Usaha Minyak Atsiri Wirausaha Antonius Dian Feryanto

Profil Pengusaha Antonius Dian Feryanto


usaha minyak atisiri
 
Antonius Dian Feryanto bukan tipikal pengusaha pada umumnya. Usaha minya atsiri memiliki aspek kerumitan. Tak sembarangan orang menjalankan wirausaha seperti ini. Fery memang tipikal yang ahli di bidang kimia.

Dia mendirikan CV. Pavettia Kurnia Atsiri yang bergerak dalam aneka macam. Utamanya dia dan beberapa rekan mengolah minyak atsiri. Mereka berawal dari penyulihan minyak atsiri dalam skala kecil. Semua bermula dari pabrik menengah yang nampak sibuk mengolah minyak.

Minyak atisiri berguna untuk esense parfum, minyak angin, dan sabun. Produk yang bahan utama terbuat dari metabolit tumbuhan. Walau bernama atsiri tetapi bersumber dari aneka tanaman, seperti daun nilam dan batang kayu manis.

Fery menambahkan kini usahanya termasuk pembuatan alat suling dan penyewaan. CV. Pavettia juga menjadi pemilik perkebunan untuk minyak astiri. Cara pengekstrakan minyak gampanya bersumber dari aroma. Tanaman tertentu akan mengeluarkan senyawa terpenoid hasil metabolisme.

Bagian tanaman yang mengandung aroma lantas disuling. Melalui proses distilasi hasil sulingan lalu menjadi minyak atsiri. Perusahaan Fery menjual ke umum maupun untuk kebutuhan perusahaan. Di umum, kamu bisa membeli ukuran 5ml dan 10ml.

Alumni ITB yang tidak hanya berhenti dalam pengolahan minyak. Dia tidak hanya berhenti menjual bahan bibit. CV. Pavettia juga ikut terjun ke bisnis kosmetik dengan minyak astiri. Harganya sangat tinggi bila diolah menjadi minyak esensial murni.

Perusahaan miliknya mungkin masuk ke pelosok daerah. Tetapi itu bukan karena apa, melainkan demi mendapatkan kemurnian air dari aliran sungai. Di tempat tersebut sekaligus menjadi kebun untuk tanaman. Pabrik yang tampak berlantai tanah dan bebatuan, yang ruanganya terbuka di alam.

Minyak atsiri juga digunakan sebagai bahan baku dupa dan minyak gosok. Fery menunjukan bahwa ini sangat prospektual bagi mahasiswa ITB. Pabrik CV. Pavettia Kurnia Astiri terletak di kawasan JL. Curuq Cijalu Subang, Jawa Barat.

Sepatu Batik Bisnis Unik Tyas Ajeng Nastiti

Profil Pengusaha Tyas Ajeng Nastiti


pengusaha sepatu batik
 
Sempat sepatu batik miliknya ditolak Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas). Tyas Ajeng Nastiti memilih untuk melanjutkan sampai jauh. Dia memilih berbisnis dengan hasil penemuan tersebut. Bahkan ia sempat ikut ajang Wirausaha Muda Mandiri 2012, yang pada akhirnya mengakui hasil karya Tyas.

Bisnis yang cuma berjalan setahun berhasil menang lomba. Sempat kecewa karena gagal di Pimnas ternyata harus diambil hikmah. Dia memenangkan hadiah Rp.50 juta untuk suntikan modal. Tyas semakin bersemangat berkreasi menjadikan ini bisnis serius.

Tyas berkarya sepatu etnik berbahan batik khas. Ia pun menamai bisnisnya sebagai Klasik Footware, yang menghasilkan aneka sepatu bermotif batik. Dia bersama beberapa teman menarget kalangan anak muda. Aneka produk footware memang tengah digandrungi anak- anak muda kita.

Pengusaha Muda Sepatu Unik


Produk Klasik Footware mengusu teman tradional lekat. Ambil contoh produk sepatu anjani tenun, telaga tenun, janita dan kiara. Mahasiswi Semester awal yang mengambil Desain Produk Industri, di Institute Teknologi Sepuluh November. 

Dia mengatakan semua bermula dari bisnis sebelumnya, Meralodist. Beda dengan Klasik Footware, bisnis yang ini berhasil memenangkan ajang Pimnas kampus. Tyas membuat aneka aksesoris dari bahan bekas. Gagal masuk Pimnas ini dimaknai sebagai pembelajaran sekaligus keberuntungan.

Hobi mengoleksi sepatu sedikit banyak menginspirasi dirinya. Sebulan dia bisa membeli 1- 2 pasang. Dia lalu berpikir apa banyak orang seperti dirinya. Apakah benar berbisnis seperti ini menghasilkan keuntungan.

"Berarti bisnis ini (sepatu) sangat menjanjikan," tuturnya.

Pemikiran tersebut yang membawa dia berbisnis sepatu. Akhir tahun 2011, bermodal uang Rp.6,7 juta,  maka dia mulai membangun bisnis sepatu Klasik Footware. Otak bisnis Tyas memang telah terlatih sejak dahulu.

Dia sudah mulai berbisnis semenjak kuliah. Ketika di Desain Komunikasi Visual, Tyas mulai fokus mengerjakan beberapa usaha yang cukup bagus. Semenjak Semester 4, dia telah mencoba berbisnis padahal kesibukan kuliah makin mencekik.

"Waktu itu saya membuat aksesoris dari barang daur ulang," imbuhnya.

Bisnis aksesoris ternyata tidak bertahan lama. Ia mengalami tidak keberkembangan atau stuck. Ini bukanlah karena bisnisnya gagal ya. Dia merasakan bisnis ini susah dikerjakan sendiri, dari produksi sampai marketing. Tyas menyadari tidak sanggup lagi karena cuma dia yang mampu.

Sepatu lah yang memberinya inspirasi berbisnis kembali. Kali ini beda, ia mau menggandeng rekan bisnis, dan mewujudkan semua gagasa dalam bisnis plan. Ia menggandeng rekan dan mulai merekrut tim marketing.

Usaha Tak Boleh Minder


Melalui kampus turunlah dana Rp.6,7 juta untuk modal usaha. Ini bukan cuma- cuma tetapi bentuk kepercayaan dari Dikti Departemen Pendidikan Nasional. "Ketika saya meriset tentang batik, saya menemukan bahwa motif batik di Indonesia jumlahnya ribuan," ia menjelaskan.

Itulah landasan membuat footware bertema batik. Desainnya akan tidak monoton karena selalu ada motif baru. Ia tinggal mengembangkan jenis sepatu. Tyas juga menambahkan batik telah ada di hati masyarakat. Warna- warna yang digunakan "ngejreng", yang sangat cocok digunakan kamu hawa.

Inilah keunggulan berbisnis sepatu Klasik Footware. Untuk mengatur modal yang minim dibutuhkan cara unik. Ia mengakali produksi lewat sistem kimtraan. Tyas mendapatkan info mengenai tukang sepatu di Sidoarjo, Jawa Timur. Mereka diajak kerja sama dalam produksi dan juga pemasaran.


Ia tak minder walaupun modal sedikit. Meskipun dipasaran sepatu batik telah banyak dijumpai. Tyas tak gentar sedikitpun. Kepercayaan dirinya tetap menggelora, yakin bahwa produk Klasik Footware akan berada di tahu masyarakat. Ia mengatakan memiliki desain sendiri sehingga dijamin berbeda.

Tyas mengatakan mereka hanya mengaplikasikan kain. Bukan keseluruhan produk dibuat dari bahan kain batik. Adapula strategis bisnis lain yang ia kembangkan dalam marketing. Pokoknya dia selalu memiliki strategis bisnis dan bekerja keras untuk berhasil.

Dia mulai membangun relasi baik dengan para tukang. Ini terbukti mempermudah lahirnya workshop sendiri. Pola kemitraan baik membuat pesanan puluhan pasang terpenuhi. Tyas juga bisa menjadi sosok desainer sekaligus. Perlakukan baiknya membuat para tukang mudah diajak bekerja sama.

Produksi lancar membuat value dibanding produk sejenis. Alhasil Tyas mampu menaikan pendapatan penjualan. Kini Klasik miliknya telah menjual tidak hanya di offline. Lewat toko online yang dapat dikunjungi www.klasikfootware.com, Tyas memajang aneka jenis produk yang menarik mata kita.

Dia memanfaatkan toko online untuk menjangkau lebih luas. Tetapi Tyas tidak melupakan marketing offline. Perpadua keduanya membuat bisnis Klasik tak sebatas Jakarta. Ia bisa merambah kota- kota lain diseluruh penjuru Indonesia.

Pahlawan Super Lokal Indonesia Bisnis JToku

Profil Pengusaha Nidia Noviana


pahlawan super lokal
 
Pahlawan super lokal Indonesia sempat tak diminati orang. Tetapi geliat bisnis pahlawan super mulai bergairah kembali. Orang lebih mengenal Ultraman, Power Ranger, Ironman atau Batman. Kemudian Nidia Noviana hadir dengan meluncurkan JToku.

Dia mencoba menghadirkan pahlawan super lokal Indonesia. Tidak mudah tetapi patut diapresiasi oleh kita semua. Nidia bersama tim JToku Film berjalan dengan idealisme "Cinta Indoneisa". Mereka membangun rumah produksi sendiri. Idealisme yang berjalan menjadi bisnis menghasilkan uang.

Mungkin banyak orang mencemooh apakah menghasilkan. Tetapi prinsip berbisns Nidia bukan lah sekedar uang. Didirikan tahun 2005, Nidia bersama Nawa Rie Eda dan Ade Irawan, lalu membangun usaha memperkenalkan pahalawan lokal.

JToku memperkenalkan nilai moral khas Indonesia. Diambil dari nama Jogja Tokusatsu atau JToku, yang berarti gambar bergerak yang karena diberi spesial efek. JToku mengambil prinsip pahlawan super Jepang dan Amerika, namun yang telah menyerap budaya lokal Indonesia.

Bisnis JToku Terapkan Kreatifitas


Mereka membuka usaha ini melalui adaptasi budaya lokal. Karakter- karakter tersebut lalu dieksekusi melalu film. Hingga terlahirlah karakter Pocongman, Garudaman, Borneoman, Gatot Kaca, Komodo Dragon dan lain- lain. Mereka menyebut karakter ini sebagai supergero dengan kearifan lokal.

Nidia merupakan mahasiswa Program Studi Elektronik dan Intrumen, FMIPA UGM. Dia bergabung dengan komunitas JToku. Mereka yang semula hanyalah komunitas bersama menjadi bisnis. Nidia merupakan pencipta karakter Pocongman dan penggagas Festival Pop Culture di Yogyakarta.

Banyak orang meragukan bahkan mungkin kamu mengenai mereka. Apakah bisnis JToku mampu menghasilkan uang sehingga digeluti. Bahkan Nidia dan kawan- kawan nampak asik sementara orang lain bekerja. Namuan Nidia memiliki kemampuan marketing dan manajeman yang dikuasi otodidak.

Ia mampu membuat brand awareness mengenai JToku. Mereka tidak mengejar pasar lokal saja, justru dari luar negeri sangat tertarik. Mulai dari Amerika, Eropa, Australia, dan Asia, sangat tertarik untuk impor hasil produk mereka sejak 2010.

Selain memproduksi film sebagai bisnis JToku utama. Mereka juga mengerjakan produksi kostum untuk berbagai keperluan. Nah, pengusaha muda jangan membatasi kreasi, jangan hanya menjual satu produk. Teruslah berkreasi, seperti JToku yang mampu menciptakan kostum standar internasional.

Nidi sendiri memilik bisnis lain berupa rumah produksi Artivity Kreasi. Rumah produksi yang mengerjakan video pemasaran dan profil perusahaan. Nidia berbisnis pahlawan super lokal Indonesia melalui Jtokufilm dan Jtokucostum.

Nidi lantas merambah ke produksi lain melalui JToku Studio. Lini bisnis yang ini menjadi dapur bagi perusahaan JToku. Mereka memproduksi komik, desain, ilustrasi, editing dan lain- lain. Bahkan ia merambah bisnis souvenir dan merchandise.

Karya film paling populer JToku diupload ke kanal Youtube. Mereka mengupload film 31 awal ke situs berbagi video. Ratusan ribu penonton menikmati film mengenai pahlawan super Gatot Kaca. Di data demografi dan statistik menyebutkan tambahan 1- 2 ribu perhari.

Ini menjadi promosi menarik bagi pemilik brand ternama. Perusahaan- perusahaan mulai tertarik buat menaruh iklan. Mereka melakukan produk placement dan sponsorship. Inilah cara JToku berbisnis hingga menghasilkan pundi- pundi penghasilan.

Membuat Brand Awareness


Bila dikenang Nidi hanya mengeluarkan modal Rp.75 ribu. Uang itu digunakan untuk membeli jaket modifikasi. Begitu untung uangnya diputar untuk membuat dua jaket. Terus begitu hingga pesanan lancar datang. Ia memproduksi kostum dengan otodidak mengandalkan kreatifitas.

Dia dan kawan- kawan sekreatif mungkin akan berproduksi. Termasuk menggunakan ember, tutup pasta gigi, eva foam, busa, latek, plastik, dan lain.- lain. Waktu sebulan, JToku mampu memproduksi 6- 10 kostum karakter, dengan harga variasi antara Rp.4- Rp 25 juta, tergantung tingkat kesulitan.

JToku mengalami kendala soal mendapatkan SDM. Tidak banyak orang mampu membuat costum begini. "Kami pun akhirnya merekrut SMK yang ternyata sangat berpotensi dan kreatif," ujar Nidi kepada wanitawirausaha.com.

JToku membuat brand awareness untuk mempromosikan diri. Mulai dari mengikuti aneka komunitas, sampai mereka menawarkan langsung melalui online dan offline. Selama berbisnis tak ada komplain mengenai performa mereka. Nidia juga memasarkan lewat agensi- agensi ke berbagai negara tanpa komplain.

Nidia dan kawan memproduksi live action film bertema science fiction. Pemasaran dilakukan melalui Youtube Channel "Jtokufilm". "Indonesia juga punya superhero. Kalau bukan kita yang mengangkat semua itu sekarang, siapa lagi?" tanyanya.

Berkat kerja kerasnya, pengusaha muda kelahiran 1990 ini, mampu menaikan pendapatan JToku hingga beromzet Rp.1 miliar. Film karyanya juga telah memiliki aspek visual efek mumpuni. Ia menjelaskan film mereka mengedukasi.

Produksi mereka mengikuti perkembangan Indonesia sendiri. Ambil contoh karakter Garudaman yang berhadapan dengan musuh korupsi. Karakter jahat bernama Kurpian, yang melambangkan akutnya budaya korupi, yang sulit diberantas tetapi bukan tidak mungkin bagi Garudaman.

Perusahaan Aplikasi Anak Muda Herland Firman

Profil Pengusaha Herland Firman Agus


pabrik aplikasi anak muda

Membangun perusahaan aplikasi tak perlu muluk- muluk. Anak muda tak harus menarget hasilkan angka tertentu. Herland Firman Agus yang tak pernah memiliki ekspetasi berlebihan. Bermimpi besar boleh tetapi harus sejalan dengan apa yang dikerjakan.

Ia cuma ingin bagaimana mandiri menghasilkan uang sendiri. Firman ingin tak lagi membebani orang tua. Meskipun mereka tidak merasa dibebani membiayai anak- anakanya. Firman sadar bahwa kedua orang tuanya sudah masuk waktu pensiun. 

Pria kelahiran Riau, 25 Maret 1990, yang memulai membangun bisnis hampir tanpa modal. Firman cuma punya kemampuan mengoperasikan komputer. 

"Awal usaha hampir tanpa modal. Hanya indomie, kopi untuk begadang, ide, dan ilmu untuk buat membangun program," jelas Firman.

Minat Tumbuh dengan Waktu


Firman terlahir dari keluarga mapan tetapi mandiri. Ayahnya bekerja di usaha perminyakan, alhasil dia diarahkan menuju ke arah sana. Dia penah bersekolah di SMA Cendana Chevron. Raiu sebagai kota minyak memiliki prospek. Sang ayah melihat peluang anaknya untuk masuk di bidang tersebut.

"Jadi lingkungan telah membuat saya ingin bekerja di perminyakan," jelas Firman.

Prinsip bahwa selama positif akan menghasilkan sesuatu. Firman tak segan melepaskan keinginan masuk dunia perminyakan. Rezki tak akan pernah tertukar sudah memiliki takaran. Maka dia tak takut kehilangan rezeki, meskipun itu berarti bertaruh dengan melepaskan kenyamanan.

Mungkin nyaman bekerja sebagai tenaga ahli perminyakan seperti ayah. Bukannya menerima itu, ia malah beresiko menekuni teknologi yang samar- samar. Dia tak bisa menebak mau menjadi apa bila menekuni teknologi. Firman bekerja keras hingga menjadi lulusan berprestasi ketika tamat kuliah.

Dia tak pernah berpikir untuk mengerjakan bisnis aplikasi. Menurutnya dia lebih condong memilih ke aktivitas outdoor. Firman juga bukan orang yang aktif bermain internet sejak dulu. Dia sempat mau masuk ke jurusan pertambangan ITB.

Tetapi dia ditolak hingga lepas sudah hasrat memasuki dunia perminyakan. Dia tak ngotot untuk bisa menyukai satu hal. Memilih untuk berhijrah ke Bandung, Firman malah masuk ke jurusan IT lewat Telkom University. Dia sama sekali belum tertarik akan dunia teknologi ketika baru masuk.

Awal dia belum tertarik untuk mengerjakan teknologi sama sekali. Dia malah aktif menjadi aktivis lewat kegiatan organisasi. Alhasil nilainya jeblok, indeks prestasi turun sampai angka dua koma, hingga dia dipanggil untuk ditanyakan mau apa.

Usaha Teknologi Terkini


Ia sempat memikirkan kembali kehidupan ke depan. Passion bisa dicari asalkan hati mau menerima kenyataan. Maka dia mulai memperbaiki diri dengan belejar lebih giat. Ketertarikan muncul hingga ia mampu lulus dalam 3,5 tahun. 

Dia cuma punya laptop dengan koneksi internet biasa. Tidak super cepat tetapi cukup menghasilkan karya. Firman mampu menghasilkan produk digital mumpuni. Aplikasi pertama bernama Aortalife, yang mana mendokumentasi keadaan organ vital manusia.

Ia akan merekam irama jantung, elektrofisiologi jantung, suhu, dan pegerakan motorik. Dia bukan pertama kali membuat aplikasi. Ketika kuliah dulu, ia pernah membangun aplikasi sampai mendapat undangan Microsoft.

Dia diundang ke pusat teknologi Amerika di Silicon Valley. Ia mendapatkan pelatihan khusus dari Chief Medical Officer di California pada 2012.

Tidak hanya membangun Aourtalife sebagai andalan. Dia berhasil membuat aneka aplikasi yang banyak. Maka lahirlah Newbee Corporation, perusahaan yang memproduksi aneka aplikasi, dan telah berkembang pesat. Aplikasi milik Newbee Corp fokus mencarikan solusi permasalahan manusia.

Perusahaan startup yang memproduksi bermacam- macam. Usaha yang berkembang pesat sampai menjadi perusahaan Perseroan Terbatas (PT). Produknya banyak seperti Korankoe, Envious, Pinterus, ieGamelan, Hi Indonesia, ERP Bebek Goreng Kaleyo, Simonas, Raja Empat Adventure.dll.

Firman kini tengah fokus mengerjakan aplikasi usaha e-Resto. Dia mencoba menjadi provider utama bagi para pemilik restoran. Bicara mengenai startup teknologi memang masih berpeluang. Tetapi itu bukan tanpa resiko, sudah banyak starup naik dan tenggelam mencoba beradaptasi dengan pasar.

Inilah mungkin yang menyebabkan tim inti sering gonta- ganti. Mereka tim dari perusahaan startup harus komit. Tim kerja harus bisa mengeksekusi ide- ide kreatif Firman. Banyak peluang besar dari berbisnis teknologi startup. Dia pun lebih memilih tidak fokus pada satu produk ataupun layanan saja.

Ia mengisahkan pernah menjadi konsultan. Perusahaan mereka yang fokus mencari peluang usaha. Alih- alih hanya mengerjakan satu jenis aplikasi atau game saja. Sekarang banyak perusahaan startup dibanding dulu.

Bisnis Batu Bata Cokro Mendirikan Properti Sendiri

Profil Pengusaha Cokro Anto Wibowo


pengusaha properti palembang
 
Ketika bisnis batu bata ternyata menjadi begitu menjanjikan. Cokro Anton Wibowo memulai terjun menjadi pengusaha semenjak kuliah. Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Musi yang mulai dari kecil- kecilan. Mulanya dia menjadi distributor batu bata kecil- kecilan di tahun 2005.

Dia hanya distributor batu bata orang. Namun karena kebutuhan meningkat, di Palembang kala itu tengah ada Pekan Olah Raga Nasional (PON). Acara tahun tersebut mengangkat Palembang menjadi tuan rumah. Otomatis pemerintah daerah membutuhkan pembangunan fasilitas perlombaan.

Permintaan batu bata naik sampai melampaui daya produksi. Banyak pembenahan dan pembangunan infrastruktur sebelum perlombaan dimulai. Pihak pemerintah daerah pun tak segan untuk membeli ke luar kota. Cokro mendapatkan imbas pembangunan tersebut, sampai batu bata miliknya ludes habis.

Membangun Usaha Sendiri


Pengusaha Cokro sempat kwalahan melayani permintaan batu- bata. Padahal dia cumalah distributor dengan pasokan terbatas. Ia memutuskan membangun bisnis batu bata sendiri.

"Saat itu pembangunan di Palembang sedang gencar- gencarnya," tutur dia.

Berbekal uang Rp.50 juta digunakan membangun pabrik batu bata. Ia mulai memproduksi batu bata sendiri. Uang sebesar itu merupakan hasil tabungan selama masa sekolah sampai kuliah. Menjelang PON tiba, ia berhasil memasok ribuan batu bata ke berbagai proyek di Buma Sriwijaya tersebut.

Ajang PON selesai tetapi tidak bagi bisnis batu bata Cokro. Justru dia malah semakin banyak orderan pesanaan. Ia merambah kota lain dari Muara Enim sampai Lahat. Omzet batu bata miliknya mencapai Rp.200 juta perbulan. Sukses berbisnis batu bata tak membuat pengusaha muda ini berhenti.

Dia ingin terjun ke bisnis lebih besar. Cokro kemudian berpikir untuk menjadi kontraktor, dan terlibat langsung beberapa proyek di Palemban. Ia lalu mendirikan CV. Bangun Persada. Meskipun dia masih berkongsi dengan perusahaan lain untuk membangun.

Cokro tidak berkecil hati. Ia malah menjadikan itu sebagai pembelajaran tersendiri. Minatnya akan dunia properti semakin meningkat. Tekadnya telah bulat untuk memulai usaha baru. Dia lalu mencari SDM berkualitas di bidang arsitektur, dan telah lengkap dokumen mengenai aspek legalitas.

Tahun 2009, Cokro telah mampu mengerjakan semua sendiri, dan banyak orang yang mencemooh meragukan usaha itu. Dia dianggap minim pengalaman. Apalagi beberapa perusahaan properti besar dari Jakarta ada di Palembang. Dia tidak ambil pusing memilih melanjutkan berbisnis properti.

Semua omongan dijadikan cambukan semangat bagi pengusaha ini. Suara pesimis itu datang karena dirinya berhadapan dengan perusahaan besar. Dia sadar mereka kontraktor besar tengah berekspansi di Kota Palembang. Ia bertekad untuk lebih bekerja keras, ulet, dan menggeluti bisnis properti ini.

Naik Kelas Berbisnis Properti


Dibawah bendera CV. Bangun Persada, Cokro telah menjelma menjadi pengushaa properti ternama. Dia naik kelas berbisnis properti dari pabrik batu bata. Taukah kamu bahwa Cokro menghasilkan omzet Rp.27 miliar pertahun. Usia muda tidak membuat dirinya takut untuk membangun bisnis.

Ia menggarap beberapa proyek ternama. Sebut saja nama Tanah Mas Residance, hunian premium dengan mahana wisata air. Ini menjadi satu- satunya yang ada di Palembang, dengan luas 10 hektar berupa danau yang lengkap fasilitas seperti food court, pemancingan, flying fox, dan speedboat.

Penghuni akan diberikan tiket gratis untuk menikmati wahana. Bagi masyarakat umum, mereka boleh masuk dengan membayar Rp.5000. Wisata karya Cokro mampu menarik pengunjung anak muda dan keluarga.

"Arena ini menjadi pilihan anak muda dan keluarga di akhir pekan," tuturnya.

Cokro mampu membangun 400 hunian di wilayah Sumatra Barat. Usaha miliknya mampu membuat beraneka macam jenis rumah. Ia membangun dari tipe 35 sampai 105, dengan harga jualan sekitar Rp.150- Rp. 900 juta.

CV. Bangun Persada mempekerjakan 100 orang karyawan, serta puluhan freelance yang memasarkan rumah. Dia paling sedikit membangun 50 rumah dalam setahun. Mendirikan rumah sebanyak itu berapa pendapatan Cokro.

Total ia mampu mengantongi Rp.25 miliar pertahun dan Rp.2,25 miliar perbulan. "Modal saya nekat dan berani," jelas Cokro.

Lantas bagaimana nasib bisnis batu bata Cokro kemudian. Ia menceritakan bahwa masih berbisnis tetapi lebih lengkap. Pengusaha ini menyulap pabrik batu bata menjadi bisnis bahan bangunan. Dia menjadi ditributor granit dan keramik di Palembang.

Toko bahan bangunan yang bernama Anton Jaya lengkap. Cokro tak susah untuk membesakan bisnis tersebut. Pasalnya ia sebagai pengusaha properti memiki jaringan bahan bangunan. Cokro mencoba membangun sinergi bisnis, jadi walau berekspansi masih dalam ruang lingkup sama.

Toko material tak lama menambah pundi- pundi penghasilan. Dia mampu mengantongi ratusan juta dari toko bangunan. Meskipun sudah besar tetapi tidak lupa kepada masyarakat. Ia tak mau menjual khusus untuk properti. Anton Jaya juga melayani penjualan sekala kecil bagi masyarakat umum.

Ia mampu mendistribusikan 10.000 meter keramik dan 2000 meter geranit. Pemasaran merambah sampai ke Muara Enim, Lahat, dan Pagaralam. Cokro tidak sekedar mengejar keuntungan. Bisnis yang dikelola diharapkan memberikan dampak besar di sosial.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba