Pengusaha Pakaian Dalam Mereguk Hoki Bisnis

Profil Pengusaha Jefri Van Novis

 
pengusahapakaindalam.png

Pengusaha pakaian dalam mereguk hoki bisnis. Namanya kini dikenal sebagai pemilik usaha travel dan umroh. Itu semua berkat nama usaha yang diambil dari brand pakaian dalam. Dia dulu memang jualaan pakaian tidak perlu malu.
 
Nama usahanya diambil dari sebuah merek pakaian dalam. "Bonita" walau terkesan tak sopan menamai bisnis Umrohnya dengan nama ini. Tapi nama hanyalah nama, toh bukan dia, Jefri Van Novis sang pemilik merek tersebut. 
 
Dia mendapatkan barang dari kakak sepupunya kala itu usahanya digunakan untuk membiayai kuliah. Sejak lulus kuliah terbersitlah pikiran untuk berdagang. Bersama sang kakak sepupu yang mensuplai produk pakaian dalam Bonita, ia pun mulai berjualan semuanya semata- mata karena kebutuhan.

Nama sukses


Bonita sendiri berarti berarti wanita jelita dalam bahasa Spanyol. Nama inilah yang begitu lekat dan tak bisa dipisahkan dari Jefri Van Novis, pria lajang kelahiran Bukit Tinggi 16 November 1981 ini. Dan akhirnya ketika tak lagi berbisnis pakaian dalam, nama ini masih dipakainnya. 
 
Hoki kalau kata pengusaha keturunan Tionghoa mah. Kemana-mana ia selalu membawa pakaian dalam wanita. Jefri kemudian sangat identik dengan Bonita, merek pakaian dalam wanita yang kurang jelas impor atau produk lokal.

Menenteng pakaian dalam sebagai usaha pastilah membangun mental tersendiri. Jefri memang sosok yang tangguh meski usaha pertamanya. Usai SMA kelas 3, Jefri yang termasuk murid terpandai disekolahnya tak yakin bisa meneruskan kuliah, "Darimana biayanya, orang tua saya bukan termasuk orang berada," kenangnya. 
 
Meski begitu ia tetap mengikuti SPMB. "Ketika hasil SPMB diumumkan, saya termasuk yang diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, Padang," ucap sang pengusaha muda.

Dari kegetiran biaya kuliah dan biaya hidup di Padang Pelak, jadilah ide berdagang muncul. Jadilah Jefri pedagang produk pakaian dalam wanita, brand Bonita meliputi bra, celana, korset dan sejenisnya dimana ia bekerja sama dengan kakak sepupunya di Jakarta. 
 
Modalnya hanyalah tekat dan kepercayaan dari kakak sepupunya, karena Jefri tak memiliki modal sepeserpun. Ia mendapat kredit selama satu minggu. Jefri segera bergerak memasarkan produknya ke pasar- pasar tanpa berpikir dua kali.

Bonita sendiri adalah merek pakaian dalam untuk kalangan menengah ke bawah. Tipikal orang Minang asli, ulet, dan pantang menyerah itulah dirinya. Hari pertama menginjak kota Padang, ia langsung memasarkan produk ini. 
 
Semua peluang dijajalnya. Selain memasok toko-toko grosir, juga memasarkan ke pedagang eceran dan kaki lima. Sehingga ia mendapatkan margin lebih besar lagi. Semua toko di Padang ditawarinya.

Ia juga menjajakan dagangannya hingga ke  pasar Aur Kuning yang terkenal strategis, merupakan pasar grosir terbesar di Sumatera Utara. Lokasi pasar ini sangat strategis, tak jauh dari terminal bis antar kota, sehingga semakin ramai dikunjungi. 
 
Banyak pedagang dari daerah lain yang datang berbelanja ke pasar ini untuk didistribusikan ke kota lain. Tanggapannya sangat beragam. "Ada yang suka dan memuji, tak sedikit juga yang meremehkan produk kami," katanya

Suka duka berbisnis


Tanggapan negatif tak dihiraukannya, terus maju dengan bisnis yang terdengar nyeleneh ini. "Kalau kita menawarkan sepuluh toko saja, mudah-mudahan ada yang membeli satu toko saja produk kami," begitu jelasnya. 
 
Karena ia menawarkan ke ratusan toko, maka jumlah toko yang berkenan membeli produknya pun lumayan banyak. Ke kampus- kampus ia pun tak ragu membawa barang dagangannya dan menawarkannya kepada rekan kuliahnya secara langsung.

Sambutan teman- temannya pun beragam, ada yang salut terhadap semangatnya itu dan ada pula yang melecehkan.

"Saya sempat dijuluki tauke bra. Biar saja, saya malah menikmatinya," katanya santai. Malah julukan itu membuat Jefri dan dagangannya lebih terkenal. "Banyak juga rekan-rekan wanita yang memesan dagangan saya," katanya. 
 
Belakangan, ketika usahanya kian berkembang, kolega yang sempat melecehkan itu malah berbalik salut kepadanya. Tak berhenti kuliah, ia pun tetap melaju dengan nilai yang tinggi. Ia mengambil jurusan Manajemen Pemasaran yang diselesaikan dalam tempo 3,5 tahun. 
 
IPK -nya juga bagus yaitu 3,3. Agar bisa mengerjakan keduanya ia harus bisa membagi waktu. Tiada kata bersanatai dalam kamus bisnis seorang Jefri. Tiap senin hingga jumat dari pagi hingga siang ia fokus kuliah dengan tekun. 
 
Sore harinya ia berkeliling pasaraya Padang menagih pembayaran kepada toko-toko yang mengambil produknya. Jum’at sore ia pulang ke Bukittinggi membawa uang untuk disetorkan sekaligus membawa lagi barang yang akan dijual minggu kemudian.

Sebelum pulang ke Bukittinggi Jefri biasanya mendatangi satu demi satu toko yang biasa dipasoknya, "Cari order," imbuhnya. Minggu sore ia telah ada di Padang kembali untuk menyerahkan pesanan ke pelanggan-pelanggannya. "Begitulah saya setiap minggu," katanya. 
 
Disela- sela padatnya jadwal ini ia masih sempat untuk kursus bahasa Inggris. "Ini merupakan modal penting untuk menghadapi persaingan global," katanya. Usai berkuliah di 2004, ia masih mensuplai barang ke Padang, namun hari- hari lebih banyak di Bukittinggi.

Ia membantu sang kakak berjualan pakaian dalam. Disisi lain ia belajar banyak dari sang kakak mengenai seluk beluk pasar grosir terbesar di Sumatra Utara itu.

Bonita Tour


Di akhir 2006, Jefri mantap untuk mengelola bisnis sendiri, tak mau bergantung kepada sang kakak. Bisnis pakaian dalam ditinggalkannya meski prospeknya masih bagus. Semua pelanggan dan pengecer diserahkan kakaknya untuk menggantikan. 
 
Memulai bisnis dari awal lagi namun satu hal yang tak bisa lepas; nama merek Bonita melekat pada bisnis barunya. Usahanya berupa travel dan perjalanan umroh, bisnisnya yang diberinya nama Bonita Tour and Travel.

Perusahaannya fokus menangani pemesanan tiket pesawat udara untuk tujuan kedalam dan keluar negeri. Dengan modal yang tidak terlalu banyak, Jefri cukup merintis usaha barunya dengan menjadi sub- agen penjualan tiket pesawat. 
 
Setelah setahun menjadi sub- agen, Jefri bisa mewujudkan keinginannya menjadi agen resmi. "Sebagai agen resmi kita bisa menikmati komisi secara utuh, serta mendapat sejumlah intensif lainnya," katanya.

Pada 2007, ia mengajak sang kakak untuk mendirikan PT agar bisa menjadi agen resmi untuk selanjutnya. Disini ia merangkak dari bawah lagi. Modalnya mepet dan harus mendekati maskapai satu demi satu untuk menjadi agen. Berawal dari Mandala Airlines lalu Batavia Air selanjutnya. 
 
Berkat kegigihan menjual tiket satu demi satu maskapai termasuk Garuda Indonesia mempercayakan penjualan tiketnya. Potensi bisnis di sektor ini terbilang besar.

Orang Minang memang terkenal perantau yang kerap bepergian ke seantero nusantara, bahkan mancanegara untuk berniaga dan menggerakkan roda bisnis mereka. Nah, dari sanalah bisnis macam ini bisa berjaya. 
 
Dengan jejaring luas dikalangan para pedagang besar dan grosir di pasar Aur Kuning, Jefri  bisa berubah menjadi peluang. Hubungan baiknya dengan sejumlah pengusaha dan instansi pemerintah membuat banyak diantara organisasi tersebut yang memesan tiket kepadanya langsung. 
 
"Alhamdulillah, cukup banyak yang mempercayakan semua urusan perjalanan penerbangannya kepada Bonita," ungkap Jefri. 
 
Ada perusahaan CNI, Tupperware, sejumlah showroom mobil di Bukittinggi, dan sekretariat DPRD Kab Agam, Sumatra Barat. Dia juga meraih kepercayaan dari Jabatan Pendidikan Perak Darul Ridzuan, Malaysia.

Itu karena ia mampu memberikan layanan yang sangat memuaskan kepada tiga rombongan dari Malaysia yang berkunjung ke Bukittinggi. "Tapi jika kita geluti secara serius, lama-lama pelanggan kita makin banyak dan hasilnya pun makin banyak," ujarnya. 
 
Rata- rata Bonita bisa menjual seribu tiket dalam sebulan. Dan, 70% pelanggan perusahaanya adalah mereka yang dari pasar Aung Kuning.

Berbeda dengan biro perjalanan di Bukittinggi dan sekitarnya yang sekedar menyediakan tiket, Bonita Tour and Travel memberi sejumlah nilai tambah; menyediakan travel untuk antar jemput dari Bukittingi ke Bandara Minangkabau Padang yang berjarak lebih kurang 100km. 
 
Untuk pembelian 10 tiket sekaligus Bonita rela memberi satu tiket travel gratis. Ia juga bersedia mengantarkan tiket yang dibeli ke alamat pelanggan langsung. "Pemesanan bisa dilakukan melalui telepon atau SMS," katanya.

"Kami juga menyediakan hotline service untuk pemesanan maupun keluhan." lanjut Jefri

Melebarkan sayap bisnis


Kesungguhan seorang Jefri terlihat di berbagai cara untuk mempromosikan Bonita. Segala ilmu yang telah dia dapatkan dari kampus ditambah pengalaman berjualan pakaian dalam di pasar, pastilah ia mampu menarik, membujuk,dan membangun loyalitas pelanggan. 
 
Ia rajin mengunjungi pelanggan, jemput bola, sekedar untuk menanyakan kabar dan memberikan penawaran tersebut secara pribadi. "Untuk langganan saya juga tidak mengenakan biaya pembatalan (cancelation fee) pesanan tiket," kata Jefri.

Selain itu, pembayaran tiket juga tak harus tunai. "Bonita bisa memberi waktu tenggang beberapa hari." Ia tak ragu menyebar 2 ribu brosur ke penjuru pasar Aung Kuning. Dia juga menempelkan stiker di angkot, menggencarkan promosi mulut ke mulut. 
 
Tak berhenti, dia beriklan secara teratur di media cetak dan radio lokal, serta aktif membuka stand atau booth di berbagai pameran usaha. Jefri juga menerapkan pemberian bonus point untuk setiap pembelian tiket, travel atau sewa mobil di Bonita Tour dan Travel.

Untuk pelanggan yang mengumpulkan 88 point pesawat ia memberikan 1 tiket gratis untuk rute yang sama. Sukses di daerah, Jefri ingin membangun bisnisnya hingga ke Jakarta. Akhir maret 2008 ia berhasil membuka cabang di pasar blok A, Tanah Abang, Jakarta Pusat. 
 
Lokasi ini sangatlah strategis karena merupakan pusat bisnis grosir yang bukan saja melayani seluruh Indonesia melainkan juga ekspor dan imporke kawasan Timur Tengah, Afrika, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam, bahkan juga ke pasar Amerika dan Eropa.
 
Bisa dipastikan kebutuhan tiket ke berbagai penjuru dunia terbuka luas. Di Tanah Abang, Jefri telah bersiap untuk memualai semuanya dari nol. Tempat itu telah terlebih dahulu dikuasai beberapa travel agen. 
 
Jika Bonita bisa merebut hati pelanggan barunya, pastilah bisnisnya akan membuahkan hasil berlipat ganda. "Pelanggan kami yang selama ini membeli di Bukittinggi banyak yang berdagang disini. Merekalah target awal kami," katanya.

Banyak pelanggan loyalnya yang bertindak sebagai evangelist, merekomendasikan kepada calon pelanggan baru. Hasilnya ialah, "Pelanggan baru yang membeli disini pun cukup banyak," katanya. Jefri pun ingin tetap membesarkan bisnisnya ke bidang terkait. 
 
Lingkup usaha seputar bisnis ini memang masih sangat potensial untuk digali. "Usaha diluar ticketing pesawat sangat menjanjikan," katanya. Untuk sasaran jangka pendek ia berniat mengembangkan layanan jasa pengiriman seperti kargo dan titipan kilat.

Layanan ini sudah dirintisnya dari kantor barunya di Pasar Tanah Abang Blok A. "Respon pasrnya sangat bagus," katanya. Bahkan berdasarkan kebutuhan pelanggannya, ia juga berniat masuk ke usaha penukaran uang (money changer). "Doakan agar semua usaha ini bisa berhasil," katanya. 
 
"Impian terbesar saya adalah membangun perusahaan penerbangan Bonita Air," tutup Jefri, yang tak malu menjadi pengusaha pakaian dalam. Dia mereguk hoki bisnis disini.

Wahyu Aditya Hello Motion Pengusaha Desain

Profil Pengusaha Wahyu Aditya

 
wahyuaditya.png
 
Wahyu Aditya Hello Motion menjadi pengusaha desain. Orang bilang hobi menggambar cuma menjadi pelukis. Pekerjaan tidak menjanjikan. Ternyata hobi menggambar bisa membuat perusahaan. Pelajaran ini katanya tidak penting, lebih penting matematika.
 
"Siapa bilang hobi menggambar hanya bisa jadi pelukis saja. Siapa bilang hobi menggambar tak bisa membuat perusahaan. Siapa bilang pelajaran menggambar tidak penting dan pelajaran matematika saja yang penting. Siapa bilang kesuksesan hidup hanya milik sang jenius matematika," tuturnya.

Sang pengusaha desain, dari pengakuannya diatas, terlihat jelas definisi passion. Adit tidak menyukai matematika. Bahkan jujur ia mengakui pernah bersumpah memilih jurusan yang tidak ada matematika. Ia lebih memilih mencoret- coret kertasnya daripada sibuk mengerjakan tugas matematika. 
 
Adit lebih suka menggambar berbagai tokoh imajinasinya diatas kertas. Kesenangannya akan dunia menggambar juga membawanya ke berbagai media. Dari kertas, dinding, kemudian merambah ke dunia digital yang membawanya ke dunia yang berbeda dari sebelumnya.  
 
Masih dengan menggambar kreatifitas pria kelahiran Malang, Jawa Tengah, 4 Maret 1980 ini, terus tumbuh tanpa batas. Gara- gara sebuah acara bernama Gemar Menggambar di TVRI di tahun 90'an, Adit kini telah dikenal sebagai pendiri perusahaan animasi, Hello Motion Academy. 
 
Dia menjadi pemain utama di bisnis ini, bisnis animasi dan desain grafis. Adit diburu oleh banyak perusahaan untuk mengerjakan berbagai iklan kreatif untuk produk mereka. Baik iklan komersial atau pun iklan layanan masyarakat.

Perjalanan Wahyu Aditya


Hobinya menggambar sudah terlihat sejak masih di sekolah dasar. Ketika masih di kelas 1 SD Cor Jesu 1 Malang, ia pernah beberapa kali memenangkan lomba menggambar. Ia juga pernah mengirim gambar pada Tino Sidin, tokoh seni lukias yang membawakan acara Gemar Menggambar di TVRI kala itu. 
 
Sayang gambarnya tak pernah terpilih untuk ditayangkan. Ketika di kelas VI SD, ia rajin mengisi buku tulisannya dengan berbagai gambar dan cerita. Daripada membeli mainan, Adit kecil lebih sering membeli kertas HVS untuk dicorat-coreti dengan gambaran. 
 
Ia pawai menyulap buku tulisnya menjadi komik dengan menciptakan ilustrasi sederhana dari berbagai tokoh rekaannya. Nama-nama tokoh dipelesetkan dengan mengambil inspirasi dari lingkungan sekitar. 
 
Seperti empat sekawan menjadi enam sekawan, mengacu pada jumlah 'preman cilik' di sekolahnya. Hasilnya itu kemudian dipamerkan kepada teman- temannya.

Banyak yang suka hasil karyanya dan terhibur dengan cara Adit menuliskan cerita. "Saya senang jika mereka terhibur oleh karya saya," katanya girang.

Ketika SMP, Adit pernah dipercaya mengelola rubrik khusus untuk majalah sekolah. Isinya tentang keadaan sekolah waktu itu. Hobi menggambar terus berlanjut hingga sekolah menengah atas. Kali ini sasaran tangan jahilnya adalah dinding di sekolah. 
 
"Saya murid pertama yang diperbolehkan menggambari dinding," katanya mengenang. Karir sebagai seorang animator diawalinya dengan menjadi seorang komikus amatiran. Korban pertamanya adalah buku-buku pelajaran kelas 3 SMA. Di buku inilah Adit membuat animasi strip komik. 

Ketika akan melanjutkan kuliah pun, dengan ketegasan ia telah memiliki pilihan. "Ingin kuliah ditempat yang tidak ada matematikanya," tandas anak kedua dari pasangan Sanarto Santoso dan Tri Astuti ini. 
 
Akhirnya Adit sukses menuntut ilmu di Advanced Diploma of Interactive Multimedia – KvB Institut of Tech, Sydney Australia untuk mempelajari multimedia. Saat kuliah ia sempat menjuarai perlombaan. Ketika musim liburan tiba, ia sempatkan diri untuk kembali ke Indonesia.

Tak berdiam diri, Adit bekerja magang di sebuah tempat sablon selama dua minggu. Pemilik percetakan yang melihat hasil karyanya jauh melampaui kelasnya mengarahkan Adit untuk magang di Broadcast Desain Indonesia di kawasan Jakarta Selatan. 
 
Disana Adit hanya mengamati pembuatan video dan teknik mengedit. Karir Adit selepas kuliah dimulai sebagai creative desainer dan animator di Trans TV pada 2000-2002. Sebagai best student di KvB Institut of Tech, almamaternya, bisa saja ia melanjutkan hidupnya di negeri Kanguru itu. 
 
"Tapi saya tak betah hidup di Australia," katanya.

Selepas dari Trans TV, Adit lebih memilih bekerja sebagai freelance selama satu tahun. Karena keterampilan dan pengetahuannya solid, ia bisa melakukan pekerjaan apapun di sana sini. Dari animator, sutradara sampai produser, ia bisa melakukan semuanya. 
 
Proyek pertama yang pernah ditanganinya adalah video klip grup band Padi "Bayangkanlah". Karyanya ini memenangkan "Best Video clip of The Month" Video Music Indonesia 2002 dan "People Choice Award" Video Music Indonesia 2002.

Sejak saat itu tawaran demi tawaran mengalir padanya.

Sukses mandiri


Tawaran bekerja memang banyak. Tapi kepercayaan diri Adit sudah membulatkan tekatnya membuat usaha sendiri. Ini semua berkat pengalaman suksesnya, bersama tujuh orang teman, mereka membuka bisnis sendiri dibiang jasa. 
 
Sayang usaha pertamanya gagal, "Kumpulan orang pintar tapi tak ada naluri bisnis," kata Adit menyimpulkan kegagalannya. Karena tahu hanya kepada diri sendirilah ia harus bersandar, Adit segera memulai langkah yang terbilang nekat.

Berbekal pinjaman bank sebesar 400 juta rupiah ia membuka kursus animasi sendiri. "Biar orang sekolah di Indonesia saja, tak harus keluar negeri," niatnya sederhana. Kendati terdengar sangat ambisius, namun Adit telah melakukan berbagai riset kecil- kecilan terlebih dulu. 
 
Hasilnya, banyak orang menyatakan minat bila ia membuka lembaga kursus animasi di Indonesia. Tekad itu diwujudkan dengan ikut serta dalama sebuah pameran pendidikan di semanggi expo Jakarta Selatan.

Disana ia menemukan ada 41 orang yang berminat menjadi muridnya. Ini menjadi langkah awal bagi Adit untuk mendirikan HelloMotion Inc, School of Animation and Cinema. Pemilihan nama dalam bahasa Inggris juga dimaksudkan agar ia bisa membuka franchisee di luar negeri. 
 
Setelah berdiri lima tahun, sekolah miliknya masih sepi bahkan dari 400 juta modal, menangguk untung hanya 18% per- tahun. Ketika awal berdiri, sekolah ini bahkan mendapatkan minus 11%, tahun berikutnya 6%, tapi tetap bertahan hingga lima tahun berlalu.

Ada sekitar 800 an siswa lulusan lembaga pendidikan ini, "Itu masih kurang karena kami hanya punya satu kelas," katanya. Satu kelas tersebut diisi sekitar 10 siswa dan ada 20 instruktur.

Titik balik yang membuat nama Adit menggebrak dunia animasi internasional adalah ketika dewan juri yang terdiri dari para pakar film Inggris menyatakannya sebagai juara International Young Screen Entrepreneur of the Year 2007. 
 
Pada acara yang diselenggarakan oleh British Council di Apollo Theater West End London. Dia berhasil menumbangkan saingannya yang berasal dari India, Cina, Brazil, Polandia, Slovenia, Lithuania, Nigeria an Lebanon.

Di usianya yang baru 27 tahun itu, Adit telah berhasil mendirikan sekolah film Hello Motion serta memprakarsai festival film Hellofest yang setiap tahunnya dipadati 10 ribuan penonton muda di seluruh Indonesia.

Selain berbisnis ada tekat lain dibalik idenya mendirikan lembaga pendidikan ini. "Animasi kita masih kalah jauh dari Korea, Cina dan India. Animasi di Indonesia secara industri masih kategory advertising belum ke film dan TV. 
 
Kini HelloMotion memiliki visi menggalakkan budaya motion picture art mulai diperhitungkan diindustri animasi tanah air. Untuk terus mengembangkan bisnisnya, Adit menggunakan cara Buzz Marketing atau getok tular serta lewat iklan media cetak, elektronik dan internet.

Adit juga menyempatkan waktu untuk merealisasikan ide-ide aneh lainnya. Ia membentuk Kementerian Desain Republik Indonesia (KDRI) yang bertujuan mengubah Indonesia dengan caranya sendiri. Di KDRI, struktur birokrasinya sederhana, ia menjabat juru bicara kementrian. 
 
Sedangkan posisi mentri diduduki oleh Mr Gembol (panggilan masa kecilnya). Mr Gembol juga merangkap kurir KDRI. Biarpun terkesan lucu, dalam sehari website KDRI setidaknya dikunjungi 1000 pengunjung. Disini para volunteer dimanapun bisa mengirimkan desain karya mereka.

Bisnis Menjanjikan Keripik Singkong Kisah Muhdi

Profil Pengusaha Muhammad Muhdi

 

muhdikeripik.png
 

Lagi- lagi bisnis menjanjikan keripik singkong. Pengusaha Muhammad Muhdi, usia 46 tahun, asal Medan, Sumatra Utara. Kisah Hadi yang dikenal tidak bisa mengendarai kendaraan. "Naik kereta (sepeda motor) saja tidak bisa," tuturnya.


Usianya sudah tidak muda namun menghasilkan banyak cuan. Dimana dia memiliki 73 orang karyawan, dari keripik singkong sampai turunannya. Ia bahkan mengekspor produknya. Orangnya optimis sampai keurusan luar negeri. 

 

Bayangkan dia begitu yakin mampu mengangkat keripik singkong "murahan". Optimisme Muhdi tidak tercipta karena talenta melainkan pengalaman. Ada masanya ketika jatuh sampai dia terjepit sesak; dia langsung bangkit kembali. Berikut perjalanan hidup Hadi yang mengalami naik dan turun.


Muhdi hanya lulusan Madrasah Aliyah, Pondok Baru, Payaman Magelang, Jawa Tengah. Ia berangkat ke Medan menjadi Nazir Masjid Nurul Imam di komplek Perhubungan Udara, Padang Bulan, Medan. Hadi muda bekerja macam- macam seperti tukang kebon taman kanak Ikadiasa.


A. Siong, pedagang telur, pernah menawarinya berdagang telur. Hadi menjajal sampai menanjak, tak sekedar jualan telur, melainkan semua logistik seperti minyak, beras, sampai sirup ke Pondok Pesantren Roudhatul Hasanah, Medan.


Keadaan berbali ketika krisis 1997 datang. Pemilik toko tempatnya membeli barang bangkrut. Ia lantas coba berdagang bahan pokok. Di tengah situasi tidak menentu, ia pulang kampung pada lebaran tahun 1999. Dimana ide bisnis menjanjikan keripik singkong bangkit.


"Ada orang yang buat keripik manual. Saya lalu beli peralatannya manual," tuturnya. Usaha tersebut membutuhkan modal alat potong Rp.250 ribu, wajan Rp.75 ribu, dan alat tampi Rp.15 ribu.

 

Modal seadanya dibawa langsung ke Medan. Kemudian ia membeli singkong 5 kg dari pasar dan juga minyak goreng 2 kilogram. Ternyata keripik buatannya tenggelam dalam minyak. Esoknya ia membeli singkong dari petani, digoreng lagi, eh kembali tenggelam kedalam minyak.

 

Muhdi mengusut ternyata disebabkan wajan kebesaran, minyak terlalu banyak, hingga api yang terlelalu besar. Ternyata tidak semudah itu membuat keripik singkong. Pengusaha Muhdi merasakan bahwa tidak mudah. Dia masih melanjutkan mencoba membuat keripik singkong.


Dia lalu menukar wajannya yang dibeli dari Magelang. Dibelinya wajan milik orang- orang yang bikin keripik pisang. Berkali- kali dia mencocokan antara takaran pisang dan minyak. Ia terus usaha sampai menemukan resep cocok.


Pada 1999, usahanya memproduksi 100 kilogram keripik perhari dan menggoreng seharian non- stop. Ia terus berjualan memenuhi kebutuhan pasar. Sampai warga sekitar pun mulai terganggu akan aktivias usaha Hadi. Mereka terusik sampai Hadi pindah keluar Medan.


Mereka terusik dari aktivitas menggoreng setiap malam. Warga juga terganggu akan limbah singkong yang menggunung. Ia pindah ke wilayah pinggiran Medan Tuntungan. Sewa rumah seharga Rp.900 ribu untuk tiga tahun.


"Saya sewa rumah yang katanya berhantu Rp.900.000 untuk tiga tahun," ceritanya. Ia membuat dapur kembali buat produksi. Hadi mengajak lima orang tetangganya di Tuntungan. Produksi meningkat, dari sekilo menjadi 150 kg, perhari menjadi 05 ton, dan 1 ton perhari.


Tenaga kerja menjadi 15 orang menggoreng. Namun, pada 2002, pemilik rumah hendak menjual rumah di alamat Jalan Tunas Mekar, Tuntungan II, Pancur Batu, Medan. Dimana Muhdi langsung berangkat ke Bank hendak meminjam uang.


Dibelinya rumah dan tanah buat kembali melanjutkan produksi. Produksi meningkat sampai 2 ton perhari. Pada tahun itu, ia mendapatkan pelatihan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan, dan juga mendaftarkan produknya bermerek dagang Kreasi Lutfi, berdasarkan nama anaknya.


Produksi sempat berhenti total karena ditipu penjual. Pada 2004, dikisahkan penjual semua kabur bawa lari dagangan. Muhdi lantas menjual kendaraan untuk menutupi kerugian. Utang tidak terbayar. Dia lalu menggoreng keripik kembali dari awal, bermodal uang Rp. 1,1 juta.


Uang segitu menjadi 200 bal keripik. Ia meminta mantan penjualnya buat menjadi ditributor. Usaha ini kembali menanjak ditangannya. Sejak tahun 2005, pengusaha Muhdi sudah memproduksi 4 ton keripik singkong. Muhdi lantas merambah memproduksi gaplek.


Buat mengatasi limbah maka dibutuhkan rencana. Muhdi menjadikan kulitnya sebagai pupuk. Bisnis menjanjikan keripik singkong merambah opak. Hadi juga memproduksi tepung singkong pengganti terigu. Total karyawannya meningkat menjadi 75 orang.


Gila, bahkan keripik singkong sampai ke Korea Selatan. Muhdi mereguk pasar ekspor sampai dikirim ke Korea. Dua minggu mengirim sampai satu kontainer. Satu kontainer berisi 2.566 kotak keripik, dimana sekotak beratnya 2,6 kg. Khusus ekspor ukuran keripik diukur 5,7 cm.


Hadi selalu tampil sederhana. Walau menjadi pengusaha sukses tidak berubah. Bermula dari merasakan hidup kepepet, tetap berusaha, dimana menyelaraskan otak, otot, dan omongan. Dia mengerjakan semua santai, menyenangkan, tetapi selalu selesai.


Produknya bermutu, murah, dan mudah. Muhdi lantas melanjutkan pendidikan di Insitut Agama Islam Negeri Sumut. Ia sempat berpikir akan menjadi guru, malah menjadi pengusaha sukses.

Orang Buta Wirausaha Kini Pengusaha Kebun

Profil Pengusaha Muhammad Arif

 

orangbuta.png
 

Kisah orang buta wirausaha perkebunan dan peternakan. Muhammad Arif, usianya 47 tahun, menderita tuna netra. Dia memilih melepaskan stigma orang tidak melihat. Arif memilih berkebun ketimbang jadi tukang pijat. Warga Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, dimana menjadi buruh tani lahan seadanya.

 

Keterbatasan tidak menghalangi dirinya bekerja bersama istri. Demi menghidupi keluarga membuatnya tetap semangat. Berkat kerja kerasnya berkebun dan beternak hasilkan sebidang tanah. Disana, berdirilah rumah sederhananya bersama petak sawah dan empat ekor sapi.


Pak Arif menjelma menjadi pengusaha kebun. Ia mengenang ketika membawa tali kekang sapi. Dibawa sapinya sampai ke kebun tetangga. Meski tali kekang kuat, Pak Arif tetap kena amuk sapi yang marah sampai terjungkal. Padahal dia sudah mengenggam erat tali tersebut dengan penuh kekuatan.


Maklum dia bukanlah masih muda dan punya kekurangan. Orang buta wirausaha terdengar konyol ketika di telinga kita. Namun dia tetap sabar dan kuatkan diri demi masa depan. Arif ternyata bukanlah petani melainkan mantan tukang pijat.


Ia sempat merantau ke Watampone, Kabupaten Bone. Dia kalah saing alhasil kembali ke kampung. Ia lantas menjadi buruh tani. Keras kehidupan memaksa Arif menjadi pengusaha kebun. Padahal nih, dia bercerita memiliki bakat memijat, kalau cuma urut rematik sudah menjadi keahlian.


"Saya pintar urut orang, apalagi kalau cuma sakit rematik. Insya Allah saya bisa sembuhkan," lanjut Arif. Sayangnya, sudah banya panti pijat ditambah salon plus- plus, inilah yang merusak pasaran bisnis orang tunanetra seperti dirinya.


Dikisahkan dia mengalami kebutaan karena katarak. Usianya tiga tahun namun sudah dibuang kedua orang tua. Dia tidak pernah tau siapa orang tuanya. Arif kecil ditinggal di panti asuhan. Hidup sebatang kara tinggal sampai besar di panti asuhan.


Ia tidak tau siapa orang tua. Bahkan kata orang- orang dirinya "anak dibuang". Menikah sepuluh tahun dirinya belum diberi keturunan. Arif tetap optimis apalagi keadaan ekonomi telah membaik. Baginya rasa putus asa wajar muncul, namun ingatla selalu; dirinya yang buta tetapi optimis.


Arif tetap optimis dengan memiliki prinsip: Dalam kehidupan jangan pernah berpikir kita kekurangan. Ia meminta kita untuk jalani hidup apa adanya. Jangan terlalu berharap akan bantuan orang. Kalau nanti kamu mengerjakan pekerjaan, pastikan kamu yakin dan kerjakan, Insya Allah akan selesai.

Sukses Batik Margaria Yogyakarta Dyah Suminar

Profil Pengusaha Dyah Suminar

 
batikmargaria.png
 
Dialah dibalik sukses Batik Margaria Yogyakarta. Dia juga sosok dibalik kesuksesan mantan walikota Yogyakarta, Heri Zudianto. Pengusaha Wanita kelahiran Cilacap, 13 November 1956, adalah anak ke enam dari tujuh orang bersaudara. 
 
Dia juga istri dari Heri Zudianto, yang juga dikenal sebagai seorang pengusaha dan aktif diberbagai kegiatan sosial. Orang tuanya hanya seorang pegawai negeri sipil dan guru SD. Tapi satu hal pasti mereka menanamkan nilai yang benar membawa kesuksesan. 
 
Orang tuanya menanamkan kedisiplinan dalam benak tujuh anaknya. Dyah Suminar adalah anak yang disiplin, cerdas dan aktif ketika masih kecil. Baginya kegiatan berorganisasi seperti pramuka dan OSIS menjadi minat tersendiri. 
 

Bisnis Batik

 
Selepas SMA, ia melanjutkan kuliah di fakultas ekonomi di UGM. Di kampus itulah dirinya bertemu Herry yang menjadi suaminya kini. Mereka kemudian menikah pada 3 Mei 1980. Setelah menikah, suami Dyah memberi pilihan pada istrinya antara kerja kantoran atau bisnis. 
 
Dyah memilih yang kedua, berbisnis. Dyah Suminar memiliki prinsip- prinsip dan idealisme yang patut dicontoh bagi para wirausahawan. Khususnya bagi mereka para pebisnis pemula yang ingin terjun secara profesional di dunia bisnis. 
 
Itulah mengapa ia mampu membawa sukses Batik Margaria Yogyakarta. Dyah dulu mengawali usahanya secara profesional sejak 1983 dengan membuka usaha konveksi. Dari bisnis ini, Dyah terjun langsung mempelajari pola dan desain untuk mengembangkan konveksinya sendiri. 
 
Menurut Dyah, dunia kantor terlalu menyita waktunya dan keluarga. Dia mengungkapkan, kunci awal bisnis adalah memulai usaha dengan hal yang kita senangi. 
 
Setelah bisnis yang dirintisnya itu perlahan mulai berkembang, maka harus dilakukan pemisahan catatan dan pembangunan manajemen bisnis yang satu dengan lainnya. Ini agar terlihat perkembangan bisnis yang tengah dijalankan.

"Ada empat hal yang harus dilakukan untuk memulai bisnis. Pertama, kita harus berani memulai, kerja keras, memberi harga lebih pada konsumen berupa pelayanan excellent(layanan prima) dan seorang wirausaha harus memiliki banyak networking (jaringan)," kata Dyah. 
 
Ketika ditemui di salah satu unit usahanya di Jalan Tamansiswa, Kota Yogyakarta, kemarin. Awalnya mertua memiliki toko yang awalnya diperuntukan untuk berjualan sembako. Toko tersebut lantas disulap menjadi pusat penjualan baju batik muslim dari berbagai merek.

Untuk menstok barang ia memilih merek Danar Hadi, sebuah merek batik ternama yang terjamin kualitasnya. Sosoknya adalah seseorang yang jeli dalam melihat peluang usaha. 
 
Dyah lantas mendirikan berbagai usaha seperti gerai busana muslim seperti Al-Fath, Anita dan Karita, Grosir busana muslim Ar-Rahman, Klinik kecantikan kulit, Salon and Spa  Lellidewi, serta toko kado "Kado Kita". Semua usahanya itu kini bernaung dibawah satu atap yaitu Margaria Group.

Margaria Group tumbuh pesat memiliki 32 unit usaha, kini mereka tengah menjajaki bisnis mereka di wilayah Bandung. 
 
"Di Surabaya memang kehadiran Margaria Group sudah cukup lama dan ternyata responnya positif, untuk itu, kami akan memperkuat pasar di Jawa Timur, selain itu kami juga tengah melakukan survei di Bandung," kata Manager HRD Margaria Group, Ananto Prasetyo belum lama ini. 
 
Menurutnya persaingan usaha busana di DIY memang ketat. Tanpa inovasi Margaria Group bisa tertinggal jauh ujarnya lanjut.

Melalui beberapa unit usahanya yakni Margaria, Karita, Griya Muslim Anissa, Al-fath dan juga Nandia batik, Margaria Group pun setiap tahunnya menghadirkan tren busana muslim terbaru. Ananto mengaku, untuk tren tahun depan sudah mulai disiapkan sejak tahun ini. 
 
Bisnis Margaria Group yang bergerak di bidang retail dan jasa saat ini tumbuh sebesar 15 – 20 %, pertumbuhan tersebut didominasi oleh unit usaha fashion.

"Kadang kami bahkan jadi trend setter, misalnya dengan motif rainbow. Busana Muslim dengan segala perlengkapannya bukan sekedar tren mode tapi pilihan hidup yang dilaksanakan seumur hidup, jadi pasarnya akan tetap ada," jelasnya.

Selain berbisnis, wanita yang telah dikaruniai 3 anak yaitu Alfita Ratna Hapsari, Arif Nur Wibawanto, dan Annisa Rahma Herdyana ini, juga senang berorganisasi sosial. 
 
Istri dari Walikota Jogja ini begitu sibuk dengan urusan bisnis dan organisasi seperti  Ketua Tim PKK Yogyakarta, Ketua Yayasan Kanker Indonesia, Ketua Dewan Kerajinan Nasional dan banyak lagi.

"Saya punya manajemen waktu dan manajemen energi yang strik sekali. Saya selalu punya cita- cita dan idealisme. Saya bangga kalau saya bisa mencari sendiri, warna sendiri, ide sendiri," terangnya mengenai Rumah Gizi yang digagasnya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba