Anak Profesor Jadi Pengusaha Alas Laptop

Profil Pengusaha Juananda Sutan Assin


pengusaha jual alas laptop
 
Namanya Juananda Sutan Assin seorang pengusaha alas laptop. Anak profesor yang mengembangkan produk sendiri. Alas laptop bernama lapTopper disebut unik karena menjadi konseptor. Konsep ini didapat dari daya pikirnnya menebak pengguna laptop melonjak.

Ia memang sudah merasakan peluang pasar membesar. Ini kunci sukses pengusaha jaman sekarang, butuh inovasi dan kreatifitas mencari celah pasar. Juananda atau dipanggil Nana menebak masyarakat akan makin banyak memakai laptop.

Ide Bisnis


Perempuan kelahiran 11 Agustus 1960, memprediksi memakai laptop akan menjadi hal lumrah. Ini ditambah dengan banyaknya laptop berharga murah. Orang pasti membeli laptop kelak, nah sekarang, apa yang dibutuhkan Nana mencari aksesoris yang paling mudah diproduksi.

Dia menciptakan bantalan laptop. lapTopper dimaksudkan agar kita enak memakai komputer jinjing. Tidak perlu ditaruh di atas meja karena ini bukan komputer. Ide ini datang ketika Nana melihat sang putri bermain laptop diatas pahannya.

Si anak merasa panas ketika sudah berlama- lama. Laptop memang mudah panas bila dipakai terus- terusan. Nah, dia ternyata pandai mengambil buku buat dijadikan alas, inilah ide awal menciptakan alasan laptop. Nana sendiri memakai buku bila sedang menjalankan laptop ketika tiduran.

"Saya berpikir untuk menciptakan alas laptop yang trendi dan nyaman," kenangnya.

Melalui PT. Juara Radya Kencana membuat bantalan alas laptop. Nana ingin membuat bantalan yang dipangku dan nyaman. Ia mengeluarkan modal Rp.20 juta hasil menabung. Dia mulai membangun usaha ini. Bentuk trendi lapTopper membuatnya diminati masyarakat pemakai laptop.

Putri Alm. Profesor Sultan Assin, sosok guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang telah menjual sampai keluar negeri ke Singapura, Brunei Darussalam, Swedia, Prancis, Spanyol, dan Australia.

Nana terlahir dari keluarga yang mengutamakan pendidikan. Nana terbiasa belajar dan bekerja keras untuk sesuatu. Dia sangat bekerja keras untuk mencapai hal diinginkan. Tahun 1976 sampai 1979, ia bersama saudari kembarnya Lilian Stuan Assin, bersekolah menangah atas di Belgia.

Selulus SMA, ia berhijrah ke Amerika Serikat, melanjutkan kuliah di jurusan akuntansi Connecticut State University. Sejatinya, istri dari Ramelan Kosasih, menyukai hal- hal berhubungan dengan ilmu matematika. Namun dia juga menyukai desain interior namun tidak ada metematikannya.

Dua hal saling bertentangan ini, suka desain tetapi ia tidak menemukan matematika di kuliahnya. Dia kemudian memilih masuk ke jurusan Akuntansi. Nana menjadikan akuntansi kuliah utamanya. Lulus kuliah 1984, Nana bekerja untuk PriceWaterhouse Coopers (PWC) sebagai konsultan.

Tiga tahun dia menjalankan karirnya dibidang perbankan. Karir Nana bertahan lima tahun sembari ia membeli waralaba. Nana menjajal bisnis waralaba food & beverages di Waterboom, Bali. Sayangnya, bisnisnya tidak berhasil, hanya menyelesaikan kontrak lima tahun tanpa niatan memperpanjang.

Di antaranya, pada 2007 -an, ketika bisnisnya meredup maka Nana mencari- cari peluang bisnis lain. Ia menemukan bantalan ini. Segera Nana mengeluarkan modal untuk membeli mesin jahit. Lalu, dia merekrut dua penjahit untuk menjahit desain, dan sisanya dibelikan material busa, kayu, dan pelapis.

Ide bisnis ini bukanlah hal baru tetapi pernah dia jumpai. Tetapi Nana pernah melihat pelapis seperti itu ketika berkuliah di Amerika Serikat. Hanyalah, Nana menjelaskan bantalan tersebut di sana pakai bahan plastik.

Inilah inovasi Nana menggunakan butiran styrofoam sebagai isi bantalan. Awalnya tidak mudah, ia telah mencoba aneka macam desain sampai tiga bulan. "Saya bolak- balik merubah desain sampai 10 kali," terangnya kepada Kontan.co.id

Sampai ia meyakini desain telah terbaik barulah memproduksi. Awal dia membuat 50 buah bantalan yang dibawa ke Cilandak Town Square, Jakarta Selatan. Di sini, pesanan berdatangan sangat banyak, dan menjadi kejutan bahwa ternyata animo masyarakat tinggi.

Nana sempat kwalahan menangani permintaan. Di pasaran, lapTopper sangat dikenali karena punya bahan katus berkualitas bagus. Bentuk unik berupa hurum U yang pas ditaruh ke pinggang. Ditambah gagang kayu yang cocok berbaur motif macam- macam.

Motifnya cantik bermacam- macam dengan tambahan kipas angin. Ukuran bantalan S (40 x 30 cm) seharga Rp.195.000, ukuran M (40 x 50 cm) harga Rp.235.000, dan ukuran L (40 x 60 cm) yang dijual seharga Rp.285.000 perbuah.

Produk ini bisa dijumpai di gerai penjual laptop seperti eStore Apple, EMAX, dan Office2000. Dan punya reseller di Malaysia, Brunei, dan Singapura. Nana mampu memproduksi 2000 unit perbulan, dan omzetnya Rp.200 jutaan. Semakin murah harga laptop maka produknya akan semaki diminati.

Waralaba Murah Laundry Kisah Pengusaha Solo

Biografi Pengusaha Sasi Kirana 


waralaba murah

Apa kamu sedang mencari waralaba murah laundry. Cobalah usaha besutan pengusaha Solo bernama Sunpretty Laundry. Inovasi waralaba atau franchise telah memasuki wilayah pribadi. Rahajeng Sasi Kirana (32) awal- awalnya sekedar iseng membangun bisnis luandry diwaralaba.

Dari laundry Sun Pretty Laundry, ia sukses membuka 22 gerai bisnis laundry di berbagai kota. Usaha jasa pencucian pakaian ini telah menjadi buruan mereka pekerja sibuk. Orang tidak usah pikirkan tentang cucian segunung karena Sun Pretty Laundry siap sedia kapapun.

Ia pernah bekerja di LBB Primagama Yogyakarta sebagai accounting sekaligus tentor. Sasi, begitulah sapaan akrab wanita cantik satu ini memulai bergelut dengan tumpukan cucian.

Prospek Bisnis Laundry


"Dulu waktu saya di Jogja, melihat banyak sekali tempat laundry yang semuanya ramai. Dari situlah berpikir kenapa nggak buka bisnis laundry saja," terangnya. Bisnis laundry ini didirikan 2010 silam telah berkembang pesat.

Bisnis ini bermodal Rp.2 juta ditambah sebuah mesin cuci pinjaman ibunya. SunPretty Laundry pada awalnya membuka gerai sendiri di Jl Kalingga VII No 18 Solo. Sasi harus siap berusaha menarik pelangganya melalui sistem delivery service; menjadi tantangan tersendiri.

Dimana baju kotor diambil dari tempat pelanggan kemudian dibawa ke gerai kemudian diantarnya kembali ke pelanggan setelah bersih.

"Awalnya, saya ambil sendiri cucian kotor pelanggan dengan motor dan saya taruh di depan. Seringkali karena banyaknya cucian wajah saya sampai tertutup," kenang wanita kelahiran 28 Oktober 1980 ini sambil tersenyum.

Jerih payah itu ternyata menghasilkan ketika bisnisnya mulai dikenal. Beberapa bulan setelah melakukan launching barulah pelanggan berdatangan. Menurut Sasi sukses tak lain lantaran tempat digunakan olehnya sangatlah strategis.

Gerainya ada di sekitar kampus dan merupakan wilayah kos- kosan. Tentunya akan banyak mahasiswi memilih mencucikan disana. Apalagi Sasi sendiri menjalankan konsep bisnisnya agar seramah mungkin.

Bisnisnya menempati bekas kos- kosan milik sang kakek menjadi kunci keberuntungan tersendiri. Konsep bisnisnya simple ditambah cukup unik menggunakan paduan konsep warna- warni khas. SunPretty Laundry selalu menghangatkan dalam pelayanan.

Bisnis ini benar- benar menarik perhatian terutama bagian bahan- bahannya. SunPetty Laundry menggunakan bahan khusus di setiap cucian. Prinsipnya yaitu berbagai masalah laundry harus bisa diatasi.

"Kami juga menawarkan jasa cucian hanya dalam waktu 4 jam, namun tidak mengurangi kualitas sedikit pun. Ini juga yang menjadi kelebihan kami," ungkap Sasi.

Ia melihat persaingan cukup ketat nekat mencari mitra bisnis. Sasi membuka peluang bagi siapa saja buat kita menjalankan bisnisnya melalui sistem waralaba.

"Mitra bisnis pertama saya adalah Ibu Zulkarnain dari Makassar. Sekarang setelah berjalan kurang lebih 3 tahun, bersyukur sudah 22 gerai yang buka," ujarnya bangga.

Gerai Sun Pretty Laundry telah tersebar diantaranya di sekitar Surabaya, Tulungagung, Semarang, Sragen, Jakarta, Banjarmasin, Makassar, Batam, dan Bali.

Melalui bisnis waralabanya ini, yang manarik, ketika dia tidak mengambil royalti fee. Jadi bisa dibilang bisnis ini begitu murahnya bagi pewaralaba. "Semua keuntungan yang diraih mitra, menjadi 100% milik mitra. Ini tentu sangat menguntungkan," jelas Sasi.

Sun Petty Laundry menawarkan berbagai macam paket franchise yaitu antara lain paket cute, charm, smart, dan briliant. Bagaimana modal waralabanya? Ia menjelaskan dari paket tersebut nilainya Rp.20 juta sampai Rp.70 juta.

Sasi hanya mengandalkan situs jejaring sosial agar bisnisnya semakin dikenal. "Sekarang twitter, facebook, dan website terbukti ampuh sebagai media promosi. Buktinya, tak hanya di Solo, Sun Pretty Laundry ini juga bisa dikenal di berbagai kota di Indonesia," aku Sasi.

Ia patut berbangga hati ketika Mentri UKM dan Koperasi memberinya penghargaani the Indonesian Small Medium Business Entrepreneur Award (ISMBEA) 2012. SunPretty Laundry sukses pengusaha Solo bisa masuk kategori Industri Kreatif Berkembang tahun 2012.

Memang layak disebut pengusaha wanita kreatif dan berkembang. Sasi telah mengembangkan konsep delivery order, waralaba atau franchise, lalu terkahir ini, bernama Spa Laundry.

Apa itu? Ini bisa dijelaskan sebagai mencuci satuan khusus beraroma therapy. Melihat respon orang positif terhadap layanannya, ia mantap terus berprestasi.

"Alhamdulillah, ini merupakan kado teristimewa dari Kementerian UKM dan Koperasi Republik Indonesia. Kami sempat tidak menyangka akan mendapatkannya," ungkap Sasi merendah.

Kini merek miliknya yaitu SunPretty Laundry tidak hanya dikerjakan sendiri. Ia mengajak sekalian sang adik, Virina Ayu Wulan, dan berpresentasi hingga keluar kota Solo. Saat ini baru enam orang ikut masuk ke dalam sistem warlabanya ketika artikel ini ditulis.

Jika kamu mau menjadi mitra cukup mudah dan ringan biaya. Ada beberapa paket yang ditawarkan kepada, jumlah investasi sangat terjangkau antara lain Paket Cute investasi Rp 11.900 ribu, Paket Charm investasi Rp 14.900 ribu, Paket Smart Rp 20.900 ribu, dan Paket Brilliant dengan investasi Rp 45 juta.

Mahal? Tentu bisa dibilang tidak karena kamu bisa mensave untung 100%. Waralaba murah laundry ini siap kamu coba.

Membuat Pabrik Roti Untung Miliaran Pengusaha Sukandar

Profil Pengusaha Sukandar Kartrijoko


bisnis roti seribuan
 
Penampilan pengusaha Sukandar sangat sederhana. Ia tak membayangkan membuka pabrik roti dan untung miliaran rupiah. Dia bersama empat kawannya membuka pabrik pada 2002. Pada Maret di tahun tersebut, Sukandar hanya sekedar ingin membuka usaha demi menjalankan hidup.

Wirausaha merupakan satu jalan mendapatkan rejeki. Sukandar tidak pernah berpikir akan menjadi kaya berjualan roti. Dia tidak punya pengalaman begitupula empat kawannya. Mereka nekat aja buat pabrik roti bernama Mandiri Bakery.

"Kami membangun usaha di lingkungan pemukiman padat penduduk di dekat rumah saya untuk membantu warga sekitar berkarya," jelasnya kepada pewarta Kontan.co.id, yang ditemui di kantornya daerah Petukangan Utara, Jakarta.

Usaha Tanpa Gaji


Sukandar bukan sembarangan karena lulusan sarjana. Pendidikan terakhirnya Insitut Ilmu Komputer Jakarta. Bukannya dia memilih mengirim lamaran pekerjaan, Sukandar malah berkutat dengan tepung roti yang cuma dipahami sedikit.

Ia bermodal mengingat orang tuanya membuat roti dulu. Kedua orang tuanya berjualan roti di rumah mereka di Yogyakarta. Cuma satu kawannya yang lebih paham mengenai seluk beluk produksi. Dia lah yang mengajarkan Sukandar dan lainnya.

Teman ini mengajari proses produksi Sukandar dan para pegawai. Sukandar ditunjuk menjadi kepala menjalankan operasional pabrik, ditanggung jawabi mulai dari produksi sampai distribusi. Padahal Sukandar masih tercatat menjadi pegawai perusahaan plat merah.

Dia merupakan karyawan PT. Pupuk Sriwijaya dan sangat sibuk. Pulang malam Sukandar langsung ke pabrik memeriksa laporan. "Walau pulang kantor pukul 9 malam, saya masih menyempatkan diri ke pabrik sebelum kembali ke rumah," jelasnya.

Modal Rp.110 juta diglontorkan untuk kontrak tanah 800 meter2 di Jalan Petukangan Utara, Jakarta Selatan, untuk lima tahun. Dalam sehari, pertama kali dia bersama delapan karyawan hasilkan 4.300 roti.

Usaha ini memiliki karyawan memproduksi roti, terus ada tiga orang karyawan administrasi dan 16 karyawan penjual. Ya mereka memiliki pedagang roti sendiri dimana keliling Jakarta Selatan. Pria berusia 60 tahun ini, dia tidak mendapatkan gaji dari usaha rotinya selama dua tahun pertama.

Dia cuma mendapatkan gaji dari Pupuk Sriwijaya. Selanjutnya, dia dan empat orang kewan sudah mulai mendapatkan gaji dari Mandiri Bakery, tetapi langsung dipakai. Mereka sepakat memakai uang tersebut menjadi modal tambahan.

Sukandar sampai sesukses sekarang tidak mendapat gaji. Melainkan sisa keuntungan usaha, yang ia mana dapatkan ketika akhir tahun bukan bulanan. Gajinya di Mandiri Bakery itu ditumpuk menjadi modal usaha untuk membeli mesin aduk dan baking pada 2005.

Dia membeli mesin seharga Rp.21 juta di Tanah Abang. Itu mesin bekas yang dibuat dalam negeri bukan impor. Di Agustus 2006, Sukandar pensiun dari Pupuk Sriwijaya, dan semakin leluasan untuk mengembangkan usaha ini.

Dua tahun kemudian, Sukandar kembali membeli mesin pengemasan seharga Rp.100 juta. Mesinnya semakin lengkap ditambah karyawan lebih banyak. Mandiri Bakery memproduksi 18.000 roti setiap hari. Sukandar dan pabriknya tidak lagi memproduksi roti dalam sekala kecil.

Mereka telah mampu mengadon sekitar 80.000 roti berbagai rasa, mulai rasa coklat, pisang keju, dan kelapa. Sukandar membandrol roti murah seharga Rp.600 perbuah. Sekarang, dia memiliki 70 orang pegawai dan 130 pedagang penjual ke seluruh wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangeran, dan Bekasi.

Roti- roti ini dipasarkan ke warung- warung dan toko kecil dimana dijual Rp.1000 -an. "Roti saya ini roti jelata, banyak dimakan orang kecil seperti supir angkot karena harganya cuma Rp.1000," kata Suandar tertawa. Bila dihitung pabriknya mampu mengantongi omzet Rp.1 miliar sebulan.

Keuntungan pribadi dirinya cuma Rp.20 perkue. Sisanya sudah dimasukan produksi dan pendapatan para pegawai. Roti ini memberikan rejeki utama kepada pegawainnya yang lulusan SD dan SMP. Rejeki bagi mereka yang ingin makan roti enak tetapi berkantung cekak.

Dia hanya pegawai Pupuk Sriwijaya tetapi mampu mengelola pabrik. Ia belajar melalui pengalaman menjadi ketua RW. Dia tidak takut bersaing dengan bakery besar. Mereka mungkin banyak tetapi lebih banyak orang yang butuh roti murah.

Mandiri Bakery berdiri Maret 2002 dengan pesaing 60 pabrik roti se- Jakarta Selatan dan Barat. Dia mengatakan bahwa mereka juga mengincar pasar roti murah. Bedanya mereka juga membuat roti- roti premium dengan kemasan menarik dan banyak varian rasa.

Sempat berpikir, apakah ada orang memakan roti bikinannya, sementara diluaran sana banyak toko- toko kue berhamburan. Apakah orang masih melirik rotinya, sementara banyak merek roti ternama yang menghiasi. Ia pun menjajal menitipkan roti- roti murah ini ke warung.

Pertama kali menitipkan ke warung ternyata laku, dalam dua hari ludes. Sukandar makin percaya diri memproduksi lebih banyak. Sebab, menurutnya, warga Jakarta masih butuh roti murah baik menjadi camilan atau pengganjal perut yang dibawa ke mana- mana.

Produknya dikemas sederhana, dijual murah, dan didapat dimana- mana. Segmentasi menengah ke bawah ternyata mampu memberikan keuntungan. Sukandar tidak salah menjalankan perusahaan ini, dimana empat kawannya memilih menjadi pemegang saham.

Dari lima sekawan, Sukandar diangkat menjadi Direktur Operasional, menjadi operator jalannya ini karena memiliki pendidikan tertinggi. Selain masalah teknis, Sukandar juga ditugasi mengurusi hal administrasi, seperti pembentukan PT dan perpanjakan.

Ketika pemerintah mewajibkan NPWP, maka Sukandar mendaftarkan dan mencatatkan nomornya di kemasan roti. Urusan administrasi selesai, maka Sukandar akan mengurusi masalah produksi juga merekrut karyawan. Ia memilih merekrut warga sekitar yang bermukim di kawasan pabrik.

Kejujuran dan Etos Kerja


Pertama kali, dengan mempekerjakan delapan pegawai, Mandiri Bakery mampu menghasilkan 4.300 buah roti. Dia pun mengajukan pensiun dini walaupun sempat dicegah atasan. Sukandar berani untuk mengelola pabrik tersebut.

Dia bermodal pengalaman ketua kelas SD dan ketua RW di Petukangan Utara. Ia wajib mengatur tak cuma pertumbuhan pabrik. Kewajibannya termasuk mengantur pegawai yang semakin besar. Dimana ada 70 orang pegawai, yang sebagian besar berpendidikan rendah dan berasal dari desa- desa di Jawa.

Sukandar dihadapkan tidak cuma melatih membuat roti. Ia diwajibkan mendidik prilaku mereka dan profesionalitas. Ambil contoh dia menerim pegewai remaja 18 tahun, yang tidak tamat SD, diberikan tugas mengoles mentega di permukaan roti.

Ternyata si pegawai sering membuat roti untuk dimakan sendiri. Dia memakai selai coktal. Bukan dioles sedikit tetapi banyak. Nanti dia oles sendiri, panggang sendiri, lantas dimakan sendiri. Cara ia mendidik ialah membiarkan anak tersebut begitu.

Dia berpendapatan bahwa anak tersebut pasti akan bosan. Nanti anak itu akan bosan makan roti dan benar saja. Sukandar suatu hari menemukan roti yang telah habis separuh. Sukandar yakin pastilah si anak tersebut. Maka dia memanggil anak tersebut dan ditanya, "apakah kamu sudah bosan roti?"

Ia menyawab benar dan mengakui membuang sisa rotinya. Sukandar segera memberikan opsi mau habiskan atau keluar dari kerjaan. Si anak tersebut kemudian mengambil sisa roti dan dihabiskan. Ya tentu roti tersebut sudah bercampur sampah yang berbau.

Semenjak itu, si anak tidak lagi mencuri- curi makan roti apalagi membuang- buang. Pelajaran yang diberikan Sukandar bukan perihal mengambilnya. Melainkan bahwa si anak mengambil bukan lagi untuk mengisi perutnya lapar, melainkan sudah sekedar makan dan dibuang.

Sukandar mengajarkan berharganya roti tersebut meski murah. "Walau murah, dia tetap roti, yang bisa mengenyangkan perut yang lapar," ujar pengusaha senior ini.

Sukandar Kartrijoko mengajarkan kejujuran, tanggung jawab dan menabung. Dia mengajarkan ke 70 pegawainnya menyisakan gaji. Sukandar sukses membuat pabrik roti untung miliaran. Tentu banyak orang tidak suka. Dia menekankan pengawasan ketat agar kualitas produksi tidak dipertaruhkan.

Dia memastikan semua pegawai bekerja sesuai bagiannya. Pencatatan jumlah roti di sore hari yang mencatat jumlah dan kerusakan. Sukandar tidak mau berpikir buruk sehingga mempercayai mereka. Dia berharap kepercayaan tersebut disambut tanggung jawab dan kejujuran.

Kepercayaan juga dibenamkan kepada penjual roti. Dimana mereka diberi jatah 1500 roti dihabiskan dulu. Nanti mereka bisa mengambil ke dua, ketiga, dan seterusnya. Unikny Sukandar tidak wajibkan penjual membayar di pengambilan pertama dan kedua dulu.

Pembayaran bisa diakhirkan bahkan sampai ke pengambilan ketiga. Ini dikarenakan mereka juga itu tergantung pemasaran di warung- warung. Mereka kan dibayar setelah roti titipiannya habis dahulu. Pernah ada orang yang mengambil lima kali, dan belum bayar sama sekali menghilang begitu saja.

Dia tidak kembali. Kejadian tersebut sempat dikomplain pegawai pembuat roti. Mereka kesal akan tingkah sang penjual. Sukandar langsung menenangkan emosi mereka. Bahkan ia meminta pegawai mengikhlaskan ia ambil banyak- banyak.

Sukandar percaya bahwa dia akan mendapatkan ganjarannya. Sukandar mengajarkan menabung ke pegawai- pegawainya. Mereka berpendidikan rendah jadi harus memiliki tabungan. Uang Rp.10 nanti sudah dipotong langsung dari per- roti dikerjakan para pegawai.

Gaji pegawai dihitung berdasarkan bidang digeluti. Bagian produksi dapat Rp.34 per- roti, dan tukang bungkus Rp.25 per- roti. Rata- rata mereka mengantongi penghasilan Rp.50.000 perhari. Dari sana, tabungan mereka, para pegawai bisa ambil buat membeli motor, termasuk biaya sekolah anak- anak.

Sukandar tidak pernah berhutang bank. Ia yakin usaha ini akan terus berkembang. Pasalnya orang selalu membutuhkan roti murah Rp.1000 -an. Walau mereka menarget pasar mengah bawah, tetapi rasanya tidak kalah sehingga banyak mereka yang berkantong tebal membeli roti ini.

Mereka membeli ribuan roti buat ditaruh dalam kardusan. Namun mereka akan lepas bungkusnya yang ada tulisan seribuan. Ternyata roti tersebut laris manis membuktikan rasa bisa diadu. Sukandar bukan tanpa masalah berbisnis roti karena konsumen terus berubah.

Kini, orang tidak cuma melihat rasa, namun melihat brand dari roti sebelum membeli. Di suatu hari, rotinya dipajang satu tempat bersama brand terkenal. Hasilnya mereka tidak terlalu melirik roti yang dibikinnya. Dia menambahkan tulisan seribuan juga menjadikan mereka berpikir dua kali.

Dari segi cita rasa tidak kalah, soal bahan baku juga maksimal dan sama tidak kalah. Saban hari dia menghabiskan 70 sak tepung terigu ukuran 70kg merek Cakra dan 10 sak gula pasir. Bedanya hanya ia memakai mesin lokal seharga 17 jutaan, sementara mereka memakain mesin impor ratusan juta.

Pernah suatu ketika ada rotinya berisikan cicak padahal terbungkus rapih. Ini tidak pernah terjadi dan tidak akan terjadi. Sukandar telah menerapkan standar tinggi mengenai proses produksi roti. Jadi dia menyimpulkan, ada yang tengah menjahutkan rotinya dan memang persaingan roti di Jakarta keras.

Chef Online Vita Berbisnis Melalui Blog Pribadi

Profil Pengusaha Anastasia Novita


chef online vita

Berbisnis melalui blog pribadi kenapa tidak. Chef online vita dikenal berkat tulisannya mengenai kue di blog pribadi. Ia adalah seorang blogger resep kue sekaligus ahli membuat kue. Dia, Ir. Anastasia Novita, atau lebih akrab dipanggil Vita, memang bukanlah chef berpredikat.

Ia adalah sarjana lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB). Bisnisnya dimulai ketika dirinya memilih berhenti dari pekerjaan di sebuah perusahaan tahun 2004. Mulanya dia bingung musti mengerjakan apa.

Akhirnya ia mulai menyalurkan hobinya membuat beragam kue. Mula- mula dibuatnya beberapa kue dibagi- bagikan ke tetangga. Kue- kue tersebut bisa dijadikan hantaran, atau oleh- oleh ketika berkunjung ke rumah kerabat atau temannya. Tak disangka responnya akan begitu digemari.

Seiring waktu hobinya ini bisa dijadikan suatu usaha tetap. Dia berhasil merubah passion menjadi sumber penghasilan. Dibantu oleh tetangga- kerabat mereka membangun usaha sekala rumahan. Usahanya meliputi aneka olahan kue baik kue tradisional atau sejenis kue tar.

Berbisnis Blog Pribadi


Yang menarik yaitu salah satu kue produksinya yaitu kue edible image. Apa itu kue edible image? Kue yang dilapisi foto atapun gambar, dan itu bisa dimakan oleh kita. Usaha kuenya sukses dipasarkan baik dari mulut ke mulut hingga melalui sarana blog kuliner.

Melalui blog pribadinya yaitu dapurnyavita.blogspot.com, dia mulai mendekati pasar diluar dari jangkauannya. Sistem marketing sederhana menggunakan bahasa blog pribadi yang ramah. Vita pun mencoba tak pernah menggurui siapapun karena berisi pengalaman pribadi.

Tak disangka sambutannya begitu luar biasa dari blog ini. Juga dari blog lah dia mulai mendapatkan pesanan baik dari dalam kota maupun dari luar kota. Vita biasanya akan melayani pesanan mereka dari kawasan Jabotabek hingga Serang, Banten.

Meski tak menampilkan gambar- gambar atau hanya berupa blog cerita, bukan berarti gagal dalam penjualan. Justru blog -nya semakin banyak didatangi karena bersifat edukasi, namun santai.

Banyak pengunjung yang dengan ramah menyapa dan bertanya ini- itu. Vita kini menjadi sosok chef online sepert juga chef selebriti di televisi- televisi

"Jika ada pesanan dari luar kota, misalnya Pontianak, biasanya saya merekomendasikan mantan teman kursus bikin kuenya yang tinggal di Pontianak untuk  memenuhi permintaan  tersebut," ujar dia.

 "Bagi-bagi rezekilah, kan semua rezeki udah ada yang ngatur dan saya tidak pernah merasa tersaingi malahan menjadikan mereka itu sebagai mitra," ujar Vita mantap.

Bisnis kue ini tak terpengaruh krisis moneter yang pernah menghempas. Sukses berbisnis ketika usaha lain gulung tikar. Memang kalo urusan perut tak akan ada matinya berbisnis semacam ini jelasnya.

Menurut dia, pesanan tidak hanya datang dari acara ulang tahun tetapi ada dari berbagai acara. Misalnya katanya acara syukuran kelahiran, kenaikan kelas, pernikahan bahkan sarana kampanye parpol.

Malah, biasanya, untuk memenuhi permintaan event- event seperti itu; Vita kelabakan melayani pemesanan. Ketika ditanya modal awal memulai usahanya, Vita mengaku hanya memulai dengan 500 ribu rupiah saja.

"Modal ini kecil karena saya tidak menyewa kios maupun menggaji karyawan, melainkan untuk membeli peralatan pembikinan kue seperti mixer dan oven," katanya. Kalaupun ada kendala, menurut Vita adalah minimnya SDM yang dimiliki.

"Sampai saat ini belum ada SDM yang bisa saya andalkan untuk usaha saya," jelas Vita, Chef Online yang bisa kamu terapkan.

Kontak:

Email: novita_dewi@cbn.net.id
Telephon: 0815-13030415 / 0819-32557193
Dapur: Villa Nusa Indah 2 Jatiasih Bekasi

Account pemesanan:

BCA 458-01-03583
a/n Novita Dewisulistyowa

Pengusaha Pembuat Sepatu Pernikahan Custom

Profil Pengusaha Regina Alifen


sepatu pengantin kustom

Pernikahan merupakan hari sakral dimana semua harus sempurna. Regina Alifen, pengusaha pembuat sepatu pernikahan custom berkat pengalaman pribadi. Regina mengenang dulu kesulitan menemukan sepatu cocok. Baik ukuran maupun desain yang tidak sekedarnya karena ini khusus.

Regina berkarir menjadi fashion desainer pengantin atau bridal. Spesifik dia menjadi desainer sepatu bridal khusus sejak 2008. Wanita yang sejak lama memiliki hobi mendesain apapun. Brand Regis Bridal memang dikhususkan membuat sepatu custom.

Modal Rp.50 juta dipakai menjadi modal awal usaha ini. Pengusaha yang merancang desainnya sejak awal proses. Dari pemilihan bahan sudah disiapkan semenjak pemesanan. Produk sepatunya buatan tangan disesuaikan pesanan dan spesifikasi khusus pelanggan.

Prospek Bisnis


Karena bersifat kustom, maka pihak penganting yang harus datang buat diukur. Mereka wajib datang ke rumah produksinya di Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, untuk mengepas sepatu pesanan. Proses pengepasan inilah bagian terpenting sekaligus menjadi andalan produk Regis Bridal.

Ia mendesain bentuk desain disesuaikai atau kustom. Bagi pelanggan luar Jakarta, bisa mengirimkan contoh sepatu sesuai ukuran kaki pengantin. Tenang dia akan kembalikan sepatu selepas pengukuran selesai. Selepas ukuran sepatu didapat maka akan masuk tahap desain dan produksi.

"Saya waktu itu berpikir kenapa tidak membuat bisnis custom wedding shoes saja. Kan pada waktu itu belum ada," kata Regina, dalam sebuah sesi wawancara bersama SWA.co.id

Regina membutuhkan waktu sebulan mengerjakan pesanan. Tahapan diatas akan selesai sebulan dan siap dikenakan. Biasanya baik model maupun bahan akan disesuaikan pakaian pengantin. Tinggal apa mau ditambah sebagai aksesoris sesuai kebutuhan calon mempelai.

Tidak hanya pesanan berdatangan dari dalam negeri. Dari luar negeri pun memesan ke Regin Bridal seperti Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa. Bisnis sepatu pernikahan custom memang sangat menjanjikan. Regin Bridal tidak segan mengirimkan contoh sepatu sampai keluar negeri.

Biasanya ukuran akan ngepas dikaki ketika dibuat. Regin Bridal memiliki outlet pemasaran di Radio Dalam, Jakarta. Regina juga memasarkan melalui media digital. Produknya dipromosikan baik di Instagram, website, dan jejaring sosial lain.

Regina sendiri tak khawatir melihat perasaingan bisnis saat ini. Dia meyakini dirinya memiliki ciri khas desain dan bahan baku. Pelanggan Regina juga sudah terbentuk dan meluas berkat pengalaman pribadi. Kepuasan pelanggan menjadi pengalaman yang menarik orang berdatangan.

Bahan bakunya khusus, karena memang berkonsep mewah, dimana desain sepatunya termasuk hiasan kristal swarovski asli. Sementara bahan kain termasuk menggunakan bordir dan brokat. Itulah maka harga jual sepatu pernikahannya pantas bila mahal, dimana perpasang bisa sampai Rp.4 juta.

Dia membuat puluhan pasang sepatu custom setiap bulan. Omzet perbulan bisa mencapai Rp.400 juta. Sayangnya, ia enggan menyebut keuntungan bersih perbulan, yang jelas marginnya sangat bagus bila kamu geluti.

Biar menarik pelanggan baru disediakan layanan garansi. Ia meyakinkan pelayanan mereka maksimal termasuk memberikan contoh dan pesanan via contoh. Kamu tidak perlu datang ke Jakarta demia bisa mendapatkan sepatu pernikahan impian.

Bila kristal lepas maka akan diperbaiki, pelanggan nanti tinggal mengirim kembali sepatu kembali ke Regina. Bila kamu ingin membeli tanpa kustom sudah dipersiapkan. Regina telah menyiapkan sepatu siap pakai. Tentu saja, harga jualnya lebih murah dibandingkan kamu memesan kustom nanti.

Rata- rata harga sepatu siap pakai 30% lebih murah dibanding kustom. Selain itu, Regina juga siap menerima pesanan sepatu pesta, yang mana biasa dipakai para pengiring pengantin dan orang tua dari pengantin.

Kekuatan Desain


Pengusaha pembuat sepatu custom memang telah banyak. Bahkan buat pernikahan sudah menjamur ketimbang Regina dulu. Namun ia meyakini bahwa desain sendiri memiliki kelebihan. Sepatunya juga tidak diproduksi masal karena bisa disesuaikan pribadi masing- masing.

Untuk pemesanan bisa membayar uang muka 50% dilanjut proses pengukuran. Ia mendesain sendiri sedangkan pembuatnnya akan diserahkan pengrajin. Regina telah memiliki penjahit andalan untuk memenuhi kebutuhannya. Bahan utama sol sepatu Regina terbuat dari kulit asli impor dari Italia.

Agar terkesan mewah bisa ditambahkan kristal swarovski. Sepatu telah melalui proses fitting seperti hal pakaian pengantin. "Saya selalu menanyakan kepada pelanggan ingin model seperti apa dengan busana, lokasi, dan selera mereka," imbuhnya.

Regis Bridal telah menjalin kerja sama dengan swarvski Indonesia. Regina memang mengincar pasar kelas menengah atas. Dia mampu menggaet selebriti papan atas, seperti Sandra Dewi, Chelsea Olivia, Tyas Mirasih, Nadine Chandrawinata, Andien, Natasha Wilona, Atiqah Hasiholan, dll.

Regis Bridal telah memahami psikologi pembeli. Banyaknya usaha sepatu kustom tidak membuatnya khawatir. Dia mengambil contoh ada orang yang sangat kecewa. Dimana ketika ia melihat foto- foto di Instagram sangat bagus, namun ketika sampai tidak sebagus foto bahkan tak cocok ukuran.

Regina menawarkan perbaikan bahkan ketika H- 1. Inilah kelebihan bisnis cutom yang identik mahal karena khusus. Bahwa ini dibuat khusus pemesan sendiri bukan orang lain. Para pengusaha pembuat sepatu sendiri akan dilema, apa mau produksi masal atau memproduksi sesuai pesanan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba