Jajan Krepes Bunda Sulis Berawal di Rumah

Profil Pengusaha Sulistiawati Ningsih 



Inspirasi wirausahawan muda adalah kebutuhan. Kita butuh semangat untuk terus menjalankan usaha. Kalau bicara sumber bisa macam- macam. Tetapi pengalaman adalah guru terbaik termasuk pengalaman orang lain. Berikut kisah dari buku Rahasia Jadi Entrepreneur Muda. Kisah seorang Sulistyawati Ningsih, 34 tahun, atau sering dipanggil Bunda Sulis mengajak orang lain sukses.

Dia tidak sendiri ketika memulai usaha. Melihat peluang waralaba Bunda Sulis mengajak dua orang teman untuk berbisnis bersama. Ia bersama Teti dan Nopy akhirnya mengerjakan bisnis Lucky Crepes serius. Awal usaha sendiri bermula dari usaha rumahan. Kini, dia dikenal sebagai pengusaha sukses, memiliki 250 gerai cabang Lucky Crepes dan beberapa lembaga pendidikan pra- sekolah. 

"Saya sudah malas bekerja di kantor lagi," aku Sulis. Mantan pegawai Indosat ini memang berawal dari karyawan nyambi pengusaha. Namun kemudia ditekuni sampai sukses. Alasan utama kenapa berbisnis di rumah menurutnya "kebahagiaan".

Dia sendiri seorang ibu rumah tangga. Faktanya mengerjakan usaha di rumah menyenangkan loh. Pemikiran tentang dunia kerja lambat laun ditinggalkan. Bayangkan, ketika dia masih bekerja, lulusan STT Telkom Bandung ini, harus berangkat dari rumahnya yang di Tangerang, Propinsi Banten, ke kantor yang beralamat di Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. 

Berangkatnya dari jam 6 dan harus meninggalkan anak- anaknya yang masih kecil. "...semua saya mulai dari bisnis yang dapat dimulai dari rumah, dan hal itu sangat membahagiakan," ujarnya, yang semuanya ditulis di buku Bunda Luar Biasa.

Bisnis luar biasa


Dia bersama dua orang patungan mengumpulkan Rp.10 juta. Itupun sebagian besar merupakan pinjaman dari bank. Sebelum waralaba, Sulis memang sudah merencanakan usaha sendiri, mengerjakan usahanya itu di rumahnya. Itu pun setelah 10 outlet miliknya sendiri berjalan. Lantas ada seorang temannya menyarankan kenapa tidak di waralaba.

Awal sekali usahanya masih tanpa nama ketika 2004 -an. Selepas patungan uang Rp.10 juta tersebut baru dimulai bisnis sesungguhnya. Dari satu outlet, bisnisnya menjadi empat outlet selepas mendapat modal. Tiga sahabat ini baru memberi nama selepas siap berwaralaba. Mereka sendiri mengerjakan sendiri berbagi tugas karyawan.

Sebelum mengerjakan bisnis crepes ini Sulis pernah berbisnis lain. Menurut bukunya Bunda Luar Biasa, dia pernah mengerjakan jualan bed cover atau sprei. Intinya dia menjadi distributor atau agen produk retail yang bermacam- macam. Ia pernah juga berjualan pakaian, kue, dll. Menurutnya modal usaha rumaha saja tidak membutuhkan modal lebih dari Rp.5- 10 juta.

Kembali ke Luck Crepes, maka jadilah Bunda Sulis menjadi marketing strategy manager, Nopy berperan jadi public relation manager, dan Teti kemudian bertindak sebagai operasional manager. Perkembangan dari usaha ini sangat bagus sampai Teti memutuskan keluar. Dia memutuskan keluar dari pekerjaan untuk fokus di usaha ini.

Mereka membidik pasar menengah kebawah dengan harga mulai Rp.2000 saja. Untuk strategi marketing dari segala penjuru -menyebar brosur, sosial media, iklan media cetak, dan program member. Alhasil inilah yang membuat Lucky Crepes menjadi buruan media manapun seperti SWA, Majalah Pengusaha, Franchise, Pebisnis, Tabloid Peluang Usaha, Kontan,dll. Soal Waralabanya juga tidak memungut fee ataupun royalti dari nama.

Tidak membebani mitra menjadi konsep lain. Modal investasi waralaba terjangkau yakni Rp.5,5 juta rupiah sudah termasuk join fee, peralatan, gerai, seragam dan pelatihan. Kita mencarikan lokasi dan karyawan buat jualan saja. Kemitraan bisa lewat www.luckycrepes.com atau www.luckycrepes.multiply.com. Sukses ini pun tidak begitu saja karena ada hambatan harus ditaklukan.

Sulis sebenarnya tidak berniat mengerjakan bisnis krepes. Ia malah maunya membuka usaha penitipan anak dan lembaga pendidikan TK atupun PAUD. Namun, karena ingin membuka di mall, maka dana yang ia bisa keluarkan bisa membengkak. Meski pernah ditawari investor tetapi kepastian tidak kunjung tiba. Dia lantas bertemu satu perusahaan. Tetapi mereka menawari kerja sama lembaga pendidikan dan pelatihan wirausaha.

Sayang kordinasi diantara keduanya tidak berjalan baik. Karena memang, Bunda Sulis masih sibuk dengan pekerjaanya. Gagal usaha pendidikan justru membawa arah ke bisnis kuliner. Dia yang sadar bahwa teman- teman hobi jajan akhirnya punya ide. Ketika dia bersama teman tengah nongkrong di kantin kantor, ia lantas menemukan jajanan unik bernama kue iekker.

Usaha waralaba


Ia menemukan titik "aha" nya. Lantas direalisasikan oleh mereka lewat gerobak pertama. Mereka lanjutkan lewat mencari literatur resep krepes. Berikutnya Sulis mulai mengumpulkan peralatan memasak. Outlet itu dibuka pertama kali di kawasan pasar rumput di sebuah sekolah, di Bakasi. Cobaan pertama datang lewat karyawan yang kurang bertanggung jawab.

Alhasil, Bunda Sulis harus menomboki biaya pengelolaan outlet pertama tersebut. Ia mencari lagi karyawan yang bisa bertanggung jawab.

Perkembangan positif akhirnya terlihat dari usaha krepes. Berani mengambil resiko, Sulis memutuskan buat meminjam kredit tanpa agunan di bank swasta. Pertaruhannya tersebut menghasilkan hasil memuaskan. Hasil dari usaha krepes ternyata lebih tinggi daripada bunga bank. Dia lantas mendaftarkan nama usahanya agar tidak ditiru. Cabangya telah bertambah 10 outlet dan diliput oleh berbagai media bisnis.

Liputan media bisnis menaikan pamor Lucky Crepes. Ditambah liputan khusus sebuah tabloid bisnis ternama tentu lebih naik. Omzet pun mencapai angka Rp.100 juta per- bulan dari 240 cabang berbeda. Lalu Lucky Crepes menyambut investasi pewaralaba tersebut lewat aneka produk baru, seperti martabak manis, produk wafel, dan pukis parabola.

Memiliki usaha lembaga pendidikan merupakan impian. Jadi ketika Lucky Crepes sukses, maka Bunda Sulis mulai lagi menyasar usaha pendidikan, yang sebenarnya sudah dia impikan sejak sebelum menikah. Ini sudah diyakini tetapi berjalan justru selepas dua tahun Lucky Crepes berjalan. Usaha lembaga pendidikan dimulai sejak 2005, sementara yayasan resmi menaungi lembaga baru berdiri Februari 2006.

Usaha lembaga pendidikan berkonsep kelompok bermain dan TKIT, yang kemudian dinamai Ibnu Rusyid berjalan sejak tahun ajaran 2006- 2007 di Kencana Loka, Bumi Serpong Damai. Dimana fokus pendidikan ada di pendidikan karakter dan multiple intelligence. Tidak cuma diajarkan baca dan menulis tetapi termasuk bagaiamana good character. Semua berdasarkan kepercayaan Sulis akan "golden age" masa pertumbuhan.

Usaha kedua kemudian didirikan di Citra Raya Tangerang. Perjalanan usahanya kemudian berkembang lebih pesat lewat program TPA Plus dan English Club for Kids. Yayasan Ibnu Rusyid juga termasuk rajin dalam hal mengadakan seminar dan pelatihan multi- intelligence. Untuk mereka yang mau membuka usaha ini juga diberikan pelatihan kurikulum berbasis tersebut.

Dalam hal membagi waktu di kantor ataupun di yayasan, Bunda Sulis menyerahkan kepada satu tim yang full time bekerja di yayasan. Kemudian dalam jangka panjang yayasan akan membuka sekolah guru berbasi di konsep multi- intelligence tersebut. Ini juga termasuk bagi orang tua yang mau belajar lebih banyak tentang hal multi- intelligence.

Usaha selanjutnya adalah membuka salon muslimah. Dia membuka usaha ini di kawasan Villa Ilhami, Lippo Karawaci. Meski masih embiro belum sukses tetapi tetap dijalankan. Ia memang sudah berprinsip bahwa ini soal dikerjakan atau tidak. Bunda Sulis menyadari usaha bukan tentang cepat tetapi proses. Maka kalau ada ide bisnis harus segera dilakukan.

"Kalau patokan dan tujuan kita hanyalah hasilnya, setiap proses yang belum menghasilkan akan kita anggap sia- sia," tutur wanita berjilbab ini.

Memanfaatkan Garasi Menjadi Usaha Kue Bakery

Profil Pengusaha Suteja Salim Wijaya dan Istri 


 
Ingin membuka usaha roti sendiri awalnya. Nanik Sumiyati lantas nekat membuka toko kue sendiri berbekal hobi membuat kue. Usaha roti bermodal rumah pribadi pada 1999, bermodal uang tabungan sebesar 25 juta untuk menyewa rumah sekaligus toko. Garasi rumah dijadikan toko roti sekaligus tempat jadi produksi. "...di belakang untuk tepat produksi," papar Nanik.

Modal segitu mampu menghasilkan aneka roti enak. Nani menawarkan pesanan tetangga serta kenalan di sekitar pemukiman Tlogosari, Semarang. Pesanan semakin banyak kian waktu lantaran layanan prima. Juga sudah termasuk rasa enak dan harga terjangkau menjadi daya. Itulah dua aspek sukses toko roti kecil yang kemudian dinamai Virgin.

Bersama sang suami, Suteja Salim Wijaya, keduanya menjual sedikit saja buat awalan. Teja menjelaskan ia sendiri cuma coba- coba. Tidak begitu ambisus, tetapi dikerjakan sebaik mungkin dan penuh tanggu jawab. Inilah kenapa setiap permasalah dilampaui dengan ketekunan. Tahun ke- empat terlampaui dimana toko kue Virgin telah nampak prospeknya.

Sebuah garasi rumah disulap menjadi toko roti. Keduanya menjual aneka roti manis yang dipajangnya rapih di etalase. Awal produksi cuma membuat 100 potong roti sehari. Dan, keduanya cuma bermodal 10 varian rasa, pokoknya beda dengan toko roti terkenal.

"Awalnya memang hanya iseng mengisi waktu saja sambil menyalurkan hobi dan telenta istri saya yang bisa membuat roti," papar Teja.

Keduanya bekerja sendiri dibantu seorang pembantu. Mereka melakukan segala proses produksi, dari mulai belanjar, menyiapkan bahan baku, sampai mengolah dan menjualnya ke orang- orang. Dalam wawancara bersama Pakaroti.com, Teja menjelaskan usahanya mulai berjalan baik, sedikit- demi sedikit maka jumlah karyawan meningkat.

Teja sendiri sampai tahun ke empat masih fokus bekerja. Dia masih tercatat menjadi pemasok toko bahan bangunan. "Saat itu, saya melihat perkembangan Virgin lebih cepat daripada bisnis saya," tuturnya. Alhasil gajinya sendiri terlampaui oleh sang istri. Peputaran uang pun lebih cepat dibanding usaha bahan bangunan yang sering menunggak pembayaran.

Pensiun dini


Iseng menjadi bisnis serius itulah Teja. Ia pun memutuskan pensiun dini menjadi suplier bahan bangunan. Dia sendiri kagum bagaimana istrinya bekerja. Teja ingin turun tangan membantu Nanik yang kewalahan. Modal ilmu marketing menjadi andalannya memajukan bisnis bakery. Sengaja dibidiknya pasar menengah ke bawah meski untung sedikit tetapi banyak. Strategi tersebut terbukti efektif diterapkan oleh Virgin Bakery.

Produk berkualitas ditambah harga murah meraih kelas bawah. Teja lantas menerapkan konsep swalayan. Ini akan mempermudah orang memilih kue berdasarkan rasa dan harga. Kue- kue disusun disediakan di rak- rak kue. Semenjak 2003 -an namanya toko kue Virgin terkenal dan menjadi buah bibir, yang mana pembeli datang juga dari luar Semarang, seperti Ungaran, Kudus, Jepara, Pekalongan, sampai Tegal.

Kekaguman datang tidak cuma penikmat roti tetapi produsen bahan baku. Mereka berbondong berlomba agar bisa menjadi pemasok. Bagaimana tidak selama lima belas tahun, usaha bakery mereka selalu riuh oleh pembeli. Para produsen ini juga memberikan pelatihan mengolah bahan baku mereka. Bukan lagi disebut toko kecil karena tingkat produksi mencapai 10 ribu potong hingga 15 ribu per- hari.

Mereka banyak memasan untuk aneka kesempatan. Taja selalu mengamati prilaku konsumen agar tepat di marketing produk. "Itu penting untuk menekan jumlah produk yang mubazir, karena roti memiliki umur," ujar Teja.

Dia tidak segan memberikan layanan antar. Langsung ditangani sendiri ketika memasan banyak. Sambil itu, ia mengirim pesanan, termasuk melakukan pemasaran dan informasi soal produk. Menurutnya banyak orang memilih praktis. Orang lebih memilih kue buat buah tangan selepas hajatan. Ketika musim hajatan maka toko kue Virgin selalu ramai permintaan.

Untuk produk terlaris, ia menyebut nama kue berbentuk cincin bulat atau donat. Mendukung kebutuhan dari pasar lebih luas maka dibukalah cabang. Dia mencoba menangkap pembeli luar Semarang dari Ungaran. Ya cabang kedua Virgin Bakery di Ungaran, Jawa Tengah. Karena memang banyak pembeli datang dari ujung selatan Kota Semarang.

Garasi yang dulu menjadi pusat kini menjadi besar. Toko besar yang sudah mirip minimarket khusus buat roti memanjakan pengunjung. Permintaan cukup tinggi ditambah dari cabang Ungaran, yang tanahnya seluas 1,1 hektar. Teja mempekerjakan 200 orang karyawan, ditambah pembangungan pabrik roti kedua. Jika bicara mengenai omzet sudah mencapai Rp.50 juta per- bulan.

Teja sendiri masih punya hasrat membuka cabang di kawasan Semarang Barat. Sudah 15 tahun berbisnis di bidang roti, hal paling andalan adalah ketekunan itu sendiri. Apalagi sekarang usaha sejenis telah menjamur di berbagai tempat. Marketing kuat melalui pemahaman akan pelanggan menjadi andalan lain. Melalui cita rasa enak membuat Virgin Bakery juga tersebar dari mulut ke mulut.

Usaha Kue Kacang Kediri Modal Lima Ribu Rupiah

Profil Pengusaha Teguh Poerwono Edi


 
Teguh jualan kacang baru ketika tahun 1989 -an. Dia bersama keluarga baru saja pindah ke Kediri dan ingin buka usaha sendiri. Hingga berjalan waktu, Teguh Poerwono Edi, menjadi pengusaha sukses kue kacang di daerah tersebut. Kisah ini dimulai 26 tahun silam, yang mana ia sekarang kantongi omzet sampai ratusan juta rupiah. Kebetulan dia dan sang istri punya hobi sama, yakni membuat aneka kue.

"Awalnya, istri saya suka membuat kue, terus resepnya saya ubah- ubah," beber Teguh. Hobi itu pula yang melahirkan resep kue kacang bermerek Tidar. Selepas matang kue kacang cukup ditawar- tawarkan ke para tetangga dan teman- teman.

Hasilnya ternyata enak sampai banyak orang berminat. Ia serius akan hasilnya dan mulai meproduksi lebih banyak lagi. Keberuntungan dipihak Teguh karena sekitar rumahnya dekat kawasan pabrik. Mereka pekerja di pabrik ketika sore hari bisa mampir membeli ke toko miliknya. Awal usahanya masih menghasilkan 300 buah kue per- hari.

Modal awal cuma Rp.5000,- ditambah peralatan seadanya. Uang segitu dibelikan terigu 3kg serta gula dan aneka bahan lain. Saat itu, Teguh mengingat harga terigu per- kilo masih Rp.750, dimana bisa diubah menjadi ratusan kue kacang. Untuk peralatan cetak cukup memakai tutup botol minuman anaknya. Roti kacang yang sekarang menjadi khas Kediri ini dijualnya Rp25 per- buah.

Berkat usahanya tanpa menyerah, Teguh mendapatkan penghargaan Bogasari SME Award 2012 lalu.

Resep rahasia


Dia dibantu anak dan seorang pembantu mengerjakan pesanan. Meski keterbatasan, Teguh masih optimis usaha kue kacangnya akan berkembang. Banyak tantangan memang dilaluinya setiap waktu. Hingga selama bertahun- tahun usaha kue kacangnya semakin dikenal luas. Kini, ia memperkerjakan 45 orang karyawan, yang mana sudah punya tempat produksi sendiri.

Dalam sehari, rumah produksi menghasilkan 67.200 kue kacang. Ukuran kue kacangnya sebesar kue bakpia atau donat mini berbentuk bulat. Kue tersebut lantas dikemas dalam toples. Satu toples kue kacang sekarang dijual seharga Rp.240 per- butir. Bahan baku dibutuhkan mancapai 20 sak sampai 22 sak per- hari. Omzet kue kacangnya telah mencapai angka Rp.300 juta per- bulan.

Selain Kediri, kue kacang milik Taguh bisa melalang buana ke penjuru Indonesia, semua berkat internet yang membangun resellernya di berbagai daerah.

Modal memang terbatas tetapi Taguh tidak memilih pinjaman bank. Sebenarnya ada keinginan meminjam ke Bank tetapi dirinya sadar. "Akses terhadap pinjaman modal bank itu tidak mudah," jelasnya. Modal satu- satunya bisa ia tawarkan cuma berhutang ke warung. Lewat cara inilah ia bisa mendapatkan bahan baku tanpa bayar dulu.

Karena salalu bayar tepat waktu dan tidak pernah meleset, Teguh bisa dipercaya oleh pihak pemasok bahan baku. Bahkan sang pemasok menawarkan bahan baku lebih banyak lagi. Jujur, Teguh nyeletuk tidak punya uang buat bahan baku lebih banyak. Pemasok bahan baku pun meyakinkan Teguh dengan kemudahan. Ia boleh mengambil tepung terigu dan bayar kalau sudah akhir pekan.

"...mereka membolehkan saya berhutang," papar Teguh. Semenjak itu, dia mulai mengambil bahan baku buat enam hari ke depan. Dimana biasanya dia memakai tepung terigu sebanyak tiga sampai lima kilogram per- hari. Kini, ia bisa membuat lebih banyak berkali- kali dan laku semua dijual. Karena dipercaya pula usahanya bisa mendapatkan kemudahan lain.

Ia juga dipercaya sama pedagang peralatan kue. Beberapa kali dirinya mengambi peralatan kue seperti oven, plastik, serta barang lain, dan soal pembayaran akan dilakukan belakangan. "Hampir seluruh bahan saya hutang dari pedagangan," ujar Teguh. Berkat bahan baku lebih banyak serta peralatan lebih baik, tentunya ia bisa lebih banyak berekspansi lebih cepat.

Hasil keuntungan beberapa ditabung setiap hari. Di akhir pekan, ia akan membayar semua hutang- hutang yang dimilikinya. Ia tidak mau menyia- nyiakan kepercayaan mereka. Teguh sadar jika kita pandai merawat kepercayaan maka bisnisnya berkembang. Kue kacang bermereka Tidar semakin bersinar. Sekarang, ketika butuh terigu, pemasok tepung akan mudahnya menyuruh Teguh ambil.

"Berapa pun saya ambil pasti dibolehkan pemilik toko," celetuk Teguh lagi, disambut tawa. Ketika sekala dari usahanya membesar baru bank datang menghampiri. Ia memperoleh pinjaman sampai Rp.220 juta dari sebuah bank untuk membesarkan usaha. Uang tersebut digunakan untuk membeli kedaraan buat distribusi kue kacang Tidar.


Ambisi terbesar seorang Teguh adalah memasarkan Tidar ke seluruh Jawa. Jangkauan kue kacang miliknya sejauh ini masih di kawasan Jawa Timur. Bukan dipasarkan dia sendiri tetapi dibawa lewat internet. Reseller lah yang membesarkan usaha kue kacang miliknya. Karena sudah ada reseller, dia optimis bisa menjangkau lebih luas ke seluruh Pulau Jawa. Untuk itupula kapasitas produksi digenjot maksimal olehnya.

"Saya ingin punya mesin cetak kue yang sudah canggih," terang Teguh.

Untuk sekarang pembuatan kue kacang masih buatan tangan. Jika diganti mesin tentu produksi bisa naik sampai seratus persen. Teguh ingin dari 67.200 per- hari menjadi 270.000 kue per- hari. Karena memang itu jumlah pesanan terbanyak yang diminta pasar terutama ketika Lebaran. Ia juga berencana merubah kemasan kue agar tahan lebih lama.

Untung sedikit menjadi prinsip seorang Teguh. Yang terpenting untung sedikit asal bisa berproduksi kembali. Ia sendiri sadar resellernya menjual lebih mahal. Tetapi dia tidak ambil pusing akan hal tersebut,"Tidak apa- apa pedagang lain yang bisa menikmati keuntungan lebih, yang penting saya jalan terus," tuturnya. Hitunganya semakin banyak reseller semakin banyak permintaan dan untung pasti semakin besar.

Budidaya Burung Merak Sendiri Pertama di Indonesia

Profil Pengusaha Surat Wiyoto 



Di Indonesia cuma terdapat satu pusat penangkaran merak terbukti sukses. Itu pun bukan milik pemerintah bukan pula kebun binatang manapun. Pria itu bernama Surat Wiyoto, yang berhasil menurunkan sampai ke keturunan ketiga. Loh bukannya merak itu binatang langka dilindungi? Yah, tetapi pengecualian buat sosok pria satu ini, pasalnya tidak ada lain sosok mengalahkan dia.

Hanya lah seorang petani biasa berasal Dusun Suko, Desa Tawangrejo, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun. Ia menjadi sosok fenomenal seketika. Bayangkan di literatur manapun tidak pernah tercatat seperti kisahnya. Bukan isapan jempol, karena pemerintah sendiri menyaksikan bagaimana mereka "nyata". Dia juga bisa membuktikan lewat silsilah biologis.

Jika biasanya merak cuma berada di kandang kebun raya atau taman wisata. Kini, kamu bisa mengunjungi langsung dan menatap langsung ke Dusun Suko. Letaknya memang jauh berada di dataran tinggi di kawasan hutan jati, jauh dari kebisingan. Mereka yang ditangkar sendiri adalah jenis merak hijau atau pavo muticus. Dari Kota Madiun, dibutuhkan sekiranya 1,5 jam memakai motor, hingga kita mencapai wilayah perbukitan itu.

Rumah Surat sederhana tidak tampak seperti sosok hebat. Pria 55 tahun ini mengaku kepada pewarta dari Republika tidak direncanakan. Ia sama sekali tidak khusus menangkar merak. Alkisah, ketika dirinya tengah mencari rumput di alas (hutan) kawasan Sampung, bertemulah sekelompok warga berkumpul. Ia melihat ada merak liar bersama mereka. Memang kawasan itu ramai cerita tentang merak liar penghuni hutan sekitar.

Sebagai hewan liar mereka sukar sekali dideteksi. Jikalau ditemukan warga, merak akan menjauh dan masuk ke hutan. Sampai di tahun 1999, ketika kembali mencari rumput, ia menemukan empat telur merak di hutan tempatnya mencari makan. Merasa tidak ada pemilik dibawalah pulang telur tersebut. Surat membawa telur sebesar telur angsa itu ke rumahnya.

Tidak untuk dimasak itulah pemikiran Surat. Sebuah firasat terbersit dalam dirinya agar tidak dimasak. Ia merasa akan ada hal baik soal keberadaan telur tersebut. Dibawalah pulang empat telur merak, lantas Surat tempatkan mereka di kandang ayam agar dierami.

Telur merak


Surat memanfaatkan ayam buat mengerami empat telur merak tersebut. Selang 15 hari, terlur itu menetas loh, siapa sangka ide sederhana itu berhasil menghasilkan. Empat merak kecil lahir jenis merak masing- masing itu dua jantan dan dua betini (F-0). Ia memisahkan mereka dari induk ayam. Proses tersebut terus dilakukanya memanfaatkan induk ayam.

Fakta dijelaskan oleh Surat bahwa merak dewasa enggan mengerami terlurnya. Ia pernah memaksakan induk merak buat mengerami telur; hasilnya nihil. Cara menangkar ya ketika sudah bertelur, Surat langsung bawa telurnya ke kandang ayam. Dierami lah telur- telur tersebut sampai menetas jadi merak kecil. Anehnya itu si indukan ayam selalu sukses menetaskan telur merak hingga menetas.

Cara merawat merak memang tidak tertulis. Ia hanya menyamakan mereka seperti layaknya ayam. Dia pakai cara tradisional merawat ayam ke anakan merak. Karena dianggap seperti ayam, maka makanan mereka pun jadi berupa jagung, pelet, sayuran. Pemberian makan tidak setiap hari, karena kita tau sendiri Surat itu bukanlah peternak sukses. Dia hidup sederhana dan makan seadanya begitu pula ternaknya.

Uang sebesar Rp.450 ribu untuk pelet tidak setiap hari. Terkadang ia bahkan bisa memberi makan mahal berupa beras merah. Karena tidak mendapatkan bantuan pemerintah setempat, usaha yang dilakukan pria ini cuma seadanya asal merak bisa tumbuh sehat. Memang beras merah dikenal memiliki manfaat memberikan stamina binatang unggas.

Apakah tidak dilarang mungkin pertanyaan menyeruak lagi. Yah, cobaan datang awal 2011, ketiga petugas Badang Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) melakukan operasi binatang langka. Maka Surat ketangkap tangan memiliki ungga langka dilindungi. Merak hijau memang masuk binatang langka daftar yang dilindungi. Ia tidak kehabisan akan agar merak- meraknya tidak disita oleh petugas.

Ia meminta bantuan dokter hewan yang sering ke kampungnya. Berkat bantuan mereka, petugas diyakinkan ini bukan sembarang merak. Kemungkinan karena merak tersebut merupakan keturunan kedua (F-1) dari indukan utama (F-0). Inilah mengapa pihak pemerintah rela menyerahkan nasib tumbuh kembang mereka ke Surat. Sesekali secara rutin mereka cuma mengontrol kesehatan mereka milik Surat.

Surat memegang surat ijin konserfasi merak. Kebahagiaan masih ditangan hingga malah kembali lagi datang seketika. Masa itu musim penyakit flu burung (H5N1) yang akhirnya membunuh merak miliknya. Total enam merak keturunan kedua atau hasil konservasi Surat mati. Mereka mati bersamaan terkana penyakit panas flu tersebut. Karena takut menular ke merak lain, maka Surat segera mengubur binatang langka tersebut jauh.

"Saya sampai menangis saat mengetahui merak peliharaan saya mati," kenang Surat.

Melahirkan banyak


Beruntunga karena merak tersebut sudah beranak pinak. Tahun lalu sudah melahirkan sembilan ekor merak generasi kedua (F- 2) yang berusia enam sampai sembilan bulan. Jika biasanya mereka bertelur sekali, tapi entah tahun itu bisa bertelur dua kali, Surat terkejut akan hal tersebut. Mungkin kasih sayangnya membuat si merak merasa nyaman seperti rumah sendiri.

"Ini baru pertama terjadi selama saya memelihara merak," akunya. Ini ditambah lima merak generasi pertama yang selamat dari flu burung total 14 ekor merak hijau.

Kemudian merak menjadi 14 ekor, yang dibaginya ke dalam enam sangkar di dua tempat berbeda. Kandang sederhana seluas 5x4 meter disekat tiga bagian. Yang paling banyak memakan tempat di kandang tengah, satu kandang berisi satu jantan dan dua betina generasi kedua. Satu tempat lagi berisi sepasang disiapkan untuk musim kawin bulan September hingga November.

Enam merak usia sembilan bulan dikandangkan bersama. Tiga lain ditaruh di kandang berbeda terbuat dari kayu, dan ditaruh di halaman rumah. Sepasang merak dikandangkan bersama di satu kandang. Lantas satu merak berusia enam bulan yang jinak dipisahkan. Pasalnya, Surat memang menyukai merak satu ini, dimana paling penurut dengannya.

Empat belas tahun bergelut menangkarkan merak. Suka duka menghadang karena merak- meraknya kadang tidak bertahan. Menurut pakar karena disebabkan perjodohan satu garis keturunan. Surat juga tahu benar bahwa merak- meraknya punya kelakuan istimewa. Pada bulan Februari sampai November, kecuali saat masih bertelur, mereka ini hobi nangkring di atas daripada berjalan di tanah. Mereka mau turun ketika makan saja.

Cuma memiliki satu merak dewasa jadilah cuma satu berbulu indah. Merak satu- satunya jantan dewasa yang bulunya mekar warna- warni. Nah, dimusim kawin, bulu merak akan rontok berganti bulu baru. Sekali rontok sampai 200 lembar bulu merak. Karena bulunya indah dan mewah, maka jadilah bulu saja ditaksir Rp.1000 per- bulu. Bulu tersebut akan digunakan sebagai bahan membuat hiasan ruma atau reog Ponorogo.

Pernah karena terdesak kebutuhan uang dijualah sepasang merak. Karena merupakan keturunan ketiga oleh karenanya pihak BKSDA membolehkan. Sebenarnya ia merasa sayang karena niat sejak awal memang mau dipelihara saja. Ia sendiri butuh uang karena sudah musim panen. Ini termasuk agar bisa mencukupi uang buat memberi makan meraknya sendiri. Orang iseng pun tertarik mengambil merak- merak tersebut tanpa ijin.

Ia sendiri tidak masalah kalau orang tertarik dan ikut menikmati keindahan. Pernah sepasang merak dijualnya ke Bupati Ponorogo seharga Rp.4 juta dan Rp.5 juta per- ekor. Kasus flu burung sebelumnya membuat dia lebih waspada lagi. Dia sekarang menyiapkan berbagai macam obat serta vitamin. Pengobatan sederhana yang disarankan mantri lembu katanya.

Merak ini punya ikatan emosi dengan Surat. Jadi tidak sembarangan orang bisa memiliki mereka. Ketika ada orang tidak baik datang berniat tidak baik, merak- meraknya tau, mereka seolah memberi taunya agar tidak mengiyakan kata orang itu. Ketika mereka berniat membeli merak, Surat akan langsung menolak. "Merek- merak ini memberi tau saya," jelas Surat.

Sukses Berkat Mertua Juragan Mi Basah Malang

Profil Pengusaha Mikno Ade dan Keluarga 



Ketika masih bujangan sudah bergelut di bisnis mi. Sayang nasib berkata dia harus gagal. Kegagalan tidak pernah membuatnya berhenti berusaha loh. Lepas berjualan mi, Mikno Ade memilih jualan permen gulali dan kembali berjualan mi lagi saja. Siapa Mikno? Bagi masyarakat Malang, Jawa Timur, dirinya dikenal sebagai juragan mi basah Mi Gloria.

Jangan berhenti berbisnis sedini mungkin. Berusahalah siapa tau nasib mendatang berakata lain. Seperti hal Mikno yang memulai jualan mi pangsit sejak lulus SMA. Unik dia membuat sendiri bahan- bahan termasuk soal mi mentah. Dia pernah gagal dan sepi sekali jualannya. Karena tidak ada biaya sekolah, selepas lulus sekolah menangah atas, dia memilih melanjutkan berjualan mi kembali pada 1963.

Ia melanjutkan lagi warung milik orang tua. Dia berjualan mi lagi di Sawahan Malang, Jawa Timur. Jangan bayangkan dia cuma mewarisi usaha keluarga. Karena faktanya: Kedua orang tua Mikno sebenarnya adalah pedagang kelontong. Entah mendapat ide dari mana dan bagaimana caranya Mikno membuat mi sendiri. Ia sendiri mengaku malu bertanya ketika memulai membuat mi pangsit.

"Yang penting, bahannya ada tepung, bumbu, telur, air, dan garam," tuturnya.

Sebagai awal usaha Mikno cuma menghasilkan dua kilogram. Dalam perjalanan setahun berusaha sendiri, ia menemukan aneka kesukaran, hingga tepat satu tahun menutup usahanya. Ia sendiri baru sadar kalau adanya pembeli datang ke tempatnya juga karena kasihan. Mereka adalah mantan guru dan teman- teman Mikno sendiri.

Usaha mertua


Ia pernah menjadi supir taksi, pedagang lotre, berjualan bakpao, hingga permen gulali. Nasib Mikno sendiri memang tidak kunjung membaik. Dia seolah pasrah tetapi tetap berjuang. Tahun 1970 -an, Mikno bertemu pujaan hati, Paula Chandrawati, anak penjual cui mi. Mikno lantas terjun membantu warung milik mertua di daerah Sawahan.

Mikno juga membantu mertua memindahkan warung ke dekat kontrakan Jalan Kawi, Malang. Pindahkanya warung sang mertua karena kasus rasial. Usaha ditutup oleh pemerintah di tahun 1966 karena sang mertua adalah keturunan TiongHoa. Padahal warung tersebut telah menjadi penopang hidup keluarga besarnya. Dia sendiri mengenang harus kembali bekerja serabutan.

Selepas warung dipindah usahanya terlihat membaik. Dia berjualan cui mi buatan sendiri. Dibantu sang istri, usaha ini nampak lebih baik dan banyak pembeli datang membeli. Berbeda dengan ketika jualan mi pangsit ini lebih menjanjikan. Melihat permintaan membesar, Mikno memutuskan membuka usaha pembuatan aneka mi basah. Ia lantas menyerahkan pengelolaan warung ke istri.

Karena usaha tersebut sudah berjalan cukup lama. Berbeda dengan sebelumnya, Mikno sudah punya modal usaha sendiri. Meski tidak banyak tetapi cukup buat membeli mesin. Ia tinggal memutar tangan dan mi akan keluar berbentuk memanjang. Berjalan waktu seorang kenalan tertarik akan usaha dijalankan Mikno. Teman itu berkata mi buatan Mikno memang lebih enak.

Sejak itu, secara berkala sang teman memasan, itupula yang mendorong Mikno lebih bersemangat. Alhasil, ia bisa berproduksi 10kg sampai 25kg memenuhi pesanan. Untuk hari raya pesanan mi bisa meningkat tajam dibanding hari biasa sampai 50kg.

Pesanan meningkat membuat semangat bekerja. Dia lantas membeli aneka mesin lengkap. Inilah cika bakal dari usaha basah Mi Gloria. Pabrik mi kecil bernama Gloria yang terinspirasi lagu gereja. Lagu berlirik kata- kata Gloria serta nama bengkel tempatnya mangkat. Mungkin takdir ya, nama tersebut sama halnya bengkel dulu ia mangkal berjualan es.

"Saya bermimpi untuk menjadi orang sukses seperti pelanggan bengkel mobil itu," kenang Mikno. Didukung kemampuan mekanik masalah seperti mesin rusak juga teratasi. Lengkap sudah bekal seorang Mikno buat menjadi pengusaha sukses -kerja keras, ketrampilan, dan cita- cita.

Ia memodifikasi mesin mi sendiri. Tujuannya agar menghasilkan tekstur lebih lembut dan kelenturan bagus. Selepas sepuluh tahun mengerjakan usaha mi basah terbayar sudah. Ayah tiga anak ini sudah bisa bersantai menikmati wisata bersama keluarga ke Bali. Ini menjadi pengalamn pertama berlibur ke tempat wisata bagi dia dan keluarga.

Puluhan tahun mengerjakan aneka mi basa membuatnya ahli. Dengan percaya diri, Mikno siap melayani tiap permintaan konsumen. Ukuran berapa saja, bahan apa saja, berapa banyak, dia yakin bisa membuatnya buat kita semua. Mi Gloria sendiri fokus membuat mi basah tanpa telur atau vegetarian. Juga mereka ahli soal membuat mi berbahan telur bebek.

Usaha keluarga


Mikno memang prinsip tidak memakai pengawet berlebihan. Itulah kenapa mi buatan Gloria tidak awet jika disimpan di suhu ruangan. Selain itu,dia menjelaskan mi Gloria memakai kemasan food grade loh. Pabrik pun buka dua kali sehari menjual mi seharga Rp.10.000 sampai Rp.25.000. Pabrik kecilnya telah memproduksi puluhan ton mi per- tahun.

Sekarang, puluhan tahun berjualan, Mi Gloria menjelma menjadi pabrik mi terbesar di Malang, yang mana segmen pembeli menengah atas. Usaha ini pun dilanjutkan oleh sang anak, Wiyono Gunawan, membuka banyak outlet mi dan depot cui mi di Malang. Permintaan naik setiap tahun didorong naiknya tingkat wisata di Malang.

Peningkatan harga BBM sendiri tidak begitu berpengaruh. Untung karena harga bahan baku stabil membuat Wiyono optimis. Dia menyebut cara mengatasi bukan menaikan harga. Mi Gloria lebih memilih mengurangi di ketebalan dan bobot mi. Usaha yang mendukung aneka penjualn grobak, depot, restoran, dan katering di penjuru Malang ini memang hebat.

Setiap tahun penjualan pun tetap meningkat meski BBM naik. "Malah semakin banyak turis yang semangat berkuliner di Malang, jadi penjualan aman," cetus Miyono. Kenaikan biaya produksi tidak sampai 5% dari kenaikan bahan baku telur, bahan baku terigu, ongkos angkut,dll. Kenaikan terjadi ketika upah karyawan dan biaya listrik saja.

Wiyono sendiri masih optimis membuka pabrik baru. Ia berlandaskan masyarakat Indonesia adalah pemakan mi no.3 di dunia. Membuka depot juga masuk opsi dipilihnya mengatasi kelesuan. Terutama jika pembelian dari pedagang lain menurun. Ia mengibaratkan perjalanan sang ayah, Mikno Ade, memulai berjualan lewat depot bakmi.

Lewat sana, selain tempat jualan ketika orderan menurun, juga sebagai sarana marketing. Nah, ketika orang datang makan mi juga sadar bahwa mereka juga jualan mi mentah. Siapa tau, pembeli akan memilih membeli mi mentah dan dimasak sendiri, atau mereka juga bisa berjualan sendiri dibantu Mi Gloria. Wiyon lanjut ini memang cukup sulit dijalankan.

Menjual mi basah dan mi matang membutuhkan nama besar. Kebanyakan pengusaha mi basah malang lebih memilih berjualan mentahan. Kalau juga membuka depot mi sendiri, hanya pemain besar, tentu salah satunya ya Mi Gloria yang dijalankan oleh Wiyono ini. Sementara itu pengusaha pemula akan memilih membanting harga saja.

"Kalau harga tepung naik, harga mi tak bisa langsung dinaikkan jadi harus pintar-pintar menjual produk," jelasnya lebih lanjut.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba