Usaha Songket Intan Sari Berhasil Dirikan 3 Gerai

Profil Pengusaha Intan Sari


bisnis songket
Tantangan Intan Sari, pemilik usaha songket, adalah merubah persepsi penggunaan kain ini. Songket sendiri dikenal sebagai kain tradisional dengan kerumitan tinggi. Proses pembuatannya lama, alhasil kain tak banyak dilirik pengusaha muda, dan justru ini menjadi kesempatan Intan untuk mencoba.

Dia yakin mampu membawa kain songket ke ajang internasional. Gadis kelahiran Palembang, yang tengah menciptakan citra baru kain tradisional. Intan mengaku awal mengerjakan bisnis ini, merasa tak percaya diri akan bisa sukses.

Berkat mengikuti ajang Wirausaha Muda Mandiri, pola pikirnya berubah dan merasa keberhasilan di depan mata. Bank Mandiri tak hanya memberi hadiah tetapi pelatihan juga kewirausahaan. Intan yang semula tak percaya diri, kini telah membuka gerai ketiganya di Palembang.

Intan menyadari pamor songket tengah naik daun. Dibutuhkan inovasi dalam bisnis songket miliknya nanti. Ia pun sengaja memilih mengerjakan motif limar, yang selama ini jarang ditekuni pelaku usaha songket. Pertaruhan ini membuahkan hasil dengan ketertarikan masyarakat membeli.

Salah satu produk unggulannya kain songket denga lebar 110 meter. Dia akan menjahit itu menjadi busana modern. Intan memadukan songket dengan atasan polos. Tujuannya agar songket tak selalu identik dengan acara formal, dan cocok buat digunakan aktivitas sehari- hari.

Dia menjual produknya dari Rp.350 ribu sampai jutaan rupiah. Intan pun mempekerjakan tak kurang 50 orang karyawan. Terinspirasi pengusaha batik yang berkreasi dengan aneka model dress. Dia tak ingin monoton menjadikan songket jadi gaun formal.

Intan menjelma menjadi desainer berkonsep songket fashionable. Berkat itu, kain songket Intan tak hanya dipakai orang tua. Gayanya yang anak muda banget mampu menggaet remaja. Usaha songket miliknya juga cocok buat dipakai anak- anak.

Startup Bisnis Photo Booth ala Kotak Narsis

Profil Pengusaha Ahyar Muawal


photo booth kotak narsis
 
Pengusaha Indonesia terbukti tak kalah reatif mengembangkan aplikasi. Inilah startup bisnis photo booth yang berkonsep IOT. Aplikasi yang membuat semarak sebuah acara atau event nanti. Namanya Ahyar Muawal, pembuat sekaligus  CEO dari perusahan startup bernama WASDALAB.

WASDALAB adalah studio penghasil aneka aplikasi canggih. Mereka mengusung aplikasi yang interaktif berasal dari Makassar. Ahyar membuat aplikasi bernama Kota Narsis berbasis IOT. Buat kamu yang tidak tau, IOT kepanjangan dari Internet of Things, memberikan tampilan foto menarik.

Orang terkadang tak puas dengan photo booth di acara atau event. Nah, si Kotak Narsis ini tercipta untuk mengatasi permasalah tersebut. Kamu bisa membuat latar photo booth beraneka macam, dan didukung proses editing, pengaturan cahaya, dan tombol berbagi.

Kota Narsis juga memberikan ruang menulis kutipan pada foto. Pokoknya Kotak Narsis ini diklaim lengkap, sekaligus menjadi yang pertama di Indonesia. Aplikasi anak bangsa yang sudah memilik banyak template untuk acara wisuda, ulang tahun, pernikahan, atau yang lainnya.

Perjalanan Bisnis


Startup bisnis photo booth ala Kotak Narsis butuh perjalanan. Ahyar bercerita dia bersama teman- teman butuh waktu. Dari diskusi mengenai konsep hingga perencanaan aplikasi. Mereka lalu mulai mengeksekusi dimulai sejak 2013 silam.

Kotak Narsis membutuhkan waktu penyempurnaan sampai tahun 2016. Ahyar menceritakan butuh ketekunan ekstra. Mereka sama- sama mengharapkan sesuatu kelak di masa depan. Tahun 2013, hasil berupa prototipe, yang sentuhan teknologinya masih kurang.

"Kotak Narsis yang kami kembangkan ini adalah yang pertama di Makassar. Bahkan saya berani mengklaimnya sebagai photo booth berbasis IOT pertama di Indonesia," ucapnya bangga.

Pengusaha muda kelahiran Makassar, yang bekerja sebagai tenaga pengajar untuk STIMK Kharisma Makassar. Awal tahun 2013, fokus aplikasi adalah sistem otomatis mengirim foto ke sosmed. Dia mengatakan bisa mengrim juga via email, selain langsung upload ke sosmed.

Di Makassar, mereka menjadi yang pertama memasarkan photo booth digital, sisanya memilik bisnis photo booth manual. Dimana orang bisa ambil foto dan langsung cetak di tempat. Buat yang mau ambil soft copy akan lama prosesnya, seperti harus burning ke CD atau copy lewat flask disk.

Selama empat tahun mereka membuat prototipe sampai pemasaran. Sembari berjalan mereka terus mengembangkan aplikasi Kotak Narsis. Tahun 2017, berkat ketekunan untuk memperkenalkan, nama mereka tercatat sebagai pemenang Wirausaha Muda Mandiri 2017.

Teknologi terbarunya meliputi banyak frame dalam sekali foto. Kemudian sistem pengambilan foto melalui arahan suara. Ini akan membuat aplikasi tak perlu disentuh. Kotak Narsis juga memiliki sistem pendeteksi senyuman untuk memfoto.

Aplikasi ini murah dan mudah digunakan orang lain. Kotak Narsis langsung terhubung internet bila digunakan. Buat kamu yang belum terlanjut menikah cobalah Kotak Narsis. Kalo kamu yang sudah terlanjut mengeluarkan biaya mahal buat photo booth, bisa gunakan ini untuk keperluan lain.

Selengkapnya: baizulzaman.wordpress.com

Pengusaha Fintech Jodhi Prasunu Luncurkan Akun Biz

Profil Pengusaha Jodi Prasunu Palgunadi


aplikasi keuangan akun.biz

Pengusaha fintech Jodi Prasunu Palgunadi, sukses berkat aplikasi bernama Akun.Biz yang menang ajang Wirausaha Muda Mandiri. Aplikasi yang menekan biaya oprasional, pembukuan kas, dan juga manajer keuangan. Akun.Biz menawarkan aplikasi arus khas baik untuk usaha maupun organisasi.

Startup yang bekantor di Surakarta, Jawa Tengah, yang merangkum semua soal keuangan dalam satu aplikasi. Tampilan dipermudah memastikan tak cuma digunakan pengusaha. Baik penggunaan pribadi maupun organisasi dipersilahkan.

Berikut tiga fitur dimiliki Akun.Biz:

1. Multi Cash Book : Mentransfer satu buku kas ke buku kas lainnya, termasuk menyimpan data dari pengeluaran dan pemasukan sekaligus dalam kotak uang.
2. Multi Tool : Pengguna bisa membuat invoice online dan mengirimnya, adapula catatan online.
3. Multi Users : Dapat digunakan pengguna lain tanpa mengetahui saldo kamu.

Aplikasi keuangan yang mencatat pemasukan, pengeluaran, utang dan piutang. Berkonsep easy to use membuatnya nyaman digunakan. Kamu sebagai pribadi pun dipastikan mudah menggunakan aplikasi Akun.Biz ini.

Cara penggunaan kamu cukup membuka situs Akun.Biz lewat browser. Atau, kamu bisa mengunduh via Play Store. Pendaftaran gratis dan mudah langsung bisa digunakan. Langsung kamu disuguhi satu buku kas dan melakukan pencatatan.

Akun.Biz memiliki server online terpisah untuk penyimpanan. Jadi bila laptop atau smartphone kamu hilang, maka cukup mengunduh dari server online perusahaan. Penyimpanan data aman dan efisien bagi organisasi, komunitas, dan UKM.

Aplikasi Kasir AIPOS Wirausaha Muda Mandiri 2016

Profil Pengusaha Sunaryono


aplikasi kasir aipos

Siapa tidak mengenal nama aplikasi kasir AIPOS. Berkat Wirausaha Muda Mandiri, baik aplikasinya dan sang pencipta semakin dikenal luas oleh masyarakat, terutama pengusaha para UMKM. Berikut profil Sunaryono, sosok pencipta AIPOS yang tumbuh dari ajang bergengsi tersebut.

Sunaryono atau lebih dikenal bernama Aryo sebagai panggilan. Pemuda asli Wonosobo, Jawa Tumur, kelahiran 13 Juni merupakan bungsu dari empat bersaudara. Dia terlahir dari keluarga sederhana jadi tidak banyak gaya. Ia tumbuh menjadi sosok yang cerdas, mandiri, menyukai pendidikan dan kreatif.

Ayahnya telah meninggal sejak dikandungan 3 bulan. Inilah motivasi dirinya begitu bekerja keras, yakni untuk membahagiakan ibunya. Dia memiliki gelar S1 Teknik Informatika di Universitas Sains Al Quran (UNSIQ), dan mendapatkan gelar S2 Teknik Informatika Dian Nuswantoro (UDINUS).

Dia melanjutkan studi S3 untuk jurusan yang sama. Jadi pantaslah ia mendapatk aneka penghargaan di bidang IT. Saat ini, Aryo tengah memperdalam artificial intelligence, dan pengembangan robotik di Indonesia.

Pengusaha di Bidang IT


Ketertarikan akan dunia komputer bermula sejak SD. Aryo kecil mengenang pernah ikut pameran komputer. Di sana, Aryo melihat permainan baru, namanya Prince of Persia cikal bakal game 3D. Ia juga mengenal game Mortal Kombat, aplikasi Primbon, dan lain- lain yang ngetren di tahun 90' an.

Masuk SMA dia semakin mengenal kinerja komputer PC. Hingga ia memutuskan ingin masuk ke jurusan komputer. Aryo melanjutkan D1 Jurusan Teknik Informatika di LKP Abdi Negara Soedirman. Sembari kuliah, dia bekerja menjadi agen ditribusi rumah tangga seperti panci atau oven.

Dia bekerja untuk membantu teman yang memiliki keterbatasan fisik. Aryo memperkuat mental dan komunikasi. Begitu perkuliahan berjalan, Aryo kemudian bergabung UKM Koperasi, dan bertambah wawasan. Niat Aryo berkuliah sempat luntur, karena melihat teman- temanya sukses bekerja di luar.

Aryo melihat teman- temannya yang alumni sudah bekerja. Mereka mempunyai penghasilan sendiri dan tidak menyusahkan orang tua. Ia ingin tidak membebani ibunya karena berkuliah. Perlu dicari solusi nyata, mangkanya Aryo mulai giat membangun usaha sendiri di tahun kedua perkuliahan.

Sembari berbisnis Aryo melanjutkan kulaih sampai jenjang tertinggi. Dia bahkan mendaptkan nilai cumlaud 3,38 dari S2 Teknik Informatika, Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS). Bisnis pertama Aryo tak jauh dari bidang IT, tetapi pertama kali dia membuka usaha foto copy brosur.

Dia lalu membuka usaha teknisi komputer dan kursus office. Ini dilakukan sendiri berkeliling dari pintu ke pintu. Tanpa malu dia menawarkan diri mengajarkan Microsoft Office. Usaha berjalan baik sampai mampu membiayai kuliah.

Sampai sang ibu menawarkan pinjaman untuk membeli komputer. Ibunya memberi uang pinjaman Rp.5 juta sebagai modal. Dibelikannya dua komputer Pentium 3, satu unit printer, 1 motor bekas dan 1 unit handycam. Ini kemudian menjadi modal awal bisnis IT bernama Media Utama Computer.

Aryo pulang lantas membuka usaha bermodal garasi rumah. Ia membakai garasi rumah milik kakak sepupunya. Media Utama Komputer menawarkan layanan pengetikan, rental, dan video shooting. Di awal 2009, sang kakak kandung memberikan sedikit uang modal untuk menyewa ruko.

Menemukan Aplikasi Kasir AIPOS


Ternyata rencana tidak sesuai harapan, karena bermunculan usaha komputer sejenis yang mengekori. Ia kehilangan pendapatan apalagi pesaing bermodal besar. Tampilan mereka pun lebih menawan dan memikat para pelanggan. Aryo makin kehilangan banyak pendapatan dan kehabisan modal.

Rental komputer berkembang menjadi warnet- warnet. Internet memasuki kota kelahirannya, dan tiap warnet memiliki unit komputer lengkap. Ruangannya nyaman dan menawarkan internet berkecepatan tinggi. Ditambah toko komputer yang bermunculan membawa produk komputer dari luar masuk.

Harga komputer yang semakin terjangkau merusak pasar pengetikan. Aryo kehilangan pelanggan tapi tidak komunitas. Dia menggagas komunitas IT Wonosobo bernama Dieng Cyber. Komunitas ini ditunjuk menjadi fasilitator dan pendamping UPTD SKB Wonosobo pada tahun 2010.

Dari komunitas Dieng Cyber maka lahirlah usaha bernama CV. Dieng Cyber. Mereka diberi amanah pengelolaan data dari Pemerintah Daerah Wonosobo. Di tahun 2012- 2014, mereka menciptakan aplikasi buat kepegawaian Kabupaten Wonosobo, dan aplikasi kepegawaian Kepolisian Wonosobo.

Tahun 2015, lahirlah aplikasi database PSM (Penggerak Swadaya Masyarakat) Kementrian Desa. Di tahun 2016, Dieng Cyber tertarik mengembangkan Big Data dan IoT, yang menyangkut analisa data retail. Aryo mengatakan ini akan memberikan UKM kemampuan analisa data dan promosi maksimal.

Tahun 2017, barulah mereka menghasilkan aplikasi bernama AIPOS, dan mendapatkan penghargaan Juara 2 Wirausaha Muda Mandiri 2016. Berkat inilah aplikasi AIPOS menjadi dikenal masyarakat dan laris. Berkat ini pula Aryo bisa membadalkan Haji ayah, menghajikan ibu, beli mobil dan rumah.

Selengkapnya: www.sunaryono.my.id

Bisnis Buku Cerita Anak Bergambar Devi Raissa

Profil Pengusaha Devi Raissa


bisnis buku cerita anak

Sebagai psikolog anak banyak hal menjadi perhatian kita. Bisnis buku cerita anak bergambar menjadi solusi. Kisah Devi Raissa, seorang psikolog anak yang prihatin akan kehidupan jaman sekarang. Dia memperhatikan hubungan ibu dan anak telah berjarak.

Banyak bermunculan masalah komunikasi antara ibu dan anak. Ketika praktik Devi melakukan riset kecil- kecilan. Banyak pengaruh yang memberi jarak hubungan antara keduanya. Sebut saja masalah kesibukan orang tua di kantor. Atau anak- anak yang sibuk memegang gadgetnya masing- masing.

Dia menemukan solusi berupa buku cerita anak. Komunikasi akan terjalin baik dintara mereka, ibu dan anak yang rajin membaca cerita ini. Bila dilakukan secara rutin, maka bonding antara ibu dan anaknya akan maksimal. Ia pun mengedukasi para ibu untuk membacakan buku cerita setiap hari.

Para orang tua mau saja membacakan buku cerita ini, tetapi Devi mensyaratkan buku cerita tertentu agar lebih maksimal. Ia mengisyaratkan buku cerita bergambar atau interaktif. Buku cerita interaktif ini sangat sulit ditemukan dan masih impor dari luar negeri. 

Selain masalah bahasanya, buku cerita interaktif ini memiliki harga yang tak murah. Sang psikolog anak mulai memikirkan sesuatu. Didukung kesukaan membaca buku, terutama dia menyukai buku- buku cerita anak, maka lahirlah ide membuat buku interaktif sendiri.

Menulis Buku Sendiri


Bisnis buku cerita anak bergambar memiliki prospek jelas. Devi mulai dengan membuat buku cerita ini sendirian. Berkat dia terus berdiskusi dengan para orang tua. Ia melahirkan buku yang berjudul "Asal Mula Namaku", dengan dua bulan pengerjaan dibawah brand Rabbit Hole pada Agustus 2014.

Mengapa memilih nama Rabbit Hole dengan logo kelinci bertopi. Ternyata Devi sangat suka dengan cerita Alice in the Wonderland. Alice adalah anak perempuan yang masuk ke dunia lain. Dia masuk melalui rabbit hole atau lubang kelinci.

Alice menemukan dunia lain dibalik lubang kelinci. Inilah filosofi dibalik nama Rabbit Hole, yang dia harapkan anak- anak akan menemukan pengalaman lain. Devi suka menulis karena memang suka membaca. Sejak kecil, Devi suka membaca lantaran diberikan hadiah buku oleh orang tua.

Kemudian dia mulai menulis ketika masuk SMA. Devi memulainya dengan blog. Bahkan sempat dia berpikir untuk menjadi penulis. Mengapa memilih psikologi ternyata memiliki alasan menarik. Devi ingin mendalami karakter manusia, hingga kelak tulisannya akan lebih kaya akan kepribadian.

Dia menulis berkat pemahaman akan psikologi karakter. Tetapi tidak menulis buku anak, melainkan Devi menulis banyak cerpan dan novel remaja. Dia tidak pernah menulis cerita anak. Menjadi penulis novel ini cuma bertahan beberapa tahun ketika kuliah.

Devi memilih berhenti menulis ketika sibuk kuliah dan praktik. Sempat dia mengubur dalam- dalam mimpi menjadi penulis. Begitu buku cerita ini jadi, ketika banyak orang tua merespon positif, Devi ingin memulai menulis kembali.

Isi buku berjudul "Asal Mula Namaku", adalah perkenalan lima huruf vokal dan digambarkan dalam bentuk menyenangkan. Huruf vokal dirubah menjadi bentuk benda- bendar sekitar kita. Tidak hanya isinya mendidik, tetapi memiliki unsur entertainmen bagi si anak agar tak lepas dari buku.

Setelah "Asal Mula Namaku", Devi masih praktik di klinik sembari menulis buku kembali. Dia harus membagi waktu antara karir dan bisnis. Ia masih menganggap menulis buku sekedar hobi. Devi masih berstatus psikolog anak, yang memberikan konsultasi dan praktik.

Sembari dia tetap bekerja tangannya masih menulis buku- buku baru. Lambat laun, usahanya menjadi lebih baik, dan Devi menghasilkan buku lebih bagus dibanding sebelumnya. Buku dihasilkan malah mendapatkan respon luar biasa. Bahkan ini memantapkan Devi untuk meninggalkan praktik psikolog.

Tidak mau sekedar menghasilkan sesuatu sederhana. Devi menggandeng rekan ilustrator. Inovasi berupa gambar dan tulisan menjadi lebih baik. Guntur, rekan ilustratornya, mampu memberi nyawa bagi setiap buku. Gambaran ilustrasi tentang karakter dan cerita sangat bervariatif dibanding dulu.

Setiap buku memiliki spesifikasi dengan gambar- gambar khusus. Guntur mengerjakan setiap buku dengan proses berbeda. Inspirasi Devi pun datang tidak sekedar dari permasalahan. Tetapi dia juga mengambil prespektif kebutuhan psikologis anak.

Bisnis bukua cerita anak bergambar tidak sekedar hiburan. Konten telah disesuaikan kebutuhan akan psikologi anak. Ambil contoh buku kedelapan, judulnya unik "hemmm", isinya mengenai pelajaran soal emosi anak dan bagaiman melatih motorik mereka.

Buku emosi ini memakai konsep touch and feel. Seperti ketika menjelaskan emosi marah, ada wajah berwarna merah dengan bentuk batu merah. Emosi senang lalu digambarkan bentuk taman bunga warna- warni.

Kemudian buku "Liburan", berisi informasi mengenai tempat- tempat tujuan wisata yang unik. Buku berisi tempat dimana anak- anak mungkin tidak pernah kunjungi. Semua dibuat interatif sehingga anak- anak antusias. Soal produksi tidak dapat diprediksi berapa cepat waktu buku selesai dihasilkan.

Menjadi Penulis Buku Anak


Dia hanya mematok target setahun harus berapa buku dihasilkan. Satu buku proses kreatifnya sangat berbeda dengan yang lain. Soal penulisan sebenarnya cepat cuma butuh 30 menit satu buku, hanya paling lama ialah proses kreatifnya. Isinya lebih banyak gambar dan visualisasi dalam bentuk lain.

Satu buku bisa membutuhkan waktu sampai 2- 3 bulan. Ide kreatif harus dikumpulkan satu per- satu dan dibukukan. Kendala terbesar ialah bahwa dia masih bekerja sendirian, dia menulis dan mencetak semua sendirian. Ia dan Guntur selalu melakuka quality control, agar hasil maksimal dan sempurna.

Buku interaktif juga membutuhkan visual nyata bukan gambar. Alhasil terkadang timbul masalah, seperti di buku berjudul "Hmmm", yang mana mereka membutuhkan satu kaca. Itu akan diselipkan sebagai bentul visual. Sayangnya, Devi tak bisa menaruh sembarang kaca ke dalam buku anak- anak.

Ia harus mencari kaca tipis sampai keluar kota, yang akan diselipkan ke dalam buku. Brand Rabbit Hole merupakan pemain baru dalam bisnis buku edukasi. Devi terus memperkenalkan produk kepada masyarakat. Brand Rabbit Hole hanya memproduksi sendiri, dan menggunakan modal nekat.

Devi berkata bila menggunakan penerbit akan susah. Pasalnya penerbit itu akan mendapatkan bagian lebih besar. Dia nekat membuat buku cerita, mencetaknya, dan mendistribusikan semua sendiri. Devi mengaku mampu memproduksi 100 cetak dari satu buku.

Datang kepercetakan juga memberikan masalah baru. Biaya cetak satu buku mencapai Rp.150.000, padahal ini buku edukasi. Harga jual harus sangat diperhatikan apalagi mereka baru. Harganya harus terjangkau, dan agar mencapai target penjualan, mereka harus bisa memproduksi 1000 buah.

Ia sempat ragu, tetapi akhirnya dia nekat melakukan. Devi mengeluarkan modal awal Rp.1,5 jutaan. Rasa takut tidak laku sempat timbul. Devi lantas menganggap ini tantangan. Ia bersemangat gencar mempromosikan itu ke teman- teman, hingga dalam enam bulan bukunya itu laku.

Hingga orang tak kenal pun mulai mencari buku ini. Devi menganggap buku- buku ini istimewa. Tapi khusus buku "Hmmm", ini merupakan hasrat bagi seorang psikolog mengamalkan ilmunya. Pasalnya bagi orang dewasa, buku bertema mengenal emosi ini belum dipahami dan sangat menari dipelajari.

Menurut pembeli buku itu disebut paling berhasil mengena. Tujuannya tercapai sehingga anak- anak jadi lebih ekspresif. Buku terbitan Rabbit Hole memang berbeda dibanding lainnya. Sifatnya yang interaktif, yang mampu membuat jalur komunikasi antara orang tua dan anak.

Orang tua tidak hanya membacakan dan anak mendengar. Tetapi keduanya bisa berdiskusi mengani bentuk dan cerita. Bentuk dikusi ini bisa berupa menjelaskan atau menembak sesuatu. Soal harga pun telah ditekan sedemikian mungkin, buku karyanya ini dihargai antara Rp.25 ribu sampai Rp.150 ribu.

Buku Anak Digital


Bisnis buku cerita bergambar tidak hanya fisik kertas. Ia bercerita pernah coba membuat usaha buku digital. Dia mengedukasi masyarakat lewat berbagai cara. Ketika geliat startup ada, dia meluncurkan buku digital berjudul "Bella dan si Kelima Balon" pada November 2014.

Ia melihat geliat startup sebagai fenoma perlu dimanfaatkan. Inginnya buku digital ini menjadi satu jembatan mengedukasi. Dia ingin lebih banyak mengajak anat lebih berminat membaca. Devi pun mengajak developer untuk meluncurkan ini di App Store iOS.

Sayangnya, masyarakat kurang merespon, apalagi gadget orang Indonesia itu kebanyakan memakai sistem Android. Namun tidak masalah, karena sejak semula hanya keinginan pribadi, tidak sama sekali berpikir untuk mengkomersilkan.

Walaupun gagal, Devi tetap mencoba mengembangkan buku digital, meski bukan prioritas dibanding buku fisik. Sembari tetap mencetak buku baru, ia mencoba mengembangkan buku digiat kembali lewat Android. Apalagi jaman sekarang anak- anak sudah beralih bermain melalui gadget sendiri.

Gadget seolah menjadi kebutuhan primer anak- anak jaman sekarang. Selain untuk bermain game, baiknya pihak orang tua memperkenalkan kegiatan membaca lewat gadget. Apps hendaknya menjadi media pembelajara semata bukan rutinitas.

Maka Devi pun meluncurkan kembali "Bella dan si Kelima Balon" dalam Android. Uniknya sekarang nama Bella bisa diganti nama si anak. Adapun cerita memiliki varian mau mengejar balon atau nanti mengganti balon. Ia juga berpikir untuk membuat aplikasi Android berkonsep "go internasional".

Devi juga berpikir mengikuti International Book Fair. Ingin rasanya dia mengajak kerja sama instansi pemerintah. Pengusaha ini ingin membuka peluang usaha bekerja sama. Soal konten bukunya ke depan, Devi ingin membuat produk buku berbasis cerita budaya- budaya Indonesia juga.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba