Jual Sandal Japit Premium Anne Merambah Fasion

Profil Pengusaha Anne Arcenas Gonzales 



Dia bersama sang suami memulai bisnis nol. Sebelum menjadi distributor resminya brand Havaianas pada 2003 di Filipina, keduanya, Anne Arcenas- Gonzales dan suaminya, Freddy, hanya berbekal kamar tidur di rumah mereka sendiri. Tak satupun percaya bahwa mereka menjual jutaan pasang tiga tahun kemudian.

Menurut majalah Entrepreneur Filipina, keduanya mengimpor sampai 2 juta pasang. Keduanya cuma mau mendapatkan barang bagus. Bersama mereka mendirikan perusahaan bernama Terry S.A, Inc. "Karena kami sangatlah amatiran, kami tidak menyadari bahwa akan memakan waktu kami (sangat sibuk)," paparnya.

Harapan mereka tidak akan sebesar ini. Tetapi mereka mampu membangun seluruh perusahaan, dan yang awalnya cuma berkantor di kamar tidur. Meskipun mereka tidak memiliki latar belakang pendidikan. Ia memulai dengan mengimpor lewat menja distibutor perantara kecil.

Mereka kemudian menjual sandal Havaianas. Mereka menjual bersaing ke toko fasion, dari Aura Athletic sampai Rustan's Department Store. Perusahaan utaaa Havaianas, Alpargatas S. A, memang memfokus buat menjual melalui distributor kecil di penjuru dunia.

Kesempatan besar


Dan ketika Anne berhasil menjual seluruh stok mereka. Dimana cuma butuh waktu satu setengah tahun. Ia langsung bertekat memperbesar bisnisnya. Ada masanya ketika ia berpikir "Apa saya benar mau membuat ini ke level selanjutnya?" Semuanya berjalan lancar tapi apakah akan berjalan lebih lanjutnya.

Perasaan bercampur antara keyakinan dan keraguan. Mereka merasakan jalannya saling bersinggungan. Sang ayah keduanya, mengingatkan bahwa apa mereka akan pertaruhkan adalah uang. Mereka membuat bisnis tersebut sebagai startup, bukan menarget jutaan atau miliaran uang.

Adanya kesempatan itulah yang mereka incar. Bukan berlebihan menarget sesuatu kira- kira begitu. Anne dan Freddy membuka kartu kredit dan bekerja sama dengan Jon Syjuco, yang merupakan juga patner toko fasion Aura Athletica -yang kemudian dibeli oleh perusahaan Anne, Terry S.A.

Tidak kesempatan lain untuk tumbuh. Kemudian Terry S.A., pada 2005, membuka toko pertama khusus menjual sandal Havaianas, di Glorietta, Makati City, dimana sudah ada 38 cabang sekarang ini. Pada 2009 mereka memenangkan hak distribusi resmi Havaianas di Malaysia dan Singapura juga.

"Saya tidak berpikir (Alpargatas) menyadari bahwa kami akan menjadi negera utama mereka, konsisten setiap tahun, dan menjadi negera utama mereka (dalam hal jumlah penjualan)," terang Anne.

Apa penyebab sandal premium ini begitu digandrungi. Mereka mengadakan event berjudul "Make Your Own Havaianas", terbatas lokalan kecil tetapi konsisten terus dijalankan. Hingga banyak selebriti mulai melirik brand mereka. Mereka menjadi fans, disana dan memakainya, yang mana juga membantu brand.

Salah satunya ada selebriti Filipina bernama Pia Magalona -dimana banyak ibu muda yang mengefans dia, akhirnya ikutan mengoleksi sandal Anne. Mereka membentuk kelompok bernama Havaianaticos, yang menggemari produk mereka, yang mana diikat dalam bentuk tema pertemanan.

Kekuatan Havainas adalah kemampuan global. Tumbuh sangat cepat secepat mungkin, menguasai pasaran cepat secepat mungkin. Utamanya memanfaatkan selebriti lokal agar menaikan pamor. Kemudian mulai lah menyulam kampanye luas. Inilah cara ampuh bagi brand baru menjajaki pasaran dimanapun.

Kisah sukses Havainas merupakan kisah sukses brand baru. Dimana formula utama digunakan kita adalah sebuah dedikasi, presisten, dan berkomitmen membentuk grup orang. Yang mana akan membuat inovasi produk tulus berasal dari pelanggan kita.

Terry S.A menjual Havainas bersama brand- brand lainnya, termasuk bisnis clothing karya mereka sendiri, yang diberi nama Thread 365, dijual melalui toko multi- brand milik mereka CommonThread, dimana sudah membuka di Malaysia, Singapura, dan Filipina pada 2003 silam.

Anne masih tidak bisa tidur awal -nampaknya sekarang karena memiliki lebih dari 500 orang karyawan- dan dia menerima ketidak nyamanan itu. "Kegelisahan adalah tandanya kamu khawatir," Anne menurutkan. Ketika kamu mau melakukan sesuatu terbaik, tetapi merasa sangat percaya diri, maka disanalah akan jatuh.

Rasa gelisah berbeda dari ketakutan akan kompetitor. Tetapi lebih ke bagaimana menjalankan bisnis lebih baik. Kualitas produk Anne pikirkan matang. Dia percaya bahwa pasar bisnis ini besar. Cukup besar buat kompetitor dan dia bersaing sehat. Bukan masalah terlalu optimis dan mengacuhkan kompetitor.

"Kami masih disini," jelasnya. Menjelaskan bahwa produk Anne bagus. Memiliki brand bagus yang mampu mendukung penjualan. "...dan sangat fokus ke senjata kami tersebut."

Susahnya Menjadi Pengusaha Kentang Goreng

Profil Pengusaha Robby Widjaya 



Pepatah mengatakan kegagalan awal kesuksesan. Inilah kisah Robby Widjaya. Pengusaha sukses yang satu ini begitu sangat bersemangat. Padahal sekitar lima tahunan lalu, dia sudah hidup nyaman menjadi salah satu pemasok aneka perlengkapan farmasi. Sampai nekad membuka usaha bersama empat kawannya.

Dia bersama kawan pengen membuka usaha gampang. Bikinnya mudah dibanding bisnis lain. Lalu mereka menemukan bisnis kentang goreng. Untuk membuat berbeda tidak memakai saus sambal. Ia memilih buat meracik bumbu sendiri ditambah mayonais, mak nyus.

Aneka rasan toping mengejutkan. Ayah seorang anak yang idenya dadakan. Tetapi ternyata hasilnya cukup menggiurkan. Pada 8 Desember 2005, resmi lah nama bisnis mereka, yaitu K- Patats menjadi merek dagang mereka. Adapun abjad K pada namanya berarti kepanjangan "King" atau raja.

Bisnis tidak gampang


Sementara Patat merupakan bahasa Belanda -bukan berarti jorok loh. Artinya tidak lain yah kentang, atau jika digabungkan maka namanya Raja Kentang. Ia ingin menciptakan sesuatu yang baru dalam tren bisnis kentang goreng kita.

Bisnis ternyata tidak semudah diucapkan. Awal dia bermimpi bisnis miliknya akan menjadi raja. Lalu dia malah mengalami kerugian. Tiga bulan pertama omzet penjualan dibawah Rp.100 ribu. Satu gerai miliknya sepi pembeli. Gerai di Pasar Atum tersebut ternyata dibiyaai patungan, bahkan sampai nilai puluhan juta.

Masa sulit membutuhkan komitmen bersama. Semangat teman Robby ternyata tidak sehabat itu. Bentuk komitmen tidak mampu membendung rasa putus asa. Bisnis mereka dianggap tidak prospektif. Sementara Robby masih ingin melanjutkan K- Patats. Beberapa masih bertahan bersama Robby memilih tetap jalan.

Bendera bisnis mereka harus tetap jalan. Aneka promosi makin gencar dilakukan. Sekitar gerai mereka mulai mempromosikan manfaat kentang. Mengenyangkan tidak menggemukan. Bulan empat bisnis milik mereka mulai naik cepat. Pertumbuhan bahkan mencapai tidak cuma puluhan tetapi ratusan persen.

Komitmen menurut Robby merupakan kunci. Komitmen bisni seseorang akan bisnisnya berbeda. Makin kamu berkomitmen maka akan ada jalan. Inilah perbedaan antara orang berwirausaha mengikuti trend dan mereka yang berhasrat menjadi wirausaha sebenarnya.

Hasilnya dapat dilihat, ketika pertengahan 2006 -an, dia mengingat orang mengantri baik remaja ataupun dewasa buat membeli kentang goreng saja. Anak- anak juga suka kentang goreng mereka. Bahkan antrean satu orang bisa menunggu sampai dua jam. Pelanggan mencapai 80 orang mengular menunggu pesanan mereka.

Sukses bisnis Patats tidak membuat puas. Mereka lantas menerapkan sistem inden. Maksudnya orang bisa memesan, dibayar dimuka, kemudian bisa ditinggal buat belanja dulu. Untuk mengakali mereka lantas memugar agar tempat menjadi lebih luas.

Peralatan diperbanyak untuk menangani pembeli membludak. Lebih cepat memasak tetapi tidak merusak kualitas rasa. Ia juga menambah jumlah pegawai mereka. Setelah masuk September, mereka lantas mulai menawarkan sistem franchise, dimana mereka menemukan mitra pertama yang mau mendukung dua gerai.

Dua gerai di Tanjung Delta Plaza dan Royal Plaza, dibuka bersamaan. Gerai mereka bahkan sampai ke kota lainnya, seperti Surabaya, Jakarta, Bandung, Solo, Malang, dan Semarang. Di luar Jawa ada di Manado dan Makassar sampai ke Jayapura, bisnis kentang aneka saus miliknya makin mantap.

Bahkan sampai di Tanjung Selor, yang pengiriman bahannya sulit, dia tetap menerima tantangan tersebut karena komitmen. Membesarkan bisnis sudah pernah dirasakan sulit. Banyak tantangan ditanggapi penuh kepercayaan diri. Penyemangat utamanya adalah komitmen berbisnis agar sukses besar.

Dua tahun sudah bisnsi Robby eksis. Karena daerah pengiriman ada yang sulit. Harga Patats pun melonjak sampai dua kali. Namun justru karena medannya sulit, maka tidak ada perasaingan berarti di sana. Langkah selanjutnya dia ingin membuka bisnis sampai Malaysia dan Singapura juga.

Biografi Mekarsari Ida Widyastuti Pebisnis Camilan

Profil Pengusaha Camilan Sidoarjo


 
Keterbatasan memaksa orang menjadi pengusaha. Kisah klasik yang masih relevan sampai sekarang. Inilah kisah Ida Widyastuti. Pengusaha asal Demak ini sudah merasakan pahit hidup lengkap. Wanita kelahiran 30 Oktober 1974, begitu lahir, pahit menarima kenyataan ibunya meninggal ketika dia dilahirkan.

Sekeluarga hidup di bawah garis kemiskinan. Sudah begitu, Ida kecil mendapat cemooh anak- anak lainnya, karena Ida tidak punya ibu. Memasuki masa SMP, nenek dari bapak meninggal, Mbah Suripah merupakan sosok pengganti sang ibu, mulai merawat, mengasuh, dan membesarkan.

Untuk mencapai pendidikan tingkat lanjut. Ia tinggal bersama Bude Mustaqarah, kakak ibunya ini memberi ruang baginya berpendidikan. Selepas lulus SMA Muhammadiyah 1 Jombang, tekadnya memasuki dunia perkuliahan tetapi tidak punya biaya.

Hidup pekerja keras


Dia kemudian menjadi karyawan di Batam. Mencoba bertahan hidup di perantauan. Sudah lima tahun dia bekerja di perusahaan Jepang dan mendapat gaji tetap. Kepahitan Ide tidak berakhir meski sudah nampak berkecukupan. Karena menjadi pegawai gaji Ida tidak banyak!

Sambil bekerja ia memutuskan berbisnis. Caranya, ketika jam istirahat, dia akan segera membuka lapak di ruangan dekat toilet perusahaan. Barangnya lantas dipasok dari Yogyakarta. Bisnis sampingan tersebut sudah dibilang lumayan. Sambil berjualan Ida mengasah strategi marketingnya lewat teman sekantor.

Keinginan penuh menjadi pengusaha memanggil. Hingga dia menikah dengan Harris Setiawan, yang lalu mengajaknya pindah ke Surabaya. Disela merawat anak dia kemudian berjualan kembali. Jualan emping melinjo ke Pasar Gedangan, Sidoarjo, tahun 2001 -an.

Inspirasinya dari saudara yang memproduksi keripik melinjo. Memang hasrat menjadi pengusaha tidak bisa ditahan. Ida membuktikan selama fakum. Selama tidak berjualan apapun. Dia merasakan kebosanan yang sangat. Apalagi dia harus pindah- pindah mengikuti sang suami, yang bekerja di Astra.

Dia berjualan menjajakan emping melinjo. Lelah dirasakan Ida keluar masuk toko oleh- oleh. "Hasilnya pas- pasan untuk mencukupi kebutuhan sehari- hari," paparnya. Harga murah lantas dipakai Ida. Hasilnya meningkatkan omzet usaha. Kemudian mulai banyak orang datang mengambil dagangan emping ke Ida.

Harris lantas ikutan nimbrung berbisnis. Hingga ujungnya mengundurkan diri. Ia melihat kerepotan sang istri ditambah semangat berbisnis. Selain itu prospek bisnis makanan khas Jawa Timuran nampak mulai menjanjikan. Tidak cuma emping melinjo, Ida mulai merambah bisnis lain untuk mendongkrak omzet.

Bisnis jajanan


Sementara Harris membawakan berbuntal emping. Ida akan sibuk menawarkan barang. Tahun 2003, bisnis yang bernama Emping Kawanku, mulai menujukan geliat luar biasa. Ida sudah berhasil menguasai pasaran Malang dan Probolinggo. Karena murah ya sampai jualannya menjalar ke Kalimantan.

Ida fokus menggarap bisnis camilan. Lainnya dia mengembangkan camilan keripik pisang. Untuk satu ini, awalnya dia bergeriliya dulu, mengunjungi pemasok cemilan se- Jakarta dan Jawa Barat. Kerja sama dia buat untuk menjajakan produksinya.

"...kami ditolak olehs suplier karena mayoritas pemain lama," kenang Ida. Namun justru semangatnya makin menggebu.

Ia memutuskan tidak bekerja sama dengan suplier. Justru turun lebih ke dalam lewat produsen langsung. Ia belajar sampai ke Bandung, Cianjur, Indramayu, Kuningan, Ciamis, dan Cirebon. Ida memang orangnya begitu telaten. Setiap apa tujuannya ditekuni meski halangan menghadang.

Berawal pemikiran iseng, dimana tempat asalnya keripik melinjo laris manis, kini dia menjajakan tidak cuma di tempat tinggalnya tetapi sampai ke luar pulau. Awal jualan keripik melinjo dia membeli basah. Dari produsennya di Demak, kemudian dia menggorengkan sendiri dengan bumbu sendiri.

Awalnya dia sempat ditolak karena harga mahal. Terlalu mahal buat bisnis lokal kawasan Gedangan. Selalu konsisten dan berupaya keras. Sambil menggendong putranya bernama Nabil Hilmi Dafa, dia menjajakan bisnisnya hingga akhirnya menemukan beberapa pembeli.

Pemasok emping begitu mengenal Ida. Dia lantas dijuluki Ida Bakul Emping. Merambah bisnis lain, dia mengajak orang lain dalam bisnisnya. Dia mengajak industri rumahan lain buat memasakan sesuai resep. Masalah muncul ketika dia terlalu bernafsu merambah bisnis cemilan lainnya.

Tabungan mereka sempat hampir ludes karena salah perhitungan. Bantuan sang suami banyak membantu, alumnus Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya, ikut membantu berbisnis kembali. Padahal kalau orang awam liat Ida berjualan emping saja sudah cukup sangat menghasilkan.

Namun isting pengusaha Ida sudah terlanjur terasah. Hasrat kewirausahaan Ida juga semakin bergairah. Dia tidak cuma mengejar uang. Tahun 2005, bisnisnya ingin lebih, bisnis aneka cemilan tersebut lantas dia namai dari Kawanku menjadi Mekarsari. Inspirasi bunga yang mekar layaknya harapan akan bisnisnya.

Camilan sukses


Ia membutuhkan waktu dua tahun. Aneka kegiatan UKM disambangi Ida. Tujuannya agar ambisis menjadi pengusaha aneka camilan terlaksana. Inilah kenapa dia siap menggelontorkan uang Rp.50 juta. Uangnya dipakai membiayai perajin camilan dibawah asuhan bisnis UD. Roemah Snack Mekarsari tersebut.

Jumlah besar ditambah kualitas rasa. Kelamaan sampai menembus ke Bali loh. Melihat pasokan pisang yang melimpah di Trenggalek, dia berminat membuat bisnis pisang. Kebetulan menurutnya pisang tanduk mereka unik, karena besar- besar, dan rasanya manis.

Dua pabriknya di Trenggalek dan Sidoarjo, selalu mengolah tujuh ton setiap harinya. Bisnis keripik pisang miliknya diperkuat kerja sama 250 mitra petani. Tahun 2009, dia membuka gerai di Pondok Jati, Sidoarjo, dimana ribuan orang pasti berkunjung ke sana, yang bukannya sampai 24 jam sepanjang waktu.

Cabang lain ada di Krian, Sidoarjo, Denpasar, dan Bali. Hobinya traveling merambah menjadi bisnis baru. Yang mana diluar bisnis camilan. Dia membuka bisnis agen tour. Kemudian juga membuka agen ekspedisi sendiri. Pokoknya dia menjelma menjadi pengusaha besar berkaryawan 160 orang.

Meski begitu bisnis tidak selamanya untung. Contohnya dia pernah diajak bekerja sama bisnis vanili. Dia rugi ratusan juta. Cuma mendapatkan bisnis tidak berprospek. Uangnya sisa Rp.50 juta dan sisa vanili yang mencapai angka Rp.43 juta, sisanya rekan kerjanya bawa kabur entah kemana.

Ia menggandeng banyak UKM. Prinsipnya amanah karena dia sendiri pernah ditipu. Total 50 UKM sudah bekerja sama. Kemudian ada petani pisang sampai 200 orang memasok. Karena memperdayakan bisnisnya petani pisang, dia mendapatkan penghargaan Green Entrepreneur dari Wirausaha Mandiri.

Bisnis keripik pisang mulai tahun 2004. Potensinya besar berbisnis keripik pisang. Sejak awal bisnisnya dimulai modalnya Rp.600 ribu, tetapi perjalannya banyak keringat dan tangis. Bisnis pisangnya bernama Omah Pisang Bananos. Keistimewaan bisnisnya adalah menggunakan bahan alami semuanya.

Harum bau pisang asli terasa. Membuktikan bahwa pisangnya banyak. Keripik pisang berbagai rasa harga terjangkau diminati segala kalangan. Kini, dia bahkan memproduksi buat dijual ke manca negara. Ekspor ke Malaysia, Singapura, Filipina, dan Qatar rajin memesan.

Sukses keripik adapula opak pisang. Semua dikemas layaknya perusahaan makanan ringan besar. Dia selalu siap mencari cara memenuhi permintaan pasar.

Bisnis inspirasi


Tiga tahun berdiam diri karena tidak bekerja. Kemudian lahir seorang anak menjadi jalan. Ida tidak mau lagi hanya diam. Semangat kewirausahaan didukung keberuntungan. Dia kebetulan berkunjung ke kerabat di Demak. Disana dia melihat kerabatnya tengah asik berbisnis kecil- kecilan keripik melinjo.

Perjalanan Demak ke Sidoarjo, Ida lantas berpikir untuk membawa usaha tersebut pulang. Tahun 2001 dia mulai menjajakan emping melinjo. Pernah ditipu teman suami yang menawarkan kerja sama. Uang modal yang semula Rp.600 ribu berkembang menjadi Rp.500 juta, kemudian ditipu sampai habis Rp.300 jutaan.

Tiga bulan dirinya meratapi nasib ditipu. Namun kecintaan akan kewirausahaan membawa dia bangkit. Lalu dia berbisnis kembali. Dorongan sang suami berperan besar dalam masanya. Kebangkitan juga didorong oleh kawan- kawan Harris. Mereka ikut mensuport memasarkan bisnisnya kembali.

"Saya berasal dari kebaikan kawan- kawan Mas Harris yang turut membantu permodalan," kenang Ida. Maka dibalik pernah ditipu kawan sendiri. Kini Ida malah dibantu kawan- kawannya lain. Jangan berhenti percaya ketika kamu pernah tertipu orang.

Perempuan memang punya banyak keterbatasan. Ini ditutupi sang suami yang akhirnya ikut berbisnis. Dia bertekat membantu sang istri. Hingga bisnis mereka meledak sampai sekarang. Kenapa Ida memilih buat ekspansi ternyata ada alasan lain, tidak cuma sekedar hasrat berwirausaha saja loh, teman.

Dia mengevaluasi bisnis emping melinjonya. Kelemahan utama bisnisnya adalah kesadaran masyarakat akan efek bagi kesehatan. Melinjo memang dikenal memberi efek samping kesehatan. Dari dulu berbisnis camilan curah, kini, fokusnya mencari pemasok camilan!

Tidak kurang 200 jenis camilan. Dia mengirim satu truk ke Bali setiap minggu, Mataram dua truk, lalu ke Kalimantan sekitar 28 boks, Jawa Tengah satu truk, dan Jakarta satu truk juga. Itu saja masih belum bisa memenuhi kebutuhan karena banyak sekali permintaan.

Raja Sapta Oktohari Pengusaha Promotor Tinju

Biografi Pengusaha Ketua HIPMI 


 
Pria punya selera. Bisnis miliknya telah menjangkau adrenalin kelakian. Raja Sapta Oktahari bukan lah pengusaha muda biasa. Dikenal sebagai pebisnis promotor, dikenal pula ketua umum Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), seorang petualang yang menyalurkan adrenalinnya ke bisnis ditekuni.

Mulai menjadi promotor tinju, Formula Asia Drift, kemudian mendatangkan Justin Bieber -yang penuh akan kontroversi-, ataupun mendatangkan David Foster. Tidak cuma mempromotori termasuk menambang dan bisnis penyewaan jet. Penggagas gerakan Bike to Work Kalimantan ini memang pria sejati.

Dia adalah komosaris OSO Group. Berkisah masa SMA dijalaninya dengan bersusah. Dia mulai berbisnis jualan pakaian bersama teman sekolah ke Tanah Abang. Mangkanya sepulang sekolah, di rumah, dia akan menenteng banyak kantung kresek berisi pakaian.

"Jualan pakaian itulah, usaha saya yang pertama," tuturnya kepada Viva.co.id

Belajar berbisnis menurutnya cukup mengalir. Orang tua tidak mengajarinya khusus. Tidak cuma berhenti berbisnis, dia juga disibukan kegiatan OSIS, jadi yah, Okta jarang sekali berada di rumah.

Dari berorganisasi membuatnya lebih percaya diri. Pengalaman berorganisasi dibawa sampai ke Amerika Serikat. Ketika berkuliah di Oklahoma dipercayai menjadi Wakil Ketua Perimpunan Mahasiswa Indonesia -Amerika Serikat (Permias).

Bisnis sejak muda


Dia bangga karena dia adalah perpaduan terbaik. Antara ayah dan ibunya, dimana ayah memberi Okta dalam hal kedisplinan. Dia juga mengingatkan bahwa hidup berlajar dari pengalaman. Jujur Okta sering sekali berontak bahwa kenapa begini, kenapa begitu, akhirnya dia merasakan ada benarnya.

Lingkungan mendorong pola pikirnya. Ketika SMP, ia mengadakan lomba balap tingkat DKI Jakarta, di masa itulah pula dia berminat akan dunia tinju. Terutama ya karena sang ayah juga promotor tinju. Puncak ketika ayah mempromotori Ellyas Pical dan Raul Diaz tahun 1988.

Tinju menjadi bisnis kenapa tidak. Ia memadukan kesukaan akan olah raga menjadi bisnis: Sebut saja ada bersepeda up hill, arung jeram, balap mobil, menembak dan bungee jumping. Selesai SMA dia lanjutkan berkuliah ke Oklahoma City University, Amerika Serikat.

"Padahal cita- cita saya waktu kecil ingin jadi pilot," selorohnya. Usia 22 tahun, selesai berkuliah, dia lalu kembali berbisnis pakaian (garmen) langsung ke pusatnya, Tanah Abang.

Okta tidak malu masuk ke pasar. Pengalaman tersebut begitu luar biasa bagi lulusan luar negeri. Tidak malu merupakan kunci sukses Okta. Baginya bisnis tidak sekedar menjual, berdagang, juga intuisi harulah berperan. Lantaran dia sendiri tau rasanya ditipu, dibohongi orang, dicuri, dicelakai, dijahati, sudah biasa.

"Disitu saya juga nipu, saya juga bohongin. Hahaha. Jadi mereka tak bisa bohongin saya," candanya.

Sebuah pembelajaran besar langsung. Dia tidak menemukan itu di pendidikan formal. Bagi pria kelahiran Jakarta, 19 Oktober 1975, terlahir dari keluarga konglomerat OSO Group, Oesman Sapta Odang, tetapi tidak pernah malu mengakui bahwa dia pernah gagal total!

Bisnis pengusaha muda


Baginya terjun langsung ke bisnis merupakan kenikmatan. Melihat jelas bagaimana transaksi perdagangan berjalan. Uang miliaran berputar di depan mata. Banyak jenis manusia berada di satu tempat tersebut. Dia berhadapan langsung dengan pembeli. Memaksa dirinya berpikir keras akan perkembangan bisnisnya.

Dia menggunakan kemampuan bahasa asing miliknya. Dan tidak malu belajar bahasa India sendiri. Dia juga menggunakan ilmu ekonominya di luar negeri. Bagaimana transaksi antar negara. Termasuk juga bagaimana memilih kain terbaik, memilih produk garmen terbaik, dibawa ke toko dan dijadikan contoh.

Belajar berbisnis dari level pejabat sampai sopir. Belajar komunikasi mereka langsung. Dia belajar cara menempatkan ritme komunikasinya. Pengalaman menjadikan dia komunikatif, banyak idenya, kreatif, dan pandai bergaul, layaknya pembelajaran dari sang ayah.

Kegagalan dianggapnya bukan kekalahan. Pembelajar setiap kegagalan membawanya ke puncak. Tidak ada rasa lelah menjadikan kehidupan nyata layaknya perkuliahan. Awalnya dia sempat berpikir hidup menjadi pegawai. Mencari kerja dianggap akhir perjalanan pendidikan formalnya.

Namun ujungnya ketika bekerja: Dia bekerja sangat keras, tidak ada uangnya. Jugalah bukan pula bisnis buat eksistensi atau cuma buat gaya- gayaan. Ia tidak memungkiri bisnis memang untuk mencari uang. Dia akhirnya mampu memisahkan antara komersialisasi dan idealisme.

Dia memang mengaku sempat idealis. Akan bisnisnya, tetapi akhirnya Okta memilih mengkomersialkan apa benaknya. Kunci bisnis adalah distribusi. "Yang kita mau pasti kita bisa. Tapi kalau kita gak mau ya, pasti jadi enggak bisa."

Namanya besar berkat bisnis promotor. Khusus laga tahun 2008, dimana dia menyelenggarakan tinju kelas dunia, tidak cuma di Indonesia tetapi Amerika. Dia mempromotorkan laga Daud Yordan. Dan mengajak orang Indonesia melihat tinju bukan sekedar hiburan atau tontonan. "Tinju itu seni," papar Okta menambah.

Okta memiliki ambisi jelas. Bagaimana menjadi mandiri secara finansial. Pengen mendapatkan uang buat berpergian ke berbagai tempat. Kekayaan utama menurut Okta adalah koneksi. Kan enak tuh jalan bareng temen ke tempat- tempat seru, yang tidak banyak orang bisa.

Sejak kecil dia sebenarnya ingin menjadi pilot. Nah, dari sanalah, mungkin hasratnya tersalurkan lewat satu bisnis yakni Enggang Air Service. Dimana mereka melayani penerbangan eksklusif. Mereka memiliki banyak jenis pesawat jenisa Legacy, kapasitas 16- 12 penumpang, serta dua pesawat Cessna Citation.

Bersama bisnis lain, termasuk PT. Perikanan Teluk Batang, bisnisnya termasuk penangkapan ikan dan penyimpanan ikan. Punya 17 kapal dengan kapasitas 300 ton per- hari. Tempat penyimpanannya mencapai 3000 meter persegi dan diolah menjadi ikan kalengan.

Untuk bisnis sekuritas dia memiliki PT Reinvestama Surya Optima, yang sudah menyebar ke berbagai pelosok Indonesia. Kemudian PT. Rennaisasance Sinergi Optima, bidang trading, mining, serta investasi. Kemudian ada Mahkota Promotion, bisnis event organizer, yang mengangkat namanya.

Semuanya tidak lain merupakan hasil usaha dari nol. Bayangkan Okto juga sempat berjualan besar loh. Dari Makassar, merambah sampai Pare- Pare, kemudian sampai ke tanah leluhur di Kalimantan. Termasuk usaha properti Mahkota Mayong, dengan hotel megah di pinggir kota Sukadana, Kalimantan Barat.

Semenjak sang istri meninggal, Okto belum kelihatan serius dengan wanita manapun, pada dasarnya dia suka wanita keras, tegas, independen, menghargai diri sendiri, pintar dan punya kharisma. Kalau soal fisik ayah dari Sultan (13) biasanya dekat dnegan cewek- cewek mungil.

Jika ditanya tentang fantasi liar. Maka dia menjawab dia sudah memilikinya. Setiap usaha dijalankan oleh Okta ya berasal dari pemikiran liarnya. "...menjadi orang alim," selorohnya menyebut kalau benar- benar apa yang dia inginkan kelak.

Cara Membuat Es Krim Sayuran Berbuah Jutaan

Profil Pengusaha Elia Kurniawati 


 
Wanita satu ini memang sudah dekat dengan ubi ungu. Karena sang suami, seorang guide, yang hobinya bawa pulang ubi ungu. Sebagai wanita kreatif menyulapnya menjadi es krim. Oleh- oleh ubi ungun menjadi bisnis es krim barulah memasuki tahun 2013.

Dia mengaku ubi ungu sempat membuat pusing. Lantaran banyak tetapi pengolahannya monoton. Ubi ungu biasanya dilah direbus. Meski laku disantap suami dan anaknya, Elia Kurniawati, ingin membuat olahan spesial.

Ketika ia membuat es krim ubi ungu, respon keluarganya begitu cepat. Ludes sudah es krim buatannya sampai nambah. Kemudian sang suami nyeletuk menantang Elia. Dia ditantang yuk membuat es krim lain dari bahan tidak terduga.

Bisnis laris


Dari ubi ungu menjadi anake macam. Andalah Elia adalah aneka es krim sayuran. Marketingnya bagaimana membantu orang tua. Bagaimana agar anak- anak mereka menyukai sayuran. Percobaan pertama dilakukan dan ditawarkan kepada anak- anaknya.

Mereka suka ternyata, dan es krim tersebut membuatnya tenang. Anak- anak kini sudah dapat menikmati sayuran. Perempuan asal Kota Batu ini, memanfaatkan melimpahnya suyuran di kota asalnya: Seperti ada ubi, brokoli, tomat dan wortel.

Buahnya ada es krim apel, buah naga, stroberi, dan mangga, bisnis Elia menaikan nilai buah lokal. Lalu ia mengembangkan es krim jamur. Prinsipnya mengolah sumber daya lokal apapun. Baginya produk terbaik mampu meningkatkan nilai ekonomis benda.

Wanita 27 tahun ini merubah konsep es krim kita. Adanya campuran sayuran dan buah benar- benar segar. Olahannya juga seimbang antara susu dan buahnya. Total varian masih 17 rasa, yang mana dijajakan di aneka pusat oleh- oleh. Juga ke Malang, Kediri, Kalimantan, dan Sulawesi, harganya Rp.5- 7 ribuan.

Aneka kreasi


Ia mampu mengolah 20 varian rasa. Dalam sebulan dia mampu menjual sekitar 2.000 cup es krim sayuran. Uniknya dia mengikuti pasaran lokal. Dimana jika satu kota tengah musim buah ini; maka dengan cekatan dia akan membuat itu. Contoh Kediri tengah musim pisang, maka dia akan membuat es krim pisang.

Karen disana pisangnya melimpah. Mungkin Elia lebih hemat dalam hal bahan baku. Contoh lain ketika ada musim buah naga di Banyuwangi, dan wortel di Kota Batu. Meskipun begitu bisnis Bingu Bidu punya masalah lain yakni mencari stok buah bagus.

Meski sudah musimnya, kalau buah tidak berkualitas, maka Bingu Bidu tidak akan mengambil. Kesulitan mencari stok apel ketika musim hujan sudah biasa. Stok buah naga yang kosong di pasar juga, membuat ia dan suami memeras otak.

Padahal ketika imlek kamerin dia sampat membuat es krim buah naga. Dan produk buatanyan mereka ternyata sangat menarik perhatian. Sayangnya soal stok buah berkualitas terkadang masalah. Permintaanya banyak tetapi stoknya sulit. Pokoknya bagaimanapun mereka harus menemukan stok buah naga tersebut.

Bisnis mereka dibawah bendera perusahaan CV. Berkah Omah Sejahtera, berawal dari membuat es krim berbekal buku resep. Seiring perjalanan Elia menyempurnakan resepnya, seiring percobaan dia lakukan agar es krimnya lebih awet, tanpa pemanis buatan, pokoknya beda dari buatan pabrik.

Awalnya dia memakai blender, susunya lebih banyak, hasilnya halus sekali layaknya es krim pabrikan. Tapi justru disanalah kelemahan brand -nya. Dia yang menawarkan es krim sayuran asli dicurigai. Apakah benar dia menjual sayuran asli. "...enggan membeli, selain bentuknya sama, kami salah harga dan rasa," tuturnya.

Ia memperbanyak porsi buah dan sayuran. Caranya buah atau sayuran diblender dulu. Pertama buah dan sayurnya jangan lupa dibersihkan. Dimasukan mesin blender sampai halus. Kalau sudah siap, adonannya diaduk bersamaan susu sampai mengental menjadi krim.

Kemudian ia dinginkan di suhu 27 derajat celcius. Pengiriman menggunakan foam khusus. Karena sudah menjadi es katanya mampu bertahan empat bulan. Karena kualitas buah dan sayurnya terjamin maka harga bisa dipatok es krim biasa.

Ketika orang terkejut akan harga, Elia segera menjelaskan tetek bengeknya, mulai penggunaan bahan yang terbaik, proses pengolahan, kemudian soal penjualan. Ditambah pembeli mencoba langsung ketagihan karena rasanya.

Tiga tahun berbisnis, dia bersama suaminya, Cholis, mereka bersemangat membangun bisnis mereka. Ia berencana membuat es krim berdasarkan kotanya. Jadi es krim buah dan sayuran dibuat berdasarkan apa sumber daya daerahnya. Contohnya, Kediri, mereka akan membuat es krim salaknya di sana langsung.

Karena kalau mereka harus memesan akan sulit. Stoknya berkualitas sulit didapat jika memesan. Soal lain adalah ia ingin menambah tenaga kerja. Dua hal tersebut adalah pencapaian yang mereka tengah kejar. Dia berpikir akan menambah modal. Omzet sementara mereka mampu mengantungi puluhan juta dari es krim.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba