudhu. Lalu di dunia haji, nama kaos kaki Soka juga memiliki tempat tersendiri yakni kaos kaki haji.

Aman senantiasa optimis meski usahanya mendapat masalah. Meski usaha perdana tetapi bisa langsung dia bikin sukeses, habat! Aman bahkan tercatat memiliki berbagai perusahaan bisnis, yakni ada PT. Mitra Niaga Internasional (MNI), PT. Soka Cipta Niaga (SCN), CV. Al- Amin, CV. Amini Sejahtera. Perusahaan kaos kaki tersebut memilik basis 55 distributor serta 144 agen tersebar di Indonesia dan luar.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Kaos Kaki Indonesia (APKKINDO) juga menjadikan ini ajang dakwah agar memudahkan kaum muslimin. Ia ingin kaum muslimin menutup aurat memakai pakaian yang nyaman. Lantas lewat distributor dan keagenan bisa dijadikan ladang Muamalah olehnya. "..menguntungkan dunia dan akhirat," tutup ketua III Himpunan Pengusaha Muda Indonesia ini.

Biografi Priyo Hadisusanto Tionghoa Tanpa Jarak

Pengusaha Pemilik Jajanan Taro



Meninggalnya pimpinan Tiga Pilar Sejahtera memberikan perasaan sendiri. Pasalnya, sejak lama penulis ingin menulis kisahnya, tepat setahun lalu dia berpulang ke sisi Tuhan. Banyak yang menangisi kepergiannya seperti sang Istri, Tanti Inge Sutanto, dalam ruang persemayaman yang dihiasai dekorasi warna ungu. Sang istri saat itu terlihat tegar menerima ucapan belang sungkawa.

Seperti  artikel di Soloblitz, seklumit sosok Priyo memang dikenal bersahaja, hingga tidak tercatat- catatan buruk di masa hidupnya. "Kalau ada Pak Priyo itu suasana jadi cair, banyak joke," tutur Achmad Purnomo, Wakil Walikota Solo. Salah satu pendiri PT. Tiga Pilar Sejahtera Food ini memang tidak pernah marah. Dia selalu ramah termasuk kepada karyawannya sendiri.

Meski kaya raya tetapi suka beramal. Meski keturunan Tionghoa, ketika masa kerusuhan 98, usaha miliknya selamat dari amukan masa. Sang keponakan, Budhi Istanto, menjelaskan sang ayah memilih berbicara halus. Meski dalam kemarahan hanya akan dipanggil dan diingatkan baik- baik. "Selama mengenalnya tak pernah Bapak menunjukan kemarahan," jelasnya.

Dia selalu memberikan wejangan. Priyo selalu mengingatkan ketika berbisnis harus mengedepankan pikiran positif. Jangalah iri kepada kesuksesan orang lain menjadi kunci.

Pengusaha mandiri


Tiga Pilar Sejahtera Food awalnya merupakan bisnis milik ayah Priyo. Sosok Tan Pia Sioe, memulai usaha sejak 1959, usaha pertamanya adalah pabrik pembuatan bihun jagung di Sukoharjo, Jawa Tengah. Produk pertama perusahaan ini adalah produk bihun bermerek Cangak Ular. Lantaran tidak bisa berbahasa Jawa, maka Priyo lah yang maju didepan untuk berkomunikasi denga para karyawan.

Tanpa disadari kelebihan Priyo bisa menjadi senjata sendiri. Berkat itu, ia memiliki andil besar menjadi satu penghubung dengan karyawan. Lewat kamampuan melihat budaya lokal jadilah dirinya presiden direktur. Di tahun 1978 tepatnya, Tan Pia Sioe meninggal, digantikan sang putra melanjutkan usahanya. Waktu itu nama Tiga Pilar Sejahtera (TPS) baru muncul di tahun 1992, dimana presidennya Stefanus Joko Mogoginta.

Stefanus Joko sendiri merupakan putra dari Priyo Hadisusanto. Kembali ke sebelum digantikan sang putra, jauh disaat masih sekolah dasar, Priyo telah dikenal memiliki intuisi bisnis tinggi. Dia rajin membantu bisnis milik keluarga. Ia terlahir dari pasangan Tionghoa, yang merintis usaha makanan di Sukoharjo. Sebagai satu keturunan Tionghoa asli Sukaharjo; Priyo bangga.

Karena dia mendapatkan pengalaman berbahasa Jawa aktif. Alhasil dia dikenal bisa berbahasa Mandarin juga berbaha Jawa. Ini sangatlah membantu ketika memulai usahanya sendiri kelak. Digunakannya bahasa Mandarin sebagai bahasa Internasional. Sementara ketika bersosialisasi terutama kepada karyawan maka dia menggunakan bahasa Jawa baik.

Mental berbisnis muncul tanpa pendidikan khusus. Naluriah, dia memilih berkawan dengan karyawan di pabrik, bahkan dia tidak pulang ke rumah tinggal bersama tiga adik perempuannya. Kemampuan berinteraksi inilah menjadi andalah Priyo dan Tiga Pilar Sejahtera sendiri merintis. "Dari situlah saya bisa belajar budaya Jawa, mulai bahasa hingga budayanya," ujar Priyo.

Jadilah dia menjadi perantara tumbuh pesat usaha Tiga Pilar Sejahtera. Layaknya sudah menjadi pengusaha profesional, dia sudah berkeliling berbisnis menjajakan produk. Dia berkeliling sampai ke Solo, Yogyakarta, Semarang, Pekalongan, Cirebon, Tegal, Jakarta dan berbagai kota lain. Priyo membantu menjajakn mie itu keliling.

"Ya pokoknya nyetori dari pasar satu ke pasar lainnya," kenangnya.

Meski sadar anak pengusaha, dia sama sekali tidak merasa risih menjajakan sampai ke pedagang tradisional. Justru dia mengaku sangat senang bisa bersahabat dengan para pedagang pasar itu. Ia sadar mereka lah yang menentukan jalannya usaha milik kedua orang tuanya.

Usaha milik sang ayah bermetamorfosi ditangannya. Menjadi PT. Tiga Pilar Sejahtera (TPS) Food.tbk sejak tahun 1992. Produknya meliputi aneka biskuit, mie, dan lainnya. Priyo sudah berumur 28 tahun ketika sang ayah meninggal. Dia diserahi tugas berat membesarkan perusahaan menjadi besar. Tetapi dia telah berhasil lebih dari itu, menjadi perusahaan multi- nasional.

Perusahaan yang berpusat di Jalan Raya Solo- Sragen Km16, Desa Sepat, Masaran, Sragen, menurut Priyo kapasitar produksinya telah mencapai 70.000 ton mi kering, 20.000 ton bihun kering, 1 juta bungkus mi instan, 3.500 ton permen dan 30.000 ton biskuit.

Dia sukses membesarkan nama produk turunan Cangak Ular sampai ke berbagai negara, seperti Malaysia, Singapura, Australia, Timur Tengah, dan Amerika Srikat. Ciri kesuksesan seorang Priyo adalah kepercayaan akan potensi lokal. Ambil contoh produk permen asam, yang sukses lokal, dan bisa sampai ke luar negeri semua berkat bahan lokal.

"...permen asam, di luar negeri luar biasa permintaanya, karena rasa dari bahan lokal ini memang khas; tidak ada di sana," ujar Priyo.

Priyo memang pandai melihat kelebihan disekitar. Dalam mengembangkan bisnis pun berasa seperti karakter Semar. Dia mengibaratkan Semar,"...mampu memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bersama." Tiga pilar sendiri memiliki arti sendiri; mengingat Tuhan, selalu bersosialisasi sesama, bersyukur kepada pemberi kehidupan.

Meski sukses merebut pasar impor, tetapi tetap, dia berprinsip lebih menekankan kepada pasar lokal. Dia ingat betul dan bersyukur kepada jasa pasar- pasar tradisional. Priyo mendukung majunya pasar termasuk di Kota Solo sendiri. Kebijakan pembatasan minimarket didukungnya, meski banyak produk Priyo terpajang rapi disana.

Sejak tahun 2001, Tiga Pilar Sejahtera Food sudah menggarap pangsa mie kering. Tetapi mereka juga masih mengolah mie bihun jagong loh. Dua tahun kemudian mereka berekpansif melalui akusisi perusahaan. Kala itu, pemegang jabatan direktur utama bukan lagi Priyo. Sang putra, Stefanus Joko Mogoginta, menggantikan tetapi masih Priyo, masih bekerja dibalik layar perusahaan hingga akhir.

Waktu itu, tahun 2003, TPS mengakuisisi perusahaan mie kering "Ayam 2 Telor" itu, ataupun PT. Asti Inti Selera (AISA). Nama perusahaan akhirnya tercatat dalam bursa mengikuti AISA. Maka tercatat lah nama perusahaan Tiga Pilar Sejahtera Food menjadi AISA di bursa. Usaha berjalan biasa- biasa saja semenjak akuisisi pertama tersebut.

Masuk tahun 2007, AISA berekspansi lebih giat, karena mampu meraup dana lewat saham sebesar Rp.327 miliar. Uang tersebut digunakan mengakuisisi tiga perusahaan sekaligus, yakni PT. Poly Meditra Indonesia (PMI); PT. Bumi Raya Investindo (BRI), dan juga PT. Patra Power Nusantara (PPN).

PMI merupakan perusahaan makanan ringan seperti biskuit, wafer, mie, dan permen. Sementara BRI juga PPN adalah perusahaan dibidang sawit dan listrik milik sendiri. Otomatis ini membuat perusahaan bisa hemat karena kebutuhan pengolahan tertangani mandiri. Alhasil pula, perusahaan bisa menjual produk makanan di angka kecil sesuai kantong masyarakat umum.

Tahun 2010, AISA mengakuisi lima perusahaan perkebunan sawit, semua untuk memenuhi kebutuhan dari BRI berproduksi. Tidak berhenti, langkah selanjutnya oleh AISA, adalah mengakuisisi perusahaan dagang beras, dan juga satu perusahaan penggilingan gabah petani. Jadilah jalan bagi perusahaan menjadi produsen beras yang menguasai 5% pasar lokal.

Di tahun yang sama, perusahaan mengeluarkan aneka produk makanan ringan. Sejalan perusahaan besutan Priyo akhirnya mengakuisisi salah satu merek jajanan terkenal itu, yaitu mengakuisis merek dagang Taro dari asalnya Unilever Indonesia.

Perjalanan Petani Menjadi Pengusaha Karet Burlian

Profil Pengusaha Burlian Hakim 



Anak muda yang merantau menjadi petani sukses di Lampung. Kisah Burlian Hakim tidak semanis bayangan tersebut. Sejak usaha keluarga bangkrut otomatis dia hidup berkurangan. Anak ketiga dari lima bersaudara asal dearah Komering ini, tidak kuat lagi. Sejak 1977, ia memilih merantau ke Palembang, dimana Burlian masih duduk di bangku SMA bermodal tiga baju dan dua celana.

Seperti anak muda lain memilih merantau kerana kemiskinan. Burlian pun sama saja, tetapi pilihannya bukan ke Jakarta atau Kalimantan. Disana tidak ada saudara sehingga dia memilih Kota Lampung. Alasan lain yaitu di sana ada saudara yang telah menjadi pengusaha sukses. Tetapi bukan mudah karena sesampai di sana toh Burlian tetap bekerja biasa.

Di Lampung, dia mendapat pekerjaan menjadi tenaga penjualan di perusahaan distributor milik PT. Pupuk Sriwidjaja (PUSRI). Dia menjual pupuk dan obat- obatan tanaman. Pekerjaan yang dilakoni sejak 1982, yang mana akhirnya dia membuka toko pertanian sendiri. "Waktu itu modalnya saya ambil kredit dari BRI sebesar lima juta," kenang Burlian.

Toko pertanian ini resmi dibuka pada 1983. Lantaran pengalaman di dunia pupuk dan obat tanaman, toko kecil itu bisa tumbuh pesat tanpa halangan. Dalam waktu relatif cepat mampu menjadi salah satu toko obat pertanian terbesar di Lampung. Sambil menjalankan toko tersebut, iseng, Burlian mulai bertani kecil- kecilan dimulai dengan menanam semangka.

Petani semangka


Burlian cuma berpikir sederhana,"...belum ada satupun kebun semangka di Lampung." Pria 51 tahun ini lalu menceritakan kembali kisahnya. Selepas tahun 1987, resmi Burlian muda sudah punya pendamping, hidup sudah berasa lengkap menjadi pengusaha pertanian di Lampung. Usaha toko berjalan sementara sela- sela waktu dijalankan mengelola perkebunan.

Sejak 1987, usaha semangka semakin laris apalagi semenjak dipindahkan ke Bandar Jaya, dimana mampu menghasilkan 70 ton sampai 100 ton buah semangka. Dimana 40% sisanya merupakan semangka tanpa biji. Harga jual semangka tanpa biji waktu itu mencapai Rp.1500 per- kilogram.

Sukses bahkan semangka tidak cuma dijual di Lampung, tetapi Burlian memasarkan sampai ke Jakarta dan Cibitung.

"Saingan saya adalah semangka Banyuwangi," tutur Burlian. Hasil berjualan semangka saja sudah mencukupi menghasilkan omzet Rp.20 juta per- hari. Ia semakin bersemangat bahkan semua aset tanah dijadikan kebun semangka.

Tidak berhenti di Semangka saja, akhirnya dia mencoba- coba menanam jeruk siam. Lumayan lah hasilnya tetapi ternyata tidak hoki. Karena meski panen, harga jatuh, padahal sekali panen saja sudah menghasilkan ratusan ton. Padahal kebun jeruknya cepat tumbuh karena tanahnya subur. "...subur sekali, buahnya lebat," kenang Burlian.

Maka lah, cuma lima tahun, Burlian bertahan menanam jeruk siam. Hingga tahun 1998, dia dan keluarga kecilnya meninggalkan Bandar Jaya kembali ke Bandar Lampung. Kali ini apa yang dikerjakan Burlian itu usaha besar, dimana dia membuka kantor kontraktor penyedia pupuk serta obat tanaman. Fokus bisnisnya proyek pertanian, perkebunan, kehutanan, hingga perhutanan.

"Ini semua gara- gara rengekan anak saya yang ingin melihat ayahnya berpakain dasi, sepatu, serta mobil bagus ketika berangkat kerja," kekeh Berlian.

Dia bercerita di tempat tinggalnya, Way Halim, merupakan daerah pegawai kantoran. Maka jadi tidak salah jika sang anak menginginkan hal tersebut. Mungkin dia sudah bosan melihat Burlian pakai pakaian seadanya, topi, dan bercelana pendek, berangkat ke kebun berkendara mobil pick- up. Sambil tergelak, disusul cerita Burlian bahwa kontraktor pertanian merupakan bisnis panas.

Pasalnya, dia harus bersaing dengan banyak pengusaha lain yang sudah mapan. Burlian bersaing ketat ketika maju dalam tender pemerintah. Setiap tender menjadi medan pertempuran diperebutkan. Sadar bahwa ini bukan dunianya perlahan tetapi pasti mundur. Dia melirik berdagang karet ketika berjalan mundur. Tetapi, ya sekalian saja, dia membuka saja pabrik pengolahan karet atau bokar.

Petani karet


Apalagi di Lampung, pabrik serupa masih sangat sedikit. Burlian lantas mencari lahan strategis di sekitar sentra karet di Tulang Bawang, Lampung Tengah. Modal membuka pabrik dihasilkan dari pinjaman ke bank BRI sebesar Rp.8 miliar di tahun 2004. Dua tahun berselang pinjaman berikutnya bisa naik sampai Rp.15 miliar.

"Saya namankan pabrik saya PT. Komering Jaya Perdana, sesuai daerah asal saya," jepas Burlian. Ini guna mengingatkan dia tentang Ridho Allah SWT. Dia sadar bahwa ini merupakan hasil kerja keras karena berani merantau ke Lampung. "...bukan warisan," bangga pria bersahaja ini. Di tahun 2007, pinjaman dari bank ia naikkan sampai Rp.35 miliar.

Namanya pengusaha semakin besar usaha maka semakin besar hutangnya. Bapak enam anak ini mempunyai pabrik baru mengolah 800 ton per- bulan. Pengolahan tersebut mampu menghasilkan setara dari Standard Indonesia Rubber (SIR) angka 20, dari tingakatan SIR 10, SIR 20, SIR 25. Hingga ia menjelaskan sembari berpromosi cocok buat industri pengolahan ban.

Usaha barunya ini mengekspor 90% hasil produksinya ke berbagai negara di Asia, seperti ke China, Korea dan Vietnam. Jujur saja, kebun karet milik Burlian sebenarnya kecil, itulah untuk memenuhi kebutuhan buat ekspor diambil dari petani. Seiring pertumbuhan hutang semakin besar bahkan mencapai Rp.10 miliar cuma buat intensifikasi pabrik.

Total Burlian memiliki 280 orang karyawan. Sebagai seorang pengusaha pengolahan karet, tidak cuma soal pegawai, tetapi dia memegang nasib hidup para petani karet. Ketika harga karet dunia turun dari $2,8 per- kilo menjadi $1,2 per- kilo otomasti menjatuhkan ekonomi petani karet. Untuk pengolahan karet seperti dia harga berapa pun tidak merugi karena pasti terjual.

Burlian tidak bisa membantu banyak. Tetapi memang untuk masalah ini, pemerintah diharapkan berperan aktif, seperti halnya pemerintahan Thailand terhadap nasib petani karet. Negeri Gajah Putih tersebut memberi kompensasi ketika harga pasaran karet menurun. Mereka bahkan melarang mereka menyadap sampai harga kembali normal.

Hal lain kenapa petani karet Indonesia lemah, selain karena harga jual ya karena produksinya rendah dan juga kualitas karet rendah. Para petani Indonesia tidak bisa menikmati harga jual meski normal. Istilahnya ya kalo kebun karet terbesar dimana ya di Indonesia, tetapi kualitas terendah dan tingkat produksi terendah ya di Indonesia pula. "Yang paling jelek dan paling sedikit juga Indonesia," tuturnya getir.

Bahkan hitungannya dibawah SIR, bahkan 10% lebih rendah dibawah harga standar karet Thailand atau di Malaysia. Ia mencontohkan Thailand bisa dicontoh oleh pemerintah. Selain itu Burlian berharap perbaikan di mutu komoditinya sendiri. Dia mencontohkan sendiri yakni lewat mitra kerja. Para petani dibawah usahanya, ia kunjungi dan edukasi sendiri agar lebih berkualitas.

Meski sudah diedukasi tetap saja petani nakal ada. Mereka tak segan menambah pasir atau tanah agar karet lebih berat. Untuk itulah dia akan tetap mendidik sambil membuka peluang lain. Termasuk membuka peluang bagi keluarganya sendiri. Seperti dia memberikan pengelolaan warnet, stasiun radio, minimarket, berbagai usaha,  kepada keponakan- keponakan.

Untuk pewaris usahanya sendiri tengah berkuliah di President University. Dia sudah disiapkan Burlian lewat kunjungan ke pertemuan internasional pengolahan karet. Usianya yang tidak muda lagi kini cuma dijalankan lewat beribadah mendekatkan diri kepada Tuhan Allah SWT. "Apa yang saya dapat sudah lebih dari cukup, " tutup Burlian Hakim.

Aplikasi Tripping Tempat Mencari Traveling

Profil Pengusaha Jen O'Neal

 

Berlibur tanpa menginap tidak akan memuaskan. Butuh liburan panjang, tidak terikat dengan tarif spesifik di satu tempat tinggal. Tripping.com memberikan fasilitas lengkap rental properti. Tidak cuma memberikan satu layanan hotel tetapi paket pariwisata. Ketik aplikasi hotel- booking, atau bahwa Airbnb sekalipun, tidak bisa lebih baik buat liburan panjang kamu tanpa ribet apapun.

Pendirinya, Jen O'Neal, merupakan sosok dengan penglihatan disela- sela ramainya pasar. Ketika Airbnb coba mengambil alih ditengah pelayanan hotel standar. Maka, Tripping memberikan nilai tengah dalam hal mesin pencari tempat liburan lengkap. Dia mempunya catatan pengalaman kerja panjang. Pernah menjadi no. 5 di perusahaan Stubhub.com dan cabut, ketika itu, ia tercatat menduduki jabatan wakil presiden marketing.

Jauh sebelum melahirkan Tripping, dia pernah melakukan banyak perjalanan panjang. Ia pernah singgah di Cost Rica, lantas baru berangkat  ke London, bertemu Eric Baker salah satu pendiri Stubhub dan bekerja penuh bersamanya. "Saya harus menjamu 150 travelers," kenangnya.

Sejak itu, hasrat O'Neal akan membangun sebuah sosial network untuk mengkoneksikan pecinta perjalanan, seperti dirinya, dengan lingkungan sekitar tumbuh. Disini lah sosial network sekaligus agregator rental Trippining. Ke arah bagaimana tidak cuma memberikan sewa tempat, tetapi berbagi hal kultural, melalui berbagi secangkir kopi, segelas bir, atau tinggal di tempat mereka.

Diluncurkan sejak 2011 tetapi sudah dikerjanya bersama Nate Weisige mantan koleganya di Stubhub, meski tahap beta, mereka sudah memiliki anggota di 130 negara. Ketika para back- packer mau mencari tempat untuk mencari petualangan. Maka, disinilah O'Neal memberikan, lebih lama dan lebih lengkap Tripping bekerja sama dengan perusahaan rental -seperti VRBO, Homeaway, dan Booking.com.

Ini juga termasuk rencana memasukan listing Airbnb sebagai pilihan.

"Sejarahnya cara pencariannya adalah kamu akan mencari rumah sewa di internet, kamu akan menghubungi mereka lewat email, dan kamu datang ke sena bersama uang cek," paparnya. Tetapi lewat Tripping kamu bisa melihat mereka secara real -bahkan bisa sampai lima tempat berbeda sebelum memutuskan. Agar tak terjadi permasalahn Tripping menawarkan konsep cek- in via Skype.

Perusahaan akan memastikan kepemilikan rental, yakni lewat face- to- face Skype dengan staf Tripping. Kita sebagai pemilik rental atau menyewakan rumah harus memilik paspor, pengakuan dari bank, dan sistem pembayaran jelas. Semuanya ditunjukan lewat Skype bermodal kamera webcam masing- masing. Usaha ini cukup berhasil menghasilkan tujuh minggu pertama 2015, omzet senilai $150 juta booking.

Utamanya Tripping akan fokus mengambil keuntungan lewat kerja sama. Sekitar 30 organisasi bergabung di dalam Tripping -program perjalanan sekolah, organisasi diving PADI, universitas- telah bergabung aktif di komunitas Tripping. Skenario menurutnya adalah kamu bisa mencari organsisasi tertentu, seperti golf, lantas mencari badannya, skenario tempat, serta pelayanan macam apa.

"Saya pergi ke acara Tripping ini masuk ke sebuah bar di San Francisco. Saya tidak benar- benar yakin apa yang diharapkan, tapi ada orang di sana dari puluhan negara yang berbeda yang telah menggunakan Tripping untuk kunjungan mereka ke San Francisco. Antusiasme mereka hanya menular, " review Nicole Perlroth, salah satu penulis di Forbes.com.

Berdasarkan analisa O'Neal, industri perjalanan (travel) merupakan pasar $100 juta, dan menariknya meski sudah banyak berbasis online -seperti Airbnb, Priceline, Tripadvisor- cuma bisa mencangkup 22 persen saja dari potensi pasar. "Ini gila banyak orang berpikir brand mereka sangat besar, padahal itu jelas disana masih banyak sela di pasar," ujar O'Neal.

Penerus Salon Itje Her Hair Berbagi Kesuksesan

Profil Pengusaha Rima Wira Sakti 



Mengerjakan bisnis salon ternyata susah yah. Sebersit kisah oleh Rima Wira Sakti, generasi kedua dari usaha salon Itje Her Hair. Didirikan sang ibu sendiri, Ibu Itje Herjadiono, atau kita akrab memanggilnya Itje Her. Juga  asal mula dari mana nama salonnya berasal. Rima memang sudah kenal dunia salon sejak masih SMP. Menjadi anak perempuan satu- satunya, sejak SMP, ia sudah mengurusi keuangan dan admin.

Bisnis dimulai sejak tahun 70 -an, menurut Rima dimulai dari rumah mereka di Cilandak, yang awalnya cuma iseng menawarkan jasa salon sambil menjahit. Pertama kali dijalankan pelayanan terbatas kebisaan Ibu Itje meliputi potong, sanggul, serta mewarnai rambut. Usaha dijalankan berjalan pesat sampai mama Rima jadi kerepotan sendiri.

"Semua dikerjakan Mama sendiri, lalu mulai kewalahan dan ambil karyawan hingga terus bertambah jumlah karyawannya," tuturnya.

Salon Itje pun cuma memeliki prabot seadanya, meliputi empat meja, kursi menunggu, serta satu kaca besar buat potong rambut. Salon sederhana yang melayani khusus perempuan, yang libur ketika hari minggu tiba. Sederhana tetapi memiliki kemampuan serta fokus. Salon khusus perempuan sesuai permintaan suami Itje, Herdjadiono, dimana sambil mengisi waktu luang kalo perlu sampai minggu.

Berbeda dengan beberapa pengusaha generasi kedua, Rima sama sekali tidak punya beban disini. Dia justru sangat terinspirasi bagaimana salon Itje tumbuh. Dia suka rela terjun mengerjakan keuangan, administrasi, sampai mendapatkan ilmu tata rias dari sang ibu. Melihat anaknya terlihat antusias, maka Itje dan suaminya, mereka memutuskan menyekolahkan Rima ke Jurusan Manajemen Universitas Indonesia.

Sebagai awalan ketika dikerjakan sang Ibu, Itje Her Hair, tumbuh menjadi dua salon berkonsep rumahan. Tetapi ia sendiri sudah memiliki 20 orang karyawan. "Salon kedua menempati rumah warisan nenek," papar Rima. Baru selepas kuliah resmi keduanya dipegang oleh Rima tahun 1999. Itje sendiri yakin sang putri akan mampu kendati barulah lulus kuliah.

Semangat kerja


Rima sudah tidak sabar selepas kuliah. Salon yang berumur 10 tahun ini sudah dikonsepnya menjadi modern. Wanita kelahiran Jakarta, 9 Maret 1976 ini, memiliki segudang rencana, meliputi meregenerasi pegawai, lalu menciptakan struktur keorganisasian jelas, pembuatan standar operasional, serta mulai menambah layanan baru.

Awal sekali, dia mulai memisahkan pendapatan dua salon tersebut, memisahkan antara pengeluaran pribadi dan keluarga. Dalam benaknya dua pengeluaran ini, termasuk pengeluaran keluarga merupakan penghambat pertumbuhan salon. Kalau dua salon sebelumnya berada di daerah perumahan. Maka Rima berharap cabang berikutnya akan di kawasan bisnis yakni di Cipete Raya dan Bintaro Raya, Jakarta Selatan.

Dia sukses mengembangkan kedua salon baru tersebut. Namun, tidak pula lupa memperhatikan dua salon warisan sang ibu. Rima merenovasi total kedua salon lama tersebut. Salon dirubah menjadi semacam roko yang memiliki empat lantai. Itulah mengapa dia niat membeli dua rumah tetangganya, lantas ditambah sisa dari lahan warisan tak terpakai.

Regenerasi pegawai lantas dilakukan sambi berjalannya waktu. Pelatihan karyawan baru tidak dilakukannya sendiri. Ibu Itje sendiri lah turun gunung membantu bisnis Rima. Selain itu, adapula seorang karyawan yang sudah bekerja selama 20 tahun disana.

Menuju salon modern menurut Rima dibutuhkan standar layanan. Aneka perawatan dimunculkan, baik yang klasik maupun modern, dari kepala sampai kaki, perawatan klasik seperti potong rambut, cuci, dan cream bath. Adapun kalau bicara perawatan modern seperti manicure, pedicure, warna rambut, pijat, lulur, serta cukur seluruh badan, lantas totok aura, serta rias pengantin.

"Ada puluhan treatment saat ini. Tarif mulai dari Rp 25.000 sampai ratusan ribu," tambahnya.

Kunci sukses Itje juga termasuk konsep kerja sang pendiri. Yakni, salon akan buka lebih awal, tutup lebih akhir, dan juga buka ketika hari minggu. Itje Her Hair buka dari jam 7 pagi sampai delapan malam, dan juga libur di hari pertama dan kedua lebaran.

Tambahan bahwa konsep kusus wanita tetap dipertahankan. Mereka yang memegang juga adalah kapster wanita. Alasannya, Rima menyebut, bahwa masih banyak wanita merasa lebih nyaman dipegang wanita. Ia beralasan masih banyak rasa risih kalau bercampur dengan pria di satu ruangan. Ibu dari tiga putra ini lantas menambahkan lagi, Itje Her Hair tidak dipungkiri  menyasar pasar menengah atas.

Total 5.000 orang per- minggu datang ke lima gerainya. Semenjak ditangan Rima, pengunjung Itje Her Hair, mampu naik 50 kali lipat. Padahal selama 20 tahun berjalan itu cuma memanfaatkan promosi dari mulut- ke mulut. Promosi melalui media masa pun cuma sekali itupun cuma satu halaman. Waktu itu mendapatkan jatah satu halaman di majalah Gadis dan Femina.

"...sebagai sponsor tata rias untuk program wajah Femina dan Gadis Sampul," kenang Itje. Rima sendiri tak serta merta sukses. Ia telah mempelajari kisah- kisah sukses pengusaha lain. Meski kisah mereka bukanlah dibidangnya, dia tetap pelajari, tetapi inspirasi terbesarnya masih sosok Ibu Itje Herdjadiono.

Tidak mudah merubah konsep salon tradisional ke modern. Kalau dulu salon istilahnya kemewahan, kini, ia harus meyakinkan orang bahwa cantik merupakan kebutuhan. Salon dijadikan tempat me tima bagi wanita. Dia bahkan mengistilahkan salon menjadi rumah kedua. Bagaimana agar wanita itu nyaman cuci rambut dan juga potong kuku saja di salon.

Namun, tidak bisa dipungkiri, fakta bahwa usaha salon memang punya pesaing ketat. Juga fakta lain bahwa ini memiliki prospek bisnis menjanjikan loh. "Orang datang ke salon bukan hanya untuk di- treatment atau mempercantk diri. Mereka ingin dimanjakan," jelas Rima. Tidak cuma pemilik tetapi pegawai harus punya namanya cara berpikir memberikan servis terbaik.

Finalis Ernst & Young Entrepreneurial Winning Women 2011 ini menjelaskan, pentingnya soft skill baik, yang meliputi etika dan interpersonal skills.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba