Perjalanan Petani Menjadi Pengusaha Karet Burlian

Profil Pengusaha Burlian Hakim 



Anak muda yang merantau menjadi petani sukses di Lampung. Kisah Burlian Hakim tidak semanis bayangan tersebut. Sejak usaha keluarga bangkrut otomatis dia hidup berkurangan. Anak ketiga dari lima bersaudara asal dearah Komering ini, tidak kuat lagi. Sejak 1977, ia memilih merantau ke Palembang, dimana Burlian masih duduk di bangku SMA bermodal tiga baju dan dua celana.

Seperti anak muda lain memilih merantau kerana kemiskinan. Burlian pun sama saja, tetapi pilihannya bukan ke Jakarta atau Kalimantan. Disana tidak ada saudara sehingga dia memilih Kota Lampung. Alasan lain yaitu di sana ada saudara yang telah menjadi pengusaha sukses. Tetapi bukan mudah karena sesampai di sana toh Burlian tetap bekerja biasa.

Di Lampung, dia mendapat pekerjaan menjadi tenaga penjualan di perusahaan distributor milik PT. Pupuk Sriwidjaja (PUSRI). Dia menjual pupuk dan obat- obatan tanaman. Pekerjaan yang dilakoni sejak 1982, yang mana akhirnya dia membuka toko pertanian sendiri. "Waktu itu modalnya saya ambil kredit dari BRI sebesar lima juta," kenang Burlian.

Toko pertanian ini resmi dibuka pada 1983. Lantaran pengalaman di dunia pupuk dan obat tanaman, toko kecil itu bisa tumbuh pesat tanpa halangan. Dalam waktu relatif cepat mampu menjadi salah satu toko obat pertanian terbesar di Lampung. Sambil menjalankan toko tersebut, iseng, Burlian mulai bertani kecil- kecilan dimulai dengan menanam semangka.

Petani semangka


Burlian cuma berpikir sederhana,"...belum ada satupun kebun semangka di Lampung." Pria 51 tahun ini lalu menceritakan kembali kisahnya. Selepas tahun 1987, resmi Burlian muda sudah punya pendamping, hidup sudah berasa lengkap menjadi pengusaha pertanian di Lampung. Usaha toko berjalan sementara sela- sela waktu dijalankan mengelola perkebunan.

Sejak 1987, usaha semangka semakin laris apalagi semenjak dipindahkan ke Bandar Jaya, dimana mampu menghasilkan 70 ton sampai 100 ton buah semangka. Dimana 40% sisanya merupakan semangka tanpa biji. Harga jual semangka tanpa biji waktu itu mencapai Rp.1500 per- kilogram.

Sukses bahkan semangka tidak cuma dijual di Lampung, tetapi Burlian memasarkan sampai ke Jakarta dan Cibitung.

"Saingan saya adalah semangka Banyuwangi," tutur Burlian. Hasil berjualan semangka saja sudah mencukupi menghasilkan omzet Rp.20 juta per- hari. Ia semakin bersemangat bahkan semua aset tanah dijadikan kebun semangka.

Tidak berhenti di Semangka saja, akhirnya dia mencoba- coba menanam jeruk siam. Lumayan lah hasilnya tetapi ternyata tidak hoki. Karena meski panen, harga jatuh, padahal sekali panen saja sudah menghasilkan ratusan ton. Padahal kebun jeruknya cepat tumbuh karena tanahnya subur. "...subur sekali, buahnya lebat," kenang Burlian.

Maka lah, cuma lima tahun, Burlian bertahan menanam jeruk siam. Hingga tahun 1998, dia dan keluarga kecilnya meninggalkan Bandar Jaya kembali ke Bandar Lampung. Kali ini apa yang dikerjakan Burlian itu usaha besar, dimana dia membuka kantor kontraktor penyedia pupuk serta obat tanaman. Fokus bisnisnya proyek pertanian, perkebunan, kehutanan, hingga perhutanan.

"Ini semua gara- gara rengekan anak saya yang ingin melihat ayahnya berpakain dasi, sepatu, serta mobil bagus ketika berangkat kerja," kekeh Berlian.

Dia bercerita di tempat tinggalnya, Way Halim, merupakan daerah pegawai kantoran. Maka jadi tidak salah jika sang anak menginginkan hal tersebut. Mungkin dia sudah bosan melihat Burlian pakai pakaian seadanya, topi, dan bercelana pendek, berangkat ke kebun berkendara mobil pick- up. Sambil tergelak, disusul cerita Burlian bahwa kontraktor pertanian merupakan bisnis panas.

Pasalnya, dia harus bersaing dengan banyak pengusaha lain yang sudah mapan. Burlian bersaing ketat ketika maju dalam tender pemerintah. Setiap tender menjadi medan pertempuran diperebutkan. Sadar bahwa ini bukan dunianya perlahan tetapi pasti mundur. Dia melirik berdagang karet ketika berjalan mundur. Tetapi, ya sekalian saja, dia membuka saja pabrik pengolahan karet atau bokar.

Petani karet


Apalagi di Lampung, pabrik serupa masih sangat sedikit. Burlian lantas mencari lahan strategis di sekitar sentra karet di Tulang Bawang, Lampung Tengah. Modal membuka pabrik dihasilkan dari pinjaman ke bank BRI sebesar Rp.8 miliar di tahun 2004. Dua tahun berselang pinjaman berikutnya bisa naik sampai Rp.15 miliar.

"Saya namankan pabrik saya PT. Komering Jaya Perdana, sesuai daerah asal saya," jepas Burlian. Ini guna mengingatkan dia tentang Ridho Allah SWT. Dia sadar bahwa ini merupakan hasil kerja keras karena berani merantau ke Lampung. "...bukan warisan," bangga pria bersahaja ini. Di tahun 2007, pinjaman dari bank ia naikkan sampai Rp.35 miliar.

Namanya pengusaha semakin besar usaha maka semakin besar hutangnya. Bapak enam anak ini mempunyai pabrik baru mengolah 800 ton per- bulan. Pengolahan tersebut mampu menghasilkan setara dari Standard Indonesia Rubber (SIR) angka 20, dari tingakatan SIR 10, SIR 20, SIR 25. Hingga ia menjelaskan sembari berpromosi cocok buat industri pengolahan ban.

Usaha barunya ini mengekspor 90% hasil produksinya ke berbagai negara di Asia, seperti ke China, Korea dan Vietnam. Jujur saja, kebun karet milik Burlian sebenarnya kecil, itulah untuk memenuhi kebutuhan buat ekspor diambil dari petani. Seiring pertumbuhan hutang semakin besar bahkan mencapai Rp.10 miliar cuma buat intensifikasi pabrik.

Total Burlian memiliki 280 orang karyawan. Sebagai seorang pengusaha pengolahan karet, tidak cuma soal pegawai, tetapi dia memegang nasib hidup para petani karet. Ketika harga karet dunia turun dari $2,8 per- kilo menjadi $1,2 per- kilo otomasti menjatuhkan ekonomi petani karet. Untuk pengolahan karet seperti dia harga berapa pun tidak merugi karena pasti terjual.

Burlian tidak bisa membantu banyak. Tetapi memang untuk masalah ini, pemerintah diharapkan berperan aktif, seperti halnya pemerintahan Thailand terhadap nasib petani karet. Negeri Gajah Putih tersebut memberi kompensasi ketika harga pasaran karet menurun. Mereka bahkan melarang mereka menyadap sampai harga kembali normal.

Hal lain kenapa petani karet Indonesia lemah, selain karena harga jual ya karena produksinya rendah dan juga kualitas karet rendah. Para petani Indonesia tidak bisa menikmati harga jual meski normal. Istilahnya ya kalo kebun karet terbesar dimana ya di Indonesia, tetapi kualitas terendah dan tingkat produksi terendah ya di Indonesia pula. "Yang paling jelek dan paling sedikit juga Indonesia," tuturnya getir.

Bahkan hitungannya dibawah SIR, bahkan 10% lebih rendah dibawah harga standar karet Thailand atau di Malaysia. Ia mencontohkan Thailand bisa dicontoh oleh pemerintah. Selain itu Burlian berharap perbaikan di mutu komoditinya sendiri. Dia mencontohkan sendiri yakni lewat mitra kerja. Para petani dibawah usahanya, ia kunjungi dan edukasi sendiri agar lebih berkualitas.

Meski sudah diedukasi tetap saja petani nakal ada. Mereka tak segan menambah pasir atau tanah agar karet lebih berat. Untuk itulah dia akan tetap mendidik sambil membuka peluang lain. Termasuk membuka peluang bagi keluarganya sendiri. Seperti dia memberikan pengelolaan warnet, stasiun radio, minimarket, berbagai usaha,  kepada keponakan- keponakan.

Untuk pewaris usahanya sendiri tengah berkuliah di President University. Dia sudah disiapkan Burlian lewat kunjungan ke pertemuan internasional pengolahan karet. Usianya yang tidak muda lagi kini cuma dijalankan lewat beribadah mendekatkan diri kepada Tuhan Allah SWT. "Apa yang saya dapat sudah lebih dari cukup, " tutup Burlian Hakim.

Aplikasi Tripping Tempat Mencari Traveling

Profil Pengusaha Jen O'Neal

 

Berlibur tanpa menginap tidak akan memuaskan. Butuh liburan panjang, tidak terikat dengan tarif spesifik di satu tempat tinggal. Tripping.com memberikan fasilitas lengkap rental properti. Tidak cuma memberikan satu layanan hotel tetapi paket pariwisata. Ketik aplikasi hotel- booking, atau bahwa Airbnb sekalipun, tidak bisa lebih baik buat liburan panjang kamu tanpa ribet apapun.

Pendirinya, Jen O'Neal, merupakan sosok dengan penglihatan disela- sela ramainya pasar. Ketika Airbnb coba mengambil alih ditengah pelayanan hotel standar. Maka, Tripping memberikan nilai tengah dalam hal mesin pencari tempat liburan lengkap. Dia mempunya catatan pengalaman kerja panjang. Pernah menjadi no. 5 di perusahaan Stubhub.com dan cabut, ketika itu, ia tercatat menduduki jabatan wakil presiden marketing.

Jauh sebelum melahirkan Tripping, dia pernah melakukan banyak perjalanan panjang. Ia pernah singgah di Cost Rica, lantas baru berangkat  ke London, bertemu Eric Baker salah satu pendiri Stubhub dan bekerja penuh bersamanya. "Saya harus menjamu 150 travelers," kenangnya.

Sejak itu, hasrat O'Neal akan membangun sebuah sosial network untuk mengkoneksikan pecinta perjalanan, seperti dirinya, dengan lingkungan sekitar tumbuh. Disini lah sosial network sekaligus agregator rental Trippining. Ke arah bagaimana tidak cuma memberikan sewa tempat, tetapi berbagi hal kultural, melalui berbagi secangkir kopi, segelas bir, atau tinggal di tempat mereka.

Diluncurkan sejak 2011 tetapi sudah dikerjanya bersama Nate Weisige mantan koleganya di Stubhub, meski tahap beta, mereka sudah memiliki anggota di 130 negara. Ketika para back- packer mau mencari tempat untuk mencari petualangan. Maka, disinilah O'Neal memberikan, lebih lama dan lebih lengkap Tripping bekerja sama dengan perusahaan rental -seperti VRBO, Homeaway, dan Booking.com.

Ini juga termasuk rencana memasukan listing Airbnb sebagai pilihan.

"Sejarahnya cara pencariannya adalah kamu akan mencari rumah sewa di internet, kamu akan menghubungi mereka lewat email, dan kamu datang ke sena bersama uang cek," paparnya. Tetapi lewat Tripping kamu bisa melihat mereka secara real -bahkan bisa sampai lima tempat berbeda sebelum memutuskan. Agar tak terjadi permasalahn Tripping menawarkan konsep cek- in via Skype.

Perusahaan akan memastikan kepemilikan rental, yakni lewat face- to- face Skype dengan staf Tripping. Kita sebagai pemilik rental atau menyewakan rumah harus memilik paspor, pengakuan dari bank, dan sistem pembayaran jelas. Semuanya ditunjukan lewat Skype bermodal kamera webcam masing- masing. Usaha ini cukup berhasil menghasilkan tujuh minggu pertama 2015, omzet senilai $150 juta booking.

Utamanya Tripping akan fokus mengambil keuntungan lewat kerja sama. Sekitar 30 organisasi bergabung di dalam Tripping -program perjalanan sekolah, organisasi diving PADI, universitas- telah bergabung aktif di komunitas Tripping. Skenario menurutnya adalah kamu bisa mencari organsisasi tertentu, seperti golf, lantas mencari badannya, skenario tempat, serta pelayanan macam apa.

"Saya pergi ke acara Tripping ini masuk ke sebuah bar di San Francisco. Saya tidak benar- benar yakin apa yang diharapkan, tapi ada orang di sana dari puluhan negara yang berbeda yang telah menggunakan Tripping untuk kunjungan mereka ke San Francisco. Antusiasme mereka hanya menular, " review Nicole Perlroth, salah satu penulis di Forbes.com.

Berdasarkan analisa O'Neal, industri perjalanan (travel) merupakan pasar $100 juta, dan menariknya meski sudah banyak berbasis online -seperti Airbnb, Priceline, Tripadvisor- cuma bisa mencangkup 22 persen saja dari potensi pasar. "Ini gila banyak orang berpikir brand mereka sangat besar, padahal itu jelas disana masih banyak sela di pasar," ujar O'Neal.

Penerus Salon Itje Her Hair Berbagi Kesuksesan

Profil Pengusaha Rima Wira Sakti 



Mengerjakan bisnis salon ternyata susah yah. Sebersit kisah oleh Rima Wira Sakti, generasi kedua dari usaha salon Itje Her Hair. Didirikan sang ibu sendiri, Ibu Itje Herjadiono, atau kita akrab memanggilnya Itje Her. Juga  asal mula dari mana nama salonnya berasal. Rima memang sudah kenal dunia salon sejak masih SMP. Menjadi anak perempuan satu- satunya, sejak SMP, ia sudah mengurusi keuangan dan admin.

Bisnis dimulai sejak tahun 70 -an, menurut Rima dimulai dari rumah mereka di Cilandak, yang awalnya cuma iseng menawarkan jasa salon sambil menjahit. Pertama kali dijalankan pelayanan terbatas kebisaan Ibu Itje meliputi potong, sanggul, serta mewarnai rambut. Usaha dijalankan berjalan pesat sampai mama Rima jadi kerepotan sendiri.

"Semua dikerjakan Mama sendiri, lalu mulai kewalahan dan ambil karyawan hingga terus bertambah jumlah karyawannya," tuturnya.

Salon Itje pun cuma memeliki prabot seadanya, meliputi empat meja, kursi menunggu, serta satu kaca besar buat potong rambut. Salon sederhana yang melayani khusus perempuan, yang libur ketika hari minggu tiba. Sederhana tetapi memiliki kemampuan serta fokus. Salon khusus perempuan sesuai permintaan suami Itje, Herdjadiono, dimana sambil mengisi waktu luang kalo perlu sampai minggu.

Berbeda dengan beberapa pengusaha generasi kedua, Rima sama sekali tidak punya beban disini. Dia justru sangat terinspirasi bagaimana salon Itje tumbuh. Dia suka rela terjun mengerjakan keuangan, administrasi, sampai mendapatkan ilmu tata rias dari sang ibu. Melihat anaknya terlihat antusias, maka Itje dan suaminya, mereka memutuskan menyekolahkan Rima ke Jurusan Manajemen Universitas Indonesia.

Sebagai awalan ketika dikerjakan sang Ibu, Itje Her Hair, tumbuh menjadi dua salon berkonsep rumahan. Tetapi ia sendiri sudah memiliki 20 orang karyawan. "Salon kedua menempati rumah warisan nenek," papar Rima. Baru selepas kuliah resmi keduanya dipegang oleh Rima tahun 1999. Itje sendiri yakin sang putri akan mampu kendati barulah lulus kuliah.

Semangat kerja


Rima sudah tidak sabar selepas kuliah. Salon yang berumur 10 tahun ini sudah dikonsepnya menjadi modern. Wanita kelahiran Jakarta, 9 Maret 1976 ini, memiliki segudang rencana, meliputi meregenerasi pegawai, lalu menciptakan struktur keorganisasian jelas, pembuatan standar operasional, serta mulai menambah layanan baru.

Awal sekali, dia mulai memisahkan pendapatan dua salon tersebut, memisahkan antara pengeluaran pribadi dan keluarga. Dalam benaknya dua pengeluaran ini, termasuk pengeluaran keluarga merupakan penghambat pertumbuhan salon. Kalau dua salon sebelumnya berada di daerah perumahan. Maka Rima berharap cabang berikutnya akan di kawasan bisnis yakni di Cipete Raya dan Bintaro Raya, Jakarta Selatan.

Dia sukses mengembangkan kedua salon baru tersebut. Namun, tidak pula lupa memperhatikan dua salon warisan sang ibu. Rima merenovasi total kedua salon lama tersebut. Salon dirubah menjadi semacam roko yang memiliki empat lantai. Itulah mengapa dia niat membeli dua rumah tetangganya, lantas ditambah sisa dari lahan warisan tak terpakai.

Regenerasi pegawai lantas dilakukan sambi berjalannya waktu. Pelatihan karyawan baru tidak dilakukannya sendiri. Ibu Itje sendiri lah turun gunung membantu bisnis Rima. Selain itu, adapula seorang karyawan yang sudah bekerja selama 20 tahun disana.

Menuju salon modern menurut Rima dibutuhkan standar layanan. Aneka perawatan dimunculkan, baik yang klasik maupun modern, dari kepala sampai kaki, perawatan klasik seperti potong rambut, cuci, dan cream bath. Adapun kalau bicara perawatan modern seperti manicure, pedicure, warna rambut, pijat, lulur, serta cukur seluruh badan, lantas totok aura, serta rias pengantin.

"Ada puluhan treatment saat ini. Tarif mulai dari Rp 25.000 sampai ratusan ribu," tambahnya.

Kunci sukses Itje juga termasuk konsep kerja sang pendiri. Yakni, salon akan buka lebih awal, tutup lebih akhir, dan juga buka ketika hari minggu. Itje Her Hair buka dari jam 7 pagi sampai delapan malam, dan juga libur di hari pertama dan kedua lebaran.

Tambahan bahwa konsep kusus wanita tetap dipertahankan. Mereka yang memegang juga adalah kapster wanita. Alasannya, Rima menyebut, bahwa masih banyak wanita merasa lebih nyaman dipegang wanita. Ia beralasan masih banyak rasa risih kalau bercampur dengan pria di satu ruangan. Ibu dari tiga putra ini lantas menambahkan lagi, Itje Her Hair tidak dipungkiri  menyasar pasar menengah atas.

Total 5.000 orang per- minggu datang ke lima gerainya. Semenjak ditangan Rima, pengunjung Itje Her Hair, mampu naik 50 kali lipat. Padahal selama 20 tahun berjalan itu cuma memanfaatkan promosi dari mulut- ke mulut. Promosi melalui media masa pun cuma sekali itupun cuma satu halaman. Waktu itu mendapatkan jatah satu halaman di majalah Gadis dan Femina.

"...sebagai sponsor tata rias untuk program wajah Femina dan Gadis Sampul," kenang Itje. Rima sendiri tak serta merta sukses. Ia telah mempelajari kisah- kisah sukses pengusaha lain. Meski kisah mereka bukanlah dibidangnya, dia tetap pelajari, tetapi inspirasi terbesarnya masih sosok Ibu Itje Herdjadiono.

Tidak mudah merubah konsep salon tradisional ke modern. Kalau dulu salon istilahnya kemewahan, kini, ia harus meyakinkan orang bahwa cantik merupakan kebutuhan. Salon dijadikan tempat me tima bagi wanita. Dia bahkan mengistilahkan salon menjadi rumah kedua. Bagaimana agar wanita itu nyaman cuci rambut dan juga potong kuku saja di salon.

Namun, tidak bisa dipungkiri, fakta bahwa usaha salon memang punya pesaing ketat. Juga fakta lain bahwa ini memiliki prospek bisnis menjanjikan loh. "Orang datang ke salon bukan hanya untuk di- treatment atau mempercantk diri. Mereka ingin dimanjakan," jelas Rima. Tidak cuma pemilik tetapi pegawai harus punya namanya cara berpikir memberikan servis terbaik.

Finalis Ernst & Young Entrepreneurial Winning Women 2011 ini menjelaskan, pentingnya soft skill baik, yang meliputi etika dan interpersonal skills.

Pernah Diejek Kuliah Tinggi Cuma Jadi Penjual Roti

Profil Pengusaha Hafizh Suradiharja



Pernah bangkrut beberapa kali bukan lah halangan. Bagi hidup Hafizh Suradiharja, kehidupan bisnis adalah jalan hidup. Tidak bisa tidak kalau tidak berusaha sampai mentok- tok. Sejak 2006, pengusaha muda yang masih berstatus mahasiswa ini telah menjajal peruntungan lewat disc jokey (DJ).

Dia berani membuka usaha sekolah meracik musik karena tengah naik daun. Ia bahkan tidak mau tanggung- tanggung melengkapi sekolah dengan peralatan mahal. Sayang peralatan bagus bukan berarti bisnisnya itu berjalan lancar. "Saya tidak punya koneksi," kenangnya.

Selain itu, fakta sudah banyak sekolah sejenis membuka lebih murah soal biaya. Gagal berusaha di bidang pendidikan, ia melangkah masuk ke bisnis termudah yakni bisnis kuliner.

Mahasiswa Universitas Islam Jakarta yang kemudian memilih bisnis kuliner. Kembali dia memilih mengikuti tren bisnis saja. Usaha keduanya adalah usaha sop buah. Terlihat lancar karena sempat berkembang sampai tiga cabang. Sayangnya, karena persaingan semakin mengetat, lagi- lagi usahanya bangkrut kembali.

Pemuda kelahiran 29 Januari 1988 ini lantas mencoba kembali usaha baru di tahun 2008. Meski dicemooh sejak awal, Hafizh berbangga hati dan tetap menjalankan rutinitasnya. Sejak awal dia sudah bertekat tidak ingin seperti saudaranya. Dia ingin membuka usaha sendiri. Hafizh ingin sekali membuka usaha sendiri, mandiri, serta membuka peluang kerja.

Total sudah menjalankan satu, dua, tiga, dan ke- empat kali kegagalan sampai sukses.

"Saya ingin buka usaha sendiri, mandiri, dan membuka peluang kerja bagi orang lain," paparnya.

Alasan lain


Selain memang passion -nya di dunia bisnis, alasan lain seorang Hafizh karena ingin membantu orang tua. Dia menyebut bahwa orang tuanya bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Hidup mereka memang tidak kekurangan tetapi berkecukupan. Sampai akhirnya orang tua Hafizh harus pensiun tidak berpenghasilan.

"Sejak kecil saya juga sudah diarahkan menjadi PNS," kenangnya. Tetapi fakta mengejutkan justru datang dari sang kakek sendiri.

"Tapi saya lihat, kok, usaha daging sapi milik kakek yang hanya lulusan SD malah bisa berkembang pesat," tutur Hafizh kepada Tabloid Nova.

Semakin menjadi keinginan membantu orang tua ketika tahun 1995. Kala itu, sang ibu mengalami pecah di pembulu darah sampai koma, makanya membutuhkan banyak uang buat berobat. Batin Hafizh tergerak dan berpikir "...jika punya uang banyak saya bisa membantu ibu berobat ke mana saja," kenang Hafizh.

Sejak kecil sampai akhirnya masuk kuliah fokusnya mengurusi ibu. Semenjak itupula lah usahanya mulai berjalan sedikit- demi sedikit. Dia ingin membuka usaha sendiri karena pengen punya uang sendiri banyak. Dalam benaknya kalau bekerja dengan orang lain ataupun jadi PNS kapan dia punya uang banyak.

Mulai usaha ya ketika kuliah menjual macam- macam seperti seprai. Dia juga pernah berjualan roti hingga dicemooh keluarga. Gara- gara berjualan roti sampai terdengar suara sumbang. Paling menyebalkan ketika harus datang ke acara kumpul keluarga. "Sekolah tinggi- tinggi, kok, cuma jualan roti?," kenang Hafizh, menirukan adegan kata- katain tersebut.

Usaha pertama keluar modal banyak ya disc jockey. Pasalnya dia mepunyai hobi meramu aneka musik menjadi satu alunan menantang. Dia membuka sekolah DJ karena memang hobi men- DJ. Meski alat paling bagus tetapi cuma enam bulan . Setelah dievaluasi diri ternyata hasilnya dia tidak punya koneksi dan tidak punya nilai lebih (harga.red).

Gagal di bisnis sekolah DJ, Hafizh memilih berbisnis sup buah. Tetapi lagi- lagi gagal lantaran banyak pesaing bermunculan. Di tahun 2008, dia bertemu warga negara Singapura, keduanya membuka usaha travel agent bernama PT. Apex Indonusa Prima. Ia sempat membeli saham 30 persen,"saya menyetor sekitar 30 persen total saham."

Waktu berlalu, tetapi ternyata keduanya tidak sejalan lagi, alhasil ia memilih menjual saham dan mencoba peruntungan lain. Padahal untuk usaha travel, Hafizh sudah meminta- minta orang tua memberikan pinjaman ke dia. Usaha travel berjalan cukup enam bulan berlalu sampai benar pecah kongsi.

Perbedaan kedua rekan kerja itu memang terlihat sepele. Faktor usia sang rekan lebih tua sehingga disaat berbisnis lebih hati- hati. Sementara itu Hafizh seperti anak muda lainnya, ingin cepat mencapai titik tertentu di dalam hidup. Meski begitu rekan Singapura itu sempat memberikan solusi berupa inspirasi usaha.

Berhenti berbisnis sejenak, Hafizh memilih fokus saja melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi Manajemen di Universitas Islam Nasional. Tahun 2009 mulai berpikir mencari peluang usaha. Dia lantas melirik, mencoba mengangkat usaha roti Jhon. Usaha yang dikenalnya dari si rekan asal Singapura tersebut sepertinya enak.

"Setiap kali datang dari Singapura, dia bawa Roti John. Enak juga rasanya, sementara di Indonesia belum ada makanan seperti ini," paparnya.

Usaha roti


Bisnis ke empat bukan perkara mudah baginya. Dia butuh menciptakan ide baru. Hafizh tidak mau gegabah dalam berbisnis lagi. Ketika usaha ketiganya gagal maka evaluasia diri menjadi solusi. Ia cukup lama untuk merenungi kesalahan bisnisnya. Zona merah itu ditemukan yakni menjalankan usaha yang banyak pesaingnya.

Ketika belum ada pengusaha membuka usaha roti Jhon di Indonesia. Maka, Hafizh segera berlari mencari pinjaman ke bank, sampai 30 jutaan hanya untuk memesan ke pabrik roti. Sisanya digunakan buat mencari kafe yang lantas dimake over. Dia baru menyadari bahwa usaha bakery di sekitar rumahnya berjalan sangat lama.

"Saya lihat di lingkungan saya ada perusahaan roti, yang sejak saya kecil sampai sekarang produksinya masih berjalan. Saya pikir, kenapa enggak bikin perusahaan roti saja," jelas Hafizh.

Resep roti John sendiri didapatkan Haifzh dari seorang teman. Soal tekstur, rasa, dan bentuk dipertahankan seperti asli. Dimana tekstur roti ini keras, serta cuma memiliki dua varian rasa yakni bawang dan telur. Pada 2009, satu gerai Roti Jhon dibuka di kawasan Tebet, perencanaanya matang, bahkan ia sempatkan buka CV sendiri.

"Usaha belum jelas hasilnya, kok, sudah bikin CV segala," Hafizh menirukan orang tuanya.

"Bukankah lebih baik uangnya dipakai buat tambahan modal?" kenangnya. Betul memang harusnya dia tidak langsung membuka perusahaan sendiri. Hanya saja bukan faktor apa, dia hanya ingin menjadikan bisnisnya makin serius dijalankan sebagai investasi.

Roti John miliknya 100% resep asli Singapura. "Alhamdulillah, tiga bulan kemudian bangkrut, ha ha ha."

Bulan pertama membuka usaha Roti John memang ramai. Bulan berikutnya kok semakin sedikit saja yang datang. Lama ke lamaan, gerai Roti John milik Hafizh kehilangan semua pembeli. Tidak ada satupun yang tersisa.

Ia lantas bergerak mencari tau apa salahnya dan menemukan fakta. Bahwa roti dijualnya itu kemahalan yakni Rp.12.000 serta minim variasi -cuma satu macam waktu itu. Hal lain, fakta bahwa roti seperti aslinya, Roti John buatan Hafizh keras, mana sesuai dengan lidah masyarakat Indonesia.

Hafizh mulai mencoba membikin roti lagi. Memulai dari awal, agar sesuai sekali lidah orang Indonesia, yakni enak, harganya murah, dan bisa membuat kenyang. Lantas ia mencari chef hotel berbintang membuatkan roti seperti itu. Tetapi karena biayanya bisa mahal, pada akhirnya dia sendiri membuat sendiri bermodal mesin khusus.

Ruang tamu jadi gudang


Karena memang keterbatasan tempat maka jadilah dimanapun mampu. Dia lalu merubah ruang tamu orang tuanya menjadi gudang. Tidak direncanakan khusus karena waktu terbatas. Hafizh menyadari dia harus bisa cepat sukses karena sewa tempat cuma setahun. Disaat toko buka seadanya, ia getol mencari resep roti lagi.

Uji cobanya berhasil menghasilkan enam varian rasa. Roti buatannya pun lembut, tebal, dan mengenyangkan. Harga jualnya turun drastis lebih murah dibanding sebelumnya, yakni Rp.7.000. Dalam kurang dari setahun, akhirnya, dia mengembangkan gerainya jadi lebih besar. Pasar menyambut baik langkah Haifzh lewat Roti John.

Cabang pertama dibuka berkonsep gerobakan. Investasi murah dijalankan menekan modal. Ia berkata justru kalau berbentuk kafe malah orang enggan. Baru mau datang, mereka akan berpikir ini pasti mahal harganya. Lewat satu gerobak berkembang menjadi banyak gerobak. Dia masuk ke sekolah, mal, dan perkantoran.

Ternyata konsep diusungnya berjalan sangat baik. Bahkan ia mampu melebarkan sayap sampai ke luar kota seperti Semarang, Samarinda, dan Medan.

Membuka cabang di luar kota, Hafizh menyewa jasa konsultan bisnis. Itu terbayar karena dia mendapatkan banyak tawaran kerja sama. Paket kerja sama dikerjakan Hafizh yakni Rp.16 juta sampai Rp.45 jutaan. Bahkan ada orang Jepang tertarik memboyong Roti Jhon Haifzh. Dia sendiri belum mau karena belum kuat fondasi dalam negeri.

Ia tidak memiliki vendor. Prinsip kemandirian dipegang terus olehnya sejak dulu. Dia membuat sistem bagus, memberikan pelatihan karyawan, merancang pembukuan. Guna menambah pengetahuan dia tidak malu meminta saran sesama pengusaha muda.

Ke depan, langkah Roti John adalah, membuka gerai terintegrasi hingga roti benar- benar fresh. Tanggapan keluarga sekarang ini? Tentu mereka terkagum- kagum atas hasilnya. Khususnya orang tua merasa bahagia kerena akhirnya sukses besar.

"Jika dulu ada yang mencemooh, sekarang sudah enggak lagi. Bahkan saat ini ada kerabat yang kerja di tempat saya," jelasnya. Usaha gerai Roti John memiliki 35 orang karyawan, dan mampu memproduksi 500- 1000 roti. Bicara omzetnya sudah mencapai Rp.17,5 juta per- hari bukan per- bulan.

Fadilah Sholat Subuh Bagi Kesuksesan Pandu Logistik

Biografi Pengusaha M. Bhakty Kasry



Sosok pendiri Pandu Logistik ini memang dikenal akan kiat suksesnya. Dr. H. Muhammad Bhakty Kasry percaya bahwa ibadah musti diselaraskan usaha. Bukti itu terlihat ketika kamu mengunjungi perusahaan yang berpusat di Pulogadung, Jakarta Timur ini. Niscaya kita akan menemukan karyawan tengah asyik bertadarus Al- Quran. Tidak cuma itu, mereka tidak akan lupa menyempatkan diri Sholat Dhuha di mushola kantor.

Saat tiba waktu sholat wajib, seperti Zhuhur bahkan Ashar, karyawan akan berbondong mendirikan sholat berjamaah. Lalu siapa yang mengimami mereka tidak lain sosok pendiri sekaligus chairman Pandu Logistic, ya sosok Bhakty Kasry sendiri.

Dia cuma orang biasa. Pria kelahiran Medan, 30 April 1953, yang sempat "nakal". Waktu itu ia nekat untuk berangkat ke Jakarta. Ia ingin meniti karir dari nol sampai di kejamnya Ibu Kota. Di tahun 1971, Bhakty sempat mengenyam pendidikan keuangan di Jl. Raden Saleh, Jakarta Pusat. Tetapi dia tidak selesai dibidang studi. Pasalnya, Bhakty demen bermain bola jadilah sekolahnya putus- putus.

Ia sempat melanjutkan sekolah sejenis di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Disaat masih remaja memang bapak dua putri ini memang hobi bola. Lebih tepatnya keranjingan bola sempat bergabung dengan klub Persija Junior sampai Indonesia Muda. Menempati posisi pemain di kanan- belakang sempat mengikuti pertandingan Gala Raya.

Bukan pemain bola


Meski keranjingan bola tetapi tidak bisa memungkiri fakta hidup. Bhakty harus tetap bekerja sekaligus tetap bersekolah. Dia bukan terlahir dari keluarga berlebihan -keluarga pas- pasan. Ia pun tidak memiliki banyak pilihan, mungkin terbersit pernah pikiran menjadi pemain bola. Kondisi keuangan keluarga lebih masuk akal dibanding bermain bola.

Ia harus aktif membantu kebutuhan keluarga. Ayah Bhakty sendiri merupakan pegawai di PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) IV, adapun sang ibu, hanyalah petani ladang di Medan, Sumatra Utara. Oleh karena itu, pekerjaan pertama dilakoninya adalah bagian penjualan atau salesman di PT. Permorin. Perusahaan bidang jual beli otomotif yang menghantarkan takdirnya.

Dia bertemu sosok petinggi di perusahaan jasa logistik DHL. Cara Bhakty dalam menangani klien menarik perhatian pengusaha tersebut. Ia lantas ditawari bekerja di perusahaan DHL. "Saya terima karena dijanjikan pelatihan di Singapura. Saya, kan, belum pernah ke luar negeri," kenangnya geli sendiri. Terbukti memang dia memilik kemampuan kerja baik.

Bhakty memiliki etos kerja tinggi. Sebelas tahun berlalu bekerja di DHL, pria pengoleksi foto bersama para Ustad ini, bisa mendapatkan promosi jabatan sampai empat kali. Pertama kali masuk ya bekerja menjadi salesman dulu. Dua tahun barulah diangkat menjadi supervisor. Dia lantas diangkat menjadi manaje area. Karena kinerja yang baik, jabatan Bhakty kembali naik menjadi sales manager.

Terakhir, dia menduduki jabatan bergengsi, yakni country sales manager. "Selama pegang jabatan itu, saya bisa menambah 30 cabang DHL," tutur Bhakty.

Meski sukses ada kegelisahan dalam dirinya. Kegelisahan yang tertuang dalam kegiatan pengajian seorang Ustad. Dua belas tahun silam, tepatnya di 22 Agustus 2002, Bhakty Kasry berangkat ke Pantai Senggigi di Mataram Lombok buat mengikuti pengajian Ust. Muhammad Arifin Ilham. Saat itu sang Ustad menatapnya tajam.

Seketika Ust. Arifin Ilham mengungkapkan kata menusuk sanubari. Bahwa Bhakty belum benar bersyukur atas karunia Allah. "Apakah alasan ayahanda tidak menjalankan sholat subuh di Masjid," ucapnya meniru perkataan sang Ustad. Ini seperti petir di siang bolong, ketika dirinya menemukan kejenuhan dalam bekerja menjadi atasan sebuah perusahaan besar.

Bhakty tidak sedikit pun merasa sakit hati. Dia malah menyadari kekurangan hidupnya. Sejak saat itupula lah terucapa sumpah agar menjalankan ibadah Sholat Subuh berjamaah. Ust. Arifin Ilham lantas memberikan satu kiat agar terhidar dari kemalasan: Sholah Subuh berjamaan selama 40 hari berturut- turut. Cara ini agar membelenggu sifat malas dalam dirinya.

Kegelisahan di tempat kerja menemukan titik terang. Apa yang keinginan seorang Bhakty Kasry ternyata ada di kewirausahaan. Ia ingin mendirikan usaha sendiri dibidang logistik ini.

Jasa logistik


Bekal bertahun di bidang logistik, tidak mau tanggung- tanggu dibuka lah usaha bernama Pandu Logistik. Ia bermodal Rp.50 juta membuka usaha pertama di tahun 1992. Modal tersebut digunakan menyawa sebuah ruko atau rumah toko. Modal yang merupakan keringat jerih payah selama bertahun- tahun. Membuka satu usaha sendiri ternyata tidak semudah dibayangkan Bhakty.

Dia sempat kocar- kacir. Ia kesulitan mencari pelanggan. Padahal, modal dimiliknya terbatas, dan sistem dari manajemen masih amburadul. Permintaan akhirnya banyak tetapi malah modalnya cekak. Kendala besar ini dimulai selama dua tahun pertama. Tahun ketiga barulah dirinya bisa bernafas lega. Usaha ini mulai mudah di pengajuan pinjaman modal.

Pemberian pinjaman pun beragam mulai dari Rp.100 juta sampai Rp.300 juta. Perusahaan Pandu Logistik membukukan pertumbuhan fantastis, atau mencapai 50% per- tahun. Kondisi ekonomi memang tengah di fase tidak baik tetapi tidak menyurutkan perjalanan bisnis. Meski pendapatan Pandu Logistik naik menurun sampai 12% sampai 15% per- tahun.

Bhakty tetap optimis akan perkembangan bisnisnya. Jasa logistik masih cerah apalagi adanya usaha berbasis internet. Dia sendiri awalnya memulai dari menguasai pasar lokal. Usaha bernama PT. Pandi Siwi Sentosa ini mencapai 155 cabang dari Sabang- Merauke. Jakarta sendiri di perusahaannya memiliki 750 orang. Volume pengiriman juga cukup besar yakni 25 ton sehari.

Wilayah Jakarta saja, Pandu Logistic mampu membukukan omzet Rp.11 miliar per- bulan. Kalau dilihat dari kisahnya memang dia tidak menyangka bisa sampai seperti sekarang. Semenjak wajangan dari Ustad pula, Bhakty tidak ketinggalan menunaikan ibadah Sholat Subuh berjamaah. Ini dijadikan etos kerja, daya kontrol, serta membuatnya tenang dalam memutuskan usaha.

Bhakty juga senang safari 40 masjid. Sholat Subuh berjamaah menurutnya banyak fadhilahnya loh. "Qabliah Subuh lebih baik dari dunia, shalat subuh kayak ibadah semalam suntuk, malaikat menyaksikan, dapat ampunan, dijauhkan sifat munafik," tutur ayah tiga orang anak ini tegas dengan logat Medan kental.

Tiga tahun berturut sejak 2002, ia memberikan tunjangan khusus transportasi, mereka mendapatkan instruksi untuk sholat Subuh berjamaah di masjid yang telah ditentukan. Mereka akan mendapatkan tunjangan selain itu buat yang tepat waktu akan mendapatkan fasilitas kendaraan, rumah, bahkan rekreasi ke luar negeri, hingga umroh dan haji.

Ini menjadi indikator penilaian pegawai berprestasi menurut Bhakty. Yakni ketepatan mereka dalam hal untuk sholat berjamaah di masjid. Pria yang sempat bekerja menjadi cleaning service di Mabes Polri ini, memang punya cara sendiri memotivasi pegawainya. Tidak perlu sesi cuci otak buat meningkatkan kinerja pegawai di perusahaanya.

"Agama adalah pangkalnya. Kalau agamanya baik insyaallah maka baik yang lainnya," Bhaky menjelaskan. Berkat kinerja luar biasanya dan pengaruhnya dalam kehidupan orang banyak, dia mendapat gelar Doctor Honoris Causa di bidang manajemen transpotasi dari Jakarta Institute of Management Studies tahun 2001.

Berkat caranya yang unik menyeimbangkan ibadah dan kerja. Dia bisa mendirikan perusahaan lainnya yakni PT. Indah Jaya Express, perusahaan layanan kurir, distribusi dan proyek internasional; PT. Tritama Bella Transindo, perusahaan pengiriman darat dan laut; PT. Pandu As Shofa (PAS), perusahaan travel haji dan umrah. Serta terakhir ia mendirikan Yayasan Pandu Mardhika dibidang sosial.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba