Berwirausaha Travel Inovasi Hadi Kurniawan

Profil Pengusaha Hadi Kurniawan


pengusaha muda travel
 
Untuk berwirausaha travel dibutuhkan inovasi berkelanjutan. Menguasai bisnis traveling sudah tidak hanya sebatas manusia. Memberangkatkan manusia sudah bukan fokus pengusaha Hadi Kurniawan. Pemuda yang merupakan CEO perusahaanya sendiri, CV. Konsep Global Media, kini menawarkan perjalanan interaktif.

Ia tidak sekedar mengajak kita traveling. Tetapi juga mengajak kita mengenali kebudayaan. KONSEP mencoba menawarkan wisata kebudayaan. Hadi sendiri termasuk penikmat seni, sekaligus suka untuk bertraveling nyentrik. Dibanding hanya sekedar jalan- jalan belanja, KONSEP mencoba menawarkan pengalaman.

Perusahaan KONSEP menawarkan pengalaman tersendiri. Tujuan wisata yang belum pernah kita jelajahi sebelumnya. Maka jangan bayangkan perjalanan wisata sekedarnya di sini. Dia juga aktif mengajak anak muda yang tertarik di kesenian. Menurutnya menunjuka budaya lebih dari sekedar traveling.

Wirausaha Travel Harus Berbeda

Bagi kamu yang berminat berwirausaha travel perhatikan. Pengusaha muda ini memberikan beberapa tips yang dibutuhkan. Pertama ialah harus memilik passion dahulu dengan traveling. Bukan sekedar jalan- jalan tetapi menikmati alam dan budaya. Alhasil kamu akan menguasai spot- spot mana yang unggulan.

Kita tidak sekedar menawarkan perjalanan ke sebuah negara. Tetapi apa saja yang dimiliki negara tersebut. Contohnya pengalaman membuat batik dibanding membelinya. Hadi sendiri tidak juga cuek akan harga paketnya. Dibituhkan perhitungan juga perhitungan yang mata, mulai dari biaya layanan dan fasilitas.

Harga semakin mahal jika jarak jauh dibanding yang dekat. Itu prinsip kedua yang anda harus ketahui sekarang. Ketiganya ialah anda harus mengetahui perihal kebudayaan. Ini nilai tambah yang kamu bisa miliki. Pengusaha muda menurutnya adalah sosok yang penuh inovasi. Hadi bahkan menyiapkan aplikasi khusus.

Dalam sekali event diselenggarakan KONSEP memiliki bebeapa hal. Seperti petunjukan tari- tari daerah yang menarik. Ia mencari mana spot- spot yang interaktif dengan pengunjung. Bayangkan dia mampu menyelenggarakan event 100 talent. Sekali event KONSEP mampu menggaet 300- 400 wisatawan.

Sebagai pengusaha muda travel tentu tidak mudah. Memegang ratusan orang membutuhkan banyak kerja tim. Namun apabila telah selesai menimbulkan perasaan luar biasa. Wirausaha tidak sekedar mencari keuntungan semata. Dari bisnisnya ini Hadi Kurniawan mampu menghasilkan jutaan rupiah perbulan.

Perjalanan bisnis Hadi dimulai ketika masih berkuliah. Bermula dari pekerjaan meramaikan acara di sebuah hotel bintang lima. Ia mulai mengemas usahanya seolah seperti EO. Menggabungkan antara travel dan Event Organizer adalah baru. Hadi mengatasi pekerjaan tersebut dengan cerdik melalui koneksi.

Dia mengajak beberapa temannya yang jago kesenian. Utamanya mereka yang memiliki kecakapan di tari tradisional. Untuk menggaet banyak pengunjung dibutuhkan strategi marketing. Awalnya Hadi hanya menawarkan konsep door to door. Dengan dukungan tari tradisional acara tersebut akhirnya berhasil.

Sukses Muda Wirausaha  Travel


Hadi tidak gengsi untuk membagikan bisnis ke setiap rumah. Hasilnya dapat dilihat event pertamanya mendulang sukses. Inilah cikal bakal bisnis dan brand KONSEP ke depannya. Pertama yang kamu perlu ketahui sebagai wirausaha travel. Janganlah mencari keuntungan dulu, tatpi eksplor kebutuhan traveler masa depan.

Ia mampu melihat kelebihan yang tidak dimiliki travel lain. Tidak hanya menggaet tim kerja yang paham traveling. Mereka juga lulusan atau pecinta seni dan budaya. Modal awal bisnis travel Hadi adalah 11 juta. Itu digunakan untuk mengurusi administrasi, kerja sama dengan hotel, tiket pesawat dan kendaraan.

Pengusaha muda ini percaya diri mengedepankan seni dan budaya. Tidak hanya sebatas keindahan alam yang dituju. Prinsip bisnis travel miliknya adalah "Tour & Education". Dengan kemajuan jaman ia juga berinovasi. Dia lalu meluncurkan Le Pad, konsep barang bawaan yang mudah dibawa karena dilipat.

Membangun bisnis berkonsep seni pariwisata butuh pengetahuan. Bukan sekedar passion untuk pergi traveling. Mencari tim kerja yang memiliki pemikiran sama tidak mudah. Sekalinya menerima orang baru, malah tidak pernah traveling sama sekali. Hasilnya tim kerja yang dibentuk tidak memiliki semangat.

Inilah tips sukses wirausaha travel yang perlu kamu tau. Utamakan mereka yang suka berwisata kalau bisa yang terbiasa ke tempat ekstrim. Ini menurutnya lebih berat dibanding pengalaman kerja. Karena itu akan mempengaruhi solidnya sebuah tim. Mereka sebagai tim harus menjalankan setiap visi dan misi.

Apa visi dan misi perusahaan miliknya tersebut. Singkatnya terdapat pada slogan perusahaan, yakni "sesudah pulang, pergi lagi". KONSEP menawarkan pengalaman yang menyenangkan. Bahkan akan membuat kita berulang- ulang traveling.

"Kami tidak hanya mengutamakan profit saja, tetapi memberikan dampak luas kepada masyarakat luas," ujar pengusah muda ini.

Berbisnis merupakan mencari solusi akan permasalahan. Tidak hanya sekedar mengunjungi destinasi baru. Selain untuk menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. Kita harus berani untuk berinisiatif memajukan daerah itu. Galilah kelebihan sebuah destinasi wisata, dan mulai beri nilai tambah pada tempat itu.

Tips wirausahawan muda yang ingin merintis. Terutama mereka yang masih berkuliah, Hadi memberi saran menyelesaikan pendidikan dahulu. Pengusaha sukses tanpa berkuliah belum budaya Indonesia. Itu pilihan sulit kuliah atau menjawab telephon costumer. Tetapi kamu pasti bisa untuk mengatasinya sendiri.

Biografi Saptuari Kedai Digital Jogja BisnisWaralaba

Profil Pengusaha Saptuari Sigiharto


pengusaha saptuari

Sedikit biografi Saptuari Sigiharto, pemilik bisnis Kedai Digital Jogja, yang tak menyangka kalau usahnya sukses. Menjadi pengusaha tahan banting berbuah manis bisnisnya melejit. Dia adalah sosok pengusaha muda asal kota Yogyakarta. Kiprahnya sebagai pengusaha telah diakui sebagai runner- up wirausahawan mandiri 2007.

Dia melalui bisnis kedai digital berhasil menjadi waralaba populer. Konsepnya mudah, Kedai Digital, nama perusahaanya, menjual berbagai hasil digital berbentuk aksesoris. Dia merupakan tipe pekerja keras, ulet, dan tahan banting. Terbukti dari sekian bisnisnya, dia tetap fokus meski gagal itu sering terjadi.

Dalam biografi Saptuari, menjelaskan agresip bisnisnya dimulai sejak berkuliah di UGM, berbisnis untuk membiayai kuliah. Berbagai usaha dan pekerjaan pernah dilakukanya. Semua itu hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari. Dari bekerja di perusahaan rokok, event organizer, radio swasta, hingga perusahaan komunikasi.

Siapa Saptuari Pengusaha Kedai Digital


Ia lalu banting stir membuat usahanya sendiri. Menjadi pengusaha, Saptuari menjelankan bisnis ayam kampung dan stiker, nah, yang terakhir lah yang membawanya sukses. Alasan gagal bisnis ayam karena keuntungan yang tak sejalan dengan modal dikeluarkannya. Setiap kegagal menjadi motivasi bagi Saptuari, membuatnya semakin ngotot bekerja.
 
Suatu hari, Saptuari menumakan ide bisnis baru, ketika itu melihat ibu- ibu berebut marchandise bergambar.  Apa itu? Ya bisnis aneka marchandise bergambar artis selebritis, padahal hal- hal semacam itu bisa dibuat sendiri. Pengalaman tersebut memberikan ide untuknya, deda dengan bisnis sebelumnya bisnis ini lebih sederhana.

Dia kesana- kesini mencari tau, lalu mempraktikan bisnis unik ini, yaitu bisnis cetak digital pribadi. Konsepnya membuat produk marchandise yang bisa dipesan secara khusus. Modalnya hanya 28 juta tergolong minim dibanding bisnis sebelumnya. Sapturai kemudian nekat membuka toko sendiri di Jl. Cendrawasih 3C Demangan Baru.

Bisnisya resmi bernama "Kedai Digital" bertempat di toko kecil berukuran 2x7 meter. Awalnya Kedai Digital hanya membuat aneka gantungan kunci saja, dibantu oleh tiga karyawan Kedai Digital merambah bisnis lain; seperti membuat gantungan kunci, t-shirt, pin, jam, mouse pad, poster, keramik, dan terakhir baner.

Respon bisnis barunya dibilang bagus. Ternyata masyarakat menyukai produk- produk miliknya. Tiap tahun omset Kedai Digital semakin meningkat. Usaha yang sebelumnya hanya dibantu tiga orang mendadak berubah jadi 150 karyawan. Merek tersebar di 40 cabang berbeda tersebar di berbagai kota.

Rata- rata pegawainya mereka mahasiswa, karena ingin menghilangkan konotasi negatif. Mereka yang dikenal tukang demo dan tawuran ini akan labih baik berbisnsi. Dengan usaha keras, pemuda 30 tahun ini menggunakan model franchise atau waralaba. Ia telah menjalankan bisnisnya selama lima tahun, hingga beromset miliaran.

Baginya mencoba sesuatu yang baru ditambah ketekunan membuahkan hasil. Dia pandai mengambil pangsa pasar anak muda mencoba membentuk karakter pengusaha sukses.

Biografi Purdi E Chandra Pemilik Primagama Jaya

  Biografi Primagama Purdi E Chandra

  
biografi purdi e chandra

Menelisik biografi Purdi E Chandra pemilik Primagama. Siapa yang tak kenal pengusaha kelahiran Lampung, 9 September 1959 ini, yang terkenal akan usahanya. Sosok pebisnis non- konvensional. Pasalnya dia bukanlah lulusan Sarjana bukan orang kaya. Purdi sudah mencari uang sendiri sejak muda.

Dalam biografinya ia suka berbisnis semenjak kecil, bahkan semenjak duduk di bangku SMP.  Bisnis- bisnisnya meliputi usaha beternak bebek dan ayam, dan menjual telurnya ke pasar. Sosoknya yang dikenal karena perjalanan bisnis, pendidikan, dan kegagalan. Pengusaha yang sering membagikan ilmu secara gratis.

Purdi rajin membagikan tips menjadi pengusaha agar mengambil resiko. Terlahir dari keluarga tidak mampu membuatnya selalu berpikir jauh kedepan. Purdi memang merupakan sosok pekerja keras, mudah bergaul, serta cerdas. Jujur jika dia mau mungkin kelak akan menjadi pegawai idaman, tetapi tidak.

Pengusaha Cerdas Tanpa Gelar Sarjana


Kecerdasan terbukti selama membangun bisnisnya tetap berkuliah. Purdi tercatat sebagai mahasiswa 4 fakultas sekaligus di dua perguruan tinggi berbeda. Namun jiwanya merasa tidak mendapatkan apa- apa, dia memilih untuk menjadi pengusaha, dan memilih keluar dari kampus.

Bisnis serius Purdi ialah lembaga pendidikan, yang dikerjakan jauh sebelum berkuliah. Dia bersama beberapa teman mendirikan bisnis Lembaga Test Primagama. Purdi yang juga mahasiswa di UGM, Yogyakarta, telah menciptakan sistem solid. Primagama fokus menawarkan cara masuk ke kampus bergengsi.

Purdi mencoba membantu calon mahasiswa baru agar bisa masuk perguruan tinggi negeri. Dengan modal hanya Rp.300 ribu, mereka resmi mendirikan Primagama di 10 Maret 1982, di Yogyakarta.  

"Di universitas entrepreneur, tidak ada nilai, tidak sertifikat, atau title," ucapnya lagi. Purdi selalu menegaskan prinsip itu. Ayahnya, Mujiyono dan ibunya, Siti Wasingah sendiri yang selalu mensuport keinginan anaknya untuk mandiri.

Purdi berangkat merantau mencoba melihat kelemahan sendiri. Bertahap kelemahan diperbaikinya, dia mengaku kini telah tahan banting. Ia meyakini bahwa entrepreneur merupakan jalan lain. Tidak harus mengikuti aktivitas monoton perkuliahan.  Bisnisnya unik ketika ia sendiri tidak menyelesaikan pendidikan.

Ia memulai dari menyewa ruang kecil dan disekat menjadi dua. Murid pertama hanya dua orang yaitu tetangganya sendiri. Biaya les hanya Rp.50 ribu untuk dua bulan. Kalau tidak ada les, maka Primagama akan mengembalikan uangnya. Dua tahun kemudian Primagama mulai dikenal tumbuh pesat.

Bisnis Primagama Besar


Kunci bisnisnya yaitu melihat tingginya antusias siswa SMA, terutama mereka yang ingin masuk perguruan tinggi negeri ternama. Biografi Purdi E Chandra ialah berbekal pengalaman masuk UGM dulu. Itu berubah menjadi ide cemerlang, berbekal pengalaman masuk UGM, dia dan temannya fokus memecahkan soal- soal masuk perguruan tinggi.

Semenjak kesuksesan itu, nama Primagama mulai banyak ditiru, ia pun membutuhkan inovasi baru untuk bertahan di bisnis bimbel.  Maka dibuatlah slogan "Ikut Primagama pasti masuk perguruan tinggi, atau uang akan kembali." Kemudian Purdi mencari anak- anak cerdas di bidangnya, kemudian dijadikan pengajar.

Fokusnya memastikan 90% bisa masuk perguruan tinggi negeri. Usaha Primagama jatuh bangun, dari satu otlet menjadi 200 oulet di 106 kota. Pendapatanya kini telah mencapai 70 miliar loh. Selain itu Purdi juga membuka peluang bisnis sejenis menjamur. Primagama jadi pelopor bisnis bimbel kini menjadi holding, atau perusahaan induk.

Sekarang mereka mebawahi 20 perusahaan berbeda bergerak diberbagai bidang; pendidikan formal, pendidikan non-formal, telekomunikasi, biro perjalanan, rumah makan, supermarket, asuransi, lapangan golf dan lain sebagainya. Ia juga disibukan oleh kegiatan berorganisasi sekaligus sebagai pimpinan perusahaan.

Purdi sendiri aktif menjadi ketua Perhimpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) cabang Yogya dan pengurus Kamar Dagang Industri Daerah (KADINDA). Selain itu Purdi tercatat sebagai anggota MPR RI utusan daerah DIY. Purdi lalu mendirikan Entrepreneur University (EU) yang hanya memakan waktu enam bulan dan kuliah dua minggu.

PT. Primagama Bimbingan Belajar memiliki 694 cabang, sebagian besar merupakan konsep waralaba. Hari Nuryanto, selaku Direktur Marketing dan Pengembangan Bisnis, mengatakan cabang Primagama sudah ada di 255 kabupaten kota. Dengan rincian beberapa merupakan waralaba dengan masa kontrak 5 tahun.

Ia mengatakan Primagama beridiri sejak 1982, mulai diwaralaba di 2001. Dia mengatakan total tiap cabang Primagama mampu menampung 200.000 murid.

Bisnis Sampingan Pakaian Jadi Dannis Berbuah Manis

Profil Pengusaha Tati Hartati 



Bisnis sampingan pakaian jadi Dannis memang bukan hal mudah. Disana, sang pengusaha ini harus mampu mengembangkan segmentasi tersendiri dan kreasi tinggi. Kita tau bagaimana bisnis pakaian akan terus berkembang, terutama pakaian muslim.

Prospeknya besar tapi daya saing yang tinggi seolah membutuhkan sentuhan- sentuhan khusus. Salah satu contoh pengusaha sukses di pakain jadi adalah Ibu Tari. Dia juga dikenal memperkenalkan produknya melalui cara yang unik.

Sukses bisnis sampingan pakaian jadi Dannis. Sosok Tati Hartati, istri dan seorang ibu, yang memiliki sudut pandang berbeda mengenai bisnis pakaian. Ia memilih anak- anak menjadi segment yang saat itu kurang diminati.

Dari situ, ibu Tati mengambil sebuah kesempatan, dengan design yang ceria yang jarang ditampilkan pakaian muslim kala itu. Bisnis sampingan pakaian jadi Dannis, ia fokus menempatkan modal satu juta rupiah menghasilkan milyaran rupiah.

Pengusaha Pakaian Muslim Anak



Tati bukanlah ibu rumah tangga biasa yang cuma bergelut di dapur. Memilih menamai usahanya itu Dannis. Wanita lulusan ITB ini, awalnya seorang pegawai memiliki waktu yang tersita banyak. Bahkan, ketika sudah menikah pun, suami memintanya berhenti dari pekerjaannya sebagai staff kantor.

Nah, ketika punya waktu lebih banyak dan tak bekerja apa yang dilakukannya. Dia menekuni hobi sambil aktif mengurus anak. Fakta ia tak pernah berhenti menjahit. Ini merupakan hobinya meski masih bekerja, dan ide bisnis pakaian pun muncul dari hobinya itu.

Dia memilih bisnis yang bisa sambil mengasuh anaknya dan menjadi pengusaha merupakan pilihan. Dengan bermodal Rp.1 juta dari sang suami, ia mulai mendesain- desain pakaian lalu menjahitnya sendiri. Mulai dari 50 potong/ bulan menjadi 5000 potong.

Ibu Tati memulai dengan membuat pola desain lalu menjahitnya sendiri. Setelah selesai, dia mencoba menawarkan produknya dan ternyata diterima baik oleh pasar. Mengapa produk Dannis bisa diterima pasar?

Dannis sebagai produk pakaian muslim telah memiliki ciri khusus berbeda dari produk sejenis. Ibu Tati menambahkan berbagai unsur warna ditambah kualitas kain yang bagus. Ini membuat produk Dannis nyaman dipakai untuk ibadah tapi tetap tampil modis ketika diluar.

Maka tak heran, yang semula 50 potong, produk tersebut meningkat jumlahnya tiap tahun. Ibu Tati memproduksi tidak kurang 500 potong perhari. Ia memproduki dari mukena, jilbab, tas, peralatan sholat dan yang terkahir, Danni merambah pasar pakain dewasa.

Namun produknya bisa dibilang menyasar mereka yang kelas menengah ke atas. Tidak salah, ini karena ibu Tati tidak mau mengurangi mutu kainnya. Dia memilih kainnya sendiri memasarkan melalui agen- agen resmi. Mereka memasarkan produknya hampir diseluruh Indonesia.

Produk Dannis sangat diminati oleh masyarakat bukan karena harga tetapi kualitas. Faktor lainnya, seperti warna memberikan kesan berbeda terutama bagi ibu muda. Kini, produk Dannis telah memiliki 500 agen tersebar di berbagai kota.

Ibu Tati tidak tanggung dengan pakaian Dannis, ia memilih cotton ringan. Ini sejalan dengan konsep baju muslim, kita butuh sesuatu yang menenangkan ketika dipakai dalam beribadah, dan tetap indah karena Allah mencintai keindahan.

Orang Kaya Misterius Raja Boneka dari Jakarta

Profil Pengusaha Haji Ismet



Siapakah orang kaya misterius Raja Boneka dari Jakarta. Seperti namanya pria ini memang berbisnis boneka. Uniknya pengusaha ini mampu meraup omzet sampai miliaran rupiah. Cuma dari boneka itulah, pria yang disapa Haji Ismet itu, mampu menyebarkan kebahagiaan kepada anak- anak.

Mungkin orang tua tidak akan mengenal namanya. Tetapi mungkin boneka yang ditimang anaknya, mungkin satu dari ribuan boneka yang diproduksinya. Ia adalah pemilik Istana Boneka Collection yang memproduksi ribuan boneka.

Dari sesama pengusaha mainan namanya kondang terdengar. Haji Ismet memproduksi aneka boneka yang berkualitas bagus. Produknya dibuat dari kain berbulu yang lembut dan empuk di dipeluk. Tak cuma menguasai pasaran lokal saja. Ia mampu mengekspor produknya sampai manca negara juga.

Omzetnya mencapai Rp.4 miliaran setahun, atau dia mampu meraup Rp.333 juta sebulannya dari bisnis boneka.

Strategi Bisnis Orang Kaya Misterius


Sang Raja Bonek dari Jakarta memiliki strategi tersendiri. Ia memilih membuat produk tanpa merek. Haji Ismet membiarkan resellernya memereki sendiri. Dari sanalah orang yang bekerja sama menjadi senang. Dia senang dan lebih banyak rekan bergabung sama- sama senang.

Tidak ada juga lebel khusus pembeda dari dirinya. Nanti para distributor atau agen akan memberi label sendiri. "Dengan begitu akan menghidupkan usaha mikro (menjual produk tanpa merek) lain, yaitu sebagai distributor," imbuhnya.

Pengusaha yang sudah lama berkecimpung di dunia mainan. Bapak dari tiga anak yang selalu hidup bersemangat. Dari usahanya dia diangkat menjadi bendahara Himpunan Pengusaha Mikro dan Kecil Indonesia atau Hipkimindo.

Tidak mudah baginya mencapai posisi sekarang. Jualan bonek dari nol, pengusaha veteran ini mulai dari jualan kaset rekaman. Pada tahun 1999 dikenal sebagai produser untuk kaset rekaman. Hingga penjualan lesu hingga kaset rekaman tak laku lagi.

Duni berubah dari kaset kebentuk CD begitupula Haji Ismet. Dia berubah dari produser kaset menjadi jualan boneka. "Saya terinspirasi oleh anak saya yang gemar boneka," sebutnya, alasan kenapa jadi pengusaha bonek begitu simple.

Lelaki 46 tahun itu bermodal seadaanya pertama kali. Modalnya sangat kecil cuma dari hasil jualan usaha kaset. Ia menolak menyebutkan angka ketika ditanya pihak Kontan. Melalui proses marketing dari mulut ke mulut, dibangunlah relasi bisnis yang kuat di masa depannya.

Dari sanalah dia mampu menjual hingga luar Jawa, sebut saja Medan, Batam, dan Menado. Setahun ia menjalankan bisnis boneka ternyata bisa berkembang pesat. Bahkan ia mampu memiliki satu kios sendiri di Tanah Abang.

Dia bahkan sudah mampu menghasilkan ribuan boneka. Pabrik kecilnya itu berada di kawasan Jalan Ancil, kawasan Industri Cikarang, yang beraktifivas setiap hari. Omzetnya mampu menembus hingga 10 juta perbulan. Omzetnya menanjak sepanjang waktu hingga ratusan juta rupiah!

Orang tinggal membeli boneka yang selalu baru modelnya. Tetapi dibaliknya orang kaya misterius ini memikirkan berbagai cara. Mencari konsep boneka terbaru sesuai trend dan kebutuhan. Pokoknya harus memiliki bentuk boneka yang selalu baru.

Pendiri Istana Boneka Collection


Bisnisnya memproduksi banyak jenis pilihan untuk pembeli. Contohnya boneka Pooh, standarnya yang gitu- gitu saja butuh variasi lebih banyak. Variasinya gampang kok seperti membuat ukuran yang berbeda, boneka yang tertidur atau dapat diberdirikan orang.

Kembali itu ke kreativitasan orang- orang membuatnya. Sebulan ada lima jenis desain yang berbeda- beda. Untuk ide butuh mencari melalui banyak literatur, mulai dari cetak hingga online, inilah cara menambah referensi desainnya.

Ada berbagai jenis konsumen yang memiliki banyak preferensi. Mulai dari yang menyukai boneka yang sedang marak di pasaran. Sampai mereka yang memilih boneka- boneka unik tidak pasaran. Ia mempekerjakan tidak kurang 40 orang karyawan.

Kapasitas produksi mencapai 500- 1000 boneka perbulan. Ada 20 agen yang membantunya untuk memasarkan bonekanya. Biasanya mereka datang membeli sendiri ke showroomnya di Ismet. Ketika masa sewa kios habis, Ismet sudah tak lagi berdagang di Tanah Abang.

Tetapi dia posisinya telah memiliki banyak rekanan bisnis. Untuk showroom kemudian dibangun lagi di kawasan Jatinegara, dari hasil penjualan boneka. Pemasarannya menembus ke luar negeri, dan sanggup bersaing dengan boneka- boneka China.

Tetapi dia tidak menjual boneka- bonekanya langsung sendiri. Melalui agen yang membeli itu dalam jumlah besar, kemudian dijualnya di sana. Pelangganya dari Afrika, Malaysia, dan Abu Dhabi. Ia begitu dikenal karena rajin mengikuti pameran pemerintah.

Agar kualitas produknya selalu terjaga, Ismet sendiri yang mengontrol ke pabrik, paling tidak dua hari sekali ke Cikarang, Jawa Barat. Banyak karyawan baru membutuhkan tuntunannya sendiri. Ia memberikan masukan dan evaluasi agar semakin terampil.

Tidak juga ada larangan bagi pegawai menyumbang ide. Menurutnya ide merupakan paling berharga dalam bisnis. Penjualan besar- besarn dilakukan melalui agen- agen penjualan. Ide baru selalu ada, termasuk ide boneka kecil untuk gantungan kunci.

Ia juga tidak menolak mereka yang mau bergabung. Agen- agen kecil pun dilayani Haji Ismet untuk penjualan. Yang laris manis bukan cuma jualan bonek ukuran sedang atau besar. Bonek mini juga laris manis dijual kepada perusahaan- perusahaan, untuk souvenir perusahaan dan marketing.

Harga boneka mini antara Rp.6- 15 ribu juga melayani buat nikahan. Usaha yang dijalankan sejak tahun 1999 itu begitu maju. Ismet memandang bisnisnya harus berguna bagi orang lain. Banyak sudah agen- agen penjualan dibawah naungannya.

Bisnis Sosial Hasilkan Miliaran




Pasang surut bisnis juga dirasakan pengusaha veteran ini. Memasarkan boneka buatanya tidak mudah awalnya. Cobaan terberat ketika keran impor dengan mudahnya masuk. Serbuan boneka China itu sempat membuat usahanya oleng.

Harga boneka China mampu bersaing dengan miliknya. Untuk itulah ia mengembangkan kualitas agar selalu prima. Biaya produksi di Indonesia masih tinggi dibanding China. Untuk menekan biaya produksi sukar dirasa, pasalnya harga kulit sintetis dari Indonesia mahal dibanding impor.

Maka strategi pemasaran dibutuhkan untuk menang. Strategi jemput bola dilancarkan olehnya untuk menangi persaingan. Aneka promosi juga diberikan kepada pihak- pihak perusahaan. Agar mereka tidak beralih membeli souvenir dari boneka China.

Bencana alam juga mempengaruhi usahanya loh. Wisatawan yang turun juga mempengaruhi hasil dari penjualan. Ambil contoh gempa Yogya dan tsunami Aceh menurunkan 50% penjualan! Ekonomi global yang sering terganggung juga mempengaruhi usaha bonekanya.

Daya beli masyarakat turun akan memilih membeli kebutuhan pokok. Bonek yang fungsinya sebagai produk pelengkap ditahan. Alhasil penjualannya menurun, istilahnya dibanding belikan anak satu boneka lebih baik makan enak.

Hal seperti ini tidak bisa dihindari apalagi biaya pendidikan mahal. Orang tua memiliki skala prioritas dibanding membelikan anak. Penjualan untuk ulang tahun juga menurun karena ekonomi. Namun ia mengatakan adanya musim boneka masih menutupi.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba