Wahyu Aditya Hello Motion Pengusaha Desain

Profil Pengusaha Wahyu Aditya

 
wahyuaditya.png
 
Wahyu Aditya Hello Motion menjadi pengusaha desain. Orang bilang hobi menggambar cuma menjadi pelukis. Pekerjaan tidak menjanjikan. Ternyata hobi menggambar bisa membuat perusahaan. Pelajaran ini katanya tidak penting, lebih penting matematika.
 
"Siapa bilang hobi menggambar hanya bisa jadi pelukis saja. Siapa bilang hobi menggambar tak bisa membuat perusahaan. Siapa bilang pelajaran menggambar tidak penting dan pelajaran matematika saja yang penting. Siapa bilang kesuksesan hidup hanya milik sang jenius matematika," tuturnya.

Sang pengusaha desain, dari pengakuannya diatas, terlihat jelas definisi passion. Adit tidak menyukai matematika. Bahkan jujur ia mengakui pernah bersumpah memilih jurusan yang tidak ada matematika. Ia lebih memilih mencoret- coret kertasnya daripada sibuk mengerjakan tugas matematika. 
 
Adit lebih suka menggambar berbagai tokoh imajinasinya diatas kertas. Kesenangannya akan dunia menggambar juga membawanya ke berbagai media. Dari kertas, dinding, kemudian merambah ke dunia digital yang membawanya ke dunia yang berbeda dari sebelumnya.  
 
Masih dengan menggambar kreatifitas pria kelahiran Malang, Jawa Tengah, 4 Maret 1980 ini, terus tumbuh tanpa batas. Gara- gara sebuah acara bernama Gemar Menggambar di TVRI di tahun 90'an, Adit kini telah dikenal sebagai pendiri perusahaan animasi, Hello Motion Academy. 
 
Dia menjadi pemain utama di bisnis ini, bisnis animasi dan desain grafis. Adit diburu oleh banyak perusahaan untuk mengerjakan berbagai iklan kreatif untuk produk mereka. Baik iklan komersial atau pun iklan layanan masyarakat.

Perjalanan Wahyu Aditya


Hobinya menggambar sudah terlihat sejak masih di sekolah dasar. Ketika masih di kelas 1 SD Cor Jesu 1 Malang, ia pernah beberapa kali memenangkan lomba menggambar. Ia juga pernah mengirim gambar pada Tino Sidin, tokoh seni lukias yang membawakan acara Gemar Menggambar di TVRI kala itu. 
 
Sayang gambarnya tak pernah terpilih untuk ditayangkan. Ketika di kelas VI SD, ia rajin mengisi buku tulisannya dengan berbagai gambar dan cerita. Daripada membeli mainan, Adit kecil lebih sering membeli kertas HVS untuk dicorat-coreti dengan gambaran. 
 
Ia pawai menyulap buku tulisnya menjadi komik dengan menciptakan ilustrasi sederhana dari berbagai tokoh rekaannya. Nama-nama tokoh dipelesetkan dengan mengambil inspirasi dari lingkungan sekitar. 
 
Seperti empat sekawan menjadi enam sekawan, mengacu pada jumlah 'preman cilik' di sekolahnya. Hasilnya itu kemudian dipamerkan kepada teman- temannya.

Banyak yang suka hasil karyanya dan terhibur dengan cara Adit menuliskan cerita. "Saya senang jika mereka terhibur oleh karya saya," katanya girang.

Ketika SMP, Adit pernah dipercaya mengelola rubrik khusus untuk majalah sekolah. Isinya tentang keadaan sekolah waktu itu. Hobi menggambar terus berlanjut hingga sekolah menengah atas. Kali ini sasaran tangan jahilnya adalah dinding di sekolah. 
 
"Saya murid pertama yang diperbolehkan menggambari dinding," katanya mengenang. Karir sebagai seorang animator diawalinya dengan menjadi seorang komikus amatiran. Korban pertamanya adalah buku-buku pelajaran kelas 3 SMA. Di buku inilah Adit membuat animasi strip komik. 

Ketika akan melanjutkan kuliah pun, dengan ketegasan ia telah memiliki pilihan. "Ingin kuliah ditempat yang tidak ada matematikanya," tandas anak kedua dari pasangan Sanarto Santoso dan Tri Astuti ini. 
 
Akhirnya Adit sukses menuntut ilmu di Advanced Diploma of Interactive Multimedia – KvB Institut of Tech, Sydney Australia untuk mempelajari multimedia. Saat kuliah ia sempat menjuarai perlombaan. Ketika musim liburan tiba, ia sempatkan diri untuk kembali ke Indonesia.

Tak berdiam diri, Adit bekerja magang di sebuah tempat sablon selama dua minggu. Pemilik percetakan yang melihat hasil karyanya jauh melampaui kelasnya mengarahkan Adit untuk magang di Broadcast Desain Indonesia di kawasan Jakarta Selatan. 
 
Disana Adit hanya mengamati pembuatan video dan teknik mengedit. Karir Adit selepas kuliah dimulai sebagai creative desainer dan animator di Trans TV pada 2000-2002. Sebagai best student di KvB Institut of Tech, almamaternya, bisa saja ia melanjutkan hidupnya di negeri Kanguru itu. 
 
"Tapi saya tak betah hidup di Australia," katanya.

Selepas dari Trans TV, Adit lebih memilih bekerja sebagai freelance selama satu tahun. Karena keterampilan dan pengetahuannya solid, ia bisa melakukan pekerjaan apapun di sana sini. Dari animator, sutradara sampai produser, ia bisa melakukan semuanya. 
 
Proyek pertama yang pernah ditanganinya adalah video klip grup band Padi "Bayangkanlah". Karyanya ini memenangkan "Best Video clip of The Month" Video Music Indonesia 2002 dan "People Choice Award" Video Music Indonesia 2002.

Sejak saat itu tawaran demi tawaran mengalir padanya.

Sukses mandiri


Tawaran bekerja memang banyak. Tapi kepercayaan diri Adit sudah membulatkan tekatnya membuat usaha sendiri. Ini semua berkat pengalaman suksesnya, bersama tujuh orang teman, mereka membuka bisnis sendiri dibiang jasa. 
 
Sayang usaha pertamanya gagal, "Kumpulan orang pintar tapi tak ada naluri bisnis," kata Adit menyimpulkan kegagalannya. Karena tahu hanya kepada diri sendirilah ia harus bersandar, Adit segera memulai langkah yang terbilang nekat.

Berbekal pinjaman bank sebesar 400 juta rupiah ia membuka kursus animasi sendiri. "Biar orang sekolah di Indonesia saja, tak harus keluar negeri," niatnya sederhana. Kendati terdengar sangat ambisius, namun Adit telah melakukan berbagai riset kecil- kecilan terlebih dulu. 
 
Hasilnya, banyak orang menyatakan minat bila ia membuka lembaga kursus animasi di Indonesia. Tekad itu diwujudkan dengan ikut serta dalama sebuah pameran pendidikan di semanggi expo Jakarta Selatan.

Disana ia menemukan ada 41 orang yang berminat menjadi muridnya. Ini menjadi langkah awal bagi Adit untuk mendirikan HelloMotion Inc, School of Animation and Cinema. Pemilihan nama dalam bahasa Inggris juga dimaksudkan agar ia bisa membuka franchisee di luar negeri. 
 
Setelah berdiri lima tahun, sekolah miliknya masih sepi bahkan dari 400 juta modal, menangguk untung hanya 18% per- tahun. Ketika awal berdiri, sekolah ini bahkan mendapatkan minus 11%, tahun berikutnya 6%, tapi tetap bertahan hingga lima tahun berlalu.

Ada sekitar 800 an siswa lulusan lembaga pendidikan ini, "Itu masih kurang karena kami hanya punya satu kelas," katanya. Satu kelas tersebut diisi sekitar 10 siswa dan ada 20 instruktur.

Titik balik yang membuat nama Adit menggebrak dunia animasi internasional adalah ketika dewan juri yang terdiri dari para pakar film Inggris menyatakannya sebagai juara International Young Screen Entrepreneur of the Year 2007. 
 
Pada acara yang diselenggarakan oleh British Council di Apollo Theater West End London. Dia berhasil menumbangkan saingannya yang berasal dari India, Cina, Brazil, Polandia, Slovenia, Lithuania, Nigeria an Lebanon.

Di usianya yang baru 27 tahun itu, Adit telah berhasil mendirikan sekolah film Hello Motion serta memprakarsai festival film Hellofest yang setiap tahunnya dipadati 10 ribuan penonton muda di seluruh Indonesia.

Selain berbisnis ada tekat lain dibalik idenya mendirikan lembaga pendidikan ini. "Animasi kita masih kalah jauh dari Korea, Cina dan India. Animasi di Indonesia secara industri masih kategory advertising belum ke film dan TV. 
 
Kini HelloMotion memiliki visi menggalakkan budaya motion picture art mulai diperhitungkan diindustri animasi tanah air. Untuk terus mengembangkan bisnisnya, Adit menggunakan cara Buzz Marketing atau getok tular serta lewat iklan media cetak, elektronik dan internet.

Adit juga menyempatkan waktu untuk merealisasikan ide-ide aneh lainnya. Ia membentuk Kementerian Desain Republik Indonesia (KDRI) yang bertujuan mengubah Indonesia dengan caranya sendiri. Di KDRI, struktur birokrasinya sederhana, ia menjabat juru bicara kementrian. 
 
Sedangkan posisi mentri diduduki oleh Mr Gembol (panggilan masa kecilnya). Mr Gembol juga merangkap kurir KDRI. Biarpun terkesan lucu, dalam sehari website KDRI setidaknya dikunjungi 1000 pengunjung. Disini para volunteer dimanapun bisa mengirimkan desain karya mereka.

Bisnis Menjanjikan Keripik Singkong Kisah Muhdi

Profil Pengusaha Muhammad Muhdi

 

muhdikeripik.png
 

Lagi- lagi bisnis menjanjikan keripik singkong. Pengusaha Muhammad Muhdi, usia 46 tahun, asal Medan, Sumatra Utara. Kisah Hadi yang dikenal tidak bisa mengendarai kendaraan. "Naik kereta (sepeda motor) saja tidak bisa," tuturnya.


Usianya sudah tidak muda namun menghasilkan banyak cuan. Dimana dia memiliki 73 orang karyawan, dari keripik singkong sampai turunannya. Ia bahkan mengekspor produknya. Orangnya optimis sampai keurusan luar negeri. 

 

Bayangkan dia begitu yakin mampu mengangkat keripik singkong "murahan". Optimisme Muhdi tidak tercipta karena talenta melainkan pengalaman. Ada masanya ketika jatuh sampai dia terjepit sesak; dia langsung bangkit kembali. Berikut perjalanan hidup Hadi yang mengalami naik dan turun.


Muhdi hanya lulusan Madrasah Aliyah, Pondok Baru, Payaman Magelang, Jawa Tengah. Ia berangkat ke Medan menjadi Nazir Masjid Nurul Imam di komplek Perhubungan Udara, Padang Bulan, Medan. Hadi muda bekerja macam- macam seperti tukang kebon taman kanak Ikadiasa.


A. Siong, pedagang telur, pernah menawarinya berdagang telur. Hadi menjajal sampai menanjak, tak sekedar jualan telur, melainkan semua logistik seperti minyak, beras, sampai sirup ke Pondok Pesantren Roudhatul Hasanah, Medan.


Keadaan berbali ketika krisis 1997 datang. Pemilik toko tempatnya membeli barang bangkrut. Ia lantas coba berdagang bahan pokok. Di tengah situasi tidak menentu, ia pulang kampung pada lebaran tahun 1999. Dimana ide bisnis menjanjikan keripik singkong bangkit.


"Ada orang yang buat keripik manual. Saya lalu beli peralatannya manual," tuturnya. Usaha tersebut membutuhkan modal alat potong Rp.250 ribu, wajan Rp.75 ribu, dan alat tampi Rp.15 ribu.

 

Modal seadanya dibawa langsung ke Medan. Kemudian ia membeli singkong 5 kg dari pasar dan juga minyak goreng 2 kilogram. Ternyata keripik buatannya tenggelam dalam minyak. Esoknya ia membeli singkong dari petani, digoreng lagi, eh kembali tenggelam kedalam minyak.

 

Muhdi mengusut ternyata disebabkan wajan kebesaran, minyak terlalu banyak, hingga api yang terlelalu besar. Ternyata tidak semudah itu membuat keripik singkong. Pengusaha Muhdi merasakan bahwa tidak mudah. Dia masih melanjutkan mencoba membuat keripik singkong.


Dia lalu menukar wajannya yang dibeli dari Magelang. Dibelinya wajan milik orang- orang yang bikin keripik pisang. Berkali- kali dia mencocokan antara takaran pisang dan minyak. Ia terus usaha sampai menemukan resep cocok.


Pada 1999, usahanya memproduksi 100 kilogram keripik perhari dan menggoreng seharian non- stop. Ia terus berjualan memenuhi kebutuhan pasar. Sampai warga sekitar pun mulai terganggu akan aktivias usaha Hadi. Mereka terusik sampai Hadi pindah keluar Medan.


Mereka terusik dari aktivitas menggoreng setiap malam. Warga juga terganggu akan limbah singkong yang menggunung. Ia pindah ke wilayah pinggiran Medan Tuntungan. Sewa rumah seharga Rp.900 ribu untuk tiga tahun.


"Saya sewa rumah yang katanya berhantu Rp.900.000 untuk tiga tahun," ceritanya. Ia membuat dapur kembali buat produksi. Hadi mengajak lima orang tetangganya di Tuntungan. Produksi meningkat, dari sekilo menjadi 150 kg, perhari menjadi 05 ton, dan 1 ton perhari.


Tenaga kerja menjadi 15 orang menggoreng. Namun, pada 2002, pemilik rumah hendak menjual rumah di alamat Jalan Tunas Mekar, Tuntungan II, Pancur Batu, Medan. Dimana Muhdi langsung berangkat ke Bank hendak meminjam uang.


Dibelinya rumah dan tanah buat kembali melanjutkan produksi. Produksi meningkat sampai 2 ton perhari. Pada tahun itu, ia mendapatkan pelatihan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan, dan juga mendaftarkan produknya bermerek dagang Kreasi Lutfi, berdasarkan nama anaknya.


Produksi sempat berhenti total karena ditipu penjual. Pada 2004, dikisahkan penjual semua kabur bawa lari dagangan. Muhdi lantas menjual kendaraan untuk menutupi kerugian. Utang tidak terbayar. Dia lalu menggoreng keripik kembali dari awal, bermodal uang Rp. 1,1 juta.


Uang segitu menjadi 200 bal keripik. Ia meminta mantan penjualnya buat menjadi ditributor. Usaha ini kembali menanjak ditangannya. Sejak tahun 2005, pengusaha Muhdi sudah memproduksi 4 ton keripik singkong. Muhdi lantas merambah memproduksi gaplek.


Buat mengatasi limbah maka dibutuhkan rencana. Muhdi menjadikan kulitnya sebagai pupuk. Bisnis menjanjikan keripik singkong merambah opak. Hadi juga memproduksi tepung singkong pengganti terigu. Total karyawannya meningkat menjadi 75 orang.


Gila, bahkan keripik singkong sampai ke Korea Selatan. Muhdi mereguk pasar ekspor sampai dikirim ke Korea. Dua minggu mengirim sampai satu kontainer. Satu kontainer berisi 2.566 kotak keripik, dimana sekotak beratnya 2,6 kg. Khusus ekspor ukuran keripik diukur 5,7 cm.


Hadi selalu tampil sederhana. Walau menjadi pengusaha sukses tidak berubah. Bermula dari merasakan hidup kepepet, tetap berusaha, dimana menyelaraskan otak, otot, dan omongan. Dia mengerjakan semua santai, menyenangkan, tetapi selalu selesai.


Produknya bermutu, murah, dan mudah. Muhdi lantas melanjutkan pendidikan di Insitut Agama Islam Negeri Sumut. Ia sempat berpikir akan menjadi guru, malah menjadi pengusaha sukses.

Orang Buta Wirausaha Kini Pengusaha Kebun

Profil Pengusaha Muhammad Arif

 

orangbuta.png
 

Kisah orang buta wirausaha perkebunan dan peternakan. Muhammad Arif, usianya 47 tahun, menderita tuna netra. Dia memilih melepaskan stigma orang tidak melihat. Arif memilih berkebun ketimbang jadi tukang pijat. Warga Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, dimana menjadi buruh tani lahan seadanya.

 

Keterbatasan tidak menghalangi dirinya bekerja bersama istri. Demi menghidupi keluarga membuatnya tetap semangat. Berkat kerja kerasnya berkebun dan beternak hasilkan sebidang tanah. Disana, berdirilah rumah sederhananya bersama petak sawah dan empat ekor sapi.


Pak Arif menjelma menjadi pengusaha kebun. Ia mengenang ketika membawa tali kekang sapi. Dibawa sapinya sampai ke kebun tetangga. Meski tali kekang kuat, Pak Arif tetap kena amuk sapi yang marah sampai terjungkal. Padahal dia sudah mengenggam erat tali tersebut dengan penuh kekuatan.


Maklum dia bukanlah masih muda dan punya kekurangan. Orang buta wirausaha terdengar konyol ketika di telinga kita. Namun dia tetap sabar dan kuatkan diri demi masa depan. Arif ternyata bukanlah petani melainkan mantan tukang pijat.


Ia sempat merantau ke Watampone, Kabupaten Bone. Dia kalah saing alhasil kembali ke kampung. Ia lantas menjadi buruh tani. Keras kehidupan memaksa Arif menjadi pengusaha kebun. Padahal nih, dia bercerita memiliki bakat memijat, kalau cuma urut rematik sudah menjadi keahlian.


"Saya pintar urut orang, apalagi kalau cuma sakit rematik. Insya Allah saya bisa sembuhkan," lanjut Arif. Sayangnya, sudah banya panti pijat ditambah salon plus- plus, inilah yang merusak pasaran bisnis orang tunanetra seperti dirinya.


Dikisahkan dia mengalami kebutaan karena katarak. Usianya tiga tahun namun sudah dibuang kedua orang tua. Dia tidak pernah tau siapa orang tuanya. Arif kecil ditinggal di panti asuhan. Hidup sebatang kara tinggal sampai besar di panti asuhan.


Ia tidak tau siapa orang tua. Bahkan kata orang- orang dirinya "anak dibuang". Menikah sepuluh tahun dirinya belum diberi keturunan. Arif tetap optimis apalagi keadaan ekonomi telah membaik. Baginya rasa putus asa wajar muncul, namun ingatla selalu; dirinya yang buta tetapi optimis.


Arif tetap optimis dengan memiliki prinsip: Dalam kehidupan jangan pernah berpikir kita kekurangan. Ia meminta kita untuk jalani hidup apa adanya. Jangan terlalu berharap akan bantuan orang. Kalau nanti kamu mengerjakan pekerjaan, pastikan kamu yakin dan kerjakan, Insya Allah akan selesai.

Sukses Batik Margaria Yogyakarta Dyah Suminar

Profil Pengusaha Dyah Suminar

 
batikmargaria.png
 
Dialah dibalik sukses Batik Margaria Yogyakarta. Dia juga sosok dibalik kesuksesan mantan walikota Yogyakarta, Heri Zudianto. Pengusaha Wanita kelahiran Cilacap, 13 November 1956, adalah anak ke enam dari tujuh orang bersaudara. 
 
Dia juga istri dari Heri Zudianto, yang juga dikenal sebagai seorang pengusaha dan aktif diberbagai kegiatan sosial. Orang tuanya hanya seorang pegawai negeri sipil dan guru SD. Tapi satu hal pasti mereka menanamkan nilai yang benar membawa kesuksesan. 
 
Orang tuanya menanamkan kedisiplinan dalam benak tujuh anaknya. Dyah Suminar adalah anak yang disiplin, cerdas dan aktif ketika masih kecil. Baginya kegiatan berorganisasi seperti pramuka dan OSIS menjadi minat tersendiri. 
 

Bisnis Batik

 
Selepas SMA, ia melanjutkan kuliah di fakultas ekonomi di UGM. Di kampus itulah dirinya bertemu Herry yang menjadi suaminya kini. Mereka kemudian menikah pada 3 Mei 1980. Setelah menikah, suami Dyah memberi pilihan pada istrinya antara kerja kantoran atau bisnis. 
 
Dyah memilih yang kedua, berbisnis. Dyah Suminar memiliki prinsip- prinsip dan idealisme yang patut dicontoh bagi para wirausahawan. Khususnya bagi mereka para pebisnis pemula yang ingin terjun secara profesional di dunia bisnis. 
 
Itulah mengapa ia mampu membawa sukses Batik Margaria Yogyakarta. Dyah dulu mengawali usahanya secara profesional sejak 1983 dengan membuka usaha konveksi. Dari bisnis ini, Dyah terjun langsung mempelajari pola dan desain untuk mengembangkan konveksinya sendiri. 
 
Menurut Dyah, dunia kantor terlalu menyita waktunya dan keluarga. Dia mengungkapkan, kunci awal bisnis adalah memulai usaha dengan hal yang kita senangi. 
 
Setelah bisnis yang dirintisnya itu perlahan mulai berkembang, maka harus dilakukan pemisahan catatan dan pembangunan manajemen bisnis yang satu dengan lainnya. Ini agar terlihat perkembangan bisnis yang tengah dijalankan.

"Ada empat hal yang harus dilakukan untuk memulai bisnis. Pertama, kita harus berani memulai, kerja keras, memberi harga lebih pada konsumen berupa pelayanan excellent(layanan prima) dan seorang wirausaha harus memiliki banyak networking (jaringan)," kata Dyah. 
 
Ketika ditemui di salah satu unit usahanya di Jalan Tamansiswa, Kota Yogyakarta, kemarin. Awalnya mertua memiliki toko yang awalnya diperuntukan untuk berjualan sembako. Toko tersebut lantas disulap menjadi pusat penjualan baju batik muslim dari berbagai merek.

Untuk menstok barang ia memilih merek Danar Hadi, sebuah merek batik ternama yang terjamin kualitasnya. Sosoknya adalah seseorang yang jeli dalam melihat peluang usaha. 
 
Dyah lantas mendirikan berbagai usaha seperti gerai busana muslim seperti Al-Fath, Anita dan Karita, Grosir busana muslim Ar-Rahman, Klinik kecantikan kulit, Salon and Spa  Lellidewi, serta toko kado "Kado Kita". Semua usahanya itu kini bernaung dibawah satu atap yaitu Margaria Group.

Margaria Group tumbuh pesat memiliki 32 unit usaha, kini mereka tengah menjajaki bisnis mereka di wilayah Bandung. 
 
"Di Surabaya memang kehadiran Margaria Group sudah cukup lama dan ternyata responnya positif, untuk itu, kami akan memperkuat pasar di Jawa Timur, selain itu kami juga tengah melakukan survei di Bandung," kata Manager HRD Margaria Group, Ananto Prasetyo belum lama ini. 
 
Menurutnya persaingan usaha busana di DIY memang ketat. Tanpa inovasi Margaria Group bisa tertinggal jauh ujarnya lanjut.

Melalui beberapa unit usahanya yakni Margaria, Karita, Griya Muslim Anissa, Al-fath dan juga Nandia batik, Margaria Group pun setiap tahunnya menghadirkan tren busana muslim terbaru. Ananto mengaku, untuk tren tahun depan sudah mulai disiapkan sejak tahun ini. 
 
Bisnis Margaria Group yang bergerak di bidang retail dan jasa saat ini tumbuh sebesar 15 – 20 %, pertumbuhan tersebut didominasi oleh unit usaha fashion.

"Kadang kami bahkan jadi trend setter, misalnya dengan motif rainbow. Busana Muslim dengan segala perlengkapannya bukan sekedar tren mode tapi pilihan hidup yang dilaksanakan seumur hidup, jadi pasarnya akan tetap ada," jelasnya.

Selain berbisnis, wanita yang telah dikaruniai 3 anak yaitu Alfita Ratna Hapsari, Arif Nur Wibawanto, dan Annisa Rahma Herdyana ini, juga senang berorganisasi sosial. 
 
Istri dari Walikota Jogja ini begitu sibuk dengan urusan bisnis dan organisasi seperti  Ketua Tim PKK Yogyakarta, Ketua Yayasan Kanker Indonesia, Ketua Dewan Kerajinan Nasional dan banyak lagi.

"Saya punya manajemen waktu dan manajemen energi yang strik sekali. Saya selalu punya cita- cita dan idealisme. Saya bangga kalau saya bisa mencari sendiri, warna sendiri, ide sendiri," terangnya mengenai Rumah Gizi yang digagasnya.

Bisnis Butik Online Pengusaha Muda Annisa

Profil Pengusaha Annisa Rahmawati

  
butikannisa.png 
 
Pengusaha muda itu bernama Nur Annisa Rahmawati ST, MM, tergerak hatinya selepas menyasikan bagaimana dahsyatnya gempa 2006. Gempa yang menghancurkan perekonomian banyak keluarga di Yogyakarta; ia membuat bisnis batik online. 
 
Karena gempa ada orang yang kehilangan rumah, kehilangan mata pencarian, bahkan ada yang hilang akal sehat. Beruntung ada wanita kelahiran 29 Mei 1982 ini, yang masih menyimpan optimis, semangat untuk bangkit kembali dan membantu sesama.

Dia tergerak untuk membantu mereka -terutama kaum ibu yang merasa harus ikut membantu dikala bencana ini- Annisa mencoba memberdayakan mereka yang tak pernah terpikir untuk berusaha sendiri. Annisa lantas memutar otak untuk membantu kaum ibu di lingkungannya. 
 
Putri bungsu dari tiga bersaudara ini, berbekal hobi merancang busana muslimah yang ditekuni sejak kuliah, Annisa berbisnis baju muslimah bersama mereka. Ketertarikan Annisa pada dunia wirausaha sudah dimulai sejak masa awal berkuliah di Fakultas Teknik Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. 
 
Keinginan untuk hidup mandiri serta memiliki kebebasan waktu menjadi alasan kuat. Jika bicara tentang dari mana dia memiliki jiwa kewirausahaan, maka jawabannya adalah kedua orang tuanya. Modal awalnya sekitar empat juta, Annisa kemudian menggunakan rumahnya sebagai tempat produksi.

Dua orang tetangga dipekerjakan untuk membantunya dalam proses produksi, satu sebagai penjahit dan satu lagi sebagai pemayet. Batik Annisa begitu produknya disebut, memproduksi berbagai busana muslimah yang terbuat dari berbagai macam bahan seperti, sifon, thai silk, katun, dan rawsilk. 
 
Tidak hanya itu, butik Annisa mulai memproduksi produk lain seperti gaun pesta, selop brokat, serta bando jilbab. Seluruh produk yang dibuat keseluruhannya dikerjakan secara manual sehingga terjamin eksklusivitasnya.

Melalui butik yang didirikan 1 Mei 2007 ini, ia membantu kaum muslimah berbusana sesuai syariah tapi tetap berkelas dang anggun. Konsep busana yang telah disesuaikan untuk mereka wanita yang berusia 25 sampai 40 tahun.  
 
Dari milis (group email), blog dan berbagai pameran dipilih sarana promosi dan pemasaran hasil kreasi perempuan berjilbab sejak 2004 ini. Baginya milis dan blog sangatlah membantu proses bisnisnya.

Bisnis online


Merintis bisnis memang bukan perkara mudah. Tak terkeculi lulusan sarjana teknik dan magister menejamen yang pernah bekerja di Pusat Studi Bencana Universitas Islam Indonesia ini. Annisa menyadari bahwa dalam berbisnis diperlukan keuletan, kesabaran, dan intuisi yang tajam. 
 
Dukungan keluarga membuatnya semakin gigih berbisnis dan tetap bersemangat. Sudah berbagai upaya pemasaran produksi butik yang terletak di jalan Kemasan 71 Kotagedhe Yogyakarta ini, telah dilakoni oleh Annisa satu per- satu. 
 
Dari milis (grup e-mail), blog, dan pameran menjadi sarana promosi dan pemasaran terbaik. Baginya milis dan blog adalah tempat berbisnis sekaligus menujukan kreatifitas. Dari perjalanan Annisa juga mengembangkan produk- produk baru. 
 
Hal terakhir ini ia gunakan untuk menjaga agar produknya tetap bisa diterima.

"Ide untuk membuat rancangan atau model produk bisa diperoleh dari berbagai sumber. Kadang-kadang saya berburu ide produk di internet atau majalah, tetapi tidak jarang mendapat masukan dari para pelanggan yang mengunjungi pameran," ungkap sang pengusaha muda.

Butik Annisa berkembang berkat kerja keras perempuan lulusan S2 UII Yogyakarta ini. Keseriusannya mampu membawa produk- produknya hingga pasar internasional. Wilayah pemasaran koleksi busana kreasi Annisa meluas sampai ke negara tetangga, misalnya Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia, dan Australia. 
 
Beberapa negara Eropa seperti Prancis dan Jerman juga telah menjadi target pasarnya. Caranya? Annisa memegang konsep harga tetap terjangkau. Karena banyak menggunakan kain, umumnya busana muslimah tergolong mahal, namun Annisa dapat mematok harga yang cukup realistis.

Kisaran harga untuk atasan berkisar: Rp 100.00-Rp.200.000, setelan Rp 200.000-Rp 300.000, gamis: Rp 300.000- Rp 400.000, kebaya muslimah: Rp 300.000 – Rp 400.000, gaun pesta Rp 400.000 – Rp 500.000, selop brokat: Rp 150.000, dan bando jilbab: Rp 75.000. 
 
Untuk pemasaran melalui online, Annisa kini memilih menggunakan website sendiri. Menggunakan nama butikannisa.com, kini usahnya di tahun 2006 untuk hanya sekedar membantu bisa menjadi bisnis bekelanjutan.

Pada awalnya hanya fokus pada busana muslimah, karena permintaan banyak, Annisa telah mengembangkan produknya. Sebagai tambahan busana muslim Annisa kini punya berbagai aksesoris yang telah disesuaikan. Berpakaian muslimah sesuai syariah tetapi masih tetap modis menjadi ciri khas.
 
Untuk produk busana butik Annisa menggunakan konsep busana melayu. Dimana wanita melayu lebih menyukai pakaian rok, sehingga pasarnya bisa tembus sampai ke Malaysia, Brunai, dan Singapura, yang keturunan melayu.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba