Rumahtopi.com Perjalanan Bisnis Ahlinya Topi

Profil Pengusaha Iqbal Rahmanuel 


 
Sukses Iqbal Rahmanuel tidak seketika. Bisnis dijalankan pengusaha muda satu ini memang terlihat sangat sederhana. Bisnis aneka penutup kepala yang bisa dilakukan semua orang. Butuh cara berbeda biar Iqbal mampu memecahkan kebuntuang bisnis.

Ide kreatif perantau Medan adalah menspesifikasi dirinya. Bisnis bertema rumah topi dimana setiap orang akan menemukan topinya di sini. Guna mendukung bisnis Iqbal membangun  www.rumahtopi.com inilah ujung tombak bisnis topi berbasis internet.

Inspirasi mendorong membuka bisnis topi. Dia merasa kesusahan mencari topi. Loncat sana, kemudian ke sini, tidak ada tempat pasti dimana dia memanjakan hobinya. Rumah Topi adalah bisnis menawarkan aneka jenis topi bahkan paling susah dicari sekalipun.

Bukan bisnis topi biasa


Awal dia iseng mencari topi bermodal tidak biasa. Dia mencari topi komando dan topi lukis. Kan susah tidak umum dicari anak muda. Ternyata meskipun lewat internet, masih susah ditemukan dimana bisa dia mendapatkan topi- topi tersebut.

Ia kemudian menemukan masalah sama dirasakn orang lain. Inilah kesempatan bisnis jika Iqbal mampu memenuhi kebutuhan mereka. Sebuah peluang bisnis ketika menemukan permasalah serupa di berbagai forum internet. Bermodal uang Rp.5 juta dia mulai membantun website www.rumahtopi.com dan mulai memasok.

Beberapa jenis topi ditemukan langsung dijual. Topi tersebut jarang ditemukan di pasaran. Berkat ide itu Iqbal mampu mengantongi omzet Rp.17 juta- 20 juta, dimana topi dijualnya 150- 200 topi dan margin untungnya 40% loh.

Dimana ada 25 jenis topi dengan variasi model berbeda banyak. Contoh topi snapback, trucker, newsboy, ushanka, hingga flat cap yang susahnya minta ampun dicari di Indonesia. Cara Iqbal memenuhi produksi ialah dengan menggaet pengrajin topi asal Bandung, lainnya Iqbal mengimpor dari pabrikan di China.

Topi beraneka macam, dari pria, wanita, anak- anak, tersedia di Rumah Topi. Strategis sosial media dia lebih pertegas agar bisnisnya menggaet lebih banyak. Marketing Iqbal memang tidak face- to- face tapi ternyata lebih efektif dibanding perkiraan orang.

"Kami juga melakukan promo langsung dan berinteraksi dengan konsumen di sosial media," tuturnya. 

Tiga tahun berbisnis bukan tanpa kendala teman. Dia mengaku ada beberapa hal: Salah satunya pemasok produk topi, yang mana awalnya dia membuat berdasarkan karena belum ada pegawai. Padahal pesanan besar sekali ketika bisnisnya terus berkembang, Iqbal sempat keteteran tetapi berhasil melewati masa itu.

"...bahkan saya pernah menolak pesanan 1.000 topi," kenang Iqbal. Dengan jujur dia mengatakan kondisi perusahaanya kala itu. Mau bagaimana lagi bisnis Iqbal memang baru dimulai.

"Lebih baik kami jujur supaya konsumen tidak kecewa," paparnya. Keutelan Iqbal terbayar dengan pusat produksi sendiri di Surabaya. Kanapa bisnis Iqbal sukses karena balum banyak orang menggarap pasar itu. Ke depan dia berharap Indonesia menjadi produsen topi berkualitas dunia.

Ia menyebutkan bahwa pengrajin kita itu punya kreatifitas tinggi. Masalah pengrajin adalah di manajemen produknya. Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR angkatan 2012 ini, juga masih semangat mengerjakan kuliahnya.

Bisnis terus


Begitu meliat peluang bisnis topi. Dibenak Iqbal adalah bagaimana agar nomor satu. Bagaimana caranya agar toko onlinenya nangkring di halaman pertama Google. Nama Rumah Topi juga sudah termasuk satu doa dia panjatkan agar menjadi pusat topi Indonesia.

Menurut Iqbal tempatnya merupakan pusat topi terbesar. Pemuda kelahiran 9 September 1993 ini, mulai resmi membuka bisnisnya pada Maret 2012 silam. Selain berbisnis topi, Iqbal juga membuka usaha lain, seperti Raja Tas Kertas dan Es Krim Creamel. Kuliah sambil berbisnis dijalankan penuh semangat tanpa ragu.

Keuntungan dicapai sekarang sampai Rp.20 juta. Iqbal juga sudah memiliki toko offline di Jalan Kapas Kampung No.45, Surabaya.  Meskipun sibuk berbisnis Iqbal tidak lupa kuliahnya. Semua sudah dia jadwal dengan baik. Karena baginya masih merupakan kewajibannya sebagai mahasiswa untuk mengikuti kelas.

Kan kita bisa memilih sendiri jadwal biar tidak benturan. Kesuksesan Iqbal tentu membanggakan kedua orang tuanya. Membuat orang tua bangga sudah lebih dari cukup. Bisnis asyik tetapi menjadi mahasiwa adalah kebanggaan orang tua. Disini dia bisa mengaplikasikan ilmu manajemennya secara langsung kerja.

Saran Buat Online Shop Baru dari Pengalaman Shinta

Profil Pengusaha Shinta Chandriani 




Ketatnya persaingan bisnis online tidak membuatnya ragu. Semua orang seolah bisa memulai satu bisnis online, tetapi tidak semua seberuntung Shinta Chandriani, gadis 18 tahun, kelahiran 18 Oktober 1997, Jakarta, yang memulai bisnis dengan mengambil barang dari suplier impor.

Dia yang masih mahasiswa semester 1, Jurusan Akuntansi di sebuah Universitas di Tangerang, bercerita kepada pewarta Studentpreneur.co bahwa bisnis pertamanya gampang kok. Dia berbisnis aksesoris saja. Dimana dia ambil barang dari importir asal Korea, Tiongkok, dll.

Berjalan waktu Shinta mulai merambah pakaian. Bisnis Shinta terus berkembang, bervariasi dibanding dia sebelumnya, tetapi tidak segampang orang lain. Shinta memilih cara baik berjualan. Dia meyakinkan diri dulu bahwa apa dijualnya merupakan produk berkualitas.

Dia sebelum jual, barangnya disurvei dulu. Shinta tidak segan merogoh kocek buat beli. Dia coba sendiri kemudian baru beli banyak buat dijual. Tidak cuma pakaian, ada sepatu dan aksesoris seperti blazer dan lain- lain, tidak cuma impor kok adapula produk baju dan sepatu lokal.

"Saya jual produk, saya beli dulu, apakah sebagai costumer saya merasa puas," jelasnya.

Biasanya itu dia lakukan  ketika mau membeli produk baru. Untuk masalah tersebut dia cari suplier yang mau return jika produk cacat.

Jualannya lewat Instagram dan BBM, nama onlineshop nya Blythebloosom dimana omzetnya lumayan sampai jutaan rupiah. Bisnis pertama kali Shinta tidak membuat stok produk alasannya karena dana yang dia miliki terbatas, tetapi tetap sukses kan.

Bisnis reseller


Ketatnya bisnis tidak membuat Shinta minder. Justru dia makin bersemangat jualan. Karena pada dasarnya dia memang hobinya berjualan. Sejak SD malahan, walaupun jualannya masih tidak jelas mulai dari jualan mote, gantungan kunci, sampai tas mote. Kalau untungnya namanya anak- anak pasti tidak fokus jadinya.

Sayangnya, jaman sekarang udah gak jaman mote, bisnis tersebut akhirnya hilang. Dan tergantikan dengan bisnis online sejak SMA kelas 1. Berawal dari seorang teman yang memulai dulua. Dia punya online shop lantas Shinta liat kayaknya seru. Kemudian lahirnya online shop bernama Shinchan Olshop dari singkatan nama.

Maskuk kelas 3 SMA, Shinta memilih fakum, dimana konsentrasinya ada pada ujian nasional. Lalu setelah itu dia mulai melanjutkan dan diberi nama seperti di atas, Blythebloosom. Cara berjualan juga sudah beda dari sebelumnya, kalau dulu dia jualan di Facebook sekarang di Instagram.

Jualannya aneka fashion wanita, pemikiran Shinta adalah hobi belanja wanita tidak akan ada matinya, dan itu juga berpengaruh pada perubahan trend wanita. Shinta diharuskan mampu mengikuti kebutuhan pasar. Pelanggan pertamanya adalah temannya sendiri. Dari mereka jualannya laku pertama kalinya dan membua semangat.

Tantangan bisnis onlineshop adanya barang beragam, harga bervariasi, banyak pesaing yang juga tidak kalah kreatif dengannya. Enaknya gak usah ribet karena tidak terpaku waktu. Selama mempertahankan kepuasan konsumen dan mempertahankan harga, maka kelak dia yakin bisa memiliki merek sendiri.

Kalau ada komplain beda gambar dangan barang. Menurut Shinta, sudah diminimalisir dengan sudah dia survei dulu, namun ya namanya manusia beda dikit meski masih bagus dikomplain juga. Jika terjadi itu maka dengan legowo Shinta meminta maaf sebesar- besarnya.

Bahkan dia kasih voucher diskon pembelia berikutnya. Di sisi lain, tidak sedikit pembeli puas, makan tidak segan mengupload selfie dengan produknya dan ditag ke dia. Untuk kedepan mau apa lagi, Shinta sudah punya rencana yakni membuat baju dan sepatu mereknya sendiri dimana bertahap sudah dimulai.

Untuk sementara dia mau fokus belajar lebih banyak. Terutama soal manajemen dan marketingnya, Shinta inginkan sistem yang lebih rapih dari bisnisnya sekarang seperti ketentuan reseller dari dia. Saran dari Shinta kalau mau bisnis cobalah mencari target pasar, survei pasar, dan dipikirkan dulu apa produknya.

Aplikasi Pertolongan Anak Dibully Gampang Kok

Profil Pengusaha Natalie Hampton 


 
Terkadang seorang anak membutuhkan tempat sendiri. Adapula anak yang memang lebih suka menyindiri. Namun jangan biarkan mereka sendiri tanpa teman. Pengalaman menjadi sosok dibully pernah dirasakan oleh Natalie Hampton. Hanya karena dia berbeda bukan berarti malah dijauhi menjadikan semakin sendiri.

Sebagai siswa sebuah sekolah anak perempuan di Sherman Oaks, California, merasakan betul bagaimana dia makan sendirian. Menjadi anak yang duduk di pojokan makan bekal sendiri adalah "prestasi". Sesuatu yang tidak adapat Natalie lupakan sepanjang sekolah menengah.

Gadis 16 tahun tersebut merasakan penolakan, malu ketika mendatangi sebuah meja. Berbeda anak- anak lain Natalie mampu mengendalikan dirinya. Akhirnya dia punya teman berkat keberaniaanya untuk duduk bersama anak lain, walau mata mereka tidak bisa bohong pada awalnya.

Tak kenal maka tak sayang. Natalie kemudian menemukan titik temu. Bagaimana membantu teman- teman seperti dirinya untuk dapat teman. Bagaimana anak lain sadar bahwa mereka yang makan sendiri bukan mau hidup sendiri. Mereka butuh rangkulan dahulu. Mangkanya Natalie membuat sebuah aplikasi bertema makan.

Dia masih ingat karena suka menyendiri. Dia diperlakukan berbeda. Dianggap membedakan diri atau juga dianggap sombong. "Saya diberi tau oleh seorang teman sekelas bahwa saya begitu jelek," sangat lah menakutkan dan semua orang terasa membenci mu.

Makan bersama


Sejak menjadi sosok lebih terbuka, Natalie mulai mengikuti aneka kegiatan membantu anak lain. Ingin memberi mereka jalan agar menjadi lebih baik. Namun dia menyadari bahwa waktunya terbatas. Ketika ia keluar dari kampus tersebut maka tidak akan ada lagi bantuan buat anak korban bully.

"Jadi saya berpikir menciptakan sebuah aplikasi merupakan satu jalan terbaik untuk membantu anak- anak di sekolah dan ruang makan siang baru dan membantu mereka menemukan mereka rumah baru," ia berkata.

Dia kemudian membentuk sebuah tim proyek. Mereka menciptakan aplikasi pribadi. Dimana orang- orang di sekitar akan menyadari keberadaan mereka tanpa mempermalukan mereka. Anak yang duduk sendirian akan tau kalau ada meja kosong tanpa harus meminta tetapi malah diajak lewat layar smartphone.

Dalam seminggu aplikasi buatannya didownload 10.000. Yang mana semakin besar, dan sungguh sangatlah mengejutkan karena sekedar proyek kecil- kecilan sederhana. Jika sebelumnya dia pikir akan hanya masuk ke sekolahnya. Eh, ternyata, malah mengglobal lebih banyak dan umum dipakai pengguna smartphone.

Ada orang dari Maroko, Australia, Inggris, Prancis, yah tidak terbatas di Amerika saja. Ternyata niat baik Natelie tersampaikan.Masalah Natalie memang bukan masalah pribadi. Umum, dibanyak tempat anak- anak terkadang malah duduk sendirian ketika istirahat makan siang atau sekedar jajan.

Aplikasi yang dibuatnya memang bersifat umum buat siapapun. Dia bukan satu- satunya yang merasa sendirian di dunia sekolah menengah. Dan sampai sekarang, Natalie juga masih merasakan hal tersebut loh, tetapi dengan kadar berbeda.

Karena Natalie punya pandangan optimis. Tetapi sekali lagi, tidak semua orang memiliki pemikiran yang sama sepertinya. Diantara perasaan sendiri Natalie menyadari bahwa di sekolah juga ada anak baik kok. Mereka yang peduli sesamanya dan dipermudah mencarinya lewat aplikasi tersebut.

"Saya baru menyadari berapa banyak orang yang peduli dan membantu setiap harinya di komunitas sekolah sampai saya membuat ini," jelasnya.

Perasaan takut ditolak anak- anak seperti Natalie akan selesai. Karena begitu mereka melihat layar akan terlihat meja mana yang kosong. Dan teman kamu akan memberikan tulisan ajakan, menguatkan untuk tak ragu datang dan duduk bersama. "Jadi tidak ada lagi rasa malu. Tidak ada isolasi. Itu akan jadi lebih mudah."

Meskipun begitu bentuk bully lainnya mengkhawatirkan. Bentuk cyber bullying menjadi masalah Natalie perhatikan akhir- akhir ini. Inilah cara dia menciptakan sosial media yang bersih. Melalui membuat app sendiri untuk menolong anak- anak introvert. Pertumbuhan aplikasi Natalie bagus didukung oleh banyak orang.

Lewat aplikasi tersebut dia punya teman, temannya akan mengajak teman lain di sekolah, Natalie juga dibantu keluarga yang membantu aplikasinya masuk ke sekolah lain. Senang karena tidak ada penolakan dari setiap sekolahan mereka masuki. Harapan Natalie adalah membantu orang lain, meskipun hanya satu.

Pengusaha Muda yang Pernah Dibully di Sekolah

Profil Pengusaha Dyah Ayu Mrameswaringitiya Zulkarnaen 


 
Karena berjualan es, gadis 17 tahun ini dibully teman- temanya, tetapi Ayu membuktikan dibalik kerja keras ditambah inovasi. Gadis muda ini mampu mengantungi omzet Rp.50 juta. Nama lengkapnya cukup panjang Dyah Ayu Prameswariningtiyas Zulkarnaen, atau akrab disapa Ayu mampu membuktikan dia bisa.

Warga Desa Jenggawah, Jember, membuktikan bahwa minuman es menghasilkan hasil jutaan. Memang sih sebagai awalan Ayu harus menanggung tatapan sinis. Terutama dari teman- teman yang melihat Ayu asik sendiri mengelola minuman bernama Kampez tersebut.

Diajari bisnis


Di kelas 3 SD, Ayu sudah diberi pemahaman tentang entrepreneurship. Kedua orang tua Ayu memberikan pemahaman tentang asiknya mencari uang. Lewat pemahaman tersebut Ayu kecil mulai berjualan kecil- kecilan. Jualan aksesoris, gambar vektor, serta kaos pernah ditekuni Ayu, yang notabennya bocah ingusan.

"Dari situs, saya merasa kalau passion saya adalah berbisnis," ujarnya. Ia sendiri terinspirasi kisah sang kakek.

Menurut Ayu, kakeknya dulu hidup miskin, berkat jiwa entrepreneurship dia membuka usaha sate sendiri. Ia kemudian dikenala sebagai pengusaha sate kambing Jember. Masuk kelas 2 SMA, dia masih senangnya jalan- jalan wisata kuliner, di Malang dia menemukan ilham ingin membuka usaha apa cepat sukses.

Ayu melihat ke Jember kemungkinan apa dibisniskan. Bisnis kafe dan bisnis minuman tengah naik daun di Jember. Dia ingin menggabungkan keduanya bisnis kafe minuman. Dua unsur coba digabungkan, untung dia sudah punya modal tempat jualan.

Sebagai awalan bisnis minuman, Ayu memilih minuman aneka jus buah, alasanya tidak cuma karena murah loh. Tetapi dia sadar bahwa jus buah tidak akang lekang. Berjalan waktu dan melihat trend di Jember dia mulai jualan cappuccino cincau. Meski sudah tidak lagi trend ternyata Ayu bisa bertahan berkat inovasi.

Ayu sebenarnya lahir dari keluarga sukses. Mama Ayu merupakan guru berprestasi yang sudah berkeliling ke luar negeri. Karena Mama Ayu adalah guru, tetapi anaknya malah jualan minuman, inilah yang teman- teman bully, banyak sindirian bahkan ejekan terutama dari orang tua teman- temannya.

Beberapa membandingkan Ayu dengan anaknya sendiri, atau anak lain. Namun Ayu tetap semangat terus mengerjaan bisnis es Kampez. Prinsip dia adalah ingin menentukan jalan sendiri, tidak menjadi pengikut anak- anak lainnya. Dia sadar bahwa perjalanan entrepreneur tidak akan mudah pada saat itu.

Tujuan tetap yakni membangun bisnis sendiri. Dari nol sudah menyadari bahwa dirinya pasti disepelekan. Apalagi kalau dilihat dari segi umur, dia masih dianggap orang anak bau kencur. "Saya tetap tersenyum dan anggap itu penyemangat saja."

Promosi terus


Melalui fanspage, Twitter pribadi, Instagram pribadinya. Dia juga menelphon saudara- saudaranya. Dia juga promosikan ke guru- guru mengajarnya. Nekat, dia teriak- teriak memberitahu teman- temanya, bahwa dia membuka usaha minuman ketika upacara bendera.

Kontan hal tersebut justru memperparah bully. Tetapi Ayu tetap santai, waktu itu bisnisnya baru hari ketiga pembukaan kafe kecilnya. Banyak anak mengejek, tetapi ujungnya mereka penasaran dan malah menjadi pelanggan Kampez. "Semua minuman saya laris terjual," ujarnya.

Minuman paling banyak dicari ialah aneka varian jus buah. Ambil contoh jus alpukat Kampez pernah bisa habis 2kg semalam. Ayu terharu karena record tersebut. Mayoritas pembeli merupakan masyarakat asli Jember. Adapula orang luar Jember, orang luar kota ketika musim mudik tiba karena tempatnya strategis.

Tempatnya di alun- alun Jenggawah, Jember, dimana banyak orang lalu- lalang. Konsumen paling banyak datang dari anak muda. Dia memang merupakan target pasa Ayu dari awal. Tetapi juga tidak menolak ada kumpulan- kumpulan, beberapa komunitas, yang asik menikmati sambil arisan atau melepas penat saja.

Sulitnya bisnis minuman es terutama ketika musim hujan. Otomatis bisnis Ayu turun omzetnya. Untuk itu Ayu mulai melebarkan bisnisnya. Ekspansi Ayu lewat Kampez Nyemil. Yakni bisnis makanan camilan buat pendamping. Bisnis barunya dibuka dua bulan setelah bisnis Kampez berjalan mapan.

Warung semakin ramai ketika ia meluncurkan aneka camilan. Jadilah Kampez tempat nongkrong asik buat anak muda. Kesulitan lainnya? Sulitnya mendapatkan buah, dimana buah harus cepat habis atau akan busuk. Buah juga merupakan buah pilihan segar dipilih yang terbaik. Evaluasi stok dilakukan berkala agar tidak menumpuk.

Ia selalu mengevaluasi setiap produk. Dicari mana paling lari, diurutkan dari yang terlaris, gunanya agar bisa mengatur stok. Bagaimana stok masuk dan keluar efisien menghasilkan untung. Tujuan lainnya adalah buat menentukan strategi lain, mencari startegi terbaik agar pengeluaran dan pemasukan benar hitungan.

Masalah berbisnis


Komplain tentang bisnisnya juga pernah. Pelanggan pernah tidak puas dengan layanan Ayu, mulai dari kembalian yang lupa, minuman yang lupa diberi gula atau susu, hingga buah rusak atau busuk hingga satu ruangan menjadi bau. Tetapi dia tetap ikhlas karena dia yakin bahwa bisnisnya akan sukses suatu saat nanti.

Manajeman sama sekali tidak dipegang Ayu. Awal membuka, Ayu seadanya, bisnis cuma bermodalkan passion akan entrepreneurship dan sekarang sudah punya karyawan sendiri. Banyak kesulitan dianggapnya tanda kesuksesan. Dia berharap kegagalannya bisa menjadi inspirasi buat pengusaha muda lainnya berjuang.

Baginya bisnis tidak harus rumit. Buktinya bisnis gampang seperti jus buah menghasilkan puluhan juta. Ia menyebutkan yang penting jangan berhenti belajar. Kamu bisa tetap bersekolah sambil berwirausaha. Dia juga mengingatkan bahwa inovasi yang utama di bisnis gampang ini.

Orang banyak menyebut rasa jusnya beda. Dia sendiri tidak menyebut apa rahasianya. Yang pasti kita patut mencontoh dia karena menghasilkan puluhan juta karena inovasi. Menurutnya ada kunci sukses lainnya, karena dia melihat bisnis dari sudut beda yakni bisnis di kampung, justru lebih gampang peluangnya nanti.

Menurutnya wirausaha sekarang intinya membangun relasi. Dia mendapatkan banyak teman berkat bisnis. Dia juga tidak segan membagi ilmu. Disisi lain, dia bertemu mentor pengusaha lainnya yang sangat bisa membantu bisnis sekarang, atau kelak. Kelak dia akan membuka cabang lagi masi disekitaran Jember juga.

Dia senang karena bisa membantu memberi lapangan pekerjaan. Ayu ingin mengembangkan bisnisnya jadi kafe besar. Buat kamu yang berbisnis, jangan langsung patah semangat ya, harus punya mental kuat, harus ada niat kuat, entrepreneur harus berani ambil resiko tetapi jangan lupa belajar dari setiap masalah dan kegagalan.

Mangga Botolan Fruters Andalkan Celah Bisnis

Profil Pengusaha Ratna Apriyanto dan Khemal Nugroho 

 
 
Menjadi pengusaha tengah digalangkan akademisi kampus. Banyak mahasiswa berlomba mengeluarkan produk inovatif. Salah satunya sepasang mahasiswa ini, Ratna Apriyati (24) dan Khemal Nugroho (24) adalah contoh. Mereka pengusaha minuman jus sehat yang sudah berproduksi 1.000 botol per- hari.

Tujuan mereka menciptakan bisnis sehat. Banyak cara ditempuh agar mendapatkan tubuh sehat serta cara menjaga kesehatan tersebut. Salah satu caranya adalah dengan meminum jus. Aneka buah- buahan segar itu dibutuhkan kita tetapi banyak orang yang tidak cukup waktu untuk mengolahnya.

Sari buah itu sehat dan segar, lewat tangan keduanya menciptakan inovasi, kemasan modern, dan kreasi. Mereka memproduksi mengemasnya dibawah nama Fruters sejak 2012 silam. Mereka berbisnis minuman sari mangga bermodal minim yakni Rp.250.000 buat beli mangga.

Mereka menggunakan bahan mangga gincu lantaran manisnya khas. Perhitungan bahwa orang cenderung untuk membuat jus sendiri jadi pilihan. Meskipun pasar sesak keduanya optimis mampu mengambi celah diantara padatnya bisnis jus buah.

Ratna dan Khemal menawarkan kemasan modern. Menurut keduanya mangga gincu memiliki kualitas yang super. Grade A merupakan mangga yang diekspor ke luar negeri. Grade A- B untuk pasar supermarket, dan terakhir mangga gincu Grade C untuk pasa tradisional.

Bisnis mepet


Keduanya sepakat menggunakan Grade C. Apalagi kalau bukan harganya lebih murah. Walaupun begitu itu rasanya enak buat makan. Lulusan Teknolgi dan Industri Pangan Universitas Padjajaran Bandung ini, dapat stok mangga dari petani asal Cirebon, Jawa Barat.

Mereka ambil mangga tersebut, kemudian mereka olah menjadi puree dan slush. Beda dengan jus buah yang biasanya. Jenis puree dan slush lebih pekat dan padat. Agar jadi lebih enak, keduanya memasukan potongan jelly di dalamnya.

Cara mereka menjajakan awalnya yakni datang ke kampus mereka. Mereka menjajakan itu ke teman- teman mereka sendiri. Tidak butuh waktu lama mereka mendapatkan tanggapan baik. Keduanya sepakat buat meningkatkan produksi dan memperluas pasar. Mereka kemudian menyasar pasar kelas menengah atas.

"ekarang banyak kelas menengah menjalankan pola hidup sehat. Makanya, kami keluarkan produk kemasan premium," ujar Ratna.

Harganya bervariasi dari Rp.7.500- 25.000 tiap kemasan. Margin untung mencapai 100% dari bahan yang mereka olah. Ada beberapa tahan sebelum memproduksi. Pertama apalagi kalau bukan menyortir bahan mangga terbaik. Kini, dengan beberapa pegawai, mereka akan menyortirkan mangga terbaik dari yang terbaik.

Mangga lantas dipotong dan dihancurkan dengan mesin. Setelah hancur memasuki tahap yang mereka sebut tahapan pasteurisasi. Tahapan tersebut merubah mangga menjadi puree yang bahkan bisa tahan lama sampai setahun. Tahapan selanjutnya adalah dikemas kemasan plastik, botol plastik, dan toples plastik.

Si kemasan menjadi penentu harga jualnya. Semakin bagus kemasan semakin tinggi harga. Awalan mereka memproduksi maksimal 1- 3 kilogram buah mangga per- minggu. Kini keduanya membuat 8 ton buah mangga untuk enam bulan.

Kapasitas produksinya 1000 kemasan setiap hari. Sekarang mereka dibantu 8 orang karyawan, dimana rumah produksi Fruters di kawasan kampus Unpad Jatinangor, Jawa Barat. Ratna mengatakan juga bahwa mereka juga mendapatkan dukungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM).

Kendala ialah mereka kadang sukar mendapatkan manggu gincu. Terkadang bahkan tidak bisa memenuhi kebutuhan masyarakat. Mereka juga mencoba membuat variasi lain dengan buah lain.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba