Pengusaha Dulunya Sangat Miskin Merantau di Lampung

Profil Pengusaha- Pengusaha dari Nol 


 
Sukses tidak harus ke Jakarta. Banyak orang tertipu oleh gemerlap ibu kota. Sementara di Jakarta orang datang hidup susah tetap susah. Di sini, daerah Lampung semisal, orang datang jika mampu bertahan hidup susah maka akan sukses. Apalagi mereka mengikuti program pemerintah transmigrasi.

Berikut kisah orang sukses tanpa bantuan. Mereka datang ke Lampung sebagai pendatang. Tanpa modal ataupun tanpa dukungan pemerintah. Namanya Lulut, Lesung, dan Suratmin, orang Magetan, Jawa Timur, kemudian jadi saudagar Lampung.

Tidak disangka Lulut, pria umur 55 tahun, dulu pernah tiduran di emperan. Sekarang Lulut bergelar Haji karena keuletan, kejujuran, dan kerja keras. Kini, dia memiliki kios di Pasar Terminal Induk Pringsewu, merupakan anak ketiga dari sembilan saudara. Dia memang terlahir dari keluarga sangat tidak mampu.

Nekat merantau


Pemuda asal Desa Karangrejo, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan, di tengah ekonomi keluarga super sulit mau melakukan apa. Solusi Lulut tidak lain hanyalah merantau ke kota. Nekat dia berangkat ke Lampung dengan uang minim.

Sejak tiba di Lampung tidak ada saudara ditumpangi. "Tidur di emperan pasar hanya beralaskan kardus," ia melakoni itu mulai 1973- 1976. Sekitar tiga tahun tersebut ia kerja jadi buruh. Bukan buruh sekarang yang gajinya Rp.2 jutaan. Lulut menjadi buruh pengemas sayuran berupah Rp.25 per- karung.

Lelaki yang cuma tamatan SMP tersebut, lantas ketemu Sukati, wanita 55 tahun yang juga hidup sangat miskin seperti Lulut. Keduanya nekat menikah hingga hidup makin sulit. Sukati sendiri juga perantau dari Jawa, menjadi buruh juga di pasar sama. Sukati sendiri biasa tidur di pasar beralas ala kadarnya.

Sesudah menikah hidup mereka makin susah. Tidak cuma menerapkan konsep "Jipe Jinggo", atau baju yang dipakai satu, satu lagi dicuci kering kemudian dipakai lagi dan satunya dicuci. Makan sehari- hari pun juga cuma makan pisang sisir direbus. Mereka cuma bisa bekerja keras serta bertawakal mengumpulkan uang.

Hasilnya mereka punya rumah sendiri sekarang. Mereka punya kios jualan hasil bumi. Omzet dicapai oleh Lulut mencapai Rp.20 juta sehari. Bayangkan sekarang mereka bahkan punya mobil.

Kisah lain diretas pria bernama Lesung Sudarsono. Pria yang kini menginjak umur 55 tahun. Dikenal juga jadi saudagar kaya padahal cuma lulusan SD. Merupakan kelahiran Desa Nguntolonadi, Takeran, Magetan. Yang merantau ke Lampung juga berbekal minimal. Juga pernah dia merasakan dingin tidur di lantai pasar.

Dia bekerja sebagai buruh angkut. Sudah rantau ke Lampung sejak 1980 -an dan enam tahun sudah tidur di pasar. Lesung bekerja bisnis dari Haji Sarkun. Karena cerdik, tekun, jujur, dan kerja keras, Lesung berubah menjadi pedagang hasil bumi di Pasar Pringsewu.

Jualannya sukses, dia sudah punya rumah kos, sarang burung walet, dan sawah sangat luas. Untuk hobi, dia menekuni bela diri, dan mendirikan padepokan silat Persaudaraan Setia Hati Teratai, yang merupakan cabang perguruan silat asal Jawa Timur

Lesung sama halnya Lulut juga menangis. Terharu mengingat perjuangan menggapai keadaan sekarang. Dia pamit merantau kepada ibu. Dalam sungkem dia menangis bersujud meminta restu. Ibu tidak rela kalau ia merantau ke tempat jauh. Tetapi tekat merubah nasib begitu bulat berada dibenak Lesung.

Kemudian ada kisah dari Suratmin, pendatang asal Gorang Goreng, Magetan. Dimana ia sudah merantau sejak  Merantau sejak 1990 bermodal uang Rp.250.000. Uang tersebut digunakan ongkos bus, kemudian sisa baru dijadikan modal usaha, sederhana kok usaha dijalankan Suratmin.

Dia jualan sayur- sayuran, seperi ada bawang merah, kol, cabai, dan kacang- kacangan. Awalan cuma jualan sayuran dengan jumlah sedikit. Jualan sayuran sekedar 10- 20 kilogram. Kalau sekarang ya jualan sudah mencapai puluhan kuintal sehari.

Omzet sampai Rp.30 juta seharian, bahkan Rp.60 juta jika masuk musim Lebaran. Meskipun rindu pulang kampung, dia mengaku tidak akan tinggal di Jawa. Apalagi harus meninggalkan kerjas keras selama ini di Lampung. Walaupun dibayari sejuta sehari tidak mau meninggalkan kerja keras.

Pengusaha Muda Dari Nol Bisnis Batik Kartun

Profil Pengusaha Garina Irmayanti 



Pengusaha muda dari nol tersebut bernama Garina Irmayanti. Umur baru 22 tahun, tetapi sudah memutar uang senilai Rp.100 juta. Rahasia bisnis Garina ternyata adalah batik. Dia mengambil inisiatif dikala naik pamor batik Indonesia. Bukan perkara mudah karena mahasiswa aktif ini akan hadapai banyak pesaing.

Mahasiswa Universitas Airlangga, Surabaya, masih aktif kegiatan perkuliahan. Sembari itu dia memiliki pandangan ke depan. Berwirausaha menjadi pilihan. Kalau dulu kan batik terkenal buat pakaian formal. Ia mencoba merasuk lebih dalam. Dari sekedar pakaian keseharian lebih dalam lewat aneka motif berbeda.

Garina pun tidak sekedar membatik. Ia berlatih menjadi pembatik tulis sejak Juli 2010 silam. Aneka kaos batik memang sedang populer. Ia ingin mengambil langkah beda. Batik Garina menampilkan aneka batik tulis bermotif kartun, animasi, dimana ditabrak motif bunga dan binatang pada batik tradisional.

Bisnis Garina dimulai lewat menjadi reseller. Kalau dulu, dia menjual kembali aneka tas batok kelapa, kalau sekarang memproduksi sendiri. Bisnis ditekuni gadis berjilbab tersebut memang tidak jauh dari kesan etnik. Garina,  gadis manis berjilbab, menciptakan sendiri batiknya lewat belajar sendiri.

Jualan aneka souvenir dan tas batok kelapa. Uang didapat dijadikan modal usaha. Kurang, Garina memilih meminjam ke ayah Rp.3 juta. Tentu agar bisa membayar hutang tersebut. Garina lebih giat belajar batik dan mulai bekerja karena itu amanah!

Awal usaha pasti kesusahan. Ponta- panting Garina mencoba memasarkan produk. Kesulitan membacar apa kesukaan konsumen. Membuat batik bikinan Garina tidak sempurna. Lewat blog, dia mencoba buat langsung memamerkan desain, dari sana lah, ia menemukan cita rasa kegemaran pembeli dari desainnya.

Disisi penjualan memang dirasakan sulit. Namun dia bisa melewati hal tersebut seiring waktu. Hanya saja, masalah kembali tiba justru ketika usahanya mulai naik. Permintaan akan barang dagangan tidak diimbangi oleh jumlah pegawai. Susah mencari tim kerja yang sepandangan tentang bisnis batik tengah ia geluti.

Ada kesusahan sendiri ketika membatik di atas kaos polos. Proses tidak mudah. Diawali gambar desain lewat pensil. Dititik pakai malam kemudian barulah diwarnai. Harga jual berdasarkan ukuran yakni kaos anak Rp.85 ribu, dan kaos dewasa dihargai Rp.130 ribuan, tutup gadis kelahiran 20 Juni 1990 ini.

Emping Melinjo Sehat Bebas Penyakit Bantul

Profil Pengusaha Sukses Sukati 



Ibu bernama Sukati kemudian menceritakan kisah suksesnya. Orang bilang sukses tidak perlu mahal. Inilah sukses Sukati, seorang pengusaha emping melinjo, berkat usaha sederhana mampu mensekolahkan anak sampai lulus sarjana. Diawali rasa prihatin atas melimpah ruah biji melinjo di kampung halaman.

Warga Dusun Tegalkenongo, Desa Tirtonirmolo, Kec. Kasihan, Kab. Bantul, yang merasa kok banyak ya melinjo berceceran. Tidak dimanfaatkan secara maksimal. Hanya jualnya rendah sekali. Kesempatan buat Sukati membuat perubahan pada bisnis melinjo lokal.

Dia kan asi Wonogiri, Jawa Tengah, nah di tempat asalnya, buah melinjo diubah menjadi emping. Buah si melinjo dijadikan emping dan harganya jauh lebih mahal. Dia hanya mencoba membuat apa yang sudah ada di luar, tetapi tidak di lokal. Usaha dijalankan pada tahun 1980 silam berjalan lancar.

Tahun 80 -an itu, melinjo dihargai Rp.1000 per- kg, dan ketika dia bikin emping harga Rp.3000 per- kg. Laris manis jualan Sukati terutama ketika Lebaran tiba.

Uang Rp.3000 itu banyak jaman dulu. Penjualan cukup sekitar rumah saja. Atau ada pedagang yang datang mengambil buat dijual lagi. Tahun 2000 -an, bahan baku malah naik sampai Rp.60 ribu per- kg. Mangkanya dia tidak cuma membutuhkan dari lokal saja.

Cari sampai keluar Bantul, sampai ke Kulonprogo dan Sleman. Dia sudah punya penjual langganan. Sehari dia memproduksi 500kg permintaan. Bahan baku mencapai lima kilogram setiap kilogram untung sampai Rp.1000. Jika sebulan laku 150kg dikalikan saja Rp.1000, atau hasilnya sampai Rp.150.000.

Ia mengatakan emping melinjo miliknya beda. Karena rendah purin, maka tidak masalah dikonsumsi oleh penderita asam urat hingga darah tinggi. Ia berani kerja sama dengan Universitas Ahmad Dahlan sampai bisa menciptakan emping melinjo. Emping melinjo rendah purin dihargai Rp.90 ribu per- kilogram.

Gimana Sih Cara Buka Usaha Konveksi Pengusaha Muda

Biografi Pengusaha Fauzi Ishak 



Ide bisnis disekitar kita. Itulah inspirasi sukses seorang Fauzi Ishak. Disinilah kunci sukses si pengusaha muda konveksi. Di Bandung, era 1990 -an, kan banyak siswa suka bikin seragam sendiri. Seragam kelas biar keliatan kompak. Momen inilah yang diambil Fauzi, bagaimana menciptakan kenangan tak terlupakan.

Banyak siswa memesan kaus buat seragam kelas. Nah, darisanalah Fauzi remaja mulai kordinasi, mengajak teman buat bikin kaus kelas. Kebetulan nih keluarga Fauzi memang sudah membuka usaha konveksi kecil. Ia mulai menyasar setiap kali siswa mau membuat seragam kelas.

Fauzi bermodal pesanan ke konveksi kakaknya. Dia mengordinasi kelas, pria kelahiran 7 Maret 1870, dari situ dia dapat uang saku. Lumayan tidak besar sekali. Kadang dapat Rp.50 ribu, atau kalau beruntung bisa dapat Rp.100 ribu. Cukup buat dia jajan dan bersekolah di Bandung lah.

Semangat usaha sendiri


Sejak lulus SMA, semangat Fauzi adalah berwirausaha. Bagaimana berbisnis masih belum berpikir. Hanya saja dia ingin memulai di Kota Jakarta atau Surabaya. Di sana diharapkan menjadi landasan dia berbisnis. Darah muda Fauzi bergelora menaklukan kedua kota besar tersebut.

Pertimbangan kenapa memilih Jakarta. Fauzi punya saudara di sana. Dan disanalah bisnis Fauzi bermula. Ia mengikuti arus bisnis ketika SMA dulu. Ia mengontrak rumah di Mampang Prapatan, Jakart Selatan. Uang Rp.2,8 juta yang diberikan ayah dijadikan modal usaha, Fauzi lantas menyusun strategi bisnis agar sukses.

Uang Rp.800 ribu disisihkan buat kontrak. Agar layak seperti usaha konveksi kecil. Uang tambahan dia rogoh buat biaya renovasi. Sisa uang Rp.1,25 juta buat disimpan. Target besar sudah ditentukan sejak awal. Ayah Fauzi minta tiga bulan harus sudah ada pekerjaan atau pesanan jahitan.

Pria asli Riau ini tidak mau menunggu lama. Tiga pekan pertama sudah ada pesanan. Ada 40 kaus yang ia hargai Rp.40 ribu harus dijahitkan. Pemesan oleh SMA 1 Bekasi. Orderan pertama membuat gairah bisnis dia makin naik. Untuk pembuatan sementara diserahkan ke kakak, di konveksi miliknya di daerah Bandung.

Strategi marketing Fauzi sederhana. Lewat panflet, upaya cukup efektif, usaha milik Fauzi mulai dikenal luas. Pemesanan mulai banyak. Dia mulai bisnis jemput bola. Dia memborong kau dibawa ke Jakarta. Ia mengistilahkan kalau orang Jakarta beli kaus di Bandung, kini, di konveksi miliknya sudah cukup.

Setahun sudah bisnis konveksinya berjalan. Gila dalam setahun bisnis sudah hasilkan mobil. Pertama kali membeli mobil adalah Suzuki Carry -harga cuman Rp.5,8 jutaan saja. Kunci sukses konveksi miliknya? Ia menyebutkan bisnis harus unik. Keunikan Fauzi ialah ketepatan waktu dibanding bisnis sejenis.

Komitmen bahwa pesanan harus selesai tepat waktu. Dari sekedar bikin kaus kelas, usahanya membesar ke arah pemenuhan kebutuhan seragam perusahaan. Keinginan besar memberikan pelayanan cepat tetapi tepat hingga hasilnya memuaskan. Prusahaan besar macam Trakindo, Telkomsel, mau mempercayakan ke dia.

Pria yang pernah menjadi pengurus HIPMI ini. Mengatakan bahkan dia mampu menyelesaikan pesanan seragam dalam sehari. Besok seragam langsung dikirim, jika, pesanan tidak banyak sekali tentunya. Untuk bisnis ini dia sudah memiliki 55 unit mesin jahit. Karyawan sudah ada 70 orang siap tempur buat lembur.

80% pekerjaan Fauzi adalah menggarap pakaian seragam. Memproduksi pebulannya 5 ribu unit, bisa juga sampai 500 ribu unit jika ada event tertentu seperti Pilkada. Omzet mencapai Rp.7- 10 miliar pertahun. Ia mengatakan tempat usahanya sangat ramai.

Sampe nih menjadi tempat tawuran pelajar. Mangkanya dia pernah dipanggil Kapolsek setempat. Sebuah pengalaman menarik: Ketika siswa STM Boedoed dan STM Penerbangan Jakarta sama- sama memesan kaus ke dia. Bentrok tidak bisa dihindari ketika kedua masa bertemu.

Meskipun ke tawuran tetapi tidak sampai rugi benda. Justru dia bersyukur karena nama konveksi miliknya jadi terkenal. Omzet tahunan bisnis BEKaos tidak tetap. Setahun ini bisa mencapai Rp.10 miliar omzet. Tahun depan belum tentu, bisa saja malah turun sampai Rp.4 miliara. "Tergantung orderan," paparnya.

Dibawah naungan bendera bisnis PT. Bandung Prima Kencana, Fauzi sudah punya showroom yang luasnya mencapai 1.000 meter persegi di Condet, Jakart Timur. Brand milinya adalah BEKaos, meski nama bisnis kaos, kenyataanya dia lebih banyak mengerjakan aneka seragam perusahaan.

Memang bisnis konveksi ada naik turun. Dia mengakui hal tersebut. Mangkanya dari 55 mesin, hanya 35 bekerja optimal. Jikapun ada pesanan dadakan ribuan. Dia siap meladeni. Fauzi punya trik khusus jika ada pesanan super- banyak dan minta waktu cepat. Kan dia punya kakak yang juga bisnis konveksi di Bandung.

Tinggal dibagi dua, sebagian dikerjakan dia, dan sebagian lagi dikerjakan sang kakak. Fauzi lantas bercerita pernah menyelesaikan pesanan 50.000 kaus pesanan dari Aceh dalam tempo dua minggu.

Jual Lampu Aroma Terapi Mas Toyo Bangkit Lagi

Profil Pengusaha Sukses Sutoyo 



Mental bisnis Sutoyo jangan diragukan. Warga Dusun Manayu Lor, Desa Tirtonirmolo, ini sudah pernah berbisnis aneka jenis. Mulai berbisnis daur ulang kertas. Jatuh bangun pun sudah dirasakan Sutoyo agar mencapai namanya kesuksesan. Orang bilang kita harus gagal berulang kali hingga menemukan jalan.

Ia pernah tertipu eksportir. Dua kontainer kerajinan tidak dibayar. Tidak berputus asa, dia lakukan semua agar tetap menghasilkan karya. Meskipun usaha dijalankan Sutoyo bermodal sangat minimalis.

Bisnis daur ulang


Menjadi pewirausaha tidak wajib bersekolah tinggi. Wirausaha dijalankan Sutoyo cuma bermodal ijasah setingkat SMA -ijasah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Jurusan Teknik Mesin. Ayah dua anak yang sejal awal menekuni usaha kreatif. Bermula dari usaha bernama Toy' Production: Flower & Handycraft.

Pada awal dia mendistribusikan aneka kerajinan tangan. Tahun 2005 usahanya bergeser dari sekedar jualan aneka kerajinan. Nama Titoy Production: Terracotta & Handycraft, dia mulai memproduksi aneka ragam kerajinan tangan bikinan sendiri.

Di tahun 2008 dia membuat aneka kerajinan. Sebut saja frame foto berbahan lintingan kertas, frame kaca, wall dekor, aksesoris, dan lainnya. Ia menjelaskan kepada Indotrading News. Awal usaha saja sudah tidak semulus kamu bayangkan.

Ia menjalin kerja sama dengan eksportir. Eh ternyata malah mendapatkan komplain. Tahun 2010, menurut pria yang akrab disapa Mas Toyo, mengatakan mereka menghentikan kerja sama sepihak. Rugi besar tentu diderita pihak Mas Toyo.

Usaha miliknya gulung tikar. Ada 32 orang karyawan dirumahkan. Mereka bahkan tidak dapat pesangon. Ia malu sangat. Harta benda digadaikan, dijual, seperti sebuah gudang, dua unit mobil, dan empat unit motor hilang. Walaupun sudah dijual tetap tidak nutup kerugian menyisakan hutang sampai Rp.100 juta.

Tahun 2011, dia menyadari bahwa sang eksportir hanya ingin memonopoli, ingin menguasai produk karya miliknya. Semena- mena dan akhirnya Toyo tidak lagi membuka kesempatan. Pembayaran juga tidak bisa lancar. Harga ditawarkan ke dia juga jatuhnya terlalu murah.

Terjepit bukan kembali berbisnis sama. Mas Toyo mengadu nasib lewat jualan soto. Empat bulan bisnis tersebut dikerjakan. Kemudian ya berhenti lantaran sepi pembeli. Dia lalu meminjam modal Rp.4 juta buat jualan ayam ke Taman Hias (Pasty), Yogyakarta, hanya 5 bulan karena jualannya kena flu burung.

Ayam mati hingga tidak balik modal. Walau gagal terus. Toyo mengaku tidak capek. Tetap melangkah maju membuka usaha lain. Didukung sang istri, Dwi Astuti, mereka berbisnis mensuplai aneka kebutuhan buat spa. Mereka membuat lotion, lulur, handbody, dan lain- lain.

Lumayan usaha mereka berjalan baik. Cukup membantu meningkatkan taraf ekonomi keluarga. Agar lebih banyak menghasilkan dia juga jualan jagung bakar. Tapi, yah, usaha jagung bakar itu berakhir gulung tikar kembali.

Bisnis terus


Ide bisnis pembawa berkah. Muncul ketika dia melihat banyaknya limbah berserakan di sebuah toko, di samping rumah kontrakan Toyo. Pada 25 Juni 2012, dia mengadu nasib kembali lewat bisnis kerajinan, yakni menjadi pengrajin kaca bekas. Tangan dingin Toyo memang sempat kaku tetapi kembali dilemaskan.

Dia mulai mencari, memotong, merangkai, hingga terbentuk produk. Produk unik dihasilkan Mas Toyo yakni lampu. Ia cuma bermodal kaca bekas bangunan. Atau sekedar kaca bekas akuarium pecah.

Bisnis ini dijalankan cuma bermodal uang Rp.100 ribu. Uang tersebut dibelikan kaca bekas, batu alam, dan mangkuk. Mangkuk digunakan sebagai landasan atau atasan. Ditempel sedemikian rupa sampai bentuk jadi lebih manis. Batu alam digunakan menjadi penopang kaca. "Jadilah barang unik."

Awalnya cukup dipotong kecil- kecil layaknya puzle. Produk pertama bikinan Mas Toyo adalah pengharum atau lampu aroma therapy. Sang istri, yang lulusan farmasi, mendukung ide bisnis Mas Toyo. Keduanya lamtas bersiap memasarkan. Sasaran pertama dia adalah memamerkan ke guru- guru sebuah SLB.

Memuaskan hampir semua guru memesan 80pcs. Harga jual murah kok, hanya Rp.85 ribu sampai Rp.150 ribu. Justru ketika permintaan itu banyak Mas Toyo pusing. Lantaran tidak disangka peminat akan sebesar itu. Bagaimana produksi sebanyak itu? Mangkanya dia berhasil selesaikan pesanan baru setelah 3minggu.

Enam bulan berlalu usaha Toyo naik daun. Ia lantas mematenkan usaha dalam bentuk perusahaan. Usaha bernama Titoy Jaya Production -Lampu Aroma Therapy & Handicraft. Usaha kecil menengah ini semakin menggeliat saja. Kerajinan lain mulai lampu biasa, vas, lampu tidur. "Saya optimis dengan produk baru ini."

Tidak mau sendirian sukses. Ia mulai merekrut tetangga. Pesanan melipah naik dibanding sebelumnya. Ia mendapatkan pesanan pengusaha- pengusaha, mereka kebanyakan membeli buat dijual kembali ke hotel- hotel. Ia mempekerjakan 15 orang. Jika pesanan melonjak dia mengambil pegawai tambahan tetangga.

Ia bersemangat dengan bisnis barunya. Bahan dibutuhkan murah, dan proses pembuatan yang tidak sulit. Ia mengatakan cukup kaca dipotong, ditata dan ditempel, dibentuk sesuai keinginan. Nilai jualnya jadi tinggi kalau sudah jadi.

Untuk menciptakan perbedaan. Ia berinovasi, lampu bikinan Toyo bisa dijadikan selain pengharum, bisa jadi lampu penerangan, bisa pula dekorasi mewah. Rahasia sukses produk Toyo ada pada minyal aroma esensial, yang mana dicampur air. Panasnya lampu akan menguapkan aroma tersebut ke udara sekitar.

TJP, singkatan usahanya, mampu memproduksi 300- 400 buah. Meskipun sudah sukses, Toyo tidak puas hati, ingin meciptakan aneka inovasi lain. Selain aroma therapy juga aneka lampu, seperi lampu tidur, baca, dan lampu hias. Ada 25 motif lampu siap menyambut kita pembeli, dan 18 varian aroma berbeda.

Meskipun sama aroma therapy tetapi berbeda fungsi: Ada pewangi ruangan saja, penghangat atau massage oil, penghangat lulur, juga ya lampu hias. Aroma macam- macam, dari flamboyan, night queen, kenangan, kamboja, bogenvil, rose, ylang-ylang, edelwis, sandal wood, lily, akasia, dan bali flower.

Sedangkan aroma minyak esensial, yang digunakan sebagai pengharum ruangan, antara lain ada lavender, jasmine, green tea, peppermint, sandalwood, rose, opium, sakura, bali flower, apple, strawberry, vannila, lemon, ylang-ylang, frangipani, lotus, night queen, dan orange.

Pemasaran utama masih disekitaran Kota Yogyakarta. Namun Toyo juga sudah mengikuti aneka pameran, dari Nusa Dua Bali, Plasa Kementrian Industri, Jakarta, dan optimis membuka peluang menjual ke banyak daerah. Optimis pasarnya akan bisa diperluas dari biasa mereka.

"Tiap pameran saya ikuti, produk saya selalu habis," ungkapnya senang.

Omzet mencapai kisaran Rp.10 juta- Rp.25 juta. TJP sendiri masih banyak kendala. Contohnya pengadaan mesin. Maksudnya agar lebih mudah dalam produksi. Termasuk banja bahan, yang semakin sulit lantaran kapasitas produksi meningkat. Tenaga karja juga masih dianggap tidak mencukupi dengan pesanan.

Pengembangan UMKM menurut Mas Toyo udah baik. BUMN juga ikut membantu majunya UMKM. Tapi belum menyentuh merata ke semua UKM, apalagi ke pelosok daerah. Mas Toyo cuma berharap bahwa pemerintah makin memperhatikan UKM kita.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba